Share

35. Ciumana yang Begitu Dalam

Penulis: Nyemoetdz Kim
last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-08 11:10:36

Damar coba mengirimkan pesan pada salah satu teman Dokter yang dia kenal agar memberikan obat untuk Jenar. Tak menunggu lama, temannya itu datang dan segera masuk setelah bilang pintu belum di kunci.

Saat akan masuk kamar, senyum temannya itu mengembang melihat posisi Damar yang tidak bisa bergerak karena Jenar memeluknya.

"Demamnya tinggi, aku bantu untuk pasang infus dan obat melalui infus," jelasnya.

"Sudah lakukan saja, jangan terus tersenyum. Punggungku sudah cukup sakit dengan posisi seperti ini, jadi cepat lakukan saja dan pergi."

"Ah ... benar juga. Aku akan berikan obat untukmu juga agar kalian bisa istirahat bersama."

"Aku pikir dijodohkan itu akan tidak saling cinta. Nyatanya kalian berhasil dengan hubungan ini," timpanya lagi sambil memasangkan infus di lengan Dokter cantik yang tidur memeluk sang suami.

"Awalnya sulit, tapi apa yang aku ambil harus aku lakukan, jadi jalani saja."

Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   36. Menghabiskan Waktu untuk Jajan

    Matanya berbinar melihat beberapa pedagang yang berjualan beraneka ragam makanan. Dia bingung harus mulai dari mana untuk membelinya."Apa Mas mau?" Di samping pedangan jajanan, Jenar menawari Damar yang hanya menggeleng pelan.Mengenakan pakaian casual, dan aroma tubuh yang harum menambah ketampanan suami Jenar Nareswari, apalagi dia datang beraama wanita cantik dengan dres selutut dan cardigan rajut yang bersamanya, mereka terlihat serasi. "Bukankah tujuannya membeli es cream. Kenapa jadi ke sini.""Sungguh Mas tidak mau?""Tidak, sayang." Damar menggandeng isterinya setelah pesanan selesai dan dibayar. Seperti seorang ayah yang sedang pergi bersama puterinya minta jajan.Mereka kembali berjalan melihat-lihat makanan yang ada di sana. Seperti surga jajanan, dan itu membuat Jenar senang. "Sudah beberapa kali Mbak Asri ingin mengajakku ke sini, tapi aku belum sempat karena pasti ada yang memarahiku nanti." Sambil

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   37. "Marahmu, masih peduli padaku."

    "Apa kamu bersikap seperti ini ketika pacaran dengan pria lain, manja sekali."Damar menyeka dengan tisu bekas es cream di sudut bibir isterinya. Dia menggeleng pelan dengan tingkah Dokter cantik yang sudah menjadi miliknya ini."Tidak juga, sikap Leo tidak bisa seperti Mas. Meski tegas dan berwibawa, hanya Mas yang menuruti semua keinginanku.""Kamu mengerjaiku," gerutu Damar. Ini memang tidak biasa dia lakukan, meski kesal tapi dia menikmati karena istrinya tersenyum kembali."Mas, besok aku ada undangan seminar di Hotel Kencana, aku baru dapat undangan nya tadi sebelum berangkat ke sini. Bisa Mas antarkan?" tanya Jenar."Kenapa tiba-tiba. Bisakah tidak datang saja?"Jenar menggurungkan niat untuk menyuapkan sendok berisi es cream ke mulutnya, kemudian menatap tajam. "Kenapa, Mas? Ini hanya seminar saja. Aku tidak berkencan dengan pria lain." "Kenapa jawabanmu seperti itu, aku bertan

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   38. Alasan yang Tak Masuk Akal

    "Lalu? Boleh tidak aku berangkat, Mas?" "Tunggu 10 menit, aku akan antar." Jenar mengendus kesal, karena beberapa Dokter yang akan ikut Seminar mengajaknya berangkat lebih awal. Jenar menutup sambungan teleponnya begitu saja karena kesal, apalagi temannya yang lain sudah menunggu. Kemarin Jenar memang salah bicara, namun pagi-pagi sekali tadi Damar bilang boleh. "Sudah tunggu saja, Dok. Telat 30 menit juga tidak apa-apa." "Tidak begitu, Dok. Aku terlihat sedang mempermainkan waktu. Daripada terlambat mending batalkan saja. Alasan melarangnya tidak masuk akal. Entahlah ...." Jenar memilih menunggu suaminya dengan rasa kesal. Damar sendiri alasannya apa sampai melarang agar tidak ikut. Dia malu saja pada yang lain sudah menunggu. Apalagi dia mengundurkan jadwal hari ini karena Seminar. "Ayo masuk." Seseorang yang ditunggu sejak tadi akhirnya datang, dan memanggil dari dalam mobil. Dengan perasaan kesal, Jenar masuk tanpa ingin mengajak bicara. Dia memalingkan wajah setelah memas

