All Chapters of Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon): Chapter 31 - Chapter 40

97 Chapters

31. Ciuman Pertama

"Apa itu yang Mas maksud tidak melakukan apapun."Damar hanya tersenyum setelah melakukannya. Dia ingim Jenar mulai terbiasa dengan sentuhan dari dirinya. Bagaimana Letkol tampan itu bisa menyentuh isterinya kalau masih saja merasa trauma."Kenapa? Bukankah aku ini suamimu, apa kamu tidak coba membiasakan dirimu untuk melakukan ini?""Bukan begitu, hanya saja ... sudahlah, bukankah Mas bilang mau menyiapkan seragam. Apa sudah selesai?" Jenar mengalihkan pembicaraannya karena malu. Dia hanya belum terbiasa melakukan hal seperti ini, apalagi Damar begitu dekat dan menggoda.Damar tersenyum melihat pipi Jenar memerah karena malu. Dia kembali menggoda Jenar yang pipinya merah sudah seperti kepiting rebus. Damar memeluk dari belakang dan mencium pipi Jenar singkat."Mas!""Ayolah sayang, coba biasakan hal ini. Agar trauma mu itu juga hilang saat kamu menerima apa yang aku lakukan. Lagian aku juga tidak membuatmu terluka, hanya seperti ini." Dan lagi Damar mencium pipi Jenar yang satunya.
last updateLast Updated : 2025-02-07
Read more

32. Melawan Mantan Kekasih Toxic

"Benar kan, Dok, dia ada di mobil itu." Asri dan Jenar menatap dari dalam IGD untuk melihat apa benar Leo ada di sana. Dia memang tidak punya kerjaan dengan terus datang untuk mengganggu. Padahal Dika sempat membuatnya pergi, namun dia malah datang lagi. "Apa Mas Dika ada ya, apa tidak sedang bertugas." Jenar coba untuk mengirimkan pesan pada Dika yang tak langsung membalas karena memang ada kegiatan. "Minta antar ambulan saja untuk pulang. Biar tidak tau kalau Dokter keluar rumah sakit." "Ngawur, tidak ah ... aku tunggu dia pergi saja. Aku coba minta tolong petugas keamanan." Jenar yang ingin segera pulang coba bicara dengan petugas keamanan untuk mengusir, namun gagal karena alasan sedang menunggu pasein yang di rawat. Dia memilih kembali ke ruang pemerikasaan sambil menunggu balasan pesan dari Dika. "Bagaimana kabar Ibu? Tidak kok, aku juga baru selesai praktek," ucap Jenar menjawab lawan bicara dari sambungan telepon. "Kabar Ibu baik. Bagaimana kondisi Damar, maaf semalam I
last updateLast Updated : 2025-02-07
Read more

33. Bukan Cinta tapi Obsesi Gila

"Lancang sekali kau!"Damar berusaha melepaskan pelukan Jenar darinya dan ingin memukul pria dengan mulut besarnya itu sampai babak belur. Dia berani menyebut isterinya wanita tidak benar di depan umum. Pria seperti Leo memang besar mulut, dia tidak malu datang lagi dan lagi meski ditolak. Itu bukan cinta melainkan obsesi yang gila, meneror Jenar setelah melukai hatinya."Mas, aku mohon!!"Jenar semakin mempererat pelukannya dan membuat mundur tubuh Damar yang terpancing dengan perkataan Leo. Dia tidak mau suaminya itu akan mendapatkan masalah jika terus melawan pria kurang ajar seperti Leo."Dia mungkin terima dengan perkataanmu, tapi aku tidak! Lihat saja kau menyentuh tubuhnya, urusan mu denganku! Kau dengar itu!"Damar membawa Jenar pergi dengan menggandeng tangan setelah berterik pada pria gila itu, dan Leo dibawa petugas keamanan agar tidak terus memancing emosi.Dengan emosi yang masih membara, Damar berjalan ke mobil. Tidak peduli dengan rasa sakit di punggungnya. Apalagi dia
last updateLast Updated : 2025-02-07
Read more

