Semua Bab Istri Kesayangan Tuan Arogan: Bab 221 - Bab 230

241 Bab

Bab 221. Pisah Tidur!

“Oh jadi kok rencananya. Tapi aku gak tenang kalau gak izin dari Mas dulu. Emang beneran boleh aku tidur sama Ibu? Kalau gak boleh, aku mau tidur sama Mas aja di kamar kita,” Olivia memastikan kembali. Tak mau meninggalkan suaminya tidur seorang diri jika pria itu keberatan. “Terserah saja. Kalau memang mau tidur bersama Ibu malam ini, tidak apa-apa. Tapi Mas ragu kamu bisa tidur. Kamu biasanya harus dipeluk setiap malam,” Barra tak mau menunjukkan rasa keberatannya. Yakin Olivia sendiri yang akan ragu berpisah darinya malam ini. “Aku sih bisa aja, Mas. Paling Mas yang kecarian karena aku gak ada di samping Mas,” Goda Olivia. “Hem, apa tidak salah? Kamu yang biasanya tidak bisa tidur tanpa memeluk suami kamu ini. Kalau Mas tidak ada masalah kamu mau memilih tidur di mana,” Barra tak mau kalah. Jangan tunjukkan dirinya berharap Olivia memilih dirinya. Olivia tersenyum. Ia merasa suaminya memang tidak masalah dirinya tidur bersama Amanda. Barra juga yakin tak akan kecarian jika ta
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-23
Baca selengkapnya

Bab 222. Merestui...

“Trauma dan mental healthy Ibu memang belum sembuh sepenuhnya, Nak. Tapi Ibu udah gak ada alasan lagi untuk memisahkan kamu dari Barra. Setelah berkonsultasi dengan Dokter, juga dinasehatin Kakek, Ibu sadar, gak ada gunanya memisahkan kalian karena itu cuma akan membuat Ibu justru kehilangan kepercayaan dan respect dari kamu. Kamu pasti akan kecewa sama Ibu dan pada akhirnya Ibu tidak akan bisa menikmati kebersamaan kita,” Amanda mencoba meyakinkan Olivia. Meski belum sepenuhnya menyukai Barra, namun dirinya juga tak mau Putrinya hamil tanpa sosok seorang suami. Apalagi Cucunya. Seperti yang Abraham Rawless katakan, jangan sampai Cucunya nanti lahir dan tumbuh kembang tanpa seorang Ayah. Namun entah mengapa, rasa kesal dan tersaingi oleh Barra, masih saja ada di hatinya. Bahkan malam ini sengaja meminta tidur bersama Olivia dengan berbagai alasan, sekalian untuk melihat sejauh mana effort Barra dalam membahagiakan Putrinya dengan rela tidak sekamar dulu. “Benarkah, Bu? Jadi Ibu ud
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Bab 223. Sudah Percaya!

“Aku akan tanya istriku dulu, dia mau pulang sekarang atau sebentar lagi,” Barra hendak masuk ke dalam rumah. “Um, Pak. Tentang project film kita yang akan mengadaptasi salah satu film terbaik Korea tentang kehidupan pemuda cerdas dari sebuah desa pedalaman. Tim akan melakukan survei ke desa yang akan dijadikan latar film ini. Sebisa mungkin dicari kemiripan dengan latar film yang akan diadaptasi itu,” Jelas Jefri. “Apa semua harus ikut?” Barra menyipitkan mata. “Ya, Pak. Termasuk Anda.” “Aku sepertinya tidak bisa. Istriku sedang hamil muda, tidak mungkin aku tinggal sendirian.” “Tetapi, Director dan Penulis cerita film tersebut, akan datang ke Indonesia dan mau ikut langsung membantu melakukan survei tempat di desa yang akan tim kita datangi.” Barra melipat kedua tangannya di dada, dilema. Kedatangan tamu dari Korea adalah suatu kebanggaan dan prestise tersendiri untuk project filmnya kali ini. Tetapi hatinya tak mau meninggalkan Olivia. “Kita cuma diharapkan datang ke s
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-24
Baca selengkapnya

Bab 224.

“Mas,” panggil Olivia pelan. “Hem?” sahut Barra dengan suara parau, masih dengan mata terpejam. la merasa begitu nyaman tidur dengan memeluk tubuh Olivia setelah semalam kesulitan memejamkan mata. “Nyenyak banget tidurnya,” Olivia terkekeh kecil. “Karena memeluk kamu.” “Alhamdulillah...” ungkap Olivia. Tangannya masih membelai manja rambut suami posesifnya. “Sayang,” panggil Barra. Ia membuka mata, menatap Olivia dengan mengangkat wajahnya ke atas. “Besok pagi Mas harus berangkat ke luar kota bersama Jefri.” “Ke luar kota? Berapa hari Mas?” Olivia sedikit kaget. Ini terdengar mendadak. “Tidak sampai berhari-hari. Mas usahakan balik hari itu walaupun akan tiba di sini pada malam hari,” jelas Barra. “Jangan gitu Mas. Jangan memaksakan pulang hari itu juga sehingga kurang istirahat. Kan masih bisa balik besok harinya...” “Tidak apa-apa. Di sana ada penginapan katanya. Sebelum kembali ke Jakarta, Mas akan beristirahat dulu. Jangan khawatir.” “lya. Tapi kalau memang dirasa gak bi
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Bab 225. Nikah??

“Manda, kamu jangan memarahi mereka. Apa yang mereka lakukan pada waktu itu memang udah benar. Kalau bukan karena mereka, mungkin sekarang Barra dan Oliv sudah berpisah karena kamu jadi juga membawa Putri kamu pergi ke Italia!” Tuan Rawless tidak tahan untuk bicara. “Ini masalah pengkhianatan, Pa!” Amanda berwajah dingin, seakan tak terima alasan apapun. “Gak ada yang mengkhianati kamu. Mereka justru ingin kebaikan untuk kamu, untuk semua. Kamu itu udah di jalan yang salah, itu sebabnya mereka terpaksa melakukan cara tadi di belakang kamu!” jelas Tuan Rawless meluruskan. “Mereka berdua adalah orang kepercayaan Manda, tapi tega berbohong. Mereka tidak bisa dimaafkan!” “Bu, jangan salahkan Kak Nia sama Pak Vincent_” Olivia tak tahan untuk membela. “Kamu diam saja, Nak! Jangan ikut campur!” tegas Amanda dingin, mengejutkan Olivia. Ibunya terlihat mengerikan jika marah. Barra merangkul pundak Olivia, menenangkan istrinya. la simak dulu apa yang terjadi saat ini. “Bu, Nia mohon maaf
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-25
Baca selengkapnya

Bab 226. Tak Sabar

Pukul 16.00 wib, “Kak Nia...” Olivia senyum-senyum di depan pintu kamar Nia. “Eh, Liv? Masuk Liv...” Nia langsung menghampiri Olivia, mengajak adiknya itu masuk ke dalam kamarnya. “Kak Nia lagi apa? Dari tadi kok gak ada keluar kamar?” Olivia duduk di kursi rias yang Nia berikan. “Kak Nia nervous, Liv. Astaghfirullah...” Nia memegang dadanya yang sejak tadi berdebar terus. “Nervous kenapa? Karena mau nikah?” Olivia menahan senyum melihat rona wajah Nia yang bersemu merah, tegang, dan gugup. “l-lya... Kenapa tiba-tiba jadi begini ya? Kak Nia dan Bang Vincent mau nikah aja. Padahal jujur nih Liv, kami gak punya hubungan istimewa apapun. Kak Nia kagum sih sama Bang Vincent, dia sayang anak dan rela melakukan apa aja demi Adnan. Tapi gak pernah kebayang bakal nikah juga,” Nia masih belum bisa mempercayai apa yang terjadi. “Memang jodoh gak ada yang tau, Kak. Ternyata jodoh Kak Nia InsyaAllah adalah Pak Vincent yang belum lama bertemu. Sepertinya kalian memang sengaja dipertemukan A
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-26
Baca selengkapnya

Bab 227. Saingan kedua??

Barra yang sedang memeriksa beberapa berkas yang datang, spontan menatap wajah Vincent. Kaki tangan kepercayaan Amanda itu senyum senyum.“Kapan nikahnya? Apa malam ini juga?“ tanya Barra.“Eh, bukan Pak. Rasanya tidak mungkin malam ini juga,” sanggah Vincent.“Kenapa? Kamu berencana membuat pesta pernikahan yang besar?”“Um, saya sih tidak ada keinginan seperti itu. Kalau bisa akad nikah, lalu sah dan syukuran kecil-kecilan saja,” jawab Vincent sesuai keinginannya.“Hem, jadi ingin secepatnya sah?” Barra mengangkat sebelah alisnya, “Sudah tidak sabar merasakan punya istri lagi ya?” sambungnya.“Iya, Pak. Eh, bukan. Maksudnya iya. Anu, bukan begitu_” Vincent gelagapan.“Kamu seperti baru pertama menikah saja. Kalau memang benar, kenapa harus malu-malu. Kecuali Jefri. Dia memang sejak dulu tidak pernah merasakan bagaimana jatuh cinta apalagi punya istri. Dia betah menjadi Iajangan berkarat,” ujar Barra dengan santainya, mengejutkan Jefri. Kenapa jadi membahas tentang kejombloannya? Dia
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-27
Baca selengkapnya

Bab 228. Rebutan?

“Mommy kenapa pulang?” Barra meneliti wajah Syafira dengan intens, memastikan lbunya benar-benar telah sehat. “Kamu Barra! Bukannya meluk Mommy, malah nanya kenapa pulang!” Syafira mendengus kesal, putranya tak ada basa basinya. “Bukan begitu. Mommy sedang dalam pengobatan, kenapa pulang sebelum menyelesaikan pengobatannya? Aku sudah bilang supaya Mommy fokus saja di sana,” Barra tak habis pikir. lbunya pun pulang ke tanah air tanpa mengatakan terlebih dahulu padanya. “Kan Mommy udah bilang, pengobatannya di lanjut di Jakarta aja. Mommy udah minta rekomendasi Dokter spesialis Paru terbaik di sini. Check-up di Berlinnya nanti sekali dalam setahun aja,” tukas Syafira. la berdiri di samping Olivia dengan menggenggam tangan menantunya itu. Rasa bahagianya tak bisa tergambarkan melihat sang Menantu tampak sehat menjalani kehamilan mudanya ini. “Jadi bagaimana perkembangan pengobatan Mommy di sana?” Olivia ikut penasaran dengan kondisi kesehatan Syafira yang sekarang tampak semakin seg
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-28
Baca selengkapnya

Bab 229. Tidur Bertiga...

“Barra, sebaiknya kamu nitipin Oliv ke Mommy aja. Mommy belum pernah menghabiskan waktu berdua sama Oliv setelah kalian nikah,” Syafira tak mau kalah. Ia tak ingin Olivia bersama Amanda. Khawatir besannya itu berniat akan memisahkan Putranya dengan Olivia lagi. “Sudah, sudah, ini kenapa jadi pada berebut mau sama Oliv? Kasihan Oliv jadi bingung gitu,” Tuan Rawless menatap iba pada Cucu kesayangannya yang kebingungan. Terlihat jelas jika Olivia tak ingin memilih antara Ibu kandung dan Ibu mertua yang sama-sama ia cintai. “Syafira nih, Pa. Seharusnya Oliv kan di sini selama Barra pergi. Kenapa jadi mau bawa ke rumah dia,” Amanda menatap dingin pada Syafira. “Lha, aku punya hak juga dong. lya kan, Paman? Sesekali apa salahnya Oliv ikut ke rumah Keluarga Virendra,” Syafira membela diri. Virendra menelan ludah, tak enak hati dengan ketegangan ini. la lirik Barra, Putra semata wayangnya itu juga tampak bingung menghadapi dua wanita bergelar ibu itu. Nia, Vincent, dan Jefri, sama-sa
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-28
Baca selengkapnya

Bab 230. Berat Rasanya...

Olivia melangkah menuju tempat tidur setelah selesai menyikat gigi dan berwudhu sebelum tidur. Barra duduk bersandar di headboard ranjang, menatap layar ponsel sembari menunggu kedatangan istrinya itu untuk tidur bersama. “Sudah?” tanya Barra sumringah saat Olivia telah naik ke atas tempat tidur. la letakkan ponsel di atas nakas, waktunya menghabiskan malam bersama sang istri. “Udah,” angguk Olivia, bersiap untuk tidur. Barra langsung merentangkan sebelah tangannya agar Olivia tidur dengan berbantal pada lengannya tersebut. Olivia dengan manja, meletakkan kepalanya di lengan berotot Barra. Tangannya melingkar di pinggang suaminya dengan wajahnya sesekali dibenamkan ke dalam dada bidang Barra. la menghirup wangi tubuh suaminya, hangat, tenteram dan nyaman. Barra tersenyum sembari membelai manja rambut Olivia. la kecup berkali-kali pucuk kepala istrinya, kebiasaannya setiap malam ketika mereka tidur. “Apa Mas batalkan saja ya keberangkatan besok?” ucap Barra tiba-tiba. O
last updateTerakhir Diperbarui : 2025-03-29
Baca selengkapnya
Sebelumnya
1
...
202122232425
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status