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   39. Melarang Satgas

    Damar tidak bicara, dia berjalan keluar Hotel dan segera pergi dengan mobil kesayangannya. Tidak ada obrolan apapun ketika perjalanan pulang. Jenar sendiri ragu untuk membuka pembahasan, takut salah bicara dan berdebat hebat. "Mama menghubungiku tadi, beliau bilang acara maju seminggu dari tanggal sebelumnya. Aku bantu untuk izin pada atasanmu nanti, pulang 2 hari sebelum acara, tapi aku pulang malam sebelum hari H. Aku harus tugas ke Papua untuk mengecek di sana," jelas Damar, meski istrinya seperti tidak peduli, namun ucapannya di dengar baik oleh Jenar. "Aku berangkat lusa, jadi berhati-hatilah di rumah." Otak Jenar berpikir, jika lusa berangkat, itu artinya dia tidak akan bertemu Damar kurang lebih 3 minggu. Setelah mencerna dengan baik, Jenar menatap suaminya. Ketika hubungan mereka sedang tidak baik, Damar malah akan berangkat tugas. Memang hanya mengecek saja, tapi tetap saja, dia tidak akan bertemu suaminya. "Kenapa lama sekali?" Jenar mulai membuka suara dan menanyaka

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   40. Malah Apes!

    Sampai malam, Jenar tidak pulang. Sejak tadi Damar sudah menunggunya di depan rumah yang Jenar tempati. Teleponnya juga tidak dijawab. Berkali-kali, dia coba hubungi atau kirimkan pesan, Jenar tetap tidak menjawabnya. "Izin Komandan, apa Dokter Jenar belum pulang?" tanya Dika, sejak tadi atasannya itu diam di depan rumah istrinya hingga jam menunjukkan pukul 10 malam. "Belum, apalagi teleponnya tidak dijawab." Rasa khawatir dan bingung harus mencarinya ke mana sedang menghantui Damar, dia hanya bisa menunggu istrinya. Tak lama ada motor yang berhenti di depan rumah yang Jenar tempati. "Komandan!" Sapaan dari seseorang yang mengantarkan Jenar dari pos Provos. "Terima kasih, Pak," tutur Jenar sebelum Prajurit itu kembali ke Pos setelah pamit dengan Damar. Jenar berjalan melewati Damar yang sejak tadi menunggu, jalannya sedikit pincang dengan lutut yang terluka. Tak peduli isterinya akan kembali marah atau tidak, Damar mengikuti masuk. Masih diam, Jenar meletakkan barang bawaannya

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   41. Bukan Marah hanya Kesal

    "Itu ide bagus, kamu kerja di sini dan aku kerja di sana. Apa boleh begitu?" Tatapan tajam itu membuat Damar tersenyum. Wajah kesal Jenar sungguh menggemaskan. Padahal tadi dia turun dari mobil dan menuntut jawaban, sekarang dia malah bermanja-manja di pangkuan suaminya. Jenar hanya kesal, tuduhan tidak mendasar itu membuat Damar melarangnya dekat dengan teman laki-lakinya. Hanya berteman saja tidak boleh. Itu semua karena Sheila, menjadikan Damar yang baik dan perhatian menjadi sosok yang keras dan tidak percaya pada pasangannya. Dia melarang tanpa alasan yang logis. Namun, dia bersikap seperti ini karena takut kehilangan Jenar. Hatinya sudah merasa nyaman pada wanita pilihan orang tuanya, sikapnya memang suka membuat kesal, namun manja Jenar sangat disukai. Itu artinya isterinya memang menyukainya. "Lihat saja besok Mbak Wulan akan memarahimu. Aku adukan besok, kalau Mas sudah membuatku menangis." "Adukan saja, paling juga aku tidak ingin bertemu denganmu setelahnya." "Jahat sek

