Share

A Deal

Author: Riri Lidya
last update Last Updated: 2023-01-31 11:55:48

Kamu ingat hari itu? Hari pertama kita bertemu di kampus? Kamu tersenyum lebar dan banyak wanita yang mengelilingimu.” Enzo sering membicarakan topik ini ketika mereka berpacaran. “Saat itu aku sadar aku jatuh cinta padamu pada pandangan pertama ketika melihat senyuman indahmu.

Di luar pintu utama apartemen, Rhea mendenguskan tawa. “Keparat itu bicara omong kosong.”

Dia menatap langit malam yang cerah. Bulan terlihat jelas dan bersinar terang. Bintang-bintang bertabur menghiasi langit. Tidak ada awan. Tidak ada tanda-tanda akan hujan.

Dia tertawa pelan. Menertawakan dirinya sendiri. “Bahkan langit tidak ingin menangis untukku.”

“Kenapa harus?” suara seorang pria bertanya padanya di sampingnya.

Tanpa menoleh, dia menanggapi, “Aku baru saja ditipu keka— tidak, mantanku. Dia berselingkuh dan mencampakkanku. Dia berkata aku gila, bukankah dia yang lebih gila? Dan sekarang aku menyesal karena tidak bisa menendang bolanya tadi.”

Pria itu menatapnya. “Apa kamu tidak sakit hati?”

“Yah, jujur saja iya. Aku sakit hati. Tapi, jika dibandingkan dengan kemarahanku yang sangat besar, sakit hati ini menjadi tidak berarti apa-apa.”

“Setelah dikhianati, kamu masih bisa mengendalikan dirimu. Itu bagus untukmu.”

“Benarkah?” Benarkah dia cukup baik mengendalikan dirinya? Yah, bagaimanapun dia harus menahan amarahnya jika tidak ingin menjadi badut di depan mereka.”

"Kau bisa melihat tanganmu sendiri."

Ah benar. Tangannya mengepal lagi. Pasti banyak bekas luka berbentuk bulan sabit di telapaknya setelah ini. "Itu satu-satunya cara agar aku tidak kehilangan kendali."

“Kamu akan membiarkan mereka begitu saja?”

Rhea menghirup napas dalam-dalam. “Mereka yang melakukan balas dendam itu sebenarnya orang yang lemah karena kalah di pertandingan awal. Dan hidup dengan bayangan di belakangnya hingga dendam teratasi. Bukankah itu menyedihkan? Seharusnya mereka merelakan saja apa yang sudah terjadi dan menatap ke depan. Tapi setelah aku merasakannya sendiri, aku tidak ingin melihat mereka bahagia di atas penderitaanku. Dikhianati itu rasanya menyakitkan. Apa aku harus tidur dengan temannya seperti yang dia lakukan? Tapi itu sepertinya mustahil karena aku tidak akan mau melakukan hal keji seperti itu ....”

Pria itu menatap Rhea yang menunduk sedih. Wanita ini sangat baik dalam pengendalian tangisannya. “Apa kamu menangisi mereka?”

Rhea menggigit bibirnya seraya mengusap pipinya yang basah. “Untuk apa menangisi dua kotoran itu? Lihatlah, langit bahkan memberiku dukungan. Dia tahu bahwa akan menghabiskan waktunya jika menurunkan hujan pada kondisi seperti ini.”

Pria itu mengalihkan wajahnya dari Rhea dan ikut menatap langit malam. “Kamu benar. Langit sedang berada di sisimu. Dan untung saja kamu mengetahui sifat asli mereka sejak awal.”

Rhea tersenyum miris. "Ini tetap terlambat pikirku, tetapi masih lebih baik. Jika kami sampai menikah, mungkin aku akan bunuh diri karena malu dan berakhir menyesal menikahinya." Mengerjapkan mata, Rhea kembali sadar jika dia baru saja membicarakan hal yang tidak perlu dengan orang asing. Dia terkekeh pelan sebelum mendongak untuk menatap pria di sebelahnya. “Drama ibu kota yang mengenaskan, bukan?”

Begitu pria itu membalas tatapannya, Rhea seketika tertegun. Tatapan dalam pria itu tampak tajam seolah menusuk ke dalam pikirannya. Kenapa dia tidak pernah melihat pria tampan dan panas seperti ini di negaranya?

“Tidak juga.”

Tatapan itu bertahan lama seperti ada magnet di antara mereka. Tidak ada antara Rhea dan pria asing itu yang ingin berpaling karena masing-masing dari mereka sedang mempelajari wajah di depannya.

