Share

39. Melarang Satgas

Author: Nyemoetdz Kim
last update Last Updated: 2025-02-09 11:56:56

Damar tidak bicara, dia berjalan keluar Hotel dan segera pergi dengan mobil kesayangannya. Tidak ada obrolan apapun ketika perjalanan pulang. Jenar sendiri ragu untuk membuka pembahasan, takut salah bicara dan berdebat hebat.

"Mama menghubungiku tadi, beliau bilang acara maju seminggu dari tanggal sebelumnya. Aku bantu untuk izin pada atasanmu nanti, pulang 2 hari sebelum acara, tapi aku pulang malam sebelum hari H. Aku harus tugas ke Papua untuk mengecek di sana," jelas Damar, meski istrinya seperti tidak peduli, namun ucapannya di dengar baik oleh Jenar.

"Aku berangkat lusa, jadi berhati-hatilah di rumah."

Otak Jenar berpikir, jika lusa berangkat, itu artinya dia tidak akan bertemu Damar kurang lebih 3 minggu. Setelah mencerna dengan baik, Jenar menatap suaminya. Ketika hubungan mereka sedang tidak baik, Damar malah akan berangkat tugas. Memang hanya mengecek saja, tapi tetap saja, dia tidak akan bertemu suaminya.

"Kenapa lama sekali?" Jenar mulai membuka suara dan menanyaka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Related chapters

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   40. Malah Apes!

    Sampai malam, Jenar tidak pulang. Sejak tadi Damar sudah menunggunya di depan rumah yang Jenar tempati. Teleponnya juga tidak dijawab. Berkali-kali, dia coba hubungi atau kirimkan pesan, Jenar tetap tidak menjawabnya. "Izin Komandan, apa Dokter Jenar belum pulang?" tanya Dika, sejak tadi atasannya itu diam di depan rumah istrinya hingga jam menunjukkan pukul 10 malam. "Belum, apalagi teleponnya tidak dijawab." Rasa khawatir dan bingung harus mencarinya ke mana sedang menghantui Damar, dia hanya bisa menunggu istrinya. Tak lama ada motor yang berhenti di depan rumah yang Jenar tempati. "Komandan!" Sapaan dari seseorang yang mengantarkan Jenar dari pos Provos. "Terima kasih, Pak," tutur Jenar sebelum Prajurit itu kembali ke Pos setelah pamit dengan Damar. Jenar berjalan melewati Damar yang sejak tadi menunggu, jalannya sedikit pincang dengan lutut yang terluka. Tak peduli isterinya akan kembali marah atau tidak, Damar mengikuti masuk. Masih diam, Jenar meletakkan barang bawaannya

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   41. Bukan Marah hanya Kesal

    "Itu ide bagus, kamu kerja di sini dan aku kerja di sana. Apa boleh begitu?" Tatapan tajam itu membuat Damar tersenyum. Wajah kesal Jenar sungguh menggemaskan. Padahal tadi dia turun dari mobil dan menuntut jawaban, sekarang dia malah bermanja-manja di pangkuan suaminya. Jenar hanya kesal, tuduhan tidak mendasar itu membuat Damar melarangnya dekat dengan teman laki-lakinya. Hanya berteman saja tidak boleh. Itu semua karena Sheila, menjadikan Damar yang baik dan perhatian menjadi sosok yang keras dan tidak percaya pada pasangannya. Dia melarang tanpa alasan yang logis. Namun, dia bersikap seperti ini karena takut kehilangan Jenar. Hatinya sudah merasa nyaman pada wanita pilihan orang tuanya, sikapnya memang suka membuat kesal, namun manja Jenar sangat disukai. Itu artinya isterinya memang menyukainya. "Lihat saja besok Mbak Wulan akan memarahimu. Aku adukan besok, kalau Mas sudah membuatku menangis." "Adukan saja, paling juga aku tidak ingin bertemu denganmu setelahnya." "Jahat sek

