Home / Romansa / Hasrat Liar Sang Kakak Ipar / Chapter 131 - Chapter 140

All Chapters of Hasrat Liar Sang Kakak Ipar: Chapter 131 - Chapter 140

172 Chapters

131. Mesin ATM Berjalan

Rapat akhirnya berakhir. Begitu tiba di basement gedung Easton Industries, Sophia membuka pintu mobil dengan kasar. Ia segera meraih ponselnya dan menekan nomor Noah dengan perasaan kesal yang membuncah.“Sayang?” Suara Noah terdengar santai di seberang telepon.Sophia mendengus, masih dengan ekspresi kesal yang tercetak di wajahnya. “Aku benar-benar muak dengan istrimu!” geramnya tanpa basa-basi.Di balik meja rias studio, Noah mengernyit. Ia baru saja bersiap untuk pemotretan ketika panggilan Sophia datang.“Apa lagi yang dia lakukan sampai membuatmu kesal?” tanyanya dengan nada malas.Tak membuang waktu, Sophia segera menjelaskan kejadian saat rapat bersama Kayden dan para eksekutif. Tentu saja, ia menambahkan beberapa bumbu di sana-sini, memperhalus perannya sendiri dan membuat Lea terdengar lebih menyebalkan di telinga Noah.Noah menyimak dengan wajah yang mulai memerah. Seiring dengan cerita Sophia, kemarahan itu semakin menyulut akal sehatnya.“Jadi dia benar-benar bersikap seo
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

132. Memergoki Noah

Malam semakin larut ketika Noah tiba di kediaman keluarga Easton. Jemarinya mengetuk setir mobil dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada rumah megah yang berdiri kokoh di depannya. Sejak meninggalkan apartemen Sophia, hanya satu hal yang berputar di kepalanya—brankas ayahnya.Setelah mengumpulkan semua keberanian, Noah akhirnya keluar dari mobil. Udara dingin menerpa kulitnya, tetapi ia tidak menghiraukannya. Langkahnya waspada saat ia menyusup masuk.Noah tahu betul di mana letak brankas ayahnya. Ruang kerja Robert Easton berada tepat di ujung koridor lantai satu. Biasanya, pria tua itu tidak mengizinkan siapa pun masuk tanpa seizinnya.Namun, malam ini Robert sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Itu artinya kesempatan emas bagi Noah untuk melancarkan aksinya.Ia menarik napas dalam-dalam. ‘Tenang, Noah. Kamu hanya perlu melakukannya dengan cepat dan bersih,’ batinnya.Meski demikian, tangannya tetap berkeringat. Ini bukan pertama kalinya ia melanggar aturan, tap
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

133. Malam Penuh Darah

Udara dingin menusuk kulit wajahnya saat Lea melangkah ke depan pintu utama kediaman Easton. Salju yang melekat di mantel tebalnya mulai mencair, tetapi hawa tegang yang tiba-tiba merambat ke seluruh tubuhnya jauh lebih dingin daripada musim dingin itu sendiri.Telinganya menangkap suara ribut dari dalam rumah. Bukan sekadar percakapan biasa, tetapi suara bentakan marah yang bercampur dengan rintihan kesakitan. Darahnya berdesir, Lea lantas melangkah masuk dengan cepat.Seorang pelayan perempuan dengan wajah pucat nyaris menabraknya saat hendak keluar. Refleks, Lea meraih lengan wanita itu dan menghentikannya.“Apa yang terjadi?” tanyanya buru-buru.Pelayan itu menelan ludah, matanya penuh ketakutan. “Tuan Easton sedang memukuli Tuan Noah,” ucapnya lirih, seakan takut hanya dengan mengucapkannya.Lea merasakan tubuhnya menegang. “Apa?” gumamnya tak percaya.Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia langsung berlari menuju sumber suara. Langkahnya cepat, hampir terburu-buru, sementara su
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

