Empat hari kemudian,Lea baru saja kembali ke kediaman keluarga Easton setelah seharian bekerja. Namun, bukannya bisa beristirahat, ia malah mendapat sambutan mengejutkan dari Noah yang sengaja menunggu kedatangannya di kamar. Wajah pria itu tampak begitu marah dan murka.“N-Noah?” ucap Lea tergagap.Langkahnya seketika terhenti di ambang pintu kamar ketika tatapan tajam Noah mengunci dirinya.Lea tidak tahu mengapa Noah terlihat begitu marah. Namun, sebelum ia sempat bertanya, pria itu sudah melemparkan begitu banyak lembaran foto ke udara.Salah satu foto mendarat tepat di depan Lea, dan matanya membelalak saat melihat dirinya bersama Kayden di resor waktu itu—terlihat begitu intim.“Beraninya kamu berselingkuh dengan Kayden di belakangku!” pekik Noah dengan suara penuh kemarahan.Lea tersentak. Ia tidak mengira Noah akan semarah ini mengingat selama ini pria itu tidak peduli padanya ataupun pernikahan mereka.“Kamu tahu apa yang paling membuatku merasa terhina?” Noah mendekat denga
Kaelyn Brown tidak membuang waktu. Setelah memastikan Robert tidak mengambil tindakan langsung terhadap masalah ini, ia segera keluar dari kamar dan memerintahkan salah satu pengurus rumah tangga yang paling ia percayai, Harold, untuk menemuinya di ruang baca.Tak butuh waktu lama, pria paruh baya itu berdiri tegak di depan Kaelyn, menunggu perintahnya dengan penuh kewaspadaan.“Pastikan wanita itu mendapatkan perawatan medis terlebih dahulu,” perintah Kaelyn. “Aku tidak ingin ada masalah lebih lanjut. Setelah dia stabil, segera bawa dia pergi. Jangan sampai ada yang menemukannya, terutama Kayden atau keluarganya sendiri. Dan Harold, jangan buat kesalahan.”Harold menelan ludah saat menyadari betapa seriusnya situasi ini. “Saya mengerti, Nyonya. Akan saya urus secepatnya.”Setelah melihat Kaelyn menganggukkan kepala, Harold segera bergerak. Dengan bantuan dua orang bawahannya, mereka kembali ke kamar Lea dan membawa tubuh Lea yang masih tidak sadarkan diri ke atas ranjang.Seorang dok
Kayden baru saja tiba di kediaman keluarga Easton dan langsung menuju kamar Lea. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya dan mengetuk pintu.Hening. Tidak ada jawaban.Ia mengetuk sekali lagi, kali ini lebih keras. Namun, tetap saja tak ada suara dari dalam.Sebelumnya, ia sudah mencoba menghubungi Lea berkali-kali, tetapi panggilannya terus berakhir tanpa jawaban.Ada yang tidak beres.Perasaan itu mencuat begitu saja di benaknya.“Ke mana sebenarnya wanita ini?” gumamnya pelan.Tanpa membuang waktu, ia segera turun ke lantai satu. Begitu matanya menangkap sosok pelayan, ia langsung memanggilnya.Pelayan itu menghampiri dengan sikap hormat. “Ada yang bisa saya bantu, Tuan Muda?”“Di mana Lea Rose? Apa dia sudah pulang?” Suaranya terdengar serius, nyaris menuntut jawaban.Pelayan itu tampak ragu sesaat sebelum menjawab, “Maaf, Tuan … Nyonya Rose tidak ada di rumah. Dia pergi.”Ekspresi Kayden berubah serius. Mata birunya tajam menatap pelayan yang tampak gelisah.“Kemana dia?”Pelayan itu
Ponsel Kayden bergetar di tangannya, layarnya menampilkan pesan dari Jonas.[Nyonya Rose sudah ditemukan. Berikut lokasinya: Desa Winterhollow, sebuah daerah terpencil di utara Eldoria, jauh dari pusat kota]Tanpa membuang waktu, Kayden memasukkan ponselnya ke dalam saku dan berbalik meninggalkan Kaelyn Brown tanpa sepatah kata pun.“Kayden!” panggil Kaelyn, suaranya dipenuhi kepanikan. Namun, pria itu tidak sedikit pun menoleh.Dengan langkah mantap, Kayden menuju mobilnya dan segera menyalakan mesin. Ia menarik napas dalam, berusaha menahan gejolak di dadanya, lalu menginjak pedal gas. Kendaraan melaju, meninggalkan rumah keluarga Easton di belakang.Cahaya matahari pagi mulai meninggi, menyinari jalanan kota yang mulai sibuk. Meski lalu lintas tidak terlalu padat, Kayden tetap memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, melewati kendaraan lain tanpa ragu. Setiap detik terasa berharga. Namun, di balik ekspresinya yang tampak tenang, pikirannya terus berpacu.“Bertahanlah ... Little Ros
