All Chapters of Menjadi Ibu Pengganti untuk Anak CEO: Chapter 241 - Chapter 250

281 Chapters

241 . Setelah Malam Itu: Cinta atau Masalah Baru?

“Noah…” Jasmine akhirnya bersuara, mengumpulkan keberaniannya. “Apa yang kita lakukan tadi malam… Itu akan membuat semuanya lebih sulit.” Noah menatapnya, mengernyit sedikit. “Kenapa kau berkata seperti itu?” Jasmine menghela napas, lalu bangkit dari ranjang, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. “Karena di luar sana masih ada Zora, ada Dursilla, dan ada ancaman besar yang sedang menunggu kita.” Noah ikut bangkit, duduk di tepi ranjang, tatapannya tetap terkunci pada Jasmine. “Aku tahu semua itu, tapi aku tidak peduli. Aku hanya ingin bersamamu.” Jasmine tersenyum pahit. “Kita tidak bisa hidup dalam gelembung ini selamanya. Kau tahu apa yang akan terjadi jika Dursilla mengetahui hubungan kita yang sebenarnya?” Noah mengepalkan tangannya. “Dursilla tidak berhak menentukan hidupku. Dan ak
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

242. Perangkap yang Semakin Menjerat

Jasmine duduk di tepi ranjangnya, masih merasakan kehangatan yang tersisa dari kebersamaannya dengan Noah semalam. Namun, semakin lama ia membiarkan pikirannya mengembara, semakin jelas bahwa kebahagiaan itu hanya sementara. Dunia luar tidak akan membiarkan mereka hidup dengan tenang.Suara ketukan di pintu membuyarkan lamunannya. Noah muncul dengan ekspresi serius, langkahnya tegas mendekati Jasmine. “Kita harus bicara.”Jasmine langsung menangkap nada mendesak dalam suaranya. “Ada apa?”Noah duduk di sampingnya, wajahnya lebih tegang dari biasanya. “Aku mendengar sesuatu dari Dursilla dan Roberto tadi malam. Dia ingin mengambil alih seluruh perusahaan. Ini bukan sekadar masalah saham, Jasmine. Ini lebih dalam dari yang kita kira.”Jasmine merasa dadanya menegang. “Apa maksudmu?”Noah meraih tangannya, menggenggamnya erat. “Aku yakin Roberto punya rencana lain. Dia ingin merebut segalanya, termasuk posisi keluarga Dirgantara. Dan aku curiga dia punya sesuatu yang bisa menjatuhkan kit
last updateLast Updated : 2025-03-16
Read more

243. Bayang-Bayang Masa Lalu yang Kembali

Malam mulai merayap ketika Jasmine berdiri di balkon kamarnya, menatap langit yang gelap dengan tatapan kosong. Hatinya masih bergejolak sejak mendengar pengakuan Sudrajat tentang ancaman yang diterima ayahnya sebelum kecelakaan tragis itu terjadi. Kini, semua yang ia percayai selama ini perlahan runtuh, meninggalkan rasa sakit yang begitu dalam. Suara pintu yang terbuka membuat Jasmine menoleh. Noah berdiri di sana dengan ekspresi khawatir. Tanpa berkata-kata, ia berjalan mendekat dan menyandarkan tangannya di pagar balkon, berdiri di samping Jasmine. “Kau belum tidur?” tanya Noah dengan suara rendah. Jasmine menggeleng, menggigit bibirnya. “Aku tidak bisa. Terlalu banyak yang ada di pikiranku.” Noah menatapnya lama sebelum berkata, “Aku tahu ini berat untukmu, tapi kita sudah semakin dekat dengan kebenaran. Kita hanya perlu satu langkah lagi.” 
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

