Semua Bab Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati: Bab 171 - Bab 180

239 Bab

Bab 171

“Cukup, jangan banyak omong kosong lagi.” Setelah mendengar sampai di sini, Damar merasa penjelasan ini sudah cukup meyakinkan. Dia segera menyela ucapan Ainur dan hendak membantu Ayu menutupi perbuatannya dengan langsung menarik kesimpulan.“Sekarang, masalah ini sudah diselidiki dengan jelas. Semua hal ini disebabkan oleh seorang dayang yang hendak mencelakai majikannya. Kami akan memberinya hukuman sesuai perbuatannya. Pangeran Adika dan Putri Suci nggak perlu repot-repot mengurus sisanya lagi.”Baru saja Damar selesai berbicara, Syakia bertanya dengan heran, “Nona Ayu, kamu benar-benar nggak tahu apa-apa?”Ayu lanjut berlagak kasihan dan menjawab, “Aku benar-benar nggak tahu. Aku harap Kak Sya ... Putri Suci jangan berprasangka buruk padaku karena punya salah paham terhadapku.”Ayu sengaja mengatakan hal itu dengan sangat halus. Namun, kata-katanya terkesan seperti Syakia sedang mencari masalah dengannya di telinga orang lain.Baru saja Abista hendak mengatakan sesuatu, Syakia sud
Baca selengkapnya

Bab 172

“Mereka ... mereka asal bicara! Mereka lagi memfitnahku! Kak Syakia, kenapa kamu suruh mereka untuk memfitnahku!”Ayu masih bersikeras untuk berdalih dan mencoba untuk membela diri. Namun, Syakia hanya tertawa tanpa berbicara.Salah satu pemilik toko obat itu mengeluarkan selembar kertas dan berujar, “Nona seharusnya masih ingat kamu ada isi kertas ini waktu datang beli bahan obat di tokoku, ‘kan? Meski nama yang kamu isi di kertas ini berbeda dengan nama yang kamu isi di 2 tempat lainnya, waktu pembelian obatnya nggak mungkin salah.”Kedua pemilik toko obat lainnya juga menunjukkan kertas yang mereka bawa. Mereka menyerahkan kertas itu kepada Adika, tetapi Adika langsung menyerahkannya kepada Syakia.Syakia hanya melirik sekilas, lalu menyuruh orang untuk memberikannya kepada Damar. Damar melirik selembar demi selembar kertas itu. Pada akhirnya, Abista yang masih tidak bersedia memercayai fakta ini mengambil kertas-kertas itu dari tangan ayahnya. Setelah membaca dengan saksama waktu
Baca selengkapnya

Bab 173

Jelas-jelas, Damar terlebih dahulu mengepung Kuil Bulani sebelum mengetahui faktanya dan melindungi Ayu. Namun, yang keluar dari mulut Adika malah terkesan seolah-olah dia sengaja memfitnah Syakia. Ekspresinya seketika menjadi sangat suram.“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?”Syakia menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma harap Adipati bisa bertindak adil dan nggak memihak.”Namun ... apakah mantan ayahnya ini dapat bertindak adil dan tidak memihak? Jika Syakia masih belum meninggalkan kediaman ini atau masih belum diangkat menjadi Putri Suci oleh Kaisar, jika dia yang melakukan hal seperti ini, Damar tidak mungkin hanya menghukumnya dengan mengurungnya di aula leluhur untuk merenungkan kesalahannya. Jadi, dia ingin tahu apakah ayah yang selalu bersikap angkuh ini bisa bersikap adil atau tidak.Damar menatap Syakia dengan lekat-lekat. Namun, dalam menghadapi tatapan yang penuh intimidasi dan tajam itu, Syakia sama sekali tidak mundur. Tepat pada saat situasi
Baca selengkapnya

