Malam harinya, Lea tidak langsung pulang ke kediaman Easton setelah selesai bekerja. Ia memutuskan untuk mampir ke sebuah bar demi memenuhi undangan pesta ulang tahun Annika yang diadakan di sana. Meskipun tidak kuat minum, Lea tetap datang untuk menghargai usaha Annika yang telah bersusah payah mengundangnya.Bar pilihan Annika memiliki suasana nyaman dengan cahaya temaram yang hangat. Sorot neon merah dan ungu menambah kesan intim, sementara aroma alkohol bercampur parfum mahal samar tercium di udara. Gelak tawa, dentingan gelas, dan dentuman musik pelan menjadi latar yang kontras dengan batin Lea yang terasa hampa.Dari tempat duduknya, Lea tersenyum tipis saat melihat Annika yang tengah asyik berdansa dengan seorang pria di lantai dansa. Gerakan mereka selaras dengan alunan musik, dan Annika tampak menikmati setiap momennya.“Astaga, dia tampak menikmati waktunya,” gumam Lea seraya tersenyum.Tak lama kemudian, Annika memberikan isyarat pada Lea agar segera bergabung dengannya. Na
Lea segera berbalik dan mendapati Vincent Moreno berdiri dengan wajah serius. Suara yang sebelumnya menggema ternyata berasal dari pria itu. Dengan langkah pasti, Vincent menghampiri Lea yang tampak terkejut melihat kehadirannya di bar.Jared menggeram pelan saat Vincent berhenti di depannya dan mendorong bahunya dengan kuat hingga ia mundur ke belakang.“Kurang ajar! Berani sekali kamu mendorongku!” ucap Jared tak terima.Vincent hanya tersenyum miring, wajahnya penuh cemooh saat menatap pria itu. “Tidak ada alasan bagiku untuk takut padamu,” sahutnya santai sebelum menoleh dan memeriksa Lea. “Kamu baik-baik saja, Lea? Apa bajingan itu sempat menyentuhmu tadi?”Lea mengangguk pelan. “Aku baik-baik saja,” sahutnya.Melihat reaksi Vincent, Jared semakin tidak terima. Pria itu mengepalkan tangan, bersiap melayangkan pukulan namun Annika buru-buru menahannya.“Lepaskan!” teriak Jared geram, tetapi Annika tidak menggubrisnya.Dengan sekuat tenaga, Annika menarik Jared menjauh sebelum akhi
Pikiran Lea benar-benar kacau sejak ia tak sengaja melihat sosok yang mirip dengan ibunya hari itu. Ia terus bertanya-tanya apakah semua itu hanya ilusi atau apakah wanita itu benar-benar ibunya.Tapi bagaimana mungkin? Seseorang yang telah meninggal tidak mungkin kembali hidup dan menjalani kehidupan normal seperti manusia biasa.Atau … mungkinkah ada orang lain di dunia ini yang memiliki wajah yang sama persis?“Tidak masuk akal. Tidak mungkin,” gumam Lea.Lea mengusap wajahnya dengan kasar, berharap pikirannya bisa tenang tapi bayangan wanita itu terus menghantuinya. “Tapi tidak. Itu tidak bisa terjadi. Ibuku sudah meninggal. Aku melihat pemakamannya dengan mata kepalaku sendiri. Aku tahu itu nyata.”Namun, mengapa ada keraguan yang menyelinap dalam benaknya?“Mungkin aku hanya terlalu lelah. Mungkin pikiranku sedang mempermainkanku.”Tapi jika hanya sekadar ilusi, mengapa sensasi itu terasa begitu nyata? Jantungnya bahkan berdetak begitu kencang saat melihat wanita itu.Lea mengg
Setelah mengemudi dengan kecepatan tinggi, akhirnya mobil yang Lea kendarai memasuki basement Easton Industries. Lea melangkah cepat menuju lobi kantor, wanita itu nyaris berlari setelah keluar dari mobil. Napasnya masih sedikit berantakan saat ia melihat Annika sudah berdiri tak jauh darinya dengan wajah yang begitu cemas.Begitu melihatnya, Annika segera menghampiri dengan ekspresi yang jelas tidak nyaman.“Kenapa kamu bisa datang terlambat? Para eksekutif sudah menunggu sejak tadi. Bahkan CEO kita juga sudah datang,” bisiknya dengan nada mendesak.Lea mengusap dahinya sekilas seraya mencoba mengatur napas. “Ada sedikit masalah tadi,” jawabnya cepat tanpa berniat untuk menjelaskan lebih jauh. Ia tahu ini bukan waktu yang tepat untuk memberi penjelasan panjang lebar.Tanpa membuang waktu, Lea buru-buru melangkah menuju ruang tunggu eksekutif di mana beberapa petinggi perusahaan sudah duduk di sana. Begitu memasuki ruangan, ia segera membungkukkan badan.“Saya minta maaf karena membuat
Villa CEO terletak di sisi paling eksklusif dari resort ini, jauh dari keramaian dan menawarkan pemandangan yang indah. Lea mengikuti langkah Kayden masuk ke dalam villa dengan perasaan gelisah menyelimuti dirinya sejak tadi.Begitu pintu tertutup, keheningan seketika memenuhi ruangan itu. Villa itu terlalu besar, terlalu mewah, tetapi saat ini yang lebih mengganggu Lea adalah kenyataan bahwa ia dan Kayden harus berbagi tempat.Lea menatap pria itu dengan mata tajam penuh kecurigaan. “Apakah ini kebetulan, atau … sengaja kamu atur?”Kayden yang baru saja melepas jasnya dan meletakkannya di sandaran sofa, menoleh dengan ekspresi datar. Ia mengangkat satu alis. Namun, keheningan pria itu cukup menjadi jawaban.Lea mendesah cemas, tangannya terangkat untuk meremas pelipisnya. “Demi Tuhan, Kayden. Tidakkah kamu terlalu mengambil risiko karena melakukan ini?” ujarnya frustrasi.Kayden masih tetap diam.Lea semakin gelisah. “Tidakkah kamu melihat reaksi para eksekutif karena kita harus berb
Restoran resort dipenuhi dengan suara percakapan yang pelan dan dentingan peralatan makan. Meja-meja panjang telah tertata rapi, diisi oleh para eksekutif.Lea duduk bersama Annika, tetapi suasana yang semula santai berubah saat seseorang mengetukkan sendok ke gelas dan menarik perhatian seluruh ruangan.Kayden Easton berdiri di meja utama. Begitu ruangan hening, ia berbicara dengan tegas.“Terima kasih atas kerja keras kalian dalam proyek ini. Perjalanan ini bukan hanya untuk menyelesaikan agenda perusahaan, tetapi juga memperkuat kerja sama kita. Manfaatkan waktu ini dengan baik.”Setelah jeda singkat, ia melanjutkan, “Nikmati makan siang kalian. Kita lanjutkan dengan meeting & presentasi bisnis setelah ini.”Kayden mengakhiri sambutannya tanpa senyum, tetapi auranya cukup kuat untuk meninggalkan kesan. Para eksekutif mengangguk hormat sebelum suasana mencair kembali.Lea mengembuskan napas yang tak sadar ia tahan.“CEO kita benar-benar punya cara untuk menguasai ruangan, ya?” bisik
Keesokan paginya, setelah sarapan bersama.Ruang konferensi dipenuhi suara percakapan dan tawa ringan. Hari ini, jumlah orang yang hadir jauh lebih banyak dari sebelumnya. Para eksekutif dari kantor pusat kini bergabung dengan perwakilan dari anak perusahaan.Lea berdiri di dekat Annika, mata hazelnya memperhatikan sekeliling. Beberapa wajah tampak familiar, tetapi banyak juga yang baru pertama kali ia lihat. Suasana formal yang biasa terasa lebih santai hari ini, mungkin karena semua orang tahu bahwa agenda pagi ini bukan rapat atau presentasi, melainkan perjalanan ke resor ski.“Wow, aku tidak menyangka akan sebanyak ini,” gumam Annika, matanya berbinar melihat kerumunan.Lea mengangguk kecil. “Sepertinya semua orang ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk sedikit bersantai.”Saat semua orang sudah berkumpul, Jonas Beckett mengambil alih untuk memberikan arahan singkat.“Baiklah, semuanya. Kita akan berangkat dalam sepuluh menit. Untuk yang belum terbiasa bermain ski, jangan khawati
