Semua Bab Hasrat Liar Sang Kakak Ipar: Bab 121 - Bab 130

172 Bab

121. Diculik

Vincent membantu menarikkan kursi untuk Lea sebelum mempersilakan wanita itu duduk.Lea merasa canggung luar biasa, tetapi tetap tersenyum kecil. “Padahal kamu tidak perlu repot-repot. Tapi, terima kasih,” ujarnya sambil duduk.Vincent tersenyum simpul. “Untuk wanita cantik sepertimu? Sama sekali bukan repot.”Lea merasa tersipu, tapi ia segera menguasai ekspresinya agar tetap terlihat tenang.“Jadi, bagaimana kabarmu?” tanya Vincent.Lea mengangguk pelan. “Aku baik, berkatmu. Aku belum sempat berterima kasih dengan benar karena malam itu ….” Ia menarik napas. “Kalau bukan karena kamu, aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku benar-benar berhutang budi padamu.”Vincent menatapnya lekat. “Kamu tidak perlu memikirkan itu, Lea. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya.”Lea hendak menjawab, tapi Vincent sudah terkekeh pelan.“Tapi, tahu tidak? Kalau aku tidak melihat langsung kejadian malam itu, aku mungkin akan mengira kamu adalah seorang pelari maraton yang sedang berlatih di tengah ma
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-02
Baca selengkapnya

122. Usaha Kayden

“S-Siapa kamu? Apa yang kamu inginkan?” tanya Lea dengan suara bergetar.Pria bertato itu menyeringai kecil, tetapi tidak menjawab. Sebaliknya, ia berbalik sejenak lalu melangkah perlahan ke sudut ruangan sebelum kembali dengan sebilah pisau kecil di tangannya.“Aku ingin tahu,” kata pria bertato, suaranya terdengar main-main namun dingin dan penuh tekanan. “Seberapa berharganya kamu sampai seseorang ingin kamu tetap hidup.”Lea membeku. ‘Seseorang ingin aku tetap hidup?’ pikirnya dalam hati.Apa maksudnya? Apakah ini berarti pria itu tidak berniat membunuhnya? Atau justru ingin menyiksanya terlebih dahulu?Ketakutan semakin mencengkeram Lea dengan erat. Ia menggigit bibirnya, berusaha menahan isak yang nyaris lolos. Matanya mencari jalan keluar, tetapi tidak ada. Satu-satunya pintu keluar berada di belakang pria itu.Namun, ada sesuatu yang lebih membuat Lea terkejut.Pria itu memutar pisau di jarinya sebelum berbicara lagi, “Seseorang mengirim salam untukmu. Katanya, kamu harus bela
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

123. No Mercy, No Hesitation

Ponselnya bergetar lagi. Kayden segera meraihnya dan menyipitkan mata saat melihat nama Jonas. Tanpa ragu, ia menjawab panggilan.“Sir, kami sudah menelusuri daftar individu dan kelompok yang memiliki ciri tato tersebut. Sepertinya kita menemukan kecocokan,” lapor Jonas di seberang telepon.Jari Kayden mengetuk lengan kursinya dengan ritme pelan. “Siapa?” tanyanya, suaranya terdengar serius.Jonas menyebutkan sebuah nama dan lokasi. Kayden terdiam sejenak, membiarkan informasi itu meresap dalam pikirannya sebelum akhirnya bersuara.“Pastikan mereka masih di sana. Aku akan ke sana sekarang.”“Apakah Anda ingin membawa pengawalan?”Kayden bangkit berdiri. “Aku akan menangani ini sendiri untuk sekarang, tapi siapkan tim untuk berjaga-jaga.”“Dimengerti, Sir.”Kayden mengakhiri panggilan telepon sebelum melangkah menuju garasi.Di tempat lain, Lea duduk dengan tubuh menggigil. Rasa dingin dari lantai beton meresap ke kulitnya, sementara keheningan di ruangan itu membuat detak jantungnya t
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

124. Dalang Penculikan

Kini, si penculik beserta kawanannya berdiri dengan tangan tergantung ke atas—terikat rantai yang menggantung di langit-langit ruangan yang lembap dan berbau anyir. Kesadaran mereka perlahan pulih. Saat mata mereka mulai bisa melihat dengan jelas, sosok Jonas sudah berdiri di hadapan mereka tanpa ekspresi.Sebuah pemukul besi tergenggam erat di tangan kiri Jonas, sementara di belakangnya puluhan pria bertubuh kekar berdiri dengan tatapan bengis. Suasana ruangan itu sunyi, hanya terdengar desah napas berat para penculik yang tengah mencoba memahami situasi mereka.Salah satu penculik, pria bertato yang tampak lebih berani dari yang lain, menyeringai sinis sebelum berdecih dan meludah ke arah Jonas. Ludah bercampur darah itu jatuh ke lantai di antara mereka, menciptakan jeda singkat sebelum Jonas bereaksi.Tanpa sepatah kata pun, Jonas melayangkan pukulan keras ke perut pria bertato itu. Dentuman suara tubuh yang menerima pukulan itu menggema di ruangan, disusul oleh erangan tertahan dar
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-03
Baca selengkapnya

125. Aku Sudah Menjadi Seperti Mereka, Sayang

Keesokan paginya, Lea terbangun dengan perasaan campur aduk. Penculikan yang dialaminya semalam masih membekas di benaknya, membuatnya sulit merasa benar-benar tenang. Meskipun Kayden telah membawanya kembali ke kediaman Easton dengan selamat, tetapi ketakutan itu masih menghantui hingga pagi ini.Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian sederhana yang hangat, Lea melangkah keluar dari kamar. Rumah besar itu terasa sunyi. Hanya suara samar burung berkicau dari luar jendela yang memberi sedikit kehidupan di tengah kesunyian.“Meski ada banyak pelayan, tapi rumah ini rasanya benar-benar sunyi,” gumamnya pelan.Baru saja ia hendak melangkah lebih jauh, suara berat dan tajam milik Kayden memecah kesunyian. Lea seketika tertegun. Pintu ruang kerja pria itu tidak tertutup sepenuhnya, menyisakan celah sempit yang cukup untuk membiarkan suaranya merembes keluar. Ia seharusnya pergi, berpura-pura tidak mendengar apa pun. Tapi rasa penasaran yang tak terbendung menariknya mendekat.Den
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

126. Emma Disappeared

Jam istirahat telah berakhir, tetapi Lea masih duduk di mejanya seraya menatap layar komputer tanpa benar-benar memperhatikan apa yang ada di depannya. Tangannya menopang dagunya, sementara pikirannya melayang entah ke mana.Sejak kejadian beberapa hari lalu, ada sesuatu yang terus mengusik pikirannya. Kayden belum mengatakan apa pun tentang niatnya membalas Emma. Ia ingin percaya bahwa pria itu tidak benar-benar bertindak, tetapi nalurinya berkata lain.Suara dering ponsel di mejanya menariknya kembali ke kenyataan. Lea menunduk, melihat nama ayahnya tertera di layar. Ia langsung meraih ponselnya dan menggeser tombol hijau.“Halo, Pa?” sapanya dengan nada sopan.“Lea, apa kamu bertemu dengan Emma dalam beberapa hari terakhir?” Suara Liam Thompson terdengar lebih serius dari biasanya.Alis Lea berkerut. “Terakhir kami bertemu saat pesta ulang tahun Papa.”Di seberang, terdengar helaan napas berat. “Baiklah. Jika dia menghubungimu atau kamu tidak sengaja bertemu dengannya, katakan padan
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

127. Meeting

Pikiran Lea masih belum sepenuhnya tertata. Di tengah rapat, ia terus memikirkan tentang Emma. Kegelisahan itu membuatnya sulit berkonsentrasi, tetapi ia berusaha mempertahankan ekspresi tenang agar tidak menarik perhatian.Namun, suara berat Kayden yang berbicara di depan membuatnya tersadar kembali ke ruangan. Ia mengangkat wajah, menatap pria itu yang tengah duduk di kursi utama dengan ekspresi serius. Di hadapannya, para eksekutif utama Easton Industries menunggu arahan.“Kita sudah mendekati tahap final untuk peluncuran proyek terbaru di distrik komersial,” Kayden membuka rapat dengan nada tenang. “Saya ingin kepastian bahwa semua berjalan sesuai rencana. Presentasikan progres terakhir.”Chief Operating Officer perusahaan, Nathan Carter, segera mengambil alih pembicaraan. “Saat ini, tahap konstruksi telah mencapai delapan puluh persen dengan semua material utama telah diamankan untuk menghindari potensi keterlambatan. Kami telah menjadwalkan inspeksi struktural dan keselamatan dal
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-04
Baca selengkapnya

