Home / Romansa / I'm Sorry Laras / Chapter 31 - Chapter 40

All Chapters of I'm Sorry Laras: Chapter 31 - Chapter 40

75 Chapters

Curahan hati Laras

Laras terdiam, matanya berkaca-kaca, menatap kosong ke arah dinding rumah sakit yang pudar. Ia mencoba mencerna kata-kata Bu Yuni, tetapi pikirannya penuh dengan kebingungan dan keharuan yang bercampur menjadi satu. "Ya Tuhan... Saya hamil..." bisiknya pada dirinya sendiri, suaranya hampir tak terdengar, tangannya refleks memegang perutnya yang masih rata. Sentuhan itu lembut, seolah ia mencari tanda kehidupan baru yang kini bersemayam di dalam dirinya. Namun, kebingungan segera menyelimuti hatinya. Masalah datang bertubi-tubi, dan kini ia dihadapkan pada kenyataan baru yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.Bagaimana ia akan menghidupi anaknya? Ia tak bekerja, tak punya tempat tinggal, bahkan tak punya apa-apa selain tas kecil berisi pakaian yang kini tergeletak di samping ranjang. Bagaimana ia bisa bertahan dengan memiliki seorang bayi dalam kondisi seperti ini? Pikirannya melayang ke Damar—jika ia memberitahu suaminya bahwa ia hamil anaknya, apakah Damar akan percaya? Se
last updateLast Updated : 2025-01-03
Read more

Curhatan hati Damar

Laras mendongak tiba-tiba, matanya membelalak penuh kejutan. “Ya Tuhan, kenapa saya bisa lupa, Bu, dengan rumah masa kecil saya?” ucapnya, suaranya penuh keheranan pada dirinya sendiri. “Saya terlalu fokus dengan masalah saya hingga melupakannya.” Pikirannya melayang ke rumah kecil itu—rumah sederhana dengan dinding kayu dan atap genteng yang penuh kenangan masa kecilnya bersama orang tua. Rumah itu memang tak pernah dijual, tapi setelah menikah dengan Damar, ia jarang kembali ke sana, bahkan hampir melupakannya sepenuhnya.“Ibu benar,” lanjut Laras, suaranya mulai bersemangat meski masih lemah. “Sejak saya menikah, saya tidak lagi pernah ke sana.”Bu Yuni tersenyum kecil, lega melihat sedikit semangat kembali di wajah Laras. “Itu karena kamu sudah tidak pernah ke sana, Laras. Mungkin karena itu kamu sedikit lupa,” ucapnya lembut. “Ya sudah, kamu istirahat dulu sekarang, biar bisa cepat sembuh. Setelah itu, kamu bisa langsung ke sana.”Laras mengangguk pelan, matanya yang basah kini me
last updateLast Updated : 2025-01-04
Read more

Awal baru untuk Laras

Damar duduk sendirian, rokok di tangannya kini hanya menyisakan abu yang jatuh ke lantai. Ia menatap gelas kosong di depannya, pikirannya penuh dengan bayangan Laras—wanita yang ia cintai selama delapan tahun, yang kini pergi entah ke mana. “Laras…” gumamnya lagi, suaranya nyaris hilang, penuh penyesalan yang tak bisa ia ungkapkan. Di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini terasa salah, namun tekanan dari ibunya dan rasa bersalah atas Sofia membuatnya terjebak dalam pilihan yang tak ia inginkan. Malam itu, ia terus meratapi kepergian Laras, tenggelam dalam hampa dan penyesalan, sementara rencana Ratna terus berjalan, meninggalkan Damar di persimpangan antara cinta yang hilang dan tanggung jawab yang memaksanya melangkah ke arah yang tak ia yakini.Beberapa hari kemudian, Laras akhirnya diizinkan keluar dari rumah sakit. Tubuhnya masih terasa lemah, namun semangatnya perlahan kembali menyala berkat kebaikan Bu Yuni yang tak henti mendampinginya. Dengan bantuan Bu Yuni, yang menyangga leng
last updateLast Updated : 2025-01-05
Read more

Kedatangan tamu tak di undang

Saat sampai di depan, Laras melihat Bu Maryam sudah berdiri di halaman kecil rumahnya, tangannya terlipat di dada, wajahnya memasang ekspresi sombong yang khas. “Jadi benar kalau kamu tinggal di gubuk ini sekarang,” ucap Bu Maryam sambil melangkah mendekat, suaranya penuh ejekan yang tak disembunyikan. Ia melirik rumah kayu tua itu dengan tatapan merendahkan, lalu melanjutkan, “Rumah ini memang cocok buatmu. Memang seharusnya kamu tinggal di sini, bukan di rumah besar seperti milik Damar atau milikku.”Laras memutar bola matanya, jengah mendengar nada suara bibinya yang penuh hinaan. “Kalau Bibi datang ke sini hanya untuk menghinaku, lebih baik Bibi pulang saja karena aku masih sibuk,” ucapnya tegas, suaranya penuh kejengkelan yang ia tak lagi coba sembunyikan.“Eh, Laras, jangan kurang ajar, ya, kamu! Main usir orang saja!” bentak Bu Maryam, matanya menyipit penuh kemarahan, tangannya terangkat seolah ingin menunjukkan otoritasnya.“Aku bukan mengusir Bibi,” balas Laras, suaranya teta
last updateLast Updated : 2025-01-07
Read more

Mengacaukan pernikahan Damar

Hari pernikahan Damar pun tiba. Suasana di rumah besar itu terasa sederhana namun penuh ketegangan yang terselubung. Tidak banyak tamu yang hadir, hanya keluarga dari kedua pihak—pihak Damar dan Sofia—yang datang untuk menyaksikan upacara kecil ini. Ruang tamu yang biasanya ramai kini dihias ala kadarnya dengan bunga-bunga sederhana dan kain putih yang tergantung di beberapa sudut, mencoba menciptakan suasana pernikahan meski terasa hambar. Damar duduk di kamarnya, mengenakan kemeja putih dan sarung yang rapi, namun wajahnya jauh dari rona bahagia yang seharusnya dimiliki seorang pengantin pria. Matanya kosong, alisnya mengerut, dan bibirnya terkatup rapat, menunjukkan ketidaksemangatan yang tak bisa ia sembunyikan.Ratna, yang berdiri di ambang pintu kamar, memperhatikan anaknya dengan tatapan penuh ketidaksabaran. Ia melangkah masuk, tangannya terlipat di dada, wajahnya mengeras melihat ekspresi muram Damar. “Damar,” panggilnya dengan nada tegas, suaranya memotong keheningan yang men
last updateLast Updated : 2025-01-08
Read more

Talak

Laras mencoba melepaskan tangannya dari cengkeraman Bu Maryam, namun tenaganya terlalu lemah dibandingkan kemarahan bibinya. “Lepaskan saya, Bi!” teriaknya, suaranya penuh perlawanan, matanya menatap Bu Maryam dengan campuran kemarahan dan kepedihan. “Saya punya hak untuk bicara!”Semua orang di ruangan itu kini berdiri, suara-suara berisik semakin memenuhi udara. Keluarga Sofia berbisik dengan nada panik, beberapa di antaranya menatap Damar dengan tatapan penuh tanya, sementara Raka melangkah mendekati Ratna, wajahnya penuh kekhawatiran namun juga kemarahan. Sofia tetap duduk di kursi pengantin, wajahnya pucat, tangannya mencengkeram kebaya dengan erat, matanya beralih dari Damar ke Laras dengan ekspresi campur aduk, kecewa, takut, dan marah.Damar akhirnya bangkit dari kursinya, langkahnya ragu-ragu namun matanya tak lepas dari Laras. “Laras…” ucapnya lirih, suaranya nyaris tenggelam di tengah keriuhan, penuh kebingungan dan rasa bersalah yang tak bisa ia sembunyikan lagi. Namun, seb
last updateLast Updated : 2025-01-09
Read more

Penderitaan Laras berlanjut

Kata-kata itu menggema di ruangan, menghantam hati Laras seperti palu yang menghancurkan sisa harapan yang pernah ada. Laras mengangguk pelan, matanya kembali berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan air matanya agar tidak jatuh lagi. "Terima kasih, Mas," katanya dengan suara gemetar, suaranya nyaris hilang di tengah kepedihan yang menyelimuti hatinya. Meski talak itu memberinya kebebasan yang ia minta, rasanya seperti kehilangan terakhir dari apa yang pernah menjadi hidupnya bersama Damar.Isak tangis Sofia semakin keras, membuat perhatian semua orang kembali terarah padanya. Sofia berlutut di lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya gemetar hebat. Pisau yang tadi dipegangnya sudah tidak lagi menjadi ancaman, tergeletak di meja prasmanan, tetapi luka di hatinya jelas belum terobati. Ratna segera menghampiri Sofia, memeluknya dengan penuh drama, seolah ingin menenangkan. "Sofia, sekarang kamu tenang ya, Nak," ucapnya, suaranya dibuat lembut namun penuh perhitungan. "Lihat
last updateLast Updated : 2025-01-10
Read more

Kekecewaan Sofia

Aku capek, Sofia,” jawab Damar tanpa berhenti, suaranya datar dan penuh kelelahan. “Aku mau ke kamar dan langsung tidur.”Sofia mengerutkan kening, wajahnya menunjukkan kekecewaan yang tak bisa disembunyikan. “Jangan tidur dulu, Mas,” ucapnya, suaranya sedikit meninggi, penuh keberatan. “Ini kan hari pernikahan kita! Dan masih ada banyak tamu di sini. Masak kamu mau ninggalin begitu saja?”Damar berhenti sejenak di tangga, menoleh sekilas ke arah Sofia, namun matanya kosong tanpa semangat. “Itu semua kan hanya keluargamu,” ucapnya, suaranya tetap datar. “Bilang saja kalau aku sedang tidak enak badan. Kamu saja yang menemani mereka semua.” Tanpa menunggu jawaban, ia melanjutkan langkahnya, menghilang di ujung tangga, meninggalkan Sofia yang berdiri dengan wajah kesal dan bingung.“Ih… Mas Damar kok gitu sih,” gumam Sofia, suaranya penuh kekesalan, tangannya mencengkeram ujung kebaya dengan jengkel. Ia kembali duduk di kursi dengan wajah cemberut, pandangannya kosong menatap tamu-tamu ya
last updateLast Updated : 2025-01-11
Read more

Mendatangi Laras

Dengan wajah malas dan hati penuh kewaspadaan, Laras melangkah mendekat untuk membukakan pintu gerbang. Ia berdiri di ambang pintu, tangannya masih memegang keranjang kosong, matanya menatap Ratna dan Bu Maryam dengan dingin. “Ibu mau apa lagi datang kemari?” tanyanya, suaranya tajam namun penuh kelelahan. “Kita sudah tidak punya urusan lagi.”Ratna mendengus, melangkah masuk tanpa permintaan, seolah rumah itu adalah miliknya. “Laras, kau jangan kurang ajar, ya!” bentaknya, matanya menyipit penuh kemarahan. “Bukannya disuruh masuk dulu, malah sudah berkata kurang ajar seperti ini!”“Iya, Bu Ratna,” Bu Maryam menimpali dengan nada penuh ejekan, melangkah di belakang Ratna dengan wajah penuh kebencian. “Anak ini memang tidak pernah diajarkan sopan santun sama orang tuanya.”Laras yang mendengar orang tuanya yang sudah meninggal disebut-sebut menjadi geram. Matanya menyala penuh kemarahan, tangannya mengepal erat di samping tubuh. “Bi, jangan pernah berkata seperti itu tentang orang tua s
last updateLast Updated : 2025-01-12
Read more

Fitnah Ratna

Bu Maryam yang mendengar gumaman Ratna segera melirik keluar jendela, matanya mencari-cari sosok yang dimaksud. “Faris? Siapa dia, Bu? Apa Ibu mengenalnya?” tanyanya, suaranya penuh rasa penasaran, alisnya terangkat tinggi.Ratna menoleh ke arah Bu Maryam, matanya menyipit penuh perhitungan sebelum menjawab. “Dia itu sahabatnya Damar,” ucapnya, suaranya rendah namun penuh makna. “Orang yang selingkuh dengan Laras.”“Oh, jadi dia orang yang Ibu suruh untuk menfitnah Laras?” tanya Bu Maryam, suaranya penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan, wajahnya menunjukkan ekspresi penuh minat.“Iya, dia orangnya,” jawab Ratna, anggukan kecil mengiringi kata-katanya. Namun, tatapannya kembali tertuju pada sosok Faris yang kini melangkah perlahan di sisi jalan, seolah sedang mencari-cari sesuatu. “Tapi mau apa dia ke mari, ya?” gumamnya lagi, kali ini lebih kepada dirinya sendiri, suaranya penuh kecurigaan.Bu Maryam melirik Ratna dengan ekspresi penuh dugaan. “Apa mungkin dia mau menceritak
last updateLast Updated : 2025-01-14
Read more
PREV
1234568
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status