Home / Romansa / Perjanjian Leluhur / 185. Perjuangan Butuh Pengorbanan

Share

185. Perjuangan Butuh Pengorbanan

Author: Enday Hidayat
last update Last Updated: 2024-03-02 20:18:30
"Seharusnya minta persetujuan dulu!"

Dewi Anjani memandang ibunda ratu dengan berapi-api. Kemarahannya hampir meledak mendengar keputusan kontroversial itu.

Memberi perintah langsung kepada Jendral Perang berarti mengambil alih komando peperangan.

Padahal ia sudah menyerahkan wewenang penuh kepada Cakra untuk mengambil keputusan taktis di medan laga.

"Aku tahu ananda pasti tidak setuju," kata Ratu Purbasari. "Aku sudah menarik putera mahkota dari Bukit Penamburan kalau ananda tidak menghalangi."

Dewi Anjani sama sekali tidak mengerti jalan pikiran ibundanya. Cakra telah berhasil menumpas pemberontak dalam waktu singkat, tapi hendak diganti dengan tokoh istana yang sudah terbukti gagal.

Mereka datang ke Bukit Penamburan hanya mengantarkan nyawa, dan petaka itu akan terulang lagi.

"Kadipaten Selatan sangat membutuhkan garwa ananda," dalih Ratu Purbasari. "Adipati sangat kewalahan mengatasi penyusup dari kerajaan Selatan."

"Aku bingung dengan cara berpikir ibunda. Mengusir
Locked Chapter
Continue Reading on GoodNovel
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Kurnialam
Makasih dah update lebih awal, thor
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

  • Perjanjian Leluhur   186. Di Ujung Tanduk

    "Gusti pangeran tidak bersama rombongan." Abimanyu baru tiba di istana dan ia melapor pada puteri mahkota. Tapi ia tidak menyampaikan perihal janji suci mereka atas perintah Nyi Ratu Suri. Dewi Anjani terdiam di kursinya. Penolakan putera mahkota memimpin rombongan ke Curug Empat adalah protes keras terhadap keputusan ibunda ratu. Cakra bisa dicopot gelar kebangsawanannya karena tidak patuh pada perintah istana. Jika hal itu terjadi, maka ia tidak berhak tinggal di istana. "Jangan sampai ibunda ratu tahu," kata Dewi Anjani. "Ia pasti murka, dan kau tahu apa risiko dari kemurkaannya, pencopotan gelar pangeran." "Baik, gusti puteri." Kepala Dewi Anjani berdenyut pusing. Ia tahu Cakra kecewa karena ibunda ratu telah turut campur, tapi ia tak mengira reaksinya sekeras itu. Nasib putera mahkota di ujung tanduk. Tak ada yang mampu menyelamatkan selain kemurahan hati ibunda ratu. Hanya ada dua pilihan bagi Dewi Anjani; melepas gelar kebangsawanan dan hidup sebagai rakyat biasa bersama

    Last Updated : 2024-03-03
  • Perjanjian Leluhur   187. Babad Nyeleneh

    Puteri Rinjani sangat berat melepas kepergian Cakra, namun tanggung jawab besar menantinya. "Aku minta kau pulang ke istana Sihir," kata Pendekar Lembah Cemara. "Bukit Penamburan bukan persinggahan yang aman buat puteri mahkota." "Aku ingin menunggumu di sini," sahut Puteri Rinjani. "Aku tak bisa jauh darimu." Cakra tersenyum kecut. "Itu kata Slank. Tidak apa jauh di mata tapi dekat di hati." "Itu empedu. Kau ingin memberikan kepahitan hidup bagiku?" "Itu kata Ernie Djohan." "Terus kata kanda tersayang apa?" "Segeralah pulang ke istana Sihir. Di bukit ini banyak tokoh sakti yang mengincar dirimu karena kini kau adalah garwaku." Puteri Rinjani sebenarnya ingin memadu kasih sampai titik di dahi hilang, pertanda kehamilan tiba. Ia sudah membuka pintu rahim setiap kali berhubungan intim, namun titik itu belum lenyap juga. Satu kehinaan bagi puteri mahkota kalau sampai majir, dan menjadi bencana. Siapa yang meneruskan dinasti kelak? Ia muak kepulangan dirinya disambut pertanyaan m