Lea menempelkan telinganya ke pintu bilik, mendengarkan dengan saksama. Saat memastikan tidak ada suara langkah kaki mendekat, ia menarik napas lega sebelum menoleh ke Kayden yang masih bersandar santai di dinding.“Sekarang,” bisiknya cepat.Tanpa membuang waktu, ia meraih pergelangan tangan pria itu dan menariknya keluar dari ruang ganti.Kayden mengangkat alis, jelas terhibur dengan kepanikan Lea tetapi ia tetap membiarkan dirinya diseret keluar.Mereka baru saja melangkah keluar dari bilik ketika suara klik terdengar dari sebelah—bunyi kunci yang diputar dari ruang ganti Annika.“Sial!”Lea merasa panik. Tanpa berpikir panjang, ia segera berlari ke depan pintu ruang ganti Annika, berusaha menghalangi pandangan langsung ke tempat Kayden berada.Kayden yang awalnya berjalan santai kini menghela napas, lalu melangkah mundur ke balik loker.Pintu bilik Annika terbuka tepat saat Lea tiba di depannya.Wanita itu mengerjap kaget saat menatap Lea yang berdiri tepat di hadapannya dengan wa
[Jika kamu membaca pesan ini, mungkin aku sudah tidak ada di New York. Untuk berita yang meledak sejak tadi malam, tidak ada yang bisa kukatakan padamu selain maaf. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu, tapi aku tidak punya pilihan. Aku perlu waktu untuk menenangkan diri sampai semua ini reda. Aku janji akan kembali secepatnya dan kita akan bertemu lagi. Aku mencintaimu.]Kayden membaca pesan itu sekali lagi. Wajahnya terasa panas saat mencoba menahan emosi yang meluap-luap di dadanya.[Aku mencintaimu.]Matanya terpaku pada kalimat itu.“Sialan,” umpat Kayden. Jika itu benar, kenapa Lea pergi tanpa mengatakan apa-apa lebih dulu? Kenapa hanya meninggalkan pesan singkat seperti ini?Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu mengacak rambutnya dengan frustrasi. Sejak tadi pagi, ia sudah berusaha menghubungi Lea berkali-kali, tapi tidak ada satu pun panggilannya yang dijawab. Ponsel wanita itu bahkan kini sudah tidak aktif.“Apa maksudnya dia ‘ingin menenangkan diri’?” geramnya. Ber
Salju tipis masih turun saat Lea melangkah keluar dari pintu kedatangan bandara kecil itu. Ia merapatkan mantel dan menarik napas dalam-dalam, mencoba menghilangkan gumpalan emosi yang menyesakkan dadanya. Kota ini terasa asing, jauh dari hiruk-pikuk yang biasa ia hadapi.Seorang pramugari yang baru saja turun dari pesawat yang sama memberinya senyum singkat. “Hati-hati di luar, Nona. Cuacanya sedang tidak bersahabat.”Lea hanya mengangguk kecil. “Terima kasih.”Ia melangkah ke area pengambilan bagasi, menunggu koper kecilnya muncul di conveyor belt. Sambil menunggu, ia mengeluarkan ponsel dari saku mantel dan segera menghubungi Astrid.“Aku sudah sampai,” ucapnya begitu panggilan tersambung.“Bagus,” suara Astrid terdengar lega. “Mobilnya ada di tempat parkir khusus dekat pintu keluar. Kuncinya bisa kamu ambil dari penjaga parkir.”Lea menatap sekitar, memperhatikan suasana bandara yang jauh lebih sepi dibandingkan dengan bandara besar di kota sebelumnya. Tak banyak orang yang berlal
