Setelah malam itu, Kama tinggal di aula leluhur lebih dari 10 hari. Baik itu Ayu, Abista, atau bahkan Damar yang memanggilnya, dia tetap tidak bersedia keluar.Abista awalnya mengira hukumannya terlalu berlebihan dan melukai harga diri adiknya. Setelah bertanya, Kama hanya menjawab, “Kak Abista, ini bukan karena kamu. Aku cuma mau menenangkan diri di sini untuk sesaat.”Setelahnya, Abista dan orang lainnya tidak lagi pergi mengganggu Kama. Hanya saja, pada hari ketiga, Abista membawa kabar bagi Kama.Panji lagi-lagi dipukul orang. Selain itu, hal ini terjadi di Kediaman Pangeran Darsuki. Dia langsung dimasukkan ke karung dan diseret keluar sebelum dipukul. Ketika ditemukan, Panji sudah sekarat. Dia yang seluruh tubuhnya dipenuhi luka berbaring di sebuah gang kecil.Hal yang terasa paling lucu adalah, entah apakah orang itu sengaja atau tidak, dia menanggalkan beberapa gigi Panji lagi. Saat ini, ucapan Panji bahkan terdengar kurang jelas karenanya.Setelah mengetahui hal ini, Ike hampir
Ekspresi Joko langsung membeku. Dia buru-buru menjawab sambil tertawa canggung, “Ini bukan karena teknik menyeduh tehku. Beberapa hari lalu, aku baru dapatkan beberapa botol daun teh yang bagus. Kalau Pangeran Adika suka, aku akan suruh orang mengirimnya ke kediaman Pangeran.”Dengan kata lain, Joko berharap Adika tidak perlu datang lagi. Dia sama sekali tidak ingin berinteraksi dengan Adika. Pertama, Damar dan Adika tidak terlalu cocok. Kedua, dia merasa Adika selalu datang dengan niat tidak bersahabat.Setelah kejadian sebelumnya, firasat Joko berkata bahwa kali ini, Adika pasti juga berkunjung dengan niat yang kurang baik. Sesuai dugaan, tebakannya terbukti benar tidak lama kemudian.“Mana bisa begitu.” Adika menatap teh dalam cangkir tehnya, lalu berujar sambil tersenyum, “Kalau istrimu datang ke kediamanku dan menuduhku mencuri daun tehmu, salah pahamnya akan jadi besar.”Setelah menyadari makna tersirat dari ucapan Adika, sudut mata Joko langsung berkedut. Dia memaksakan seulas s
Joko tentu saja memahami sifat istrinya. Sikapnya terhadap orang lain masih lumayan baik. Namun, dia selalu bersikap sangat sarkastik dan tidak masuk akal terhadap keponakannya itu. Joko sendiri juga merasa tidak berdaya mengenai hal ini.Dulu, Syakia dan Panji memiliki perjanjian pernikahan. Joko merasa mereka pasti akan berakhir menjadi satu keluarga. Jadi, dia pernah mencoba untuk menengahi situasinya beberapa kali. Tak disangka, baru saja Joko tidak memperhatikan hal ini beberapa kali, ada orang lain yang sudah datang untuk membela gadis itu. Terlebih lagi, orang itu adalah Adika. Jika bukan karena ada masalah, Adika yang sangat sibuk seharusnya tidak akan muncul di tempat ini.Joko menarik napas dalam-dalam dan berkata, “Sebentar, kok kamu tahu 3 botol krim pelembap Yui itu dicuri Putri Suci?”Ike yang masih belum menyadari keseriusan masalah ini menjawab dengan yakin, “Dalam beberapa hari terakhir, cuma dia dan si tua ... dan gurunya yang pernah datang ke kediaman kita. Kalau bu
Setelah mendengar kalimat terakhir itu, Joko langsung memejamkan matanya. Putri suci memiliki posisi yang setara dengan seorang putri kerajaan. Dengan kata lain, memfitnah putri suci setara dengan memfitnah putri kerajaan dan dosa itu sangat berat.Joko mau tak mau menghela napas dalam hati. Sepertinya, dia benar-benar tidak dapat terlepas dari masalah ini lagi kali ini.Begitu Adika mengatakan ingin menyelidiki hal ini, para prajurit Pasukan Bendera Hitam langsung mengepung seluruh Kediaman Pangeran Darsuki. Ike tidak menyangka Adika akan mengambil tindakan sebesar ini. Entah kenapa, dia merasa agak panik dan berseru, “Kalian mau apa? Ini Kediaman Pangeran Darsuki! Meski itu Pangeran Adika, Pangeran juga nggak boleh melakukan hal seperti ini untuk mengintimidasi kami!”“Aku memang nggak boleh hanya mengintimidasi kalian. Kalau nggak, kamu tulis saja surat dan suruh kakakmu datang kemari?”Adika melirik Ike. Tatapannya yang dingin sontak membuat Ike ketakutan. Namun, dia memaksakan di
Krim pelembap Yui yang dimiliki Ike ada 3 botol. Meskipun Panji hendak menyenangkan Ayu, dia juga seharusnya menyisakan sebotol krim itu untuk ibunya.Ketika memikirkan dirinya tidak dapat menggunakan sebotol pun krim itu karena putranya memberikan semuanya kepada orang lain, Ike merasa sangat sakit hati. Dia tahu putranya menyukai Ayu. Namun, mereka masih belum menikah dan putranya malah diam-diam membantu orang lain menipu ibunya sendiri.Hanya saja, tidak peduli seberapa marah pun Ike, itu tetap adalah putra kandungnya.“Ternyata ini ulah anak itu! Terima kasih, Pangeran Adika. Berhubung masalah ini sudah diselidiki dengan jelas, serahkan saja sisanya kepada kami. Jangan khawatir, aku pasti akan menghukum anak itu” ujar Ike.Adika meliriknya sambil tersenyum sinis. “Kamu menghukumnya? Hukuman apa yang mau kamu jatuhkan?”Ike yang tidak tega memukul putranya hanya bisa menjawab, “Bagaimana kalau aku suruh dia berlutut di aula leluhur?”“Boleh.” Di luar dugaan, Adika langsung setuju.
