Semua Bab Istri Kesayangan Tuan Arogan: Bab 211 - Bab 220

241 Bab

Bab 211. Terharu...

Barra semakin mengeratkan dekapannya, “Kamu masih bisa menahan rindu sebentar lagi saja?” Tanyanya resah. “InsyaAllah bisa. Sembari menunggu Ibu sadar, aku selalu berdoa supaya Allah beri bantuan untuk membukakan pintu hati Ibu agar luluh.” “Mas juga ingin mempertemukan kalian berdua. Tetapi Mas minta waktu sebentar lagi. Sayang mau bersabar, kan?” Olivia mendongakkan wajahnya ke atas, menatap Barra yang memeluknya. “Hu'um. Pokoknya, semua aku serahkan sama Mas. Mas yang paling tau apa yang terbaik untuk aku.” Olivia tersenyum manis, tak ingin suaminya sedih. “Kamu istri yang luar biasa. Mas selalu ingin memberikan apapun untuk kebahagiaan kamu. Mas berjanji, tidak akan lama lagi kamu akan bertemu Ibu!” Barra menegaskan. la harus memastikan Amanda benar-benar sudah berubah dan mau menerima dirinya, sehingga tidak ada lagi niat untuk memisahkannya dari Olivia. “Aku paham. Aku gak akan memaksakan keadaan untuk bertemu Ibu dalam waktu dekat ini kalau akhirnya malah membuat kita terp
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-17
Baca selengkapnya

Bab 212. Pulang Ke Jakarta...

Barra sampai memejam mata sesaat, menikmati perlakuan nakal Olivia hingga tatapannya berubah sayu menahan sensasi luar biasa dari sentuhan dan permainan jemari halus istrinya itu di tubuh atasnya. “Mas selalu bernafsu di dekat kamu, Sayang!” Barra langsung mencum-bu bibir hingga leher Olivia dengan gemas, membuat Olivia terkikik kegelian. Drrt... Drrt... Eh? Barra dan Olivia yang tengah bercum-bu mesra, terkejut mendengar suara ponsel Barra. “Selalu saja benda itu mengganggu. Mas matikan dulu!” Barra merogoh ponselnya di saku, akan menolak panggilan masuk tersebut. “Jangan Mas, lihat dulu siapa yang nelepon. Mungkin penting,” Olivia menghalangi niat suaminya. Barra menatap layar ponsel, matanya seketika melebar melihat siapa yang menelepon. Olivia ikut melihat layar ponsel di tangan Barra. “Tuh kan, Mommy ternyata. Terima cepat Mas...” Pintanya. Barra segera mendudukkan diri di sebelah Olivia, memperbaiki posisi duduk. la terima panggilan masuk dari sang Mommy. [BARRA MALIK
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 213. Anakku??

“Gue rasa begitu, gue sempat dengar dia nyebut nama perempuan itu. Tapi gue berharap telinga gue salah dengar. Sekarang coba Lo pikir, istri mana yang gak sedih melihat suaminya lebih memilih main sendiri daripada sama istri sendiri yang jelas-jelas bisa dia datangi kapan pun dia mau? Hancur hati gue Nina... Padahal waktu dia masih sama mantan istrinya itu, dia maunya begituan terus sama gue, kayak gak pernah bosan-bosan. Tapi setelah jadi istri, gue dianggurin!” “Huuft... Kacau! Kayaknya Elgard emang lebih suka yang haram-haram, sensasinya beda kali buat dia, ketimbang sama yang halal. Waktu masih sama mantannya dulu, dia juga lebih milih Lo yang cuma selingkuhan, kan?” Chelsea terhenyak dengan ucapan Shenina yang menyebut dirinya adalah selingkuhan Elgard sebelum mereka menikah. Nyelekit sekali kedengarannya. “Dia gak pernah nyentuh mantannya itu sama sekali dulu. Perempuan itu masih perawan waktu dia ceraikan.” Chelsea mendengus kesal. “Hah??? Serius Chel? Yang benar aja Elgard
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-18
Baca selengkapnya

Bab 214. Tanpa Pikir Panjang!

“Aarghh!!! Kenapa bisa begini??!” Elgard tak lagi menahan diri untuk tidak menangis. “Sabar ya, Pak. Ini bisa dijadikan pelajaran jika harus benar-benar menjaga pola hidup terutama saat hamil. Alkohol sangat tidak disarankan bagi ibu hamil. Bahkan di trimester kedua kehamilan pun tak bisa disepelekan. Meskipun meminum dalam jumlah yang kecil, konsumsi alkohol dapat meningkatkan risiko terjadinya keguguran hingga 70 persen.” Ujar Dokter, sangat menyayangkan. Elgard terhenyak, dahinya mengkerut mendengar ucapan dokter. “Apa maksudnya minum alkohol?” Tanyanya masih belum mengerti. “Bu Chelsea habis minum alkohol sebelum mengalami kejadian ini. Kebiasaan itu sangat berbahaya bagi ibu, terutama janinnya.” Ujar dokter. “Minum?” Elgard terkejut bukan main. Chelsea sendiri yang berbuat ulah ternyata. “Saat Bumil meminumnya, alkohol akan masuk ke aliran darah dan dapat menembus plasenta, sehingga janin dalam kandungan juga ikut 'meminumnya'. Kalau pada orang dewasa, alkohol yang dikonsums
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 215. Janji!

“Pa.” Amanda mendekati Tuan Rawless yang sedang duduk menemani Adnan bermain mobil-mobilan di ruang keluarga. “Ya, Manda? Kamu baru pulang kantor?” Tuan Rawless tersenyum. la tinggalkan Adnan yang duduk di karpet bulu tebal, kemudian ikut duduk di samping Amanda di sofa. “Hu'um.” Angguk Amanda, ia tersenyum melihat Adnan yang begitu aşik bermain hingga tak menyadari keberadaan dirinya di ruangan tersebut. “Besok pagi kita ada jadwal terapi lanjutan, kamu siap?” Tuan Rawless begitu bersemangat. “Siap, Pa.” “Apa yang kamu rasakan setelah dua kali terapi? Apa lebih enak perasaannya sekarang?” Tuan Rawless antusias. “Lebih plong pastinya. Manda mulai bisa mengontrol perasaan, apalagi kalau emosi.” “Syukurlah, Papa lega mendengarnya. Papa pun juga semakin bersemangat menjalani hari setelah terapi waktu itu.” Tuan Rawless berkata demikian, agar tak terlalu terlihat jika terapi ini sebenarnya dikhususkan untuk Amanda. “Setelah menjalani terapi, itu artinya Manda udah boleh ta
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-19
Baca selengkapnya

Bab 216. Ini Saatnya!!

Keduanya mengobrol sebentar, menikmati suasana sore yang hangat. Barra senantiasa mengusap lembut dan mengajak bicara calon bayinya di perut Olivia, membuat wanita itu tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang ternyata bisa juga seperti ini. Setelah menikmati kopi dan beberapa camilan, Barra melanjutkan kembali pekerjaannya. Sedang Olivia tak ingin mengganggu. “Mau kemana?” Barra menahan Olivia yang hendak pergi. “Mas kan mau fokus kerja, aku pergi aja biar gak ganggu.” “Duduklah di dekat Mas, temani. Ini juga tidak akan lama,” Pinta Barra. “Oh, gitu. Ya deh,” Olivia tak jadi pergi, akan menemani Barra seperti permintaan pria itu. la mainkan saja gadget, demi mengisi waktu agar tak bosan menunggu Barra. “Innalillahi wainnailaihi rooji'uun...” Olivia memegang dadanya yang berdebar, matanya tertuju pada layar ponsel. “Ada apa, Sayang?” Barra terheran melihat ekspresi istrinya. Olivia tengah fokus menatap ponsel. “Mas, ini, ada berita di sosial media kalau calon cucu Ha
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Bab 217. Menunggu...

Beberapa hari berlalu. “Kemarilah!” Barra meraih tubuh Olivia yang hendak keluar kamar. Istrinya itu berencana akan menyiapkan sarapan pagi ke dapur. “Kenapa, Mas?” Olivia terheran. Barra mendudukkannya di pangkuan pria itu, di tepi tempat tidur. “Bersiaplah, kita akan pergi sekarang.” “Kemana?” “Ke rumah Kakek.” Olivia mengedip-ngedipkan matanya, apa ia tidak salah dengar? “Kenapa diam? Tidak mau ikut?” Barra tersenyum melihat raut wajah Olivia yang bengong, tampak lucu. “A-apa, Mas? Ini beneran?” Olivia seakan belum percaya dengan apa yang suaminya katakan. “Hem, ya. Kita ke rumah Kakek hari ini,” Barra memperjelas. “Mas beneran yakin? Emang Ibu_” Olivia terdiam sebentar, memastikan keputusan Barra yang sudah memperbolehkannya bertemu ibu dan kakeknya. “Orang-orang ibu sudah tidak lagi mengikuti Jefri. Mereka tidak lagi mengawasi UD Entertainment dan ibu tidak lagi menempatkan anak buahnya di sekitar Penthouse kita. Kakek sendiri yang mengatakan kalau Ibu sudah tidak memp
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-20
Baca selengkapnya

Bab 218. Mengharukan...

“Gak apa, kamu udah menyadarinya aja, Papa udah senang. Apalagi kamu udah fokus sama diri kamu sendiri, Papa semakin lega.” “Manda udah janji mau mengikuti apa aja yang Papa minta. Jadi, Papa jangan khawatir Iagi. Manda juga gak ada kepikiran untuk mencari tau di mana Oliv tinggal dengan membuntuti siapa aja yang berhubungan dengan Barra. Pasti ada saatnya, kami akan bertemu juga. Iya kan, Pa?” Amanda menatap Tuan Rawless, sorot matanya tenang meski tak bisa menyembunyikan kesedihan karena harus menahan kerinduan pada Olivia. Tuan Rawless tahu itu. “Pasti kamu akan bertemu Oliv, bersama Iagi, bercerita banyak hal, menyiapkan makanan apa yang dia mau selama ngidam, dan menemaninya bersalin, melahirkan cucu kamu, cicit pertama Papa!” Tuan Rawless menatap lurus ke depan, pada gerbang rumah yang tinggi. Amanda terhenyak, menemani Olivia melahirkan cucunya? “Manda mau itu, Pa...” Ucapnya dengan menahan tangis. Membayangkannya saja, sudah membuat perasaannya bahagia tak terhingga. “K
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Bab 219. Tersaingi?

“Liv, itu Kakek,” Amanda menunjuk Tuan Rawless yang berdiri tak jauh dari mereka.Olivia tersenyum lembut. Ia berjalan mendekati sang Kakek yang tengah menahan perasaan bergemuruh di dada. Cucunya memang sangat cantik, jauh lebih cantik dari yang pernah ia lihat sebentar waktu di acara konferensi pers.“Assalamu'alaikum Kakek, aku Oliv...” Sapa Olivia dengan sikap canggung saat berdiri di depan Tuan Rawless. Ia tersenyum kikuk. Pertama kali sengaja bertemu, apa pria ini sudah mau menganggapnya sebagai Cucu?“Wa'alaikumussalam, Cucuku Olivia,” Tuan Rawless bisa merasakan kecanggungan di diri Cucu cantiknya itu, “Kamu tidak mau memeluk Kakek juga?” Tanyanya dengan dada yang sesak.Seandainya dulu ia tetap memberikan waktu dan perhatian pada cucu semata wayangnya ini meski ada Abian, pasti tidak akan seasing ini rasanya.“Boleh ya Kek?” Tanya Olivia ragu-ragu, benarkah dirinya boleh menganggap Tuan Rawless yang dikenal semua orang sebagai Kakeknya?“Kemarilah, Nak. Peluk Kakek!” Pinta Tu
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-21
Baca selengkapnya

Bab 220. Nginap?

Pukul 17.50 wib. “Malam ini mau makan apa, Liv?” Tanya Amanda bersemangat. “Um,” Olivia berpikir sejenak. Ini sudah seharian dirinya dan Barra berada di rumah sang Kakek. Tetapi Ibunya itu masih menawarkan makan malam, seolah tak mau ia pulang. “Bilang aja, Nak. Ibu pasti akan buatin apapun yang kamu mau. Demi cucu Ibu juga,” Amanda tersenyum lebar. Ia akan memberitahu para Pelayan untuk membuatkan makanan apa saja yang Olivia inginkan. “Oliv lagi suka makan apa aja sih Bu. Yang penting enak...” Olivia tersenyum, nafsu makannya memang mulai kembali. “Wah, kalau gitu Ibu mau buatin semua makanan enak. Kamu bisa pilih dan makan sepuasnya,” Amanda sudah tak sabar. Ia panggil Nia untuk memasak bersama. Olivia sedikit bingung. Sejak tadi ia belum ada sama sekali bersama Barra. Amanda tak mau melepaskannya. Ibunya itu mengajaknya melihat-lihat rumah besar sang Kakek sembari bercerita tentang masa lalu yang indah di rumah ini. Olivia cukup antusias mendengarkannya. Amanda juga mengaja
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-22
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
202122232425
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status