Kanza Athalia Rozenka. Terpaksa harus kehilangan beasiswa kuliah karena ulah salah satu teman kampus yang tak menyukai dirinya. Hidup sangat sederhana tak membuat teman-temannya iba, mereka justru merasa iri dengan kecantikan juga kecerdasannya. Kanza yang merasa sedih berjalan tak tentu arah, hingga klakson mobil membuat dunianya kembali nyata. Melvin Surendra, mengalami kecelakaan akibat dari kelalaian Kanza saat menyeberang. “Aku tidak ingin uangmu, aku ingin kau mengganti rugi semua ini dengan menjadi istriku!” Akankah Kanza menikahi Melvin demi tanggung jawabnya? Lantas bagaimana kehidupan pernikahan yang dibangun atas dasar kesalah?
View MoreMelvin memesan puding juga es krim untuk dirinya juga Kanza. Namun saat hendak kembali ia merasakan perutnya melilit, dengan buru-buru ia mencari toilet di sekitarnya.Namun saat di toilet, ia mendengar suara orang di luar yang tengah mengobrol.Samar-samar ia mendengar jika orang tersebut tengah menceritakan pertengkaran di area restoran.“Kayak nggak ada tempat lain aja, malu-malu in.” Selorohnya.“Cukup Tar, lo udah kelewatan.” Sentak Kanza pada akhirnya. Ia sudah lelah dengan teriakan juga caci maki dari Tari.“Haha.”Plak.Kanza terkejut, begitu juga beberapa orang yang tengah menatap pada keduanya.“Tamparan itu bahkan nggak sebanding dengan kejahatan lo sama gue.”Mengibaskan rambutnya, Kanza menatap kesal pada Tari yang sudah mulai di luar kendali.Gadis itu begitu kesetanan menyerangnya, ia pun sampai bertanya-tanya apa lagi kesalahannya.
Masih di balkon kamar, dua anak manusia saling mendengarkan dan mencerna. Lebih tepatnya Melvin yang tengah mendengarkan istrinya, tentang rasa sedih dan luka yang lagi dan lagi terbuka.“Aku bahkan nggak ngerti dengan apa yang mereka bicarakan. Tapi ibu itu malah terus menuduhku, memaksa rektor untuk mengeluarkanku dengan ancamannya.”“Dia mengancam apa?”“Jika pihak kampus tidak mengeluarkanku, maka dia akan mencabut semua bantuan untuk kampus.”Telinganya dengan seksama mendengar, matanya dengan teduh menatap juga tangannya yang selalu sigap menghapus air mata.Melvin benar-benar manis pagi ini. Bahkan di tengah rasa sedihnya, Kanza masih bisa berdebar dengan perlakuan manis tersebut.“Gimana nanti kalau saya benar-benar di keluarkan, Tuan?”Tangannya terulur, menyelipkan anak rambut yang menutupi indah wajah sang istri.“Apa kamu lupa dengan apa yang saya katakan sehari
Kanza terbangun karena kantong kemihnya terasa begitu penuh, ingin ia segera bangkit dan membuang semuanya.Namun tidak semudah itu, sesuatu kini tengah membelit tubuhnya.“Astaga, sejak kapan?” menatap tangan kokoh yang saat ini memeluknya dengan posesif.Kanza begerak dengan begitu pelan, berusaha menyingkirkan tangan kokoh itu dengan sangat pelan.“Jangan bangun ya, maaf. Maaf ya, tidur lagi.” Gumamnya.Jantungnya seakan berhenti saat melihat suaminya menggeliat dan berpindah posisi.Nyatanya Melvin tak terbangun, ia hanya mengubah posisi atau mungkin tengah mencari posisi nyamannya.Melihat itu membuat Kanza segera berlari menghindar, menuntaskan apa yang sudah seharusnya di lakukannya pagi itu.Keluar dengan wajah segar, Kanza memilih duduk di balkon kamar.Semilir angin menemaninya menikmati pagi, menerbangkan rambut yang basah terkena air.Pikiran nya melayang, mengingat tentang huku
Kanza begitu lahap menyantap makan malamnya, hanya makanan sederhana namun nampak sangat nikmat.Melvin mengikuti jejak istrinya, ia juga ikut menikmati makan malam yang sebenarnya sudah sangat kemalaman itu.Bagaimana tidak jika mereka baru merasa lapar ketika jarum jam menunjukkan pukul setengah satu malam.Dan disinilah keduanya, sebuah warung pinggir jalan yang nampak ramai dengan pengunjungnya.Walau sederhana namun Melvin begitu menikmatinya.Entah memang karena makanan yang sesuai dengan seleranya, atau karena ada Kanza bersamanya.Sesekali Melvin melirik dengan penasaran, namun sebisa mungkin di tahannya.Ia tak ingin istrinya kehilangan selera makan.Kanza melirik minuman milik suaminya, ia pun dengan tanggap memberikan minuman miliknya.“Minum ini, nanti seret.”Begitu patuh, Melvin meneguk minuman langsung dari botolnya.Mata Kanza membola, tak percaya.“Tuan, itu kenapa
Nadia menunggu dengan cemas di depan ruang rektor, berkali-kali ia mencoba mengintip lewat jendela namun tak satupun yang dapat dilihatnya.Dan tak lama pintu terbuka, Kanza keluar dengan wajah sendu.“Gimana? Apa kata rektor?” cecar Nadia cemas.Kanza menghela nafas, ia pun menatap Nadia dengan tatapan iba.“Jangan bikin panik deh, cepat jawab.”Tiba-tiba saja ibunya Dewi keluar dengan wajah bersungut-sungut.Sempat berhenti sejenak di dekat Kanza sebelum akhirnya pergi membawa kemarahannya.“Za?”Kanza melangkah pergi, diikuti Nadia yang masih penasaran dengan hasil di ruang rektor.Bukan hal biasa saat ia bisa melihat sahabatnya keluar dari ruang rektor dengan baik-baik saja.Memilih duduk di kelas, Kanza menyibukkan dirinya dengan buku-buku pelajaran.“Za, lo belum kasih tahu gue apa hasilnya?” cecarnya.Melirik sekilas, “Gue di skors satu min
Pagi kembali menyapa, namun hangat sinyarnya tertutup oleh dingin sikap Melvin.Kanza hanya bisa menatap suaminya dari jarak aman, jarak dimana ia masih bisa melihat kegiatan Melvin tanpa harus menampakkan diri.Ia tahu suaminya sedang marah, namun ia tak tahu jika dirinya lah penyebabnya.Melvin melangkah keluar kamar, mengabaikan Kanza yang masih menunggu di sudut ruang.“Kenapa marahnya lama banget sih?” gumamnya.Namun tiba-tiba Melvin kembali lagi, berjalan melewati Kanza masuk ke dalam ruang ganti.“Tuan, anda mau kemana?”Mata Kanza tak lepas dari koper yang ada di tangan Melvin, menyisakan tanda tanya akan diamnya sang suami.“Tuan, saya bertanya.”“Dinas.”Singkat, lalu berjalan pergi meninggalkan Kanza yang masih tak mengerti dengan sikap suaminya.Pagi itu menjadi pagi terakhir keduanya bertemu.Sudah lebih dari dua hari Melvin meninggalkan rumah, bahkan tak satu pun kabar ia berikan pada Kanza.Endi berulang kali menegurnya, meminta Melvin untuk bisa menghargai Kanza sebag
Melvin semakin diam, bahkan kini Kanza bisa merasakan aura dingin dari suaminya itu.Mobil tiba di pelataran rumah, namun Melvin lebih dulu keluar dan melenggang masuk.Meninggalkan Kanza yang masih terdiam di dalam mobil.“Tolong mengerti, suasana hati tuan sedang buruk. Ada masalah dengan pekerjaannya.”“Ya.” Singkatnya sebelum keluar menyusul suaminya.Melepas dasi secara kasar, Melvin benar-benar dalam mood yang buruk.Melihat kedatangan Kanza, ia buru-buru keluar kamar. Membuat tanda tanya besar di benak Kanza atas sikapnya.“Aneh deh. Tiba-tiba datang ke kampus, tiba-tiba maksa pulang sekarang tiba-tiba marah.”Kanza dibuat bingung dengan mood suaminya.Namun gadis itu tak ingin ambil pusing, ia lebih memilih membersihkan diri dan melanjutkan tugas kampus.Hingga sore menjelang Melvin masih tak kunjung menampakkan diri. Ada rasa cemas di hati Kanza, namun ras