Bab 174

Ketika semua orang menatap Syakia dengan perasaan campur aduk, Syakia hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Buat apa kalian menatapku? Bukannya Tuan Kama sudah bilang dia nggak akan mati? Sebaiknya kalian mulai secepatnya.”Sikap Syakia yang acuh tak acuh membuat Ayu sangat murka. Beraninya Syakia mendesak! Apa dia tidak tahu siapa yang akan dipukul? Jika bukan karena ada begitu banyak orang di tempat ini, Ayu benar-benar ingin langsung menampar Syakia!Pada akhirnya, orang yang menjalankan tugas berat mencambuk Ayu adalah Abista. Setelah Damar memberi perintah, Abista pun menjalankan tugasnya sama seperti 2 bulan lalu. Hanya saja, orang yang dipukul kali ini adalah Ayu.Abista mengambil cambuk yang memancarkan cahaya dingin itu. Namun, untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus bagaimana memulai hukuman ini. Dia menoleh ke arah Syakia, seolah-olah masih ingin membantu Ayu memohon ampun. Jika Syakia berbesar hati, mungkin saja Ayu tidak perlu dicambuk.“Syakia, biar bagaimana, Ayu itu
Baca selengkapnya

Bab 175

“Gubrak!”“Ayu!” Abista buru-buru meletakkan cambuknya, lalu memapah Ayu dengan hati-hati. “Ayu, kamu baik-baik saja? Kamu masih bisa bertahan?”Ayu memejamkan matanya dan sama sekali tidak bergerak.Ketika Damar buru-buru berjalan ke hadapan Ayu dan ingin memeriksa apakah Ayu benar-benar terluka parah, Adika pun tertawa mengejek.“Putri bungsumu itu benar-benar lemah. Dia jelas-jelas hanyalah putri asuh yang baru dibawa pulang nggak lama ini, tapi dia malah lebih rapuh dari seorang putri sah yang tumbuh besar dengan dimanjakan keluarganya dari kecil.”Nada Adika terdengar penuh sindiran. Dia melanjutkan, “Baru dicambuk 20 kali, dia sudah pingsan. Waktu Sahana dicambuk sebanyak 50 kali dulu, gimana sebenarnya dia  bertahan?”Ucapan Adika sepertinya juga mengandung amarah. Dia telah menyuruh bawahannya untuk menyelidiki apa sebenarnya yang dialami Syakia selama tinggal di Kediaman Adipati Pelindung Kerajaan dan menemukan banyak informasi.Namun, Adika tetap tidak menemukan dari mana as
Baca selengkapnya

Bab 176

Damar menatap Syakia dan Adika dengan ekspresi yang sangat dingin. Dia berujar, “Aku nggak akan lupakan kejadian hari ini. Sekarang, aku sudah hukum orangnya. Apa Putri Suci sudah bisa serahkan obat penawarnya?”Syakia mengangkat alisnya dan menjawab, “Bukannya Adipati seharusnya minta obat penawarnya pada putri bungsumu? Orang yang meracuni orang itu dia, bukan aku.”Damar berkata dengan dingin, “Kamu tahu apa maksudku.”Memang Ayu yang meracuni Kahar sehingga Kahar memuntahkan darah dan tidak sadarkan diri. Namun, sebelum itu, Syakia juga meracuni Kahar. Racun itu yang membuat Kahar asal berbicara di pesta ulang tahun Janda Permaisuri!Syakia tertawa dan berujar, “Kenapa Adipati memfitnahku lagi? Ini tabib yang kamu cari sendiri. Kamu boleh tanya padanya apa ada racun lain di tubuh Kahar atau nggak.”Damar memicingkan matanya, lalu menoleh ke arah tabib tua itu. Sesuai dugaan, tabib tua itu menggeleng. Ekspresi Damar langsung berubah. Kemudian, dia berkata dengan acuh tak acuh, “Berh
Baca selengkapnya

Bab 177

Kama bertanya dengan penuh harap, “Boleh, Syakia?”“Nggak,” tolak Syakia tanpa ragu. Tatapannya terlihat sangat dingin dan tanpa perasaan saat bertanya, “Atas dasar apa aku harus kasih kamu kesempatan seperti itu?”Di kehidupan sebelumnya, Syakia juga pernah meminta kesempatan yang tak terhitung jumlahnya. Namun, siapa yang pernah memberinya kesempatan itu?“Kelak, jangan ganggu aku lagi.”Seusai melontarkan kata-kata yang kejam itu, Syakia langsung berjalan melewati Kama dan meninggalkan tempat ini.Kama terpaku di tempat untuk waktu yang lama. Ketika dia tersadar dan mengangkat kepalanya, wajahnya sudah dibasahi air mata. Bagaimana ini .... Apa sebenarnya yang harus dilakukannya?Kama yang tidak dapat memperbaiki hubungannya dengan Syakia merasa bagaikan seorang anak kecil yang tersesat saat ini. Dia bergumam, “Ibu, andaikan kamu masih hidup.”Ibu mereka paling ahli dalam menghibur Syakia. Jika ibu mereka masih hidup, dia pasti bisa mengajari Kama cara untuk membujuk adiknya itu pula
Baca selengkapnya

