Keesokan paginya, setelah sarapan bersama.Ruang konferensi dipenuhi suara percakapan dan tawa ringan. Hari ini, jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak dari sebelumnya. Para eksekutif dari kantor pusat kini bergabung dengan perwakilan dari anak perusahaan.Lea berdiri di dekat Annika, mata hazelnya memperhatikan sekeliling. Beberapa wajah tampak familiar, tetapi banyak juga yang baru pertama kali ia lihat. Suasana formal yang biasa terasa lebih santai hari ini, mungkin karena semua orang tahu bahwa agenda pagi ini bukan rapat atau presentasi, melainkan perjalanan ke resor ski.“Wow, aku tidak menyangka akan sebanyak ini,” gumam Annika, matanya berbinar melihat kerumunan.Lea mengangguk kecil. “Sepertinya semua orang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit bersantai.”Saat semua orang sudah berkumpul, Jonas Beckett mengambil alih untuk memberikan arahan singkat.“Baiklah, semuanya. Kita akan berangkat dalam sepuluh menit. Untuk yang belum terbiasa bermain ski, jangan khawati
Lea menempelkan telinganya ke pintu bilik, mendengarkan dengan saksama. Saat memastikan tidak ada suara langkah kaki mendekat, ia menarik napas lega sebelum menoleh ke Kayden yang masih bersandar santai di dinding.“Sekarang,” bisiknya cepat.Tanpa membuang waktu, ia meraih pergelangan tangan pria itu dan menariknya keluar dari ruang ganti.Kayden mengangkat alis, jelas terhibur dengan kepanikan Lea tetapi ia tetap membiarkan dirinya diseret keluar.Mereka baru saja melangkah keluar dari bilik ketika suara klik terdengar dari sebelah—bunyi kunci yang diputar dari ruang ganti Annika.“Sial!”Lea merasa panik. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke depan pintu ruang ganti Annika, berusaha menghalangi pandangan langsung ke tempat Kayden berada.Kayden yang awalnya berjalan santai kini menghela napas, lalu melangkah mundur ke balik loker.Pintu bilik Annika terbuka tepat saat Lea tiba di depannya.Wanita itu mengerjap kaget saat menatap Lea yang berdiri tepat di hadapannya dengan wa
Saat Kayden menggendong Lea keluar dari ruang hangat menuju mobilnya, sebuah kamera membidik mereka dari kejauhan. Lensa itu menangkap momen intim yang terlalu dekat untuk sekadar hubungan atasan dan bawahan, apalagi kakak ipar dan adik ipar.Klik.Tangan terampil di balik kamera terus bekerja, memperbesar gambar agar wajah keduanya terlihat jelas. Kayden tampak tegang sementara Lea yang berada dalam gendongannya menunjukkan raut cemas.Orang itu tidak berhenti sampai di situ. Ia terus menekan tombol kamera, mengambil serangkaian gambar bahkan hingga Kayden mendudukkan Lea di kursi penumpang dan ikut masuk ke dalam mobil, duduk di samping wanita itu.“Ini akan menjadi berita besar,” gumamnya penuh semangat sebelum menyimpan kameranya ke dalam tas dan bergegas pergi.Sementara itu, di dalam mobil, suasana terasa mencekam. Jonas mulai menjalankan kendaraan, membelah yang semakin dingin.Lea menggigit bibirnya, menahan nyeri yang masih menusuk di lututnya. Namun melihat ekspresi Kayden y
Setelah bermain ski kemarin, Annika tidak pernah lagi melihat Lea di manapun. Bahkan saat waktu makan tiba, wanita itu tak muncul di restoran. Annika khawatir. Ia sudah mencoba menghubungi Lea berkali-kali, tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari wanita itu.Saat matanya tak sengaja menangkap sosok Jonas yang baru saja masuk, Annika segera menghampiri pria itu.“Tuan Beckett!” seru Annika seraya berlari mendekatinya.Jonas menoleh dan melangkah maju. “Ada apa, Nona Bennett?” tanyanya.Annika berdiri tepat di depan Jonas. “Uhm, aku ingin bertanya padamu. Apa kamu melihat Lea Rose? Aku tidak melihatnya dan tidak bisa menghubunginya lagi sejak bermain ski kemarin. Aku bertanya pada instruktur yang melatihnya, katanya sempat terjadi insiden kecil. Tapi dia tidak menemukan Lea saat ingin mengambil kotak obat,” katanya panjang lebar, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.Jonas mengangguk pelan. “Benar. Nona Rose sempat mengalami insiden yang membuat lututnya cedera. Dokter meng
Empat hari kemudian,Lea baru saja kembali ke kediaman keluarga Easton setelah seharian bekerja. Namun, bukannya bisa beristirahat, ia malah mendapat sambutan mengejutkan dari Noah yang sengaja menunggu kedatangannya di kamar. Wajah pria itu tampak begitu marah dan murka.“N-Noah?” ucap Lea tergagap.Langkahnya seketika terhenti di ambang pintu kamar ketika tatapan tajam Noah mengunci dirinya.Lea tidak tahu mengapa Noah terlihat begitu marah. Namun, sebelum ia sempat bertanya, pria itu sudah melemparkan begitu banyak lembaran foto ke udara.Salah satu foto mendarat tepat di depan Lea, dan matanya membelalak saat melihat dirinya bersama Kayden di resor waktu itu—terlihat begitu intim.“Beraninya kamu berselingkuh dengan Kayden di belakangku!” pekik Noah dengan suara penuh kemarahan.Lea tersentak. Ia tidak mengira Noah akan semarah ini mengingat selama ini pria itu tidak peduli padanya ataupun pernikahan mereka.“Kamu tahu apa yang paling membuatku merasa terhina?” Noah mendekat denga
Kaelyn Brown tidak membuang waktu. Setelah memastikan Robert tidak mengambil tindakan langsung terhadap masalah ini, ia segera keluar dari kamar dan memerintahkan salah satu pengurus rumah tangga yang paling ia percayai, Harold, untuk menemuinya di ruang baca.Tak butuh waktu lama, pria paruh baya itu berdiri tegak di depan Kaelyn, menunggu perintahnya dengan penuh kewaspadaan.“Pastikan wanita itu mendapatkan perawatan medis terlebih dahulu,” perintah Kaelyn. “Aku tidak ingin ada masalah lebih lanjut. Setelah dia stabil, segera bawa dia pergi. Jangan sampai ada yang menemukannya, terutama Kayden atau keluarganya sendiri. Dan Harold, jangan buat kesalahan.”Harold menelan ludah saat menyadari betapa seriusnya situasi ini. “Saya mengerti, Nyonya. Akan saya urus secepatnya.”Setelah melihat Kaelyn menganggukkan kepala, Harold segera bergerak. Dengan bantuan dua orang bawahannya, mereka kembali ke kamar Lea dan membawa tubuh Lea yang masih tidak sadarkan diri ke atas ranjang.Seorang dok
Kayden baru saja tiba di kediaman keluarga Easton dan langsung menuju kamar Lea. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.Hening. Tidak ada jawaban.Ia mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras. Namun, tetap saja tak ada suara dari dalam.Sebelumnya, ia sudah mencoba menghubungi Lea berkali-kali, tetapi panggilannya terus berakhir tanpa jawaban.Ada yang tidak beres.Perasaan itu mencuat begitu saja di benaknya.“Ke mana sebenarnya wanita ini?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu, ia segera turun ke lantai satu. Begitu matanya menangkap sosok pelayan, ia langsung memanggilnya.Pelayan itu menghampiri dengan sikap hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”“Di mana Lea Rose? Apa dia sudah pulang?” Suaranya terdengar serius, nyaris menuntut jawaban.Pelayan itu tampak ragu sesaat sebelum menjawab, “Maaf, Tuan … Nyonya Rose tidak ada di rumah. Dia pergi.”Ekspresi Kayden berubah serius. Mata birunya tajam menatap pelayan yang tampak gelisah.“Kemana dia?”Pelayan itu
Ponsel Kayden bergetar di tangannya, layarnya menampilkan pesan dari Jonas.[Nyonya Rose sudah ditemukan. Berikut lokasinya: Desa Winterhollow, sebuah daerah terpencil di utara Eldoria, jauh dari pusat kota]Tanpa membuang waktu, Kayden memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berbalik meninggalkan Kaelyn Brown tanpa sepatah kata pun.“Kayden!” panggil Kaelyn, suaranya dipenuhi kepanikan. Namun, pria itu tidak sedikit pun menoleh.Dengan langkah mantap, Kayden menuju mobilnya dan segera menyalakan mesin. Ia menarik napas dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya, lalu menginjak pedal gas. Kendaraan melaju, meninggalkan rumah keluarga Easton di belakang.Cahaya matahari pagi mulai meninggi, menyinari jalanan kota yang mulai sibuk. Meski lalu lintas tidak terlalu padat, Kayden tetap memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati kendaraan lain tanpa ragu. Setiap detik terasa berharga. Namun, di balik ekspresinya yang tampak tenang, pikirannya terus berpacu.“Bertahanlah ... Little Ros
[Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber
Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal
Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li
Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc
Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat
Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak
Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An