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   42. Peliharaan Baru

    Jenar sedang duduk di samping Damar yang bicara dengan beberapa rekannya. Di bawah meja, dia menarik tangan Damar dan memainkan jarinya. Hanya obrolan ringan memang, tapi sejak tadi belum selesai juga. Seperti sedang melakukan sidang, dan Jenar sudah sangat bosan. Apalagi obrolan laki-laki apa serunya."Sepertinya isterimu sudah bosan," sahut salah satu rekannya.Jenar langsung memasang wajah sedih, karena memang dia sedang bosan. "Sepertinya jajan akan mengurangi rasa bosanmu," bisik suaminya lirih."Apa aku ini anak kecil yang sedang disogok? Tapi sini uangnya, aku jajan saja kalau begitu. Jajan dengan uang suami itu jauh lebih menyenangkan dari pada uang sendiri."Damar hanya menghela nafas dengan menggeleng pelan. "Takut kurang, Mas." Jenar mengambil dompet yang dipegang ketika suaminya akan mengambilkan uang.Dengan perasaan senang, Jenar berjalan pergi ke warung yang tidak jauh dari tempat suaminya bertemu di rumah temannya yang satu komplek juga. Matanya sudah berbinar melihat

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   43. Membantu Bersiap Satgas

    "Kenapa tidak bilang sejak tadi, aku jadi malu. Kesannya jahat sekali diriku." Sesampainya di rumah dinas Damar, mereka mulai membahas niat Damar membeli burung itu. Dengan tatapan merasa bersalah, Jenar menatap sang suami. "Tidak enak mau beri uang cuma-cuma, jadi ya aku beli saja peliharaannya. Nanti aku akan berikan pada Pak Danki karena dia suka koleksi burung, kalau kamu tidak suka." "Tugasku bertambah karenamu burung, tapi cantik juga ya." Mata Jenar menatap burung cantik itu dalam sangkar. Namun, dia juga kesal karena suaminya tidak bilang lebih dulu. "Kalau mau di tambah lagi saja biar ada temannya," sahut Damar. Seketika tatapan tajam itu mengarah pada sang suami. "Ya, sekalian nanti pelihara kucing, kelinci, angsa, bebek, semua saja. Biar aku yang urus." Dia melenggos kesal ketika sang suami tersenyum tipis. "Jangan begitu dong sayang. Kamu besok tidak bertemu denganku, awas kangen, apalagi di sana jarang sinyal. Ingat jika aku tidak langsung menjawab telepon atau memb

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-09

Bab terbaru

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   82. Teman Wanita

    "Izin, Ndan! Selamat sore! Baru pulang?" "Sore. Apa isteriku ada di dalam?" tanya Damar yang baru pulang dari latihan hari ini. Jam menunjukkan pukul 5 saat dia sampai Batalyon. "Iya, Ndan. Beliau ada di dalam." Damar melangkah masuk, coba melihat isterinya yang katanya di dalam. Terlihat dia sedang duduk sambil membungkus beberapa hadiah untuk acara besok. Damar tidak langsung menghampiri, dia menatap dari ambang pintu. Kadang dia merasa bersalah ketika melarang Jenar melakukan pekerjaannya. "Loh ... Pak Danyon di sini. Mau jemput Nyonya Jenar bukan, Pak?" Jenar yang mulanya tidak tau kedatangan Damar langsung mencari di mana suaminya berada. Senyumnya mengembang ketika ada pria yang dia cintai berjalan ke arahnya setelah menjawab pertanyaan salah satu anggota Persit. "Apa belum selesai?" tanya Damar. "Izin, sudah, Ndan. Semua selesai, tinggal persiapan untuk besok. Mau mengajak Nyonya Jenar pulang bukan, Ndan?" "Jika sudah selesai, boleh kah?" "Izin, boleh, Ndan. S