128. Happy Birthday

Setelah hari itu, masih belum ada kabar dari Emma dan nomornya masih tidak bisa dihubungi. Liam Thompson telah mengerahkan anak buahnya untuk mencari putri sulungnya itu, tetapi belum ada hasil yang memuaskan.Seperti hari ini misalnya, Lea kembali mencoba menghubungi saudara tirinya, tetapi panggilannya hanya berakhir di voicemail. Tidak ingin hanya diam menunggu, Lea juga menemui beberapa teman Emma yang ia ketahui, berharap ada seseorang yang bisa memberikan petunjuk tentang keberadaannya.Namun, jawaban yang ia dapatkan justru semakin membuatnya frustrasi.“Maaf, tapi aku tidak berhubungan dengannya selama sebulan terakhir.”Rata-rata teman-teman Emma memberikan jawaban yang kurang lebih sama. Tak ada yang tahu pasti di mana wanita itu berada.Lea menghela napas panjang saat keluar dari kafe tempat ia bertemu salah satu teman Emma. Bersamaan dengan itu, ponselnya tiba-tiba bergetar di tangannya.Sebuah pesan masuk dari Kayden Easton.[Datanglah ke Hotel Sterling, kamar 1803. Jonas
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

129. Bougenville

Asap tipis mengepul saat nyala lilin padam, menyisakan jejak samar di udara. Lea mengembuskan napas pelan, berusaha menenangkan debaran di dadanya yang masih belum mereda. Namun ketenangan itu hanya bertahan sesaat, karena kejutan hari ini belum sepenuhnya berakhir.Kayden tiba-tiba bangkit dari tempatnya, lalu berjalan menuju meja di dekat sofa. Kedua tangannya terulur mengambil beberapa kotak hadiah yang tersusun rapi di sana, kemudian membawanya ke hadapan Lea sekaligus.“Terima ini.”Lea menatap tumpukan kotak itu dengan ragu sebelum akhirnya menerimanya. Balutan kertas elegan yang membungkus kotak-kotak itu terasa sedikit berat di pangkuannya.“Hadiah lagi?” gumamnya seraya menatap Kayden. “Uhm, terima kasih.”Kayden tersenyum tipis, lalu meraih sesuatu dari meja. Bukan sebuah kotak kali ini, melainkan buket bunga.Lea mengerjap ketika pria itu menyerahkan buket itu padanya. Bukan mawar, bukan lili, tetapi bugenvil. Kelopaknya yang lembut berwarna keunguan, merah muda, dan putih
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya

130. Dinner

Langit senja mulai meredup ketika Lea kembali menerima panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya mengabaikannya.Entah apa yang merasuki dirinya hingga ia setuju untuk menginap bersama Kayden di hotel ini hingga besok. Mungkin karena perayaan ulang tahunnya yang masih menyisakan kehangatan di dadanya. Atau mungkin karena pria itu sendiri.Yang jelas, Lea tahu waktu mereka terbatas. Besok sore, Noah beserta kedua orang tuanya akan kembali dari Italia. Itu berarti hanya tersisa satu hari lagi sebelum kenyataan kembali menghantam mereka.“Siapa?” tanya Kayden begitu Lea meletakkan kembali ponselnya ke meja.Lea menggeleng pelan. “Nomor tidak dikenal,” sahutnya singkat.Ia sebenarnya ingin berpikir lebih jauh. Siapa yang terus menghubunginya? Tapi ia mengabaikan pertanyaan itu.“Sebaiknya ganti nomormu. Seseorang terus menghubungimu dan itu sangat mengganggu.”Lea menatap Kayden sejenak, lalu tersenyum tipis. “Mengganggu untukku atau men
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-05
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
1112131415
...
18
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status