Share

Bab 129

Author: Emilia Sebastian
“Kak, akhirnya kamu datang juga!” Begitu melihat Damar, Ike langsung menangis dengan sedih dan mengadu, “Kalau kamu nggak datang, adik dan keponakanmu ini akan ditindas bajingan tua itu!”

“Jangan asal bicara!” Damar terlebih dahulu menegur Ike, “Apanya yang bajingan tua, Joko itu suamimu. Kamu sudah menjabat sebagai nyonya rumah kediaman ini sekalian lama, kenapa kamu masih nggak bisa bersikap dewasa.”

“Kak, kamu sebenarnya datang untuk bantu aku atau bukan?”

Damar melirik Ike dan Ike tidak lagi berani berbicara.

“Aku memang datang untuk membantumu, tapi aku juga nggak bisa biarkan kamu bertindak seenaknya.” Seusai menegur Ike, Damar menoleh ke arah Joko dan berkata, “Joko, adikku ini sudah terbiasa dimanjakan di rumah. Kalian sudah menikah selama ini, kamu seharusnya paham dan terima sifatnya dari dulu. Kenapa hari ini kamu malah menyuruhnya minta maaf sama orang lain?”

Joko pun tersenyum sinis. Jika itu hari biasa, dia mungkin akan menghormati Damar. Namun, dia tidak dapat melakukann
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 130

    Damar menatap Joko dengan tidak senang. Namun,saat ini, Joko hanya mengasihani Syakia.“Kalau bukan karena kamu selalu bersikap acuh tak acuh, apa mungkin Syakia bisa berakhir seperti sekarang? Dia itu putri kandungmu. Tapi, sejak kapan kamu berhenti memperlakukannya seperti putri kandung? Bahkan seorang putri asuh juga lebih dimanjakan daripada putri sah. Itu karena kamu pilih kasih, atau ada hal memalukan yang kamu sembunyikan?”“Ayah!”“Joko!”Ike dan Panji tidak menyangka Joko berani mengucapkan hal seperti itu kepada Damar. Bagaimanapun juga, Joko tidak pernah bersikap tidak sopan pada orang dari Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan. Sekarang, Joko malah bersikap seperti ini terhadap Damar demi Syakia.Ike tentu saja berharap dibela oleh kakaknya. Namun, dia juga tidak berharap suami dan kakaknya bertengkar. Sekarang, dia adalah istri Joko. Dia tentu saja ingin menghabiskan hidupnya dengan suaminya.Ike buru-buru menarik Joko dan berkata, “Suamiku, sudahlah. Ini semua salahku. Kaka

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 131

    Setelah mendengar kabar ini, Syakia merasa terkejut. “Apa lagi maunya?”Syakia tahu jelas Ike itu orang seperti apa. Pada kedatangannya ke Kuil Bulani sebelumnya, Ike tidak mencapai tujuannya. Dia sudah cukup bersyukur Ike tidak lanjut datang mencari masalah. Mana mungkin Ike ingin meminta maaf?Setelah berpikir sejenak, Syakia bertanya, “Kak, apa masih ada orang lain yang datang bersamanya?”“Ada, ada seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian menteri, juga seorang pemuda tampan.”Orang yang mengenakan pakaian menteri dan bersedia menemani Ike datang ke tempat ini. Itu seharusnya adalah Damar atau Joko. Sebelumnya, Damar pernah datang ke tempat ini, juga dipermalukan. Dia seharusnya tidak akan datang lagi dalam waktu dekat. Jadi, satu-satunya orang yang mungkin datang adalah Joko.Sementara itu, pemuda yang dimaksud kakak seperguruan Syakia pasti adalah Panji. Untuk apa mereka sekeluarga datang kemari?Syakia mengernyit, lalu meletakkan buku sutra di tangannya dan berkata, “Aku a

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 132

    Seusai memukul Panji, Joko menatap Syakia. Saat melihat ekspresi Syakia yang dingin, perasaannya sangat kacau.“Syakia, maaf atas masalah pembatalan pernikahan, krim pelembap Yui, dan juga masalah lainnya selama ini. Kamu diperlakukan seperti itu karena kelalaianku,” ujar Joko sambil menangkupkan tangan dan menunjukkan ekspresi bersalah.Syakia pun tertegun. Dengan kemunculan Joko hari ini, dia bisa menduga bahwa Ike memang datang untuk meminta maaf padanya. Namun, dia tidak menyangka bahwa Joko sendiri yang akan terlebih dahulu meminta maaf padanya.Hanya saja, meskipun begitu, hati Syakia sudah sepenuhnya hancur. Setelah merasa terharu sejenak, dia kembali terlihat dingin.“Aku nggak terima permintaan maaf Tuan Joko.”“Apa? Syakia, jangan keterlaluan kamu! Ayahku sudah ....”Panji tidak menyangka Syakia akan bersikap begitu angkuh. Orang yang meminta maaf adalah ayahnya, seorang menteri yang berkuasa di kerajaan ini. Apa Syakia merasa itu masih belum cukup?“Diam!” Joko memelototi pu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 133

