Kanaya ....
Setidaknya itulah panggilan orang-orang padaku. Sejujurnya, aku tak tahu banyak tentang asal usulku. Satu hal yang aku ingat menjadi titik balik hidupku adalah ketika seorang wanita yang selalu ada di sampingku tiba-tiba tertidur dan tak pernah membuka matanya kembali. Mungkin, itukah yang disebut dengan kematian? Ya, dulu aku memang tak terlalu paham alur kehidupan. Saat itu, aku hanyalah seorang gadis kecil yang hanya bisa menangis melihatnya tertidur dan tak pernah lagi membuka matanya saat kupanggil. Biasanya, jika aku bangun, sudah ada berbagai makanan yang ada di hadapanku. Namun, tidak dengan hari yang begitu kelam ini. Aku masih mengingat jelas kejadian itu. Ketika aku bangun, keanehan terjadi karena di depanku tidak ada makanan yang biasa kutemukan. Aku pun menghampiri wanita yang kusebut dengan sebutan Mama. Kulihat, dia masih tertidur dengan begitu lelap. Beberapa kali aku memanggilnya, tapi dia masih saja memejamkan mata. Akhirnya aku pun menangis karena dia hanya diam, dengan mata yang terpejam. Mendengar tangisan kencangku, orang-orang yang tinggal si sekitarku lalu menghampiri gubuk tempat kami tinggal. Seorang laki-laki kemudian menghampiri Mama, dan memegang pergelangan tangannya. Lalu, tiba-tiba saja gumaman lirih dari bibirnya pun terdengar. "Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun." Aku tak tahu apa maksudnya, tapi detik berikutnya orang-orang di sekitarku pun mengucapkan kalimat yang sama, disertai sorot mata sendu. Kala itu, aku benar-benar bingung. Orang-orang yang datang ke rumahku pun kian ramai. Bendera berwarna kuning mereka pasang di depan rumah, dan ada sebuah benda berukuran besar yang ditutup kain berwarna hijau berada di depan rumahku. Mama lalu dibawa beberapa orang wanita dan dimandikan oleh mereka. Dalam hati, sebenarnya aku cukup merasa geli karena Mama sudah besar, tapi masih saja mau dimandikan oleh orang lain. Setelah Mama selesai mandi, dia masih juga menutup matanya. Padahal, di rumah ini begitu banyak orang-orang yang memberi uang padaku. Astaga .... Bukankah Mama suka sekali mencari uang. Namun, mengapa saat aku bisa memberikan uang yang begitu banyak, dia masih saja tertidur? Aku kemudian mendekatinya, dan memberikan uang yang ada dalam satu kotak kardus. Aku memperlihatkan uang itu, tapi dia masih saja menutup mata. Bahkan, orang-orang di sekitarku malah membungkus Mama dengan sebuah kain berwarna putih. Aku tidak rela jika Mama diperlukan seperti itu, tega sekali mereka membungkus tubuh Mama ke dalam sebuah kain, lalu memasukkannya ke dalam tanah. Aku hanya bisa menangis meraung-raung melihat tubuh Mama yang kini sudah tertimbun oleh tanah. Saat tangisku semakin kencang, tiba-tiba seorang wanita mendekatiku. "Kanaya, Mamamu sudah meninggal. Kamu yang sabar ya, Nak." 'Meninggal? Apa itu?' batinku dalam hati. *** Sejak saat itu aku menjalani hari-hariku sendiri. Setiap hari, aku menyusuri jalanan untuk mengais makanan. Tak jarang orang-orang yang iba, menghampiri, dan memberiku makanan, serta pakaian. Pada suatu hari, ketika aku sedang memakan makanan yang baru saja diberian seseorang, seorang laki-laki tampak mendekat padaku. "Kamu, Kanaya?" Aku cukup familiar dengan wajahnya, ya beberapa kali memang dia sempat datang ke rumahku untuk menemui Mama. Namun, entahlah aku tak tahu dia siapa. "Kanaya, aku Agung teman Mamamu. Sekarang kamu ikut Om ya." Sebenarnya, aku tak mengerti apa yang dia maksud, tapi aku tak bisa menolak ketika dia menggandeng tanganku, menuju ke sebuah gubuk yang tidak berbeda jauh dengan rumahku. "Kanaya, mulai sekarang kamu tinggal sama Om ya, besok kita cari uang bareng-bareng. Sekarang kamu makan dulu." Dia memberikanku makanan, dan aku pun makan dengan lahap. Sejak Mama meninggal, aku memang tidak pernah memakan makanan seperti ini. Setelah perutku terasa kenyang, aku pun tertidur. Ketika aku bangun, lagi-lagi di depanku sudah ada makanan, dan laki-laki itu kembali menyodorkan makanan tersebut padaku. "Kanaya, kamu sarapan dulu ya. Setelah itu, kita cari uang." Aku tak mengerti apa yang dia katakan, hanya memakan dengan lahap makanan yang ada di depanku. Selesai makan, dia mengambil segenggam tanah yang ada di depan rumah, lalu mengoleskan ke wajah dan tubuhku. Setelah itu, dia mencengkeram bajuku dengan begitu kuat sehingga beberapa bagian bajuku robek. Aku sungguh tak mengerti apa yang dia lakukan. "Sempurna. Ayo kita pergi Kanaya." Aku pun hanya bisa menurutinya, ketika dia mengajakku berjalan ke sebuah jalan raya yang sangat ramai. Kami berhenti di sebuah jalan yang begitu lebar, dengan beberapa lampu warna-warni yang menyala, dan mati secara bergantian. "Kanaya, cepat pergi ke arah sana dan bunyikan alat ini!" perintahnya, sambil memberiku sebuah kayu kecil yang diberi tutup botol dan jika kugoyangkan maka akan berbunyi. Aku tak tahu itu alat apa, tapi aku cukup tertarik pada alat itu yang bisa berbunyi dengan nyaring saat kugoyangkan. Maka, dengan senang hati kugoyangkan alat-alat itu sambil menari di jalanan. Orang-orang yang berhenti di bawah lampu berwarna-warni menatapku dengan pandangan yang tak dapat kuartikan, yang kutahu saat aku menghampiri, mereka memberikan aku uang. Setelah kantong plastik yang kupegang terisi cukup banyak, lelaki yang datang bersamaku pun datang menghampiri. "Wah Kanaya, hari ini kita dapat banyak uang. Kamu memang pembawa keberuntungan," katanya sambil tersenyum, disertai binar bahagia di wajah. Baru saja dia selesai mengatakan itu, tiba-tiba saja terdengar teriakkan, dan orang-orang yang ada di sekitar kami berlarian tak tentu arah. "Lari ... ada satpol PP lari ...!" Orang-orang tampak hilir mudik berlari di depanku, termasuk lelaki itu yang juga pergi dengan membawa kantong plastik yang tadi kupegang. Lagi-lagi aku sendiri. Dia benar-benar tak peduli lagi padaku, dan meninggalkanku begitu saja. Kini, aku hanya bisa menatap mereka satu per satu yang tampak begitu panik, dan kebingungan. Hingga tiba-tiba, sebuah tangan, mendekap tubuhku. "Arumi, apa yang kau lakukan? Ini anak siapa?" tanya seorang lelaki, ketika mendekat pada wanita yang mendekap tubuhku sekarang. "Mas, kasihan dia. Kalau dia tetap di sini, dia bisa dibawa satpol PP, terus mungkin dia dibawa ke panti asuhan. Aku nggak mau kehilangan anak selucu ini, Mas. Aku pengen bawa dia ke rumah." "Kamu yakin dia