Home / Romansa / Obsessed with You / Bab 3. Bertemu Lagi

Share

Bab 3. Bertemu Lagi

Author: Nafish Grey
last update Last Updated: 2025-01-21 14:58:42

Bip! Bip!

Daniel menatap layar di ponselnya, sebuah titik merah berkedip dan bergerak menjauh dari Mansion Forrester.

Bibirnya tertarik membentuk senyuman lebar. Dia tak menyangka gadis cantik di bar murahan itu akan kabur setelah sadar, bahkan setelah melihat kamar mewah yang ia tempati.

Biasanya gadis-gadis menunggu kehadirannya, bernegosiasi tentang cinta atau uang, tapi Ivy berbeda. Seperti kelinci yang ketakutan, gadis itu memilih kabur.

Seorang yang berjiwa pemburu seperti Daniel lebih tertarik pada mangsa yang memberontak daripada yang pasrah. Ia menjilat bibirnya sambil tersenyum penuh minat. "Ivy, kau tak akan bisa lari dariku."

Bip!

Pelacak tersebut berdenyut, menuju apartemen di pusat kota.

Ivy membuka pancuran, meringkuk gemetar di bawah curahan air hangat. Ia menggosok tubuhnya berulang kali sampai memerah.

Plak!

Sang gadis menampar pipinya sendiri. "Bodoh! Dasar bodoh!" Kenapa dia harus mabuk? Kenapa dia tak bisa melawan? Ivy mengencam ketidakberdayaannya.

Bam! Bam!

Gedoran di pintu membuat sang gadis melonjak terkejut. Ia bergegas mematikan pancuran, meraih handuk, lalu memakai piama.

"Si-siapa?"

Ketukan semakin keras.

Bam! Bam!

Ivy mulai mundur selangkah, tak berani membuka pintu.

"Si-siapa?" tanyanya lagi.

"Buka!" Suara seorang wanita membuat Ivy langsung mengembuskan napas lega. Gadis itu bergegas membuka pintu.

Seorang wanita paruh baya bertubuh tambun berkecak pinggang di depan pintu flatnya. Matanya mendelik tak senang. "Mana bayaran?"

"Bukannya sudah dibayar, Bu?"

"Mana ada, kalau sudah bayar ga mungkin saya tagih. Kamu sudah dua bulan nunggak loh!"

"Apa?! Ta-tapi ...." Ivy sudah menyerahkan sewa apartemennya ke tangan Kevin setiap bulan, pria itu yang mengatakan akan mengurus semua pengeluarannya, sisanya akan menjadi tabungan bersama untuk menikah nanti.

"Jadi gimana?! Bayar engga hari ini?"

"Tapi Bu."

"Ga ada tapi-tapian, kalau nanti malam belum ada uangnya, kamu keluar dari flat ini!" Pemilik apartemen mendengkus dan berlalu.

Ivy merosot jatuh, ia mengusap wajahnya, memukul dada yang berdenyut nyeri. "Kevin, kau ...." Rahangnya berdenyut menyakitkan menahan air mata.

***

Hotel Delta.

Ivy berlari terburu-buru ke kamar Suite .

"Kenapa baru datang? Rapikan tempat tidurnya!" Seorang wanita paruh baya memarahi Ivy.

"Maaf, maaf." Ivy mengikat rambutnya ekor kuda sambil tersenyum canggung. Ia segera bekerja merapikan seluruh bagian kamar yang akan dipakai sore ini.

"Sisa kamar mandi saja, kamu yang bereskan ya!" Wanita itu meninggalkan Ivy sendirian.

Ivy segera beranjak ke kamar mandi, ia menghela napas berat, karena kejadian semalam, dia sampai terlambat bekerja. "Mungkin aku bisa meminjam dari Pak Richard," gumamnya penuh harap.

Sang gadis terus bekerja keras. Tanpa dia sadari, di balik kalung yang dia pakai, sebuah alat pelacak kecil tertanam di sana.

Daniel melangkah menuju suite yang sudah dia pesan bersama sekretaris dan dua orang bodyguard.

