All Chapters of Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon): Chapter 61 - Chapter 70

82 Chapters

61. Wanita Bagai Cermin

Beruntung seorang duda seperti Damar mendapatkan wanita cantik dan pintar seperti Jenar, walau sikap manjanya itu berlebihan, tapi lebih baik seperti itu daripada diam, namun melukai hati.Sekeras apa Damar, tapi isterinya sekarang masih takut dan menghargai. Pikirnya, Jenar diperlakukan baik walau suaminya keras. "Tidak mau lagi malam ini?" tanya Damar yang baru berbaring di samping isterinya. Senyum mengembang ketika sorot mata mereka bertemu. "Jenar lelah, Mas, besok saja boleh tidak. Rasa kantuk ini tidak bisa ditahan lagi. Tadi pagi bangun terlalu awal, jadi ... huawh ... mengantuk sekarang." Terlihat wajah lelah Jenar, karena dia juga sejak pagi sibuk. Sibuk mengurus rumah dan melayani suami. Itu menjadi tugasnya sekarang. Itu semua mulai terbiasa untuk dirinya menjadi seorang isteri. "Kalau begitu kita tidur saja." Jenar segera bergeser lebih dekat pada suaminya dan memeluk erat. "Aku ingin membiasakan hal ini, mengobrolkan apa yang kita lakukan seharian ketika mau tidur.
last updateLast Updated : 2025-02-17
Read more

62. Simpanan Gadun

Jenar sudah terlihat rapi dan cantik meski dengan gaya busana casual. Celana jaens hitam, kemeja biru stone panjang dengan lengan berumbai, mantel selutut warna cream, tas selempang hitam dan heels 7 cm senada. "Aku tidak menemukan sepatu flat ku, aku gunakan ini saja. Bukankah acaranya di ruangan, Mas?" "Iya ... kamu terlihat cantik sayang," puji Damar yang fokus dengan istrinya yang sudah siap berangkat. Damar sendiri juga mengenakan kemeja panjang warna hitam. "Tentu, kita berangkat sekarang sayang?"Dia selalu percaya diri ketika suaminya memuji kecantikannya. Itu selalu membuat suaminya menatap gemas sambil menggeleng pelan kepala karena jawaban yang keluar dari mulut isterinya. Mereka segera berangkat ke tempat acara. Satu angkatan akan datang dalam acara ini, dan Damar datang mengajak isterinya, tidak ingin masalah kemarin terulang lagi. Apalagi ada Sheila di sana. Dia sangat berhati-hati agar isterinya merasa nyaman. "Kenapa aku jadi gugup ya, Mas." "Biasakan, kamu akan
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

63. Mencari Masalah

"Lantas kenapa? Kau juga menempati tempat orang. Jika mau pergilah." "Shel, kita duduk di sana," ucap Ryan. "Aku mau di sini." Dengan keras kepala, Sheila ingin tetap di tempatnya, namun Ryan tidak membiarkannya. Tidak enak saja jika nanti terjadi kegaduhan karena mulut Sheila. "Sudah ayo, jangan mulai membuat kegaduhan." Ryan menarik lengan Sheila agar mau mengikutinya. Meski menggerutu, dia tetap ikut. Setelah menjadi duda, Sheila pikir mantan suaminya itu semakin tampan saja. Tak ingin peduli, Damar dan Jenar lebih memilih bercanda di satu meja bersama mereka. Jenar senang mendapatkan teman baru dari angkatan suaminya. "Mas aku ke kamar mandi sebentar," bisik Jenar dan mendapatkan anggukan dari suaminya. Dia menitipkan tas pada sang suami. Jenar berjalan ke lorong di mana kamar mandi itu berada, tampak sepi, dia segera masuk untuk membuang air kecil di bilik paling ujung sisi pintu. Saat baru selesai dari kamar mandi dia melihat seorang anak kecil yang berdiri di depan kamar
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

64. Tak Ingin Kembali

"Apa yang kau lakukan!" Ryan segera menarik Sheila keluar hall rooms agar masalahnya tidak semakin kacau ketika Jenar membalasnya. Damar yang melihat istrinya diperlakukan kasar segera menghampiri dan melihat kondisinya. "Aku tidak apa-apa, Mas, hanya kakiku sepertinya keseleo karena dorongannya." Damar coba melepaskan heels yang Jenar pakai dan coba memijatnya pelan. "Sakit?" Jenar menggangguk pelan dengan sedikit meringis kesakitan. "Aku harus bicara dengannya nanti," ucap Damar dengan sorot mata marah. Bagaimana bisa mantan isterinya itu mencari gara-gara hingga membuat Jenar terluka. "Tidak perlu, Mas, apa tidak bisa kita pulang lebih dulu? Aku malu jika terus di sini," bisik Jenar. Bagaimana tidak jika Sheila mempermalukan dengan sikapnya. Sejak tadi dia coba menahan, tapi tetap saja mantan isteri Damar tetap mengejarnya. Seperti memang mencari gara-gara. "Baiklah kita pulang, tunggu di sini biar aku ambil tasmu." Damar mengambilkan tas istrinya dan coba bicara dengan
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

65. Ini Memang Cinta

Jenar bersikeras untuk menolak apa yang Damar mau, pikirnya untuk apa saat ini hanya luka kecil saja. Setelah istirahat beberapa jam juga sudah sembuh, bukan yang patah tulang, namun Damar memaksa untuk tetap melakukan visum sebagai bukti. Setelah mengiyakan apa yang suaminya mau dan dia diperbolehkan pulang, Damar kembali menggendong tubuh Jenar. "Kita batalkan saja ke Yogyakarta nya, kakimu akan semakin sakit jika kamu memaksakan diri." "Tidak mau!! Pokoknya mau pergi ke Jogja untuk melihat Ramayana Ballet Prambanan!" tegas Jenar. "Sayang—" "Pokoknya tidak mau, Mas." Keinginan untuk pergi tidak bisa ditolak oleh Damar, dia harus mengiyakan karena ini juga rencana bulan madu mereka. Hanya karena kaki terkilir, dia tak mau mengurungkan rencana nanti. Sesampainya di rumah, Jenar melarang suaminya cerita jika ini karena Sheila agar mamanya tidak khawatir. Apalagi jika sampai dengan keluarga Damar, makin melebar masalah ini. Setelah minum obat, Jenar dibiarkan istirahat oleh D
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

66. Menjanjutkan Pergolakan Nafsu

"Di mana tempat duduk kita, Mas?" "Sepertinya di depan sana." Mereka sampai di Prambanan untuk melihat pertunjukan Ramayana Ballet sesuai keinginan Jenar. Walau kakinya masih terpincang-pincang, dia tetap dengan pendiriannya. Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju Prambanan, memang agak telat, namun mereka tidak melewatkan terlalu jauh dari jalannya cerita. Jenar yang memang sangat ingin melihat pertunjukan ini begitu serius melihat setiap adegan. Cinta memang tidak bisa ditebak, bagaimana dia mencintai wanitanya tetap saja ketika sang wanita kembali, dia membutuhkan pembuktian. Padahal sangat jelas Shinta mencintai si tampan Rama yang mengininkan Shinta membuktikan jika dirinya suci dan tulus. Padahal Rahwana dengan sangat tulus pada Shinta tanpa minta pembuktian seperti Rama. "Jika Mas jadi Rama, apa aku juga harus melakukan pembuktian untuk cinta yang aku miliki?" tanya Jenar ketika pertunjukan selesai dan mereka menunggu para penonton pergi agar bisa jalan dengan ama
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

67. Doyan Makan

"Akh!" Rintihan lirih terdengar ketika rasa tidak nyaman di arah bawah miliknya karena pertempuran semalam, namun hal itu sungguh membuatnya bahagia. Rasa itu tidak mengurungkan niat Jenar untuk membersihkan tubuh karena pagi ini mereka berdua akan jalan-jalan setelah sarapan. Damar masih di atas tempat tidur ketika Jenar sudah di kamar mandi. Dia tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin, ada bekas merah yang Damar buat dibagian dad4nya. "Mas, apa mau terus tidur? Bangunlah," bisik Jenar pada suaminya yang masih saja terlelap karena lelah. Tak lupa dia mencium pipi sang suami dengan mesra. "10 menit lagi—" Bukannya membuka mata, Damar masih saja menutup kedua matanya. "Ayolah, aku lapar. Apa pesan makan saja?" tanya Jenar. Tak lupa dia kembali mencium pipi suaminya hangat agar lekas membuka mata. Rasa lapar menguasai dirinya setelah semalam kenyang dengan nafsu mereka. "Benar juga, semalam kita sampai tidak makan malam karena dirimu," jawab Damar yang mulai membuka ma
last updateLast Updated : 2025-02-18
Read more

68. Sakit Perut yang Menusuk

Jenar Nareswari berlari kecil, langkahnya hampir membuat dia terjatuh ketika dengan sepatu dinas nya dia berlari. Sang suami sudah berada di lapangan untuk kegiatan ketika dia baru menyelesaikan jadwal prakteknya. "Maaf, aku terlambat," tuturnya pada sang suami yang bicara dengan salah satu bawahannya. Nafas memburu menyerang karena dia memang berlari, bukan karena terlalu jauh atau bagaimana, dia menggunakan sepatu Wedges, takut terjatuh juga. "Kenapa harus lari, kegaiatan juga belum di mulai." Damar menyeka keringat istrinya dengan sapu tangan miliknya dan tak lupa kecupan hangat diujung kepala diberikan pada wanita yang dia nikah beberapa bulan lalu. Mereka tidak malu untuk menunjukkan keromantisan di depan umum. Menjadi isteri seorang prajurit, Jenar Nareswari sedang menikmati waktunya dengan kegiatan yang ada dan menemani suaminya bertugas. Namun, tidak serta merta dia mengorbankan jadwal prakteknya karena dia masih membuka praktek di hari yang sudah di jadwalkan. Memang
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

69. Apakah Hamil?

"Sebenarnya apa kamu sedang hamil, Mbak? Kalau darah haid kenapa banyak, takutnya malah darah keguguran." Dibantu Widi masuk kamar mandi, Jenar coba membersihkan dan memakai pembalut dengan rasa sakit yang masih menyiksanya. Jujur saja dia tidak tahan dengan rasa sakitnya, namun dia tak mungkin merepotkan lebih pada Widi. "Sepertinya tidak, Mbak, aku pernah seperti ini sebelumnya. Biarkan saja, Mbak, biar nanti Mas Damar yang membersihkannya. Maaf merepotkan Mbak." "Kamu ini bilang apa, Mbak. Sudah sebaiknya berbaring dulu, biar aku buatkan teh hangat. Atau mau ke rumah sakit saja?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Aku coba tidur saja, padahal aku juga meminum obat penghilang rasa sakit, tapi tetap saja tidak nyaman." "Sebaiknya Mbak coba tidur sambil menunggu Pak Danyon." Jenar tidak enak saja karena sejak tadi sudah merepotkan Widi, belum lagi tanpa rasa jijik, dia membersihkan darah yang ada di lantai dan juga seprei yang terkeba bercak darah. Dikantornya, Damar baru menyelesaikan m
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

70. Harusnya Bahagia bukan Ragu

"Apa masih terasa sakit?" Damar duduk di samping sang isteri yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit. Wajahnya tampak pucat pasih, belum lagi kondisinya membuatnya ketakutan karena perdarahan yang terjadi. "Apa benar aku hamil, Mas? Lalu bagaimana kondisinya? Perdarahannya begitu banyak, apa janinnya masih bisa selamat?" "Aku harap kamu bisa lebih menjaganya. Jangan memaksakan diri untuk kegiatan dulu. Kamu harus istirahat total. Ambil cuti beberapa waktu ini untuk kondisi kehamilanmu." "Bagaimana bisa, Mas, aku harus tetap dengan pekerjaanku, apalagi kuliah yang sedang aku jalani." Damar menatap tidak percaya, jika Jenar mengatakan itu.Bukankah itu artinya Jenar tidak peduli dengan kondisi kehamilan, di saat dia saja mengalami perdarahan hebat, untung saja calon bayi mereka masih selamat. "Dengan mengorbankan dia? Aku sudah merasa bersalah karena semalam kita bercinta tanpa tau jika kamu sedang hamil. Sekarang malah seperti ini, maafkan aku untuk itu. Dokter bi
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more
PREV
1
...
456789
Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status