Share

Bab 177

Author: Emilia Sebastian
Kama bertanya dengan penuh harap, “Boleh, Syakia?”

“Nggak,” tolak Syakia tanpa ragu. Tatapannya terlihat sangat dingin dan tanpa perasaan saat bertanya, “Atas dasar apa aku harus kasih kamu kesempatan seperti itu?”

Di kehidupan sebelumnya, Syakia juga pernah meminta kesempatan yang tak terhitung jumlahnya. Namun, siapa yang pernah memberinya kesempatan itu?

“Kelak, jangan ganggu aku lagi.”

Seusai melontarkan kata-kata yang kejam itu, Syakia langsung berjalan melewati Kama dan meninggalkan tempat ini.

Kama terpaku di tempat untuk waktu yang lama. Ketika dia tersadar dan mengangkat kepalanya, wajahnya sudah dibasahi air mata. Bagaimana ini .... Apa sebenarnya yang harus dilakukannya?

Kama yang tidak dapat memperbaiki hubungannya dengan Syakia merasa bagaikan seorang anak kecil yang tersesat saat ini. Dia bergumam, “Ibu, andaikan kamu masih hidup.”

Ibu mereka paling ahli dalam menghibur Syakia. Jika ibu mereka masih hidup, dia pasti bisa mengajari Kama cara untuk membujuk adiknya itu pula
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 178

    Syakia tidak menyangka Adika meminta maaf padanya karena masalah ini. Setelah melihat wajah Adika yang dipenuhi rasa bersalah dan penyesalan, juga mendengar nada tulus pria itu, hatinya tiba-tiba berdebar.Syakia buru-buru memalingkan wajah karena tidak berani menatap Adika. Dia menjawab, “Ng ... nggak apa-apa. Waktu itu, kita memang nggak saling kenal.”Apalagi, mereka hanya berpapasan waktu itu. Tidak, itu tidak termasuk berpapasan. Sampai sekarang, Syakia masih ingat bahwa keadaannya waktu itu terlalu buruk. Ketika berjalan keluar dari ruang baca Kaisar, dia hampir jatuh dan Adika yang memapahnya.“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu. Kalau bukan karena Pangeran memapahku waktu itu, aku mungkin sudah jatuh.”Syakia bahkan tidak berani menjamin dirinya dapat berdiri sendiri jika benar-benar terjatuh pada saat itu. Bagaimanapun juga, lukanya hari itu sangat serius.Setelah mendengar ucapan Syakia, Adika pun menghela napas berat. Namun, dia segera tersenyum dan mengelus kepala S

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 179

    Damar dan Abista menoleh ke arah pintu. Mereka melihat Kama yang berdiri di luar pintu dengan tampang marah.“Ayah, jangan diam lagi! Hari ini, aku mau tahu jawabanmu. Di hatimu, lebih penting Syakia atau Ayu?”“Kama, pertanyaan macam apa itu? Syakia dan Ayu itu sama-sama adik kita! Mereka nggak bisa dibandingkan seperti ini!”Abista tahu ayahnya pilih kasih. Namun, mana boleh Kama menanyakan hal seperti siapa yang lebih penting?“Kak Abista!” Kama berkata dengan dingin, “Kamu masih belum sadar? Hubungan Syakia dengan kita bisa mencapai tahap seperti ini memang karena salah kita dan ayah. Tapi, kamu kira Ayu sama sekali nggak salah?”Dulu, semua orang mengira Ayu sangat polos dan baik hati. Mereka khawatir Ayu merasa rendah diri karena statusnya sebagai putri asuh, makanya mereka sangat memperhatikan Ayu. Namun, entah sejak kapan, selama terjadi sesuatu di rumah dan Ayu menangis, mereka akan langsung menyalahkan Syakia.Sampai hari ini, semuanya baru terungkap. Adik yang selama ini mer

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 180

    Damar yang menyadari maksud tersirat Kama langsung menunjukkan tampang suram. Dia berseru dengan marah, “Kama Angkola, apa maksudmu?”“Nggak apa-apa. Aku cuma merasa berhubung adikku sudah nggak ada di rumah ini lagi, nggak ada gunanya juga aku lanjut tinggal di sini.”Begitu mendengar ucapan itu, jangankan Damar dan Abista, bahkan Ranjana yang baru bangun juga membelalak.“Brak!” Damar langsung menggebrak meja dan berdiri. Dia berseru marah, “Lancang! Kamu kira kamu bisa tinggal dan pergi dari rumah ini sesuka hatimu?”“Kenapa nggak?” Saat ini, keputusan Kama sudah bulat. Dia berkata dengan tatapan tegas, “Adikku juga bisa pergi, kenapa aku nggak bisa? Apa Ayah juga mau ancam aku pakai cara menghapus namaku dari daftar silsilah keluarga, seperti kamu mengancam Syakia?”Hati Kama terasa sangat sakit. Namun, dia sudah tidak peduli. “Nggak apa-apa. Hapuslah namaku dari daftar silsilah keluarga.”Tanpa status sebagai anggota Keluarga Angkola, Kama setidaknya bisa memiliki marga yang sama

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 181

    Kama seperti sudah terobsesi dan ingin merasakan semua penderitaan yang dialami Syakia sebelumnya. Dia ingin tahu bagaimana perasaan adiknya itu ketika menapaki jalan ini. Selanjutnya, dia akan segera merasakannya. Jalan pegunungan yang berlumpur, tidak rata, serta penuh dengan batu bukan hanya melukai lutut dan dahinya, tetapi juga mengikis ketegaran dan ketajamannya secara perlahan. Sebelum mencapai setengah perjalanan, Kama sudah merasa lutut dan dahinya terasa sangat sakit. Dia yang awalnya masih bisa berjalan dan bersujud dengan lincah bahkan merasa kesulitan untuk mengangkat sebelah kaki dan membungkuk. Namun, dia bahkan belum mencapai setengah perjalanan!Kama mendongak dan menatap jalan gunung yang tak berujung. Pada saat ini, dia terlihat sangat bingung. Kenapa gunung ini begitu tinggi? Jelas-jelas, gunung ini hanyalah sebuah gunung yang tingginya biasa-biasa saja bagi Kama dulu. Sekarang, dia malah merasa dirinya tidak akan dapat mendaki sampai puncak gunung. Ti ... tidak .

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 182

    Ketika Abdi tiba-tiba meminta maaf pada Syakia di pesta ulang tahun Janda Permaisuri, Syakia merasa sangat terkejut. Setelah memikirkannya, Syakia pada akhirnya mengangguk dan menjawab, “Kalau begitu, aku akan menemuinya.”Maya menepuk-nepuk bahu Syakia dan berbisik, “Sahana, meski orang itu sepertinya datang untuk minta maaf, kata-kata pemuda tengil sepertinya nggak boleh terlalu dipercaya. Kamu lebih waspada saja, jangan sampai ditipu orang.”Maya sebenarnya khawatir Syakia tertipu. Sebab, Syakia masih kecil dan baru melewati upacara kedewasaannya. Di usia semuda ini, seorang gadis paling mudah tergerak hatinya dan terpesona oleh pria jahat. Jadi, dia harus mengingatkan Syakia untuk tidak terjebak.“Sahana, ingat. Kita itu biksuni. Jangan percaya sama kata-kata manis pria. Kamu harus kuatkan hatimu dan nggak boleh melanggar peraturan. Mengerti?”Syakia pun merasa lucu dan menjawab, “Kak Maya, kamu berpikir kejauhan.”Abdi dan Syakia baru pernah bertemu beberapa kali. Ketika mereka b

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 183

    “Pangeran Adika?” Abdi yang mendengar suara dari belakangnya pun menoleh dan langsung tercengang. Begitu melihat Adika, dia langsung gemetar ketakutan dan bertanya, “Ke ... kenapa Pangeran ada di sini?”Adika menatap Abdi dari atas kudanya dan berkata, “Kamu masih belum jawab pertanyaanku.”Abdi segera tersenyum malu dan memberanikan diri untuk menjawab, “Aku datang untuk memberikan hadiah ulang tahun bagi Putri Suci.”Ketika mendengar “hadiah ulang tahun”, Adika langsung merasa agak kesal. Dia berujar dengan dingin, “Ulang tahun Sahana sudah berlalu begitu lama. Kamu baru datang sekarang untuk kasih hadiahnya?”Abdi yang merasa terintimidasi pun hampir tidak bisa mempertahankan senyumnya. Dia memaksakan diri untuk menjawab, “Memang agak terlambat. Jadi, hadiah ini juga termasuk hadiah permintaan maaf. Sebelumnya, aku pernah menyinggung Putri Suci dengan kata-kataku. Aku pun meminta kesempatan pada Putri Suci untuk membiarkanku menebus kesalahanku.”Syakia membuka mulutnya, tetapi mera

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 184

    Adika tidak ingin Syakia merasa dirinya adalah bajingan seperti itu. Jadi, dia hanya bisa bersabar.“Cuaca hari ini kurang bagus. Hujan mungkin akan turun sebentar lagi. Kamu mau masuk dulu?”Adika melihat Syakia hanya mengenakan pakaian biksuni yang tipis. Dia pun hendak melepaskan mantelnya dan menyelimuti Syakia. Namun, dia akhirnya mengurungkan niatnya itu.Syakia menggeleng dan bertanya maksud kedatangan Adika hari ini.“Pangeran datang untuk minta aku bacakan sutra untuk Pangeran?”Masalah Syakia selama beberapa hari terakhir terlalu banyak. Dia sudah tidak membacakan sutra untuk Adika untuk beberapa saat dan agak mengkhawatirkan keadaan Adika.Adika tentu saja tidak melewatkan kekhawatiran yang melintasi mata Syakia. Hatinya langsung terasa jauh lebih nyaman. Dia menggeleng sambil tersenyum. “Hari ini nggak perlu dulu. Keadaanku selama beberapa hari terakhir lumayan bagus. Beberapa hari lagi, aku akan datang untuk mencarimu.”Hari ini, Adika tidak memiliki tujuan apa pun dan mur

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 185

    Hujannya tidak terlalu deras, tetapi disertai dengan angin dingin. Hujan gerimis itu membasahi pakaiannya sedikit demi sedikit, sedangkan angin yang bertiup sepertinya juga membuat hatinya terasa dingin.“Kak Kama, ada 4 musim dalam setahun. Di antara begitu banyak musim dan perubahan cuaca, kamu paling suka cuaca seperti apa?”Di benak Kama, muncul sebuah memori ketika mereka semua masih kecil. Pada saat itu, adik perempuan mereka masih hanya Syakia seorang. Syakia sangat suka menempel di sisi kakak-kakaknya dan paling lengket dengannya.Syakia bagaikan seorang pengekor. Setiap Kama pulang, adiknya yang kecil itu akan selalu mengelilinginya dan berceloteh tanpa henti, seolah-olah memiliki percakapan yang tiada habisnya. Pada saat itu, Kama juga sangat menyayangi Syakia. Tidak peduli apa yang ditanyakan Syakia, dia akan menjawab dengan sabar dan tidak pernah bersikap kasar terhadap Syakia.“Aku tentu saja paling suka cuaca yang cerah! Setiap cuacanya cerah, kakakmu ini bisa keluar dan

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 242

    “Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 241

    Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 240

    “Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 239

    Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 238

    Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 237

    “Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 236

    “Aku nggak peduli kalian itu bawahan siapa, juga nggak peduli untuk apa kalian datang kemari. Sejak kalian menginjakkan kaki ke Kuil Bulani malam ini, kalian sudah ditakdirkan untuk mati.”Adika menancapkan pedangnya di lantai depannya, lalu melirik para pengawal rahasia yang ditahan di atas lantai. Seluruh tubuh mereka telah digeledah. Bahkan racun yang tersimpan di gigi mereka juga dicabut satu per satu. Saat ini, mereka bagaikan ikan yang berada di atas talenan.Adika menatap mereka dengan dingin. Setelah menunggu sesaat, pengawal rahasia yang terakhir akhirnya dibawa keluar.“Bruk!”Hala yang tubuhnya terluka oleh satu sayatan pedang berjalan keluar dengan pelan sambil menyeret seseorang yang berlumuran darah. Kemudian, dia melempar orang itu di hadapan semua pengawal rahasia.Para pengawal rahasia Keluarga Angkola tentu saja mengenal orang itu. Dia adalah Sando, pengawal rahasia kepercayaan Damar. Sekarang, dia sudah sepenuhnya lumpuh.“Bagus, semua orangnya sudah berkumpul.”Adik

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 235

    Saat ini, Adika sangat marah. Setelah mengawal Syakia pergi ke Kalika, dia baru tahu seberapa banyak bahaya yang ada di sisi gadis ini. Jadi, begitu mendengar Kaisar mengatakan ada orang yang ingin membunuh Syakia hari ini, dia langsung teringat pada orang-orang dari Kalika itu.Terutama orang bernama Kingston. Adika tahu bahwa orang itu pasti akan datang lagi. Oleh karena itu, dia baru begitu mengkhawatirkan keselamatan Syakia.“Aku nggak bohong!” Syakia buru-buru menjelaskan, “Aku cuma nggak mau repotin kamu ....”“Kamu rasa ini adalah kerepotan bagiku?”Kali ini, Adika merasa makin marah. Dia menunduk, lalu menatap Syakia lekat-lekat dengan matanya yang berapi-api. Wajahnya yang tampan itu menunjukkan ekspresi yang luar biasa serius.Adika menekankan kata-katanya. “Sahana, dengar baik-baik. Bagiku, urusanmu nggak pernah merepotkanku.”Hati Syakia seketika bergetar. Dia menatap Adika yang berjarak sangat dekat dengannya dengan terkejut. Pada momen ini, dia seperti sudah memahami sesu

  • Pembalasan Dendam Sang Putri Adipati   Bab 234

    “Pembunuh?” Kaisar bertanya dengan bingung, “Kenapa bisa ada pembunuh yang pergi ke Kuil Bulani untuk membunuhmu? Siapa yang mengutus mereka?”Syakia menunduk dan menjawab, “Aku nggak berani bilang.”“Nggak berani bilang?”Kaisar mengangkat alisnya. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang mengutus para pembunuh itu dari jawaban Syakia. Di seluruh ibu kota, ada siapa saja yang tidak berani dituduh putri sucinya itu?Kaisar langsung tertawa. Setelah upacara permohonan hujan yang dilakukan di Kalika, baik itu kebetulan atau bukan, hujan deras telah turun di Kalika yang sudah mengalami kekeringan selama 3 bulan. Sekarang, Syakia telah menjadi Putri Suci Pembawa Berkah yang sebenarnya di hati rakyat jelata. Bukan hanya reputasi Syakia yang meningkat, bahkan Kaisar yang mengangkat Syakia menjadi putri suci juga dipuji oleh rakyat jelata. Hal ini telah mengokohkan posisi Kaisar yang masih muda ini sehingga tidak ada yang dapat melawannya. Oleh karena itu, kepercayaan para pejabat dan menter

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status