"Apa yang kau lakukan!" Ryan segera menarik Sheila keluar hall rooms agar masalahnya tidak semakin kacau ketika Jenar membalasnya. Damar yang melihat istrinya diperlakukan kasar segera menghampiri dan melihat kondisinya. "Aku tidak apa-apa, Mas, hanya kakiku sepertinya keseleo karena dorongannya." Damar coba melepaskan heels yang Jenar pakai dan coba memijatnya pelan. "Sakit?" Jenar menggangguk pelan dengan sedikit meringis kesakitan. "Aku harus bicara dengannya nanti," ucap Damar dengan sorot mata marah. Bagaimana bisa mantan isterinya itu mencari gara-gara hingga membuat Jenar terluka. "Tidak perlu, Mas, apa tidak bisa kita pulang lebih dulu? Aku malu jika terus di sini," bisik Jenar. Bagaimana tidak jika Sheila mempermalukan dengan sikapnya. Sejak tadi dia coba menahan, tapi tetap saja mantan isteri Damar tetap mengejarnya. Seperti memang mencari gara-gara. "Baiklah kita pulang, tunggu di sini biar aku ambil tasmu." Damar mengambilkan tas istrinya dan coba bicara dengan
Jenar bersikeras untuk menolak apa yang Damar mau, pikirnya untuk apa saat ini hanya luka kecil saja. Setelah istirahat beberapa jam juga sudah sembuh, bukan yang patah tulang, namun Damar memaksa untuk tetap melakukan visum sebagai bukti. Setelah mengiyakan apa yang suaminya mau dan dia diperbolehkan pulang, Damar kembali menggendong tubuh Jenar. "Kita batalkan saja ke Yogyakarta nya, kakimu akan semakin sakit jika kamu memaksakan diri." "Tidak mau!! Pokoknya mau pergi ke Jogja untuk melihat Ramayana Ballet Prambanan!" tegas Jenar. "Sayang—" "Pokoknya tidak mau, Mas." Keinginan untuk pergi tidak bisa ditolak oleh Damar, dia harus mengiyakan karena ini juga rencana bulan madu mereka. Hanya karena kaki terkilir, dia tak mau mengurungkan rencana nanti. Sesampainya di rumah, Jenar melarang suaminya cerita jika ini karena Sheila agar mamanya tidak khawatir. Apalagi jika sampai dengan keluarga Damar, makin melebar masalah ini. Setelah minum obat, Jenar dibiarkan istirahat oleh D
"Di mana tempat duduk kita, Mas?" "Sepertinya di depan sana." Mereka sampai di Prambanan untuk melihat pertunjukan Ramayana Ballet sesuai keinginan Jenar. Walau kakinya masih terpincang-pincang, dia tetap dengan pendiriannya. Sesampainya di Jogja, mereka langsung menuju Prambanan, memang agak telat, namun mereka tidak melewatkan terlalu jauh dari jalannya cerita. Jenar yang memang sangat ingin melihat pertunjukan ini begitu serius melihat setiap adegan. Cinta memang tidak bisa ditebak, bagaimana dia mencintai wanitanya tetap saja ketika sang wanita kembali, dia membutuhkan pembuktian. Padahal sangat jelas Shinta mencintai si tampan Rama yang mengininkan Shinta membuktikan jika dirinya suci dan tulus. Padahal Rahwana dengan sangat tulus pada Shinta tanpa minta pembuktian seperti Rama. "Jika Mas jadi Rama, apa aku juga harus melakukan pembuktian untuk cinta yang aku miliki?" tanya Jenar ketika pertunjukan selesai dan mereka menunggu para penonton pergi agar bisa jalan dengan ama
"Akh!" Rintihan lirih terdengar ketika rasa tidak nyaman di arah bawah miliknya karena pertempuran semalam, namun hal itu sungguh membuatnya bahagia. Rasa itu tidak mengurungkan niat Jenar untuk membersihkan tubuh karena pagi ini mereka berdua akan jalan-jalan setelah sarapan. Damar masih di atas tempat tidur ketika Jenar sudah di kamar mandi. Dia tersenyum menatap dirinya dari pantulan cermin, ada bekas merah yang Damar buat dibagian dad4nya. "Mas, apa mau terus tidur? Bangunlah," bisik Jenar pada suaminya yang masih saja terlelap karena lelah. Tak lupa dia mencium pipi sang suami dengan mesra. "10 menit lagi—" Bukannya membuka mata, Damar masih saja menutup kedua matanya. "Ayolah, aku lapar. Apa pesan makan saja?" tanya Jenar. Tak lupa dia kembali mencium pipi suaminya hangat agar lekas membuka mata. Rasa lapar menguasai dirinya setelah semalam kenyang dengan nafsu mereka. "Benar juga, semalam kita sampai tidak makan malam karena dirimu," jawab Damar yang mulai membuka ma