"Kamar terbaik di sini setara bintang 3, Bos. Kita bisa memesan hotel lain." Christian merasa aneh, kenapa Daniel memilih hotel murahan ini.

Daniel tak menjawab, dia malah menjentikkan jari sewaktu mereka sampai di depan kamarnya. "Apa jadwal hari ini?"

"Pertemuan nanti malam di jam 9. Mereka sudah punya uangnya."

"Ok. Kalian pergilah beristirahat, jam 8 jemput aku."

"Baik, Bos!"

Daniel membuka pintu kamar, menatap ke layar ponsel dan berjalan menuju kamar mandi dengan senyum terkembang lebar.

Brak!

Ivy melonjak terkejut, sikat jatuh dari tangannya. Dia berbalik cepat, melihat ke arah sumber suara.

Ivy belum pernah melihat rupa setampan itu sebelumnya. Hidung yang mancung, rahang kokoh, juga mata tajam yang sewarna zamrud.

"Ivy?!" Daniel mengikis jarak di antara mereka, membuat Ivy mundur hingga memepet dinding kamar mandi.

"Siapa?!" Ivy berdeham bingung.

Daniel menggeleng tak percaya, bukan hanya meninggalkannya, gadis ini juga melupakan wajah tampannya.

Pria bertubuh tinggi itu mendekatkan wajahnya, membuat Ivy menahan napas seketika. Hidung mereka hampir bersentuhan.

"Kau melupakanku? Secepat itu?"

"T-Tuan! Anda pasti salah orang, aku—" Belum selesai kalimat Ivy, Daniel sudah menanamkan ciuman pada bilah bibirnya yang terbuka, membuat gadis itu terdiam. Memori kejadian semalam menghantamnya telak, mengingatkannya kembali dengan pertukaran saliva bersama pria tampan bernama Daniel.

"Sekarang kau ingat siapa aku?" Daniel memisahkan bibirnya untuk meraup napas.

"Da-Daniel?!" Ivy terkesiap tak percaya.

"Ya, kau membuatku sedih dengan meninggalkanku pagi ini. Jadi ...." Daniel mendesah di dekat telingannya, membuat jantung Ivy sudah berdetak tak karuan. "Kita lanjutkan apa yang tak sempat kita lakukan?"

"A-apa?!" Ivy menggeleng frustrasi, mendorong tubuh Daniel menjauh. "Tidak! Jangan mendekat!"

"Apa?!" Daniel mengira dia salah dengar.

"Tidak! Ini masih jam kerjaku, a-aku harus pergi!" Ivy bergegas keluar dari kamar mandi diikuti oleh langkah Daniel di belakangnya.

Kaki Ivy terasa bagai jeli, kenapa dia bisa bertemu pria ini lagi secepat itu.

"Tunggu dulu! Kau tak bisa pergi begitu saja." Daniel menarik lengan Ivy hingga gadis itu berhenti berjalan.

"Maaf, Tuan! Aku tak bisa. Tidak! Aku tak mau!" Ivy menggigit bibirnya yang merah menggoda, membuat darah Daniel semakin berdesir.

"Aku bisa memberikan apa pun padamu, mintalah. Jadilah gadisku." Mata hijaunya yang indah mengedip lamat-lamat, begitu menggoda.

"Tuan! Semalam adalah kesalahan. A-aku tak mau melakukannya, aku bukan hostess."

"Trus ...."

"A-aku tak meminta apa pun. Anggap saja aku sial, ini juga salahku karena mabuk." Dia hanya ingin pergi, menjauh. Ke mana saja, tak ingin bertemu pria yang sudah merengut harga dirinya sebagai wanita. "Lupakan semua, anggap kita tak pernah bertemu."

Ekspresi Daniel berubah muram. Dia kira setelah Ivy dalam kondisi sadar dan melihat rupa tampannya, gadis itu akan bertekuk lutut di bawah kakinya. Nyatanya tidak! Si gadis malah menyuruhnya melupakan malam panas mereka.

"Kau tak ingin aku bertanggung jawab? Meminta ganti rugi?"

Ivy menggeleng, tak berani menatap mata indah Daniel.

