Setelah mendengar jawaban komandan Pasukan Bendera Hitam, Abista dan Kahar juga tidak bisa menghentikan mereka. Kedua orang ini hanya bisa melihat sekelompok orang menggotong Kahar dan Ranjana pergi.Tidak lama kemudian, sekelompok orang ini tiba di tempat yang dimaksud.Awalnya, Ayu masih tidak menganggap serius hal ini. Namun, ketika mereka mulai mendekati sebuah tempat, ekspresinya mulai berubah. Terutama ketika melihat semua orang berkumpul di sekitar sumur kering yang terbengkalai di belakang gudang penyimpanan kayu. Sekujur tubuhnya langsung gemetar.Begitu Syakia dan yang lainnya tiba, Adika, Damar, dan orang lain yang berdiri di samping sumur juga menoleh.“Apa yang kalian temukan?” tanya Syakia sambil melangkah mendekati Adika.Kemudian, Syakia melihat bungkusan kertas minyak yang diambil dari dalam sumur. Isinya tidak lain adalah setengah ekor bebek goreng yang tersisa itu.“Aku sudah suruh orang memeriksanya. Racun yang terkandung dalam bebek goreng ini sama dengan racun yan
“Pemilik Rumah Makan Fesili?”“Benar. Supaya bisa bertanya dengan jelas, aku dan Putri Suci sudah mengutus orang untuk pergi menyuruh pemilik Rumah Makan Fesili datang kemari,” ujar Adika sambil berjalan ke sisi Syakia. Tubuh Adika yang tegap dan tinggi sedikit membungkuk dan menutupi tubuh Syakia yang kecil. Dia juga menatap semua anggota Keluarga Angkola dengan mata menyipit.“Kenapa kalian tahu bebek goreng itu pasti dibeli dari Rumah Makan Fesili?”Damar tidak dapat membayangkan seberapa menyedihkan akhir putrinya yang kasihan itu apabila faktanya terungkap. Jadi, meskipun masalahnya sudah mencapai tahap ini, dia masih tetap mencoba yang terbaik untuk membantu Ayu menyembunyikan hal ini.Namun, lawan Damar hari ini bukanlah orang yang bisa dikendalikan ataupun dipermainkannya dengan mudah, melainkan dua sosok yang luar biasa. Contohnya, Adika.Jika Damar hanyalah seekor rubah tua yang licik, Adika adalah seekor serigala yang ganas dan kejam. Dia bisa membuat seorang adipati yang m
Adika merasa dirinya sudah berubah. Sebagai Pangeran Pemangku Kaisar yang hanya harus menunduk pada Kaisar seorang, dia yang selama ini selalu memberi perintah kepada orang lain. Namun, entah kenapa, dia malah suka diberi perintah oleh gadis ini. Jadi, begitu mendengar ucapan Syakia, Adika langsung merasa bersemangat. Seolah-olah apabila Damar tidak bertindak, dia benar-benar akan langsung turun tangan sendiri. Namun, Damar mana mungkin membiarkan Adika bertindak?Ekspresi Damar terlihat sangat suram. Setelah ragu sejenak, dia baru menoleh ke arah orang di belakang Abista, lalu memanggil namanya di bawah tatapan tidak percaya para putranya.“Ayu, keluar.”Begitu mendengar dua patah kata itu, Ayu langsung memaki Syakia dalam hati. Dasar wanita jalang! Sialan! Kenapa dia tidak langsung meracuni Syakia sampai mati saja sebelumnya?Saat ini, Ayu sangat berharap dirinya bisa kembali ke 2 bulan lalu, lalu meracuni Syakia sebelum Syakia meninggalkan Kediaman Keluarga Angkola. Meskipun Damar
