āļŦāđ‰āļ­āļ‡āļŠāļĄāļļāļ”
āļ„āđ‰āļ™āļŦāļē

āđāļŠāļĢāđŒ

67. Doyan Makan

āļœāļđāđ‰āđ€āļ‚āļĩāļĒāļ™: Nyemoetdz Kim
last update āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ”: 2025-02-18 11:49:51

"Akh!"

Rintihan lirih terdengar ketika rasa tidak nyaman di arah bawah miliknya karena pertempuran semalam, namun hal itu sungguh membuatnya bahagia.

Rasa itu tidak mengurungkan niat Jenar untuk membersihkan tubuh karena pagi ini mereka berdua akan jalan-jalan setelah sarapan. Damar masih di atas tempat tidur ketika Jenar sudah di kamar mandi. Dia tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin, ada bekas merah yang Damar buat dibagian dad4nya.

"Mas, apa mau terus tidur? Bangunlah," bisik Jenar pada suaminya yang masih saja terlelap karena lelah. Tak lupa dia mencium pipi sang suami dengan mesra.

"10 menit lagi—" Bukannya membuka mata, Damar masih saja menutup kedua matanya.

"Ayolah, aku lapar. Apa pesan makan saja?" tanya Jenar. Tak lupa dia kembali mencium pipi suaminya hangat agar lekas membuka mata. Rasa lapar menguasai dirinya setelah semalam kenyang dengan nafsu mereka.

"Benar juga, semalam kita sampai tidak makan malam karena dirimu," jawab Damar yang mulai membuka ma
āļ­āđˆāļēāļ™āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āđ€āļĨāđˆāļĄāļ™āļĩāđ‰āļ•āđˆāļ­āđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩ
āļŠāđāļāļ™āļĢāļŦāļąāļŠāđ€āļžāļ·āđˆāļ­āļ”āļēāļ§āļ™āđŒāđ‚āļŦāļĨāļ”āđāļ­āļ›
āļšāļ—āļ—āļĩāđˆāļ–āļđāļāļĨāđ‡āļ­āļ

āļšāļ—āļ—āļĩāđˆāđ€āļāļĩāđˆāļĒāļ§āļ‚āđ‰āļ­āļ‡

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   68. Sakit Perut yang Menusuk

    Jenar Nareswari berlari kecil, langkahnya hampir membuat dia terjatuh ketika dengan sepatu dinas nya dia berlari. Sang suami sudah berada di lapangan untuk kegiatan ketika dia baru menyelesaikan jadwal prakteknya. "Maaf, aku terlambat," tuturnya pada sang suami yang bicara dengan salah satu bawahannya. Nafas memburu menyerang karena dia memang berlari, bukan karena terlalu jauh atau bagaimana, dia menggunakan sepatu Wedges, takut terjatuh juga. "Kenapa harus lari, kegaiatan juga belum di mulai." Damar menyeka keringat istrinya dengan sapu tangan miliknya dan tak lupa kecupan hangat diujung kepala diberikan pada wanita yang dia nikah beberapa bulan lalu. Mereka tidak malu untuk menunjukkan keromantisan di depan umum. Menjadi isteri seorang prajurit, Jenar Nareswari sedang menikmati waktunya dengan kegiatan yang ada dan menemani suaminya bertugas. Namun, tidak serta merta dia mengorbankan jadwal prakteknya karena dia masih membuka praktek di hari yang sudah di jadwalkan. Memang

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   69. Apakah Hamil?

    "Sebenarnya apa kamu sedang hamil, Mbak? Kalau darah haid kenapa banyak, takutnya malah darah keguguran." Dibantu Widi masuk kamar mandi, Jenar coba membersihkan dan memakai pembalut dengan rasa sakit yang masih menyiksanya. Jujur saja dia tidak tahan dengan rasa sakitnya, namun dia tak mungkin merepotkan lebih pada Widi. "Sepertinya tidak, Mbak, aku pernah seperti ini sebelumnya. Biarkan saja, Mbak, biar nanti Mas Damar yang membersihkannya. Maaf merepotkan Mbak." "Kamu ini bilang apa, Mbak. Sudah sebaiknya berbaring dulu, biar aku buatkan teh hangat. Atau mau ke rumah sakit saja?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Aku coba tidur saja, padahal aku juga meminum obat penghilang rasa sakit, tapi tetap saja tidak nyaman." "Sebaiknya Mbak coba tidur sambil menunggu Pak Danyon." Jenar tidak enak saja karena sejak tadi sudah merepotkan Widi, belum lagi tanpa rasa jijik, dia membersihkan darah yang ada di lantai dan juga seprei yang terkeba bercak darah. Dikantornya, Damar baru menyelesaikan m

