Semua Bab Hasrat Liar Sang Kakak Ipar: Bab 111 - Bab 120

172 Bab

111. A Sip of Desire

Usai menghabiskan waktu selama dua jam membaca buku, sekarang Lea sibuk bergelut dengan cangkir dan sendok di dapur. Tangannya dengan cekatan membuat cokelat panas dengan taburan marshmallow di atasnya.Aroma manis memenuhi udara saat uap mengepul dari cangkir yang ia genggam. Dengan hati-hati, ia membawa minuman itu ke ruang tengah. Namun langkahnya terhenti begitu melihat Kayden duduk di sofa sedang fokus pada ponselnya.Sejak kapan pria itu duduk di sana?Jujur saja, Lea merasa ragu apakah ia harus melangkah ke sana atau pergi ke tempat lain.“Sampai kapan kamu berencana berdiri di sana sambil mengamatiku terus?” Suara bariton pria itu seketika memecah keheningan. Tatapannya tak sedikit pun beralih dari layar ponsel di tangannya.Lea sedikit tersentak. Matanya mengerjap pelan sebelum akhirnya berjalan mendekat, lalu duduk di samping Kayden. Meski sempat canggung, namun seruputan pertama dari cokelat panasnya membuatnya tersenyum puas.“Yum!” serunya antusias.Kayden melirik sekilas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

112. Mulai Terbuka?

Keesokan paginya, Lea terbangun dalam dekapan Kayden. Kehangatan tubuh pria itu membuatnya enggan beranjak, apalagi dengan udara dingin dan salju yang turun di luar. Namun keinginannya untuk merasakan air panas di bawah pancuran akhirnya mengalahkan godaan untuk tetap tinggal.Setelah mandi singkat, Lea keluar dengan tubuh menggigil sambil memeluk erat jubah mandinya. Napasnya berembun tipis saat bertemu udara dingin. Saat ia duduk di depan meja rias, Kayden yang baru saja terbangun tiba-tiba menariknya kembali ke ranjang dan memeluknya erat.“Kamu sangat wangi,” gumamnya dengan mata terpejam, menikmati aroma yang menguar dari tubuh Lea. Namun matanya langsung terbuka saat tetesan air dari rambut wanita itu jatuh ke wajahnya.Tanpa banyak bicara, Kayden melingkarkan tangannya di pinggang ramping Lea, lalu dengan mudah mengangkat tubuhnya dan menggesernya ke samping. Setelah itu, ia turun dari ranjang untuk mengambil pengering rambut.Lea mengulurkan tangan, bersiap menerima alat itu,
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya

113. Kembali ke Kenyataan

Lea begitu menikmati waktunya di rumah tepi danau hingga tak menyadari betapa cepat waktu berlalu. Hari ini, mereka harus kembali ke kediaman Easton setelah menghabiskan dua hari penuh di tempat ini.Dengan langkah enggan, Lea berjalan menuju mobil. Sebelum masuk, pandangannya kembali tertuju pada bangunan kayu itu. Entah mengapa, ia merasa seperti sedang berpisah dengan mendiang ibu Kayden—seseorang yang bahkan tak pernah ia temui, tetapi meninggalkan jejak yang samar dalam keheningan rumah itu.Saat mobil perlahan bergerak meninggalkan rumah tersebut, Lea menyandarkan kepalanya ke jendela. Matanya mengamati hamparan salju yang semakin menjauh, sementara embusan napasnya mengepul tipis di permukaan kaca.“Kamu terlihat murung. Ada apa?” Kayden melirik sekilas ke arah Lea sebelum kembali fokus ke jalanan.Lea sedikit menggeliat, membetulkan posisinya. “Uhm, aku hanya merasa sedikit sedih. Rasanya seperti aku baru saja berpisah dengan …,” Ia ragu-ragu, tatapannya tertuju pada Kayden se
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