34. Seranjang Berdua

"Bantu aku untuk membuatnya pergi dari isteriku, sejengkal pun jangan boleh dia mendekati isteriku. Dia sudah menghancurkan mental isteriku. Aku akan kirimkan bukti yang aku miliki ketika dia mengikuti istriku sejak dia tinggal di Solo. Aku tidak ingin dia lolos karena kekayaan orang tuanya, jika itu terjadi, aku sendiri yang akan bertindak." Damar sedang bicara dengan salah satu orang yang menahan Leo karena tindakannya menguntit Jenar selama sebulan ini. Dia tidak peduli jika Jenar keberatan, karena dia takut. Di ruang tengah rumah yang Jenar tempati, Damar beranjak dan melihat istrinya yang sedang di kamar. Tadi dia terlelap ketika meninggalkan menjawab telepon.Dengan posisi menyamping, Jenar tampak masih tidur. Setidaknya dia tidak lagi menangis. Damar duduk di meja kerja yang ada di kamar itu sambil menatap isterinya. Dia sungguh hilang akal sampai lupa jika punggungnya terluka. "Mama—" rintihan lirih terdengar dari mulut Jenar denga
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

35. Ciumana yang Begitu Dalam

Damar coba mengirimkan pesan pada salah satu teman Dokter yang dia kenal agar memberikan obat untuk Jenar. Tak menunggu lama, temannya itu datang dan segera masuk setelah bilang pintu belum di kunci.Saat akan masuk kamar, senyum temannya itu mengembang melihat posisi Damar yang tidak bisa bergerak karena Jenar memeluknya."Demamnya tinggi, aku bantu untuk pasang infus dan obat melalui infus," jelasnya."Sudah lakukan saja, jangan terus tersenyum. Punggungku sudah cukup sakit dengan posisi seperti ini, jadi cepat lakukan saja dan pergi.""Ah ... benar juga. Aku akan berikan obat untukmu juga agar kalian bisa istirahat bersama.""Aku pikir dijodohkan itu akan tidak saling cinta. Nyatanya kalian berhasil dengan hubungan ini," timpanya lagi sambil memasangkan infus di lengan Dokter cantik yang tidur memeluk sang suami."Awalnya sulit, tapi apa yang aku ambil harus aku lakukan, jadi jalani saja."
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

36. Menghabiskan Waktu untuk Jajan

Matanya berbinar melihat beberapa pedagang yang berjualan beraneka ragam makanan. Dia bingung harus mulai dari mana untuk membelinya."Apa Mas mau?" Di samping pedangan jajanan, Jenar menawari Damar yang hanya menggeleng pelan.Mengenakan pakaian casual, dan aroma tubuh yang harum menambah ketampanan suami Jenar Nareswari, apalagi dia datang beraama wanita cantik dengan dres selutut dan cardigan rajut yang bersamanya, mereka terlihat serasi. "Bukankah tujuannya membeli es cream. Kenapa jadi ke sini.""Sungguh Mas tidak mau?""Tidak, sayang." Damar menggandeng isterinya setelah pesanan selesai dan dibayar. Seperti seorang ayah yang sedang pergi bersama puterinya minta jajan.Mereka kembali berjalan melihat-lihat makanan yang ada di sana. Seperti surga jajanan, dan itu membuat Jenar senang. "Sudah beberapa kali Mbak Asri ingin mengajakku ke sini, tapi aku belum sempat karena pasti ada yang memarahiku nanti." Sambil
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

37. "Marahmu, masih peduli padaku."

"Apa kamu bersikap seperti ini ketika pacaran dengan pria lain, manja sekali."Damar menyeka dengan tisu bekas es cream di sudut bibir isterinya. Dia menggeleng pelan dengan tingkah Dokter cantik yang sudah menjadi miliknya ini."Tidak juga, sikap Leo tidak bisa seperti Mas. Meski tegas dan berwibawa, hanya Mas yang menuruti semua keinginanku.""Kamu mengerjaiku," gerutu Damar. Ini memang tidak biasa dia lakukan, meski kesal tapi dia menikmati karena istrinya tersenyum kembali."Mas, besok aku ada undangan seminar di Hotel Kencana, aku baru dapat undangan nya tadi sebelum berangkat ke sini. Bisa Mas antarkan?" tanya Jenar."Kenapa tiba-tiba. Bisakah tidak datang saja?"Jenar menggurungkan niat untuk menyuapkan sendok berisi es cream ke mulutnya, kemudian menatap tajam. "Kenapa, Mas? Ini hanya seminar saja. Aku tidak berkencan dengan pria lain." "Kenapa jawabanmu seperti itu, aku bertan
last updateLast Updated : 2025-02-08
Read more