    Ucapan Ike membuat Syakia kebingungan. Bagaimanapun juga, dia tidak menduga Ike akan benar-benar datang meminta maaf padanya. Setelah berpikir sejenak, dia baru terpikirkan sesuatu. Dia melirik ketiga orang di hadapannya dan bertanya, “Gimana kalau aku nggak bersedia maafkan kalian?”Syakia merasa sangat penasaran.Ekspresi Ike sontak berubah. Dia berseru marah, “Aku sudah minta maaf, sedangkan putraku juga berlutut di hadapanmu. Apa lagi maumu?”Syakia memicingkan matanya. Setelah melihat tampang panik Ike, dia tahu bahwa tebakannya benar. Ternyata ada yang mengancam mereka. Pantas saja orang yang selalu merendahkannya bisa tiba-tiba datang meminta maaf padanya.Mengenai siapa yang mengancam mereka .... Sejujurnya, Syakia juga tahu itu siapa tanpa perlu menebaknya. Bagaimanapun juga, di seluruh Dinasti Minggana, yang bisa membuat orang dari Kediaman Pangeran Darsuki menunduk hanya beberapa orang.Syakia langsung mencibir, “Aku juga sudah bilang, aku nggak terima permintaan maaf Tuan J

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 134

    “Kak Ranjana, kamu juga sudah menyadarinya, ‘kan?”Ayu pergi ke kamar Ranjana dan sedang mencurahkan isi hatinya dengan tatapan penuh kegelisahan.“Sejak Kak Syakia jadi biksuni, Kak Abista dan Kak Kama makin berubah. Ayu juga nggak tahu ada apa ini sebenarnya. Hanya saja, Ayu khawatir banget sama mereka yang begini.”Setelah pulang dari merayakan ulang tahun Syakia di Kuil Bulani sebelumnya, Kama bukan hanya menghajar Panji. Ketika dihukum Abista dengan dikurung di aula leluhur, dia bahkan menolak keluar untuk sesaat.Sampai Abista bertanya apakah Kama masih mau mempersiapkan hadiah untuk Syakia atau tidak, Kama baru segera keluar dari aula leluhur. Setelah itu, Abista dan Kama pun sering keluar rumah. Ada beberapa kali Ayu bermanja-manja dan meminta dibawa keluar bersama mereka, tetapi kedua orang itu tetap tidak setuju. Hal ini membuat Ayu merasa makin terancam.Ayu yang sangat gelisah segera datang mencari Ranjana. Di antara 4 saudara ini, orang yang paling cerdas itu sebenarnya bu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 135

    Setelah Ranjana setuju, Ayu tidak berhenti bertanya apa yang akan dilakukannya. Bagaimanapun juga, Ayu tidak benar-benar berharap Syakia kembali. Namun, Ranjana hanya tersenyum tanpa menjawab. Sangat jelas bahwa dia tidak ingin memberi tahu rencananya pada Ayu.Hanya saja, Ranjana sepertinya bisa menebak pemikiran Ayu. Dia hanya menjamin, “Ayu tenang saja, Kakak nggak akan biarkan dia mengancam posisimu.”Begitu mendengar ucapan itu, jantung Ayu seolah-olah berhenti berdetak untuk sejenak. Dia mengira Ranjana mengetahui segala triknya dan kedok aslinya telah terbongkar. Sampai Ranjana mengelus kepalanya dengan penuh kasih sayang, dia baru berhenti merasa gelisah dan tidak berani lanjut bertanya lagi.Tidak lama setelahnya, Ayu akhirnya mengetahui cara apa yang digunakan Ranjana.Dari awal Ayu meminta tolong padanya, Ranjana memang tidak berniat untuk turun tangan sendiri. Bagaimanapun juga, dia tidak mampu melakukan apa-apa dengan kesehatannya saat ini. Jadi, dia mencari Kahar, satu-sa

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 136

    Tepat ketika Kahar hampir menyentuh pintu kamar Syakia, dia tiba-tiba merasa bulu kuduk di punggungnya berdiri. Dia segera menoleh dan langsung melayangkan tinju ke belakangnya.“Duk!”Ketika kedua serangan itu saling beradu, Kahar baru melihat jelas sosok orang di belakangnya. Namun, tidak tepat juga apabila menggunakan kata “melihat jelas”. Bagaimanapun juga, orang itu mengenakan pakaian hitam yang menutupi seluruh tubuh selain matanya sehingga dia dapat menyatu dengan malam secara sempurna.“Siapa kamu!” seru Kahar.Hala menempelkan jari telunjuknya di depan mulut, lalu berbisik, “Kecilkan suaramu. Jangan bangunkan dia.”Seusai berbicara, Hala langsung menghunuskan pedangnya dan menyerang ke arah kepala Kahar. Kahar sontak merasa marah.“Kalau nggak mau ngomong, jangan salahkan aku lagi!”Kahar mengeluarkan belatinya dan segera mengayunkannya untuk menangkis serangan pedang Hala. Kedua orang itu mulai bertarung di halaman Syakia....Keesokan harinya, Syakia mengusap matanya dengan

