Beranda / Rumah Tangga / SESAL SANG MANTAN / 1. Mendadak Dicampakkan

Share

SESAL SANG MANTAN
SESAL SANG MANTAN
Penulis: Dian Apriria

1. Mendadak Dicampakkan

Penulis: Dian Apriria
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-01 11:19:52

"Suamimu mana, Ranti? Belum pulang juga jam segini?" Bu Ine bertanya sambil memandang bergantian ke arah jam dinding dan pintu depan.

Ranti yang tadinya menyibukkan diri dengan draft novel di laptop akhirnya menjawab letih,

"Belum, Bu. Sudah kutanya pulang jam berapa tapi katanya masih ada lembur."

Biasanya ia mengetik di dalam kamar, tetapi karena sambil menunggu sang suami pulang, maka diboyongnya laptop kesayangan ke ruang tamu.

"Duh, Irwan ini kok semakin hari lemburnya semakin malam saja. Kalau sakit gimana?" gerutu sang ibu mertua seraya mengentakkan kaki lalu kembali masuk ke kamar.

Ranti menghela napas panjang. Kejadian serupa ini telah berulang di hampir setiap malam belakangan. Ya, suaminya pulang selalu terlambat dan ibu mertua seolah menyalahkan Ranti atas hal itu.

Segera ia meraih ponsel dan kembali mengirim pesan pertanyaan yang sama soal posisi di mana dan mau pulang jam berapa. Chat itu sejak tadi belum dijawab meskipun sudah terbaca. Namun, tentu saja ia tak bisa mengatakan hal itu kepada Bu Ine. Bisa-bisa akan membuat beliau semakin cemas.

Deru mobil yang masuk ke halaman rumah akhirnya membuat Ranti spontan bernapas lega.

"Ya Allah, syukurlah Mas Irwan sudah pulang," ujar Ranti buru-buru bangkit untuk menyambut pria yang telah dua tahun menjadi suaminya itu.

"Irwan! Kamu kok pulang malam lagi, sih? Lembur kok setiap hari!" Sebelum Ranti sempat berkata apa pun, Bu Ine rupanya sudah berada di situ juga dan langsung mengomeli putranya.

"Siapa yang lembur, Bu?" tanya Irwan sambil keningnya berkerut dan menatap ke arah Ranti..

Ah, tatapannya itu bak pisau tajam yang menyakitkan. Terasa sekali ada pandangan menusuk yang seolah berkata Ranti sudah tak diinginkan.

Sesak di dada hanya bisa ia tahan sebab bagaimanapun Irwan adalah suami yang dipilihnya sendiri atas alasan cinta yang tumbuh di antara mereka. Bila kini kondisi rumah tangga mereka tak semanis yang diimpikan, maka itu sudah konsekwensi dari sebuah keputusan.

"Loh, kata Ranti kamu lembur lagi. Gimana, sih? Kalau nggak lembur memangnya kamu ke mana saja semalam ini baru pulang?" Bu Ine semakin marah ditambah bingung dengan jawaban Irwan.

Ah, padahal Ranti sudah rela berbohong demi menjaga keadaan. Kalau begini kan Bu Ine jadi semakin banyak kepikiran. Namun, rupanya kebijakan Ranti malah disalah-artikan.

"Kamu jangan menutup-nutupi keadaan rumah tangga kita, Ranti. Kita ini sudah tidak bisa hidup berdua terus tanpa ada rasa kecocokan!" Tanpa diduga, Irwan membuat sebuah pernyataan yang mengejutkan bukan hanya untuk Bu Ine saja, tetapi tentunya untuk Ranti juga.

"Ap-apa Mas Irwan bilang? Ketidakcocokan apa, Mas?" Serta merta Ranti mendekat dan mengguncang lengan kekar yang dulu senantiasa siap merengkuhnya dengan penuh sayang.

Betapa sesak dada Ranti kala Irwan justru menyentakkan lengan agar lepas dari genggaman.

Sementara Bu Ine hanya mematung dengan mulut sedikit terbuka, sepertinya bingung hendak bereaksi apa. Keterkejutan membayang di mata tua wanita separuh baya yang telah hidup menjanda sejak lama itu.

"Jangan sok tidak menyadari semuanya, Ranti. Kita sudah tidak seperti suami istri. Kamu tidak bisa lagi membuatku nyaman tapi terus saja berpura-pura semuanya baik saja. Aku capek, tahu!" Telunjuk Irwan kini menuding ke arah istrinya.

Wajah penuh amarah itu kemudian berpaling tak mau menatap mata Ranti yang telah berkaca-kaca. Entah, mungkin tak kuat melihat genangan yang sudah memenuhi pelupuknya, atau justru tak sudi lagi menyaksikan tangis sang istri.

Sesak yang membekap di dada Ranti bertambah nyeri mendengar kalimat demi kalimat yang dilontarkan oleh suaminya sendiri. Ya Tuhan, ia rasanya tak kuat lagi ....

"Kamu bicara apa, sih, Irwan? Ada apa dengan kalian?" Bu Ine kembali bertanya karena ia masih sangat bingung dengan apa yang terjadi dengan pernikahan putranya itu.

Selama ini mereka memang serumah, tetapi yang dilihat oleh Bu Ine hanya luarnya saja. Di matanya kehidupan mereka baik-baik saja selain fakta bahwa belakangan ini Irwan terus-menerus pulang larut malam.

"Jelaskan pada Ibu apa yang terjadi, Irwan?" Kembali Bu Ine menanyai putranya dengan suara yang bergetar.

Ranti dan Irwan memang tak pernah beradu mulut ataupun bertengkar di hadapan Bu Ine. Ranti selama ini berusaha menjaga perselisihan hanya di dalam kamar hingga tak ada yang ikut mengetahui. Baginya, permasalahan rumah tangga adalah hanya urusan internal dua orang suami-istri.

Alasan lainnya adalah karena ia tahu bahwa Bu Ine memiliki riwayat tensi tinggi. Akan rentan terkena risiko stroke bila sampai mendengar hal yang mengangetkan. Itu sebabnya Ranti tak pernah menampakkan duka dalam kehidupan pernikahannya dengan putra Bu Ine.

Akan tetapi, entah kenapa Irwan malah mengatakan semua itu di hadapan ibunya sendiri malam itu. Apa sudah sebegitu tak kuatnya menahan diri? Sebegitu enggannya dia mempertahankan rumah tangga mereka ini?

"Irwan mau cerai, Bu. Irwan udah bosan hidup serumah dengan istri yang nggak sedap dipandang lagi. Cukup! Udah nggak ada lagi cinta di antara kami."

Malam itu langit cerah berbintang di luar tetapi dalam hati Ranti seolah sedang tersambar petir yang menggelegar. Kalimat pamungkas dari Irwan barusan membuat tubuh Ranti luruh ke lantai dan tak dapat lagi menahan sesenggukan.

"Ap-apa? Irwan, berhenti kamu!" Terdengar seruan Bu Ine memanggili Irwan tetapi tak dihiraukan.

Dari bias pandangan Ranti tersebab genangan air mata, ia melihat pria yang barusan mengucapkan talak itu bergegas ke kamar diikuti oleh ibunya.

Tenaga Ranti hilang tak bersisa. Lututnya terasa lemas dan tak ada daya hendak berdiri untuk membantah semuanya, tetapi memangnya mau membantah apa? Membantah fakta bahwa ia baru saja dicampakkan oleh pria yang selama ini begitu dicintainya?

Dan apa tadi Irwan bilang? Sudah tidak ada cinta di antara mereka? Padahal di tiap jengkal hati Ranti masih utuh hanya untuk Irwan.