Namun, sangat disayangkan. Sebelum ia menyelesaikannya, ponselnya tiba-tiba saja berdering. Melihat nama ibunya di sana, dia yang seketika mengingat maksud kedatangannya kemari segera mengangkat panggilan dengan khawatir. “Halo, Ma. Apa Papa sudah siuman?”

Keheningan merajalela membuat Rhea menjadi waspada.

“M-Ma?” Bahkan suaranya terdengar gemetar. Ketenangan yang ia kumpulkan sedari tadi mulai goyah. Rhea mengeratkan pegangannya pada ponsel. “Papa baik-baik saja, kan, Ma?”

“Rhe, papamu ….” Terdengar isakan tangis di seberang telepon. “Dia sudah pergi.”

Tepat saat itu hujan pun mulai turun membuat pria itu memandangi langit cepat lalu kembali pada Rhea.

“Tidak, tidak mungkin.” Mata Rhea bergerak tidak fokus. Bohong. Tidak mungkin ayahnya telah tiada. Dia menjauhkan ponsel dan bergerak ke jalan raya. Tidak peduli jika rambut dan bahunya mulai basah.

“T-taksi.” Dia harus mendapatkan taksi sekarang untuk melihat ayahnya langsung.

Sebelum dia bisa melangkah lebih dekat ke taksi, seseorang tiba-tiba memegang tangannya, menghentikan langkahnya.

Pria itu menatap wajah Rhea. Padahal sebelumnya wanita ini masih mencoba untuk tegar. Sekarang, ia bahkan tidak sadar jika sedang menangis. “Aku akan mengantarmu pulang.”

Rhea menggeleng. “Ru-Rumah sakit. Aku harus ke rumah sakit.”

Tanpa bicara lagi, ia membawa Rhea menuju mobilnya. Sambil mengendarai mobil, dia sesekali akan menoleh ke samping di mana Rhea tampak lemah dan tidak fokus. Dia pun melirik kedua tangan ringkih dan pucat yang terjalin cemas. Namun dia tidak mengatakan apa pun selain melajukan mobil agar cepat sampai.

Setibanya di ruang tempat ayahnya dirawat, Rhea segera masuk ke dalam. Dia melihat perawat sedang sibuk ke sana kemari kemudian menatap Ivanka yang menangis histeris yang ditenangkan dokter.

Rhea bergerak mendekati Ivanka sambil menatap wajah pucat ayahnya. “Ma ....”

Ivanka mendongak lalu memeluk anaknya. Tangisannya semakin menjadi. “Papamu …, Rhe, papamu …. Ya Tuhan, kenapa ini menimpa kita?!”

Ini pertama kalinya Rhea merasakan tempatnya berpijak menjadi hancur. Dan dia bersama Ivanka yang memeluknya jatuh terduduk lemas di lantai.

***

“Ini.”

Masih di ruangan itu sudah tidak ada siapa-siapa lagi selain dia. Ayahnya sudah dibawa dengan ditemani Ivanka. Rhea yang masih duduk di lantai tidak melakukan apa pun selain menatap tempat tidur pasien dengan tatapan kosong, mulai melirik handuk putih yang diulurkan pria itu.

“Aku membelinya di bawah. Keringkan rambut dan pakaianmu dengan ini.”

Rhea tidak sadar jika tubuhnya basah dan kedinginan. Dia mengerjapkan mata cepat berusaha untuk tidak mengeluarkan air matanya lagi.

Dia menurunkan kepala sedikit dengan lemah. “Terima kasih dan maaf sebelumnya sudah merepotkan Anda. Saya baik-baik saja sekarang. Mohon untuk meninggalkan nomor Anda agar saya bisa menghubungi dan membalas kebaikan Anda malam ini.”

“Memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuk membalas kebaikanku?”

“Saya dan ibu saya akan mentraktir—”

“Aku bisa membayar makananku sendiri.”

“… Lalu apa yang Anda inginkan sebagai balasannya?”

“Anak.”

Rhea berpikir jika dia salah dengar.

Lalu detik selanjutnya pria itu mengulangi ucapannya dengan sangat jelas, “Beri aku anak.”

Dia seketika mendongak untuk melihat apakah pria ini sedang bergurau atau apa. “… Maaf, tapi candaan seperti itu tidak cocok di situasi seperti ini.”

“Aku tidak bercanda."

