All Chapters of Menjadi Ibu Pengganti untuk Anak CEO: Chapter 221 - Chapter 230

281 Chapters

221. Kepergok Noah

Jasmine menatap Juan dengan perasaan campur aduk. Sudah lama ia tidak melihat pria itu, dan kini ia berdiri di depan pintu rumah ini, rumah yang bukan benar-benar miliknya, dalam kehidupan yang tidak benar-benar ia inginkan.“Juan?” Jasmine mengerjap, suaranya terdengar lebih seperti bisikan.Juan tersenyum miring, berjalan mendekat dengan langkah santai. “Kau terlihat terkejut.”“Tentu saja,” Jasmine bangkit dari kursinya, tatapannya penuh pertanyaan. “Apa yang kau lakukan di sini?”Juan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Aku kebetulan ada urusan di kota ini dan berpikir untuk mampir. Kudengar banyak hal terjadi padamu, Jas.”Jasmine menggigit bibir bawahnya, merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu. “Aku baik-baik saja.”Juan mengangkat alisnya. “Benarkah?” Matanya menelisik ke arah sekeliling ruangan, seolah ingin menilai sendiri kebenaran kata-kata Jasmine. “Kau tidak terlihat seperti seseorang yang baik-baik saja.”Jasmine mengepalkan tangannya di sisi tubuhnya,
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

222. Awal Perpanjangan Kontrak

Noah menarik tubuh Jasmine mendekat, bibirnya menekan lembut tetapi penuh emosi di atas bibir Jasmine.Jasmine ingin menolak, tetapi tubuhnya membeku, tangannya masih terkunci dalam genggaman kuat pria itu. Jantungnya berdegup kencang, bukan hanya karena kejutan, tetapi juga karena kebingungan yang melanda hatinya.Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Noah akhirnya melepaskan genggamannya dan menatapnya dalam-dalam. "Jangan biarkan dia datang lagi," suaranya dalam, nyaris seperti bisikan yang berat.Jasmine menggigit bibirnya, menahan ribuan kata yang ingin ia ucapkan. Namun, sebelum ia bisa menjawab, Noah sudah melangkah pergi, meninggalkannya dalam kekacauan emosi yang semakin dalam.***Hari-hari berlalu dengan cepat. Kehamilan Jasmine memasuki bulan ketujuh, perutnya semakin membesar, tetapi pikirannya justru semakin kacau.Setiap langkahnya terasa berat, bukan hanya karena kehamilannya tetapi juga karena ketegangan yang menggantung di antara dirinya, Noah, dan Zo
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

    223. Perpisahan Menyakitkan, Berpisah dengan Buah HAti 

Satu minggu telah berlalu sejak Jasmine melahirkan, tetapi dia masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Tubuhnya masih terasa nyeri, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa dia harus menyerahkan anaknya sendiri kepada Zora.Dia tahu sejak awal bahwa ini akan terjadi, tetapi tidak ada yang bisa mempersiapkan hati seorang ibu untuk perpisahan semacam ini. Hatinya hancur berkeping-keping saat melihat Dursilla menggendong bayi itu dengan penuh kebanggaan, tidak menyadari bahwa bayi itu bukanlah anak Zora.“Anak ini benar-benar mukjizat,” ucap Dursilla dengan suara bahagia. “Aku tahu Zora akan berhasil memberikan keturunan untuk keluarga Dirgantara.”Jasmine mengepalkan selimutnya erat-erat. Dia ingin mengatakan sesuatu, ingin berteriak bahwa itu adalah darah dagingnya sendiri, tetapi dia hanya bisa menahan air matanya. Ini bagian dari kesepakatan. Dia sudah menandatangani kontrak ini sejak awal.“Kau lihat, Jasmine?” Zora menyeringai sambil menepuk lengan Jasmine dengan
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

