"Kenapa tidak bilang sejak tadi, aku jadi malu. Kesannya jahat sekali diriku." Sesampainya di rumah dinas Damar, mereka mulai membahas niat Damar membeli burung itu. Dengan tatapan merasa bersalah, Jenar menatap sang suami. "Tidak enak mau beri uang cuma-cuma, jadi ya aku beli saja peliharaannya. Nanti aku akan berikan pada Pak Danki karena dia suka koleksi burung, kalau kamu tidak suka." "Tugasku bertambah karenamu burung, tapi cantik juga ya." Mata Jenar menatap burung cantik itu dalam sangkar. Namun, dia juga kesal karena suaminya tidak bilang lebih dulu. "Kalau mau di tambah lagi saja biar ada temannya," sahut Damar. Seketika tatapan tajam itu mengarah pada sang suami. "Ya, sekalian nanti pelihara kucing, kelinci, angsa, bebek, semua saja. Biar aku yang urus." Dia melenggos kesal ketika sang suami tersenyum tipis. "Jangan begitu dong sayang. Kamu besok tidak bertemu denganku, awas kangen, apalagi di sana jarang sinyal. Ingat jika aku tidak langsung menjawab telepon atau memb
Last Updated : 2025-02-09 Read more