Kali ini Rhea terdiam. Pria ini … serius? Mereka adalah dua orang yang baru saja bertemu kurang dari 2 jam. Mereka tidak mengenal satu sama lain. Dia bahkan tidak tahu namanya. Dan di hari dukanya, pria ini meminta anak?!

“Bukankah sebelumnya kamu bilang ingin balas dendam kepada mereka?”

Rhea mengalihkan wajah. “Saya hanya bicara asal karena marah.”

“Tidak. Kamu tidak emosi saat di sana.”

“Maaf. Tapi bagi saya topik anak benar-benar terdengar seperti lelucon. Apa Anda bisa meninggalkan saya sendiri? Dan tolong, anggap kita tidak bertemu dan tidak ada yang terjadi malam ini. Saya tidak bisa berpikir dengan baik sekarang karena pikiran saya kosong ….” Begitu juga hatinya

Dalam satu malam yang singkat, hatinya yang selalu penuh dengan kehangatan tiba-tiba kosong. Dan tempat yang kosong itu kini diisi dengan kegelapan. Rhea tidak tahu apakah besok dia bisa menjalani kehidupan seperti biasanya atau tidak.

Pria itu tidak pergi. Tidak marah. Tidak juga menunjukkan ketidaksabaran. Dia masih berdiri di depan Rhea dengan tenang. “Kekasih dan sahabatmu mengkhianatimu. Ayahmu telah tiada. Kamu tidak punya apa pun sekarang selain ibumu. Semuanya terlihat jelas di matamu bahwa kamu putus asa. Kamu berada di titik terburukmu.”

Rhea tidak mengelak karena itu benar adanya.

“Bagaimana jika aku memberi sebuah tawaran yang saling menguntungkan?”

Penawaran … menguntungkan? batin Rhea.

“Aku akan mengakuisisi perusahaan ayahmu. Aku akan meminjamkan kekuasaanku kepadamu untuk membalas mantan kekasih dan sahabatmu. Aku akan memberikan uang sebanyak yang kamu mau dan perlindungan selama kamu menyetujui tawaran ini. Dan balasan yang harus kamu berikan hanya satu itu.”

Rhea menatap pria yang berdiri di depannya. Sinar rembulan masuk dari jendela kamar rawat VIP tersebut. Dan pria itu berdiri di belakang bulan membuatnya tampak mengeluarkan aura gelap yang mengelilingi dirinya sendiri. Di saat dia mengatakan tawarannya, entah kenapa Rhea tergelitik menginginkannya.

“Tapi aku tidak mengenalmu.”

“Percayalah, aku orang yang bisa menjatuhkan orang yang mengkhianatimu.” Pria itu berbicara dengan penuh percaya diri dan dominan.

“… Apa kau seorang iblis?”

Pria itu tidak tersenyum atau apa pun. Menyebabkan wajahnya tampak misterius. “Kau bisa memanggilku dengan sebutan apa pun, you poor thing.”

“Apa kau bisa berjanji untuk keuntungan egoisku?” Rhea bertanya sekali lagi agar segalanya lebih jelas. Agar dia tidak akan menyesal dengan pilihannya ke depannya.

Tatapan pria asing itu semakin dalam dan lebih samar, sulit untuk mengetahui apa yang dipikirkannya. “Ya. Kau bisa menggunakanku dengan syarat, beri aku anak.”

Pria itu mengulurkan tangannya dan Rhea menatap tangan besar itu untuk waktu yang cukup lama. Bukankah tangannya seperti sebuah ajakan yang tidak bisa ditolak? Seperti ada bisikan iblis di telinga membuat dia akhirnya menerima uluran tangan itu dan berdiri.

Dan pria itu pun berkata dengan suara dalam, “I guess we have a deal. Namaku Maven, omong-omong. Maven Williams.”

Rhea mengerjap menatap mata gelap Maven. Dia merasa tidak asing dengan nama itu. Seolah pernah mendengarnya di suatu tempat.

Karena Rhea tidak mengambil handuknya, Maven sendiri yang mengeringkan rambut Rhea. “Sebagai awal kesepakatan kita, aku ingin kamu mengobati tanganmu.”

Ah tangan ….

Rhea melihat kedua telapak tangannya yang terluka. Baru sekarang dia menyadari kedua telapak tangannya terasa perih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • The Billionaire's Bride   The Reason

    Prosesi pemakaman pagi itu berjalan khidmat dan lancar dengan diiringi rintik-rintik hujan. Kolega ayahnya, teman-teman ibunya, bahkan beberapa rekan kerja dan teman kuliah Rhea menghadiri pemakaman tersebut. Semua orang yang menghadiri pemakaman mulai pergi secara bertahap menyisakan Ivanka, Rhea, dan satu tamu mereka. Bahkan pamannya, adik kandung ayahnya sudah pergi bersama istri dan anak-anaknya.Ivanka menoleh ke belakang di mana seorang pria asing sedang sibuk berbicara dengan sopirnya di samping sebuah mobil. Tadi malam dia dibuat kaget dengan Rhea karena bukannya membawa Enzo, anaknya malah membawa pria yang tidak dia kenal ke rumah sakit. Dan sekarang pria itu juga datang ke pemakaman hari ini. Dia kemudian menatap anaknya yang duduk di depan makam ayahnya.“Mungkin ini bukan waktu yang tepat tapi Mama ingin kamu menjawab dua pertanyaan Mama. Di mana Enzo? Andini juga tidak—”“Ma,” potong Rhea pelan membuat Ivanka berhenti bicara. “siapa itu Enzo dan Andini?”“… Rhe.”“Apa mer

    Last Updated : 2023-01-31
  • The Billionaire's Bride   A Big Catch

    “Jadi, kau punya pacar dan dia hamil? Kenapa aku tidak tahu? Segeralah menikah.” “Aku bilang anak, bukan pacar.” Tony menatapnya dalam diam dan seperti biasa Maven tidak terusik sama sekali. Dia dengan santai mengelap mulut lalu berdiri. “Hati-hati di jalan nanti, Kek. Kabari aku jika sudah pulang.” Maven berbalik dan mendekati pintu ruang privasi tersebut. Ketika dia memegang gagang pintu, suara kakeknya terdengar. “Jauhi skandal jika ingin mempertahankan posisimu di perusahaan.” Maven melirik ke samping. “Hanya itu yang bisa aku sampaikan sebagai kakekmu, bukan sebagai Komisaris.” Dan Maven pun keluar. Berjalan keluar dari restoran, Albar sudah berada di belakangnya dalam diam. Dia kemudian memberi perintah, “Cari beberapa wanita yang unggul yang belum menikah. Mau itu yang masih lajang atau bertunangan.” “Baik,” Albar menjawab tanpa menyela. Lalu tepatnya di malam itu, 5 hari kemudian Maven pergi ke unit Albar untuk melihat para kandidat. Dan begitu selesai, dia melihat sos

    Last Updated : 2023-01-31
  • The Billionaire's Bride   Blessing

    “Jadi, bagaimana kita akan membuat skenario hubungan ini?” tanya Rhea ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah Rhea.“Ada ide?”Rhea mengedikkan bahu. “Uh … mantan yang kembali?”Maven menatapnya tertarik membuat Rhea gugup.“Tidak ada yang akan percaya jika dua orang asing bertemu untuk kali pertama tiba-tiba ingin menikah. Aku dan dia sudah bersama selama enam tahun. Jika ada yang bertanya, jangan menyebutkan enam tahun terakhir ini.”“Itu bagus. Kita bisa katakan berpacaran saat masih sekolah,” respons Maven tersenyum samar.“Jadi, seperti itu yang akan kita katakan, oke?”Maven mengangguk ringan. “Setuju.”Seharusnya seperti itu.Tetapi, begitu mereka tiba di kediaman Rhea, Maven langsung menyatakan masuk kedatangannya, “Bu Ivanka, kami akan menikah.”Syok, bingung, dan terkejut, Ivanka benar-benar tidak bisa mengatakan apa pun.Maven mendeklarasikan sebuah pernikahan dengan santai dan tenang di hadapannya. Apa perlu Ivanka ingatkan dia baru saja bertemu dengannya? Belum lagi En

    Last Updated : 2023-01-31
  • The Billionaire's Bride   Isn't That Odd?

    “Aku akan menikah.”Seperti di rumah Rhea sebelumnya, Maven tanpa basa-basi mengatakan maksud tujuannya membuat Tony menatapnya dingin. Dan hujan lebat seketika mengguyur sore ini. Pria tua itu bahkan mengorek kupingnya khawatir dia salah dengar sebelum kembali melihat ketenangan sikap cucunya. Dia kemudian berdiri dan berjalan menuju pintu ruang kerja.Maven menghela napas sebelum menambahkan, “Jadi, aku mohon untuk menemaniku mengunjungi keluarga calon istriku.”Langkah kaki Tony berhenti tepat di depan pintu. Dia yang hendak memegang gagang pintu menoleh. “Memangnya kapan kalian akan menikah?”“Tiga hari lagi.”Tony memejamkan mata, membuang napas, lalu berbalik. Kesal, langkahnya yang mendekati Maven cukup cepat. Sebelum cucunya sempat bereaksi, dia sudah memukul bahunya dengan tongkat hingga Maven terkejut. “Dasar keparat, kau tidak bisa menikah cepat hanya karena aku menyuruhmu. Perempuan mana yang kau bayar, hah?”Maven mengusap bahunya. “Kami pernah berpacaran ketika masih muda

    Last Updated : 2023-05-09
  • The Billionaire's Bride   The Wedding Day

    Apa yang diharapkan Rhea sepertinya sedikit tidak sesuai dengan keinginannya. Ketika dia ingin pernikahan sederhana saja, Tony menolak dengan halus.“Ya, itu bagus. Tetapi pihak kami perlu mengundang beberapa orang penting. Kurang lebih begitu yang kakekku katakan.”Artinya, sesederhana apa pun perlu diadakan pesta. Rhea mengerang pelan dengan katalog di pangkuannya di ruangan yang memajang beberapa gaun pengantin.Maven yang duduk di sebelahnya berbicara lagi, “Kemungkinan hanya sekitar 50 orang penting saja. Direksi juga perlu diundang mau bagaimana pun.”“Jujur saja, kakekmu sepertinya tidak ingin membiarkanku hidup tenang.”Maven tersenyum tipis. “Bagaimana dengan pihakmu? Ibumu pasti ingin hal yang sama untuk pernikahan putri satu-satunya.”Bicara tentang ibunya, Rhea membisu. Dia masih ingat wajah kaget Ivanka tadi malam setelah dia mengatakan ingin menggelar acara itu secara sederhana, sebelum berubah sedih. Dan dia pura-pura tidak memperhatikan.Selang beberapa menit diam, dia

    Last Updated : 2023-05-11
  • The Billionaire's Bride   The Wedding Day II

    Merasa terlalu lama membuatnya menunggu, Rhea hendak membalas jabatan itu tepat ketika Maven menariknya mendekat dengannya. Jadi, dia hanya sedikit menurunkan tubuhnya dengan sikap sopan. “Rhea.”Henry terkekeh dalam hati melihat tangannya yang kosong. Dia kemudian mengambil kembali tangannya. “Selamat telah menjadi bagian dari keluarga Williams. Panggil aku jika kamu memerlukan bantuan, Rhea.”Rhea memperhatikan Henry lagi, namun pria ini tak tampak berbahaya sebelum mengangguk. “Terima kasih.”“Kalian berkumpul akhirnya.” Tony datang membuat mereka berempat menatap kehadirannya. Dia membawa tiga orang bersamanya, dua orang lebih tua dan satu yang lebih muda.Ketika Rhea melihat wajah yang tidak asing pada salah satunya, dia sontak saja terkejut. Naomi …? Dia adalah salah satu rekan kerjanya di Art Centre, tetapi tidak terlalu dekat. Dan tunggu, sejak kapan dia mengundang Naomi?“Rhea, perkenalkan ini Elisa, Vino, dan Naomi. Mereka juga bagian dari keluarga Williams,” ucap Tony.Dan R

    Last Updated : 2023-05-13
  • The Billionaire's Bride   Intimacy

    Dan sekarang, tibalah sesi yang menggelisahkan. Tiga hari lalu, Rhea dengan mudahnya setuju dengan proposal ini. Akan tetapi mendekati waktu malam pertama mereka, dia menjadi sangat sangat gugup. Lebih gugup dibandingkan ketika mereka berciuman.Rhea mendesah setelah mematikan alat pengering rambut. Dia menghirup napas dalam-dalam lalu mengembuskannya. Begitu dia menggeser pintu kamar mandi, ia melihat Maven sudah di atas tempat tidur dengan iPad di tangannya. Pria yang hanya mengenakan jubah mandi sama sepertinya itu mendongak dan menatapnya.Indra penciuman Rhea menangkap aroma sensual dari pengharum ruangan. Lalu ada banyak kelopak bunga berhamburan tidak beraturan di bawah ranjang besar. Jika Rhea masih ingat, mereka semua berada di atas tempat tidur membentuk hati dengan rapi.“Itu mengganggu,” Maven bersuara seolah bisa mengetahui dengan jelas apa yang Rhea pikirkan.“Oh ….”Suaminya meletakkan iPad di nakas samping tempat tidur lalu beranjak dari tempat malasnya, melangkah mende

    Last Updated : 2023-05-16
  • The Billionaire's Bride   A Generous Person

    Well, mereka berada di satu tempat kerja. Jika Rhea seorang kurator, Andini adalah edukator. Juga tidak mungkin mereka tidak akan bertemu. Hanya saja, dia masih tidak ingin bertemu dengannya di hari pertamanya kembali bekerja setelah cuti empat hari.“Ayu bilang kamu sudah masuk hari ini jadi aku mencarimu ke mana-mana sejak tadi.”Suara sepatu hak tinggi terdengar semakin dekat dan berhenti di sebelah Rhea. Dia melirik ke samping dan melihat Andini yang tersenyum manis dengan posisi menghadapnya.“Aku turut berduka atas kepergian ayahmu. Aku sudah menganggap Om Hans seperti ayahku sendiri. Kamu tahu, tiap kali aku ke rumah kalian dia selalu memanjakanku. Kamu pasti sedih sampai-sampai mengambil cuti cukup lama. Aku pun merasakan apa yang kamu rasakan, Rhe. Aku sangat sedih.”Apakah itu ekspresi orang yang berempati? Dia berbicara sambil tersenyum secantik yang ia bisa. Dan juga nada suaranya, kenapa harus setinggi itu? Rhea menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.Ketika melihat bebera

    Last Updated : 2023-05-19

Latest chapter

  • The Billionaire's Bride   Suggest

    Dokter mengecek hasil laporan di tangannya, saling pandang, lalu menatap Maven dan mengangguk. Rhea yang duduk manis di tempat tidur pasien tersenyum lebar ketika menatap suaminya.“Anda sudah dibolehkan pulang, Bu Rhea,” ujar salah satu dokter. “Seperti yang saya katakan sebelumnya, mohon untuk datang pada jadwal temu nanti.”“Baik.”Di dalam mobil, Rhea yang memegang buket bunga dari Maven tidak bisa berhenti tersenyum. Kaca mobil dibiarkan terbuka agar dia bisa merasakan angin pagi yang segar. Maven yang mengemudi juga tidak bisa tidak ikut tersenyum. Melihat istrinya yang bahagia sudah cukup melegakannya.Tidak seperti di rumah sakit, kali ini Maven melonggarkan keamanannya dan membolehkan rekan kerjanya datang menjenguknya di rumah. Rumah mereka yang biasanya sepi kini sangat berisik dan ramai. Yana dan pelayan lainnya menjadi kewalahan dan sibuk namun tetap menikmati pekerjaan mereka.“Kau membuatku khawatir, kau tahu!” seru Ayu berlebihan membuat Rhea tertawa pelan. “Kami bahka

  • The Billionaire's Bride   Prove It and Stay

    Duduk di sofa dengan membiarkan jendela dibiarkan dibuka, Rhea tidak bereaksi saat Maven menyelimuti pundaknya. Suaminya lalu meletakkan botol minum mineral yang sudah dibuka segel botolnya di depannya sebelum duduk di seberangnya.“Bagaimana kabarmu?”“Sudah lebih baik,” jawabnya pelan setelah menoleh. “Aku bisa pulang besok kata dokter.”“Mereka sudah mengabariku tadi pagi bahwa kamu ingin cepat pulang.”Tentu. Tiga dokter yang mengawasinya tidak mungkin tidak memberitahukan detail kondisi terbarunya pada Maven.“Untuk apa aku dikurung di sini lebih lama jika aku sudah baik?”“Kamu tidak tahu mengenai kondisimu—”“Aku lebih tahu mengenai kondisi tubuhku.”“Ya sampai pingsan. Tentu.”Rhea tidak bisa membalas, namun ekspresinya jelas menunjukkan ketidakpuasan.“… Dengar, aku hanya ingin yang terbaik untukmu dan berharap kamu menerima perawatan dan diawasi di sini untuk beberapa hari ke depan lagi. Hanya untuk berjaga-jaga.”Nada bicara Maven terdengar lebih lembut dan pelan, tidak ingi

  • The Billionaire's Bride   Flowers in the Vase

    Rhea tidak memikirkannya dua kali. Dia sudah mengambil keputusan bulat dari awal. Begitu dia hamil, dia akan merawatnya dengan baik lalu menyerahkannya pada Maven setelah lahir. Toh, sudah tidak ada harapan mengenai sebuah keluarga baginya berkat Enzo.“Setelah dia lahir?”Lalu kenapa dia tidak bisa menjawab hal yang sama seperti saat kesepakatan itu dibuat? Apa karena wajah penuh harap dan ketakutan dari Maven yang kali pertama ia lihat? Atau ….“… bisa mengkhawatirkan, terutama selama kehamilan. Tetapi saya ingin meyakinkan Anda bahwa bayi Anda baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda bahaya—” Dokter yang menangani Rhea terdiam seketika begitu mengamatinya yang termenung memandang ke luar jendela.“Bu Rhea, apa Anda mendengarkan?”Rhea mengerjap pelan sebelum mengangguk kecil. Mereka sudah mengatakan hal yang sama sejak dua hari lalu. Dan dia sudah berada di rumah sakit selama tiga hari.“Selamat, Bu Rhea, Anda hamil. Ini sudah memasuki minggu ke-7,” ujar dokter setelah melakukan tes b

  • The Billionaire's Bride   Fucked Up

    Sekarang, setelah Maven menjelaskannya, dia jadi mengingat pertemuan mereka walau masih samar. Itu sangat mengejutkannya hingga rasanya mustahil. Dia masih tidak percaya jika dia memiliki cinta monyet saat masih kecil, bahkan mengajaknya berpacaran. Yang lebih mengejutkan lagi adalah pria itu ternyata suaminya.Artinya, dia dapat menyimpulkan kesepakatan di antara mereka itu sebenarnya akses untuk kembali padanya.“Jadi, bagaimana kita akan membuat skenario hubungan ini?”“Ada ide?”“Uh … mantan yang kembali?”Pantas saja saat dia memberi saran bagaimana hubungan palsu ini dimulai, Maven meatapnya dengan pandangan yang berbeda.“Aku anggap kamu sudah mengingatnya,” gumam Maven yang memperhatikan raut wajahnya sejak tadi.“Ta-Tapi, apa harus membantuku mengingatnya dengan posisi ini?”Alih-alih ke rumah sakit atau pulang ke rumah, Maven membawanya ke hotel. Memesan suite mewah dengan pemandangan khas ibu kota, juga makan malam dengan lilin. Situasi ini lebih intim hanya untuk mengingat

  • The Billionaire's Bride   A Promise to Keep

    Ketika Rhea berkata dia belajar bahasa baru dari ibunya, itu bukanlah kebohongan. Sejak dini, orang tuanya selalu mengajaknya ke acara pribadi kalangan atas, jika acara itu semua orang membawa anak mereka.“Kalian sudah dengar soal kebijakan pajak baru yang pemerintah keluarkan? Mereka mulai mengenakan pajak lebih tinggi untuk perusahaan besar, terutama di sektor teknologi dan energi.”“Kita harus mulai berpikir jangka panjang. Tapi, Pak Okta, saya lebih tertarik dengan apa yang pemerintah lakukan terkait kebijakan perdagangan.”“Saya baru-baru ini terlibat dalam sebuah inisiatif untuk membantu masyarakat di daerah terpencil …. Oh ya, bagaimana kabar usahamu, Pak Hans?”“Yah, tidak banyak hal. Terima kasih untuk Pak Joko yang membantu saya.”“Ahahah aku yang seharusnya berterima kasih! Kau banyak membantuku selama dua tahun terakhir ini!”Para pria dewasa mendiskusikan banyak hal yang tidak dipahaminya. Tiap kali Rhea mendengar obrolan mereka, dia masih belum terbiasa. Hans yang memeg

  • The Billionaire's Bride   A Bold and Outspoken Young Girl

    Mau update kemarin tapi wi-fi lelet banget. Gagal terus buka wattpad di laptop. Selamat baca loves!________________________________“Apa kalian sadar? Sepertinya kita jarang sekali mengobrol. Bukan hanya dengan kalian sebetulnya, aku juga tidak dekat dengan pria lain di Putik. Aku penasaran kenapa tidak ada yang mengajakku mengobrol atau diam-diam mengeluhkan atasan kita di belakang.”Sambil berjalan bersama, para pria ini diam saja membuatnya tidak sabar. Dia butuh obrolan agar mengalihkan kekesalannya. Dia perlu menjaga kewarasannya.“Uh, apa kau ingin mendengarnya?”Cukup jawab saja! “Aku bersikap menyebalkan untuk menjadi teman kalian, ya?”“Tidak sama sekali. Hanya saja ….” Mereka saling pandang.“Kami terlalu malu,” celetuk salah satunya tertawa.“Kau terlalu tinggi untuk tipe kami. Apalagi saat itu kau berpacaran dengan pria berkelas sepertimu. Harapan para pria di Putik segera pupus saat itu.”Rhea berhenti melangkah seketika. Bukan jawaban seperti itu yang ia harapkan. Dia