224. Pesta yang Penuh Kepalsuan

Jasmine duduk di tepi ranjang rumah sakit, menatap keluar jendela dengan pandangan kosong. Sudah beberapa hari sejak ia melahirkan, dan dalam beberapa jam lagi, ia akan meninggalkan tempat ini. Seharusnya ini adalah momen di mana seorang ibu membawa pulang bayinya, tapi bagi Jasmine, ini adalah momen di mana ia harus benar-benar melepaskan. Pintu kamar terbuka, dan seorang perawat masuk. “Nona Jasmine, ini dokumen kepulangan Anda. Anda sudah diperbolehkan pulang hari ini.” Jasmine mengambil dokumen itu dengan tangan gemetar. Ia mengangguk, berusaha tersenyum, meskipun hatinya terasa remuk. “Terima kasih.” Begitu perawat keluar, pintu kembali terbuka. Kali ini, Zora masuk dengan ekspresi puas. “Waktunya pergi, Jasmine.” Jasmine menarik napas panjang. “Aku tahu.” Zora tersenyum sinis. “Jangan terlalu sedih. Aku akan menjaga bayi
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

225. Kembali Tanpa Pilihan  

Jasmine menggenggam erat mantel di tubuhnya, menatap kosong ke arah rumah besar keluarga Dirgantara yang masih dipenuhi tamu-tamu pesta. Dari luar, suara tawa dan musik masih terdengar. Mereka merayakan sesuatu yang menurut dunia adalah kebahagiaan, tetapi bagi Jasmine, itu adalah awal dari penderitaannya. Tubuhnya masih lemah pascapersalinan, namun ia tidak punya pilihan lain. Udara dingin menusuk kulitnya, seolah ingin mengingatkannya bahwa dia sekarang sendirian. Tidak ada lagi tempat yang bisa ia sebut rumah. Tidak ada lagi keluarga yang bisa ia andalkan. Satu-satunya yang ia miliki hanyalah kesepakatan yang mengikatnya dalam kebisuan. Pikirannya masih melayang ketika tiba-tiba sebuah suara memecah keheningan. "Jasmine?" Jasmine menoleh dan melihat Juan berdiri beberapa meter darinya. Pria itu menatapnya dengan alis berkerut, ekspresi penuh keheranan bercampur kekhawatiran. &
last updateLast Updated : 2025-03-08
Read more

226. Kembali ke Sangkar Emas  

Jasmine berdiri di depan gerbang megah rumah keluarga Dirgantara, hatinya berdebar hebat. Sudah beberapa minggu sejak ia terakhir kali berada di tempat ini, dan kini ia kembali bukan sebagai bagian dari keluarga, tetapi sebagai seseorang yang dibutuhkan hanya untuk menyusui anaknya. Atau lebih tepatnya, anak yang sekarang diakui oleh dunia sebagai milik Zora. Tangannya menggenggam erat tali tas kecilnya, mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu, kembali ke rumah ini berarti kembali menghadapi Zora, Dursilla, dan terutama, Noah.Gerbang besar terbuka secara otomatis, seolah menyambutnya. Namun, Jasmine tahu betul bahwa tidak ada sambutan hangat yang menunggunya di dalam. Begitu langkah kakinya memasuki pekarangan, seorang pelayan menyambutnya dengan kaku. "Silakan masuk, Nona Jasmine. Nyonya Zora sudah menunggu di dalam." Jasmine mengangguk pelan dan mengikuti pelayan itu. Setiap langkah terasa berat, seakan dirinya mel
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

227. Api dalam Sekam  

Jasmine duduk di kursi di dalam kamar bayi, menggendong anaknya yang sedang menyusu dengan tenang. Setiap detik yang berlalu terasa berharga, karena dia tahu, momen-momen seperti ini akan selalu direnggut darinya begitu sesi menyusui selesai. Seharusnya, dialah yang merawat bayi ini, tetapi dunia tidak mengizinkannya. Pintu kamar terbuka tiba-tiba, dan suara langkah kaki cepat menggema di dalam ruangan. "Apa-apaan ini?!" Suara Dursilla terdengar tajam, memotong keheningan. Jasmine tersentak, hampir saja refleks menarik bayinya dari pelukannya. Ia menoleh dan melihat wanita tua itu berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh kemarahan. Dursilla berjalan mendekat, matanya menatap tajam ke arah Jasmine dan bayi yang sedang menyusu di pelukannya. “Kenapa dia yang menyusui bayi ini?” Dursilla melontarkan pertanyaan dengan nada dingin, matanya menyipit penuh kecurigaan. Zora
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