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   81. Merasa Bersalah

    "Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   80. Rujak Buah Serut

    "Kenapa, sudah makan dan habiskan." Jenar hanya menatap makanan yang baru dia makan beberapa suap saja. Padahal tadi begitu senang bisa makan diluar berdua. Nyatanya, setelah mengisi perutnya beberapa suap, dia tidak ingin lagi. "Mas saja yang makan, aku mual." Mata yang berkaca-kaca tanda dia memang sedang menahan rasa mual. Kasihan juga jika sudah seperti ini, Jenar malah tidak bisa makan dengan lahap, rasa mual menyiksanya. Meski itu tanda baik, akan tetapi Damar kasihan pada istrinya. "Enak?" Jenar menangguk senang, dia menyedot susu pisang yang dia minum. Damar mengusap ujung kepala istrinya, dari makanan yang dipesan dia hanya makan 2 suap saja setelahnya Damar yang menghabiskan, dia sangat ingin makan itu, tapi malah mual. Jenar belum tau apa yang pas untuk perutnya, hanya susu pisang yang tidak membuatnya mual. "Maafkan aku, Mas," ucapnya. Usia kandungannya jalan 3 bulan, meski sesekali masih merasa sakit dibagian perutnya, kondisi kehamilan Jenar tetap terkontrol. Apa

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   79. Rencana Gagal

    "Izin, Pak Danyon. Apa kabar!" Dengan sikap hormat, orang dihadapan Damar menjabat sebelum dipersilahkan duduk kembali. "Lama tidak bertemu, Anda juga tidak ada kabarnya, ke mana saja?" Damar tampak senang teman satu satuan dulu datang berkunjung. "Aku masih menjalankan tugas ku di lapangan. Beruntung Anda sekarang sudah dengan tenang membuat rencana untuk Prajurit. Bekerja di balik meja kerja ini."Pria dihadapan Damar adalah seorang kapten, beliau pernah menjadi satu regu ketika penugasan. Belum lagi mereka sering di perintahkan untuk tugas sebelum akhirinya Damar menjadi seorang Komandan Batalyon sekarang. Mereka malah asyik bicara. Apalagi kedatangan Kapten Bambang memiliki sebuah tujuan bukan hanya saling sapa. Damar untuk pulang karena ada tamu, entah akan seperti apa Jenar nanti marah padanya, yang pasti dia tidak bisa pulang sekarang. "Tidak bisakah Anda bergabung latihan kita lusa, satuan mengadakan latihan gabungan aman bersama NKRI, jika mau saya kirimkan jadwalnya."

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   78. Semakin Sensitif Saja

    "Puas sekali menggoda orang, sekarang malah tertawa," gerutu bumil yang masih pagi sudah bawel setelah mengobrol dengan suaminya. "Makanya kamu juga jawabnya begitu. Tenanglah, Sayang, aku masih lama di sini. Karir yang aku jalani di sini masih terbilang baru. Untuk rumah baru, nanti aku coba bicarakan dengan salah satu teman. Kita pilih yang nyaman untukmu." Damar hanya membohongi Jenar tentang pindah tugas ke Papua. Dia diperbolehkan untuk fokus di Batalyon dan juga istrinya. Apalagi kondisi kehamilan sang istri sedang tidak baik, meski harusnya mengutamakan tugas. "Kamu suka sekali menggoda isterimu, sepertinya masa kehamilan Jenar sangat manja. Dikit menangis, ingat menangis, apa yang dia mau menangis," sahut Susi. "Mama sudah rapi, mau ke mana?" tanya Damar. "Mama hari ini mau pulang, ada Wulan dan ibumu juga di sini. Nanti 3 bulanan Mama akan datang. Beberapa minggu saja kan. Titip anak Mama yang bawel ini, dia akan semakin merepotkanmu dengan tingkah manjanya," balas Susi.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   77. Pindah Tugas

    "Komandan!" Dika datang dengan 4 anggota Polisi, mereka yang awalnya menantang Damar hampir akan pergi sebelum Polisi mengejar mereka dan menendangnya karena lari. "Bahu kiri Anda—" "Ini hanya goresan saja. Apa wanita tadi sudah aman?" tanya Damar. "Ternyata wanita itu dikejar karena motor yang dia gunakan dianggap kredit macet, 2 pria itu mengikutinya sejak keluar dari tempatnya bekerja," jelas Dika yang tau sedikit masalah wanita itu. Damar menemui wanita itu dan memastikan dengan benar masalah mereka. Setelah itu Damar coba mengobati lukanya sebelum dia pulang. Ini akan menjadi masalah untuknya, ketika Jenar tau. Jam munjukan pukul 12 malam ketika Damar sampai di rumah. Rasa bersalah terlihat jelas ketika melihat isterinya menunggu di ruang tamu sampai tertidur. "Bukankah Mas bilang sudah sampai Bandara sejak pukul 8. Kenapa baru pulang?" "Ada masalah tadi di jalan, kamu bisa pastikan pada Mbak Widi besok kalau bertemu. Akh!" Rintihan lirih ketika Damar membuka jaket

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   76. Wanita Tak Dikenal

    Damar sampai di Bandara dan menunggu Dika yang akan menjemput, katanya mobil yang ditumpangi mengalami pecah ban di dekat Bandara, jadi Damar memilih menghampiri Dika menggunakan Taksi online. Jam menunjukan pukul 8 malam saat sampai di Solo. Rasa lelah dia rasakan, apalagi pesawat delay beberapa jam karena cuaca buruk. "Maaf, Komandan, harusnya saya tidak terlambat," ucap Dika ketika melihat Damar menghampirinya. "Apa sudah selesai?" Setelah meletakkan tas yang dibawa, Damar memghampiri Dika yang merapikan ban yang pecah itu ke bagasi, seperti baru selesai. "Mohon izin, baru selesai, Komandan, apa kita—" "Pak, tolong saya. Pria di sana mengikuti saya sejak tadi, bisakah saya pulang bersama dengan menggunakan motor di depan mobil Bapak."Seorang wanita pengguna jalan menghampiri Damar yang berniat akan pulang. Wanita itu tampak ketakutan ketika mengatakannya. Jalanan memang tidak begitu ramai, wanita itu langsung menghampiri Damar dan Dika. Wanita itu melihat Dika memakai seragam

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   75. Ngidam

    "Ngidam pengen suaminya pulang, bagaimana kalau jadi pindah tugas, akan sulit." Suara seseorang menghentikan tangis Jenar karena mendengarkan kata-kata itu. Hatinya semakin gelisah, dia hanya ingin suaminya pulang sekarang, agar merasa lega. "Aku telepon lagi nanti, aku bicara dulu dengan seniorku. Tidak apa-apa kan?" Meski bekerja di lingkup orang yang lebih tua, tidak membuat Damar besar kepala, karena dia juga masih baru di posisinya sekarang dan harus banyak belajar dari seniornya. "Sudahlah, makin bikin kesal saja." Jenar mematikan sambungan telepon begitu saja karena suaminya masih saja sibuk, padahal dia merindukannya. Lawan bicaranya hanya menatap layar ponsel sesaat panggilan masuk itu tertutup. Mood Jenae Hal seperti ini tidak biasa dia lakukan, mungkin juga karena efek hamil karena beberapa hari kemarin terus bersama dan sekarang ada tugas keluar kota. Namun, jika memang suaminya di pindah tugas, dia sunggu harus merelakan pekerjaannya untuk fokus pada keluarganya.

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   74. Ingin Bertemu Suami

    "Rumah rapi walau kamu sedang sakit, kalau bukan suami yang baik, apa coba. Yang banyak bersyukur, Nak." "Jangan terus memarahi anakmu, nanti dia malah kabur dan Damar menyalahkan kita tidak becus merawatnya," sahut Anggi pada besan yang juga temannya. Mereka dekat karena memang sudah berteman sejak lama. "Aku gemas padanya kalau sudah keras kepala." Yang di marahi hanya diam bersandar di ruang tengah rumah dinas Damar, baru tadi siang dia pulang dan sesampainya di rumah diperlakukan bak ratu karena tidak boleh melakukan apapun, apalagi Dokter bilang harus melewati trimester pertama ini agar janinnya benar-benar kuat untuk diajak melakukan kegiatan. "Kamu tidak menginginkan sesuatu, Je? Makan apa gitu?" tanya Wulan. "Apa ya, Mbak, pengen ketemu Mas Damar saja sih, gak pengen makan apa-apa." "Mau di tungguin suamimu ya. Sabar ya, Nak, kita di sini bersamamu. Lain kali kalau ada apa-apa bilang. Atau kamu mau pulang ke Jakarta saja agar bisa kita bantu," tutur Anggi. "Dan m

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status