134. Aku Mencintaimu

Ketika Lea hendak masuk ke kamarnya, sebuah cengkeraman erat tiba-tiba menangkap lengannya. Lea sontak menoleh dan mendapati Kayden berdiri di belakangnya dengan wajah marah.“Ikut aku,” desis pria itu sebelum menyeret Lea masuk ke dalam kamarnya.Saat pintu tertutup rapat, Kayden menguncinya dengan satu gerakan tegas sebelum menghimpit Lea ke dinding. Kedua tangannya menangkup sisi wajah wanita itu, menahannya dengan erat hingga membuatnya terperangkap.Lea mengangkat pandangannya dengan wajah cemas. “A-Ada apa?” tanyanya terbata, suaranya lirih dan nyaris serak.Ekspresi Kayden masih tak bersahabat, matanya berkilat dengan kemarahan yang tertahan. “Berani membela pria itu di depanku sekarang, huh?” geramnya.Mata Lea sedikit melebar sementara alisnya bertaut sejenak sebelum akhirnya ia menyadari arah pembicaraan ini. Butuh beberapa detik baginya untuk menghubungkan semuanya. Lalu, semuanya menjadi jelas.Rupanya, ini tentang apa yang terjadi sebelumnya di lantai bawah. Tentang bagai
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

135. Caught by Jonas

Setelah pengakuan cintanya malam itu, Lea pikir sikap Kayden mungkin akan berubah—termasuk hubungan mereka. Ia mengira hubungan mereka sudah tidak lagi membingungkan. Namun, kenyataan justru menamparnya begitu saja.Saat Lea memasuki ruangan Kayden pagi ini untuk menyerahkan beberapa berkas, pria itu tetap seperti biasanya. Tidak ada senyum hangat, tidak ada tatapan intens seperti yang Lea harapkan. Kayden hanya mengambil berkas itu dengan ekspresi datar, lalu menanyai Lea soal pekerjaan seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam.Lea berdeham pelan, mencoba mencari celah untuk setidaknya menggali reaksi Kayden. Namun pria itu malah fokus membaca dokumen di tangannya tanpa mengangkat kepala sedikit pun.“Kalau begitu, aku akan kembali ke mejaku,” kata Lea akhirnya, berusaha menekan rasa kecewa yang mulai merayapi hatinya.Kayden hanya mengangguk kecil.Lea mengepalkan jemarinya sebelum berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Begitu sampai di mejanya, ia menja
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

136. Terjebak Dalam Pesonamu

Setelah mengetahui fakta tersebut, Lea merasa tidak karuan. Tubuhnya menegang sementara jemarinya gemetar saat ia menatap Kayden dengan sorot panik.“Ini benar-benar buruk,” gumamnya pelan.Kayden yang sejak tadi mengamati reaksinya hanya berdecak pelan seraya menggeleng.“Tenanglah, Lea Rose.” Suaranya tenang dan terkendali. “Jonas tidak akan pernah berani membocorkan apa pun yang diketahuinya tentang kita. Dia tahu konsekuensinya.”Lea menggeleng cepat, sorot matanya masih mencerminkan kecemasan yang begitu besar. “Tapi dia tahu, Kayden. Dia tahu!”Kayden menarik napas panjang sebelum menangkup wajah Lea dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatap ke dalam matanya yang tajam. “Dan aku sudah bilang, dia tidak akan berani bicara,” ulangnya, kali ini lebih pelan seperti ingin memastikan wanita itu mengerti. “Aku yang mempekerjakannya. Aku juga yang bisa menghancurkannya.”Lea menelan ludah, tetapi kecemasannya belum sepenuhnya mereda. “Tapi bagaimana jika dia—”“Dia tidak akan.”
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

137. Masih Jalang yang Sama

Setelah selesai makan malam, Lea merasa puas. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran ditemani hawa dingin musim salju yang menusuk. Napas mereka mengepul tipis di udara, menandakan betapa dinginnya malam ini.Lea mengeratkan mantel di tubuhnya, sementara Kayden terlihat tenang meskipun hanya mengenakan mantel tanpa syal atau sarung tangan.Saat mereka tiba di area parkir, Lea berbalik untuk menghadap pria itu. “Terima kasih untuk makan malamnya. Aku jadi merasa seperti sedang berkencan,” ucapnya sedikit tersipu.Kayden menyeringai kecil. “Aku tidak ingat kalau ini adalah kencan, tapi kalau itu membuatmu senang, anggap saja begitu.”Lea mendengus pelan, tetapi tidak membalas. Ia hanya menggelengkan kepala, lalu berbalik menuju mobilnya. Namun sebelum ia sempat membuka pintu, suara Kayden terdengar lagi.“Hati-hati di jalan, My Little Rose.”Lea terhenti. Ia menoleh pelan, menatap pria itu dengan sorot terkejut. Panggilan itu ... anehnya terasa begitu alami dari bibir Kayden.Namu
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