  • The Billionaire's Bride   Annoying

    Wanita asing ini mulai berbalik dan ikut menatap Rhea. Sepertinya, wanita ini pun tampak bingung seolah bertanya-tanya, ‘Who on earth is she?’.Rhea mencoba untuk berusaha tetap tenang. “Aku pun tidak tahu kamu di sini.”Dia kemudian menatap wanita di sebelah Maven terang-terangan sambil tersenyum. Dan Maven menyadarinya.“Ini teman lamaku, Alicia. Dan Lili, ini istriku, Rhea.”Alicia membawa rambut panjang hitamnya ke belakang telinga sebelum mengulurkan tangan. “Halo, Rhea.”Teman lama ditambah panggilan seperti itu, Rhea menarik napas dalam dan mengembuskannya dengan perlahan dan diam-diam. Dia kemudian menjabat tangan indah itu dan membalas singkat sapaannya, “Hai.”Tanpa sadar pandangannya melirik tangan Alicia lain yang tidak menggunakan perhiasan apa pun di jari-jarinya. Rhea mengatur napasnya teratur dan lambat. Dia perlu tetap tenang dan berperilaku. Dinginkan kepala dan tenangkan pikiran. Apa yang perlu ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya, ya?Haa, tangannya yang mengepa

  • The Billionaire's Bride   That Was My Line

    “… Ini sudah larut dan aku tidak punya energi untuk bergagumen hal kecil seperti ini.”Ucapan Enzo pada malam itu membuat Andini mendiamkannya. Tentu dia lebih marah karena tidak menyangka suaminya menganggap kecemasannya sebagai ‘hal kecil’. Suaminya itu bahkan tidak tahu betapa terluka perasaannya.Di saat bersiap ke kantor, Enzo berkata, “Aku sepertinya akan pulang malam lagi hari i—”“Lakukan saja apa yang kamu mau,” potong Andini yang segera mengambil tasnya. Dia selalu pulang sangat malam, jadi untuk apa mengatakan ‘hal kecil’ itu?Gerakannya yang memasang dasi terhenti seketika. Enzo kemudian melihat kepergian Andini. Tepat hari itu suaminya menyadari perang dingin yang dibuatnya. Terima kasih untuk kesibukan Enzo beberapa minggu berikutnya, perang dingin itu semakin menyesakkan dada.Suasana hatinya menjadi buruk dari hari ke hari. Bahkan di tempat kerjanya. Andini beberapa kali nyaris kehilangan kendali dirinya. Dia akui, hal kekanakkan yang ia lakukan ini pun menyakiti dirin

  • The Billionaire's Bride   Not Her?

    Di salah satu restoran jepang, Maven dan Zayden saling pandang dengan ekspresi datar.Lalu, Cade tertawa memecahkan suasana aneh di sekeliling mereka. “Demi Tuhan, kali ini sungguh kebetulan! Jadi berhentilah memasang ekspresi saling membunuh. Kalian menakutiku, tahu?”Melirik Alex yang juga terkejut membuat Maven percaya, Dan jika pertemuan kebetulan seperti ini terjadi, ini bukan hal yang menyenangkan untuk mereka berempat.Alex mengembuskan napas dengan mata terpejam. “Sial, keberuntunganku tahun ini hilang gara-gara kalian. Karena urusanku di sini telah selesai, aku akan pergi lebih dulu. Dan jangan temui aku beberapa hari ke depan.”“Aku juga berharap tidak bertemu denganmu untuk sementara waktu.” Cade masih tertawa lalu pergi juga bersama asistennya.“Aku hanya pergi buang air. Sebentar lagi urusanku di sini berakhir,” kata Zade setelah mendapatkan ekspresi menuntut Maven.Mendesah, Maven mengusap wajahnya. Mereka pun berjalan beriringan di lorong menuju ruang pribadi masing-mas

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status