114. A Rose in the Dark

Grand Aurelia Ballroom.Pesta ulang tahun ke-50 Liam Thompson digelar dengan megah di salah satu ballroom eksklusif hotel berbintang. Lampu kristal menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya mewah yang menari di permukaan lantai marmer. Musik klasik mengalun lembut, menciptakan suasana elegan yang terasa asing bagi Lea di malam yang gemerlap ini.Dengan gaun merah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, Lea tampak memesona. Namun kehadirannya justru menarik terlalu banyak perhatian. Ia merasa seperti seekor domba di tengah kawanan serigala.Saat Lea menghampiri keluarganya, tatapan tajam Astrid langsung menyambutnya. Wanita itu menyapu pandangan ke sekeliling, mencari sosok dari keluarga Easton yang seharusnya datang bersama wanita itu.“Di mana Kayden Easton?” bisik Astrid dengan nada tajam, senyumnya tetap terpatri demi menjaga wibawa di hadapan para tamu.Lea merasa terpojok. “Dia ada urusan lain dan tidak bisa datang,” jawabnya berusaha setenang mungkin.Ekspresi Astrid seke
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

115. Dance with Me!

Lea nyaris membelalakkan mata saat melihat sosok Kayden melangkah tegap ke arahnya. Ia bahkan sempat memejamkan mata sejenak, sebagai usaha untuk memastikan bahwa penglihatannya tidak menipunya. Namun berapa kali pun ia mengedip, sosok di depannya tetaplah Kayden.“Sir,” ucap Lea sopan, meski keterkejutan masih terasa dalam nada suaranya.Kayden tidak langsung menanggapi. Pria itu hanya berdiri di hadapannya, lalu menatapnya tanpa ekspresi sebelum akhirnya membuka suara.“Ke mana saja kamu, hm?”Lea bergumam pelan. “Uhm, aku hanya pergi mencari udara segar sebentar,” sahutnya hampir ragu. Ia mencodongkan tubuhnya sedikit ke depan dan berbisik, “Kupikir kamu tidak akan datang.”Kayden menyunggingkan senyum miring. “Ternyata kamu masih suka membuat asumsi yang salah,” balasnya santai.Lea memanyunkan bibir. Bukan dirinya yang selalu salah berasumsi, tetapi memang Kayden yang tidak bisa ditebak sama sekali. Terakhir kali saat Lea memberinya jawaban 'terserah', Kayden menegaskan bahwa dia
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-28
Baca selengkapnya

116. Bitch and Old Wounds

Musik masih mengalun ketika pembawa acara mengumumkan pergantian pasangan dansa. Lea bahkan tidak punya waktu untuk menyadari apa yang terjadi saat seseorang menyentuh tangannya menggantikan Kayden.Lea kini menari dengan pria lain—seorang tamu yang sama sekali tak ia kenal. Sementara itu, Kayden terpaksa berdansa dengan seorang wanita yang mendekatinya lebih dulu.Namun berbeda dengan Lea yang berusaha menyesuaikan diri dengan pasangannya, Kayden sama sekali tidak tertarik dengan wanita di hadapannya. Raut wajahnya kaku, sorot matanya dingin. Tatapannya sama sekali tak lepas dari Lea.Ia memperhatikan setiap gerakan wanita itu. Bagaimana pria yang kini menjadi pasangannya menuntun Lea, bagaimana tangan lelaki itu menyentuh pinggangnya. Otot rahang Kayden berdenyut keras.Kayden tidak menyukai ini.Sama sekali tidak.“Tuan Easton,” suara lembut wanita di hadapannya berusaha menarik perhatiannya. “Anda terlihat tidak nyaman. Apa saya menari terlalu buruk?”Kayden mengalihkan pandangan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

117. Pilihanmu Adalah Aku

Astrid sedang menikmati segelas anggur ketika suara langkah tergesa-gesa mendekatinya. Ia mengangkat alis ketika melihat Emma berjalan cepat dengan ekspresi murka, mata putrinya itu dipenuhi kemarahan yang tak terbendung.“Aku sudah muak!” Emosi Emma meledak begitu sampai di hadapan ibunya. “Aku tidak percaya dia benar-benar melakukan ini padaku!”Astrid menurunkan gelasnya dengan tenang, lalu menatap Emma dengan penuh tanya. “Siapa yang kamu maksud?”“Siapa lagi kalau bukan Kayden Easton?” Emma hampir berteriak, tapi langsung menekan suaranya agar tidak mengundang perhatian. “Dia mengusirku! Demi wanita itu! Di depan mataku, dia membela si jalang Lea dan memperlakukannya seolah-olah dia sesuatu yang berharga!”Sekilas, ekspresi Astrid tampak kaku. Namun ia tetap menjaga ketenangannya dan menyandarkan tubuh ke kursi dengan elegan. “Ceritakan pada ibu. Bagaimana kejadiannya?”Emma mengepalkan tangan, napasnya naik-turun akibat emosi yang meluap. “Aku hanya ingin memberi jalang itu peri
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

118. Château Margaux

Begitu pesta selesai, Emma tiba di kamarnya dengan langkah kasar. Setelah pintu tertutup, ia langsung melempar barang-barang yang ada di dekatnya. Sebuah teriakan penuh kemarahan meledak dari mulutnya, disertai umpatan kasar yang ditujukan pada Lea yang bahkan tidak bisa mendengarnya.Sejak Kayden membawa Lea pergi, Emma tidak lagi bisa menikmati pesta ulang tahun ayahnya yang megah. Setiap ucapan selamat dan tawa tamu-tamu yang hadir terasa seperti ejekan di telinganya. Dalam hatinya hanya ada kemarahan yang membara pada saudara tirinya itu.“Kenapa jalang itu selalu menghancurkan kebahagiaanku?! Aku ingin dia mati sekarang!” teriaknya, lalu menyambar vas di atas nakas dan melemparkannya ke lantai.Pecahan kaca berhamburan dan hampir mengenai kakinya, tetapi Emma sama sekali tidak peduli.Napasnya memburu sementara dadanya naik turun dengan liar. Ia tidak bisa menerima ini—tidak setelah apa yang terjadi tadi. Lea harus dihancurkan.Emma meraih ponselnya dengan tangan gemetar karena a
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-01
Baca selengkapnya

119. Ketahuan?

Pagi itu, Lea menuruni anak tangga dengan anggun. Langkahnya pelan saat melewati lorong menuju ruang makan. Setibanya di sana, ia melihat Madam Eleanor tengah menuangkan teh ke dalam cangkir.“Selamat pagi, Nyonya Rose,” sapa Madam Eleanor saat Lea memasuki ruangan.Lea menarik kursi dengan gerakan tenang, ujung jemarinya menyentuh permukaan kayu berukir sebelum akhirnya duduk. Ia menoleh ke arah Madam Eleanor dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya.“Selamat pagi, Madam,” sahutnya sopan.Di atas meja, aneka hidangan tersaji dengan aroma menggugah selera. Roti panggang hangat dengan olesan mentega yang meleleh, omelet lembut berisi paprika dan keju, serta semangkuk sup kaldu ayam. Secangkir teh hitam beraroma melati tersaji dalam cangkir porselen berhias emas, menambah kesan elegan pada pagi yang tenang.Lea meraih sendoknya, lalu mengaduk sup di depannya dengan perlahan. Namun sebelum ia sempat menyendokkan suapan pertama, Madam Eleanor yang tengah menuangkan kopi ke dalam c
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

120. Cafe Verdant

Lea segera bergerak, lalu berdiri di samping Kayden sebelum pria itu sempat bangkit. Dengan cepat, tangannya menekan kepala pria itu dengan cukup kuat mencegahnya untuk berdiri.“Diam di sana,” bisiknya.Kayden mengerutkan kening, tetapi tidak langsung melawan. Ia hanya menatap wanita itu dengan tatapan tajam yang menyiratkan ketidaksabaran. Namun sebelum ia bisa berkata apa pun, Lea sudah menekan kepalanya lebih kuat.Seperti dugaan Lea, pelayan itu akhirnya menyadari keberadaannya di dalam paviliun kaca. Pelayan itu tersenyum sopan padanya. Meski kegugupan menyergap dada Lea, tetapi ia tetap memasang ekspresi santai.Lalu, tanpa Lea duga, pelayan itu tiba-tiba melangkah ke arahnya. Panik, Lea buru-buru keluar menghampirinya sebelum wanita itu sempat melihat lebih jauh ke dalam paviliun dan menyadari keberadaan Kayden di sana.“Uhm, hai,” sapa Lea begitu berdiri di depan si pelayan, bibirnya melengkung canggung.Pelayan itu membalas senyumnya. “Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa menemukan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1011121314
...
18
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status