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 137

    “Kenapa? Di matamu, selama nggak membunuh orang, tindakan lainnya nggak termasuk keji?” Syakia menatap Kahar lekat-lekat dengan penuh amarah dan melanjutkan, “Kalau begitu, aku mau tanya. Apa sebenarnya maumu kalau bukan membunuhku? Ngomong!”“Kamu mau aku minum obat itu, lalu bawa aku kembali ke rumah? Atau kamu mau mengurungku biar Ayu-mu membunuh dan menyiksaku? Atau kamu mau membelah perutku sekali lagi?”Ketika mengucapkan kalimat terakhir, Syakia sudah tidak dapat mengendalikan emosinya. Kebencian yang tersimpan begitu lama di hatinya langsung meledak pada saat ini. Setelah kalimat terakhirnya membuat 3 orang lain yang berada di halaman tercengang, dia baru tersadar dan memejamkan matanya.“Guru, aku mau pergi tenangkan diri dulu. Tolong bantu aku interogasi dia,” ujar Syakia dengan suara agak gemetar. Setelah itu, dia berlari masuk ke kamarnya dan menutup pintunya.Syakia tidak tahu seberapa besar gejolak yang dipicu oleh ucapannya itu dalam hati Shanti, Hala, dan Kahar. Shanti

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 245

    Alhasil, sebelum Syakia menyelesaikan kata-katanya, Kingston sudah terlebih dahulu tertawa dan menyela, “Ayu? Baik hati dan polos? Hahaha! Itu benar-benar lelucon terlucu di dunia!”Kingston tertawa terbahak-bahak sambil memaki, “Dia itu cuma seorang penipu yang menipu semua orang. Dia dan ibunya yang terkutuk itu sudah mempermainkan kita semua habis-habisan!”Syakia hanya menatap Kingston. Setelah Kingston selesai mengumpat, dia baru berkata dengan acuh tak acuh, “Kalau kamu berani menyela ucapanku lagi, jangan salahkan aku lanjut menyiksa seranggamu.”Syakia tidak lupa menunjuk ke arah ember kayu.Kingston langsung diam dan berkata, “Baik, baik. Kamu lanjutkan saja apa yang mau kamu katakan.”Saat ini, minat Syakia sudah agak berkurang. Dia berujar dengan nada datar, “Kamu yang suruh serangga kecil itu untuk meracuniku. Gara-gara dia, aku harus membuang banyak darahku.”Selain itu, serangga kecil ini juga meminum air spiritual dalam ruang giok Syakia. Sekarang, Syakia hanya ingin men

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 244

    “Ugh! Ugh ... ugh ....”Seiring dengan makin lama kelabang beracun itu berada dalam dasar ember, Kingston yang diikat ke tiang mulai meronta. Wajahnya terlihat sangat merah dan dia terlihat seperti tidak dapat bernapas. Sepasang matanya membelalak dan ekspresinya mulai terdistorsi. Ini bagaikan yang hampir mati tenggelam bukan hanya Pojun, tetapi juga Kingston. “Jadi, kalau kelabang beracun ini dibunuh, ada kemungkinan bahwa Kingston juga akan mati atau terluka parah?”Syakia merasa kemungkinan Kingston akan terluka parah lebih besar. Bagaimanapun juga, apabila kelabang beracun ini benar-benar terhubung dengan nyawa Kingston, Kingston tidak mungkin membiarkannya keluar secara asal. Namun, dinilai dari keterikatan Kingston dengan serangga takdirnya, apabila Pojun tewas, pengaruhnya terhadap Kingston juga pasti tidaklah kecil.Setelah mengetahui jelas hal ini, Syakia mengulurkan tangannya untuk menuang air dalam ember supaya kelabang beracun itu bisa bernapas kembali. Begitu Pojun dise

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 243

    Jika tidak, Kingston tidak mungkin mengejar sampai kemari hanya demi meminta serangga takdirnya. Kingston bahkan tidak bertanya tentang Ayu.Syakia tiba-tiba merasa agak penasaran. Apakah kelabang beracun ini akan mematuhi kata-katanya ketika berada di depan Kingston?Setelah memikirkannya, Syakia memutuskan untuk mengujinya.“Nak, ayo jalan! Kita temui majikanmu itu.”Tidak lama kemudian, Syakia membawa kelabang beracun itu pergi ke dapur. Begitu masuk, dia menyadari bahwa Hala sudah mengikat Kingston ke sebuah tiang.Setelah Syakia membawa kelabang beracun itu masuk ke dapur, Kingston yang kesadarannya sudah hampir pulih itu tiba-tiba merasakan sesuatu dan berseru, “Pojun? Pojun! Cepat kemari, Pojun!”“Ternyata namamu Pojun?” Syakia menaruh kelabang beracun berwarna hitam mengkilap itu ke lantai dengan saputangan. Setelah itu, Kingston yang kepalanya masih terasa pusing segera memanggil serangga takdirnya, “Pojun ... cepat kemari. Aku ada di sini .... Cepat tolong aku.”Saat ini, Ki

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 242

    “Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 241

    Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 240

    “Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status