    Last Updated : 2024-03-04
  • Perjanjian Leluhur   188. Seperti Ulat Serit

    "Kenapa gusti ratu selalu terlambat mengambil keputusan?" Cakra tak henti menggerundel di sepanjang jalan setapak dan berliku itu. Ia sengaja melewati jalan sulit untuk menghindari pertemuan dengan antek-antek rabi Sakila. Satu nyawa prajurit pemberontak melayang di tiang gantungan jika ketahuan ada pendekar golongan putih mendekati istana Curug Lima. Cakra meningkatkan kewaspadaan saat instingnya merasakan ada makhluk roh mengikuti. Ia mengerahkan ilmu Tembus Pandang Paripurna dan Selubung Khayali untuk melihat ke sekitar. "Berada di mana makhluk itu?" gumam Cakra. "Ia tak bisa bersembunyi dariku meski hanya sebesar kutu." Tidak mungkin Tuan Agung. Ia berkunjung ke bukit ini setiap purnama ke tujuh. Apakah ada makhluk lain berkeliaran? Makhluk roh itu bergerak laksana kilat untuk menghindari pandangannya. Cakra berniat menggunakan ilmu Seberkas Sinar untuk mengejar, tapi kemudian diurungkan. "Buat apa aku cape-cape mengeluarkan ilmu roh? Ia sepertinya tidak bermaksud jahat, han

    Last Updated : 2024-03-05
  • Perjanjian Leluhur   189. Kuda Barbari

    Perempuan seksi yang lagi asyik bermain dengan kuda poni jantan serentak bangkit dan merapikan pakaian saat pintu pesanggrahan ambruk ditendang dari luar. "Jahanam!" geram rabi Sakila. "Kau cari mampus mengganggu kesenanganku!" Cakra mendengus sinis. "Sayang sekali kencantikanmu disia-siakan. Banyak lelaki di luar sana mendambakan kenikmatan darimu." "Hakku untuk bercinta dengan makhluk apapun!" "Kau lupa lubang kenikmatan yang ada padamu bukan diciptakan untuk binatang. Hak macam apa yang kau punya sehingga berani mengangkangi takdir Raja Sekalian Alam?" "Tahu apa kau tentang hak?" "Justru itu aku bertanya padamu!" Di mata Cakra, rabi Sakila adalah makhluk salah kaprah. Ia belajar tentang hak pada guru yang salah. Bercinta adalah haknya, namun ia keliru menerapkan hak pada organ intimnya. Ia menganggap perbuatannya benar, padahal ia sudah sewenang-wenang mengeksploitasi organ intim sehingga terjadi penganiayaan pada diri sendiri. Menggunakan organ tubuh tidak sesuai dengan fu

    Last Updated : 2024-03-06
  • Perjanjian Leluhur   190. Satu Silsilah

    Nyi Ratu Suri heran musuh seperti tidak habis-habisnya, mereka berhamburan dari dalam istana, padahal sudah puluhan pendekar berhasil dilumpuhkan dan hanya pendekar berenergi inti paripurna yang mampu membebaskan totokan itu. Beberapa dari mereka mencoba menolong namun gagal, padahal berilmu sangat tinggi. "Aku baru menemukan pelumpuhan model begini," keluh pendekar berponi. "Barangkali hanya guruku yang mampu menolong mereka." "Aku tidak mengira puteri mahkota berilmu setinggi itu," kata temannya. "Kemampuannya sulit ditandingi." Beberapa pendekar muntah darah karena nekat beradu tenaga dalam dengan menangkis pukulannya. Bahkan sebagian pendekar kelenger pingsan kena gebuk di bagian dada, sampai-sampai Nyi Ratu Suri merasa bersalah. "Please, forgive me!" teriaknya. "Kalian memaksaku berbuat kasar!" Kemudian ia melayang-layang di udara, melompat dari satu kepala ke kepala lain, menghindari senjata maut mereka. Para pendekar bayaran sulit menangkap perempuan seanggun bidadari it

    Last Updated : 2024-03-07
  • Perjanjian Leluhur   191. Sedikit Tenggang Rasa

    Benar-benar kemarahan membabi buta! Nyi Ageng Permata telah menghapus babad kerajaan sehingga pendekar berponi tidak tahu siapa yang dihadapinya. Padahal sebenci apapun pada sejarah, generasi masa depan berhak tahu. Sungguh ironis pendekar berponi tidak mengenali siapa leluhurnya. Tapi dengan lantang ia mencatut leluhurnya, "Aku tidak mau leluhur murka karena terjadi pertumpahan darah di antara kita! Masalah kita sudah selesai! Kau sudah membebaskan prajurit tak berdosa!" Nyi Ratu Suri jungkir balik di udara keluar dari arena pertarungan, setelah delapan pengawal utama dilumpuhkan dan menyisakan pendekar berponi. "Kalau kau benar keturunan Ratu Pasir Galih, kenapa bersekutu dengan pemberontak?" Nyi Ratu Suri tidak berhasrat untuk memberi tahu siapa dirinya, biarlah pendekar berponi mengira ia adalah Dewi Anjani. "Aku butuh ruang untuk mengekspresikan kebebasanku! Tapak Mega menjanjikan itu!" "Kau keliru kalau menganggap Kadipaten Barat adalah rumahmu! Kalian sudah merusak tatan

    Last Updated : 2024-03-08
  • Perjanjian Leluhur   192. Perempuan Malang

    "Semua ini hasil perbuatanmu?" Ranggaslawi berdiri di halaman istana, mengedarkan pandang melihat ratusan pendekar berilmu tinggi terdiam kaku. "Tumben kau serius menghadapi musuh, tidak ada pose doggy, missionary, atau spooning." "Mereka bukan hasil perbuatanku." Kemudian Cakra bertanya ke Jendral Perang, "Prajurit yang disekap di ruang bawah tanah sudah dibebaskan?" "Mereka lagi dievakuasi. Prajurit pemberontak terkapar kelaparan di ruang gelap dan sempit. Mereka sudah dua hari tidak diberi makan. Rabi Sakila sungguh kejam." "Kau bawa semua pendekar bayaran ke pusat rehabilitasi dan masukkan ke barak yang sama dengan tawanan sebelumnya. Untuk rabi Sakila dan pendekar berponi, tolong bawa ke istana terlarang." Istana terlarang adalah tahanan untuk para pejabat dan bangsawan yang melakukan tindak kejahatan moral. "Siapakah mereka sampai perlu mendapatkan perlakuan istimewa, gusti pangeran?" tanya Mahameru. "Cicit buyut Nyi Ratu Suri yang tersesat, dari garis Nyi Ageng Permata.

    Last Updated : 2024-03-09
  • Perjanjian Leluhur   193. Kesalahan Tak Terampuni

    "Kau yakin Nyi Ratu Suri tidak bersama kita?" Iblis Cinta berjalan di jalan setapak bekas aliran air. Mereka sengaja melewati jalan di antara pepohonan rimbun dan dipenuhi semak belukar. Mata-mata istana Curug Empat pasti melihat mereka jika lewat jalan biasa atau pucuk pohon. Mereka melangkah sebagaimana makhluk berjalan, namun jarak tempuh yang didapat sangat jauh. "Aku sudah menggabungkan ilmu nyata dan ilmu gaib untuk mendeteksi keberadaannya. Aku pikir ia marah karena merasa dikerjai menghadapi pendekar Curug Lima sendirian." "Kau benar-benar ksatria slebor. Leluhur permaisurimu dikerjai juga." "Aku melihat tidak ada perbedaan jika mereka duduk bersisian. Semoga mereka tidak tidur satu pembaringan." Hanya wangi tubuh berbeda, namun aromanya sama-sama menggugah selera. Semula ia mengira Dewi Anjani memakai pewangi dengan ekstrak bunga yang memancing gairah, namun setiap puteri mahkota ternyata memiliki wangi alamiah yang khas. "Ha ha ha!" Iblis Cinta tertawa. "Kau seharusn

    Last Updated : 2024-03-10

Latest chapter

  • Perjanjian Leluhur   386. Bukan Minta Suaka

    "Terimalah hukuman atas kelancangan dirimu!" Ketua lama berubah menjadi Bintang Kehidupan dengan sinar kemerahan yang menyilaukan mata. Bintang itu berusaha menyambar Cakra yang bergerak menghindar dengan lincah. Semua pendekar yang berada di sekitar mereka berusaha menghalangi pandangan dari sinar yang membutakan mata itu. "Ketua lama mulai mengeluarkan ilmu dari kitab terkunci," keluh Ratu Purbasari. "Sampai kapan Cakra mampu bertahan?" "Ilmu warisan Wiraswara sangat dahsyat di tangannya, tapi tidak cukup untuk menandingi," kata Ratu Sihir. "Kita juga tidak bisa menolong, bahkan untuk diri sendiri." "Hei! Lihat...!" seru Ratu Ipritala. Cakra berubah menjadi Seberkas Sinar. Cahaya berekor berwarna keemasan itu menggulung Bintang Kehidupan meninggalkan siluet di angkasa. "Ratu Kencana kiranya sudah mewariskan ilmu roh kepada pangeran," ujar Ratu Purbasari. "Tapi belum cukup untuk memenangkan pertarungan." Padahal ilmu itu diperoleh dari Nyi Ratu Suri lewat kemesraan, dan men

  • Perjanjian Leluhur   385. Menanti Kedatangan Ratu Sejagat

    "Aku adalah Raja Agung yang akan menyeretmu pulang ke gerbang siksa." Sebilah pedang kencana muncul secara tiba-tiba di tangan Cakra, pedang itu jelmaan Tongkat Petir. Ketua lama tertawa dengan congkak. "Ha ha ha! Jadi kau murid Ki Gendeng Sejagat?" Sebuah tongkat yang sama persis muncul dalam.genggaman ketua lama, kemudian tongkat itu berubah menjadi pedang serupa. Aku tidak pernah mendengar Tongkat Petir mempunyai kembaran, batin Cakra. Tapi guruku pernah menciptakan duplikatnya. Aku tidak tahu mana yang asli. "Ha ha ha! Gurumu benar-benar gendeng sudah mewariskan tongkat palsu kepada muridnya!""Aku yakin tongkatmu palsu, seperti tongkat di balik celanamu!" Ratu Dublek tersenyum mengejek, ia berkata, "Apakah kau sekarang masih cukup nyali untuk menantang garwaku setelah mengetahui tongkatmu palsu? Aku memberi kesempatan kepadamu untuk hidup dengan melanjutkan permainanku yang terganggu olehmu." "Kau bukan perempuan seleraku," kata Cakra sinis. "Kakek peot itu sudah me

  • Perjanjian Leluhur   384. Pendekar Cinta

    Puluhan prajurit mengejar Ranggaslawi. Ia sengaja membawa mereka ke arah sekelompok pasukan gabungan berada. Ratu Sihir bengong melihat kejadian itu, ia bertanya, "Bukankah pendekar botuna sudah pergi ke hutan alas?" "Cakra pasti membawanya kembali," keluh Ratu Purbasari. "Aku heran bagaimana ia bisa bersahabat dengan pendekar cabul. Rencana kita hampir berantakan gara-gara mereka.""Dan sekarang benar-benar berantakan." "Kau harus menegur Cakra dengan keras. Tindakannya sudah melanggar prosedur." "Pangeran kepala batu." "Kau lunakkan dengan body goal mu. Kelemahan kesatria mata keranjang adalah keindahan wanita." "Kenapa bukan kalian saja?" "Maharini keguguran dan Rinjani belum hamil-hamil. Jadi kami tiada alasan untuk bercinta dengan menantu. Lagi pula, selera Cakra bukan maharatu yang mempunyai banyak simpanan." "Ngomong saja kalian kalah cantik." Mereka tiba di alun-alun istana. Pertempuran terjadi di berbagai penjuru. Serangan prajurit musuh datang secara bergelombang

  • Perjanjian Leluhur   383. Penyerbuan Dini

    "Mereka sedang mengawasi kalian."Ranggaslawi dan kawan-kawan pucat pasi mendengar keterangan Jaka, meski mereka tak dapat melihatnya. "Baguslah kalian ada rasa hormat," sindir Cakra. "Padahal Ratu Kencana tahu bagaimana bejatnya kalian." "Aku sudah menduga kau punya beking handal," kata Ranggaslawi. "Hanya indung leluhur garwamu yang dapat melumpuhkan ketua lama." "Maka itu aku akan pergi ke dasar segara untuk membantu Nawangwulan. Kalian bantulah Nyi Ratu Kencana." "Enak saja melimpahkan tanggung jawab kepadaku!" sergah suara tanpa wujud. "Kau bereskan dulu urusan di kota Dublek!" "Aku muak berjuang di bawah kecurigaan." "Aku hanya ingin memastikan kau tidak main-main dengan ajian Serat Cinta!" "Kau tahu aku suka main-main." "Baiklah! Aku pergi! Aku akan mengutuk dirimu jadi buruk rupa kalau berani macam-macam!" "Kebetulan aku sudah bosan berwajah ganteng." Ratu Kencana pasti pikir-pikir untuk bertindak senekat itu, kecuali ia siap menerima gelombang protes dari seluruh p

  • Perjanjian Leluhur   382. Jangan Berpikir Tentang Kematian

    Cakra kemalaman di hutan alas, di mana pada setiap pohon dihuni ular piton. Binatang itu tidur melingkar di batang pohon. Hutan alas merupakan jalan pintas menuju kerajaan Dublek. "Aku tidak tahu mereka tidak mengganggu diriku karena Ratu Siluman Ular atau ilmu Serat Cinta ku." "Aku kira mereka sungkan sama Yang Mulia. Jadi mereka pura-pura tidur." Ular piton yang biasa menjilati wajah Cakra kini seakan tidak terusik dengan kedatangannya. "Tapi aku menikmati situasi ini. Ajian Serat Cinta membuat hatiku terasa damai." Cakra singgah di kuil kuno yang pernah menjadi tempat pembantaian anggota sekte. "Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan, Yang Mulia," kata si Gemblung. "Kita beristirahat di kota Dublek." "Aku mendengar suara percakapan di dalam kuil. Aku seperti kenal suara mereka." Cakra membuka pintu kuil. Ia terpukau melihat pendekar botuna duduk santai di sofa sambil minum tuak. "Kalian sedang apa di sini?" tanya Cakra heran. "Bukankah kekacauan di kota Dublek semakin meraj

  • Perjanjian Leluhur   381. Sang Perkasa

    Ketua lama Dewan Agung berhasil kabur dari gerbang siksa. Ia menjadi pendukung utama Ratu Dublek. Raden Mas Arya Bimantara sebagai ketua baru sungkan untuk menangkapnya. Ratu Kencana sampai turun tangan melobi Cakra, ia sangat peduli dengan kegaduhan yang terjadi. Padahal ia berasal dari langit berbeda. "Nusa Kencana adalah negeri warisanku, aku memiliki keterikatan batin dengan penguasa istana." "Kenapa kau tidak menegur ketua baru untuk bertindak tegas?" "Kepandaian Arya Bimantara belum memadai untuk meringkus ketua lama." "Kenapa diangkat jadi ketua Dewan Agung kalau tidak memenuhi syarat?" "Ia paling pantas menjadi tetua! Tapi ketua lama mempunyai ilmu tertinggi di langit!" "Lalu kau pikir aku memadai? Aku bisa jadi ayam penyet!" "Aku sudah menurunkan intisari roh kepadamu. Jurus dan pukulan saktimu sekarang jauh lebih dahsyat." "Aku diminta taat aturan, kau sendiri tidak tahu aturan. Kau menurunkan ilmu tanpa seizin diriku. Kau seharusnya memberikan ilmu itu kepada indu

  • Perjanjian Leluhur   380. Pangeran Terkutuk

    Plak! Plak!Dua tamparan keras kembali mampir di wajah Cakra.Kesatria gagah dan tampan itu tersenyum, ia hanya memiliki senyuman untuk perempuan cantik."Aku teringat pertemuan kita di hutan kayu," kata Cakra. "Kau lima puluh kali menampar wajahku sebelum mempersembahkan lima puluh kenikmatan."Plak! Plak!Cakra merasa ada aliran hangat dari tamparan itu, berangsur-angsur menyegarkan tubuhnya."Jadi kau sekarang mengalirkan energi roh melalui tamparan? Apakah Raden Mas Arya Bimantara melarang dirimu untuk bercinta denganku? Jadi kau masih mencintai lelaki pecundang itu? Aku sendiri malu mempunyai indung leluhur seperti dirinya...."Plak! Plak!"Jawabanmu sangat menyebalkan diriku," gerutu Cakra."Kau benar-benar pangeran terkutuk!""Aku mengakui diriku pangeran terkutuk ... terkutuk menjadi gagah dan tampan, bahkan menurut body goal magazine, aku satu-satunya pangeran yang dirindukan tampil telanjang di sampul depan! Tapi kecerdasan buatan tidak mampu menduplikat diriku, lebih-lebih

  • Perjanjian Leluhur   379. Ada Cemburu Di Hatimu

    Puteri mahkota khawatir kesembuhan dirinya menimbulkan masalah baru bagi kerajaan.Bagaimana kalau Nyi Ratu Kencana murka dan menurunkan bencana yang lebih besar?"Aku kira Cakra sudah mempertimbangkan secara matang," kata Pangeran Liliput. "Ia terkenal sering bicara gegabah, namun tak pernah bertindak gegabah."Puteri mahkota memandang dengan resah, ia bertanya, "Bagaimana jika kutukan itu menimpa calon garwaku karena sudah melanggar kehendak ketua langit?" "Janganlah berpikir terlalu jauh, ananda," tegur Ratu Liliput lembut. "Belum tentu apa yang ananda pikirkan itu kejadian.""Bagaimana kalau kejadian, ibunda? Aku pasti disalahkan permaisuri pertama."Puteri Liliput segera meninggalkan pesanggrahan untuk menjumpai calon suaminya.Penjaga bilik tirakat segera berlutut dengan sebelah kaki menyentuh lantai begitu puteri mahkota dan baginda ratu tiba di hadapannya."Bukalah pintu bilik, Paman," pinta Puteri Liliput. "Aku mau masuk.""Patik mohon ampun sebelumnya, Gusti Puteri ... gust

  • Perjanjian Leluhur   378. Karena Cintanya

    "Ceesss...!"Bunyi pergesekan ujung Tongkat Petir dengan leher Puteri Liliput berkumandang menyerupai bunyi besi panas dicelupkan ke dalam air, seiring mengepulnya asap hitam tebal beraroma busuk.Keringat mengucur deras dari kening Cakra. Tongkat Petir bergetar keras sampai tangannya turut bergetar.Asap hitam tebal menyelimuti pesanggrahan, sehingga menghalangi pandangan sri ratu, ia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka."Semoga tidak terjadi apa-apa...."Baginda ratu menutup pintu pesanggrahan karena tidak tahan menghirup bau busuk yang sangat menyengat.Ratu Liliput menunggu dengan cemas di depan pintu pesanggrahan.Pangeran Nusa Kencana sungguh nekat mengobati Puteri Liliput, ia tak sepatutnya mengorbankan nyawa untuk hal percuma."Hanya Nyi Ratu Kencana yang dapat menghilangkan kutukan itu," kata Ratu Liliput lemas. "Kesalahan diriku telah membuat murka para ketua langit."Ratu Liliput membuka pintu sedikit, asap tebal menerobos keluar.Ratu Liliput segera menutup pintu kem

Scan code to read on App
DMCA.com Protection Status