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   42. Peliharaan Baru

    Jenar sedang duduk di samping Damar yang bicara dengan beberapa rekannya. Di bawah meja, dia menarik tangan Damar dan memainkan jarinya. Hanya obrolan ringan memang, tapi sejak tadi belum selesai juga. Seperti sedang melakukan sidang, dan Jenar sudah sangat bosan. Apalagi obrolan laki-laki apa serunya."Sepertinya isterimu sudah bosan," sahut salah satu rekannya.Jenar langsung memasang wajah sedih, karena memang dia sedang bosan. "Sepertinya jajan akan mengurangi rasa bosanmu," bisik suaminya lirih."Apa aku ini anak kecil yang sedang disogok? Tapi sini uangnya, aku jajan saja kalau begitu. Jajan dengan uang suami itu jauh lebih menyenangkan dari pada uang sendiri."Damar hanya menghela nafas dengan menggeleng pelan. "Takut kurang, Mas." Jenar mengambil dompet yang dipegang ketika suaminya akan mengambilkan uang.Dengan perasaan senang, Jenar berjalan pergi ke warung yang tidak jauh dari tempat suaminya bertemu di rumah temannya yang satu komplek juga. Matanya sudah berbinar melihat

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   43. Membantu Bersiap Satgas

    "Kenapa tidak bilang sejak tadi, aku jadi malu. Kesannya jahat sekali diriku." Sesampainya di rumah dinas Damar, mereka mulai membahas niat Damar membeli burung itu. Dengan tatapan merasa bersalah, Jenar menatap sang suami. "Tidak enak mau beri uang cuma-cuma, jadi ya aku beli saja peliharaannya. Nanti aku akan berikan pada Pak Danki karena dia suka koleksi burung, kalau kamu tidak suka." "Tugasku bertambah karenamu burung, tapi cantik juga ya." Mata Jenar menatap burung cantik itu dalam sangkar. Namun, dia juga kesal karena suaminya tidak bilang lebih dulu. "Kalau mau di tambah lagi saja biar ada temannya," sahut Damar. Seketika tatapan tajam itu mengarah pada sang suami. "Ya, sekalian nanti pelihara kucing, kelinci, angsa, bebek, semua saja. Biar aku yang urus." Dia melenggos kesal ketika sang suami tersenyum tipis. "Jangan begitu dong sayang. Kamu besok tidak bertemu denganku, awas kangen, apalagi di sana jarang sinyal. Ingat jika aku tidak langsung menjawab telepon atau memb

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   44. Rindu dan Khawatir

    "Aku hanya 3 hari saja, bukan 3 tahun. Kenapa malah menangis?" "Masalahnya 3 hari juga acara kita, hatiku gelisah dan takut." Jenar dibuat menangis karena hatinya gelisah ketika suaminya akan pergi tugas. Walau hanya beberapa hari saja, jarak yang dia tempuh sangat jauh, belum lagi acara pernikahan mereka yang sudah dekat. Ini juga pertama kalinya untuk Jenar di tinggal tugas, biasanya mereka akan bertemu walau dengan kesibukan masing-masing. Belum lagi acara pernikahan mereka yang akan diadakan, menambah rasa khawatir Jenar. "Takut apa sayang? Aku hanya mengecek Prajurit di sana, dan bertemu pemimpin kelompok, tidak sampai pergi kepelosok." Damar coba untuk membujuk Jenar yang merasa khawatir. Bagaimana pun tugas tetap di jalankan, mau sepenting apa acara mereka, pengabdian pada Negara yang harus dijunjung tinggi sebagai abdi negera. "Mas seperti gampang sekali bicara seperti itu. Ini pertama kali untukku, jadi aku gelisah," gerutu Jenar dengan air mata yang menangis. "Baiklah,

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   45. Pakaian Dinas Diranjang

    Benar saja, ketika masuk rumah, orang yang sejak tadi di tunggu akhirnya menghubungi tanpa rasa bersalah. "Maafkan aku karena baru bisa menghubungimu, aku baru menyelesaikan tugasku untuk hari ini. Bagaimana harimu, apa sudah merasa rindu?" tanya seseorang dari balik sambungan telepon. Suaranya begitu candu, sejak berangkat suaranya begitu dirindukan. "Masih di tanya. Ya, iya—" Tangisnya pecah begitu mendengar suara sang suami. Pertama kalinya dia ditinggal tugas ketika perasaannya begitu mencintai. "Jangan menangis lagi, nanti kamu akan dianggap Mbak Kunti kalau terdengar menangis di rumah sendiri," goda Damar. "Biarkan saja, eh ... ngomong-ngomong barang apa saja yang mau di bawa, biar Mas langsung ke Jakarta setelah dari sana." Coba mengalihkan obrolan, dia tak ingin merasa sedih ketika sudah mendengar suara suaminya. Apalagi besok dia harus pulang, dan mempersiapkan pernikahan tanpa suaminya. "Beberapa pakaian saja, pilihkan untukku. Jangan banyak-banyak karena di ru

    Last Updated : 2025-02-09
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   46. Menanti Kabar.

    Meski tidak ada acara besar, tapi tetap saja di rumah Jenar repot. Ada beberapa saudara yang datang untuk membantu memasak. Suasana menjadi rame, namun tidak dengan hati Jenar. Seharian kemarin Damar tidak ada kabar, pagi ini dia yang berharap pesannya di balas terus menatap layar ponsel. Walau malam setelah sampai dia menonton konser, tapi seperti ada yang kurang. "Kau memang harus membiasakan diri untuk situasi seperti ini Jenar. Suamimu Abdi Negara, apa yang kau pilih, itu yang kamu harus jalani. Ya, kau harus tanamkan hal itu di hatimu." Jenar coba menenangkan diri, mungkin memang benar, seorang wanita yang menikah dengan Abdi Negera, dia hanya bisa memiliki cintanya, tidak dengan raganya. "Tapi ini bikin sesak di dada menunggu kabarnya," renggek Jenar yang masih saja tidak bisa merubah pikirannya agar tetap tenang. Bagaimana bisa tenang, ketika acara sudah di depan mata, namun suaminya tak memberi kabar. Jenar sampai sore kemarin di Jakarta, dan pagi ini dia hanya bermalas-ma

    Last Updated : 2025-02-10
  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   47. Gelisah dihari Pernikahan

    "Memangnya siapa dia, Mbak?" "Mantan istri Mas Damar. Ngomong-ngomong bagaimana bisa dia tau alamat rumahku." Jenar yang merasa aneh coba melihat karangan bunga seperti apa yang dia kirimkan. Apa karangan bunga duka. Tertulis happy wedding di bunga karangan itu, namun apa maksudnya mengirimkan bunga itu ketika dia juga yang memberikan luka dan trauma pada Damar. Belum lagi karena dia, Jenar menjadi korban dari Damar yang berpikir kalau wanita itu sama buruknya seperti Sheila. Saat ingin memgambil foto untuk mengirimkan pada Damar, seseorang memeluknya dari belakang. "Jeje—" Panggilan itu membuat Jenar tersenyum bahagia. "Kau datang juga, aku pikir kau tidak mau datang ke pernikahan temanmu ini. Aku merindukanmu." Jenar memeluk erat sahabatnya yang baru datang dari Medan. Karena karir, mereka terpisahkan, apalagi sahabatnya itu sudah memiliki pasangan. "Maafkan aku, menjadi ibu hamil itu repot, tapi untung perjalanan ke sini lancar. Keponakanmu yang ada di sini tidak merepotka

    Last Updated : 2025-02-10

Latest chapter

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   97. Tamat

    "Memang Danur punya uang untuk membelinya?" Pertanyaan Prajurit itu membuat bocah itu berpikir. Ekspresinya begitu mengemaskan, selain imut, tampan, dia juga sama seperti ayahnya. Pesona ayahnya turun ke anaknya sekarang. "Danur, Ayah sudah punya anak baru. Bukankah Danur juga punya ayah baru." Damar datang dengan menggendong anak Widi yang baru 10 bulan, dan mengejek putranya itu. Menjadi Komandan Batalyon selama hampir 6 tahun, Damar banyak mendapatkan penghargaan dan prestasi yang dia dapat selama diposisinya. Bukan hanya itu, selain terkenal tegas, Damar juga bersikap baik pada bawahannya. Bukan berarti salah lantas dia akan terus mencari kesalahan, Damar memberikan nasehat yang bisa membuat bawahannya maju bukan malah diam di tempat. Beberapa Prajurit dibantu untuk pendidikan mereka. Dia membantu semampu dia, karena dia tau betul bagaimana berjuang di masa-masa seperti ini. Tegasnya Damar, dia selalu disiplin dan tidak menerima kesalahan yang fatal. "Itu adik Celine, itu b

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   96. Mau Ayah Baru Saja!

    "Om, mana Ayah Danur?" Dengan pertanyaan yang belum jelas, anak usia 4 tahun itu berdiri di hadapan para Prajurit yang sedang berbaring mendengarkan arahan. "Danur, tunggu Bunda!" Langkahnya terhenti ketika melihat putranya sedang berdiri di hadapan para Prajurit. Senyum wanita cantik itu mengembang, anak kecil yang dia cari tanpa rasa malu ikut dalam barisan itu seperti seorang Komandan yang berdiri di depan Prajurit. "Ayah!!" Teriakan itu membuat wanita cantik itu berlari sebelum anak kecil itu berhasil pada ayahnya. Tawa dari para Prajurit yang berbaris terdengar ketika anak kecil itu menyelai ucapan sang ayah ketika sudah dalam gendongan. "Kenapa Ayah pergi sendiri. Bunda memaksa Danur makan, Danur masih kenyang," keluhnya. "Pak Wadan, gantikan aku bicara, anak kecil ini akan terus menggangguku," pintanya pada Wadan yang berdiri di sampingnya. "Ke mana Bunda sekarang?" tanyanya pada sang anak. Dia mundur ketika wakil komandan mengantikannya bicara dengan beberapa Praj

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   95. Menjalani Hidup Setelah Duka

    "Akhirnya anak Ayah bisa pulang hari ini." Dalam gendongan sang ayah keluar rumah sakit, bayi kecil itu tampak tenang. Jenar berjalan selangkah dibelakang Damar yang begitu senang setelah hampir 1 bulan putranya di ruang NICU, akhirnya hari ini diperbolehkan pulang. Kondisinya berangsur membaik walau berat badannya masih kurang. Sore itu akhirnya Danur bisa berbaring di tempat tidur mereka. Damar sangat senang karena bisa menggendong lebih lama dari pada di NICU hanya berapa jam saja dalam sehari. Momen ini yang di tunggu sejak beberapa minggu. Sejak keluar rumah sakit, keseharian Damar berbeda. Pagi dia akan membantu istrinya merawat putranya. Membiarkan Jenar mengurus pekerjaan rumah yang lain. Damar juga menemani putranya berjemur ketika dia selesai Apel. "Aku sudah selesaikan tugasku. Aku pulang lebih dulu," ucap Damar. "Siap, Komandan!" "Sejak ada mainan hidup, aku selalu ingin pulang dan bertemu dengannya." "Siap, Ndan. Namanya juga anak baru lahir. Pastinya senang

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   94. Danurdara

    "Mbak baik-baik saja?" Widi menghampiri Jenar yang termenung di depan ruang rawat. Bukannya istirahat, dia malah diam di sana. Membiarkan Damar yang sedang sakit di dalam di temani ibunya. Kehilangan dan juga kebahagian yang dirasakan sekarang seperti tamparan keras. Bukan hanya itu, Damar juga sakit saat kondisi seperti ini. "Ya, harusnya juga baik-baik saja. Bahkan aku ingin bergegas merawat suamiku yang sedang sakit. Kenapa aku secengeng ini, menjengkelkan sekali." Jemarinya menyeka air mata yang mengalir begitu saja. "Aku yakin Mbak pasti kuat. Aku tidak ingin mengatakan banyak hal karena aku tau jika Mbak mendapatkan itu semua dari keluarga yang mendukung. Mbak harus ingat, masih ada satu anak yang bisa Mbak rawat dan perjuangkan. Ingatlah diriku ini, bagaimana kisahku dengan putriku. Yang tabah, semua pasti akan baik-baik saja." Widi memegang tangan temannya itu. Dia baru bisa bertemu dengan Jenar kali ini. Dia tidak ingin mengganggu ketika di masa duka dan kebahagian y

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   93. Saling Menguatkan

    "Istirahatlah, Nak, kamu terlihat begitu lelah," tutur Susi pada menantunya yang baru sampai dari Jakarta untuk memakam kan putrinya didekat makam ayahnya."Aku masih ingin melihat putraku, Ma. Rasa bersalah ini semakin mencekik ku. Aku tidak becus menjadi seorang ayah, ini terjadi karena diriku." Tangis Damar pecah ketika bicara dengan Susi. Dia menahan agar bisa menerima semua ini, tapi dia tidak sanggup lagi. Rasa sesaknya kian mencekik, dan dia luapkan pada Susi.Wulan yang mengurus semua di sana ketika Damar kembali ke Solo untuk istri dan anaknya yang lain. "Semua sudah menjadi takdir yang Tuhan gariskan. Kamu boleh bersedih, tidak dengan menyalahkan dirimu. Ini semua bukan kesalahanmu, memang kondisi kehamilan istrimu yang tidak baik."Dengan kondisi kaki yang masih dibantu penyangga untuk berjalan, Susi pergi bersama Ragil ke Solo. Dia tidak bisa hanya diam, ketika putra putri mereka membutuhkan mereka orang tuanya."Ikhlas kan, maka kamu akan terima ini semua. Istrimu membutu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   92. Duka Dibalik Bahagia

    "Saya pikir Mbak Jenar akan mengatakan pada Bapak, jika tadi melakukan kontrol mingguan bersama saya karena tak ingin menganggu istirahat Anda."Mendengar penjelasan Widi, bisa apa Damar ketika ini sudah kejadian. Waktu itu juga, Damar mendengarkan penjelasan Dokter Melati tentang kondisi istrinya.Sudah rasa sakit dia rasakan tanpa hilang, Jenar harus merasakan proses induksi karena ingin persalinan normal. Ada rasa kesal, tapi Damar tidak bisa meluapkan sekarang. Fokusnya ada pada Jenar sekarang."Mbak, bisakah kau datang. Jenar mau melahirkan di usai kandungan 25 minggu, aku harap Mbak bisa datang sekarang." Tidak hanya pada Wulan, dia juga minta doa pada Ibu dan mertuanya agar semua berjalan lancar. Meski dengan resiko yang besar."Maafkan aku, Mas," tutur Jenar dengan rintihan lirih merasakan sakit."Aku tidak ingin membahasnya, kamu harus kuat, agar mereka bisa selamat begitu juga dirimu. Kamu hampir mencelakai dirimu sendiri. Sekarang lihatlah hasilnya, tapi aku tidak mau menya

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   91. Merahasiakan Kondisi Jenar

    Padahal baru semalam, Damar memaksa untuk pulang setelah merasa lebih baik. Dia kasihan saja pada istrinya, apalagi Jenar tidak mau saat Damar akan menghubungi Wulan agar datang menemani istrinya.Damar memilih istirahat di rumah, tak ingin mengganggu suaminya, Jenar di temani Widi pergi ke rumah sakit untuk kontrol kehamilan. Namun, kabar kali ini membuat Jenar khawatir apalagi masa kehamilan masih 6 bulan, tepatnya 25 minggu. Padahal, rencananya mereka ingin mengadakan 7 bulanan di Jakarta, 3 bulanan kemarin mereka lewatkan karena kondisi Mama Jenar."Bisa saja waktu melahirkan lebih awal jika kondisinya seperti ini terus. Apa kau sudah merasakan mulas? Dari USG ini bayi sudah masuk panggul, berada di jalannya seperti bersiap akan keluar, dan menekan, hal itu membuat kontraksi palsu.""Ya, semalam aku sudah merasakan mulas, namun hilang timbul, tapi sejak pagi ini sudah mulai teratur rasa sakitnya. Padahal usianya masih 25 minggu, bukankah itu akan beresiko jika melahirkan di waktu

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   90. Kondisi Damar

    "Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d

  • Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon)   89. Perhatian dan Kesabaran Damar

    "Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status