Hubungan yang semakin menjauh membuat jarak tak terukur di antara Melvin juga Kanza. Pernikahan yang mereka jalani kini seperti gurun pasir, kering tanpa angin atau air.Melvin terlihat begitu acuh saat berpapasan dengan Kanza yang baru saja menyiapkan sarapan pagi.Di rumah itu, Kanza yang selalu ingin menyiapkan makanan. Selebihnya ia tak ingin membantah suaminya untuk tak turun tangan.Namun sesekali ketika bosan, Kanza melanggar aturan itu.“Sarapan dulu, saya sudah membuat sandwich.”“Hm.”Hening, keduanya sibuk dengan makanan di depan mata.Melvin bangkit, ia lebih dulu meninggalkan rumah tanpa berpamitan.“Suami macam apa yang meninggalkan istrinya tanpa berpamitan. Gini amat nikah karena tanggung jawab.” Keluhnya.Tak lama ia pun meninggalkan rumah, menuju kampus tempat ia mencari ilmu.Namun Kanza tak tahu, jika disana sudah ada bom yang tengah menunggu.*
Tari tersenyum penuh kemenangan ketika mendengar suara teriakan Kanza, raungan meminta tolong dengan penuh ketakutan membuat hatinya begitu bahagia,“Sakit ini nggak seberapa dibanding sakit hati di putusin Reno.”Tersenyum smirk, Tari melangkah hendak mendekat untuk mengambil video Kanza.Namun tiba-tiba seseorang datang dari belakang, dan“Siapa kalian?” seru Tari.Orang-orang itu segera mengambil paksa kamera dari tangan Tari, menatap sekitar kemudian menghancurkannya hingga tak tersisa.“Brengsek! Kalian gila, itu lebih mahal dari nyawa kalian semua.”“Terlalu sombong!” ucap dingin salah satu dari mereka.Dengan kasar menyeret Tari, memaksanya berjalan berirama dengan langkah kaki mereka.Mata Tari membulat saat tahu kemana dirinya akan dibawa.Sekuat tenaga ia berontak, berusaha kabur agar tak sampai dengan apa yang saat ini di pikirkannya.Ia menatap sek
Jemarinya bertaut, saling meremas demi mendapat sebuah ketenangan. Namun rasanya tidak lah mungkin, dinginnya pendingin tak sedingin tubuh Kanza saat ini.Kanza duduk begitu gugup di ruang rektor kampusnya, keringat mulai membasahi wajah serta tangannya.“Kanza Athalia Rozenka, apa benar yang sudah disampaikan oleh teman-temanmu itu? Dan apa benar jika yang ada di dalam video itu adalah kamu?” tanyanya begitu tegas, tak ingin dibantah.Kanza diam, kepalanya menunduk matanya menatap kedua tangannya yang saling meremas.“Jawab saya, Kanza!”Tubuhnya melonjak kaget, “I-itu memang benar saya, Pak. Tapi semua yang mereka katakan bohong, saya tidak pernah melakukan itu semua.”Tangis tak lagi bisa dibendungnya, Kanza benar-benar takut dan lemah. Selama ini ia bisa tenang menjalani masa kuliahnya karena beasiswa yang diterimanya.Namun sekarang ia dihadapkan dengan kenyatakan jika ia harus siap kehilangan beasiswa akibat fitnah dari teman-temannya.“Sesuai dengan peraturan kampus, kamu harus ...
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments