Home / Rumah Tangga / Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya / Bab. 03. Niat Busuk Victory dan Bu Helena

Share

Bab. 03. Niat Busuk Victory dan Bu Helena

Author: Kurnia
last update Last Updated: 2024-07-10 15:08:54

Dengan santai Han menjawab, “Aku tidak dipecat, Sayang. Hari ini atasan di pabrik datang. Sehingga karyawan tidak diperkenankan untuk lembur. Mangkanya aku bisa pulang lebih awal.”

Cani menghela napas panjang, rasa lega membanjiri hatinya. Suaminya ternyata tidak dipecat.

"Oh ... Kirain dipecat,” sahut Mbak Fatin. “Tapi, kalau enggak lembur bayarannya makin dikit. Mana ada duit buat beli rumah keprabon,” lanjutnya mencibir.

“Membeli rumah Keprabon?” tanya Han mengernyitkan dahi.

Cani enggan berdebat, dengan lembut meminta Han masuk rumah. Tanpa membantah, Han menurutinya.

“Kita bisa bicarakan ini nanti, Mbak. Lagi pula, Mas Han nggak ada hubungannya dengan warisan keluarga kita. Aku harap, Mbak Fatin tidak menyudutkan Mas Han,” tegas Cani.

Dengan langkah cepat, Cani bergegas menuju rumah, ia tak mau berlama-lama menunggu tanggapan kakaknya.

Begitu masuk ke dalam rumah, Cani sudah disambut oleh Han yang ternyata menunggunya.

“Maksud dari mbakmu apa, Sayang?” tanya Han bersuara lembut.

Cani meletakkan barang bawaannya kemudian duduk di samping Han.

“Mereka mulai mengungkit tentang rumah ini, Mas. Rumah yang kita tinggali ini statusnya masih milik ayah,” terang Cani.

Han mengerutkan dahi mendengar penuturan Cani.

“Sebagai bentuk terima kasih. Ayahmu telah memberikan tanah beserta rumah ini kepadamu. Hanya kamu satu-satunya anak yang mau merawat ayahmu yang sakit.” Han mengingatkan Cani.

Cani menggelengkan kepala pelan.

“Itu hanya sekedar ucapan saja. Tidak ada bukti tertulis yang memperkuat pernyataan tersebut,” jelas Cani.

“Lantas, apa yang akan dilakukan saudara-saudaramu?” tanya Han penasaran.

“Kata Mbak Fatin, aku harus membeli rumah ini. Kalau aku nggak mampu, aku harus rela rumah ini dibeli oleh suami Victory. Tentu saja, nanti aku juga bakal dapat uang dari penjualan rumah ini,” jelas Cani bersedih.

“Mas Han, aku harus ngapain? Aku nggak mau rumah ini jatuh ke tangan orang lain, selain anggota keluargaku sendiri. Rumah ini sudah ada sebelum ibu kandungku meninggal,” lanjut Cani sedikit mengeluh.

Han menangkup kedua pipi tembem Cani. Jempolnya memberi elusan lembut di sana. Tindakan Han membuat Cani merasa tenang.

“Semua akan baik-baik saja. Kamu tidak perlu memikirkan sesuatu yang belum terjadi,” ucap Han.

“Hal itu pasti terjadi. Sekarang, seluruh saudaraku sudah memihak pada Victory dan Bu Helena. Kudeta untuk mendepakku akan segera dimulai.” Cani meluapkan kekhawatirannya.

“Jika mereka berani melakukannya. Mereka akan mendapatkan balasan. Yang menjadi saksi atas pernyataan ayahmu waktu itu bukan hanya aku, melainkan kakak pertamamu, dan Bu Helena. Kita lihat saja nanti. Apakah mereka berdua bersikap jujur atau tidak.”

Cani mengangguk mengerti. Hatinya yang sempat gundah. Kini kembali tenang. Suaminya sangat hebat membuat dirinya legowo.

“Sudah ah, enggak mau mikir yang aneh-aneh!” ucap Cani.

“Mending kita makan bareng yuk! Aku tadi masak hati ampela kesukaanmu loh, Mas,” ajak Cani.

Han mengikuti Cani yang berjalan menuju ke dapur. Han tersenyum saat aroma harum masakan Cani tercium. Keduanya pun duduk bersama di lantai, setelah Cani memberi Han sepiring makanan.

“Tadi di warung Mbok ada diskon. Yaudah aku beli hati ampela agak banyak. Syukurlah, bisa makan makanan enak selama dua hari,” ungkap Cani.

Han tersenyum melihat istrinya senang. Dia pun memakan masakan Cani dengan lahap.

"Gimana hasil penjualan hari ini?" tanya Han.

"Laris manis, Mas. Banyak orang bermobil berhenti beli keripik pisangku," jawab Cani sumringah.

"Syukurlah ... Uangnya disimpan ya."

Cani mengangguk seperti anak kecil. Sikap manjanya selalu keluar ketika sedang berduaan bersama sang suami.

***

Cani tidak menyangka. Waktu itu tiba dengan cepat. Baru saja dirinya dan sang suami membahas soal rumah keprabon. Dua hari kemudian saudara-saudara Cani pada datang ke rumah.

Mereka datang tanpa pemberitahuan sebelumnya. Alhasil Cani hanya bisa menurut sambil masih kebingungan.

"Mas Han keluar dulu deh. Kamu bukan anggota keluarga." Victory mengusir Han.

"Kenapa kok Mas Han aja yang disuruh keluar? Suamimu juga harus keluar dong," timpal Cani.

"Heh! Suamiku ini yang punya kuasa. Gak sopan kamu, Mbak! Nyuruh suamiku keluar!" sungut Victory tidak terima.

"Biar adil! Katanya yang bukan anggota keluarga harus keluar?" balas Cani.

"Nggak usah ngeributin hal tidak penting. Kalau Han masih ingin di sini. Biarkan saja. Lebih banyak saksi, lebih baik," tutur Indra mererai keributan.

"Tuh, suamimu saja mengerti," ucap Cani.

Wajah Victory berubah nyolot. Tapi, berhubung suaminya tak mempermasalahkan. Mau tak mau Victory membiarkan Han tetap di dalam ruangan.

"Baiklah, kita mulai saja. Kami datang ke sini untuk membicarakan rumah ini. Bagaimana enaknya saja. Biar nggak terjadi perpecahan," tutur Bu Helena.

Berbicara seperti ibu peri yang membawa perdamaian. Padahal Bu Helena sendiri yang mengakibatkan perpecahan di antara saudara Cani.

"Nggak usah basa-basi, Buk. Langsung saja ke intinya. Aku nggak tahan di sini lama-lama," desak Victory.

"Kalian berdua tinggal di rumah keprabon. Setelah pemilik rumah meninggal, kalian harus membaginya secara merata ke ahli waris," jelas Bu Helena.

"Aduh! Kalimat, Ibu masih terlalu panjang," cibir Victory.

"Intinya gini ... Mbak Cani kasih uang ke kita sesuai dengan harga rumah ini. Atau nggak, Mbak Cani jual aja rumah ini ke suamiku. Nanti uangnya bisa kita bagi rata," terang Victory.

Cani terdiam. Dia menunggu kakak pertamanya berbicara mengenai wasiat sang ayah sebelum meninggal.

"Mbak Cani ini dengar nggak sih? Kok malah kayak patung!" tegur Victory mulai kesal.

Cani berusaha menahan diri agar tidak menginterupsi kakak pertamanya yang sedari tadi diam.

"Pasti lagi mikir. Nggak usah mikir segala. Jual saja ke Tuan Indra!" seru Mbak Fatin.

Cani menatap Mbak Fatin dengan sengit. Bisa-bisanya kakak kandungnya dengan lantang mengatakan hal tersebut.

"Manggil adik iparnya pakek sebutan tuan? Segitunya," batin Cani.

"Lagian, mana mungkin kamu punya uang ratusan juta buat beli bagian-bagian kami di rumah ini," lanjut Mbak Fatin.

"Mbak Fatin ternyata lebih pintar dari Mbak Cani," puji Victory.

Gara-gara ocehan Mbak Fatin. Suasana di dalam ruang tamu mulai memanas kembali.

"Nanti kalau Indra membeli rumah ini. Sertifikatnya bakal atas nama siapa? Victory kah?" tanya Cani ingin memastikan.

"Mbak Cani kok lucu?" ledek Indra seraya menatap Cani dengan sinis, “Belinya pakek duitku. Yo jelas sertifikat atas namaku."

Cani menggelengkan kepalanya. Sebagai anak yang sangat mencintai kedua orang tuanya. Cani tak rela jika peninggalan ayahnya harus jatuh ke tangan orang lain. Apalagi Cani tahu persis, bagaimana susahnya sang ayah memperbaiki rumah agar nyaman dihuni oleh anak-anaknya.

"Kasih rumah ini padaku. Nanti aku kasih uang tiga ratus juga," kata Indra enteng.

"Tiga ratus juta? Rumah ini berada di tepi jalan raya. Dan memiliki luas tanah 24×16 meter persegi. Terlalu murah jika dihargai segitu." Tiba-tiba Han bersuara.

"Halah! Tahu apa kamu soal harga tanah! Mending kamu diam saja, Han!" bentak Indra.

"Aku nggak mau jual rumah ini sama kamu!"

Bersambung ...

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 04. Mengukur Ulang Tanah Warisan

    Perdebatan sengit tak terhindarkan. Saudara Cani yang lain mulai ikut menyudutkan Cani. Menyalahkan Cani, dan menuduh Cani serakah. "Rumah keprabon harus dibagi!" bentak Mbak Fatin. “Sebelum ayah meninggal. Ayah sudah membagi tanah kosong samping rumah. Sedangkan rumah ini adalah hakku. Ayah sendiri yang mengatakannya,” tegas Cani. “Mana buktinya kalau ayah kasih rumah ini sama kamu? Jangan asal ngoceh kamu!” tuntut Mbak Fatin. Cani menatap kakak pertamanya, dan Bu Helena yang menjadi saksi waktu itu. Cani meminta dua orang itu mengungkapkan kebenaran. Namun, keduanya mengelak pernyataan Cani. Bu Helena malah menuduh jika Cani suka ngarang. “Kok tega kalian bohong?” Cani putus asa. Cani mencegah Han yang ingin membantu dirinya berbicara. Cani tidak ingin Han diserang oleh saudara-saudaranya yang beringas. Alhasil, Han pun tak bisa mengeluarkan pendapatnya. Padahal Han sudah geregetan. “Kamu yang bohong! Mana ada ayahmu ngasih rumah keluarga kepadamu! Dasar halu!” cela Bu Helena

    Last Updated : 2024-07-10
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 05. Rumah Keprabon Menjadi Milik Cani

    Dengan senyuman tipis, Han menjawab, “Uang ini milikku, Sayang.” Sontak Cani terkejut sekaligus tak percaya. Masa iya, suaminya memiliki uang sebanyak ini? Dari mana coba? “Mas Han jangan bohong ... Sekarang, Mas jawab jujur, dapat uang ini dari mana?” tanya Cani sedikit mendesak Han agar segera menjawab dengan benar. Han menatap Cani intens. Sebelum menjawab, Han sempat menghela napas terlebih dahulu. “Jangan mikir aneh-aneh. Uang ini dari hasil penjualan tanah,” terang Han. “Apa? Tanah yang di mana? Kamu menjual tanah siapa?” cecar Cani gelisah. Han menggelengkan kepala pelan. Tangannya meremat pundak Cani, meminta Cani untuk tetap tenang. Han dengan santai memberi tahu Cani, jika uang yang ia bawa, ia dapatkan dari penjualan tanah peninggalan neneknya yang telah diwariskan kepadanya. “Tanah peninggalan nenek? Kok, Mas nggak pernah kasih tahu aku sebelumnya? Mas mau main rahasia nih sama aku?” sungut Cani sedikit kesal dan merajuk. Han segera meminta maaf pada Cani, dan menj

    Last Updated : 2024-07-10
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 06. Mas Han Pengen WC Duduk

    “Ngomong apa kamu, Han ... Han ....” ejek Indra. “Emang siapa? Saksi yang mengeluarkan kesaksian palsu? Ada-ada saja. Dasar orang miskin,” hina Indra terkekeh dengan tingkah norak Han. “Biasa, baru punya uang tiga ratus juta. Mangkanya sok,” sahut Bu Helena. Han hanya menanggapi ocehan mereka dengan senyuman tipis. “Alhamdullilah ... Semua sudah beres. Sekarang, tanah beserta rumah ini telah resmi menjadi milikku,” ujar Cani merasa lega. Victory menatap sinis kakaknya. Tentu saja, dia tidak senang. “Aku pengen tanya sama kamu, Mas Han.” Victory memandang Han. “Mau tanya apa? Silakan,” jawab Han. “Kamu masih punya tabungan kah? Laku berapa tanah milik nenekmu?” tanya Victory sambil mengangkat dagu. Menunjukkan keangkuhannya. Victory sangat penasaran akan hal tersebut. Sampai-sampai, dia tidak mampu menahan diri untuk tidak bertanya. “Aku tidak punya tabungan. Hasil dari jual tanah, sudah aku berikan untuk membayar kalian,” tutur Han. Victory tersenyum pu

    Last Updated : 2024-07-11
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 07. Mbak Fatin Boleh Jualan Lagi Kok!

    “Jangan ngomong gitu, Mbak. Nggak baik,” ucap Cani. Mbak Fatin melihat meja dagangan Cani yang kosong. “Keripikmu terjual habis lagi?” tanya Mbak Fatin. Cani mengangguk kemudian menjawab, “Iya, Mbak. Tadi ada yang borong.”Mbak Fatin berdecap tidak suka. Mbak Fatin menyuruh Cani untuk melanjutkan kegiatan berberes. Karena Mbak Fatin enggan berlama-lama melihat sang adik. “Aku boleh bantuin kamu, Mbak?” tawar Cani berniat untuk membantu kakaknya membereskan barang. “Heh! Gak usah nyentuh barangku!” bentak Mbak Fatin. “Sana kamu masuk ke rumahmu! Kamu sudah selesai beresin barangmu sendiri ‘kan!” tekannya. Cani terkejut. Pasalnya, ini pertama kalinya bagi Cani mendengar bentakan sang kakak. “Mbak Fatin kok berubah banget ya?” batin Cani bertanya-tanya. “Mbak Fatin kasar sekali?” protes Cani. “Aku berubah juga semua gara-gara kamu! Coba kalau kamu mau menjual rumah ini ke suami Victory. Aku nggak mungkin tertekan seperti ini!” cerocos Mbak Fatin. “Kok nyalahin aku? Aku hanya me

    Last Updated : 2024-07-12
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 08. Dagangan Cani Ditutup Sosok Hitam Besar

    Mbak Fatin menoleh ke arah Cani yang bersuara lantang. “Ya lumayan. Baru dapat dua ratus ribu doang,” jawab Mbak Fatin enteng. “Mbak Fatin mau makan nggak? Kalau mau aku ambilkan.” Cani menawari Mbak Fatin. “Ogah! Palingan juga makanan nggak enak! Aku alergi makan makanan orang susah,” tolak Mbak Fatin congkak. Tingkah tidak tahu diri yang selalu ditampilkan Mbak Fatin. Sukses membuat Han tergelitik. Namun Han terus berusaha menahan diri agar tidak tertawa. “Ya sudah kalau, Mbak Fatin nggak mau makan. Aku makan dulu, Mbak. Tolong jagain warungku sebentar,” pesan Cani. “Ngapain aku jagain warungmu? Kalau mau makan, tinggal aja! Lagian, nggak bakal ada yang beli juga. Keripik pisangmu apek!” cakap Mbak Fatin asal. “Memangnya kamu siapa? Nyuruh aku jagain daganganmu? Bikin kesal saja,” gerutu Mbak Fatin tidak senang. Cani memilih untuk tak menghiraukan Mbak Fatin. Dia ingin makan bersama suami dan para tukang di ruang tamu rumah. Kedatangan Cani disambut baik oleh beberapa tukan

    Last Updated : 2024-07-12
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 09. Mbak Fatin Main Halus

    Sampainya di depan rumah. Cani turun dari atas motor. Tubuhnya berbalik menghadap Han yang masih di atas motor. “Tapi, kali ini aku nggak mau diam saja. Kayaknya mereka memang sengaja, ingin membangunkan singa yang tertidur,” tandas Cani. Han tertawa mendengar ucapan Cani. Wajah Cani tak ada gahar-gaharnya. Justru terlihat makin imut di mata Han. “Singa? Daripada singa. Kamu lebih terlihat seperti kucing, Sayang,” kelakar Han. “Apaan sih, Mas Han! Aku singa kok! Bukan kucing!” sanggah Cani mengerucutkan bibir. Senyuman Han makin lebar. Istrinya sangat menggemaskan. Cani yang merajuk, berjalan memasuki rumah dengan hentakan kaki. Bukannya takut istrinya marah. Han justru terus menggoda Cani. “Pelan-pelan jalannya. Awas nanti jatuh,” kata Han melihat istrinya seperti anak kecil. Setelah mengunci pintu rumah. Han menghampiri istrinya yang kini duduk santai di atas ranjang. “Jadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya Han. Cani menengok ke samping. Matanya menatap Han dengan intens

    Last Updated : 2024-07-13
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 10. Mbak Fatin Menyambut Karma

    “Huh? Apa, Mas? Coba ulang, barusan ngomong apa? Tadi ada truk lewat. Jadi suara, Mas Han tidak kedengeran!”Han tersenyum tipis. Dia menggelengkan kepala. “Lupakan saja, Sayang. Aku juga sudah lupa,” kata Han. “Iiihhh ... Apa sih? Baru juga bentar! Sudah lupa saja,” gerundel Cani. Cani tak mau ambil pusing. Dia lebih memilih untuk mengakhiri obrolan. Dan menyandarkan kepala pada punggung suaminya. Keesokan hari. Cani meminta sang suami untuk membereskan barang milik Mbak Fatin yang masih ada di depan rumahnya. Seperti kursi dan meja kayu. Han menyewa sebuah tosa untuk mengembalikan barang tersebut. Setelah Han kembali dari mengantar barang Mbak Fatin. Mereka mulai membersihkan toko. Cani berniat menggunakan toko tersebut untuk berjualan. Daripada dianggurin. “Kenapa toko ini, lama dibiarkan tak terpakai?” tanya Han masih penasaran. Sebenarnya, pertanyaan seperti itu pernah Han pertanyakan pada Cani. Namun, waktu itu Cani enggan menjawab. “Ibu tiriku tidak memperbolehkan tok

    Last Updated : 2024-07-13
  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 11. Meninggalnya Mbak Fatin. Goodbye, Mbak

    Mbak Fatin mengungkapkan rasa malunya pada Cani. Karena hanya Cani yang bersedia menemaninya di rumah sakit. Bahkan, dengan senang Hati Cani merawat anak Mbak Fatin, tanpa diminta. “Kenapa kamu tidak menertawakan kondisiku?” ucap Mbak Fatin. Suaranya terdengar lirih. Kini Mbak Fatin tengah berbaring lemas, di atas ranjang rumah sakit. Cani tersenyum lembut sambil mengelus kening Mbak Fatin. “Orang lagi kena musibah, kok diketawain?” balas Cani. “Apa yang terjadi, Mbak? Kenapa, Mbak bisa seperti ini? Terus, suamimu ada di mana?” cecar Cani ingin tahu. “Aku memergoki suamiku bercinta dengan wanita lain,” lirih Mbak Fatin. Mbak Fatin terdiam cukup lama. Cani sengaja tak memaksa Mbak Fatin untuk langsung bercerita. Toh, kondisi Mbak Fatin belum sepenuhnya pulih. “Kami bertengkar hebat. Lalu dia pergi entah ke mana. Setelah kepergiannya. Banyak debt collector datang untuk menagih hutang suamiku. Aku sangat tertekan,” urai Mbak Fatin. “Dadakku sesak setiap kali aku mengingat kelak

    Last Updated : 2024-07-14

Latest chapter

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 157. Tak Goyah Sedikitpun

    Beberapa hari berlalu, Han melangkah pelan ke sisi ranjang, tangannya terulur untuk meraih tangan Cani yang dingin. Han tahu istrinya masih bersedih, masih terombang-ambing dalam kenyataan pahit tentang siapa ayah dari bayi di perutnya.Tanpa berkata apa pun, Han menggenggam tangan Cani, memberikan ketenangan yang hanya bisa diberikan oleh sentuhan lembut seorang suami.Cani terisak, sesekali mengusap perutnya yang masih tampak rata. Kehamilannya, seharusnya menjadi kabar gembira, namun malah membuatnya hancur."Sayang ...." bisik Han lembut. "Percayalah, aku tak peduli siapa ayah bayi kita. Yang penting, bayi ini akan tumbuh dalam keluarga kita, dengan cinta dan kasih sayang kita berdua. Aku akan menjadi ayahnya, aku akan bertanggung jawab sepenuhnya."Air mata Cani kembali menetes, kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan haru. Han bersungguh-sungguh, Cani dapat melihatnya dari sorot mata Han yang penuh kasih sayang."Kenapa? Aku telah mengkhianatimu, Mas," lirih Cani mengalihka

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 156. Kenyataan Pahit Dari Hime

    Senja menyelimuti kediaman keluarga Albert. Di ruang kerjanya yang luas, Albert, kepala keluarga yang disegani, duduk termenung dengan ditemani secangkir kopi yang masih hangat di tangannya. Pikiran Albert dipenuhi oleh cerita Eila, pelayan pribadi sekaligus sahabat Nyonya Ditmer, tentang kecurigaan Eila terhadap sikap aneh Hime.Setelah beberapa saat berpikir, Albert mengambil keputusan. Ia bangkit dari kursinya, wajahnya dipenuhi dengan keraguan. Ia memanggil anak buahnya yang berada tak jauh darinya. "Ya, Tuan?"“Aku perlu kau melakukan sesuatu. Awasi Hime. Laporkan setiap gerak-geriknya kepadaku. Lakukan dengan hati-hati, jangan sampai ia menyadari hal ini.” Suara Albert terdengar tegas. Pria tinggi tegap itu mengangguk hormat, menerima perintah tanpa bantahan.***Di sisi lain, angin yang berhembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah basah dan sedikit bau anyir dari kandang buaya raksasa.Hime memandang Han yang berdiri sambil memperhatikan buaya peliharaannya, beberapa ekor buay

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 155. Kehamilan Yang Disembunyikan

    Cani terbangun dengan kepala yang terasa pusing. Cahaya redup menyinari wajahnya. Bau disinfektan klinik memenuhi hidungnya. Ia mengerjapkan mata, pandangannya masih kabur. Sebuah tangan hangat menggenggam tangan Cani. Ia menoleh dan melihat Hime duduk di sampingnya, wajah Hime tampak lelah namun dihiasi senyum lembut.“Cani ... Kamu sudah sadar,” bisik Hime, suaranya lembut seperti sutra.Cani mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengingat kejadian sebelum ia pingsan. Kenangan samar-samar berkelebat, perkebunan yang luas, aroma tanah basah, lalu gelap.“Mbak Hime ... Aku dimana? Apa yang terjadi?” tanya Cani, suaranya masih lemah.“Kamu pingsan di perkebunan,” jawab Hime, “Untungnya, tidak terjadi apa-apa yang serius.”Hime meraih tangan Cani, matanya berkaca-kaca. Ia memiliki raut wajah yang serius."Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu, Cani,” lirih Hime, suaranya sedikit gemetar. Ia menggenggam tangan Cani lebih erat. “Dokter sudah memeriksakanmu tadi ....” Ia berhenti s

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 154. Kehamilan Cani

    Semakin Hime mendekati Han, semakin Hime tahu bahwa yang ada di otak dan pikiran Han hanyalah Cani seorang. Hime seperti tidak ada celah untuk merebut hati Han. "Jika aku tidak bisa merebut Han, maka akan aku buat hubungan mereka berdua berantakan." Janji telah meluncur dari bibir Hime. Membangkitkan gairah amarah pada diri Hime. Seiring berjalannya waktu, Hime berhasil mengambil hati Cani, dan menjadikannya sebagai orang paling dipercaya Cani, menggeser posisi Eila. Hime juga memutuskan untuk membantu Cani mengurus segala keperluan dan masalah di kediaman Keluarga Ditmer. Hal tersebut membuat Hime mengetahui seluk beluk kegiatan di rumah. Termasuk sektor perkebunan yang nilainya fantastis. Hime begitu takjub, selama ini ia hanya membantu pekerjaan Han tanpa mengetahui kegiatan sesungguhnya di rumah Keluarga Ditmer. "Hasil perkebunan langsung dijual ke pemerintah?" tanya Hime pada Cani. Cani yang sedang membawa catatan menoleh ke arah Hime. "Iya, Mbak. Katanya untuk membantu ra

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 153. Usaha Hime

    Rio menatap tajam Xander yang sudah ketakutan melihat Rio mengayunkan katana. "Tuan Rio! Tolong ampuni saya!" mohon Xander bersujud di kaki Rio. Rio mendesis, "Orang sepertomu, yang mengkhianati kartelmu."Xander mendongak guna melihat wajah Rio. "Terlebih kelakuanmu, yang membuat Kania bersedih, tak akan pernah termaafkan!" tandas Rio penuh penekanan di nada bicaranya. Ketika Rio hendak menebas leher Xander, kedatangan Mizu membuatnya berhenti. Mizu meminta agar Xander tak dilenyapkan, sebab, Xander masih bisa digunakan untuk kepentingan Kartel. Karena Rio sangat percaya pada Mizu, dan mempertimbangkan perkataan Mizu, akhirnya Rio lebih memilih menurut pada Mizu. Ia menyerahkan Xander pada Mizu.Rio juga menegaskan jika Xander melakukan hal-hal yang berhubungan dengan Cani, maka Mizu harus menyerahkan nyawa Xander padanya. "Baik, Tuan. Aku pastikan, Xander berada di bawah kendaliku," tegas Mizu mantap. Rio menyembunyikan katanya, lalu bergegas keluar dari ruang bawah tanah, m

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 152. Penyelamatan Hime

    Pencarian Rio membuahkan hasil, ia benar-benar terjebak ke dalam skenario yang telah diciptakan oleh Albert. Rio menangkap anak buahnya Mizu dalam kasus pelenyapan Haily. Tentu Mizu tak mengakui sesuatu yang memang tidak ia perbuat. Bahkan Mizu siap mati demi itu. Karena melihat kesungguhan yang ditampilkan Mizu, Rio lebih memilih untuk mempercayai Mizu dan mengarang cerita mengenai kematian Haily. Lagi pula, bagian tubuh Haily yang lain tidak ditemukan, maka Rio melapor kepada Pemimpin Kartel jika Haily telah meninggal karena sebuah kecelakaan. Untungnya, Pemimpin Katel percaya pada Rio, dan memutuskan untuk menghapus nama Haily dari daftar keanggotaan elit. “Pembunuh yang sebenarnya sengaja menjadikanku sebagai kambing hitam. Sialan! Aku tidak akan memaafkannya,” geram Mizu mengepalkan kedua tangannya. “Tutup kasus ini. Semua sudah dilaporkan kepada Pemimpin, tidak perlu diungkit lagi,”

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 151. Hime Disekap?