nggak punya orang tua? Kalau ternyata dia masih punya orang tua gimana? Dia masih kecil, mungkin usianya masih lima tahun. Kita bisa kena kasus penculikan anak, Arumi." Wanita yang mendekap tubuhku menggeleng. "Nggak, Mas. Selama kita di Bandung, aku sering liat dia berkeliaran di jalanan. Dia kayaknya nggak punya orang tua. Kita bawa dia aja ke rumah ya, Mas. Please ... dia lucu banget looo, juga cantik." Lelaki di samping wanita yang mendekap tubuhku menggelengkan kepala, sembari menatap sinis padaku yang terlihat kumuh. "Udah nggak ada waktu, Mas. Kita bawa sekarang ya, sebelum satpol PP itu dateng. Ayo cepat kita masuk ke mobil!" Aku yang tak tahu apa-apa hanya diam dalam dekapan wanita itu. Aku mencoba untuk meronta ketika dibawanya masuk ke dalam mobil, tapi dekapannya begitu kuat. Meskipun dia membawaku masuk ke sebuah mobil mewah, tapi jujur saja ada rasa takut, dan cemas. Aku tidak mengenal kedua orang itu, dan kini aku tak tahu akan dibawa ke mana. "Kita masih ada waktu buat bawa dia ke panti asuhan, Arumi." "Nggak Mas, aku nggak mau. Aku mau bawa anak ini. Aku nggak rela anak secantik dia jadi gelandangan kaya gitu." "Jangan bilang kalo kamu nglakuin ini sebagai modus karena kamu nggak mau hamil anakku." Wanita dewasa itu pun menoleh. "Kamu kok ngomong gitu sih, Mas? Tega banget kamu ngomong gitu sama aku. Sebenarnya, aku atau kamu yang ...." "Aku lagi nggak mau berdebat, Arumi. Kamu bawa anak ini aja udah bikin aku pusing!" Aku hanya diam, tak mengerti satupun kata-kata yang diucapkan mereka. Yang jelas kepalaku rasanya sakit mendengar celotehan mereka yang kian kencang. Setelah melalui perjalanan yang cukup lama. Bahkan, boleh dibilang sangat lama, akhirnya mobil yang kami naiki berhenti di sebuah rumah besar, yang baru pernah aku lihat. Ya, aku baru pernah melihat rumah sebesar ini, layaknya ... istana. "Selamat datang di Jakarta. Nak, nama kamu siapa?" Wanita itu menatapku lekat. "Nama kamu? Kamu biasa dipanggil siapa?" "Kanaya."Sejak saat itu, aku diasuh oleh sepasang suami istri tersebut. Mama bernama Arumi, sedangkan Papa bernama Alan. Mereka berdua, belum lama menikah. Pernikahan mereka baru berjalan selama enam bulan. Awalnya memang ada penolakan dari Papa Alan ketika aku mulai tinggal dengan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, hati Papa Alan mencair, Papa Alan mulai menerima kehadiranku. Bahkan, juga sangat menyayangiku. Papa Alan juga yang mengurus berkas-berkas agar secepatnya aku bisa masuk dalam kartu keluarga mereka. Logikanya, mana ada yang tidak tertarik pada gadis kecil yang begitu lucu, dan juga cantik sepertiku. Aku tumbuh dalam kasih sayang, dan penuh kebahagiaan. Lalu, ketika aku memasuki bangku sekolah, nilai akademikku selalu memuaskan. Hal tersebut, tentunya membuat kedua orang tua angkatku sangat bangga. Tak hanya mereka, tapi juga orang tua dari Papa Alan, dan Mama Arumi yang kupanggil dengan sebutan Oma, dan Opa. Mereka sangat menyayangiku. Keluarga hangat itu, seperti t
Sejak saat itu, selama dua kali dalam satu minggu, Mr Alex memberikan jam tambahan untukku. Meskipun, jam tambahan itu dilakukan di sekolah, dan hanya membahas pelajaran, tapi tak mengapa. Yang terpenting aku bisa berduaan dengannya.Tentunya aku sangat bahagia. Tidak ada seorang pun siswa lain yang mengganggu kami. Ya, logika saja, pelajaran fisika, bukan pelajaran yang disukai oleh para siswa. Jadi, wajar jika mereka tidak mau dengan sengaja mengikuti tambahan tanpa diminta.Pertemuan, serta interaksi yang cukup intens itu akhirnya membuat kami dekat. Aku sudah tidak lagi merasa canggung, dan salah tingkah di dekatnya.Selain itu, aku juga tidak ingin pelajaran tambahan ini berakhir. Jadi, aku sengaja bersikap tidak terlalu pintar di depan Mr Alex. Aku selalu berpura-pura menanyakan sesuatu bagian yang sebenarnya cukup aku mengerti.Memang aku sadar, aku salah. Tidak seharusnya aku jatuh cinta, dan membiarkan perasaan ini tumbuh pada laki-laki yang sudah beristri. Namun, terkadang h
Tiba-tiba gerakan Mr Alex terhenti ketika mendengar suara ponselnya yang berdering. "Astaga ...!" pekiknya, saat menyadari apa yang dia lakukan denganku. Laki-laki dewasa itu pun menarik tangannya dan, menjauh dariku. "Kanaya, maaf ...."Mr Alex mengusap wajahnya dengan kasar sembari menghembuskan napas berat. Dia tampak begitu menyesal dengan apa yang telah dia lakukan. Lebih tepatnya, dengan apa yang kami lakukan."Kanaya maaf ..." Permintaan maaf itu kembali terucap, dan justru membuatku merasa sungkan."Mr Alex, aku juga minta maaf. Aku juga tidak berniat melakukan semua ini pada Anda. Aku tidak sengaja tadi ....""Ya, aku tahu. Kita sama-sama khilaf," potong Mr Alex, ketika aku juga beralibi pada kata khilaf untuk menutup rasa maluku."Mr, sekali lagi maafkan aku. Aku harus pulang sekarang juga." Aku bangkit dari atas sofa, tak mau berlama-lama lagi di tempat ini yang justru semakin membuatku begitu salah tingkah.Di saat itulah, ponsel Mr Alex kembali berdering. Lalu, dia ber
KEESOKAN HARINYA ....Saat ini, aku duduk di ruang tunggu bandara sembari menatap langit pagi ini yang terlihat begitu cerah. Aku memang akan kembali ke Indonesian dengan penerbangan pagi.Ketika sedang asyik melamun, ingatanku kembali tertuju pada kejadian tadi malam tatkala Mr Alex, tiba-tiba berada di toilet, dan menyuruhku untuk menemuinya di ruang kerjanya.Akan tetapi, aku mengabaikan permintaan lelaki dewasa itu. Aku memilih bergegas pulang, dan menghindar darinya. Sungguh, aku tak lagi peduli, dengan apa yang akan dia katakan. Aku memilih pulang, meskipun, pesta perpisahan itu belum usai. Sejujurnya, aku pun tak terlalu nyaman di tengah keramaian pesta. Selain itu, selama aku bersekolah di sana, aku juga tidak banyak memiliki teman. Jadi, perpisahan ini, terasa biasa saja.Kuakui, aku tidak memiliki kenangan yang mendalam di sana. Satu-satunya kenangan yang membekas di hatiku, adalah kisah cintaku yang bertepuk sebelah tangan pada Mr Alex. Namun, aku juga sadar, mencintai seo
"Maaf, Maaf untuk apa Kanaya?" tanya Mama Arumi, yang cukup terkejut mendengar permintaan maaf dariku.Aku pun menarik kedua sudut bibir, menyunggingkan senyum manis. Bersikap seolah, semuanya baik-baik saja. Ya, seharusnya begitu. Seharusnya semua memang baik-baik saja kalau aku tidak memulai perasaan konyol ini."Aku minta maaf nggak jadi nglanjutin kuliah di Singapore. Aku minta maaf, udah ngecewain Papa sama Mama."Mama pun tersenyum simpul, lalu mencubit pipiku gemas. "Kamu ini ada-ada aja deh. Mama sama Papa, 'kan cuma kasih saran. Selanjutnya, itu tergantung kamu. Kalau kamu nggak nyaman hidup sendiri, ngapain dilanjutin?"Jawaban bijak Mama, membuatku merasa tenang. Memang aku merasa bersalah tidak mengikuti permintaan mereka untuk melanjutkan study di Singapore. Namun, sebenarnya tujuan utama aku meminta maaf, bukan untuk itu. Aku meminta maaf, karena diam-diam mengagumi Papa Alan."Makasih ya, Ma. Mama tetap yang terbaik.""Udah, hal kaya gitu nggak usah dipikirin. Sekarang,
"Kanaya ...." Mendengar suara Papa, aku pun seketika menarik tangan ini dari wajah tampannya."Oh-eh, emh. Maaf Pa, tadi ada sisa makanan di pipi Papa," jawabku gugup, sembari merutuki kebodohanku, yang sudah begitu lancang, menyentuh wajah tampan itu. "Ada sisa makanan?" Papa tampak mengibaskan tangan di pipinya. Dia percaya dengan jawaban bohongku. "Sekarang udah bersih?" tanya Papa kembali, beberapa saat kemudian. Aku pun mengangguk, sembari mengulum senyum melihat tingkahnya."Kalau begitu teruskan, Naya.""Teruskan? Teruskan apanya?" sahutku, tak mengerti dengan maksud Papa."Merapikan dasiku. Kamu belum selesai merapikan dasi Papa, 'kan?""Oh iya."Aku pun merapikan kembali dasi yang dikenakan oleh Papa. Meskipun aku cukup gugup, karena jarak kami yang begitu dekat, tapi aku mencoba untuk tetap terlihat tenang.Akan tetapi, semakin lama, sepertinya bola mata itu tak henti memandangku. Namun, aku harus menyadari, mungkin saja aku yang terlalu percaya diri. Papa memang sedang me
"Pa, ini aku Kanaya!" Aku mencoba menyadarkan Papa. Kuakui, aku memang menyukai Papa, tapi malam ini, sungguh aku sama sekali tidak berniat untuk menggodanya. Aroma alkohol yang terasa begitu menyengat, membuatku sadar jika Papa sedang dalam pengaruh minuman memabukkan tersebut. "Pa ...!"Tepat di saat itulah, lampu pun menyala. Papa yang sudah kembali pada kewarasan setelah mendengar teguranku, seketika bangkit, ketika menyadari jika tubuhnya menindih tubuhku."Maaf Kanaya ...." Papa mengusap wajahnya dengan kasar, sambil menggelengkan kepala. Aku hanya mengangguk, merasakan d'javu dengan kejadian ini. Keadaan seperti ini, benar-benar pernah aku alami ketika bersama Mr Alex."Lampunya udah nyala. Mama belum pulang, sebaiknya Papa temenin Kenan aja. Kalau ujan gede kaya gini, Kenan juga biasanya takut 'kan?" Aku sengaja memotong pembicaraan Papa, agar tak lagi merasa canggung dengan apa yang telah terjadi."Iya, Papa temenin Kenan dulu."Aku pun mengangguk, lalu menatap laki-laki d
"Mama ...!" pekik Kenan, yang kebetulan baru saja selesai sarapan.Papa pun ikut menoleh, dan tersenyum pada istrinya. Sedangkan aku, entah mengapa, untuk kali ini aku tidak terlalu antusias dengan kedatangan Mama. Namun, aku buru-buru menepis semua itu.Mama adalah orang yang paling berjasa dalam hidupku. Meskipun, saat itu aku masih kecil. Aku masih cukup mengingat jika Mama adalah orang yang bersikeras membawaku bersamanya. Jika tidak, aku tidak mungkin bisa mendapatkan kehidupan seperti ini. Atau bahkan, aku masih terlunta-lunta di jalan. "Kalian lagi sarapan?" "Baru aja selesai, Ma." Kali ini, aku yang menjawab. Karena Papa, sedang menyesap kopi-nya, begitu pula dengan Kenan yang sedang menghabiskan segelas susu."Iya Ma, sarapannya enak banget. Kak Kanaya yang bikin," timpal Kenan, setelah meminum susunya. Mama pun mengalihkan pandangannya padaku. "Anak gadis mama, sekarang udah pinter masak ya? Bisa-bisa Mama kalah nih sama kamu." Aku hanya meringis mendengar perkataan Mama
"Aku penasaran sama berita itu deh, aku boleh liat pemberitaan tentang Kak Arumi di TV, nggak, Mas?" tanya Kanaya, yang tak leluasa jika melihat berita tersebut dari ponsel Alan."Nggak sayang, aku nggak mau sesuatu terjadi sama kamu. Keadaan kamu masih gini, kalo tiba-tiba kamu sakit kepala gimana?"Alan memasang wajah galak. Jujur saja, dia khawatir jika di televisi, masih ada pemberitaan buruk tentang dirinya, dan Kanaya. Alan tak mau hal tersebut mengganggu psikologis Kanaya, yang saat ini sedang dalam masa pemulihan."Mas, please. Aku janji ga bakalan masukin ati sama pikiran kalo liat berita itu. Selama satu minggu ini, aku kayak hidup di gua. Ngga tahu tentang berita apapun di luar sana. Padahal, aku juga bisa kok filter berita, tanpa baca komentar netizen juga. Please, boleh ya ...."Alan hanya menghembuskan napas panjang, belum menyetujui permintaan Kanaya."Mas please. Katanya cinta ...."Rengekan, serta raut wajah Kanaya yang menggemaskan, akhirnya membuat Alan luluh."Ya u
Beberapa saat kemudian, Alan sudah sampai di rumah sakit. Kala itu, hujan masih turun dengan derasnya.Dengan langkah cepat, dia berjalan di koridor, diiringi senandung merdu rintik hujan yang membasahi atap rumah sakit. Napasnya tersengal, bajunya sedikit basah karena cipratan air hujan, tapi dia tidak peduli. Untuk saat ini, dia hanya ingin menemui Kanaya secepatnya.Alan benar-benar rindu pada kekasihnya itu, meskipun baru berpisah sebentar saja. Entah mengapa, sejak Kanaya kecelakaan, Alan tak bisa pergi terlalu lama dari Kanaya.Alan seolah masih trauma, dan takut, meninggalkan Kanaya terlalu lama, karena kecelakaan itu, hampir saja membuat dirinya hampir saja kehilangan Kanaya untuk selama-lamanya.Alan berjalan dengan langkah terburu-buru. Begitu tiba di depan pintu kamar, dia menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan emosi yang berkecamuk di dada, seolah ingin meluapkan rindu yang dia pendam.Perlahan, dia membuka pintu dan melihat Kanaya yang sepertinya sedang tidur d
Di Sisi Lain ....Setelah Arumi keluar dari ruang mediasi, Alan masih berada di ruangan tersebut, bercakap-cakap dengan tim kuasa hukumnya.Hingga beberapa saat kemudian, setelah dirasa cukup berdiskusi, Alan bangkit. Lalu, dengan langkah yang terasa lebih ringan dari sebelumnya dia berjalan keluar dari ruangan tersebut.Udara yang dia hirup, terasa lebih segar, seolah dunia baru saja membuka lembaran baru untuknya. Proses mediasi yang beberapa saat lalu membebani pikiran akhirnya selesai, dan Alan tidak bisa menyangkal rasa lega yang memenuhi dada, ketika Arumi akhirnya menyetujui perceraian tersebut.Alan benar-benar bahagia, bisa lepas dari Arumi. Namun, bukan berarti dia tidak menghargai masa lalu. Ada waktu-waktu indah, ada kenangan yang pernah dia bangun bersama, tapi hubungannya, dan Arumi sudah terlalu lama menjadi ladang pertengkaran, yang juga diwarnai dengan ketidaksetiaan masing-masing pasangan.Setiap percakapan berubah menjadi perdebatan, setiap keputusan terasa seperti
Pak Rama menarik napas panjang, menggenggam jemari tangan Arumi dengan lembut."Papa tahu, ini pasti membingungkan dan berat untukmu. Mama kamu sedang berjuang melawan penyakit yang tidak terlihat."Nada bicara Pak Rama terdengar bergetar, rasanya berat untuk menjelaskan keadaan Bu Dahlia. Namun, dia sadar, cepat atau lambat, Arumi pasti tahu keadaan ibunya."Apa maksud Papa?" sahut Arumi yang tak mengerti dengan perkataan Pak Rama. Ingin rasanya menolak praduga yang sedari tadi berkecamuk di dalam dada."Mama kamu mengalami tekanan mental, sampai menggangu kejiwaannya.""Maksud Papa, Mama ...."Arumi tak melanjutkan perkataannya. Wanita itu, tampak begitu syok. Seolah tahu maksud Arumi, Pak Rama pun menganggukkan kepalanya.Sebenarnya, Pak Rama pun tidak tega harus mengatakan ini pada Arumi, yang pasti mentalnya sedang tidak baik-baik saja, karena perceraian yang sedang dia jalani."Nggak, nggak mungkin ....""Arumi, kamu juga sebenarnya sudah menyadari perubahan Mama kamu, 'kan? Seb
"Bukan apa-apa, Mas. Aku cuma salah ngomong," sahut Arumi gagap.Sedangkan Alan tersenyum kecut, seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Arumi. Laki-laki itu, kini menatap Arumi dengan tatapan nyalang.Arumi kian gugup, dia memilih diam dengan perasaan campur aduk. Dia masih berharap ada sedikit celah untuk memperbaiki pernikahannya dengan Alan, laki-laki yang sudah mengarungi rumah tangga dengannya selama belasan tahun. Namun, setelah lebih dari satu jam berbicara di hadapan mediator, semuanya terasa sia-sia. Alan tetap pada pendiriannya, ingin bercerai. Tidak ada kompromi, tidak ada celah untuk bertahan.Arumi menghela napas panjang, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Dia mencoba menahan air matanya, tetapi hatinya terasa begitu berat. Inilah akhirnya. Harapan yang tersisa kini sirna."Baik, setelah sesi mediasi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa tidak ada kesepakatan untuk mempertahankan pernikahan. Apakah kalian berdua yakin dengan keputusan ini?""Mas, ini benar
Pagi ini, langit tampak mendung. Dengan langkah berat, Alan turun dari mobil, matanya nanar menatap gedung pengadilan yang berdiri kokoh di depannya. Dadanya terasa sesak, seperti ada batu besar yang menekan, membuat napasnya tersengal meski udara begitu sejuk. Tangannya gemetar saat merapikan kancing kemeja, bukan karena dingin, ataupun tak rela berpisah.Namun, karena gelombang emosi yang bergejolak di dalam dirinya. Marah, dan kecewa, semua bercampur menjadi satu, tak berbentuk, tak terlihat, tapi begitu nyata dirasa. Rasanya Alan masih enggan untuk bertemu dengan wanita yang hari ini dia gugat cerai. Rasanya hati Alan masih sulit untuk berdamai, dan bersikap biasa saja pada Arumi.Arumi, wanita yang dulu sangat dia cintai dengan sepenuh hati, dan dia pilih untuk menjadi ibu dari anak-anaknya, telah mengkhianati kepercayaannya. Meskipun, Alan juga melakukan hal yang sama, tapi dia melakukan semua itu, karena sikap Arumi yang begitu egois padanya. Padahal, dulu Alan sangat mencint
Pagi ini, udara terasa lebih berat dari biasanya. Langit kelabu seakan memahami kegundahan yang menyelimuti hati Arumi.Saat ini, dia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah tirai jendela yang bergoyang pelan ditiup angin. Setelah perdebatannya dengan Pak Rama kemarin, Arumi memutuskan untuk menyetujui semua perintah ayahnya, termasuk salah satunya pulang ke rumah.Akan tetapi, yang membuat dirinya semakin pilu adalah hari ini merupakan, hari sidang pertama perceraiannya dengan Alan.Hari yang selama ini coba dia tolak, dengan berbagai cara. Namun semua itu terasa sia-sia, dan kini, dia tak bisa lagi menghindari.Tangan Arumi gemetar saat meraih cangkir kopi yang sejak tadi tak disentuh. Pahitnya kopi itu, seolah mencerminkan rasa di hatinya. Dia menarik napas dalam-dalam, berharap bisa menenangkan gelombang emosi yang terus menghantamnya. Ada sedih, ada marah, ada ketakutan yang menyesak di dada.Bukan ini yang dia bayangkan ketika dulu pertama kali menjalani rumah tangga denga
Pagi ini, sinar matahari menerobos lembut melalui celah tirai kamar. Udara masih terasa dingin, sisa embun malam yang belum sepenuhnya menguap. Dengan mata yang masih berat, Arumi menggeliat perlahan, mencoba mengumpulkan kesadaran setelah terlelap semalaman.Namun, ketenangan pagi itu buyar seketika saat terdengar suara ketukan di pintu. Arumi ragu-ragu, dan cemas jika sosok yang datang, adalah laki-laki yang semalaman datang dan mengusik ketenangannya. Jantung Arumi berdegup lebih cepat. "Siapa yang datang sepagi ini?"Arumi bergumam lirih. Dengan langkah enggan, dia berjalan menuju pintu, masih dengan kantuk yang menggantung di kelopak matanya.Saat daun pintu terbuka, waktu seakan berhenti. Di hadapannya berdiri sosok yang begitu dikenalnya—ayahnya. Pak Rama saat ini berdiri di depannya. Mata laki-laki paruh baya itu, memancarkan sesuatu yang sulit dijelaskan. Arumi tahu, ayahnya pasti sangat marah padanya. Namun, dia tampak mencoba mengendalikan perasaannya.Arumi tercekat, bib
Beberapa Saat Sebelumnya ....Pak Rama duduk di dalam mobil, sembari menatap sebuah rumah kecil. Beberapa saat yang lalu, anak buahnya memberi tahu tentang keberadaan Arumi yang saat ini tinggal di alamat yang saat ini dia tuju.Sebenarnya Pak Rama ingin turun. Namun, dari sudut pandangnya, Pak Rama melihat anak perempuannya, Arumi, sedang berbincang dengan seorang laki-laki di depan rumah kecil tersebut.Pak Rama sebenarnya sudah mulai memperhatikan saat laki-laki itu memeluk, tapi dilepas begitu saja oleh Arumi.Jujur saja Pak Rama terkejut dengan interaksi keduanya, yang boleh dibilang cukup intim. Namun, yang menjadi tanda tanya besar dalam benak Pak Rama adalah, sosok yang saat ini cukup dekat dengan Arumi itu, sosok yang berbeda dengan laki-laki yang fotonya tersebar di media sosial.Pak Rama mencoba kembali mengingat, dan wajah lelaki itu, bukan wajah yang akrab baginya.Pak Rama merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan. Antara perasaan bingung, cemas, dan kesal, karena ternyata