Ayu menggigit bibirnya, lalu berusaha memutar otak secepat mungkin dan teringat sesuatu. Dia lanjut menunjukkan tampang kasihan dan berkata, “Ayu juga nggak tahu. Ainur cuma bilang dia nggak enak badan dan mau cari tabib. Sisanya, Ayu benar-benar nggak tahu. Kalau Kak Kama curiga, lebih baik kita suruh Ainur keluar biar Kak Kama bisa menginterogasinya?”Ketika mengucapkan kata-kata itu, Ayu diam-diam memberi isyarat mata yang penuh ancaman kepada Ainur. Ainur langsung memahami maksud Ayu dan langsung merasa tegang. Ketika semua orang menatap Ainur, Ainur melihat dengan mata kepala sendiri majikannya itu melontarkan beberapa patah kata tanpa suara. ‘Ingat sama keluargamu.’Pada saat ini, hati Ainur langsung tenggelam.“Bruk!”Pada akhirnya, Ainur memilih untuk berserah pada nasib dan berlutut di lantai. Dia berkata sambil menangis, “Aku pelakunya. Ini semua nggak berkaitan sama Nona Ayu ....”“Aku yang beli bebek goreng itu pakai nama Nona Ayu, juga diam-diam menaruh racun ke bebek gor
“Cukup, jangan banyak omong kosong lagi.” Setelah mendengar sampai di sini, Damar merasa penjelasan ini sudah cukup meyakinkan. Dia segera menyela ucapan Ainur dan hendak membantu Ayu menutupi perbuatannya dengan langsung menarik kesimpulan.“Sekarang, masalah ini sudah diselidiki dengan jelas. Semua hal ini disebabkan oleh seorang dayang yang hendak mencelakai majikannya. Kami akan memberinya hukuman sesuai perbuatannya. Pangeran Adika dan Putri Suci nggak perlu repot-repot mengurus sisanya lagi.”Baru saja Damar selesai berbicara, Syakia bertanya dengan heran, “Nona Ayu, kamu benar-benar nggak tahu apa-apa?”Ayu lanjut berlagak kasihan dan menjawab, “Aku benar-benar nggak tahu. Aku harap Kak Sya ... Putri Suci jangan berprasangka buruk padaku karena punya salah paham terhadapku.”Ayu sengaja mengatakan hal itu dengan sangat halus. Namun, kata-katanya terkesan seperti Syakia sedang mencari masalah dengannya di telinga orang lain.Baru saja Abista hendak mengatakan sesuatu, Syakia sud
“Mereka ... mereka asal bicara! Mereka lagi memfitnahku! Kak Syakia, kenapa kamu suruh mereka untuk memfitnahku!”Ayu masih bersikeras untuk berdalih dan mencoba untuk membela diri. Namun, Syakia hanya tertawa tanpa berbicara.Salah satu pemilik toko obat itu mengeluarkan selembar kertas dan berujar, “Nona seharusnya masih ingat kamu ada isi kertas ini waktu datang beli bahan obat di tokoku, ‘kan? Meski nama yang kamu isi di kertas ini berbeda dengan nama yang kamu isi di 2 tempat lainnya, waktu pembelian obatnya nggak mungkin salah.”Kedua pemilik toko obat lainnya juga menunjukkan kertas yang mereka bawa. Mereka menyerahkan kertas itu kepada Adika, tetapi Adika langsung menyerahkannya kepada Syakia.Syakia hanya melirik sekilas, lalu menyuruh orang untuk memberikannya kepada Damar. Damar melirik selembar demi selembar kertas itu. Pada akhirnya, Abista yang masih tidak bersedia memercayai fakta ini mengambil kertas-kertas itu dari tangan ayahnya. Setelah membaca dengan saksama waktu
Jelas-jelas, Damar terlebih dahulu mengepung Kuil Bulani sebelum mengetahui faktanya dan melindungi Ayu. Namun, yang keluar dari mulut Adika malah terkesan seolah-olah dia sengaja memfitnah Syakia. Ekspresinya seketika menjadi sangat suram.“Apa sebenarnya yang kalian inginkan?”Syakia menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku nggak mau apa-apa. Aku cuma harap Adipati bisa bertindak adil dan nggak memihak.”Namun ... apakah mantan ayahnya ini dapat bertindak adil dan tidak memihak? Jika Syakia masih belum meninggalkan kediaman ini atau masih belum diangkat menjadi Putri Suci oleh Kaisar, jika dia yang melakukan hal seperti ini, Damar tidak mungkin hanya menghukumnya dengan mengurungnya di aula leluhur untuk merenungkan kesalahannya. Jadi, dia ingin tahu apakah ayah yang selalu bersikap angkuh ini bisa bersikap adil atau tidak.Damar menatap Syakia dengan lekat-lekat. Namun, dalam menghadapi tatapan yang penuh intimidasi dan tajam itu, Syakia sama sekali tidak mundur. Tepat pada saat situasi
