All Chapters of Jodoh untuk Pak Danyon (Komandan Batalyon): Chapter 81 - Chapter 90

97 Chapters

81. Merasa Bersalah

"Apa mual, Mbak?" "Sejauh ini tidak, Mbak. Apa memang maunya buah ya, Mbak. Sulit sekali makan nasi. Membayangkan saja sudah terasa mual." "Apalagi bayi kembar, seperti mualnya dobel, tetap semangat. Setelah trimester pertama akan sedikit merasa nyaman. Walau hanya sebentar. Besok ada kegiatan lomba, nanti pukul 2 siang sepertinya ibu-ibu coba untuk menyiapkan hadiah. Apa Mbak ikut?" "Ikutlah, Mbak, malu kalau gak ikut apalagi alasannya hamil. Semua orang juga merasakan itu, aku tidak mau malah di anggap seenaknya sendiri karena kedudukan suamiku." "Lalu untuk jabatan yang ketua berikan bagaimana?" tanya Widi. "Tidak, Mbak. Biar yang lain saja, aku belum siap saja." Jenar diminta menjadi ketua ibu-ibu Persit, dia malah menolaknya. Dia tidak mau dipikir suaminya Danyon, lantas dia bisa menjabat sebagai Ketua. Apalagi dia masih baru. Pengalamannya kurang, itu pikir Jenar. "Aku belum tau banyak, jadi takut salah. Apalagi banyak para senior yang mampu memimpin. Ketua sekarang
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

82. Teman Wanita

"Izin, Ndan! Selamat sore! Baru pulang?" "Sore. Apa isteriku ada di dalam?" tanya Damar yang baru pulang dari latihan hari ini. Jam menunjukkan pukul 5 saat dia sampai Batalyon. "Iya, Ndan. Beliau ada di dalam." Damar melangkah masuk, coba melihat isterinya yang katanya di dalam. Terlihat dia sedang duduk sambil membungkus beberapa hadiah untuk acara besok. Damar tidak langsung menghampiri, dia menatap dari ambang pintu. Kadang dia merasa bersalah ketika melarang Jenar melakukan pekerjaannya. "Loh ... Pak Danyon di sini. Mau jemput Nyonya Jenar bukan, Pak?" Jenar yang mulanya tidak tau kedatangan Damar langsung mencari di mana suaminya berada. Senyumnya mengembang ketika ada pria yang dia cintai berjalan ke arahnya setelah menjawab pertanyaan salah satu anggota Persit. "Apa belum selesai?" tanya Damar. "Izin, sudah, Ndan. Semua selesai, tinggal persiapan untuk besok. Mau mengajak Nyonya Jenar pulang bukan, Ndan?" "Jika sudah selesai, boleh kah?" "Izin, boleh, Ndan. S
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

83. Cemburu

"Memangnya kenapa?" "Ingin tau, siapa tau kan ada yang merasa ada peluang." Tatapan Jenar mengarah pada sang suami yang hanya diam sambil menghela nafas pelan. "Aku dengar pernikahannya gagal, mereka juga sempat bertengkar minggu kemarin di sini. Kepala Dokter sudah menegurnya, tapi ... entahlah." "Oh ... janda." Jenar memperjelas ucapan temannya dengan menyebut janda. Damar sendiri tidak mengatakan apapun. Dia hanya diam, tidak ingin malah salah bicara. Dia tau jika isterinya sedang cemburu melihat kedekatan mereka tadi. Karena memang mereka pasien terakhir, Jenar dengan santai bicara sambil melihat kondisi anak mereka melalui alat USG. Pembahasan itu jadi ke seseorang yang menyapa Damar tadi. Kalau begini, apa yang bisa Damar lakukan, membantah juga akan salah. Dia seakan pasrah dengan apa yang sedang isterinya katakan. Meski mulutnya ingin menjelaskan, dia tak ingin malah membuat mood Jenar buruk. "Bukankah Anda mengenalnya, Pak Danyon?" "Ya, suamiku mengenalnya. Aku
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

84. Kecelakaan

"Ada konsumsi di mobil, bisakah kalian ambil sisanya dan nikmati bersama," pinta Damar pada mereka yang sedang bersiap untuk kegiatan hari ini. Dia sendiri membawa satu kardus berisi snack untuk anak-anak yang mengikuti lomba. Dalam memperingati hari jadi Batalyon, mereka mengadakan perlombaan di Lapangan dekat Asrama. Walau tidak semua yang ikut karena yang lain menjalankan tugas, tapi hari ini mereka akan bersenang-senang seperti izin dari Danyon. "Aku sudah buatkan, nanti biar aku ambil agak siangan. Biar enak makan siang-siang," ucap Widi yang menghampiri Jenar yang duduk di pinggir lapangan. "Terima kasih, Mbak. Apa ibu Mbak Widi tidak ikut ke sini?" "Tidak, beliau malah mabuk transportasi kemarin, jadi aku memintanya istirahat saja. Aku sendiri malu jika tidak datang." "Benar juga, Mbak. Mas Damar juga melarang tadi, aku tidak mau harua diam di rumah seorang diri," sahut Jenar. "Apa Pak Danyon akan ikut main? Kok tidak keliahatan." "Benar juga, ke mana dia tadi." Jenar c
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more

85. Keras Kepala Jenar

"Bagaimana kondisi Mama? Apa operasinya berhasil?" Damar segera menghubungi keluarganya di Jakarta untuk memastikan kondisi Susi, karena Jenar memaksa untuk pulang. Apalagi dia mengeluhkan perutnya yang sakit karena kaget mendapatkan kabar dari Ragil."Mama masih di ruang HCU, kondisinya berangsur baik. Pemulihan sebelum pindah ke ruang rawat. Maaf, Mas, jadi mengejutkan, takut Mbak Sekar malah semakin marah padaku nanti. Tolong maafkan aku, Mas," tutur Ragil."Tidak apa-apa. Kau sedang di rumah sakit mana? Bisakah aku bicara dengan dokternya. Aku akan tanyakan sendiri pekembangan Mama.""Aku akan masuk kalau begitu, nanti aku hubungi lagi kalau bertemu dengan Dokternya."Sambungan telepon Damar matikan, dia menatap Jenar yang masih menangis dengan kabar mamanya kecelakaan. "Masih terasa sakit? Kita ke rumah sakit ya?" Bukan hanya khawatir akan kondisi mertuanya, dia juga khawatir dengan kondisi Jenar."Tidak, bolehkah aku pulang, Mas? Aku—" Jenar kembali merasa tidak nyaman di perut
last updateLast Updated : 2025-03-04
Read more

86. Kecewa Lagi

"Dia itu memang susah untuk di kasih tau, sudah dibilang untuk hati-hati tetap saja keras kepala."Suara Dokter Melati terdengar ketika dia baru membuka mata. Kepalanya sedikit sakit ketika baru membuka mata, dia mengedipkan beberapa kali sebelum menatap punggung suaminya yang sedang bicara dengan Dokter."Apa bisa pergi jauh menggunakan pesawat?""Kalau kondisinya seperti ini mau memaksa, dia juga yang akan menyesal. Aku sudah jelaskan untuk berhati-hati karena rawan keguguran. Memang kondisi kehamilannya sudah akan masuk trimester kedua, tapi kondisinya tidak sama dengan semua ibu hamil. Jika dia bisa peduli dengan kondisi kehamilannya, maka dia akan menurut, kalau dia masih keras kepala, maaf jika ada apa-apa nantinya, aku sudah ingatkan."Damar semakin dibuat pusing, bukan berarti dia tidak ingin peduli dengan kondisi Susi. Dia terus menanyakan kondisi Susi di saat dia juga dibuat bingung oleh Jenar. Walau terkesan keras, Damar tetap takut terjadi sesuatu pada Jenar."Kau sudah sa
last updateLast Updated : 2025-03-05
Read more

87. Kata Maaf yang Tak Berarti

"Aku bersalah, aku juga terlalu keras kepala. Maafkan sikapku, Mas," ucap Jenar dengan derai air mata.Damar diam, dia tidak mau lagi bicara dan berujung Jenar makin terluka. Walau hati kecilnya sangat ingin memeluk, tapi Jenar kelewatan kali ini."Sudahlah, untuk apa terus minta maaf ketika kamu akan mengulanginya lagi. Aku akan ikuti apa yang kamu mau, apapun itu aku tidak akan menolaknya. Aku juga tidak akan menghalangi. Mau kamu pergi sekarang, oke, aku akan belikan tiket untukmu. Mau aku antar juga ayo. Apa yang kamu mau, tidak akan pernah mulut ini melarangnya lagi." "Tidak, Mas." Jenar menangis mendengar apa yang keluar dari mulut suaminya. Jika begitu apa tidak sama dengan berhenti peduli. Untuk apa hidup bersama jika mereka melakukan kegiatan masing-masing."Sebenarnya apa mau mu? Aku menuruti apa yang kamu mau kan? Jadi nikmati apa yang ingin kamu lakukan sekarang. Tapi ingat, jika ada apa-apa dengan anak-anakku, kamu orang pertama yang
last updateLast Updated : 2025-03-06
Read more

88. Ngidam Nasi Hajatan

"Mas, aku pengen makan, tapi menu yang ada di tempat nikahan. Satu piring saja, nanti sama es puter, sepertinya enak." Damar memasang ekspresi bingung, dia baru pulang dan langsung ditodong dengan keinginan Jenar makan hidangan yang ada di acara pernikahan. "Sayang, permintaanmu itu unik, bagaimana kita mendapatkan itu saat tidak ada acara pernikahan. Jangan yang aneh-aneh. Atau mau aku pesankan catring? Bukankah di catring makanannya sama di acara nikahan." "Tidak mau, aku ingin Mas datang dan membawa sepiring makanan dan membawanya pulang," pintanya. Otak Damar berpikir keras, ke mana dia akan mencari keinginan istrinya yang tiba-tiba. Meski nantinya dimakan atau tidak, Jenar menginginkannya. "Akan sulit mencari itu sayang. Tidak bisakah hal lain?" "Apa Mas mau bayi kita ileran nanti? Aku maunya itu, kenapa jadi menawar," elak Jenar. "Di mana aku harus mencarinya? Ada-ada saja. Sudahlah, sebaiknya kita masuk. Aku saja belum sempat duduk, kamu sudah menyergapku dengan p
last updateLast Updated : 2025-03-07
Read more

89. Perhatian dan Kesabaran Damar

"Permisi, maaf sebelumnya. Isteri saya sedang ngidam makan di tempat acara nikahan. Bolehkan saya dan istri saya masuk?" "Tentu, Pak, masuk saja, apalagi istrinya sedang ngidam, tapi makanannya tidak lengkap. Karena sudah malam juga, hanya beberapa saja yang masih ada. Kalau mau masuk saja," ucap wanita yang duduk di tenda depan sebagai penerima tamu. Jam menunjukkan pukul 22.10 saat akhirnya mereka menemukan tempat hajatan. Ketika orang diundang untuk datang, mereka berdua malah datang tanpa diundang, mencari malam-malam hanya karena Jenar ngidam. Damar menatap Jenar yang mengangguk mau setelah bertanya pada wanita itu. Dengan membuang segala rasa malu, Damar masuk setelah mengisi kotak amplop di depan sebelum masuk mengikuti wanita tadi mengantarkan langsung ke tempat makan. Tatapan aneh para keluarga terlihat ketika mereka masuk dengan menggandeng tangan. Meski orang yang temui tadi sudah menjelaskan pada mereka, tapi tetap saja ini membuat malu Damar pastinya, lain hal untuk
last updateLast Updated : 2025-03-09
Read more

90. Kondisi Damar

"Ada apa, Mas? Apa terasa sakit?"Jenar terbangun ketika mendengar rintihan lirih dari suaminya. Jam menunjukan pukul 4 pagi ketika suara suaminya membuat dia membuka mata. Beberapa waktu ini Damar begitu sibuk, namun dia tetap menyempatkan waktu untuk Jenar meski lelah.Tanpa menjawab, Damar masih saja merintih. Tangannya meremas selimut yang dikenakan dan wajah pucat pasih meringkuk menyamping. Karena perut yang membuat pergerakannya sulit, Jenar coba memanggil suaminya."Apa yang dirasakan, Mas, katakan?""Perutku rasanya sakit sekali, seperti diremas. Aku sudah coba minum obat, tapi rasanya tetap saja," keluhnya dengan suara lirih."Coba Mas tarik nafas perlahan. Apa ini sakit?" Jenar coba mengecek kondisi suaminya semampu yang dia bisa."Ya, di situ sakit." Jenar sepertinya tau apa yang sedang suaminya alami."Mas bisa bangun? Kita ke rumah sakit saja ya?" tanya Jenar."Tidak. Sebaiknya kembalilah tidur, masih terlalu pagi, aku—" Ucapannya terhenti ketika rasa sakit itu kembali d
last updateLast Updated : 2025-03-10
Read more
PREV
1
...
5678910
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status