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   70. Harusnya Bahagia bukan Ragu

    "Apa masih terasa sakit?" Damar duduk di samping sang isteri yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit. Wajahnya tampak pucat pasih, belum lagi kondisinya membuatnya ketakutan karena perdarahan yang terjadi. "Apa benar aku hamil, Mas? Lalu bagaimana kondisinya? Perdarahannya begitu banyak, apa janinnya masih bisa selamat?" "Aku harap kamu bisa lebih menjaganya. Jangan memaksakan diri untuk kegiatan dulu. Kamu harus istirahat total. Ambil cuti beberapa waktu ini untuk kondisi kehamilanmu." "Bagaimana bisa, Mas, aku harus tetap dengan pekerjaanku, apalagi kuliah yang sedang aku jalani." Damar menatap tidak percaya, jika Jenar mengatakan itu.Bukankah itu artinya Jenar tidak peduli dengan kondisi kehamilan, di saat dia saja mengalami perdarahan hebat, untung saja calon bayi mereka masih selamat. "Dengan mengorbankan dia? Aku sudah merasa bersalah karena semalam kita bercinta tanpa tau jika kamu sedang hamil. Sekarang malah seperti ini, maafkan aku untuk itu. Dokter bi

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   71. Keras Kepala Jenar

    "Apa kita akan terus memperdebatkan ini, Mas. Bukankah harusnya kita bahagia dengan kabar kehamilanku ini." Padahal ini semua juga dari Jenar, kenapa dia seperti terbebani oleh masa kehamilannya. Bukannya bahagia dan terharu atas kehamilan yang dirasa, dia malah memikirkan pendidikannya. "Harusnya juga begitu," sahutnya dengan nada tenang, walau kenyataannya dia sangat ingin marah. Dia sungguh kecewa atas jawaban dari mulut isterinya, bagaimana bisa lebih mementingkan karir, ketika mereka sudah dipercaya memiliki keturunan. "Mas—" "Istirahatlah dan jaga dia dengan baik, jangan sampai apa yang hilang membuat kita menyesal, karena apa yang sudah pergi tidak akan kembali." Damar meletakkan nampan berisi makanan di nakas dan berjalan ke kamar mandi. Jenar menatap punggung kekar suaminya, dia keras kepala ingin tetap melakukan kegiatannya ketika kehamilannya masih sangat rentan, apalagi dengan kejadian seperti ini, Jenar harus jauh lebih hati-hati. "Tidak bisa, Dokter Jenar. H

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   72. Nasehat Mama

    "Maaf membuat Mama datang, Damar ada pekerjaan keluar kota 2 hari dan tidak mau meninggalkan Jenar sendiri, jadi meminta Mama datang." "Kenapa minta maaf, Mama memang rencana datang setelah kemarin kalian memberi kabar bahagia ini. Sungguh, Mama tidak merasa keberatan, Mama merasa senang apalagi dengan kabar kehamilan Jenar, terima kasih, Nak."Susi datang ke Solo untuk menemani Jenar yang akan Damar tinggal untuk urusan pekerjaan, dia masih di rumah sakit dan sekarang sudah 4 hari, karena keinginan Damar juga, dia mau istrinya memulihkan kondisinya di rumah sakit daripada di rumah, ketika ditinggal bertugas dia akan di rumah sendiri. "Dia sangat keras kepala, dan ingin terus pulang. Aku harap Mama tidak membiarkannya turun tempat tidur," ujar Damar. "Lalu ke kamar mandi bagaimana sayang. Kan aku baik-baik saja, walau sedikit mual." "Tidak ada alasan apapun, bukankah kamu menggunakan catheter. Aku meminta Mama datang agar dia tidak canggung ketika aku harus meminta Ibu atau Mb

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   73. Ditinggal Tugas.

    "Tolong maafkan aku, Mas." Kembali Damar mencium kening Jenar. Mereka bicara sedikit berbisik karena takut jika Susi yang masih tidur akan terganggu. Apalagi masih begitu pagi ketika Damar datang. "Aku bantu ke kamar mandi biar Mama tidak repot." Seperti pagi biasa ketika di rumah sakit, Damar membantu isterinya membersihkan tubuh. Karena tidak boleh naik turun tempat tidur dulu, Damar selalu menggendong isterinya dan membantu membersihkan tubuh. Catheter Jenar sudah terlepas kemarin, itu juga anjuran dokter. Walau ada rasa khawatir jika isterinya malah akan banyak bergerak, Damar coba percaya jika isterinya akan menjaga calon bayi mereka. Perkembangannya memang baik, namun Damar ingin semua baik sampai Jenar bena-benar merasa sehat. "Kenapa, mual?" tanya Damar ketika menyodorkan sikat gigi pada istrinya. Jenar mengangguk pelan dengan tangan menutup mulut. Dia mual ketika akan gosok gigi, namun dia tetap harus membersihkan giginya. "Aku seperti bayi beberapa hari ini, karena M

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-20
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   74. Ingin Bertemu Suami

    "Rumah rapi walau kamu sedang sakit, kalau bukan suami yang baik, apa coba. Yang banyak bersyukur, Nak." "Jangan terus memarahi anakmu, nanti dia malah kabur dan Damar menyalahkan kita tidak becus merawatnya," sahut Anggi pada besan yang juga temannya. Mereka dekat karena memang sudah berteman sejak lama. "Aku gemas padanya kalau sudah keras kepala." Yang di marahi hanya diam bersandar di ruang tengah rumah dinas Damar, baru tadi siang dia pulang dan sesampainya di rumah diperlakukan bak ratu karena tidak boleh melakukan apapun, apalagi Dokter bilang harus melewati trimester pertama ini agar janinnya benar-benar kuat untuk diajak melakukan kegiatan. "Kamu tidak menginginkan sesuatu, Je? Makan apa gitu?" tanya Wulan. "Apa ya, Mbak, pengen ketemu Mas Damar saja sih, gak pengen makan apa-apa." "Mau di tungguin suamimu ya. Sabar ya, Nak, kita di sini bersamamu. Lain kali kalau ada apa-apa bilang. Atau kamu mau pulang ke Jakarta saja agar bisa kita bantu," tutur Anggi. "Dan m

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-22
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   75. Ngidam

    "Ngidam pengen suaminya pulang, bagaimana kalau jadi pindah tugas, akan sulit." Suara seseorang menghentikan tangis Jenar karena mendengarkan kata-kata itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya ingin suaminya pulang sekarang, agar merasa lega. "Aku telepon lagi nanti, aku bicara dulu dengan seniorku. Tidak apa-apa kan?" Meski bekerja di lingkup orang yang lebih tua, tidak membuat Damar besar kepala, karena dia juga masih baru di posisinya sekarang dan harus banyak belajar dari seniornya. "Sudahlah, makin bikin kesal saja." Jenar mematikan sambungan telepon begitu saja karena suaminya masih saja sibuk, padahal dia merindukannya. Lawan bicaranya hanya menatap layar ponsel sesaat panggilan masuk itu tertutup. Mood Jenae Hal seperti ini tidak biasa dia lakukan, mungkin juga karena efek hamil karena beberapa hari kemarin terus bersama dan sekarang ada tugas keluar kota. Namun, jika memang suaminya di pindah tugas, dia sunggu harus merelakan pekerjaannya untuk fokus pada keluarganya.

    āļ›āļĢāļąāļšāļ›āļĢāļļāļ‡āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ” : 2025-02-22

āļšāļ—āļĨāđˆāļēāļŠāļļāļ”

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   97. Tamat

    "Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   96. Mau Ayah Baru Saja!

    "Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   95. Menjalani Hidup Setelah Duka

    "Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   94. Danurdara

    "Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   93. Saling Menguatkan

    "Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   92. Duka Dibalik Bahagia

    "Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   91. Merahasiakan Kondisi Jenar

    Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   90. Kondisi Damar

    "Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   89. Perhatian dan Kesabaran Damar

    "Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk

āļŠāļģāļĢāļ§āļˆāđāļĨāļ°āļ­āđˆāļēāļ™āļ™āļ§āļ™āļīāļĒāļēāļĒāļ”āļĩāđ† āđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩ
āđ€āļ‚āđ‰āļēāļ–āļķāļ‡āļ™āļ§āļ™āļīāļĒāļēāļĒāļ”āļĩāđ† āļˆāļģāļ™āļ§āļ™āļĄāļēāļāđ„āļ”āđ‰āļŸāļĢāļĩāļšāļ™āđāļ­āļ› GoodNovel āļ”āļēāļ§āļ™āđŒāđ‚āļŦāļĨāļ”āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āļ—āļĩāđˆāļ„āļļāļ“āļŠāļ­āļšāđāļĨāļ°āļ­āđˆāļēāļ™āđ„āļ”āđ‰āļ—āļļāļāļ—āļĩāđˆāļ—āļļāļāđ€āļ§āļĨāļē
āļ­āđˆāļēāļ™āļŦāļ™āļąāļ‡āļŠāļ·āļ­āļŸāļĢāļĩāļšāļ™āđāļ­āļ›
āļŠāđāļāļ™āļĢāļŦāļąāļŠāđ€āļžāļ·āđˆāļ­āļ­āđˆāļēāļ™āļšāļ™āđāļ­āļ›
DMCA.com Protection Status