Jenar Nareswari berlari kecil, langkahnya hampir membuat dia terjatuh ketika dengan sepatu dinas nya dia berlari. Sang suami sudah berada di lapangan untuk kegiatan ketika dia baru menyelesaikan jadwal prakteknya. "Maaf, aku terlambat," tuturnya pada sang suami yang bicara dengan salah satu bawahannya. Nafas memburu menyerang karena dia memang berlari, bukan karena terlalu jauh atau bagaimana, dia menggunakan sepatu Wedges, takut terjatuh juga. "Kenapa harus lari, kegaiatan juga belum di mulai." Damar menyeka keringat istrinya dengan sapu tangan miliknya dan tak lupa kecupan hangat diujung kepala diberikan pada wanita yang dia nikah beberapa bulan lalu. Mereka tidak malu untuk menunjukkan keromantisan di depan umum. Menjadi isteri seorang prajurit, Jenar Nareswari sedang menikmati waktunya dengan kegiatan yang ada dan menemani suaminya bertugas. Namun, tidak serta merta dia mengorbankan jadwal prakteknya karena dia masih membuka praktek di hari yang sudah di jadwalkan. Memang
"Sebenarnya apa kamu sedang hamil, Mbak? Kalau darah haid kenapa banyak, takutnya malah darah keguguran." Dibantu Widi masuk kamar mandi, Jenar coba membersihkan dan memakai pembalut dengan rasa sakit yang masih menyiksanya. Jujur saja dia tidak tahan dengan rasa sakitnya, namun dia tak mungkin merepotkan lebih pada Widi. "Sepertinya tidak, Mbak, aku pernah seperti ini sebelumnya. Biarkan saja, Mbak, biar nanti Mas Damar yang membersihkannya. Maaf merepotkan Mbak." "Kamu ini bilang apa, Mbak. Sudah sebaiknya berbaring dulu, biar aku buatkan teh hangat. Atau mau ke rumah sakit saja?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Aku coba tidur saja, padahal aku juga meminum obat penghilang rasa sakit, tapi tetap saja tidak nyaman." "Sebaiknya Mbak coba tidur sambil menunggu Pak Danyon." Jenar tidak enak saja karena sejak tadi sudah merepotkan Widi, belum lagi tanpa rasa jijik, dia membersihkan darah yang ada di lantai dan juga seprei yang terkeba bercak darah. Dikantornya, Damar baru menyelesaikan m
"Apa masih terasa sakit?" Damar duduk di samping sang isteri yang terbaring tidak berdaya di brankar rumah sakit. Wajahnya tampak pucat pasih, belum lagi kondisinya membuatnya ketakutan karena perdarahan yang terjadi. "Apa benar aku hamil, Mas? Lalu bagaimana kondisinya? Perdarahannya begitu banyak, apa janinnya masih bisa selamat?" "Aku harap kamu bisa lebih menjaganya. Jangan memaksakan diri untuk kegiatan dulu. Kamu harus istirahat total. Ambil cuti beberapa waktu ini untuk kondisi kehamilanmu." "Bagaimana bisa, Mas, aku harus tetap dengan pekerjaanku, apalagi kuliah yang sedang aku jalani." Damar menatap tidak percaya, jika Jenar mengatakan itu.Bukankah itu artinya Jenar tidak peduli dengan kondisi kehamilan, di saat dia saja mengalami perdarahan hebat, untung saja calon bayi mereka masih selamat. "Dengan mengorbankan dia? Aku sudah merasa bersalah karena semalam kita bercinta tanpa tau jika kamu sedang hamil. Sekarang malah seperti ini, maafkan aku untuk itu. Dokter bi
"Apa kita akan terus memperdebatkan ini, Mas. Bukankah harusnya kita bahagia dengan kabar kehamilanku ini." Padahal ini semua juga dari Jenar, kenapa dia seperti terbebani oleh masa kehamilannya. Bukannya bahagia dan terharu atas kehamilan yang dirasa, dia malah memikirkan pendidikannya. "Harusnya juga begitu," sahutnya dengan nada tenang, walau kenyataannya dia sangat ingin marah. Dia sungguh kecewa atas jawaban dari mulut isterinya, bagaimana bisa lebih mementingkan karir, ketika mereka sudah dipercaya memiliki keturunan. "Mas—" "Istirahatlah dan jaga dia dengan baik, jangan sampai apa yang hilang membuat kita menyesal, karena apa yang sudah pergi tidak akan kembali." Damar meletakkan nampan berisi makanan di nakas dan berjalan ke kamar mandi. Jenar menatap punggung kekar suaminya, dia keras kepala ingin tetap melakukan kegiatannya ketika kehamilannya masih sangat rentan, apalagi dengan kejadian seperti ini, Jenar harus jauh lebih hati-hati. "Tidak bisa, Dokter Jenar. H
"Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b
"Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj
"Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang
"Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y
"Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu
"Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya
Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu
"Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d
"Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk