Home / Romansa / Obsessed with You / Bab 6. Basement

Share

Bab 6. Basement

Author: Nafish Grey
last update Last Updated: 2025-01-31 23:16:52

Mobil La Rose Noire Droptail berwarna merah itu berhenti di depan Ivy. Pintunya terbuka dan menampilkan sepatu kulit mahal dari sang pemilik.

Daniel Forrester berdiri di hadapan Ivy dengan tangan terulur padanya. "Aku datang menjemput pengantinku." Ia menunggu sampai Ivy menerima uluran tangannya. Dalam sekali sentakan, pria itu menarik Ivy ke dalam pelukan hangat.

"Daniel ...." Ivy terkesiap.

"Kau bisa menangis di dadaku." Dengan perlahan, pria tampan itu menepuk punggung Ivy.

Rahang Ivy berkedut, menahan gejolak emosi. Air matanya tak bisa dibendung, dia kembali menangis pedih, memeluk tubuh Daniel seperti memeluk sekoci di lautan lepas. Pria ini, adalah tempat dia menggantungkan hidup, mulai dari sekarang.

"Ayo!" Daniel mengurai pelukan mereka, membukakan pintu bagi Ivy.

Sang gadis begitu terpukau dengan interior mewah yang berwarna senada dengan cat mobil. Indah. Elegan. Mahal. Dia jadi takut mengotori jok, mengingat tadi sempat duduk di pinggir jalan.

"Kenapa? Kau tak suka dengan mobil ini?" Daniel menyadari ekspresi Ivy setelah masuk ke dalam mobil.

"Bu-bukan begitu." Ivy bergerak canggung.

"Nanti kita pilih mobil yang kamu suka."

"Hah?! Apa?!"

Daniel tersenyum memesona. "Mulai sekarang, kamu ga usah khawatir apa pun. What's mine is yours."

Ivy mengedipkan matanya lamat-lamat, merasa canggung. Bolehkah dia mengecap kebahagiaan ini? Hidup mandiri selama lebih dari 20 tahun membuat Ivy merasa tak nyaman menerima pemberian orang.

"Kita ke mana sekarang?"

"Home," jawab Daniel.

"Rumahmu?"

"Rumah kita."

"But Daniel ...." Jantung Ivy berdetak tak karuan.

"Hm?!"

"Bisakah kita tak melakukan hubungan sampai resmi menikah?"

"Why? Jangan kuatir, aku pasti menikahimu."

"Please, sebenarnya aku ingin menyerahkan tubuhku pada suamiku kelak, tapi karena kejadian itu ...."

"Ah ...." Daniel mengangguk mengerti. Wanita memang makhluk penuh perasaan. "Okay."

Ivy langsung menarik napas lega mendengar persetujuan pria tampan itu.

Mereka sampai di mansion mewah berlantai 5, Ivy dibawa ke sebuah kamar indah di lantai 3. Sang gadis memilih membersihkan diri karena Daniel bilang akan makan malam dengannya satu jam lagi.

Tok! Tok!

Ivy terkesiap terkejut, baru saja selesai memakai gaun tidur. Kepalanya berdenyut-denyut sekarang, mungkin karena dia terlambat makan dan kelelahan. Ivy merasa pusing.

"Ya!"

"Nona, Tuan Daniel mengundang Anda makan malam sekarang."

"Baik!" Ivy bergegas membuka pintu.

"Mari ikuti saya Nona Ivy." Pelayan paruh itu menunjukkan jalan.

Ivy dibawa masuk ke dalam lift. Tiba-tiba alat komunikasi serupa walki talkie yang dipegangnya berbunyi statis.

"Kami butuh bantuan di lantai 2."

Pelayan itu segera menekan tombol ke lantai 2, dia kembali menekan tombol di device-nya. "Tolong tunggu Nona Ivy di lift lantai satu."

Lift berhenti di lantai 2. Sang pelayan membungkuk hormat. " Maaf, Nona Ivy. Silakan turun ke lantai 1, nanti pelayan lain yang akan membawa Nona ke ruang makan."

"Ah, ya. Tak masalah." Ivy mengangguk mengerti. Ia berniat menekan tombol lantai satu, tapi tubuhnya limbung dan tanpa sengaja tangannya malah menekan tombol ke basement. Pintu lift menutup. Ivy yang masih tak sadar memegangi kepalanya yang berdenyut nyeri.

Ting!

Pintu lift berdenting terbuka, mata Ivy membelalak tak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Ia melangkah keluar kebingungan.

Di dalam ruang bawah tanah yang luas, barisan mobil mewah terparkir dengan rapi, masing-masing menampilkan kilauan yang memantul dari lampu penerangan overhead yang terang. Setiap mobil, dari merek ternama seperti Ferrari hingga Lamborghini, berdiri dengan bodi yang mengilap, dicat dengan warna-warna mencolok seperti merah ruby dan hitam pekat.

Jendela-jendela mobil tampak seperti cermin, begitu bersih dan jernih sehingga membiaskan cahaya yang menerpa. Ban-ban mobil tampak belum terjamah, dengan garis-garis tapak yang masih sempurna.

Ivy berjalan mengagumi mobil-mobil tersebut. Tak ada pelayan di sini, ke mana mereka? Apa dia salah lantai? Di ujung ruangan Ivy melihat sebuah pintu besar. Ia melangkah gugup ke sana.

"Hallo!" panggilnya, perlahan membuka pintu kayu tersebut.

Ruangan itu gelap gulita, jantung Ivy mulai berdetak takut. Dia menoleh ke arah pintu lift di kejauhan yang sudah menutup. Apa sebaiknya dia kembali ke sana dan naik ke lantai atas?

Namun penasaran menghantuinya, tangannya menyentuh dinding di samping pintu, sebuah saklar teraba.

Tak!

Lampu segera menerangi ruangan, Ivy terpana melihat sebuah tempat tidur besar, tidak! Sangat besar, sekitar dua kali king size mendominasi isi kamar. Rantai-rantai borgol bergantung canggung di dinding, begitu juga dengan tali-tali yang digulung rapi di samping rantai.

"Tempat apa ini?" Ivy menatap tak percaya pada kaca raksasa yang memenuhi dinding, tepat di hadapan tempat tidur besar tersebut, membuat siapa pun yang tidur di sana bisa melihat dirinya dengan jelas. Tidak! Kaca tak hanya berada di dinding, tapi juga di atas langit-langit.

Ivy berputar, menatap sekeliling dengan takjub. Di meja panjang di sudut, puluhan botol-botol baby oil terpajang rapi, juga puluhan kotak-kotak tisu dan tube-tube aneh tanpa keterangan apa pun.

Ivy berjalan menghampiri meja tersebut, ia penasaran dengan begitu banyak laci di bawah meja. Tangannya bergerak membuka salah satu laci di baris pertama.

"Nona Ivy!" Seruan itu membuat Ivy terkejut, dia menoleh ke pintu.

Seorang pelayan dengan napas ngos-ngosan berlari menghampirinya. "Nona, bukan di sini tempatnya. Mari saya antar!" Dia menggandeng lengan Ivy cepat, hampir menyeret gadis itu keluar dari kamar aneh ini.

"Tempat apa itu?" tanya Ivy saat mereka sampai di lift.

Si pelayan mengusap keningnya yang penuh peluh, dia berdeham canggung, berusaha tersenyum ramah, tapi malah kelihatan seperti menyeringai. "Itu kamar untuk syuting. Tim iklan sering ke sana untuk syuting mobil-mobil mewah."

"Oh, begitu." Ivy merasa jawaban pelayan masuk akal, tapi dia masih merasa aneh dengan baby oil, tisu, dan juga rantai borgol di dinding. Untuk apa semua benda tersebut yang sama sekali tak berhubungan dengan kendaraan.

Pelayan membawanya ke ruang makan. Di sana Daniel dengan busana kasual terlihat memesona.

"Sebelum kita makan, ada sesuatu yang ingin kubicarakan." Daniel menuntun Ivy duduk. Ia meletakkan sebuah dokumen di hadapan gadis itu.

"Ini adalah dokumen pelunasan semua utang-utangmu."

Dengan gugup Ivy meraih dokumen dan membacanya dalam hati. Kata Lunas membuat Ivy mengembuskan napas lega.

"Dan ini ... adalah surat perjanjian kita." Daniel meletakkan sebuah surat perjanjian.

Ivy meneguk saliva.

"Tanda tangan di sini."

"Untuk apa?!"

"Ivy Sayang." Daniel menunduk hingga dagunya hampir menyentuh bahu Ivy. "Aku seorang pengusaha, kau tentu tahu, kami tak melakukan transaksi tanpa kepastian. Dengan surat ini, kau tak bisa ingkar janji setelah aku melunasi semua utang-utangmu." Daniel meraih tangan Ivy, menyelipkan pena ke sana.

Jantung Ivy berdentum kalut, instingnya menderingkan peringatan. Jika dia tanda tangan sekarang, dia tak akan bisa melarikan diri dari Daniel. Pikirannya kembali memutar visual kamar aneh tersebut.

"Kenapa? Kau ragu sekarang?" Daniel mengecup pipinya. Napas panasnya menerpa telinga Ivy.

"A-aku ...."

"Jangan ragu, aku janji ... akan memperlakukanmu dengan baik, membuatmu jatuh cinta padaku." Tangan Daniel menggenggam tangan Ivy, mengarahkan gadis itu untuk tanda tangan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Obsessed with You   Bab 7. Antara Ada dan Tiada

    Sret!Goresan pena membuat Ivy terkejut, bagaimana tidak, Daniel seolah tahu tandatangannya seperti apa. "Bagaimana kau ....""Kau yang menggoresnya sendiri, Iv. Aku hanya menuntun tanganmu ke sana." Dengan cepat Daniel meraih kembali surat perjanjian tersebut, yang langsung diserahkan kepada pelayannya. "Simpan di kamarku.""Baik, Tuan."Ivy merasa ragu, apa karena kepalanya pusing sampai dia seperti berhalusinasi? Apa memang benar dia yang menggores tanda tangan sendiri?"Ayo kita makan, setelah itu kau harus istirahat. Besok akan jadi hari yang panjang.""Kenapa?" tanya Ivy heran."Besok Christian, sekretarisku akan membawamu pergi berbelanja keperluan.""Bajuku masih ada, aku tak perlu apa pun." Daniel tertawa kecil, menangkupkan tangan dan bertopang dagu. "Semua bajumu sudah disingkirkan.""Apa?! Tasku tadi ....""Barusan aku menyuruh pelayan membuangnya.""Kenapa?! Baju-bajuku masih layak pakai!" Nada suaranya meninggi, dia tak suka Daniel bertindak sesukanya tanpa memberi tah

    Last Updated : 2025-02-01
  • Obsessed with You   Bab 8. Rich! Rich!

    "Siapa?" tanya Ivy takut-takut. "Nona, saya mengantarkan minuman." Alis gadis itu berkerut heran, dia membuka pintu perlahan. Seorang pelayan membawakan nampan berisi minuman hangat yang masih mengepulkan uap panas. "Terima kasih." Apa setiap subuh tamu memang disuguhkan teh hangat? Ivy bertanya-tanya dalam hati. Si pelayan membungkuk dan berlalu. Ivy membawa tehnya masuk, merasa heran. Dia menyesap lamat-lamat sambil memperhatikan plafon. Bagaimana mereka bisa tahu dia sudah bangun? Tidak terlihat CCTV di ruangannya. Untungnya tehnya terasa enak, perlahan ... kekhawatiran Ivy mengendur bersama bau melati yang menenangkan. Sang gadis merasa ngantuk lagi, dia kembali berbaring setelah meletakkan cangkir teh di nakas. Ivy tertidur sampai seseorang mengetuk pintunya lagi. Pelayan memberitahunya jika sekretaris Daniel sudah tiba dan hendak membawanya pergi berbelanja. Sang gadis bergegas membersihkan diri dan mengganti baju yang sudah disediakan untuknya. Satu set gaun Chan

    Last Updated : 2025-02-02
  • Obsessed with You   Bab 9. Balas Dendam

    "Tidak, Tuan Daniel belum pernah menikah, tapi sempat punya beberapa tunangan sebelumnya." "Beberapa?" tanya Ivy terkejut. Berarti tunangan pria ini lebih dari satu. "Ya. Tak sampai menikah, semua putus di tengah jalan." "Kenapa?" Christian membetulkan dasinya dengan sikap canggung. "Untuk masalah ini sebaiknya Nona Ivy menanyakan langsung pada Tuan Daniel, saya tidak mempunyai hak memberitahukannya." Pintu lift berdenting terbuka. Pria itu mempersilakan Ivy keluar. Sebuah limousine hitam terparkir di depan mansion. Christian berjalan mendahului Ivy, lalu membukakan pintu untuknya. Ivy mengangguk sopan dan masuk ke dalam. "Hi, Honey!" Suara Daniel menyapa telinga Ivy. Gadis itu meneguk saliva gugup, menatap terpukau pria tampan bermata hijau itu. Kemeja hitam yang membalut tubuh ramping Daniel membuat pria ini terlihat semakin mahal. "Kau bisa menelanku dengan bola matamu." Daniel terkekeh melihat ekspresi Ivy yang salah tingkah. "Ki-kita akan ke mana?" Ivy membuang wajah

    Last Updated : 2025-02-03
  • Obsessed with You   Bab 10. Janji

    Keduanya pulang ke Mansion Forrester, tak jadi pergi ke restoran lain lagi. Daniel ternyata sudah meminta chef memasak hidangan untuk mereka. Ivy makan sedikit dan pamit ke kamarnya. Terlalu lelah dengan beban mental. Air matanya tak mau berhenti meskipun sang gadis mencoba mengalihkan pikiran. Mengingat masa-masa bahagia bersama Kevin. Lucu, bagaimana orang bisa berubah setelah bertahun-tahun bersama. Apakah Daniel juga akan meninggalkannya setelah bosan? Setelah dia memberi pria itu keturunan? Ivy menggigit bibirnya cemas, ketakutan dicampakkan membuatnya terjaga semalaman.Bolak-balik di tempat tidur membuat Ivy merasa semakin frustrasi, dia butuh udara segar supaya benaknya yang kacau bisa tenang.Ivy membuka pintu kamarnya perlahan, langkah kakinya menelusuri koridor yang hanya disinari cahaya redup dari lampu-lampu yang telah dimatikan satu persatu. Mansion yang biasanya ramai dan penuh kehidupan kini terasa begitu sepi dan menakutkan.Langkahnya bergema di lantai marmer yang

    Last Updated : 2025-02-04
  • Obsessed with You   Bab 11. Hari Pernikahan

    Hari itu, matahari bersinar terang menyinari taman Mansion Forrester yang telah dihias dengan ribuan bunga dan lentera. Ivy dalam gaun pengantin putihnya yang mengalir lembut, melangkah pasti menuju altar yang terletak di bawah pohon oak rindang.Setiap langkahnya dipandu oleh alunan musik orkestra yang menggema melalui taman. Rambut Ivy yang dikepang dengan indah, berkilauan di bawah sinar matahari, memantulkan nuansa keemasan. Di tangan kanannya, dia memegang buket bunga lili dan mawar putih, simbol kemurnian dan keanggunan. Senyumnya, meskipun lembut, menyembunyikan kegugupan yang menerpa hati. Para tamu yang berdiri di kedua sisi lorong menyaksikan dengan kagum saat gadis itu berjalan melewati mereka. Sorot mata mereka penuh harapan dan kebahagiaan. Namun, ada juga yang menyimpan rasa iri dan bisik-bisik kecil tentang betapa beruntungnya Ivy. Gadis yang tak punya latar belakang ini berhasil menaklukkan konglomerat pujaan para wanita.Saat mendekati altar, tatapan Ivy tertuju pad

    Last Updated : 2025-02-05
  • Obsessed with You   Bab 12. Malam Pertama

    "Kenapa? Kau tak mau? Tak perlu malu, kita sudah sah menjadi suami-istri."Ivy menelan ludah gugup. Sebagai istri memang kewajibannya melayani suami dengan baik. Soal perut ataupun ranjang. Ivy dulu bertekad akan menjadi istri yang baik bagi Kevin. Selalu mengurus pria itu tanpa pamrih.Kini, dia telah menjadi Nyonya Forrester. Dia juga harus melayani Daniel sepenuh hati.Ivy maju menyentuh bagian menonjol Daniel. Dengan giginya, gadis itu menggigit ujung ritsleting, mulai menarik turun.Pemandangan erotis di depannya membuat Daniel excited. Apalagi sewaktu jemari Ivy menyentuh pinggangnya, menurunkan celana Daniel perlahan. Ivy membuka celana dalam Daniel, tonggak besar pria itu langsung menampar wajahnya, membuat Ivy terkesiap terkejut.Daniel tertawa kecil, ia membelai sisi wajah Ivy. Tangan besarnya lalu mengelus bibir sang gadis, memaksa Ivy membuka mulutnya. Dua jari Daniel bermain di sana, berusaha melebarkan mulut istrinya."Jangan memakai gigimu, anggap saja lolipop." Dirty

    Last Updated : 2025-02-06
  • Obsessed with You   Bab 13. Pelayanan Seorang Istri

    Ivy bangun sebelum Daniel, sang gadis buru-buru ke kamar mandi, membersihkan bekas percintaan mereka semalam. Ia menatap pada kaca di wastafel, merasa malu saat menyadari Daniel meninggalkan begitu banyak jejak merah di leher dan dadanya.Ivy menggigit bibir, bagian bawahnya masih terasa basah, setiap kali mengingat bagaimana benda perkasa Daniel menerobos ke sana. Ternyata sex dengan pria itu tak semenakutkan saat pertama kali.Tangan Ivy menyentuh area pribadinya malu-malu. Kedua pahanya terasa pegal dan inti tubuhnya sedikit perih, mungkin karena gesekan terus menerus dalam jangka waktu lama.Ivy menggeleng, mengambil tisu dan membersihkan area bawahnya. Setelah itu ia memilih pakaian yang dibelikan Daniel di walk in closet. Ia mematut dirinya di kaca besar, pakaiannya sangat anggun, khas old money. Ternyata selera Daniel seperti ini. Tak buruk juga, bentuk tubuh Ivy yang indah membuat tampilan pakaian semakin mewah.Ivy kemudian memoles wajahnya dengan skincare dan make up tipis.

    Last Updated : 2025-02-07
  • Obsessed with You   Bab 14. Keluarga Forrester

    Ivy menatap pelayan yang berdiri tegak di hadapannya, keningnya seketika mengernyit. Wanita cantik itu berbicara dengan suara yang mencoba tenang. "Apa maksudmu? Daniel tidak pernah memberitahuku hal seperti itu." Ivy mendekat, tapi pelayan tetap berdiri di pintu dengan ekspresi yang tidak bisa dia baca. Matanya terlihat cemas, seolah ada sesuatu yang mengancam jika Ivy melanggar aturan itu. Si pelayan berbicara dengan nada khawatir, tapi tegas. "Tuan Daniel tidak suka Nyonya keluar tanpa pengawasan. Itu perintah langsung dari Tuan." Ivy merasa mulutnya kering. Matanya berkeliling mencari jalan keluar, tapi semua pintu tampak terkunci rapat. Ia mencoba mengingat kembali bagaimana Daniel selalu menunjukkan perhatiannya, mengingatkan bahwa dia selalu ingin berada di dekatnya—tapi perintah semacam ini, yang datang tanpa penjelasan lebih lanjut, membuat Ivy merasa seperti terkurung dalam sangkar emas. Ivy berusaha menyembunyikan kecemasannya. "Aku hanya ingin bertemu dengan temanku