138. Nikmati Harimu, My Little Rose

Lea tiba di kediaman Easton saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak ada aktivitas lagi di rumah megah itu, hanya keheningan yang menyelimuti tiap lorong yang mengantarkannya hingga ke depan pintu kamarnya.Saat tangannya terangkat untuk meraih pegangan pintu, pikirannya tiba-tiba berubah. Ia menurunkan kembali tangannya dan berbalik. Langkahnya yang gontai membawanya menuju kamar Kayden.Namun alih-alih langsung mengetuk, Lea hanya diam menatap daun pintu dengan ragu. Jantungnya berdebar, seolah-olah ada sesuatu yang menahannya untuk mengetuk.“Sedang apa kamu di sini?”Suara berat itu menyergap telinganya. Lea tersentak dan refleks berbalik. Kayden berdiri di sana, tubuhnya tegak dengan tangan terlipat di dada.Lea tidak bereaksi apa pun selain memandangi pria itu dalam diam. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata seakan tertahan di tenggorokannya. Akhirnya, ia hanya menundukkan kepala dan melangkah mendekat sebelum menempelkan ujung kepalanya ke dada Kayden.“Aku lelah,”
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

139. Jangan Memprovokasiku Lagi

Lea tidak pernah membayangkan bahwa setelah merasakan kehangatan sikap Kayden, kabar berikutnya yang ia terima justru berita duka.Gregory Lancaster, pria tua yang selama ini dikenal sebagai mitra bisnis keluarga Easton, meninggal dunia karena serangan jantung tadi malam. Hari ini, ia akan dimakamkan.“Apa aku benar-benar harus ikut?” tanya Lea ragu.“Ya,” sahut Kayden singkat.Lea menundukkan kepala. “Tapi, aku tidak begitu mengenalnya.”“Kamu mengenalnya lebih dari cukup,” potong Kayden. “Bukankah Tuan Lancaster menghormatimu selama ini? Sikapnya berbeda dengan kebanyakan orang di sekitarmu.”Lea terdiam. Kata-kata Kayden benar. Gregory Lancaster adalah satu dari sedikit orang yang tidak pernah memandangnya dengan tatapan merendahkan. Bagaimana mungkin ia tidak mengantarkan kepergian pria itu ke tempat peristirahatan terakhirnya?Lea menghela napas pelan. “Baiklah,” ucapnya akhirnya.***Salju tipis turun perlahan, butirannya berjatuhan di atas tanah pemakaman yang sudah memutih. Ud
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

140. Fertility Assessment

Keheningan menyeruak saat mobil Kayden bergerak dengan perlahan meninggalkan kompleks pemakaman. Di kursinya, Lea diam seraya membuang pandangan ke jendela. Dalam hatinya, wanita itu merasa kesal setengah mati pada pria yang duduk di belakang kemudi.Jika dipikirkan lagi, ketidaknyamanan ini berawal dari kecemburuan Kayden terhadap Vincent. Memang, ini salah Lea karena menyeret Evelyn ke dalam argumen mereka. Tapi tetap saja, Kayden tidak seharusnya bereaksi seberlebihan itu.Lagi pula, apa yang bisa Lea harapkan dari pria yang bahkan tidak bisa mengendalikan rasa cemburunya sendiri?“Hhh ….” Helaan napas berat itu tanpa sadar lolos dari bibir Lea dan langsung mengundang perhatian pria yang duduk di sampingnya.Kayden melirik Lea sekilas, dahinya mengernyit. “Kenapa?” tanyanya datar.Lea tidak segera menjawab. Tatapannya tetap tertuju ke luar jendela, mengamati hiruk-pikuk jalanan yang terselimuti rintik salju. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya, tapi ia tahu meluapkannya sekarang
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more
PREV
1
...
1213141516
...
18
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status