Para karyawan seketika tersentak dan terdiam ketika mendengar teriakan dari Bos mereka. Saat itu juga Haris segera menghampiri kegaduhan yang terjadi di pagi hari ini.
“Ssshhh.... awchhh.” Tampak Siska yang tengah berseringai menahan sakit pada bagian lutut dan kedua telapak tangannya akibat didorong secara paksa oleh beberapa karyawan yang tidak suka dengan kehadirannya.
“Mba, kamu nggak papa?” tanya Ika sembari membantu Siska untuk berdiri.
Sedangkan Haris kini tengah menatap tajam seluruh karyawan yang baru saja menghakimi Siska. Lelaki itu paham bahwa mereka semua pasti sangat kesal dengan sekretarisnya itu akiba
Siska menyenderkan kepalanya pada sandaran sofa yang ada di ruangan Haris. Kini Ika tengah membantu Siska untuk membersihkan luka itu, sedangkan Haris sendiri sudah pergi ke ruang meeting. “Nggak nyangka banget kalo semua ini karena ulah Dewi, Kaa. Di balik sikap baiknya ternyata dia nggak suka sama aku,” keluh Siska dengan pandangan kosong. Ia memang tidak mengharuskan semua orang untuk selalu menyukai dirinya. Namun, dibenci tanpa alasan seperti ini oleh seseorang yang dianggap sebagai teman yang baik rasanya sudah pasti tidak mengenakan. “Iya, Mba sama. Padahal setahu aku ya selama di
“Mama!” sarkas Haris yang entah sudah sejak kapan berdiri di ambang pintu. Kemudian, dengan cepat ia segera menutup pintu ruangannya agar para karyawannya tidak akan ada yang mendengar percakapan ini. Sudah cukup permasalahan Dewi saja yang membuat suasana kantor menjadi riuh dan kacau. Ia tak ingin jika sampai hal ini kembali membuat Siska dalam masalah dan justru benar-benar memilih untuk meninggalkan pekerjaan ini dari kantornya. “Meetingnya sudah selesai?” Rosalinda pun bangkit dan menghampiri sang putra. “Mama tolong jangan memperkeruh keadaan. Siska mau kembali ke sini aja Haris udah bersyukur, tapi apa yang justru Mama perbuat. Mama
Hari ini terasa begitu panjang bagi Siska dengan masalah demi masalah yang menghampiri paginya hampir membuatnya putus asa. Masalah satu selesai, namun masalah baru justru kembali hadir. Bahkan menurutnya jauh lebih mengganggu ketenangan dan kenyamanannya. “Astagfirullah!” Siska menghela napas berat sembari memejamkan kedua matanya. Begitu masuk rumah dan melihat putri kecilnya yang langsung berlari ke arah dirinya membuat beban di pundak Siska sedikit mereda. Senyuman Qila mampu membuatnya sejenak melupakan segala kepenatan yang terjadi hari ini. “Tangan Bunda kenapa?” Aqila meraih kedua tangan Siska dengan wajah yang mur
“Nggak, Ma. Ini Haris nganter Ilham keluar ketemu sama anaknya.” Rosalinda sudah tahu kalau menantu Pak Kyai itu adalah seorang laki-laki yang sudah memiliki istri dan anak. Namun, baru sore tadi juga ia tahu kalau istri pertama Ilham itu adalah Siska dari orang suruhannya. Hal itu membuat Rosalinda mempunyai sebuah ide cemerlang untuk membuat anaknya tidak menjadikan janda itu sebagai menantunya. “Oalah sama Ilham. Ya sudah nanti sebelum kembali ke rumah Pak Kyai ajak Ilham ke rumah, ya. Ada yang mau Mama omongin sama dia.” Haris menyatukan kedua alisnya curiga, “mau ngapain lagi mama ini,” batinnya seraya menghela napas
Jam masih menununjukkan pukul 3 dini hari dan Siska sudah terbangun dari tidurnya. Perlahan ia menyingkirkan tangan putrinya yang sejak semalam memeluknya. Di pandangi wajah cantik nan manis putrinya itu sembari tersenyum. Sesungguhnya ada rasa sedih kala menatap wajah sang putri. Siska tidak lagi mempunyai banyak waktu untuk menemani tumbuh kembang putrinya seperti beberapa tahun belakang ini. Wanita itu harus bekerja demi mencukupi kebutuhan sang putri dan keluarga. Apa saja akan ia lakukan agar keluargnya bisa hidup dengan layak, agar tak bergantung pada orang lain. Tak ia pungkiri, bahwa masa-masa ini terasa sedikit berat untuknya. Ia teringat dengan kehidupannya yang dulu, di mana sebuah keluarga kecil y
Siska sendiri berusaha untuk tidak menghiraukan Rosalinda yang sangat memperlihatkan dengan jelas bahwa Ibu dari sang pemilik perusahaan itu tak menyukai dirinya. Tidak tahu apa yang ada dipikiran wanita itu yang jelas Siska hanya akan berusaha fokus untuk bekerja saja, tanpa ada niatan yang lain. Biarlah seseorang membencinya, asalkan tidak sampai membuat dirinya dalam bahaya. Siska tetap melanjutkan kegiatannya siang ini dengan menghabiskan makan siangnya. Ia bergabung pada 3 karyawan perempuan dan 2 laki-laki. “Denger-denger perempuan tadi yang sama Bu Rosalinda itu jebolan univ di Amerika loh, keren banget kan, ya,” seru Hana lalu meminum segelas es tehnya.&
“Bunda...” panggil Qila seraya mendongak menatap wajah Siska. Gadis kecil itu kini tengah memakai mukena berwarna merah maroon sembari memegang iqro di tangan kanannya. Ia baru saja belajar membaca bersama dengan sang Bunda. Siska sendiri melihat sang putri nampak sedang gelisah, entah apa yang sedang gadis kecil itu pikirkan, “ada apa, Sayang?” tanyanya sembari mengusap lembut kedua pipi Aqila. Bukannya menjawab justru Aqila menundukkan pandangannya seraya menghela napas kecil. “Hey, Sayang. Ada apa?” Siska mengangkat tubuh kecil Aqila ke dalam pangkuannya. Mengangkat dagu putri kecilnya itu agar kembali menatap dirinya. “Qila sangat bosan, Bunda. Setiap hari Qila hanya bersama nenek dan kakek. Kalau enggak di rumah, ya ke toko. Qila mau pergi jalan-jalan kaya waktu sama ayah dulu. Qila bosen banget di rumah ini, Qila pengen tinggal di rumah kita lagi, Bunda...” rengek Aqila dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Beberapa minggu sudah terlewati. Siska semakin sibuk dengan pekerjaannya dan Aqila sudah kembali membaik. Namun, sayangnya sudah beberapa kali ia mencoba untuk menghubungi mantan suaminya selalu tidak bisa. Hingga pagi siang ini saat mengantarkan dokumen ke ruangan Haris, ia mencoba memberanikan dirinya untuk bertanya. Walau memang selama ini obrolan mereka hanya seputar pekerjaan saja, karena Siska selalu berusaha menjauh dari Ilham. Bahkan wanita itu sering sekali membuat alasan agar tak berlama-lama berada di ruangan atasannya itu. Ajakan makan siang pun selalu ia tolak dan beberapa minggu ini juga Siska sering kali melihat Haris tengah keluar bersama dengan Syakira. Membuat Siska sendiri menjadi lebih tenang, karena dengan begitu Rosalinda pasti tidak akan lagi berpikir yang tidak-tidak mengenai dirinya. Tok... Tok... Tok... “Assalamualaikum, Pak,” seru Siska dari luar. “Waalaikum salam, iya silahkan masuk.”