Irwan yang kehilangan cintanya pada Ranti, tapi justru Ranti yang dipersalahkan. Sungguh, ini gila!

Dan kesadaran itu pun sontak menguatkan tubuh Ranti. Tidak! Dirinya bukan wanita lemah. Akan ia buktikan dirinya bisa tetap bertahan tanpa suami tak bertanggung jawab seperti Irwan!

“Mau berpisah? Oke, Mas. Aku siap!” Ranti berucap penuh tekad. Seorang Ranti Pradipta tak akan oleng hanya karena ditinggalkan pria sepertinya!

Gegas Ranti berdiri dan menyusul ke kamar. Dilihatnya di situ Bu Ine menangisi putranya yang tengah mengepak baju tanpa peduli.

Sekoper miliknya telah penuh baju-baju dan dikemas lalu diseret keluar tanpa melihat ke arah Ranti sama sekali. Sesak. Dada Ranti kembali serasa dihujani ribuan paku yang menancap satu-satu, semakin dalam dan mencipta nyeri yang tak terperi.

"Kamu tinggal tanda tangani surat cerai yang segera datang nanti. Aku yang akan mengurus semuanya," ucapnya saat tubuh jangkung itu melewati Ranti yang kini memegang erat daun pintu.

Sekuat tenaga Ranti bertahan tetap berdiri sambil berharap lantai yang serasa bergoyang tak membuatnya roboh saat itu.

11 September itu adalah hari ternahas dalam hidupnya. Tapi sekaligus juga titik balik perubahan dari seorang Ranti, istri yang dikatai buluk oleh Irwan menjadi Miranti Pradibta yang sukses dan cantik rupawan!

bersambung ....

Bab terkait

  • SESAL SANG MANTAN   2. Terungkap Fakta

    “Ya Allah, kenapa semua bisa jadi begini, sih? Kamu kok nggak pernah bilang apa-apa sama Ibu, Ranti? Kamu nggak menghargai Ibu sebagai orangtua? Iya?”Serasa belum cukup guncangan hidup yang dialami Ranti barusan, sang ibu mertua justru malah menggarami luka dengan lagi-lagi mempersalahkannya.Ranti memilih bungkam. Tubuhnya yang goyah saja belum mampu ia tegakkan, Bu Ine malah dengan tanpa empatinya menagih penjelasan dengan nada menumpahkan kesalahan. Mengapa sebagai sesama wanita bahkan ia tak sadar bila menantu di hadapannya kini tengah terajam? Sungguh, memang ada makhluk yang hatinya bisa sedemikian tanpa perasaan!“Kamu sudah melakukan apa sampai suami kamu minta cerai gitu, ha?” teriak Bu Ine tampak gemas karena merasa tak tahu apa-apa.Ranti menghela napas panjang sebelum kemudian menumpahkan perasaan. Tidak, ia tak akan menangis kali ini. Tidak lagi. Sudah cukup di malam-malam yang lalu ia menangis di atas sajadah dan mengadukan semua perlakuan buruk Irwan terhadapnya. Tenta

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01
  • SESAL SANG MANTAN   3. Misteri Gaji Suami

    Mertua dan menantu itu beberapa lama saling pandang. Isi pikiran mereka sepertinya serupa, tetapi keduanya sama-sama tak percaya dan ingin membantah. Terdiam tanpa kata, tetapi air muka dan tatapan mereka telah saling mengungkapkan segalanya.“Kita nggak boleh gegabah menuduh dulu, Ranti. Nggak mungkin Irwan itu ....” Ucapan Bu Ine terhenti. Pikirannya berkecamuk akan tetap mencurigai putranya sendiri atau mencoba mencarikan alasan yang lain lagi demi menjawab tanda tanya besar dalam hati. Sebagai ibu, ia tentu berkeinginan membela Irwan dengan segenap hati. Tapi fakta-fakta yang barusan terungkap membuat naluri sebagai wanitanya juga terlukai. Ia jadi sedikit merasa kasihan pada nasib Ranti selama ini. Kuat sekali wanita itu hanya dijatah tiga juta dengan kebutuhan yang sedemikian banyaknya. Dan menantunya itu sama sekali tak pernah terdengar mengeluh atau protes selama ini. Mau tak mau hatinya jadi ikut terenyuh. Hatinya seluas apa si Ranti ini, pikirnya sambil merasa bersalah tela

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01
  • SESAL SANG MANTAN   4. Tertangkap Basah

    Sementara itu, ojek online yang telah tiba langsung mengantar Ranti ke rumah Mona juga. Sepanjang perjalanan, hati Ranti kebat-kebit, antara berharap kecurigaannya akan perselingkuhan Irwan tidak terbukti tapi juga naluri yang merasa hal itu sangat besar kemungkinan memang terjadi."Mbak, sudah sampai. Di sini kan alamatnya?" Terkejut, Ranti geragapan karena sedari tadi rupanya ia melamun saja. Ya Tuhan, bahaya sekali melamun semalam ini dengan ojek tak dikenal pula.Usai turun dan meminta untuk ditunggu sebentar oleh si Abang ojek, Ranti mendekati sebuah rumah di hadapannya yang memang persis seperti rumah yang ada di foto Mona. Ada nomor 65 di pagar hitam kayu tertutupnya.Jam yang sudah menunjuk angka delapan malam membuat Ranti ragu dan beberapa kali menoleh ke belakang. Takut-takut kalau ada orang lingkungan situ yang akan mencurigainya. Tapi tujuannya sudah bulat. Ia harus memeriksa apa benar suaminya ke situ atau tidak. Apa benar suaminya ada main dengan Mona atau tidak.Jantun

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01
  • SESAL SANG MANTAN   5. Terguncang

    Di malam itu, Bu Ine pingsan sebab serangan jantung. Wanita separuh baya yang memang telah memiliki riwayat tensi tinggi dan risiko serangan jantung itu terlalu terguncang hingga tubuhnya tak kuat lagi bertahan. Tubuh tua itu terbaring di lantai sebelah meja telepon dengan tanpa ada seorang pun di rumahnya. Tentu saja kondisi itu sudah terbayang kini di benak Ranti.Dan ia yang masih menyayangi sang ibu mertua meski bagaimanapun amarahnya pada Irwan, langsung menelepon ambulance rumah sakit langganan Bu Ine untuk menjemput beliau. Dan ia juga bergegas minta diantar oleh ayahnya untuk kembali ke rumah Bu Ine. Dalam perjalanan, ia sibuk menelepon Irwan meskipun tahu ponselnya sedang dimatikan. Astaga! Pria itu tak sadarkah bahwa ibunya tengah dalam bahaya? Berasyik masyuk dengan wanita lain membuatnya lupa daratan dan hilang akal! Akhirnya ia berkirim pesan yang mengabarkan agar segera menyusul mereka ke rumah sakit yang dituju. Rasa bersalah kini menyelimuti benak Ranti.

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-01
  • SESAL SANG MANTAN   6. Dikiranya Gampang?

    Ranti menghela napas panjang. Ia masih sedikit khawatir dengan keadaan Bu Ine. Tapi, untuk tetap bertahan di sana dan berada dalam satu ruangan dengan Irwan ia sudah tak nyaman. Pokoknya sebisa mungkin ia akan menghindar. Pria dengan kelakuan busuk itu kini telah membuatnya muak. Pengorbanan dan kepatuhannya selama ini sebagai istri rupanya sama sekali tak dihargai. Balasan yang ia terima justru adalah pengkhianatan yang begitu menyakitkan. Sesampai di rumah, Bu Hana masih menahan HP sang putri. Wanita keibuan itu tahu betul Ranti pasti masih kepikiran aka kondisi mertuanya. Dan ia hanya berjaga agar tak sampai Ranti terbujuk untuk mengasihani Irwan si brengsek itu. Ia sudah tak mau lagi putrinya akan luluh dimanfaatkan lagi oleh lelaki kurang ajar yang sayangnya adalah menantunya itu. Lebih baik Ranti bercerai dengan tenang dan menjalani kembali kehidupannya. Toh putrinya masih muda. Sementara Irwan kebingungan membujuk ibunya agar mau hanya diurus oleh dirinya saja. Mau bagaimana

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20
  • SESAL SANG MANTAN   7. Cantik Rupa Busuk Hati

    Irwan lalu mengalah dan berpikir ibunya nanti juga pasti tak akan meminta hal-hal aneh di hadapan Mona. Toh, ibunya pasti paham kalau Mona bukan seperti Ranti. Penampilan mereka berdua saja sudah jauh berbeda. Ranti yang sederhana dan apa adanya sebab hanya di rumah saja. Sementara Mona yang selalu cetar dengan riasan lengkap dan wangi menguar ke mana-mana. Sungguh tidak pantas memang kalau Mona yang merawat ibunya.Sepeninggal Mona dari ruangan kerjanya, Irwan akhirnya langsung mengambil inisiatif untuk menghubungi agency penyalur asisten rumah tangga yang ia ketahui. Ada beberapa kawannya yang sudah sering merekomendasikan kontak agency itu setiap kali Irwan datang ke kondangan tidak membawa istri.“Kamu itu seharusnya punya pelayan di rumah, Irwan. Biar istri kamu nggak kerepotan dan jadi bisa ikut kamu kalau acara di luar perusahaan. Lihatlah, semua membawa istrinya masing-masing tapi kamu selalu aja sendirian, seperti pria single nggak laku aja kamu!” sindir Herman, salah seorang

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20
  • SESAL SANG MANTAN   8. Menata Hati

    Sementara itu, Ranti yang berada di rumah orangtuanya mulai menata hati. Ia tak mau menyibukkan diri dengan mencemaskan Bu Ine karena toh mantan ibu mertuanya itu pasti telah dirawat dengan baik oleh putranya sendiri. Biar Irwan tahu bagaimana cerewetnya Bu Ine selama ini. Biar Irwan akhirnya akan bisa menyadari dan menghargai usaha keras Ranti di rumah itu untuk mengambil hati Bu Ine. Dikiranya mungkin gampang untuk berperan sebagai istri sekaligus menantu yang baik di rumah itu?Kesehariannya kini dihabiskan dengan semakin tekun menulis novel online. Setidaknya karena penghasilan dari novel online itu ia tak perlu cemas meskipun kini akan menjadi janda. Bahkan sejak masih menjadi istri Irwan saja pendapatannya sudah sangat berguna untuk menutupi segala kebutuhan yang kurang. Untung sekali dirinya punya pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah saja tanpa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai istru pun menantu elama ini. Yah, meskipun ternyata menurut Irwan masih kurang pengorbanan

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20
  • SESAL SANG MANTAN   9. Daftar Tuntutan

    Sekitar dua minggu kemudian, surat cerai datang ke rumah orangtua Ranti dibawakan oleh pengacara Irwan. Ranti yang sudah berancang-ancang pun tak mau gegabah. Dihubunginya dulu pengacaranya sendiri yang tak lain adalah Dewi, sahabatnya.Dewi lantas mengambil alih urusan tersebut sebab ada beberapa hal yang Ranti ingin pastikan tercantum dalam surat gugatan cerai tersebut. Dia tidak bodoh seperti wanita v6 yang setelah diselingkuhi tak mendapat apa pun dari mantan suami. Minimal ia harus mencantumkan klausal perihal bukti Irwan telah berselingkuh agar semua biaya perceraian dan juga pembagian gono-gini didapatnya dengan mulus.Bukan matre, tapi Ranti hanya ingtin membuat Irwan kapok dan mendapatkan balasan yang setimpal karena telah mengkhianati dirinya dengan wanita lain. Jelas ia tak rela kalau harta gono-gininya akan jatuh ke tangan si pelakor meskipun ia sendiri juga tak akan sudi memakai harta tersebut. Ia sudah berniat akan menyumbangkan semuanya ke panti asuhan saja. Lumayan be

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-20

Bab terbaru

  • SESAL SANG MANTAN   34. Ancaman Penjara

    Hari itu juga sepulang kerja Jodi mendatangi distro milik Ranti. Ia memutuskan Ranti harus tahu soal kelakuan mantan suaminya itu. Sesampai di sana, ia langsung bercerita dengan gamblang soal kekalahan perusahaannya saat berebut tender dengan Ekomoda. Dan tentu saja fakta bahwa Irwan lah dalang di balik kekalahan itu.“Apa? Kamu yakin, Jod? Irwan kayaknya nggak mungkin senekat itu, deh—“ Ranti terkejut dan tak percaya mendengar berita tersebut.“Aku udah selidikin dan bahkan tadi aku langsung hubungin dia, Ran. Dia nggak ngelak, loh! Malah dia bilang itu baru awal dari pemabalasan dendamnya karena udah kupermalukan,” jawab Jodi meyakinkan.“Astaga! Keterlaluan banget sih Irwan! Dia nggak tahu apa kalau sabotase seperti itu termasuk tindak kriminal? Bener-bener ceroboh!” Serta-merta Ranti mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Irwan.Jodi melihat kelakuan Ranti tersebut dengan wajah heran.“Tunggu ... kamu mau apa? Mau hubungin dia? Serius?” sergah Jodi sambil menyentuh lengan Ra

  • SESAL SANG MANTAN   33. Penyelidikan

    Giant Textile yang selama ini selalu mendominasi pasar harus menghadapi kerugian besar dan kehilangan klien-klien penting, yang seharusnya menjadi bagian dari portofolio mereka. Namun, di balik semua kemenangan Ekomoda, ada perasaan tidak nyaman yang menghantui Irwan. Walaupun ia berhasil menyabotase perusahaan tempatnya bekerja sebelumnya, ia juga merasa bahwa ia sedang merusak reputasinya sendiri dalam dunia bisnis. Namun, ia menekan perasaan itu, berpikir bahwa ini adalah langkah terbaik untuk membalaskan dendam dan mendapatkan tempat yang layak bagi dirinya di Ekomoda.Kemenangan Ekomoda dalam tender itu membuka peluang besar bagi Irwan untuk melangkah lebih jauh dalam kariernya. Ia tak hanya berhasil menjatuhkan Giant Textile, tetapi juga membuktikan bahwa ia adalah orang yang sangat berguna bagi perusahaan ini. Posisi yang tadinya hanya sebagai asisten manajer kini bisa segera menjadi manajer marketing yang diinginkannya.Namun, di balik kesuksesan ini, Irwan semakin terperangka

  • SESAL SANG MANTAN   32. Pembalasan Irwan

    Seiring berjalannya waktu, Irwan mulai mempelajari rutinitas dan struktur Ekomoda. Ia tidak hanya harus beradaptasi dengan posisi barunya sebagai asisten manager marketing, tetapi juga mempersiapkan langkah-langkah untuk melaksanakan sabotase yang telah direncanakannya. Setiap hari, ia menyusup lebih dalam ke dalam data dan sistem, mencari celah yang merupakan kekurangan perusahaan itu dibandingkan dengan kinerja Giant Textile. Tujuan utamanya adalah untuk membuat Ekomoda jauh lebih maju sekaligus menghancurkan Giant Textile setelah itu. Irwan tahu persis bagaimana cara mereka bekerja—Giant Textile adalah pesaing besar yang tak pernah gagal dalam memenangkan tender-tender besar selama ini. Namun, ia juga tahu kelemahan mereka. Selama bertahun-tahun bekerja di sana, ia mempelajari betul bagaimana mereka mengelola data klien, strategi penawaran, dan mekanisme internal mereka. Semua informasi itu kini ia pegang erat, dan ia tahu Ecomoda harus bisa memanfaatkannya

  • SESAL SANG MANTAN   31. Hinaan Dibalas Lunas

    Di sebuah kafe yang terletak tidak jauh dari pusat kota, Ranti sedang duduk santai menikmati secangkir kopi sambil memeriksa beberapa pesanan online yang masuk untuk distro miliknya. Pagi itu, suasana kafe cukup ramai, beberapa orang duduk di sudut berbincang santai, sementara yang lain sibuk bekerja dengan laptop terbuka di hadapan mereka. Ranti merasa tenang di tengah keramaian itu, menikmati momen kesendirian yang bisa memberinya sedikit ketenangan di tengah kesibukan usahanya.Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, dua orang yang familiar muncul di pintu kafe. Ranti mengenali sosok itu dengan sangat jelas. Irwan dan Mona, selingkuhannya, melangkah masuk dengan senyum lebar yang terlihat sedikit sinis. Mereka berjalan menuju meja yang terletak tidak jauh dari tempat Ranti duduk. Tampak sekali Irwan sebenarnya ingin mengajak Mona keluar, mungkin berganti cafe lain, tapi Mona tentu saja tak peduli.Ranti berusaha menahan diri agar tidak terlihat terlalu memperhatikan m

  • SESAL SANG MANTAN   30. Bersinar Setelah Ditinggal

    Ranti memutuskan untuk lebih fokus pada usaha yang sedang dirintis. Usaha distro yang ia mulai dengan bantuan Jodi memang memerlukan perhatian ekstra, namun ia menikmatinya. Setiap pagi, ia berangkat ke tempat usaha tersebut untuk memantau segala sesuatunya, memastikan stok baju selalu tersedia dan tata letak di toko terlihat menarik. Tidak hanya itu, Ranti juga aktif mengelola penjualan online, memasarkan produk melalui marketplace, serta membuat strategi promosi untuk mengundang lebih banyak pelanggan datang ke outlet offline.Di sisi lain, proses perceraian dengan Irwan memang tinggal menunggu beberapa keputusan administratif, tetapi hari-hari menjelang sidang itu tetap mempengaruhi perasaannya. Ada rasa lega tentu saja, setidaknya setelah ini ia akan sepenuhnya lepas urusan sama sekali dari Irwan. Ia merasa seolah semuanya sudah usai, kenangan baik maupun buruknya selama menikah dengan Irwan hendak ditenggelamkannya dalam palung ingatan. Ia bertekad bahwa hari-hari yang ia jalani

  • SESAL SANG MANTAN   29. Single and Happy

    Disclaimer: bab ini bukan untuk mendukung para single untuk tetap bertahan sendiri, ya. Menikah adalah penyempurna ibadah, jadi tetap harus kita usahakan untuk mencari jalan pernikahan dengan pria yang baik akhlak serta bertanggung jawab. Author doain semoga pembaca semua yang sudah menikah rumah tangganya bahagia dan sejahtera, samawa till jannah, serta yang masih single segera bertemu jodoh terbaik dunia akhiratnya, tentunya yang bukan seperti Irwan, aamiin Ya Robbal alamiin_________________________________________ Pagi itu Ranti berniat jogging di Minggu pagi. Meskipun bukan karyawan kantoran, tapi dia suka jogging di hari Minggu saja sebab banyak juga tetangga sejawat yang melakukannya. Ia suka berlari kecil dengan para tetangga yang meskipun jarang mengobrol sebelumnya ternyata juga ramah dan suka bertegur sapa. Meski hanya sekeliling kompleks perumahan dan berakhir di area taman, yang penting sudah memenuhi jatah wajib olahraga mengeluarkan keringat untuk menjaga bentuk tu

  • SESAL SANG MANTAN   28. Nasib Sang Pelakor

    “Ke mana aja sih kamu, Irwan? Kenapa susah sekali dihubungi sekarang? Kamu menghindari aku, ya?” Mona langsung melabrak Irwan begitu ia melihat pria itu turun dari mobilnya bersama Bu Ine. Ia bahkan mengabaikan keberadaan sang ibu dari Irwan tanpa menyapanya terlebih dulu.Berhari-hari belakangan teleponnya diabaikan oleh Irwan hingga akhirnya ia nekat mendatangi rumah Bu Ine. Rasa kesalnya karena seoah dirinya dibuang begitu saja setelah semua keributan dan musibah yang mereka alami berdua membuatnya kehilangan rasa takut pada Bu Ine.“Aku sibuk, Mona. Aku akan menghubungimu kalau sudah beres semua urusan. Jangan menggangguku dulu untuk sementara waktu,” jawab Irwan dengan nada satar seolah tanpa rasa bersalah sama sekali. Sejujurnya ia memang butuh menjauh dulu dari Mona sebab setiap kali bertemu, ia hanya semakin dibuat kesal dan kusut pikiran dengan segala omelan dan tuntutan absurd dari kekasih haramnya itu.“Heh, pelakor! Cukup sudah kamu bikin hancur kehidupan anak saya, ya. Ja

  • SESAL SANG MANTAN   27. Mediasi yang Gagal

    Tiga hari setelahnya, sebuah mediasi dijadwalkan untuk mencari solusi damai atas perceraian Ranti dan Irwan. Sebuah upaya yang diharapkan bisa meredakan ketegangan dan membawa mereka menuju jalan yang lebih baik, meskipun semua pihak tahu bahwa proses ini kemungkinan tidak akan berjalan mulus. Ranti dan Dewi tiba di ruang mediasi dengan suasana hati yang jauh dari lega. Ranti terlihat tenang, meski jelas ada bekas luka emosional yang masih mengganggu. Dewi, di sisi lain, tampak serius, siap menghadapi setiap tantangan yang mungkin muncul.Irwan dan Bu Ine datang bersama pengacara mereka. Irwan terlihat lebih lemah daripada sebelumnya. Langkahnya masih terhuyung, seakan tidak percaya bahwa segala sesuatunya bisa berubah secepat ini. Di sampingnya, Bu Ine tampak lebih garang dari sebelumnya, penuh kemarahan yang tampaknya belum juga reda. Mereka duduk berhadapan dengan Ranti dan Dewi, memulai sesi mediasi dengan setertib mungkin.Mediator membuka sesi dengan suara tenang, mencoba menena

  • SESAL SANG MANTAN   26. Cekcok

    Setelah persidangan yang memanas, ruang sidang terasa seperti ruang hening setelah ledakan. Debat, bukti-bukti, dan argumen yang diajukan Dewi berhasil memberikan pukulan telak kepada Irwan, namun keputusan mediasi dari hakim membuat semuanya masih abu-abu. Saat sidang berakhir, suasana di luar ruang sidang berubah menjadi tegang. Bu Ine tampaknya sudah siap dengan segala bentuk makian untuk diluapkan. Sementara itu, Ranti dan Dewi berjalan dengan tenang, meskipun masih ada banyak hal yang harus mereka hadapi.Irwan dan Bu Ine segera berjalan cepat, seperti orang yang ingin segera mencapai Ranti. Dengan wajah masam, ia tampak dikuasai amarah. Hatinya kesal setengah mati bukan hanya karena kekalahan yang tak bisa mereka elakkan, tetapi juga karena dirinya merasa dipermalukan di hadapan orang banyak. Ia tidak peduli dengan seberapa kuat bukti-bukti yang dimiliki oleh Dewi. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana inginnya ia memaki Dewi dan juga Ranti untuk memulihkan harga diri.Irwa

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status