“Kak, akhirnya kamu datang juga!” Begitu melihat Damar, Ike langsung menangis dengan sedih dan mengadu, “Kalau kamu nggak datang, adik dan keponakanmu ini akan ditindas bajingan tua itu!”“Jangan asal bicara!” Damar terlebih dahulu menegur Ike, “Apanya yang bajingan tua, Joko itu suamimu. Kamu sudah menjabat sebagai nyonya rumah kediaman ini sekalian lama, kenapa kamu masih nggak bisa bersikap dewasa.”“Kak, kamu sebenarnya datang untuk bantu aku atau bukan?”Damar melirik Ike dan Ike tidak lagi berani berbicara.“Aku memang datang untuk membantumu, tapi aku juga nggak bisa biarkan kamu bertindak seenaknya.” Seusai menegur Ike, Damar menoleh ke arah Joko dan berkata, “Joko, adikku ini sudah terbiasa dimanjakan di rumah. Kalian sudah menikah selama ini, kamu seharusnya paham dan terima sifatnya dari dulu. Kenapa hari ini kamu malah menyuruhnya minta maaf sama orang lain?”Joko pun tersenyum sinis. Jika itu hari biasa, dia mungkin akan menghormati Damar. Namun, dia tidak dapat melakukann
Damar menatap Joko dengan tidak senang. Namun,saat ini, Joko hanya mengasihani Syakia.“Kalau bukan karena kamu selalu bersikap acuh tak acuh, apa mungkin Syakia bisa berakhir seperti sekarang? Dia itu putri kandungmu. Tapi, sejak kapan kamu berhenti memperlakukannya seperti putri kandung? Bahkan seorang putri asuh juga lebih dimanjakan daripada putri sah. Itu karena kamu pilih kasih, atau ada hal memalukan yang kamu sembunyikan?”“Ayah!”“Joko!”Ike dan Panji tidak menyangka Joko berani mengucapkan hal seperti itu kepada Damar. Bagaimanapun juga, Joko tidak pernah bersikap tidak sopan pada orang dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan. Sekarang, Joko malah bersikap seperti ini terhadap Damar demi Syakia.Ike tentu saja berharap dibela oleh kakaknya. Namun, dia juga tidak berharap suami dan kakaknya bertengkar. Sekarang, dia adalah istri Joko. Dia tentu saja ingin menghabiskan hidupnya dengan suaminya.Ike buru-buru menarik Joko dan berkata, “Suamiku, sudahlah. Ini semua salahku. Kaka
Setelah mendengar kabar ini, Syakia merasa terkejut. “Apa lagi maunya?”Syakia tahu jelas Ike itu orang seperti apa. Pada kedatangannya ke Kuil Bulani sebelumnya, Ike tidak mencapai tujuannya. Dia sudah cukup bersyukur Ike tidak lanjut datang mencari masalah. Mana mungkin Ike ingin meminta maaf?Setelah berpikir sejenak, Syakia bertanya, “Kak, apa masih ada orang lain yang datang bersamanya?”“Ada, ada seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian menteri, juga seorang pemuda tampan.”Orang yang mengenakan pakaian menteri dan bersedia menemani Ike datang ke tempat ini. Itu seharusnya adalah Damar atau Joko. Sebelumnya, Damar pernah datang ke tempat ini, juga dipermalukan. Dia seharusnya tidak akan datang lagi dalam waktu dekat. Jadi, satu-satunya orang yang mungkin datang adalah Joko.Sementara itu, pemuda yang dimaksud kakak seperguruan Syakia pasti adalah Panji. Untuk apa mereka sekeluarga datang kemari?Syakia mengernyit, lalu meletakkan buku sutra di tangannya dan berkata, “Aku a
Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men
“Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise
Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “
Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya
Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau
“Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement