Home / Fantasi / Kristal Jiwa Raja Naga / Chapter 21 - Chapter 30

All Chapters of Kristal Jiwa Raja Naga: Chapter 21 - Chapter 30

87 Chapters

21. Suara Serunai

Sementara itu, di dalam Lembah Pakisan, tempat yang dilindungi oleh pagar gaib dan dijaga cukup ketat oleh banyak penjaga di setiap pos-pos berupa bangunan gardu dari kayu dan bambu. Beberapa waktu lalu, An Se memang telah terjaga semenjak sebelum ayam jantan mulai berkokok secara bersahutan. Pria muda itu hampir semalaman tidak bisa tenang dan terus gelisah. Walaupun dia tetap berusaha menenangkan diri dengan bermeditasi dan berdoa untuk keselamatan keponakan satu-satunya yang masih menjadi teka-teki baginya. Desir dingin angin pagi sungguh menyejukan raga-raga yang mulai terjaga dari mimpi. Hangat mentari menjadi semangat baru bagi para mahluk penghuni bumi di sebagian belahan dunia. Begitu pula dengan seorang An Se yang tidak bisa terlelap walau barang sekejap mata saja akibat dari kekacauan pikirannya. An Se bangkit dari pembaringan dan segera menuju ke tempat biasa dirinya membe
last updateLast Updated : 2025-02-25
Read more

22. Bertemu Tuan Lembah

Di atas tebing. "Ah Yin, pagar gaibnya sudah terbuka!" Zi Wu berseru saat merasakan kekuatan pelindung lembah telah berangsur menghilang. "Benarkah?" Yin Long segera saja mengangkat dan menggendong tubuh Langit serta membawanya menuju tepi tebing. "Sepertinya, tirai gaib memang sudah terbuka. Kalau begitu, kita akan langsung mengantarkannya atau menunggu pemilik lembah datang ke mari?" "Sebaiknya kita segera turun ke bawah, Ah Yin! Aku merasakan napas seseorang yang juga sedang menuju ke suatu tempat!" Ki Wulung dengan tiba-tiba melompat tanpa keraguan sama sekali karena telah terbiasa terbang sebagai manusia jelmaan naga. "Tunggu apa lagi, Ah Yin? Cepat bawa dia kepada tuan lembah!" "Oh, baiklah!" Yin Long pun segera meluncur turun dengan membawa tubuh Langit dan mengikuti Zi Wu yang sekarang berwujud sebagai seorang kakek tua. Keduanya terus berloncatan dan melesat ke suatu arah yang men
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

23. Sambutan Tuan Lembah

An Se menoleh ke arah pria tampan yang diperkirakan seusia dengannya saat ini, meski sebenarnya Yin Long jelas-jelas sudah berusia lebih dari lima ratus tahun waktu di bumi. "An Zi!" An Se terkejut melihat keponakannya yang dalam keadaan pingsan dalam gendongan Yin Long. "Apa yang terjadi dengannya?" Ki Wulung menjawab, "Jangan khawatir, Nak An Se. Dia hanya pingsan akibat sakit akibat kelelahan. Mungkin juga kelaparan dan kelelahan." "Ooh, baguslah jika tidak terjadi hal-hal yang fatal." An Se merasakan kelegaan kali ini. Ki Wulung lalu memberi isyarat kepada Yin Long agar membawa An kepada sang paman. Yin Long yang berjalan beberapa langkah di belakang Zi Wu hanya menggelengkan kepala seraya menyerahkan tubuh Langit kepada An Se. "Tuan." Yin Long berucap ramah lagi sopan, dan An Se merasa terkesan pada pandangan pertama. An Se memerhatikan sejen
last updateLast Updated : 2025-02-26
Read more

24. Kebimbangan Yin Long

"Mari!" Ki Wulung menyahut. Yin Long mengangguk. "Silakan, Tuan." Dalam perjalanan, Ki Wulung mendekati An Se yang berjalan di depan sambil menggendong An Zi. Ia Secara diam-diam berbisik di sisi telinga pemuda itu. "Nak An Se, sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu tentang masalah Ah Yin." An Se sedikit terkejut. "Masalah apa, Ki?" "Eh, begini." Ki Wulung melirik sekilas ke arah Yin Long yang melangkah di belakang mereka dengan sikap tenang. "Tentang saudara jauhku itu. Sebenarnya dia adalah murid dari seorang guru besar dari negeri seberang yang terkenal mumpuni dalam hal pengobatan. Ah Yin benar-benar seorang jenius berbakat yang memiliki kemampuan dalam hal pengobatan dan juga mahir beberapa teknik langka yang jarang dimiliki oleh para dukun di wilayah ini. " 'Hmm, sepertinya ada sesuatu di balik perkataan Ki Wulung,' pikir An Se. "Benarkah itu, Ki?" An Se mencoba berpikir positif. "Ya. Dan aku rasa, dia dapat membantu masalah Tuan Muda An Zi ini." Ki
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

25. An Zi Tersadar

Sementara itu, An Se segera membawa tubuh Langit masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Zi Wu dan Ah Yin dipersilakan menunggu di tempat yang telah disiapkan untuk para tamu. Kepulangan An Zi telah membuat dua pengasuhnya menangis sedih dengan keadaan sang tuan muda asuhan mereka. "Tuan Muda! Mengapa Tuan Muda Kecilku menjadi seperti ini?" Salah seorang pengasuh wanita menangis hingga sesenggukan. "Nanti kita dengarkan ceritanya dari orang yang menemukan tuan mudamu." An Se berkata sembari membaringkan sang keponakan di atas amben atau tempat tidur. An Se memandangi sang keponakan dengan saksama. "Kasihan sekali dia. Tadi malam pasti dia merasa kedinginan dan kelaparan. Ah Meng, tetaplah di sisinya dan tunggui dia sampai An Zi sadar. Ingatlah untuk jangan meninggalkannya!" "Baik, Tuan Besar. Ah Meng pasti akan menunggui dan menjaganya dengan baik." An Meng segera menyiapkan segala sesuatu untuk mer
last updateLast Updated : 2025-02-27
Read more

26. Di Mana Kakak Itu?

"Dia haus. Cepat ambil air untuknya!" An Se berseru kepada An Meng. An Meng gembira. "Tuan Muda Kecilku haus! Sebentar, akan segera paman ambilkan!" An Meng begitu gembira dengan keadaan anak asuhnya yang sangat ia sayangi. Pria setengah wanita itu memang diberikan kepercayaan untuk merawat, menjaga dan mengajari banyak hal terhadap An Zi. "Haus? Sebentar Paman ambilkan air minum." An Meng segera melepaskan pelukannya dan beranjak cepat untuk mengambil semangkuk air putih dan langsung memberikannya kepada sang tuan muda dengan sangat hati-hati. "Ini minumlah, Tuan Muda!" An Se memapah sang keponakan untuk mendapatkan air dari mangkuk yang disodorkan oleh An Meng. Hampir semalaman dalam keadaan perut lapar tanpa makan dan minum, sungguh membuat An Zi merasakan kehausan yang luar biasa. Ia pun minum dengan sedikit terburu-buru yang membuatnya terbatuk-batuk hingga beberapa kali. "Hati-hati, An Zi! Tidak ada yang akan merebut minumanmu!" An Se memperingatkan. An Zi pun men
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

27. Janji

"Di mana kakak itu?" Pemuda itu ingin beranjak dari tempat tidurnya, akan tetapi segera ditahan oleh An Se dan An Meng. "Paman, di mana kakak yang menolongku?" "Kakak?" An Se sungguh mengira, jikalau yang dimaksudkan oleh An Zi adalah Yin Long yang saat ini tengah berada di beranda pada halaman Paviliun Bunga Kertas bersama dengan Zi Wu atau Ki Wulung. ''Mungkinkah kakak yang dia maksud adalah orang yang menolongnya?'' An Meng menerka-nerka. "Mmhh. Benar sekali, Paman Pengasuh." An Zi menyahut dengan suara lemah. "Oooh, kakak yang itu," ujar An Se sambil membaringkan kembali ke atas pembaringan. "Kakak yang menolongmu itu sekarang ada di tempat ini dan menjadi tamu istimewa kita." "Benarkah itu, Paman?" tanya An Zi dengan perasaan lega. Dia sungguh merasa sangat senang mendengar penuturan sang paman. "Mmhh. Orang itu juga yang sudah membawa An Zi ke mar
last updateLast Updated : 2025-02-28
Read more

28. Tempe

"Ini seperti susunan batu-batu dibalut adonan perekat yang biasanya untuk membuat pagar. Tapi ... ini sepertinya adalah biji-bijian. Bagaimana cara menyatukan mereka hingga saling melekat satu sama lain dan dapat dimakan?" Yin Long semakin heran saat melihat tekstur makanan di tangannya. "Kamu cobalah makanan itu, Ah Yin!" Zi Wu ingin melihat reaksi Yin Long atas makanan tersebut. "Baiklah, Senior Zi." Yin Long lalu memasukan sepotong makanan aneh itu ke dalam mulutnya, mengunyah secara perlahan sambil meneliti rasanya. "Gurih, lunak dan begitu lembut saat dikunyah. Ada bau tajam semacam umbi, hmm ... bukan lada, tetapi juga tidak pedas." Zi Wu terkekeh geli melihat kebingungan di wajah sahabatnya. "Kamu ini seorang jenderal perang saat berada di Alam Langit. Tetapi tampaknya kamu paham dengan pembuatan makanan." "Sebutan jenderal perang itu hanya di saat saya sedang berada di medan peperangan. Tetapi ketika saya berada
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

29. Pengangkatan Saudara?

Zi Wu atau Ki Wulung merasa harus menengahi agar tidak terjadi salah paham. Pria itu segera menghubungi batin Yin Long dengan Ilmu Telepati agar pembicaraannya tidak diketahui oleh An Se. "Terima saja, Ah Yin. Lagi pula dia tidak mengetahui identitas kita yang sebenarnya. Hanya dengan menarik hati An Se, maka kamu bisa dekat dengan An Zi," ujar Zi Wu, berusaha meluluhkan hati Yin Long. Yin Long bingung. "Tapi ...." An Se duduk di hadapan kedua tamunya" dan berkata, "Aku baru saja mempertimbangkan ucapan Ki Wulung tentang dirimu yang mengatakan jika Ah Yin ini memiliki keahlian di bidang pengobatan. Dan karena kamu sedang membutuhkan seseorang yang bisa menyembuhkan An Zi, jadi aku berpikir untuk memintamu bergabung bersama kami di sini." "Itu pun kalau Ah Yin bersedia dan tidak merasa keberatan untuk tinggal di tempat ini selama masa pengobatan berlangsung," lanjut An Se dengan suara tenang, meskipun hatinya sangat berharap. Yin Long tertunduk sejenak, wajahnya terlihat tersipu. "
last updateLast Updated : 2025-03-01
Read more

30. Pelat Khusus dan Susu Kedelai

An Se bercerita, bahwasanya Lembah Pakisan adalah tempat yang tidak bisa dikunjungi dengan mudah seperti tempat lainnya. Hal tersebut dikarenakan adanya suatu rahasia besar tersembunyi di sana. Adapun rahasianya, dia belum mengatakan secara rinci. An Se juga berkata, jika Yin Long bersedia menjadi saudara angkatnya, maka orang-orang di lembah tidak akan mempersulit setiap geraknya, asalkan itu masih terkait dengan An Zi. Penguasa lembah juga berani menjamin akan semua keperluan Yin Long, memberi gaji bulanan dan membebaskannya melakukan tindakan apa pun selama tidak melanggar ketentuan peraturan di lembah tersebut. An Se menerangkan tentang beberapa hal tentang pagar pembatas yang menyelubungi Lembah Pakisan dan cara untuk menembusnya. "Jadi mengapa aku ingin kamu menjadi saudara angkatku, karena hanya dengan begitu aku bisa memberikan pelat khusus yang hanya bisa diberikan kepada orang-orang tertentu saja. Bahkan aku sendiri tidak member
last updateLast Updated : 2025-03-02
Read more
PREV
123456
...
9
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status