228. Kebohongan yang Mulai Retak

Malam di rumah keluarga Dirgantara terasa sunyi, tetapi tidak bagi Jasmine. Ia berjalan mondar-mandir di kamar yang diberikan kepadanya, pikirannya penuh dengan segala hal yang telah terjadi. Dursilla telah mencurigai sesuatu, meskipun Zora berhasil meyakinkannya untuk sementara. Namun, Jasmine tahu bahwa kebohongan ini tidak akan bertahan selamanya. Ketukan di pintu mengalihkan perhatiannya. Dengan ragu, Jasmine membuka pintu dan mendapati seorang pelayan berdiri di sana dengan ekspresi tegang. “Nona Jasmine, bayi sedang rewel. Nyonya Zora meminta Anda untuk datang segera.”Jasmine menahan napas, lalu mengangguk. “Baik, aku akan ke sana.” Hatinya mencelos setiap kali ia harus menghadapi anaknya sendiri tetapi dalam status yang begitu menyakitkan. Ia tahu bahwa bayi itu merindukannya, dan itu adalah satu-satunya alasan mengapa ia terus bertahan di tempat ini.&nb
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

229. Retakan di Balik Kebohongan

Dursilla duduk di ruang tamu dengan ekspresi penuh pikir. Tangannya memegang secangkir teh yang kini sudah mendingin. Pikirannya masih tertuju pada kejadian pagi tadi saat melihat bagaimana bayi itu begitu nyaman dalam pelukan Jasmine, sementara Zora terlihat canggung. Ada sesuatu yang janggal. Nalurinya sebagai seorang wanita yang telah melalui banyak hal dalam hidupnya mengatakan bahwa ada kebohongan besar yang sedang dimainkan di dalam rumah ini. Dursilla meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar di atas meja, menarik perhatian Zora yang sedang duduk di seberangnya. "Aku ingin kau jujur padaku, Zora." Zora menegang, jari-jarinya yang menggenggam sendok sedikit gemetar. "Tentu saja, Oma. Tentang apa?" Dursilla menyipitkan mata. "Tentang bayi ini. Aku ingin jawaban jujur darimu." Ruangan mendadak terasa sunyi. Zora bisa merasakan detak jantungnya meningkat tajam. Ia tahu bahwa
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more

230. Kebenaran yang Mengerikan  

Noah menatap oma Dursilla dengan napas tertahan. Matanya menyapu wajah neneknya yang penuh kewibawaan, tetapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang menunjukkan bahwa wanita itu tidak akan berhenti sampai ia mendapatkan jawaban yang diinginkannya. "Noah, aku bertanya sekali lagi," suara Dursilla terdengar lebih tajam. "Apakah ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku tentang bayi ini?" Noah menelan ludahnya, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Ia tahu Dursilla bukan orang yang mudah ditipu. Wanita itu memiliki insting yang tajam, dan begitu ia mulai curiga, tidak ada yang bisa menghentikannya sampai ia menemukan kebenaran. "Oma," suara Noah terdengar serak, "kenapa tiba-tiba berpikir ada yang kami sembunyikan?" Dursilla mengangkat dagunya, menatap cucunya dengan tajam. "Karena aku tidak bodoh, Noah. Aku melihat bagaimana bayi itu lebih nyaman dengan Jasmine daripada dengan Zora. Aku melihat bagaim
last updateLast Updated : 2025-03-11
Read more
PREV
1
...
2122232425
...
29
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status