244. Temukan dia sebelum Jasmine dan Noah berhasil menemukannya!

"Kenapa wajahmu terlihat begitu pucat?" suara Noah memecah keheningan.Pagi yang dingin menyelimuti kota ketika Jasmine duduk di ruang kerja Noah, menatap tumpukan dokumen di hadapannya. Matanya terasa berat setelah semalaman membaca ulang surat ayahnya yang ditemukan oleh Sudrajat. Surat itu menjadi bukti nyata bahwa kematian ayahnya bukan kecelakaan biasa.Noah masuk dengan dua cangkir kopi di tangannya. “Kau bahkan belum tidur?” tanyanya, menyodorkan salah satu cangkir kepada Jasmine.Jasmine menggeleng, menghela napas panjang. “Aku tidak bisa. Aku terus memikirkan bagaimana kita bisa menemukan Herman sebelum mereka menemukannya lebih dulu.”Noah duduk di sebelahnya, menyesap kopinya sebelum berbicara. “Aku sudah menghubungi beberapa orang yang bisa membantu kita melacaknya. Herman memang menghilang bertahun-tahun, tapi orang seperti dia tidak bisa selamanya bersembunyi.”Jasmine menatap Noah dengan penuh harapan. “Kita harus lebih cepat dari Zora dan Roberto. Jika mereka menemukan
last updateLast Updated : 2025-03-17
Read more

245. Perjalanan Menuju Kebenaran

Jasmine duduk di kursi pesawat pribadi yang telah disiapkan Noah, menatap ke luar jendela. Di luar sana, langit malam membentang luas dengan kilauan bintang yang berpendar di antara awan tipis. Perjalanan mereka menuju kota Velmor di benua Aldebaran telah dimulai dari tempat di mana Herman diduga bersembunyi. Noah duduk di seberangnya, menyesap segelas air mineral dengan ekspresi penuh konsentrasi. Ia mempelajari berkas-berkas yang berkaitan dengan Herman, sementara Jasmine berusaha meredakan kegelisahannya. “Velmor bukan kota yang mudah untuk ditelusuri,” kata Noah akhirnya, menatap Jasmine.“Jika Herman benar-benar ada di sana, maka dia memilih tempat yang tepat untuk menghilang.” Jasmine mengangguk, jari-jarinya saling meremas. “Aku hanya takut kita terlambat. Jika Zora dan Roberto sudah lebih dulu menemukannya, semuanya bisa berakhir sebelum kita sempat bergerak.”&nb
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

246 . Kalian mencari sesuatu?  

"Tempat ini lebih gelap dari yang kubayangkan," gumam Jasmine sambil melirik sekeliling. Angin malam di Velmor berhembus dingin ketika Jasmine dan Noah turun dari kendaraan yang membawa mereka ke distrik perdagangan di pusat kota. Lampu-lampu jalan berkedip samar, menerangi lorong-lorong sempit yang dipenuhi oleh pedagang dan orang-orang yang mencari informasi di pasar gelap. Velmor adalah kota di mana kebenaran dan kebohongan diperdagangkan dengan harga tinggi. Jasmine merapatkan mantel yang ia kenakan, mencoba menahan hawa dingin yang menusuk. Noah berjalan di sampingnya, pandangannya tajam menyapu setiap sudut jalan. Mereka tidak bisa lengah. Mereka tahu bahwa bukan hanya mereka yang sedang mencari Herman. Zora dan Roberto pasti sudah menurunkan orang-orang mereka. "Tetap dekat denganku," suara Noah terdengar rendah namun penuh ketegasan. "Orang-orang di sini bisa mencium ketakutan dari jauh." Jas
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

247. Jejak di Pelabuhan Tua

"Tempat ini lebih menyeramkan daripada yang kubayangkan," ujar Jasmine pelan, suaranya hampir tenggelam dalam hembusan angin laut. Angin laut yang dingin menerpa wajah Jasmine saat ia berdiri di tepi dermaga, menatap air hitam pekat yang berkilauan di bawah cahaya lampu pelabuhan. Di sekelilingnya, suara ombak memecah keheningan malam. Velmor terasa semakin sunyi di tempat ini, jauh dari hiruk-pikuk distrik perdagangan. Noah berdiri di sampingnya, matanya tajam menelusuri setiap sudut area pelabuhan tua yang hampir terbengkalai. Hanya ada beberapa kapal tua yang terombang-ambing, dan deretan gudang yang tampak tak terurus. Namun, menurut informasi yang mereka dapatkan, Herman bersembunyi di salah satu gudang tersebut. "Kita harus tetap waspada," kata Noah seraya melirik ke sekeliling. "Kalau informasi ini bocor, bisa saja ada orang lain yang sampai di sini lebih dulu." Jasmine menarik napas dalam-dal
last updateLast Updated : 2025-03-18
Read more

