Semua Bab Hasrat Liar Sang Kakak Ipar: Bab 101 - Bab 110

172 Bab

101. Jalan Buntu

“Katakan padanya, kita bisa bicara di rumah. Aku sedang makan malam, dan aku tidak ingin diganggu,” kata Kayden sebelum mengakhiri panggilan sepihak.Lea menghela napas panjang meski kegelisahan masih mengendap di dadanya. Ia menatap Kayden dengan cemas, tidak, sebenarnya wanita itu tampak ingin menangis saking cemasnya.“Dia tidak akan naik ke mari, kan?” tanyanya memastikan.Kayden menatapnya sekilas, lalu kembali menikmati makanannya dengan tenang. Tidak ada tanda-tanda ketegangan di wajahnya, seakan keberadaan Kaelyn di sini mencarinya sama sekali tidak berarti.“Ada apa? Kamu takut?” tanyanya santai, nada suaranya terdengar samar menggoda. Ia menyumpit sepotong sushi dan memasukkannya ke dalam mulut.Lea mengembuskan napas panjang, wajahnya berubah masam. “Menurutmu?” balasnya sedikit kesal. “Kenapa kamu selalu melontarkan pertanyaan yang sudah jelas jawabannya?”Tentu saja Lea takut. Bahkan, ia sangat ketakutan sekarang.Kayden hanya menatapnya sekilas sebelum kembali menyuap ma
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-23
Baca selengkapnya

102. Dirampok

Entah mengapa, Lea tiba-tiba panik, seperti ia baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang melanggar hukum. Niatnya untuk berbalik arah langsung buyar saat sebuah suara mengudara di belakangnya. Lea terdiam di tempat.“Nyonya Lea Rose.”Suara itu berasal dari sopir pribadi Kaelyn. Lea menelan ludah dengan susah payah sebelum akhirnya berbalik perlahan. Senyum masam terbit di bibir ranumnya saat ia berusaha menyembunyikan kegelisahan yang merayapi dadanya.“Uhm ... Halo, Tuan Simmons. Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ujarnya dengan suara getir.Tuan Simmons melangkah mendekat, dahinya sedikit berkerut saat memperhatikan Lea yang tampak gelisah. Namun sebelum sempat mengutarakan pikirannya, dering ponsel dari dalam sakunya mengalihkan perhatiannya. Dengan cepat, ia merogoh saku celananya dan melihat nama yang tertera di layar.Kaelyn.Ekspresi Tuan Simmons berubah serius saat ia mengangkat panggilan itu. “Ya, Nyonya,” jawabnya dengan nada hormat.Lea berdiri kaku di tempatn
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-24
Baca selengkapnya

103. Trauma Baru

Seluruh wajah Lea basah akan keringat saat mobil berhenti di sebuah tempat sepi yang bahkan tidak dikenalnya. Gelap, sunyi, dan jauh dari keramaian. Ia bisa mendengar detak jantungnya yang berdegup kencang saat sopir itu menoleh ke arahnya dengan seringai licik.“Turun,” perintahnya dengan nada dingin sembari mengacungkan pisaunya di dekat leher Lea.Lea mengangguk pelan, berpura-pura menurut. Sementara di bawah sana, tangannya merogoh tas dengan gemetar dan berhasil menemukan botol parfum kaca yang tersembunyi di dalamnya. Saat pria itu bergerak lebih dekat, Lea segera mengayunkan botol itu sekuat tenaga hingga mengenai wajahnya dengan keras!“ARGH!” Sopir itu menjerit.Tanpa membuang waktu, Lea mendorong pintu mobil dengan keras dan langsung berlari keluar.Kakinya hampir terpeleset di atas salju, tapi ia tidak peduli. Ia hanya bisa fokus untuk berlari, menjauh sejauh mungkin dari pria itu.Dalam ketakutan dan kepanikan, Lea melihat sebuah mobil melaju ke arahnya. Tanpa berpikir pan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-24
Baca selengkapnya

104. Reaksi Kayden

Kayden segera memeriksa setiap inci tubuh Lea, dari telapak tangan hingga wajahnya, memastikan bahwa wanita itu tidak terluka. Matanya menajam, mencari tanda-tanda cedera sekecil apa pun. Meskipun tak menemukan jejak luka, keresahan di wajahnya tak juga surut.Perampokan adalah kejahatan serius, dan Lea mengalaminya tadi malam.“Demi Tuhan, Lea Rose! Inilah yang paling aku khawatirkan saat membiarkanmu pulang sendiri tadi malam!” geram Kayden dengan wajah frustrasi.Lea menurunkan kedua tangan Kayden dari wajahnya, lalu menatap pria itu dengan sorot mata sayu. “Tapi aku baik-baik saja. Aku hanya kehilangan uang tunai,” ujarnya lirih.Kayden menekan ibu jarinya ke pelipis, lalu menghela napas kasar. Tidakkah Lea menyadari betapa frustrasinya ia sekarang? Wanita ini baru saja mengalami perampokan, tapi malah bersikap seolah itu bukan hal besar.Sial! Kayden benar-benar kesal.“Kamu baru saja dirampok, Lea Rose. Ini kejahatan serius! Tapi kamu—” Kalimatnya terhenti di tenggorokan. Rasa ma
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

105. Campur Tangan Vincent

Di kursinya, Lea menunduk dengan wajah pucat. Meskipun berusaha terlihat tegar, tangannya masih sedikit gemetar di atas pahanya. Napasnya belum sepenuhnya stabil dan sorot matanya menunjukkan sisa-sisa ketakutan yang masih mengendap.“Pulanglah,” ujar Kayden setelah beberapa saat, nada suaranya lebih lembut.Lea segera mengangkat wajahnya, wanita itu tampak ragu-ragu. “Aku masih harus—”“Pulang, Lea Rose,” potong Kayden tegas. “Kamu butuh istirahat.”Lea terdiam. Ia tahu pria itu tidak akan menerima bantahan.Tanpa menunggu lebih lama, Kayden meraih ponselnya dan menekan nomor seseorang di layar. “Aku akan menyuruh seseorang mengantarmu,” katanya.Lea buru-buru menggeleng. “Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri.”Tatapan Kayden mengeras. “Jangan membantahku.”Namun sebelum panggilannya berhasil tersambung, suara dering ponsel Lea tiba-tiba terdengar dari dalam tasnya.Lea meraih ponselnya dan menatap layar dengan kening berkerut. Nomor tak dikenal.Dengan sedikit ragu, Lea akhirnya men
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

106. Kayden's Justice

Dua hari kemudian ….Lea menggenggam tasnya dengan erat saat memasuki kantor polisi. Langkahnya sedikit ragu, tetapi ia memaksakan diri untuk terus maju. Setelah berpikir matang, ia memutuskan untuk memenuhi panggilan dan memberikan keterangannya terkait insiden perampokan yang dialaminya dua hari lalu.Ini adalah pertama kalinya Lea menginjakkan kaki di tempat seperti ini. Udara di dalam kantor polisi terasa sedikit kaku dengan suara telepon berdering dan langkah-langkah petugas yang sibuk berlalu lalang. Perasaan gugup menyelimutinya, tetapi Lea tetap melangkah.Seorang petugas berseragam rapi berjalan mendekat dan menatapnya dengan ramah. “Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa kami bantu?” tanyanya.Lea menelan ludah dengan sedikit payah sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Selamat pagi, Sir. Saya datang untuk memberikan keterangan terkait laporan perampokan dua hari lalu,” sahutnya sopan.Petugas itu mengangguk kecil. “Anda Nona Lea Rose?” tanyanya memastikan.“Ya,” Lea menjawab pelan.“
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-25
Baca selengkapnya

107. Rumah Tepi Danau

Setelah menunggu cukup lama, mobil Kayden akhirnya tiba di halaman kantor polisi. Begitu kendaraan itu berhenti, Lea segera membuka pintu dan masuk, lalu duduk di samping pria itu dengan ekspresi kesal yang ia tahan.“Aku tidak mengerti kenapa kamu bersikeras menjemputku. Padahal kamu tahu sendiri aku membawa mobil,” gumamnya sambil merapikan mantelnya.Kayden tidak langsung menanggapi. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya ke arah Lea dengan ekspresi datar.“Berikan kunci mobilmu,” katanya singkat.Lea mendesah pelan. Dengan enggan, ia merogoh tas dan menyerahkan kunci mobilnya pada pria itu.Kayden menerima kunci itu tanpa basa-basi, lalu membuka kaca jendela dan menyerahkannya kepada Jonas yang sudah berdiri menunggu di luar.“Aku tahu kamu mengkhawatirkanku. Tapi sikapmu ini jelas merepotkan orang lain,” gerutu Lea pelan, kemudian melirik Jonas dengan rasa tidak enak.Kayden segera melajukan mobil keluar dari halaman kantor polisi. “Dia memang digaji untuk itu. Jika tidak ingin ker
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

108. Dua Kutub yang Berlawanan

Siang itu, Lea mulai menikmati waktunya di rumah tepi danau milik mendiang ibu Kayden. Meski sempat merasa cemas, udara segar, kicauan burung yang sesekali terdengar, serta ketenangan di sekelilingnya perlahan membuatnya lebih rileks.Yang lebih mengejutkan, Kayden menemaninya berkeliling. Pria itu menunjukkan setiap sudut rumah yang minimalis namun terasa nyaman—kamar-kamar dengan perabotan simpel dan sebuah ruang baca kecil di sudut lantai dua. Lea mendengarkan dengan seksama meskipun pikirannya masih dipenuhi tanda tanya.“Setelah ibuku meninggal, ini adalah tempat pelarianku,” ujar Kayden sambil tersenyum, matanya berbinar penuh ketulusan. “Tidak ada yang tahu tempat ini, termasuk ayahku.”Lea terdiam, menyimak setiap kata yang diucapkan pria itu. Siang ini, Kayden lebih banyak bicara. Meski sesekali ucapannya terdengar menyebalkan di telinga Lea, namun kali ini berbeda—pria itu lebih terbuka dari biasanya.“Dan kamu membawaku ke tempat persembunyianmu,” gumam Lea pelan.Kayden me
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

109. Trust Me!

Jantung Lea berdebar begitu kencang hingga tubuhnya terasa melayang. Ia buru-buru menurunkan tangannya ke bawah meja, lalu menggenggam jemarinya sendiri dengan erat. Kayden mungkin tidak mengatakan maksudnya secara gamblang, tetapi kali ini Lea mengerti.Seolah menguatkan pemikirannya barusan, Kayden kembali berbicara dengan suara lebih rendah. “Aku ingin kamu memercayaiku mulai sekarang, Lea Rose.”Lea membeku di tempatnya. Selama ini, Kayden selalu memaksanya bertahan dengan ancaman hingga membuatnya tak punya pilihan. Namun terlepas dari itu semua, Kayden adalah satu-satunya orang yang tidak pernah menyakitinya seperti Noah atau keluarganya.Ironis, sejak kapan Lea mulai melihatnya seperti itu? Sejak kapan pikirannya mulai menerima kenyataan bahwa pria yang mengancamnya … juga menjadi satu-satunya yang melindunginya?“Sekarang, cepat habiskan makananmu dan beristirahat di kamar,” kata Kayden dengan nada yang lebih lembut.Lea tidak membantah. Tanpa banyak berpikir, ia segera mengha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-26
Baca selengkapnya

110. Takut Kehilangan

Malam ini hingga dua hari ke depan, hanya ada Lea dan Kayden di rumah tepi danau ini. Setelah mengetahui bahwa seluruh keluarga Easton terbang ke Italia selama satu minggu, Lea memilih untuk tidak membantah.‘Sekali ini saja ... aku ingin menjalani hari-hariku dengannya tanpa merasa terbebani.’ Kata-kata itu menggema di kepalanya saat Kayden memutuskan mereka tetap tinggal.Bukan hal yang mengejutkan lagi. Noah dan keluarganya pergi tanpa sepengetahuannya. Seakan keberadaannya tidak cukup penting untuk diberi tahu. Memangnya siapa dirinya?Setelah membersihkan diri dan menikmati makan malam, Lea teringat akan ruang baca di sudut rumah. Keinginan untuk menghabiskan waktu di sana muncul begitu saja, seperti dorongan lembut yang membawanya melangkah menuju pintu kayu yang sedikit terbuka.Lea menyentuh kenop pintu yang dingin dan mendorongnya perlahan. Pintu terbuka tanpa hambatan, memperlihatkan ruangan yang diterangi cahaya temaram. Aroma kertas lama dan tinta langsung menyelinap ke da
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-02-27
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
910111213
...
18
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status