Home / Romansa / I'm Sorry Laras / Chapter 51 - Chapter 60

All Chapters of I'm Sorry Laras: Chapter 51 - Chapter 60

75 Chapters

Laporan Maryam

Ratna terdiam, jantungnya berdegup lebih kencang. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan buruk. Jika Indira benar-benar telah kembali dan kini menjadi orang yang berpengaruh, itu berarti ancaman besar bagi dirinya dan semua yang telah ia rencanakan selama ini. “Kamu yakin itu Indira?” tanyanya lagi, suaranya penuh keraguan, mencoba mencari celah untuk menyangkal kabar itu.Maryam mengangguk lebih tegas kali ini, matanya kini menatap Ratna dengan penuh keyakinan. “Aku sangat yakin, Bu. Dia bilang sendiri namanya Indira, anaknya Laras. Dan… wajahnya mirip banget sama Laras waktu muda,” ucapnya, suaranya penuh penegasan.Ratna menutup mata sejenak, tangannya memegang dahi seolah mencoba menenangkan diri dari gelombang emosi yang menyerangnya. “Ini tidak boleh dibiarkan,” gumamnya, suaranya rendah namun penuh ancaman, matanya kini terbuka lagi dan menyala penuh rencana gelap. “Kita harus cari cara supaya dia tidak membuat masalah. Kalau dia tahu apa yang kita lakukan dulu, semua yan
last updateLast Updated : 2025-02-11
Read more

Doni

Dika, yang menyadari kakaknya terlalu fokus memandang ke depan, menoleh dengan ekspresi heran. “Kak, mengapa Kakak memandangi orang itu sampai tidak berkedip? Ada apa?” tanyanya, suaranya polos namun penuh rasa ingin tahu, matanya mengikuti arah pandangan Indira.Indira tersentak kecil dari lamunannya, lalu menoleh ke arah Dika dengan ekspresi penasaran. “Kamu mengenal anak laki-laki itu, Dika?” tanyanya, suaranya penuh rasa ingin tahu, tangannya masih memegang kemudi mobil dengan erat.Dika mengangguk kecil, wajahnya kini menunjukkan sedikit ketidaknyamanan. “Ya, Kak, aku mengenalnya,” jawabnya, suaranya pelan, matanya memandang ke bawah seolah menghindari tatapan Indira. “Namanya Doni. Dia orang yang arogan, Kak. Merasa dirinya anak orang paling kaya di sini, sehingga dia sering merundung orang-orang yang dianggapnya lemah dan miskin, termasuk aku.”Mendengar itu, Indira terkejut, matanya membelalak penuh keterkejutan. “Merundung?” ulangnya, suaranya sedikit meninggi karena kaget, ta
last updateLast Updated : 2025-02-12
Read more

Mencari kebenaran

Indira dan Dika keluar dari mobil dengan langkah cepat, hati mereka dipenuhi oleh campuran emosi yang sulit diuraikan—kaget, penasaran, dan sedikit harapan. Mereka berjalan mendekati laki-laki paruh baya yang baru saja selesai berbicara dengan Doni. Jarak mereka semakin dekat, dan Indira sudah membuka mulut untuk memanggilnya, tangannya terangkat untuk menarik perhatian. Namun, sebelum suaranya sempat keluar, laki-laki itu dengan cepat membuka pintu mobilnya dan masuk ke dalam, seolah tak menyadari kehadiran mereka.Indira menghentikan langkahnya, wajahnya menunjukkan kekecewaan bercampur frustrasi. “Kita telat,” gumamnya, suaranya penuh penyesalan, tangannya mengepal di samping tubuh. Ia menoleh ke arah Dika yang berdiri di sampingnya, matanya penuh tekad meski ada sedikit kekecewaan. “Dika, kamu masuk sekolah sekarang. Kakak akan mengejar dia. Kakak harus pastikan itu bener Ayah kita.”Dika mengangguk kecil, wajahnya masih menunjukkan kebingungan, tetapi ia mempercayai kakaknya sepen
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Perdebatan tak berujung

Sofia mengeluarkan suara decakan kesal dari ujung telepon, nada suaranya kini lebih tajam. “Aku lelah, Mas Damar! Mas gak perlu marah-marah seperti ini hanya karena hal sepele. Lagipula, aku sudah menyuruh asisten rumah tangga kita untuk menyiapkan semuanya. Apa masalahnya?” balasnya, suaranya penuh kejengkelan.Damar semakin kesal mendengar jawaban itu, alisnya berkerut dalam, dan wajahnya memerah karena menahan amarah. “Yang menjadi istri dan ibu itu kamu, Sofia, bukan asisten rumah tangga! Untuk apa aku memiliki istri kalau hanya menyuruh orang lain mengurus semua keperluan keluarga?” bentaknya, suaranya semakin meninggi, tangannya kini mengetuk meja dengan keras.Sofia tidak mau kalah, nada suaranya juga meningkat penuh pembelaan. “Lah, untuk apa aku membayar asisten rumah tangga mahal-mahal kalau mereka tidak ditugaskan untuk melayani Mas sama Doni? Hanya begitu saja kok ribet!” balasnya, suaranya penuh kejengkelan, seolah merasa Damar terlalu berlebihan.Damar semakin murka mende
last updateLast Updated : 2025-02-13
Read more

Proposal kerjasama

Indira berdiri di tengah ruangan, matanya langsung tertuju pada sosok Damar, ayahnya yang selama ini ia rindukan sebelum kebenaran pahit tentang pengkhianatan terhadap ibunya terungkap. Hatinya terasa terbelah dua. Di satu sisi, dendam membakar di dadanya, menyala karena semua penderitaan yang telah dialami ibunya akibat tindakan Damar dan keluarganya. Namun di sisi lain, ia tak bisa memungkiri rasa rindu yang masih tersisa untuk pria di depannya ini. Bagaimanapun juga, dalam ingatannya, Damar adalah sosok ayah yang pernah memberikan kasih sayang begitu besar padanya. Menggendongnya saat kecil, tertawa bersamanya, dan menjadi pahlawan dalam dunia kecilnya dulu. Namun, untuk menjalankan rencananya membalas dendam pada keluarga ayahnya, ia harus menyembunyikan jati dirinya. Damar tidak boleh tahu siapa ia sebenarnya itu adalah bagian dari strategi yang telah ia susun.Tanpa disadari, air mata mulai mengembun di matanya, mengaburkan pandangannya untuk sesaat. Indira buru-buru mengendalika
last updateLast Updated : 2025-02-14
Read more

Undangan untuk Indira

Indira tersenyum kecil, seketika menyadari bahwa ayahnya mungkin mulai curiga dan ingin menggali lebih dalam tentang identitasnya. Namun, ia telah bertekad untuk sementara waktu menyembunyikan jati dirinya dari Damar agar rencana balas dendamnya bisa berjalan mulus. Dengan tenang, ia menjawab, “Terima kasih atas ketertarikannya, Pak. Saya memang memulai Lunara Skin Essence dari nol, sekitar empat tahun lalu, saat masih kuliah. Awalnya hanya proyek kecil yang lahir dari minat saya pada kecantikan dan teknologi. Saya bekerja sama dengan beberapa teman yang ahli di bidang kimia dan IT, dan keberuntungan datang ketika produk pertama kami viral di media sosial. Dari situ, kami berhasil menarik investor besar, dan saya fokus membangun tim serta strategi yang solid. Itu saja cerita singkatnya.”Damar mengangguk, tapi matanya masih mencoba mencari celah. “Luar biasa,” ucapnya, suaranya lembut namun penuh rasa ingin tahu. “Dan… bagaimana dengan keluarga Anda? Saya kira, di usia muda seperti ini
last updateLast Updated : 2025-02-20
Read more

Awal perlawanan

Dika menoleh ke Wisnu, mengangguk kecil sambil berbisik balik, “Tenang aja, Wis. Gak usah takut.” Suaranya pelan namun penuh keyakinan, tangannya mencengkeram tali tasnya lebih erat.Doni melangkah masuk dengan sikap arogan, diikuti oleh tiga temannya yang selalu setia mengapitnya. Siswa-siswa yang masih berada di kelas langsung terdiam, beberapa memandang dengan takut, lainnya berusaha menghindari masalah. Doni memang dikenal sebagai siswa yang paling ditakuti di SMA Sekolah Gemilang, bukan hanya karena sikapnya yang kasar, tapi juga karena pengaruh keluarganya yang besar, terutama ayahnya yang merupakan donatur utama sekolah. Dengan suara lantang, Doni berbicara, “Semua yang ada di kelas, perhatikan gue! Gue punya pengumuman penting!”Siswa-siswa yang tersisa di kelas 1A langsung memandang ke arah Doni, suasana menjadi hening seketika. Doni berdiri di depan kelas, tangannya bertolak pinggang, senyum sinis menghiasi wajahnya. Setelah memastikan semua mata tertuju padanya, ia mulai ber
last updateLast Updated : 2025-02-21
Read more

Pesta ulang tahun

Di Grand Serenity Hotel, suasana malam itu dipenuhi kemewahan dan kemeriahan. Lampu-lampu kristal besar bergoyang lembut di langit-langit lobi, mencerminkan cahaya ke seluruh ruangan yang dihiasi dekorasi elegan bertema emas dan putih. Doni, yang mengenakan setelan mahal berwarna biru tua dengan detail jahitan tangan, berdiri di tengah kerumunan teman-temannya, menyambut para tamu yang datang dengan senyum penuh percaya diri. Ia tampak menikmati perhatian yang diberikan kepadanya, berdiri tegak dengan sikap yang menunjukkan bahwa ia adalah pusat acara malam ini.Teman-teman Doni yang datang, kebanyakan dari kalangan elit SMA Sekolah Gemilang, berulang kali memuji kemewahan pesta tersebut. “Don, lo beruntung banget, bro! Pesta ulang tahun kayak gini cuma anak sultan yang bisa bikin,” ucap salah satu temannya sambil menepuk pundak Doni dengan takjub. Doni, yang memang haus akan pujian, tersenyum lebar mendengar itu. “Ya iyalah, ini kan biasa buat keluarga gue,” jawabnya dengan nada sombo
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Kedatangan Damar

Di sudut lain Grand Serenity Hotel, Sofia, ibu Doni, dan Ratna, nenek Doni, sedang sibuk memastikan semua makanan dan kelengkapan pesta berjalan lancar. Sofia dengan cermat memeriksa hidangan di meja buffet, sementara Ratna mengawasi pelayan yang sibuk mondar-mandir. Namun, perhatian mereka tiba-tiba teralihkan ketika melihat kerumunan orang berkumpul di sudut ruangan dekat pintu masuk. Sofia mengerutkan kening, rasa penasarannya tergelitik. “Bu, sepertinya ada sesuatu terjadi di sana. Ayo kita lihat,” ajaknya pada Ratna, tangannya menunjuk ke arah kerumunan.Ratna mengangguk, lalu mereka berdua mulai melangkah. Saat hendak bergerak, Raka, paman Doni, yang kebetulan ada di dekat mereka, bertanya dengan nada santai, “Mau ke mana, Sof? Bu?” Sofia menoleh sekilas dan menjawab, “Ke sana, Raka. Sepertimya ada keributan di dekat pintu masuk.” Raka mengangguk, lalu ikut melangkah bersama mereka, penasaran dengan apa yang sedang terjadi.Ketika sampai di lokasi, Sofia, Ratna, dan Raka terkejut
last updateLast Updated : 2025-02-22
Read more

Perdebatan antar keluarga

Namun, Damar tidak menghiraukan Sofia. Ia malah melangkah mendekati Indira, wajahnya kini lebih lembut meskipun masih ada sisa kekesalan. “Indira, saya minta maaf atas kelakuan anak saya yang kurang ajar ini,” ucapnya, suaranya tulus. “Kalian berdua nikmati saja pesta ini, tidak usah mempedulikan Doni lagi.”Indira tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepala dengan sikap pura-pura rendah hati. “Tidak perlu, Pak. Lebih baik saya dan Dika pulang saja, agar suasana pesta kembali meriah seperti semula,” jawabnya, suaranya sengaja dibuat lembut untuk menunjukkan itikad baik, padahal ini bagian dari rencananya untuk memancing simpati Damar.Damar menggeleng tegas, menolak permintaan itu. “Tidak, saya tidak mengizinkan kalian pulang. Kalian tamu saya, ikut saya saja menikmati pesta ini,” ucapnya, tangannya mengisyaratkan agar Indira dan Dika mengikutinya. “Doni tidak punya hak untuk mengusir kalian.”Indira melirik Dika sekilas, lalu mengangguk dengan senyum tipis. “Baik, Pak. Terima kasih,” j
last updateLast Updated : 2025-02-23
Read more
PREV
1
...
345678
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status