38. Alasan yang Tak Masuk Akal

"Lalu? Boleh tidak aku berangkat, Mas?" "Tunggu 10 menit, aku akan antar." Jenar mengendus kesal, karena beberapa Dokter yang akan ikut Seminar mengajaknya berangkat lebih awal. Jenar menutup sambungan teleponnya begitu saja karena kesal, apalagi temannya yang lain sudah menunggu. Kemarin Jenar memang salah bicara, namun pagi-pagi sekali tadi Damar bilang boleh. "Sudah tunggu saja, Dok. Telat 30 menit juga tidak apa-apa." "Tidak begitu, Dok. Aku terlihat sedang mempermainkan waktu. Daripada terlambat mending batalkan saja. Alasan melarangnya tidak masuk akal. Entahlah ...." Jenar memilih menunggu suaminya dengan rasa kesal. Damar sendiri alasannya apa sampai melarang agar tidak ikut. Dia malu saja pada yang lain sudah menunggu. Apalagi dia mengundurkan jadwal hari ini karena Seminar. "Ayo masuk." Seseorang yang ditunggu sejak tadi akhirnya datang, dan memanggil dari dalam mobil. Dengan perasaan kesal, Jenar masuk tanpa ingin mengajak bicara. Dia memalingkan wajah setelah memas
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

39. Melarang Satgas

Damar tidak bicara, dia berjalan keluar Hotel dan segera pergi dengan mobil kesayangannya. Tidak ada obrolan apapun ketika perjalanan pulang. Jenar sendiri ragu untuk membuka pembahasan, takut salah bicara dan berdebat hebat. "Mama menghubungiku tadi, beliau bilang acara maju seminggu dari tanggal sebelumnya. Aku bantu untuk izin pada atasanmu nanti, pulang 2 hari sebelum acara, tapi aku pulang malam sebelum hari H. Aku harus tugas ke Papua untuk mengecek di sana," jelas Damar, meski istrinya seperti tidak peduli, namun ucapannya di dengar baik oleh Jenar. "Aku berangkat lusa, jadi berhati-hatilah di rumah." Otak Jenar berpikir, jika lusa berangkat, itu artinya dia tidak akan bertemu Damar kurang lebih 3 minggu. Setelah mencerna dengan baik, Jenar menatap suaminya. Ketika hubungan mereka sedang tidak baik, Damar malah akan berangkat tugas. Memang hanya mengecek saja, tapi tetap saja, dia tidak akan bertemu suaminya. "Kenapa lama sekali?" Jenar mulai membuka suara dan menanyaka
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more

40. Malah Apes!

Sampai malam, Jenar tidak pulang. Sejak tadi Damar sudah menunggunya di depan rumah yang Jenar tempati. Teleponnya juga tidak dijawab. Berkali-kali, dia coba hubungi atau kirimkan pesan, Jenar tetap tidak menjawabnya. "Izin Komandan, apa Dokter Jenar belum pulang?" tanya Dika, sejak tadi atasannya itu diam di depan rumah istrinya hingga jam menunjukkan pukul 10 malam. "Belum, apalagi teleponnya tidak dijawab." Rasa khawatir dan bingung harus mencarinya ke mana sedang menghantui Damar, dia hanya bisa menunggu istrinya. Tak lama ada motor yang berhenti di depan rumah yang Jenar tempati. "Komandan!" Sapaan dari seseorang yang mengantarkan Jenar dari pos Provos. "Terima kasih, Pak," tutur Jenar sebelum Prajurit itu kembali ke Pos setelah pamit dengan Damar. Jenar berjalan melewati Damar yang sejak tadi menunggu, jalannya sedikit pincang dengan lutut yang terluka. Tak peduli isterinya akan kembali marah atau tidak, Damar mengikuti masuk. Masih diam, Jenar meletakkan barang bawaannya
last updateLast Updated : 2025-02-09
Read more
PREV
123456
...
10
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status