Damar dan Abista menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Kama yang berdiri di luar pintu dengan tampang marah.“Ayah, jangan diam lagi! Hari ini, aku mau tahu jawabanmu. Di hatimu, lebih penting Syakia atau Ayu?”“Kama, pertanyaan macam apa itu? Syakia dan Ayu itu sama-sama adik kita! Mereka nggak bisa dibandingkan seperti ini!”Abista tahu ayahnya pilih kasih. Namun, mana boleh Kama menanyakan hal seperti siapa yang lebih penting?“Kak Abista!” Kama berkata dengan dingin, “Kamu masih belum sadar? Hubungan Syakia dengan kita bisa mencapai tahap seperti ini memang karena salah kita dan ayah. Tapi, kamu kira Ayu sama sekali nggak salah?”Dulu, semua orang mengira Ayu sangat polos dan baik hati. Mereka khawatir Ayu merasa rendah diri karena statusnya sebagai putri asuh, makanya mereka sangat memperhatikan Ayu. Namun, entah sejak kapan, selama terjadi sesuatu di rumah dan Ayu menangis, mereka akan langsung menyalahkan Syakia.Sampai hari ini, semuanya baru terungkap. Adik yang selama ini mer
Baca selengkapnya