Mendengar ancaman Kayden, Kaelyn terguncang hebat. Bayangan Noah diusir dari keluarga Easton adalah mimpi buruk baginya. Dengan penuh ketakutan, ia memohon putranya untuk menurut.“Noah, kamu harus menceraikan Lea,” suaranya bergetar cemas.Namun, Noah tetap teguh. Selama ini, ia sudah banyak mengalah pada Kayden, dan kali ini ia bertekad tidak akan menyerah.“Tidak, Bu! Aku tidak akan menceraikannya, bagaimanapun juga!” tegasnya.Kaelyn semakin panik. “Jangan bodoh, Noah! Apa gunanya mempertahankan wanita itu jika kita kehilangan segalanya?!” bentaknya.Noah menatap ibunya tajam. “Tidak akan! Dia hanya menggertak, dan Ayah tidak akan—”“Kamu pikir aku hanya bercanda?” Kayden menyela dengan tatapan dingin. “Dengan satu kalimat dariku tentang kalian berdua, Ayah pasti akan menyingkirkan kalian. Kamu tahu betul, Noah, selama ini Ayah hanya menomorsatukanku dan mendengarkanku.”Ia tersenyum tipis sebelum menambahkan, “Lagipula, sampai detik ini Ayah tidak bertindak apa pun, padahal dia s
Dua hari setelah kejadian itu, malam di kediaman keluarga Easton terasa lebih sunyi dari biasanya.Lea baru saja kembali ke kamarnya setelah makan malam. Ia duduk di tepi ranjang, membiarkan keheningan menyelimuti dirinya sebelum suara pintu terbuka tanpa ketukan lebih dulu.Noah berdiri di ambang pintu dengan ekspresi dingin, tanpa emosi seperti biasanya. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah masuk dan melemparkan sebuah amplop cokelat ke atas meja di samping tempat tidur.Lea menatap amplop itu, lalu mengangkat wajah menatap Noah dengan kening berkerut. “Apa ini?” tanyanya hati-hati.Noah memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Bukalah, dan tandatangani,” jawabnya singkat.Tanpa menunggu reaksi dari Lea, Noah segera berbalik dan melangkah keluar, membiarkan pintu terbuka lebar di belakangnya.Lea menatap kepergiannya dengan bingung, lalu menunduk ke arah amplop itu. Jemarinya yang sedikit gemetar perlahan meraihnya, kemudian membuka segelannya dengan hati-hati.Ketika selemb
Pada akhirnya, perpisahan antara Noah dan Lea tak bisa lagi dihindarkan. Setelah resmi bercerai, Lea kembali ke kediaman orang tuanya. Tentu saja, kepulangannya membawa kejutan besar bagi kedua orang tuanya—terutama Astrid Galen, ibu tirinya.“Apa?!” suara Astrid meninggi, nyaris berteriak. “Kamu dan Noah Easton bercerai?” Matanya membulat menatap Lea seakan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.Lea mengangguk pelan. Sejak awal, ia bahkan tak berani mengangkat wajahnya, wanita itu hanya menunduk dalam diam menghadapi reaksi orang tuanya.“Kamu sudah gila?” bentak Astrid, nada suaranya penuh kemarahan. “Kenapa Noah Easton menceraikanmu?”Ia memijat pelipisnya dengan frustasi, seolah mencoba memahami kebodohan seperti apa yang telah dilakukan Lea hingga berakhir seperti ini.Di kursinya, Liam Thompson memberikan reaksi serupa. Wajahnya sama sekali tak bersahabat. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan yang mendalam.“Kamu melakukan apa sampai diceraikan seperti ini, Lea?!” bent
Jari-jari Lea gemetar saat ia merogoh ponselnya dari dalam mantel. Udara dingin menusuk kulitnya, tetapi tidak ada yang lebih menyakitkan dari kenyataan bahwa ia telah diusir tanpa belas kasihan. Napasnya masih tersengal akibat isak tangis yang belum mereda.Dengan ragu, ia menatap layar ponselnya, nama yang terpampang di sana membuat hatinya semakin berdebar kencang. Kayden Easton.Lea menggigit bibirnya, menekan panggilan dengan sisa keberanian yang ia punya. Nada sambung terdengar. Sekali. Dua kali. Lalu suara berat itu masuk ke telinganya.“Little Rose?”Lea membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya tercekat. Ia menutup mata, berusaha meredakan getaran di tubuhnya sebelum akhirnya berhasil bersuara, meskipun lemah dan nyaris putus-putus.“A-Aku diusir. Aku tidak punya tempat untuk pergi ....”Hening di seberang sana. Begitu hening hingga Lea hampir mengira panggilannya terputus. Namun, sesaat kemudian, suara Kayden terdengar lagi—lebih rendah, lebih taja
