Malam semakin larut ketika Noah tiba di kediaman keluarga Easton. Jemarinya mengetuk setir mobil dengan gelisah, sementara tatapannya terpaku pada rumah megah yang berdiri kokoh di depannya. Sejak meninggalkan apartemen Sophia, hanya satu hal yang berputar di kepalanya—brankas ayahnya.Setelah mengumpulkan semua keberanian, Noah akhirnya keluar dari mobil. Udara dingin menerpa kulitnya, tetapi ia tidak menghiraukannya. Langkahnya waspada saat ia menyusup masuk.Noah tahu betul di mana letak brankas ayahnya. Ruang kerja Robert Easton berada tepat di ujung koridor lantai satu. Biasanya, pria tua itu tidak mengizinkan siapa pun masuk tanpa seizinnya.Namun, malam ini Robert sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Itu artinya kesempatan emas bagi Noah untuk melancarkan aksinya.Ia menarik napas dalam-dalam. ‘Tenang, Noah. Kamu hanya perlu melakukannya dengan cepat dan bersih,’ batinnya.Meski demikian, tangannya tetap berkeringat. Ini bukan pertama kalinya ia melanggar aturan, tap
Udara dingin menusuk kulit wajahnya saat Lea melangkah ke depan pintu utama kediaman Easton. Salju yang melekat di mantel tebalnya mulai mencair, tetapi hawa tegang yang tiba-tiba merambat ke seluruh tubuhnya jauh lebih dingin daripada musim dingin itu sendiri.Telinganya menangkap suara ribut dari dalam rumah. Bukan sekadar percakapan biasa, tetapi suara bentakan marah yang bercampur dengan rintihan kesakitan. Darahnya berdesir, Lea lantas melangkah masuk dengan cepat.Seorang pelayan perempuan dengan wajah pucat nyaris menabraknya saat hendak keluar. Refleks, Lea meraih lengan wanita itu dan menghentikannya.“Apa yang terjadi?” tanyanya buru-buru.Pelayan itu menelan ludah, matanya penuh ketakutan. “Tuan Easton sedang memukuli Tuan Noah,” ucapnya lirih, seakan takut hanya dengan mengucapkannya.Lea merasakan tubuhnya menegang. “Apa?” gumamnya tak percaya.Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, ia langsung berlari menuju sumber suara. Langkahnya cepat, hampir terburu-buru, sementara su
Ketika Lea hendak masuk ke kamarnya, sebuah cengkeraman erat tiba-tiba menangkap lengannya. Lea sontak menoleh dan mendapati Kayden berdiri di belakangnya dengan wajah marah.“Ikut aku,” desis pria itu sebelum menyeret Lea masuk ke dalam kamarnya.Saat pintu tertutup rapat, Kayden menguncinya dengan satu gerakan tegas sebelum menghimpit Lea ke dinding. Kedua tangannya menangkup sisi wajah wanita itu, menahannya dengan erat hingga membuatnya terperangkap.Lea mengangkat pandangannya dengan wajah cemas. “A-Ada apa?” tanyanya terbata, suaranya lirih dan nyaris serak.Ekspresi Kayden masih tak bersahabat, matanya berkilat dengan kemarahan yang tertahan. “Berani membela pria itu di depanku sekarang, huh?” geramnya.Mata Lea sedikit melebar sementara alisnya bertaut sejenak sebelum akhirnya ia menyadari arah pembicaraan ini. Butuh beberapa detik baginya untuk menghubungkan semuanya. Lalu, semuanya menjadi jelas.Rupanya, ini tentang apa yang terjadi sebelumnya di lantai bawah. Tentang bagai
Setelah pengakuan cintanya malam itu, Lea pikir sikap Kayden mungkin akan berubah—termasuk hubungan mereka. Ia mengira hubungan mereka sudah tidak lagi membingungkan. Namun, kenyataan justru menamparnya begitu saja.Saat Lea memasuki ruangan Kayden pagi ini untuk menyerahkan beberapa berkas, pria itu tetap seperti biasanya. Tidak ada senyum hangat, tidak ada tatapan intens seperti yang Lea harapkan. Kayden hanya mengambil berkas itu dengan ekspresi datar, lalu menanyai Lea soal pekerjaan seolah tidak ada yang terjadi di antara mereka semalam.Lea berdeham pelan, mencoba mencari celah untuk setidaknya menggali reaksi Kayden. Namun pria itu malah fokus membaca dokumen di tangannya tanpa mengangkat kepala sedikit pun.“Kalau begitu, aku akan kembali ke mejaku,” kata Lea akhirnya, berusaha menekan rasa kecewa yang mulai merayapi hatinya.Kayden hanya mengangguk kecil.Lea mengepalkan jemarinya sebelum berbalik dan melangkah cepat keluar dari ruangan itu. Begitu sampai di mejanya, ia menja
Setelah mengetahui fakta tersebut, Lea merasa tidak karuan. Tubuhnya menegang sementara jemarinya gemetar saat ia menatap Kayden dengan sorot panik.“Ini benar-benar buruk,” gumamnya pelan.Kayden yang sejak tadi mengamati reaksinya hanya berdecak pelan seraya menggeleng.“Tenanglah, Lea Rose.” Suaranya tenang dan terkendali. “Jonas tidak akan pernah berani membocorkan apa pun yang diketahuinya tentang kita. Dia tahu konsekuensinya.”Lea menggeleng cepat, sorot matanya masih mencerminkan kecemasan yang begitu besar. “Tapi dia tahu, Kayden. Dia tahu!”Kayden menarik napas panjang sebelum menangkup wajah Lea dengan kedua tangannya, memaksa wanita itu menatap ke dalam matanya yang tajam. “Dan aku sudah bilang, dia tidak akan berani bicara,” ulangnya, kali ini lebih pelan seperti ingin memastikan wanita itu mengerti. “Aku yang mempekerjakannya. Aku juga yang bisa menghancurkannya.”Lea menelan ludah, tetapi kecemasannya belum sepenuhnya mereda. “Tapi bagaimana jika dia—”“Dia tidak akan.”
Setelah selesai makan malam, Lea merasa puas. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran ditemani hawa dingin musim salju yang menusuk. Napas mereka mengepul tipis di udara, menandakan betapa dinginnya malam ini.Lea mengeratkan mantel di tubuhnya, sementara Kayden terlihat tenang meskipun hanya mengenakan mantel tanpa syal atau sarung tangan.Saat mereka tiba di area parkir, Lea berbalik untuk menghadap pria itu. “Terima kasih untuk makan malamnya. Aku jadi merasa seperti sedang berkencan,” ucapnya sedikit tersipu.Kayden menyeringai kecil. “Aku tidak ingat kalau ini adalah kencan, tapi kalau itu membuatmu senang, anggap saja begitu.”Lea mendengus pelan, tetapi tidak membalas. Ia hanya menggelengkan kepala, lalu berbalik menuju mobilnya. Namun sebelum ia sempat membuka pintu, suara Kayden terdengar lagi.“Hati-hati di jalan, My Little Rose.”Lea terhenti. Ia menoleh pelan, menatap pria itu dengan sorot terkejut. Panggilan itu ... anehnya terasa begitu alami dari bibir Kayden.Namu
Lea tiba di kediaman Easton saat jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Tidak ada aktivitas lagi di rumah megah itu, hanya keheningan yang menyelimuti tiap lorong yang mengantarkannya hingga ke depan pintu kamarnya.Saat tangannya terangkat untuk meraih pegangan pintu, pikirannya tiba-tiba berubah. Ia menurunkan kembali tangannya dan berbalik. Langkahnya yang gontai membawanya menuju kamar Kayden.Namun alih-alih langsung mengetuk, Lea hanya diam menatap daun pintu dengan ragu. Jantungnya berdebar, seolah-olah ada sesuatu yang menahannya untuk mengetuk.“Sedang apa kamu di sini?”Suara berat itu menyergap telinganya. Lea tersentak dan refleks berbalik. Kayden berdiri di sana, tubuhnya tegak dengan tangan terlipat di dada.Lea tidak bereaksi apa pun selain memandangi pria itu dalam diam. Ia ingin berbicara, tetapi kata-kata seakan tertahan di tenggorokannya. Akhirnya, ia hanya menundukkan kepala dan melangkah mendekat sebelum menempelkan ujung kepalanya ke dada Kayden.“Aku lelah,”
Lea tidak pernah membayangkan bahwa setelah merasakan kehangatan sikap Kayden, kabar berikutnya yang ia terima justru berita duka.Gregory Lancaster, pria tua yang selama ini dikenal sebagai mitra bisnis keluarga Easton, meninggal dunia karena serangan jantung tadi malam. Hari ini, ia akan dimakamkan.“Apa aku benar-benar harus ikut?” tanya Lea ragu.“Ya,” sahut Kayden singkat.Lea menundukkan kepala. “Tapi, aku tidak begitu mengenalnya.”“Kamu mengenalnya lebih dari cukup,” potong Kayden. “Bukankah Tuan Lancaster menghormatimu selama ini? Sikapnya berbeda dengan kebanyakan orang di sekitarmu.”Lea terdiam. Kata-kata Kayden benar. Gregory Lancaster adalah satu dari sedikit orang yang tidak pernah memandangnya dengan tatapan merendahkan. Bagaimana mungkin ia tidak mengantarkan kepergian pria itu ke tempat peristirahatan terakhirnya?Lea menghela napas pelan. “Baiklah,” ucapnya akhirnya.***Salju tipis turun perlahan, butirannya berjatuhan di atas tanah pemakaman yang sudah memutih. Ud
[Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber
Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal
Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li
Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc
Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat
Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak
Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An