Setelah melalui keseruan permainan truth or dare, Kayden tiba-tiba mengajak Lea untuk pulang. Sejak tadi, ia bukannya tidak menyadari gelagat Jonas yang tampak gelisah. Untuk itu, ia mengajak wanitanya pulang lebih awal dan memberikan waktu bagi Jonas untuk berduaan dengan Annika. “Hati-hati di jalan, Lea,” ucap Annika setelah bercipika-cipiki. “Terima kasih, Sir,” lanjutnya, menatap Kayden dengan sopan. Lea mengangguk seraya tersenyum manis. “Terima kasih, Anni,” sahutnya, sementara Kayden hanya bergumam sebagai jawaban. Kayden melingkarkan tangannya di pinggang Lea ketika mereka berjalan menuju lift. Begitu memasuki ruang sempit itu, Lea berkata, “Padahal sedang seru-serunya, tapi kamu malah mengajakku pulang dan bilang ada sesuatu yang mendesak. Memangnya hal apa?” Kayden tersenyum tipis. “Tidakkah kamu melihat gelagat Jonas yang terlihat gelisah, Little Rose?” Lea mengangguk, ia pun menyadari hal itu. “Lalu, apa hubungannya dengan urusan mendesak yang kamu bilang?” tanyanya b
Lea menegang. Pandangannya melesat ke arah Annika dan Jonas yang kini menatapnya dengan ekspresi berbeda—terkejut, penasaran, dan sedikit tidak percaya.Lea menggigit bibir bawahnya. Menolak berarti mempermalukan diri sendiri di depan semua orang. Namun, menerimanya? Itu sama saja dengan memberi Kayden kemenangan mutlak.Annika menahan napas. Di sampingnya, Jonas menggenggam gelas anggurnya lebih erat.Lea perlahan mengangkat dagunya, berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Dengan suara hampir bergetar, ia berkata, “Kamu yakin ingin aku melakukannya di depan mereka?”Senyum Kayden melebar. “Bukankah itu bagian dari permainannya?”Lea menelan ludah. Ia bisa merasakan jantungnya berdebar begitu kencang hingga membuatnya mual. Tapi ia tidak ingin menunjukkan kelemahannya.Maka, dengan semua keberanian yang tersisa, ia mendekat dengan perlahan. Tangannya bertumpu pada meja untuk menstabilkan dirinya.Lea menghirup napas dalam, lalu dengan gerakan cepat, ia mengecup pipi Kayden. Hanya seki
Dua hari kemudian.Lea bersiap untuk pergi ke kediaman Annika guna memenuhi undangan wanita itu. Dengan pakaian rapi yang dilapisi mantel serta riasan sederhana, ia tampak cantik alami. Sebagai sentuhan akhir, Lea menyemprotkan parfum di beberapa titik tubuhnya.“Sempurna,” gumamnya seraya tersenyum puas. Sekali lagi, ia memandangi pantulan dirinya di depan cermin sebelum akhirnya beranjak pergi.Saat Lea melangkah keluar dan membuka pintu, Kayden sudah berdiri di sana dengan senyum hangat menyambutnya. Tanpa ragu, Lea langsung menghamburkan diri ke dalam pelukan Kayden, meresapi kehangatan pria itu sejenak sebelum mendorong tubuhnya perlahan. Tatapannya mengunci pada mata Kayden sementara tangannya masih melingkar erat di leher pria itu.“Kamu sangat tampan malam ini, Tuan Muda Easton,” gumamnya penuh kagum.Kayden tetap mempertahankan senyum tipis di bibirnya sebelum mengecup lembut bibir Lea. Ciumannya lalu turun perlahan ke leher, membuat Lea tersentak halus.“Kamu sangat wangi, Li
Lea berjalan cepat menuju kamar mandi, berusaha mengabaikan jantungnya yang masih berdetak kencang setelah semua godaan Kayden di meja makan. Ia hanya ingin menenangkan diri, membiarkan air hangat membasuh kepalanya yang penuh dengan suara pria itu.Namun, begitu ia menutup pintu dan berbalik, tubuhnya langsung membeku.Kayden berdiri di ambang pintu dengan satu tangan bertumpu santai di kusen.“K-Kayden?!” Lea hendak meraih gagang pintu, berniat mendorong pria itu keluar. “Keluar! Aku mau mandi!”Alih-alih menurut, Kayden justru melangkah masuk dengan santai lalu menutup pintu di belakangnya dengan bunyi klik halus yang membuat tubuh Lea mengeras seketika.“K-Kenapa kamu ikut masuk?!” Ia mundur selangkah, matanya membulat waspada.Kayden tidak menjawab, hanya melucuti kancing piyamanya dan melepaskannya dengan gerakan sengaja.Lea semakin panik. “Jangan bercanda! Aku benar-benar mau mandi, Kayden!”“Ya, aku tahu,” sahut pria itu ringan. “Aku hanya menemanimu.”Lea menatapnya tak perc