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Obsessed with You   Bab 74. Diculik

    Saat melihat pria itu tersadar, dengan mata hijaunya yang tajam dan menatap Nicolas penuh kebencian, Ivy tanpa sadar menyentuh lengan suaminya.Dia tak tahu apa yang mungkin Daniel lakukan, pria itu bisa saja membunuh Nicolas dengan satu kalimat. Ya! Satu perintah saja, maka bodyguard di luar ruangan akan mengeroyok Nicolas.Dan Nicolas ... Ivy merasa tak mengenalnya setelah dia terluka. Dia tampak lebih berani, menyimpan sesuatu di dalam hatinya yang mungkin akan menggiring mereka ke dalam bencana."Nic ...." Ivy memberi peringatan dengan pandangan matanya. Sayangnya, hal itu membuat hati Daniel semakin panas. Kedua orang di depannya sedang bertukar isyarat, apa mereka meremehkannya karena dia baru bangun dari koma?"Apa yang kalian rencanakan?" Ivy menggigit bibir. "Tidak ada.""Aku tak bertanya padamu, Iv. Tapi dia!"Nicolas menyipitkan matanya. "Kau tentu tahu untuk apa aku kemari.""Kau ingin mengambil istriku?"Nicolas tak menjawab, tak perlu karena dia tahu Daniel hanya memas

  • Obsessed with You   Bab 73. Kepercayaan

    Daniel terbangun dari tidurnya yang panjang dengan kepala yang berat, matanya perlahan membuka. Pandangannya samar, dan tubuhnya terasa lemah. Namun saat ia mencoba bergerak, rasa sakit mengingatkannya pada kenyataan—ia baru saja melewati waktu yang lama dalam ketidakberdayaan. Ketika matanya akhirnya menatap wajah Ivy yang ada di dekatnya, ada sedikit ketenangan dalam dirinya. Namun, rasa tenang itu hanya sesaat. Ivy, yang berdiri di samping tempat tidurnya, merasakan perubahan sikap Daniel. Biasanya, matanya akan dipenuhi dengan kehangatan dan cinta, tetapi kali ini, hanya ada kehampaan di sana. Mata Daniel yang biasanya penuh gairah kini terlihat dingin dan jauh."Ivy," suara Daniel terdengar serak, penuh kebingungan. Ia mencoba duduk, tapi tubuhnya masih lemah. "Ya!" Saking bahagianya Ivy sampai memeluk Daniel erat-erat. Lupa bahwa suaminya baru saja membuka mata. "Nyonya, Dokter di sini!" Jenna berseru sambil masuk diikuti oleh dokter dan perawat yang memang standby sewaktu Da

  • Obsessed with You   Bab 72. Dilema

    Amy menguji batas kesabaran Ivy dengan mengambil alih semua peran yang biasanya gadis itu lakukan.Amy melangkah masuk ke kamar Daniel tanpa memberikan kesempatan bagi Ivy untuk mengatakan apa pun. Dengan senyum yang penuh percaya diri, dia memerintahkan pelayan yang ada di sana untuk menyiapkan segala keperluan dan memperbaiki kamar, seolah dia adalah orang yang paling berhak di situ."Ambil air hangat untukku, pastikan semuanya teratur!" perintah Amy tegas. Sang pelayan, meski ragu, segera melakukan apa yang diperintahkan.Ivy berdiri beberapa langkah di belakang, merasakan ketegangan yang semakin memuncak di dadanya. Dia menatap Amy tak percaya. Amy bergerak begitu bebas, seolah dia adalah pemilik ruangan ini, sementara Ivy—sebagai istri Daniel—hanya bisa diam di sudut, menjadi orang tersisih.Amy duduk di sisi tempat tidur Daniel tanpa ragu. Dengan gerakan lembut tapi penuh kontrol, dia mulai menyeka tubuh Daniel dengan kain basah, membersihkan wajah pria itu dengan cara yang sang

  • Obsessed with You   Bab 71. Duo Pengacau

    Ivy dengan rutin membersihkan tubuh Daniel telaten. Matanya berkaca-kaca setiap kali mengusap wajah suaminya.Ia merindukan suara Daniel, tangan hangatnya, juga kecupan mesra pria itu. "Buka matamu, apa kau tak merindukanku?"Air matanya mengalir turun, ia membawa tangan Daniel menyentuh perutnya sendiri. "Anak kita makin bertumbuh, dia butuh dirimu, Daniel. Please, kembalilah.""Nyonya." Jenna masuk ke dalam ruangan. "Ada tamu yang datang.""Siapa?" Ivy menghapus jejak air mata di wajahnya.Jenna tampak gugup."Ada apa, Jenna?" Ivy menoleh ke arah pelayan pribadinya."Mrs. Forrester datang berkunjung.""Apa?!" Mata Ivy melebar tak percaya. Kenapa wanita itu datang lagi setelah berulah?"Apa saya harus mengusirnya?" tanya Jenna cemas, dia tak ingin nyonyanya menghadapi stres di kala hamil muda."Tidak! Aku akan menemuinya." Ivy merapikan gaunnya, bergegas keluar ruangan. Baru saja beberapa langkah, matanya membelalak saat mengenali seseorang. Jenna mengikuti pandangan nyonyanya. "I

  • Obsessed with You   Bab 70. Benang Merah

    Christian menatap ke bawah, ke arah dadanya, tapi dia tak merasakan sakit. Apa yang terjadi? Christian menoleh, melihat sang gadis menatapnya nanar, memegang dadanya yang berlumuran darah segar."Apa yang—" Christian membuang uangnya, berlari menyambut tubuh gadis malang itu yang jatuh tak berdaya."Dia mau membunuhmu, ja-jadi aku menembaknya. Ini bukan salahku, aku hanya menolongmu!" Seorang pemuda berteriak histeris, dia belum pernah menembakkan pistol, tangannya masih gemetar hebat.Mata gadis itu nanat menatap Christian. "Please! Please!" Ia mencengkeram baju Christian erat, meninggalkan jejak darah di sana. "Please, aku tak mau mati, please. Ugh! Sakit! Sakit sekali!""Hei kau! Panggil ambulans!" teriak Christian, tapi pemuda yang menembak gadis itu tak bisa bergerak, tampak syok."Sialan!" Christian tak membawa ponselnya hari ini, dia berusaha menekan luka si gadis agar darah tak semakin banyak keluar."Aku akan mati, aku akan mati!" Si gadis mulai menangis histeris."Sialan! He

  • Obsessed with You   Bab 69. Not a Good Guy

    "Kau sampai dengan cepat." Christian tertawa renyah.Amy mendorongnya menjauh. "Ah, aku mungkin sedang horny.""Kau memikirkan Daniel saat bercinta denganku?" Pria itu mengangkat alisnya, tampak muram."Tidak, apa kau tuli? Aku menyebut namamu, tak seperti dirimu yang menyebut nama gadis lain saat bersamaku." Amy berguling ke samping, lalu naik ke atas tubuh Christian."Ah, kau membahasnya lagi.""Aku masih marah setiap kali mengingatnya. Ivy ... Ivy, aahhh ...." Amy mengejek Christian.Wajah Christian memerah malu. "Jangan menyebut namanya.""Kenapa? Karena dia sudah menolakmu?""Karena kau tak pantas menyebut namanya.""Sialan kau, Ti!" Amy menjambak rambut Christian, ia menurunkan wajah dan menggigit bibirnya."Jadi kau pantas menyebut namanya?" Amy membawa keperkasaan Christian kembali memasuki dirinya. "Tidak. Aku pun tak pantas, pendosa sepertiku." Christian mendesah, leher jenjangnya terekspos saat ia mendongak ke atas. Amy mulai bergerak, turun naik, seperti menunggangi kuda

  • Obsessed with You   Bab 68. Hasrat

    Amy diajari banyak hal, mengalami banyak kegiatan seksual yang bahkan tak pernah dia pikirkan sebelumya. Dari diikat, dicambuk, dipukul, sampai pada dicekik. Mr. Forrester begitu ahli sehingga Amy tak merasa tersiksa. Sensasi bercinta dengan pria itu membuatnya kecanduan. Lambat laun, Amy menjadi menyimpang. Dia tak bisa lagi melakukan hubungan sex tanpa kekerasan.Praktik masokis dari Mr. Forrester berhasil membuatnya Amy yang polos berubah. Pria itu memang menepati janjinya, membeli Amy dari Helga, tapi dia juga melatih Amy menjadi alat transaksi bagi kliennya. Amy belajar berbicara manis, bertindak manipulatif sehingga lawan mudah dilumpuhkan. Dengan kekayaan dari Mr. forrester, Amy menjadi semakin bersinar. Semua pakaian mewah, perhiasan, tas, mobil. Mr. Forrester memberikan apa yang Amy mau.Namun Amy baru menyadari, pria itu tak pernah terikat dengan satu wanita. Mr. Forrester punya beberapa wanita lain di luar sana. Mulanya Amy merasa marah, tertipu, menyangka pria ini mempe

  • Obsessed with You   Bab 67. Wax Play

    Amy tak menyangka pria tampan itu akan memilihnya malam ini. Masih banyak gadis baru dan primadona berwajah cantik dibanding dirinya. Apa yang pria berpenampilan menarik itu lihat dari dirinya? Amy tak mengerti.Helga juga terkejut, tapi tak berani membantah Mr. Forrester."Lepaskan rantainya, bawa dia ke kamar paling bagus di gedung ini.""Baik, Tuan." Anak buah Helga segera bertindak, membuka rantai Amy dan membawanya ke dalam gedung di sebelah. Mr. Forrester mengikuti dengan rapat di belakang mereka. Amy selalu merasa dunia ini keras dan dingin, terutama ketika berhadapan dengan pria-pria yang hanya melihatnya sebagai objek. Sejak pertama kali bekerja di distrik pelacuran, ia tak pernah tahu apa itu perlakuan lembut atau perhatian tanpa pamrih. Setiap sentuhan yang ia terima selalu kasar, tanpa emosi, dan cenderung penuh paksaan. Namun, malam itu, semuanya berubah.Mr. Forrester, pria yang datang dengan sikap penuh percaya diri, berbeda dari semua yang pernah Amy temui. Begitu d

  • Obsessed with You   Bab 66. Pain

    Pria itu tinggi besar, tubuhnya kekar, dengan otot-otot yang mencolok di balik pakaian yang agak kusut. Matanya tajam, penuh rasa percaya diri yang menakutkan. Rambutnya pendek dan berantakan, dan dia membawa bau khas pria yang baru saja minum, ditambah dengan aroma yang lebih tajam—sebuah campuran alkohol dan rokok.Amy melihat kancing kemeja pria itu sebagian terbuka, memperlihatkan kulit yang dipenuhi tato. “Aku dengar kamu baru di sini, ya?” Suaranya berat dan rendah, seolah menekan, memberi kesan bahwa dia tidak ingin ada penolakan. Amy merasakan perutnya mual. Dia berusaha tetap tenang. Jelas Amy tak akan punya kesempatan jika melawan pria besar ini. Ia mengangguk pelan sebagai jawaban."Kau masih perawan?" Tentu saja ini hanya pertanyaan retorik karena tak mungkin si pria besar tak memastikan dulu dengan pemilik rumah bordil.Lagi lagi Amy mengangguk. "Kita langsung mulai saja ya, aku tak punya banyak waktu. Putriku merayakan ulang tahun malam ini, dia kira-kira berusia sama

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status