Ketika semua orang menatap Syakia dengan perasaan campur aduk, Syakia hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Buat apa kalian menatapku? Bukannya Tuan Kama sudah bilang dia nggak akan mati? Sebaiknya kalian mulai secepatnya.”Sikap Syakia yang acuh tak acuh membuat Ayu sangat murka. Beraninya Syakia mendesak! Apa dia tidak tahu siapa yang akan dipukul? Jika bukan karena ada begitu banyak orang di tempat ini, Ayu benar-benar ingin langsung menampar Syakia!Pada akhirnya, orang yang menjalankan tugas berat mencambuk Ayu adalah Abista. Setelah Damar memberi perintah, Abista pun menjalankan tugasnya sama seperti 2 bulan lalu. Hanya saja, orang yang dipukul kali ini adalah Ayu.Abista mengambil cambuk yang memancarkan cahaya dingin itu. Namun, untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus bagaimana memulai hukuman ini. Dia menoleh ke arah Syakia, seolah-olah masih ingin membantu Ayu memohon ampun. Jika Syakia berbesar hati, mungkin saja Ayu tidak perlu dicambuk.“Syakia, biar bagaimana, Ayu itu
“Tentu saja waktu ... kamu menginjakkan kaki ke tempatku ini.”Syakia tersenyum, lalu menatap ke arah sepetak ladang obat di sisi lain halamannya. Di sana, terdapat semacam tanaman beracun yang dapat membuat orang berhalusinasi. Dengar-dengar, benih tanaman beracun ini sangat sulit untuk didapatkan. Namun, berhubung Syakia ingin mempelajari ilmu racun, dari berbagai macam bibit obat herbal yang dikumpulkan Adika untuknya kali ini, ada tambahan beberapa macam bibit dan tunas tanaman beracun. Tanaman beracun yang ditanam Syakia di ladang obatnya sekarang adalah yang sudah hampir berbunga. Hanya Adika juga yang dapat membelikan tanaman hampir berbunga yang sangat langka seperti ini dari pasaran.Awalnya, Syakia mengira Kingston yang dari tadi berdiri di luar pintu sudah mengenali tanaman beracun itu. Tak disangka, dia malah berinisiatif untuk berjalan masuk. Sangat jelas bahwa meskipun dia dapat menggunakan racun, pemahamannya terhadap tanaman beracun masih tidak begitu luas. Jika tidak
Ketika pergi mengambil sumpit, Syakia tidak lupa berseru pada Hala dan Kingston, “Jangan bertarung lagi. Ayo makan dulu.”Hala seketika berhenti bertarung dan langsung pergi ke sisi Syakia. Sementara itu, Kingston yang hampir berhasil memanfaatkan kesempatan untuk mendapatkan keuntungan malah kehilangan momentum.Berhubung tidak ada yang bertarung dengannya lagi, Kingston mau tak mau berjalan ke arah meja batu, lalu berdiri di sana dengan agak canggung dan melirik mie yang berlebih itu.“Ternyata seorang putri suci juga bisa masakkan mie untuk orang lain? Jangan-jangan, seporsi mie lebihan ini untukku?”Syakia menyantap mienya sendiri dan menjawab tanpa mendongak, “Bukan, itu punya Hala. Porsi makannya banyak.”Hala mengangguk. “Emm.”Kingston langsung melebarkan matanya dan memelototi Hala dengan tidak percaya. “Mana mungkin kamu bisa makan 2 porsi mie yang begitu banyak! Aku nggak peduli. Lagian, sumpitnya juga ada 3 pasang. Mana mungkin mie ini bukan punyaku!”Kingston langsung dudu
“Serangga takdir?” Syakia sedang sibuk bercocok tanam dan bahkan sudah berkeringat deras. Begitu mendengar suara itu, dia pun menoleh dan berkomentar, “Oh, rupanya kamu.”Seusai melontarkan kata-kata itu, Syakia lanjut bercocok tanam, seolah-olah hendak mengabaikan Kingston.Melihat Syakia yang sama sekali tidak takut padanya, Kingston sontak merasa murka. “Beri tahu aku! Di mana serangga takdirku! Di mana kamu menyembunyikannya!”Syakia paling benci ada orang yang mengganggunya ketika dia sedang bekerja. Dia pun mendongak, lalu memelototi Kingston dengan kesal.“Maksudmu, kelabang besar itu? Aku memang menyimpannya, tapi atas dasar apa aku harus mengembalikannya padamu?” Syakia memegang cangkulnya sambil mencibir, “Aku hampir digigit kelabang beracunmu itu. Sekarang, kamu malah berani muncul di hadapanku lagi? Kamu nggak takut aku suruh orang datang membunuhmu?”“Kamu nggak akan berani.” Kingston mengangkat dagunya. Wajahnya yang eksotis menunjukkan ekspresi menghina ketika berkata, “
Bahkan Damar sekali pun juga membuat Anggreni melahirkan 5 anaknya. Pada akhirnya, Damar bahkan memiliki seorang putri haram.Setelah mendengar ucapan Joko, Ike tiba-tiba merasa bahwa memang dirinya yang salah. Meskipun tidak tahu apakah Joko benar-benar tidak menaruh perasaan pada Anggreni, Joko memang tidak pernah mengkhianatinya setelah mereka menikah.Berhubung sudah tidak dapat berdebat, Ike pun berkata dengan cemberut, “Kalau begitu, kenapa dulu kamu selalu menolakku waktu aku menunjukkan perasaanku? Pada akhirnya, kamu baru terima aku setelah Anggreni mencarimu. Entah apa juga yang dikatakannya.”“Dia nggak ngomong panjang lebar, cuma beberapa patah kata,” jawab Joko sambil menghela napas.Ike segera bertanya, “Apa yang dikatakannya?”“Aku sudah lupa.”Joko tidak ingin mengungkitnya. Dia selalu merasa Ike pasti akan ribut dengannya apabila dia mengungkapkannya. Namun, semakin Joko tidak mengatakannya, semakin gigih pula Ike. “Coba diingat, lalu kasih tahu aku! Apa sebenarnya ya
Setelah melontarkan kata-kata itu, Joko pun berbalik dan ingin kembali ke kamarnya. Namun, sikapnya malah membuat Ike marah.“Joko Darsuki, berhenti!” seru Ike dengan marah. Dia menatap Joko dengan penuh amarah dan ketidakrelaan sambil berkata, “Kamu begitu membela Syakia karena kamu masih belum melupakan Anggreni, ‘kan?”Ekspresi Joko langsung menjadi muram. Dia menoleh ke arah Ike dengan dingin dan menjawab, “Aku sudah ngomong berulang kali, aku dan Anggreni cuma teman masa kecil.”“Kalau kalian cuma teman masa kecil, kenapa kamu begitu melindungi gadis jalang itu? Bukannya karena dia itu putrinya Anggreni?” Ike sama sekali tidak percaya pada ucapan Joko dan lanjut berkata sambil menangis, “Lihat sikapmu padaku dan putra kita sekarang! Kamu masih berani bilang kamu sudah melupakannya? Kamu jelas-jelas masih memikirkannya, makanya kamu baru bersikap begitu baik terhadap putrinya!”“Huhuhu. Joko, kamu benar-benar nggak punya hati nurani! Kalau kamu nggak suka sama aku, kenapa kamu mau
“Nggak ada kesalahpahaman. Pelakunya pasti dia!” ujar Damar dengan ekspresi dingin. Namun, dia juga tidak bisa menjelaskan alasannya kepada Joko.Joko menggeleng. “Sudahlah, mau ada kesalahpahaman atau nggak, itu nggak ada hubungannya sama keluargaku. Hari ini, Yang Mulia Kaisar sengaja menyuruhku datang untuk menjengukmu yang mendadak sakit.”“Terima kasih atas perhatian Yang Mulia Kaisar.” Kemudian, Damar hanya berkata dengan acuh tak acuh, “Tapi, aku lagi punya banyak masalah belakangan ini. Jadi, aku nggak bisa menjamumu.”Joko tahu Damar sedang mengusirnya secara halus. Dia pun hanya mengangkat bahunya dengan acuh tak acuh. Lagi pula, dia hanya menjalankan tugas yang diberikan Kaisar. Sekarang, apa pun yang terjadi pada keluarga Damar tidak ada hubungannya dengan keluarganya.Setelah berpikir begitu, Joko pun kembali ke rumahnya. Namun, baru saja tiba di rumah, dia mendengar tangisan histeris seseorang dari dalam."Ayu! Aku mau cari Ayu!" Panji merengek untuk keluar rumah. Sement