    Ketika mereka bertiga sedang menyusuri dermaga, Eila tak sengaja menemukan sebuah chip yang tergeletak di kabin dengan darah kering yang menghiasi. Albert meraih benda kecil tersebut, bibirnya berdecap, menyadari jika benda itu merupakan alat pelacak milik Hime yang telah dikeluarkan dari punggung Hime. "Xander sengaja ...." gumam Albert. "Pantas saja, Hime tidak bisa dilacak," gerutunya membalut chip di sapu tangannya. Han mengendus, ia memperhatikan Eila yang terlihat tidak nyaman. Ia pun menghentikan pencarian, dan mengajak Eila untuk pulang. Sampainya di rumah, Eila tidak diperbolehkan untuk bernapas lega, karena Albert memintan Eila untuk menemuinya di paviliun pribadi milik Albert. Tentu saja Eila tidak bisa menolak. Jadi, setelah membersihkan tubuh, serta berganti pakaian yang layak dan sopan, Eila segera menemui Albert. "Tuan ... Maaf," ucap Eila lirih. Eila duduk di depan Albert setelah dipersilahkan oleh lelaki muda itu. "Bayangmu yang dicium oleh Rio masih terngiang

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 150. Petunjuk Dari Hilangnya Hime

    Karena keteledoran Han, Albert yang dulu diam-diam membantu Hime untuk meninggalkan jejak kejahatan pun, harus turun tangan lagi untuk membuat skenario kematian Haily supaya orang yang disuruh Rio tidak merujuk ke Hime. Kendati menambah pekerjaan, Albert tetap senang, dengan ini, ia bisa menjadikan seseorang sebagai kambing hitam, dan Albert memilih anggota Kartel nomor satu. Albert tidak bermaksud jahat, ia hanya ingin mereka sedikit berselisih. Dalam waktu singkat, Albert berhasil mengurus segalanya. Kini, ia hanya cukup menunggu pihak Rio tertipu olehnya.***Hari ini Cani diajak pelayan pribadi Albert berkeliling melihat perkebunan, dan segala fasilitas yang dimiliki oleh keluarga Ditmer, untuk pertama kalinya. Mengingat, Cani yang sekarang memiliki gelar ‘Nyonya Ditmer’. Itu artinya, Cani merupakan wanita utama di Keluarga Ditmer, statusnya bisa dikatakan sebagai pendamping Albert, yang merupakan Kepala Keluarga Ditmer.

  • Suami Miskinku Ternyata Mafia Kaya   Bab. 149. Karena Han Lupa

    “Sebenarnya siapa kau?” Albert mendesak Eila supaya lekas menjawab pertanyaannya. Eila yang gelagapan pun menjelaskan bahwa ia tidak memiliki hubungan khusus dengan Rio. Soal dirinya dan Rio yang berciuman mesra, itu hanya sekedar keisengan yang dilakukan Rio untuk mempermainkan harga diri dan memberinya tekanan. “Aku adalah mantan pelayan di rumah Tuan Rio, sebelumnya aku pernah membuatnya ingin membunuhku. Untungnya, aku diselamatkan oleh Nyonya Cani,” imbuh Eila menundukkan kepala. Albert memandang Eila dengan menyipitkan mata. “Jadi, kamu bukan mata-mata yang dikirim Rio?” tanyanya. “Mata-mata? Saya tidak berani macam-macam, Tuna ....” Eila menyanggah dengan cepat. “Hidup saya, saya dedikasikan seluruh hidup saya untuk mengabdi pada Nyonya Cani,” tandasnya menggebu sambil menepuk dadanya. Tak mendapati gelagat kebohongan dari Eila, Mau tak mau Albert melepaskan cengkeram

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status