Semua Bab Hasrat Liar Sang Kakak Ipar: Bab 141 - Bab 150

172 Bab

141. Ilusi?

Lea duduk di tepi ranjang pemeriksaan, tangannya meremas ujung mantel hitam yang membungkus tubuhnya. Udara di ruangan terasa dingin, tetapi bukan itu yang membuatnya menggigil—melainkan tatapan tajam wanita di hadapannya.Ibu tirinya, Astrid Galen, berdiri dengan angkuh di samping dokter yang tengah menyiapkan alat pemeriksaan.“Silakan berbaring,” perintah dokter dengan suara netral.Lea menoleh ke arah Astrid, berharap ada celah untuk menolak, tetapi wanita itu hanya melipat tangan di dada menunggu tanpa kesabaran.“Jangan membuatku menunggu, Lea,” suara Astrid terdengar tegas. “Aku ingin kepastian.”Punggung Lea menegang tetapi ia tahu tidak ada gunanya melawan. Dengan enggan, ia akhirnya berbaring di atas ranjang dan membiarkan dokter menjalankan tugasnya. Sesekali, jemarinya mengepal, matanya memejam rapat saat alat pemeriksaan menyentuh kulitnya.“Bagaimana hasilnya?” suara Astrid memecah keheningan.Dokter menarik napas, menatap layar sebentar sebelum akhirnya berbalik menatap
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

142. Pesta Ulang Tahun Annika

Malam harinya, Lea tidak langsung pulang ke kediaman Easton setelah selesai bekerja. Ia memutuskan untuk mampir ke sebuah bar demi memenuhi undangan pesta ulang tahun Annika yang diadakan di sana. Meskipun tidak kuat minum, Lea tetap datang untuk menghargai usaha Annika yang telah bersusah payah mengundangnya.Bar pilihan Annika memiliki suasana nyaman dengan cahaya temaram yang hangat. Sorot neon merah dan ungu menambah kesan intim, sementara aroma alkohol bercampur parfum mahal samar tercium di udara. Gelak tawa, dentingan gelas, dan dentuman musik pelan menjadi latar yang kontras dengan batin Lea yang terasa hampa.Dari tempat duduknya, Lea tersenyum tipis saat melihat Annika yang tengah asyik berdansa dengan seorang pria di lantai dansa. Gerakan mereka selaras dengan alunan musik, dan Annika tampak menikmati setiap momennya.“Astaga, dia tampak menikmati waktunya,” gumam Lea seraya tersenyum.Tak lama kemudian, Annika memberikan isyarat pada Lea agar segera bergabung dengannya. Na
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-11
Baca selengkapnya

143. Bossy

Lea segera berbalik dan mendapati Vincent Moreno berdiri dengan wajah serius. Suara yang sebelumnya menggema ternyata berasal dari pria itu. Dengan langkah pasti, Vincent menghampiri Lea yang tampak terkejut melihat kehadirannya di bar.Jared menggeram pelan saat Vincent berhenti di depannya dan mendorong bahunya dengan kuat hingga ia mundur ke belakang.“Kurang ajar! Berani sekali kamu mendorongku!” ucap Jared tak terima.Vincent hanya tersenyum miring, wajahnya penuh cemooh saat menatap pria itu. “Tidak ada alasan bagiku untuk takut padamu,” sahutnya santai sebelum menoleh dan memeriksa Lea. “Kamu baik-baik saja, Lea? Apa bajingan itu sempat menyentuhmu tadi?”Lea mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja,” sahutnya.Melihat reaksi Vincent, Jared semakin tidak terima. Pria itu mengepalkan tangan, bersiap melayangkan pukulan namun Annika buru-buru menahannya.“Lepaskan!” teriak Jared geram, tetapi Annika tidak menggubrisnya.Dengan sekuat tenaga, Annika menarik Jared menjauh sebelum akhi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

144. Gelisah

Pikiran Lea benar-benar kacau sejak ia tak sengaja melihat sosok yang mirip dengan ibunya hari itu. Ia terus bertanya-tanya apakah semua itu hanya ilusi atau apakah wanita itu benar-benar ibunya.Tapi bagaimana mungkin? Seseorang yang telah meninggal tidak mungkin kembali hidup dan menjalani kehidupan normal seperti manusia biasa.Atau … mungkinkah ada orang lain di dunia ini yang memiliki wajah yang sama persis?“Tidak masuk akal. Tidak mungkin,” gumam Lea.Lea mengusap wajahnya dengan kasar, berharap pikirannya bisa tenang tapi bayangan wanita itu terus menghantuinya. “Tapi tidak. Itu tidak bisa terjadi. Ibuku sudah meninggal. Aku melihat pemakamannya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tahu itu nyata.”Namun, mengapa ada keraguan yang menyelinap dalam benaknya?“Mungkin aku hanya terlalu lelah. Mungkin pikiranku sedang mempermainkanku.”Tapi jika hanya sekadar ilusi, mengapa sensasi itu terasa begitu nyata? Jantungnya bahkan berdetak begitu kencang saat melihat wanita itu.Lea mengg
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

145. Berbagi Villa dengan CEO

Setelah mengemudi dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil yang Lea kendarai memasuki basement Easton Industries. Lea melangkah cepat menuju lobi kantor, wanita itu nyaris berlari setelah keluar dari mobil. Napasnya masih sedikit berantakan saat ia melihat Annika sudah berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang begitu cemas.Begitu melihatnya, Annika segera menghampiri dengan ekspresi yang jelas tidak nyaman.“Kenapa kamu bisa datang terlambat? Para eksekutif sudah menunggu sejak tadi. Bahkan CEO kita juga sudah datang,” bisiknya dengan nada mendesak.Lea mengusap dahinya sekilas seraya mencoba mengatur napas. “Ada sedikit masalah tadi,” jawabnya cepat tanpa berniat untuk menjelaskan lebih jauh. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memberi penjelasan panjang lebar.Tanpa membuang waktu, Lea buru-buru melangkah menuju ruang tunggu eksekutif di mana beberapa petinggi perusahaan sudah duduk di sana. Begitu memasuki ruangan, ia segera membungkukkan badan.“Saya minta maaf karena membuat
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-12
Baca selengkapnya

146. Tidak Bisa Diprediksi

Villa CEO terletak di sisi paling eksklusif dari resort ini, jauh dari keramaian dan menawarkan pemandangan yang indah. Lea mengikuti langkah Kayden masuk ke dalam villa dengan perasaan gelisah menyelimuti dirinya sejak tadi.Begitu pintu tertutup, keheningan seketika memenuhi ruangan itu. Villa itu terlalu besar, terlalu mewah, tetapi saat ini yang lebih mengganggu Lea adalah kenyataan bahwa ia dan Kayden harus berbagi tempat.Lea menatap pria itu dengan mata tajam penuh kecurigaan. “Apakah ini kebetulan, atau … sengaja kamu atur?”Kayden yang baru saja melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa, menoleh dengan ekspresi datar. Ia mengangkat satu alis. Namun, keheningan pria itu cukup menjadi jawaban.Lea mendesah cemas, tangannya terangkat untuk meremas pelipisnya. “Demi Tuhan, Kayden. Tidakkah kamu terlalu mengambil risiko karena melakukan ini?” ujarnya frustrasi.Kayden masih tetap diam.Lea semakin gelisah. “Tidakkah kamu melihat reaksi para eksekutif karena kita harus berb
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

147. Menggoda dan Digoda

Restoran resort dipenuhi dengan suara percakapan yang pelan dan dentingan peralatan makan. Meja-meja panjang telah tertata rapi, diisi oleh para eksekutif.Lea duduk bersama Annika, tetapi suasana yang semula santai berubah saat seseorang mengetukkan sendok ke gelas dan menarik perhatian seluruh ruangan.Kayden Easton berdiri di meja utama. Begitu ruangan hening, ia berbicara dengan tegas.“Terima kasih atas kerja keras kalian dalam proyek ini. Perjalanan ini bukan hanya untuk menyelesaikan agenda perusahaan, tetapi juga memperkuat kerja sama kita. Manfaatkan waktu ini dengan baik.”Setelah jeda singkat, ia melanjutkan, “Nikmati makan siang kalian. Kita lanjutkan dengan meeting & presentasi bisnis setelah ini.”Kayden mengakhiri sambutannya tanpa senyum, tetapi auranya cukup kuat untuk meninggalkan kesan. Para eksekutif mengangguk hormat sebelum suasana mencair kembali.Lea mengembuskan napas yang tak sadar ia tahan.“CEO kita benar-benar punya cara untuk menguasai ruangan, ya?” bisik
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

148. Resor Ski

Keesokan paginya, setelah sarapan bersama.Ruang konferensi dipenuhi suara percakapan dan tawa ringan. Hari ini, jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak dari sebelumnya. Para eksekutif dari kantor pusat kini bergabung dengan perwakilan dari anak perusahaan.Lea berdiri di dekat Annika, mata hazelnya memperhatikan sekeliling. Beberapa wajah tampak familiar, tetapi banyak juga yang baru pertama kali ia lihat. Suasana formal yang biasa terasa lebih santai hari ini, mungkin karena semua orang tahu bahwa agenda pagi ini bukan rapat atau presentasi, melainkan perjalanan ke resor ski.“Wow, aku tidak menyangka akan sebanyak ini,” gumam Annika, matanya berbinar melihat kerumunan.Lea mengangguk kecil. “Sepertinya semua orang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit bersantai.”Saat semua orang sudah berkumpul, Jonas Beckett mengambil alih untuk memberikan arahan singkat.“Baiklah, semuanya. Kita akan berangkat dalam sepuluh menit. Untuk yang belum terbiasa bermain ski, jangan khawati
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-13
Baca selengkapnya

149. Insiden Saat Bermain Ski

Lea menempelkan telinganya ke pintu bilik, mendengarkan dengan saksama. Saat memastikan tidak ada suara langkah kaki mendekat, ia menarik napas lega sebelum menoleh ke Kayden yang masih bersandar santai di dinding.“Sekarang,” bisiknya cepat.Tanpa membuang waktu, ia meraih pergelangan tangan pria itu dan menariknya keluar dari ruang ganti.Kayden mengangkat alis, jelas terhibur dengan kepanikan Lea tetapi ia tetap membiarkan dirinya diseret keluar.Mereka baru saja melangkah keluar dari bilik ketika suara klik terdengar dari sebelah—bunyi kunci yang diputar dari ruang ganti Annika.“Sial!”Lea merasa panik. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke depan pintu ruang ganti Annika, berusaha menghalangi pandangan langsung ke tempat Kayden berada.Kayden yang awalnya berjalan santai kini menghela napas, lalu melangkah mundur ke balik loker.Pintu bilik Annika terbuka tepat saat Lea tiba di depannya.Wanita itu mengerjap kaget saat menatap Lea yang berdiri tepat di hadapannya dengan wa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya

150. Istirahat Total

Saat Kayden menggendong Lea keluar dari ruang hangat menuju mobilnya, sebuah kamera membidik mereka dari kejauhan. Lensa itu menangkap momen intim yang terlalu dekat untuk sekadar hubungan atasan dan bawahan, apalagi kakak ipar dan adik ipar.Klik.Tangan terampil di balik kamera terus bekerja, memperbesar gambar agar wajah keduanya terlihat jelas. Kayden tampak tegang sementara Lea yang berada dalam gendongannya menunjukkan raut cemas.Orang itu tidak berhenti sampai di situ. Ia terus menekan tombol kamera, mengambil serangkaian gambar bahkan hingga Kayden mendudukkan Lea di kursi penumpang dan ikut masuk ke dalam mobil, duduk di samping wanita itu.“Ini akan menjadi berita besar,” gumamnya penuh semangat sebelum menyimpan kameranya ke dalam tas dan bergegas pergi.Sementara itu, di dalam mobil, suasana terasa mencekam. Jonas mulai menjalankan kendaraan, membelah yang semakin dingin.Lea menggigit bibirnya, menahan nyeri yang masih menusuk di lututnya. Namun melihat ekspresi Kayden y
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-14
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
131415161718
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status