Lea ragu untuk memanggil pria itu seperti yang diinginkannya. Namun, Kayden jelas bersungguh-sungguh tidak akan melepaskannya sampai kata itu keluar dari bibirnya. Meyakinkan diri, Lea akhirnya melakukannya.“Sayang, lepaskan aku,” ucapnya dengan suara rendah.Kayden tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan pelukannya dari pinggang Lea. Dengan santai, ia menarik kursi di sebelah wanita itu dan duduk.Lea buru-buru memosisikan diri di kursinya, namun pipinya terasa panas. Jantungnya masih berdegup cepat, dan detik berikutnya, ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.‘Rasanya ingin menghilang saja!’ teriaknya dalam hati.“Hey, ada apa? Apa kamu malu?” bisik Kayden dengan nada menggoda. Ia meraih pergelangan tangan Lea, menariknya perlahan agar wanita itu menurunkan tangannya.Lea menggigit bibirnya, perasaan gelisah dan malu berkecamuk dalam dirinya.‘Sumpah demi semesta! Aku tidak sanggup menatapnya setelah ini!’ batin Lea berteriak.Kayden terkekeh pelan melihat
Lea bahkan belum sempat bernapas lega ketika Kayden tiba-tiba menutup jarak di antara mereka.Lea membeku saat Kayden mendekat, napas pria itu menghangatkan kulitnya sebelum akhirnya bibirnya menyentuh miliknya. Lembut, namun penuh tuntutan. Seolah ingin menegaskan kepemilikannya dengan cara yang tak terbantahkan.Jari-jari Lea mencengkeram lengan Kayden, berniat mendorongnya, tetapi kekuatan dalam dirinya menguap begitu saja. Alih-alih melawan, tubuhnya justru melemas dalam dekapan pria itu.Kayden menarik wajahnya sedikit, lalu menatap Lea dengan hangat. “Masih meragukanku?” bisiknya.Lea menelan ludah, hatinya berdebar tak karuan. “Kayden, aku—”“Jangan katakan hal yang akan kamu sesali.” Kayden menempelkan dahinya ke dahi Lea, napasnya berhembus hangat di antara mereka. “Aku mencintaimu, Lea Rose. Sejak awal.”Mata Lea membesar. “Apa?” tanyanya terkejut.Kayden tersenyum samar, tetapi ada ketegasan dalam sorot matanya. “Sejak pertama kali melihatmu, aku tahu aku menginginkanmu. Ak
Malam harinya, saat Lea baru saja merebahkan tubuhnya di atas ranjang, suara dering pada ponselnya menarik perhatiannya. Dengan malas, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Jantungnya langsung berdebar saat melihat nama Annika terpampang di layar. Wanita itu pasti ingin meminta penjelasan soal kejadian di Home & Haven tadi siang. Dengan penuh pertimbangan, Lea akhirnya menekan tombol hijau, mengangkat panggilan itu.“Lea, ayo jelaskan apa yang terjadi antara kamu dengan CEO kita?” tanya Annika antusias, suaranya terdengar penuh rasa ingin tahu.Lea menggigit bibirnya, sedikit ragu, tetapi pada akhirnya ia terpaksa mengakui hubungan spesialnya dengan Kayden. Di seberang telepon, Annika langsung berteriak histeris sebelum tertawa.“Ini gila! Aku sama sekali tidak menduga kalau kamu akan berpacaran dengan CEO kita! Kayden Easton itu … wow, Lea! Dia tampan, kharismatik, dan … ah, aku iri padamu!”Lea mengembuskan napas panjang. “Tapi, aku ingin kamu merahasiakan soal ini, An