“Aku nggak peduli kalian itu bawahan siapa, juga nggak peduli untuk apa kalian datang kemari. Sejak kalian menginjakkan kaki ke Kuil Bulani malam ini, kalian sudah ditakdirkan untuk mati.”Adika menancapkan pedangnya di lantai depannya, lalu melirik para pengawal rahasia yang ditahan di atas lantai. Seluruh tubuh mereka telah digeledah. Bahkan racun yang tersimpan di gigi mereka juga dicabut satu per satu. Saat ini, mereka bagaikan ikan yang berada di atas talenan.Adika menatap mereka dengan dingin. Setelah menunggu sesaat, pengawal rahasia yang terakhir akhirnya dibawa keluar.“Bruk!”Hala yang tubuhnya terluka oleh satu sayatan pedang berjalan keluar dengan pelan sambil menyeret seseorang yang berlumuran darah. Kemudian, dia melempar orang itu di hadapan semua pengawal rahasia.Para pengawal rahasia Keluarga Angkola tentu saja mengenal orang itu. Dia adalah Sando, pengawal rahasia kepercayaan Damar. Sekarang, dia sudah sepenuhnya lumpuh.“Bagus, semua orangnya sudah berkumpul.”Adik
Saat ini, Adika sangat marah. Setelah mengawal Syakia pergi ke Kalika, dia baru tahu seberapa banyak bahaya yang ada di sisi gadis ini. Jadi, begitu mendengar Kaisar mengatakan ada orang yang ingin membunuh Syakia hari ini, dia langsung teringat pada orang-orang dari Kalika itu.Terutama orang bernama Kingston. Adika tahu bahwa orang itu pasti akan datang lagi. Oleh karena itu, dia baru begitu mengkhawatirkan keselamatan Syakia.“Aku nggak bohong!” Syakia buru-buru menjelaskan, “Aku cuma nggak mau repotin kamu ....”“Kamu rasa ini adalah kerepotan bagiku?”Kali ini, Adika merasa makin marah. Dia menunduk, lalu menatap Syakia lekat-lekat dengan matanya yang berapi-api. Wajahnya yang tampan itu menunjukkan ekspresi yang luar biasa serius.Adika menekankan kata-katanya. “Sahana, dengar baik-baik. Bagiku, urusanmu nggak pernah merepotkanku.”Hati Syakia seketika bergetar. Dia menatap Adika yang berjarak sangat dekat dengannya dengan terkejut. Pada momen ini, dia seperti sudah memahami sesu
“Pembunuh?” Kaisar bertanya dengan bingung, “Kenapa bisa ada pembunuh yang pergi ke Kuil Bulani untuk membunuhmu? Siapa yang mengutus mereka?”Syakia menunduk dan menjawab, “Aku nggak berani bilang.”“Nggak berani bilang?”Kaisar mengangkat alisnya. Dia sudah bisa menebak siapa orang yang mengutus para pembunuh itu dari jawaban Syakia. Di seluruh ibu kota, ada siapa saja yang tidak berani dituduh putri sucinya itu?Kaisar langsung tertawa. Setelah upacara permohonan hujan yang dilakukan di Kalika, baik itu kebetulan atau bukan, hujan deras telah turun di Kalika yang sudah mengalami kekeringan selama 3 bulan. Sekarang, Syakia telah menjadi Putri Suci Pembawa Berkah yang sebenarnya di hati rakyat jelata. Bukan hanya reputasi Syakia yang meningkat, bahkan Kaisar yang mengangkat Syakia menjadi putri suci juga dipuji oleh rakyat jelata. Hal ini telah mengokohkan posisi Kaisar yang masih muda ini sehingga tidak ada yang dapat melawannya. Oleh karena itu, kepercayaan para pejabat dan menter