Sudah satu tahun sejak nama Lea Rose dibisikkan dengan iba dan air mata.Setahun sejak makamnya dipenuhi bunga dan berita kematiannya memenuhi halaman utama.Setahun sejak dunia mengira kisahnya telah usai.Tapi malam ini, di bawah cahaya kristal dan denting gelas berisi sampanye, kisah itu menolak tamat.Acara amal ‘Hope for Women’ digelar megah di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Thompson.Tamu-tamu terhormat berdatangan dengan gaun malam dan senyum palsu. Kamera menyorot setiap sudut ruangan. Dan para pembicara bergiliran naik ke atas panggung, mengucapkan kata-kata manis yang ditulis oleh sekretaris mereka.Dan di tengah semua kemewahan itu, pintu utama terbuka perlahan.Bukan dengan gegap gempita. Bukan dengan pengumuman.Melainkan hanya suara langkah pelan yang menimbulkan hening sesaat.Semua mata beralih.Dan waktu seolah ikut terhenti.Gaun sutra putih menelusuri lantai marmer. Rambut hitam disanggul rapi, memperlihatkan garis wajah tegas nan tenang. Tatapan matanya
Empat hari berlalu sejak pencarian besar-besaran dilakukan di Teluk Seruni. Ombak telah surut, kabut mulai jarang turun, tapi tidak ada satu pun tanda keberadaan Lea yang ditemukan. Tidak pakaian, tidak sepatu, tidak jejak darah, tidak mayat. Seolah wanita itu menguap ditelan laut dan karang.Di sisi lain, tekanan dari media dan masyarakat terus meningkat. Termasuk dari keluarga Thompson yang akhirnya merilis pernyataan resmi lewat kuasa hukum mereka.'Dengan berat hati, kami menyatakan bahwa putri kami, Lea Rose Thompson, dinyatakan meninggal dunia. Kami berterima kasih kepada pihak kepolisian dan tim SAR atas upaya maksimal mereka. Kami memohon ruang dan privasi untuk berduka.'Pernyataan itu menyebar cepat di televisi, radio, dan media sosial. Kalimat sederhana itu menghantam Kayden lebih keras daripada semua badai yang pernah ia hadapi.Di dalam ruangannya yang gelap, ia menatap layar televisi yang menampilkan foto lama Lea—tersenyum dalam balutan gaun putih saat wisuda kuliah. K
Malam mulai turun pelan-pelan, menyapu Teluk Seruni dengan kelam yang lembap. Lampu-lampu dari tenda SAR berpendar redup di kejauhan, sesekali terdengar bunyi radio dari petugas yang masih berjaga.Kayden keluar dari tenda penyelidikan, rokok menyala di antara jari-jarinya. Ia jarang merokok—hampir tak pernah lagi—tapi malam ini tubuhnya menuntut pelarian. Asap pertama mengepul dari bibirnya bersamaan dengan helaan napas berat.Dia menatap lautan yang sama sekali tak memberi jawaban.Langkah Jonas terdengar dari belakang. “Tim SAR akan lanjut pencarian esok pagi, saat ombak sedikit tenang. Mereka butuh istirahat.”“Biarkan saja yang istirahat. Kita tidak bisa.” Kayden membuang puntung rokoknya, lalu mendekati pagar pembatas yang masih dipenuhi bekas coretan kuning polisi. “Apa kau yakin tim kita sudah memeriksa semua jalur keluar masuk?”“Sudah, Sir. Tapi ada satu jalan lama yang terhubung ke gudang pelabuhan. Sudah tidak aktif sejak lima tahun lalu. Aku kirim dua orang ke sana untuk
Dada Kayden terasa seperti dihantam palu. Tangannya bergetar saat membaca ulang berita itu. Gambar mobil Lea yang setengah tenggelam di antara puing-puing pagar pembatas jalan tol laut terpampang jelas. Polisi menduga mobil itu menabrak pembatas, terjun ke laut, lalu terseret arus.Tapi tak ada jasad. Tak ada tubuh. Hanya mobil. Dan jejak yang seakan menghilang ditelan laut.“Tidak mungkin …,” bisik Kayden. Kepalanya langsung penuh dengan kemungkinan terburuk—namun juga dengan harapan kecil yang membakar dadanya.Tidak ada jasad. Itu berarti belum tentu dia mati, bukan?Ia meraih ponselnya. Yang ia butuhkan hanya satu, informasi akurat. Jonas.“Segera ke Teluk Seruni. Kerahkan semua orang yang kita punya. Aku ingin penyelaman dilakukan sampai radius sepuluh mil laut. Aku tidak peduli berapa biaya yang dibutuhkan. Temukan dia, hidup atau mati,” perintah Kayden ketika panggilan berhasil tersambung.“Sir, polisi—”“Polisi lambat. Aku tidak akan duduk diam menunggu mereka bekerja.”Setela
[Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber
Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal
Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li