Bab 178

Syakia tidak menyangka Adika meminta maaf padanya karena masalah ini. Setelah melihat wajah Adika yang dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, juga mendengar nada tulus pria itu, hatinya tiba-tiba berdebar.Syakia buru-buru memalingkan wajah karena tidak berani menatap Adika. Dia menjawab, “Ng ... nggak apa-apa. Waktu itu, kita memang nggak saling kenal.”Apalagi, mereka hanya berpapasan waktu itu. Tidak, itu tidak termasuk berpapasan. Sampai sekarang, Syakia masih ingat bahwa keadaannya waktu itu terlalu buruk. Ketika berjalan keluar dari ruang baca Kaisar, dia hampir jatuh dan Adika yang memapahnya.“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kalau bukan karena Pangeran memapahku waktu itu, aku mungkin sudah jatuh.”Syakia bahkan tidak berani menjamin dirinya dapat berdiri sendiri jika benar-benar terjatuh pada saat itu. Bagaimanapun juga, lukanya hari itu sangat serius.Setelah mendengar ucapan Syakia, Adika pun menghela napas berat. Namun, dia segera tersenyum dan mengelus kepala S
Baca selengkapnya

Bab 179

Damar dan Abista menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Kama yang berdiri di luar pintu dengan tampang marah.“Ayah, jangan diam lagi! Hari ini, aku mau tahu jawabanmu. Di hatimu, lebih penting Syakia atau Ayu?”“Kama, pertanyaan macam apa itu? Syakia dan Ayu itu sama-sama adik kita! Mereka nggak bisa dibandingkan seperti ini!”Abista tahu ayahnya pilih kasih. Namun, mana boleh Kama menanyakan hal seperti siapa yang lebih penting?“Kak Abista!” Kama berkata dengan dingin, “Kamu masih belum sadar? Hubungan Syakia dengan kita bisa mencapai tahap seperti ini memang karena salah kita dan ayah. Tapi, kamu kira Ayu sama sekali nggak salah?”Dulu, semua orang mengira Ayu sangat polos dan baik hati. Mereka khawatir Ayu merasa rendah diri karena statusnya sebagai putri asuh, makanya mereka sangat memperhatikan Ayu. Namun, entah sejak kapan, selama terjadi sesuatu di rumah dan Ayu menangis, mereka akan langsung menyalahkan Syakia.Sampai hari ini, semuanya baru terungkap. Adik yang selama ini mer
Baca selengkapnya

Bab 180

Damar yang menyadari maksud tersirat Kama langsung menunjukkan tampang suram. Dia berseru dengan marah, “Kama Angkola, apa maksudmu?”“Nggak apa-apa. Aku cuma merasa berhubung adikku sudah nggak ada di rumah ini lagi, nggak ada gunanya juga aku lanjut tinggal di sini.”Begitu mendengar ucapan itu, jangankan Damar dan Abista, bahkan Ranjana yang baru bangun juga membelalak.“Brak!” Damar langsung menggebrak meja dan berdiri. Dia berseru marah, “Lancang! Kamu kira kamu bisa tinggal dan pergi dari rumah ini sesuka hatimu?”“Kenapa nggak?” Saat ini, keputusan Kama sudah bulat. Dia berkata dengan tatapan tegas, “Adikku juga bisa pergi, kenapa aku nggak bisa? Apa Ayah juga mau ancam aku pakai cara menghapus namaku dari daftar silsilah keluarga, seperti kamu mengancam Syakia?”Hati Kama terasa sangat sakit. Namun, dia sudah tidak peduli. “Nggak apa-apa. Hapuslah namaku dari daftar silsilah keluarga.”Tanpa status sebagai anggota Keluarga Angkola, Kama setidaknya bisa memiliki marga yang sama
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1617181920
...
24
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status