248. Pertempuran di Gudang Tua

Deru napas Jasmine memburu saat ia merapatkan tubuhnya ke peti kayu, mencoba meredam detak jantungnya yang menggema di telinga. Noah berada di sebelahnya, tubuhnya tegang dan siap bertindak. Dari balik peti, mereka bisa melihat orang-orang Roberto menyebar di dalam gudang, mencari target mereka. Herman berjongkok di belakang Jasmine, wajahnya pucat. "Mereka tidak akan membiarkan kita keluar hidup-hidup jika kita tertangkap," bisiknya dengan suara parau. Noah mengencangkan rahangnya, matanya menyipit tajam. "Kita tidak akan tertangkap." Dari balik peti lain, Levan mengangkat senjata kecilnya, bersiap menghadapi musuh jika diperlukan. "Ada jalan keluar di bagian belakang gudang ini. Tapi kita harus melewati mereka." Jasmine merasakan adrenalin membanjiri tubuhnya. "Kalau begitu, kita harus bergerak sekarang." Sementara itu, di luar gudang, Zora dan Juan berdiri di dekat mobil hitam
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

249 . Aku tidak bisa terus bersembunyi

Mobil melaju kencang menembus jalanan sepi Velmor, hanya ditemani deru mesin dan napas berat Jasmine yang masih berusaha mengendalikan debar jantungnya. Malam semakin pekat, dan lampu-lampu jalan yang redup seakan memperjelas betapa berbahayanya situasi mereka saat ini. Herman duduk di kursi belakang, tubuhnya masih gemetar akibat kejadian di gudang tua. Wajahnya pucat, dan keringat dingin mengalir di pelipisnya. Pria itu menelan ludah, lalu akhirnya membuka suara dengan nada rendah. "Aku tidak bisa terus bersembunyi. Mereka akan menemukan aku cepat atau lambat."Noah, yang duduk di kursi depan, meliriknya melalui kaca spion. "Itulah kenapa kau harus bicara sekarang. Jika kita ingin melindungimu, kami harus tahu segalanya." Jasmine menoleh ke arah Herman, matanya penuh ketegangan. "Apa yang sebenarnya terjadi pada ayahku? Dan kenapa Jorse Corp bisa jatuh ke tangan Roberto?" Herman menarik napa
last updateLast Updated : 2025-03-19
Read more

250. Malam yang Membara  

"Semua ini mulai masuk akal, tapi juga semakin rumit," suara Jasmine terdengar lirih saat ia menatap jendela, memperhatikan gerimis yang tak kunjung reda. Hujan gerimis turun membasahi kota Velmor ketika Jasmine dan Noah tiba di vila persembunyian mereka. Udara malam yang dingin masih terasa menusuk, seolah membawa sisa ketegangan dari pengejaran mereka sebelumnya. Jasmine melepas mantelnya, lalu berjalan ke dekat jendela. Tetesan air hujan membentuk pola abstrak di kaca, mencerminkan pikirannya yang kacau. "Apa yang dikatakan Herman mengubah segalanya," lanjutnya, suaranya terdengar lebih serius. "Kematian ayahku bukan kecelakaan, seperti yang selalu kupikirkan. Dia dibunuh, Noah. Dan semua jejak mengarah ke Roberto." Noah yang berdiri di dekat meja, menyilangkan tangan di dadanya, menatapnya lekat-lekat. "Bukan hanya Roberto," gumamnya. "Jika benar perusahaan ayahmu diambil alih secara paksa, berarti ada orang lain yan
last updateLast Updated : 2025-03-20
Read more
PREV
1
...
2324252627
...
29
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status