"A-aku harus pergi!" Ivy mengempaskan tangan Daniel sekuat tenaga.

Daniel tak pernah ditolak seperti ini sebelumnya. Ia langsung menarik tangan Ivy, mengempaskan tubuh sang gadis ke tempat tidur. Kedua tangan Ivy langsung ditekan di atas kepala oleh pria tampan perlente itu menggunakan sebelah tangannya yang besar.

Bibir seksi Daniel tak memberinya jeda, memaksa lidahnya bermain di rongga mulut sang gadis. Saking syoknya, Ivy sampai tak sempat memberikan perlawanan.

Ketika tangan pria itu merambah ke area sensitif Ivy, barulah sang gadis terkesiap dan memberontak. "Jangan, please." Setetes air mata membasahi pipinya.

Daniel berhenti. Menatap tak percaya pada gadis manis di hadapannya. Bukan satu kali, tapi tiga kali Ivy sudah menolaknya. Pria tampan itu terhenyak tak percaya, apa pesonanya benar-benar tak berefek pada gadis ini? "Kau menangis?" tanyanya heran.

Ivy buru-buru mengusap matanya sewaktu Daniel melepaskan kungkungan tangannya. Ia merapikan pakaian tergesa-gesa dan berlari ke arah pintu, hampir terjerembap sebelum akhirnya berhasil memegang handle untuk menyeimbangkan diri.

Dalam sekejap saja, gadis pengacau itu sudah menghilang dari pandangan Daniel.

"Fuck!" Daniel memaki, merasa kecewa. Hasratnya sudah di ujung tanduk, si gadis malah kabur lagi. Ia membaringkan diri di tempat tidur, melepaskan ikat pinggang dan menarik ritsletingnya turun.

"Ehm." Daniel meraih bagian pribadi tubuhnya sendiri, mulai bergerak konstan. Sialan! Bau tubuh gadis itu masih menempel di seprai, membuat Daniel semakin terangsang.

"Ivy ...," lirihnya parau. Rasa bibir manis gadis itu tertinggal di bibirnya, ia ingin mengecup, tidak! Ia ingin melumat habis bilah merah menggoda itu. "Ivy." Tangan Daniel bergerak semakin cepat seirama dengan deru napasnya.

"Ah." Entakan pinggulnya menjadi penanda pria tampan itu telah mencapai klimaks. Daniel mengembuskan napas panjang. Sialan! Dia tak akan melepaskan gadis itu. Tidak akan!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Obsessed with You   Bab 4. Pinjaman

    "Kenapa kau menangis?" Wanita paruh baya itu tampak terkejut melihat Ivy masuk ke ruang laundri dengan wajah basah.Ivy menggeleng malu. Cepat-cepat membantu Janice mengerjakan laundri."Kenapa lama sekali baru datang?" Janice memang tak pernah ramah padanya, Ivy tahu sejak pertama kali masuk kerja. Bagi Janice, Ivy sering membuat fokus pekerja lain kacau karena wajah cantiknya."A-aku ....""Kau mengacau lagi? Kau belum selesai saat tamu datang?"Ivy terdiam."Astaga! Jadi benar!" Janice memukul jidat lebarnya tak percaya. "Kita bakal dapat komplain.""Ma-maaf, aku sudah buru-buru, tapi ....""Stt! Udah diam! Kamu bakal aku laporin ke manager!""Please, Janice! Jangan begitu." Ivy sangat butuh pekerjaan ini.Janice tak peduli, berjalan cepat keluar dari ruangan laundri. Ivy segera menyusul wanita paruh baya pemarah itu."Janice, tunggu!" Ivy hampir terjerembap saking terburu-burunya."Diam di sana!" Lemak Janice berdentum setiap kali dia mengambil langkah cepat."Janice, kumohon! Jan

    Last Updated : 2025-01-21
  • Obsessed with You   Bab 5. Kontrak

    Bam!Ivy menendang pintu flat Kevin sampai bergetar kuat.Kemarahannya sudah memuncak, tak cukup hanya mengkhianatinya, sekarang pria berengsek ini juga menjadikannya jaminan pinjaman."Kevin! Buka pintunya! Keluar kau! Sialan! Kevin!"Bam!Seorang penghuni di samping flat kevin keluar. "Hei! Jangan ribut-ribut di sini! Kau cari Kevin? Dia sudah pindah tadi sore!""A-apa?""Iya, dia sudah pindah, semua barang-barangnya sudah dibawa! Kalau kau punya masalah dengannya telepon dia!"Sialnya lagi, bukan Ivy tak mencoba menghubungi Kevin, tapi pria itu sudah memblokir nomornya.Ivy tak tahu harus bagaimana lagi, dia tak punya tempat tinggal dan tabungan. Managernya juga tak bersedia meminjamkannya uang, apalagi Molly yang harus menjadi tulang punggung keluarganya.Gadis itu berjongkok memeluk tubuhnya, menangis tergugu. Uang dan kesucian, dia sudah kehilangan semuanya.Sepasang kaki muncul dalam bidang pandang Ivy. Gadis itu menengadah, mengira Kevin telah kembali. "Ka-kau ...." Matanya m

    Last Updated : 2025-01-21
  • Obsessed with You   Bab 6. Basement

    Mobil La Rose Noire Droptail berwarna merah itu berhenti di depan Ivy. Pintunya terbuka dan menampilkan sepatu kulit mahal dari sang pemilik.Daniel Forrester berdiri di hadapan Ivy dengan tangan terulur padanya. "Aku datang menjemput pengantinku." Ia menunggu sampai Ivy menerima uluran tangannya. Dalam sekali sentakan, pria itu menarik Ivy ke dalam pelukan hangat."Daniel ...." Ivy terkesiap."Kau bisa menangis di dadaku." Dengan perlahan, pria tampan itu menepuk punggung Ivy.Rahang Ivy berkedut, menahan gejolak emosi. Air matanya tak bisa dibendung, dia kembali menangis pedih, memeluk tubuh Daniel seperti memeluk sekoci di lautan lepas. Pria ini, adalah tempat dia menggantungkan hidup, mulai dari sekarang."Ayo!" Daniel mengurai pelukan mereka, membukakan pintu bagi Ivy. Sang gadis begitu terpukau dengan interior mewah yang berwarna senada dengan cat mobil. Indah. Elegan. Mahal. Dia jadi takut mengotori jok, mengingat tadi sempat duduk di pinggir jalan."Kenapa? Kau tak suka denga

    Last Updated : 2025-01-31
  • Obsessed with You   Bab 7. Antara Ada dan Tiada

    Sret!Goresan pena membuat Ivy terkejut, bagaimana tidak, Daniel seolah tahu tandatangannya seperti apa. "Bagaimana kau ....""Kau yang menggoresnya sendiri, Iv. Aku hanya menuntun tanganmu ke sana." Dengan cepat Daniel meraih kembali surat perjanjian tersebut, yang langsung diserahkan kepada pelayannya. "Simpan di kamarku.""Baik, Tuan."Ivy merasa ragu, apa karena kepalanya pusing sampai dia seperti berhalusinasi? Apa memang benar dia yang menggores tanda tangan sendiri?"Ayo kita makan, setelah itu kau harus istirahat. Besok akan jadi hari yang panjang.""Kenapa?" tanya Ivy heran."Besok Christian, sekretarisku akan membawamu pergi berbelanja keperluan.""Bajuku masih ada, aku tak perlu apa pun." Daniel tertawa kecil, menangkupkan tangan dan bertopang dagu. "Semua bajumu sudah disingkirkan.""Apa?! Tasku tadi ....""Barusan aku menyuruh pelayan membuangnya.""Kenapa?! Baju-bajuku masih layak pakai!" Nada suaranya meninggi, dia tak suka Daniel bertindak sesukanya tanpa memberi tah

    Last Updated : 2025-02-01
  • Obsessed with You   Bab 8. Rich! Rich!

    "Siapa?" tanya Ivy takut-takut. "Nona, saya mengantarkan minuman." Alis gadis itu berkerut heran, dia membuka pintu perlahan. Seorang pelayan membawakan nampan berisi minuman hangat yang masih mengepulkan uap panas. "Terima kasih." Apa setiap subuh tamu memang disuguhkan teh hangat? Ivy bertanya-tanya dalam hati. Si pelayan membungkuk dan berlalu. Ivy membawa tehnya masuk, merasa heran. Dia menyesap lamat-lamat sambil memperhatikan plafon. Bagaimana mereka bisa tahu dia sudah bangun? Tidak terlihat CCTV di ruangannya. Untungnya tehnya terasa enak, perlahan ... kekhawatiran Ivy mengendur bersama bau melati yang menenangkan. Sang gadis merasa ngantuk lagi, dia kembali berbaring setelah meletakkan cangkir teh di nakas. Ivy tertidur sampai seseorang mengetuk pintunya lagi. Pelayan memberitahunya jika sekretaris Daniel sudah tiba dan hendak membawanya pergi berbelanja. Sang gadis bergegas membersihkan diri dan mengganti baju yang sudah disediakan untuknya. Satu set gaun Chan

    Last Updated : 2025-02-02
  • Obsessed with You   Bab 9. Balas Dendam

    "Tidak, Tuan Daniel belum pernah menikah, tapi sempat punya beberapa tunangan sebelumnya." "Beberapa?" tanya Ivy terkejut. Berarti tunangan pria ini lebih dari satu. "Ya. Tak sampai menikah, semua putus di tengah jalan." "Kenapa?" Christian membetulkan dasinya dengan sikap canggung. "Untuk masalah ini sebaiknya Nona Ivy menanyakan langsung pada Tuan Daniel, saya tidak mempunyai hak memberitahukannya." Pintu lift berdenting terbuka. Pria itu mempersilakan Ivy keluar. Sebuah limousine hitam terparkir di depan mansion. Christian berjalan mendahului Ivy, lalu membukakan pintu untuknya. Ivy mengangguk sopan dan masuk ke dalam. "Hi, Honey!" Suara Daniel menyapa telinga Ivy. Gadis itu meneguk saliva gugup, menatap terpukau pria tampan bermata hijau itu. Kemeja hitam yang membalut tubuh ramping Daniel membuat pria ini terlihat semakin mahal. "Kau bisa menelanku dengan bola matamu." Daniel terkekeh melihat ekspresi Ivy yang salah tingkah. "Ki-kita akan ke mana?" Ivy membuang wajah

    Last Updated : 2025-02-03
  • Obsessed with You   Bab 10. Janji

    Keduanya pulang ke Mansion Forrester, tak jadi pergi ke restoran lain lagi. Daniel ternyata sudah meminta chef memasak hidangan untuk mereka. Ivy makan sedikit dan pamit ke kamarnya. Terlalu lelah dengan beban mental. Air matanya tak mau berhenti meskipun sang gadis mencoba mengalihkan pikiran. Mengingat masa-masa bahagia bersama Kevin. Lucu, bagaimana orang bisa berubah setelah bertahun-tahun bersama. Apakah Daniel juga akan meninggalkannya setelah bosan? Setelah dia memberi pria itu keturunan? Ivy menggigit bibirnya cemas, ketakutan dicampakkan membuatnya terjaga semalaman.Bolak-balik di tempat tidur membuat Ivy merasa semakin frustrasi, dia butuh udara segar supaya benaknya yang kacau bisa tenang.Ivy membuka pintu kamarnya perlahan, langkah kakinya menelusuri koridor yang hanya disinari cahaya redup dari lampu-lampu yang telah dimatikan satu persatu. Mansion yang biasanya ramai dan penuh kehidupan kini terasa begitu sepi dan menakutkan.Langkahnya bergema di lantai marmer yang

    Last Updated : 2025-02-04
  • Obsessed with You   Bab 11. Hari Pernikahan

    Hari itu, matahari bersinar terang menyinari taman Mansion Forrester yang telah dihias dengan ribuan bunga dan lentera. Ivy dalam gaun pengantin putihnya yang mengalir lembut, melangkah pasti menuju altar yang terletak di bawah pohon oak rindang.Setiap langkahnya dipandu oleh alunan musik orkestra yang menggema melalui taman. Rambut Ivy yang dikepang dengan indah, berkilauan di bawah sinar matahari, memantulkan nuansa keemasan. Di tangan kanannya, dia memegang buket bunga lili dan mawar putih, simbol kemurnian dan keanggunan. Senyumnya, meskipun lembut, menyembunyikan kegugupan yang menerpa hati. Para tamu yang berdiri di kedua sisi lorong menyaksikan dengan kagum saat gadis itu berjalan melewati mereka. Sorot mata mereka penuh harapan dan kebahagiaan. Namun, ada juga yang menyimpan rasa iri dan bisik-bisik kecil tentang betapa beruntungnya Ivy. Gadis yang tak punya latar belakang ini berhasil menaklukkan konglomerat pujaan para wanita.Saat mendekati altar, tatapan Ivy tertuju pad

    Last Updated : 2025-02-05

Latest chapter

  • Obsessed with You   Bab 74. Diculik

    Saat melihat pria itu tersadar, dengan mata hijaunya yang tajam dan menatap Nicolas penuh kebencian, Ivy tanpa sadar menyentuh lengan suaminya.Dia tak tahu apa yang mungkin Daniel lakukan, pria itu bisa saja membunuh Nicolas dengan satu kalimat. Ya! Satu perintah saja, maka bodyguard di luar ruangan akan mengeroyok Nicolas.Dan Nicolas ... Ivy merasa tak mengenalnya setelah dia terluka. Dia tampak lebih berani, menyimpan sesuatu di dalam hatinya yang mungkin akan menggiring mereka ke dalam bencana."Nic ...." Ivy memberi peringatan dengan pandangan matanya. Sayangnya, hal itu membuat hati Daniel semakin panas. Kedua orang di depannya sedang bertukar isyarat, apa mereka meremehkannya karena dia baru bangun dari koma?"Apa yang kalian rencanakan?" Ivy menggigit bibir. "Tidak ada.""Aku tak bertanya padamu, Iv. Tapi dia!"Nicolas menyipitkan matanya. "Kau tentu tahu untuk apa aku kemari.""Kau ingin mengambil istriku?"Nicolas tak menjawab, tak perlu karena dia tahu Daniel hanya memas

  • Obsessed with You   Bab 73. Kepercayaan

    Daniel terbangun dari tidurnya yang panjang dengan kepala yang berat, matanya perlahan membuka. Pandangannya samar, dan tubuhnya terasa lemah. Namun saat ia mencoba bergerak, rasa sakit mengingatkannya pada kenyataan—ia baru saja melewati waktu yang lama dalam ketidakberdayaan. Ketika matanya akhirnya menatap wajah Ivy yang ada di dekatnya, ada sedikit ketenangan dalam dirinya. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Ivy, yang berdiri di samping tempat tidurnya, merasakan perubahan sikap Daniel. Biasanya, matanya akan dipenuhi dengan kehangatan dan cinta, tetapi kali ini, hanya ada kehampaan di sana. Mata Daniel yang biasanya penuh gairah kini terlihat dingin dan jauh."Ivy," suara Daniel terdengar serak, penuh kebingungan. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah. "Ya!" Saking bahagianya Ivy sampai memeluk Daniel erat-erat. Lupa bahwa suaminya baru saja membuka mata. "Nyonya, Dokter di sini!" Jenna berseru sambil masuk diikuti oleh dokter dan perawat yang memang standby sewaktu Da

  • Obsessed with You   Bab 72. Dilema

    Amy menguji batas kesabaran Ivy dengan mengambil alih semua peran yang biasanya gadis itu lakukan.Amy melangkah masuk ke kamar Daniel tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk mengatakan apa pun. Dengan senyum yang penuh percaya diri, dia memerintahkan pelayan yang ada di sana untuk menyiapkan segala keperluan dan memperbaiki kamar, seolah dia adalah orang yang paling berhak di situ."Ambil air hangat untukku, pastikan semuanya teratur!" perintah Amy tegas. Sang pelayan, meski ragu, segera melakukan apa yang diperintahkan.Ivy berdiri beberapa langkah di belakang, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Dia menatap Amy tak percaya. Amy bergerak begitu bebas, seolah dia adalah pemilik ruangan ini, sementara Ivy—sebagai istri Daniel—hanya bisa diam di sudut, menjadi orang tersisih.Amy duduk di sisi tempat tidur Daniel tanpa ragu. Dengan gerakan lembut tapi penuh kontrol, dia mulai menyeka tubuh Daniel dengan kain basah, membersihkan wajah pria itu dengan cara yang sang

  • Obsessed with You   Bab 71. Duo Pengacau

    Ivy dengan rutin membersihkan tubuh Daniel telaten. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengusap wajah suaminya.Ia merindukan suara Daniel, tangan hangatnya, juga kecupan mesra pria itu. "Buka matamu, apa kau tak merindukanku?"Air matanya mengalir turun, ia membawa tangan Daniel menyentuh perutnya sendiri. "Anak kita makin bertumbuh, dia butuh dirimu, Daniel. Please, kembalilah.""Nyonya." Jenna masuk ke dalam ruangan. "Ada tamu yang datang.""Siapa?" Ivy menghapus jejak air mata di wajahnya.Jenna tampak gugup."Ada apa, Jenna?" Ivy menoleh ke arah pelayan pribadinya."Mrs. Forrester datang berkunjung.""Apa?!" Mata Ivy melebar tak percaya. Kenapa wanita itu datang lagi setelah berulah?"Apa saya harus mengusirnya?" tanya Jenna cemas, dia tak ingin nyonyanya menghadapi stres di kala hamil muda."Tidak! Aku akan menemuinya." Ivy merapikan gaunnya, bergegas keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, matanya membelalak saat mengenali seseorang. Jenna mengikuti pandangan nyonyanya. "I

  • Obsessed with You   Bab 70. Benang Merah

    Christian menatap ke bawah, ke arah dadanya, tapi dia tak merasakan sakit. Apa yang terjadi? Christian menoleh, melihat sang gadis menatapnya nanar, memegang dadanya yang berlumuran darah segar."Apa yang—" Christian membuang uangnya, berlari menyambut tubuh gadis malang itu yang jatuh tak berdaya."Dia mau membunuhmu, ja-jadi aku menembaknya. Ini bukan salahku, aku hanya menolongmu!" Seorang pemuda berteriak histeris, dia belum pernah menembakkan pistol, tangannya masih gemetar hebat.Mata gadis itu nanat menatap Christian. "Please! Please!" Ia mencengkeram baju Christian erat, meninggalkan jejak darah di sana. "Please, aku tak mau mati, please. Ugh! Sakit! Sakit sekali!""Hei kau! Panggil ambulans!" teriak Christian, tapi pemuda yang menembak gadis itu tak bisa bergerak, tampak syok."Sialan!" Christian tak membawa ponselnya hari ini, dia berusaha menekan luka si gadis agar darah tak semakin banyak keluar."Aku akan mati, aku akan mati!" Si gadis mulai menangis histeris."Sialan! He

  • Obsessed with You   Bab 69. Not a Good Guy

    "Kau sampai dengan cepat." Christian tertawa renyah.Amy mendorongnya menjauh. "Ah, aku mungkin sedang horny.""Kau memikirkan Daniel saat bercinta denganku?" Pria itu mengangkat alisnya, tampak muram."Tidak, apa kau tuli? Aku menyebut namamu, tak seperti dirimu yang menyebut nama gadis lain saat bersamaku." Amy berguling ke samping, lalu naik ke atas tubuh Christian."Ah, kau membahasnya lagi.""Aku masih marah setiap kali mengingatnya. Ivy ... Ivy, aahhh ...." Amy mengejek Christian.Wajah Christian memerah malu. "Jangan menyebut namanya.""Kenapa? Karena dia sudah menolakmu?""Karena kau tak pantas menyebut namanya.""Sialan kau, Ti!" Amy menjambak rambut Christian, ia menurunkan wajah dan menggigit bibirnya."Jadi kau pantas menyebut namanya?" Amy membawa keperkasaan Christian kembali memasuki dirinya. "Tidak. Aku pun tak pantas, pendosa sepertiku." Christian mendesah, leher jenjangnya terekspos saat ia mendongak ke atas. Amy mulai bergerak, turun naik, seperti menunggangi kuda

  • Obsessed with You   Bab 68. Hasrat

    Amy diajari banyak hal, mengalami banyak kegiatan seksual yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumya. Dari diikat, dicambuk, dipukul, sampai pada dicekik. Mr. Forrester begitu ahli sehingga Amy tak merasa tersiksa. Sensasi bercinta dengan pria itu membuatnya kecanduan. Lambat laun, Amy menjadi menyimpang. Dia tak bisa lagi melakukan hubungan sex tanpa kekerasan.Praktik masokis dari Mr. Forrester berhasil membuatnya Amy yang polos berubah. Pria itu memang menepati janjinya, membeli Amy dari Helga, tapi dia juga melatih Amy menjadi alat transaksi bagi kliennya. Amy belajar berbicara manis, bertindak manipulatif sehingga lawan mudah dilumpuhkan. Dengan kekayaan dari Mr. forrester, Amy menjadi semakin bersinar. Semua pakaian mewah, perhiasan, tas, mobil. Mr. Forrester memberikan apa yang Amy mau.Namun Amy baru menyadari, pria itu tak pernah terikat dengan satu wanita. Mr. Forrester punya beberapa wanita lain di luar sana. Mulanya Amy merasa marah, tertipu, menyangka pria ini mempe

  • Obsessed with You   Bab 67. Wax Play

    Amy tak menyangka pria tampan itu akan memilihnya malam ini. Masih banyak gadis baru dan primadona berwajah cantik dibanding dirinya. Apa yang pria berpenampilan menarik itu lihat dari dirinya? Amy tak mengerti.Helga juga terkejut, tapi tak berani membantah Mr. Forrester."Lepaskan rantainya, bawa dia ke kamar paling bagus di gedung ini.""Baik, Tuan." Anak buah Helga segera bertindak, membuka rantai Amy dan membawanya ke dalam gedung di sebelah. Mr. Forrester mengikuti dengan rapat di belakang mereka. Amy selalu merasa dunia ini keras dan dingin, terutama ketika berhadapan dengan pria-pria yang hanya melihatnya sebagai objek. Sejak pertama kali bekerja di distrik pelacuran, ia tak pernah tahu apa itu perlakuan lembut atau perhatian tanpa pamrih. Setiap sentuhan yang ia terima selalu kasar, tanpa emosi, dan cenderung penuh paksaan. Namun, malam itu, semuanya berubah.Mr. Forrester, pria yang datang dengan sikap penuh percaya diri, berbeda dari semua yang pernah Amy temui. Begitu d

  • Obsessed with You   Bab 66. Pain

    Pria itu tinggi besar, tubuhnya kekar, dengan otot-otot yang mencolok di balik pakaian yang agak kusut. Matanya tajam, penuh rasa percaya diri yang menakutkan. Rambutnya pendek dan berantakan, dan dia membawa bau khas pria yang baru saja minum, ditambah dengan aroma yang lebih tajam—sebuah campuran alkohol dan rokok.Amy melihat kancing kemeja pria itu sebagian terbuka, memperlihatkan kulit yang dipenuhi tato. “Aku dengar kamu baru di sini, ya?” Suaranya berat dan rendah, seolah menekan, memberi kesan bahwa dia tidak ingin ada penolakan. Amy merasakan perutnya mual. Dia berusaha tetap tenang. Jelas Amy tak akan punya kesempatan jika melawan pria besar ini. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban."Kau masih perawan?" Tentu saja ini hanya pertanyaan retorik karena tak mungkin si pria besar tak memastikan dulu dengan pemilik rumah bordil.Lagi lagi Amy mengangguk. "Kita langsung mulai saja ya, aku tak punya banyak waktu. Putriku merayakan ulang tahun malam ini, dia kira-kira berusia sama

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status