Share

Bab 5 : Dia Istriku

Penulis: Ratu Typo
last update Terakhir Diperbarui: 2023-12-11 15:50:27

Sesampainya di rumah sakit, Kala mengacak kasar rambutnya ketika telah mengetahui penyebab Bintang demam tinggi. Itu karena Bintang makan es krim yang selama ini menjadi pantangannya. Bintang memang alergi dengan es krim sehingga Kala tak pernah memberi larangan keras untuk tidak makan es krim.

“Ray, kenapa kamu kasih Bintang es krim? Bintang itu alergi sama es krim!” sentak Kala pada Raya.

Raya hanya mampu terdiam tanpa kata, karena dia benar-benar tidak tahu jika Bintang alergi dengan es krim. Melihat Kala yang marah membuatnya sangat takut. Bahkan untuk mengucap kata maaf saja bibirnya terasa kelu.

“Gak ada gunanya aku nikahi kamu yang katanya bisa jaga Bintang dengan baik, tapi buktinya malah bikin Bintang sakit kayak gini. Lihatlah akibat kecerobohan kamu, Bintang harus menahan rasa sakit,” ujar Kala lagi.

Kedua mata Raya terasa sangat panas. Tanpa disadari air matanya jatuh membasahi pipi. Dengan cepat Raya langsung menyekanya.

“Inilah alasan mengapa aku tidak tertarik untuk menikah lagi! Selain tidak bisa menjaga Bintang dengan baik, juga terlalu cengeng. Wanita memang merepotkan!” lanjutnya lagi.

Dada Raya terasa sesak. Jika bisa menolak, dia pun juga tidak mau menikah dengan Kala, karena dia juga mempunyai orang yang dicintainya. Namun, karena paksaan dari kedua orang tua mereka, Raya tak bisa berbuat apa-apa.

“Maafkan aku, Mas,” ucap Raya dengan pelan.

Kala hanya bisa menghembuskan napas kasarnya. Dia benar-benar lepas kendali karena terbawa suasana. “Sudahlah lupakan apa yang baru saja aku katakan tadi!”

Dengan penuh rasa bersalah, Raya menggenggam tangan Bintang sepanjang malam. Bahkan Raya tidak tidur hanya demi menjaga Bintang. Andaikan saja Raya tahu jika Bintang alergi dengan es krim, dia tidak akan sedikitpun memberikan es krim pada Bintang. Sayang, semua sudah terlambat. Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi.

“Bintang, maafkan mama, ya. Semua ini salah mama. Mama benar-benar tidak tahu kalau kamu alergi sama es krim.”

Rasa kantuk yang menyerang membuat Raya beberapa kali hampir menjatuhkan kepalanya. Namun, seketika Raya mengucek matanya agar tetap tidak tidur.

Kala yang duduk di sofa terus memperhatikan Raya yang masih tak beranjak dari tempat duduknya sekalipun sudah mengantuk berat. Ada sedikit rasa sesal karena sempat membentaknya, tetapi perasaan itu segera ditepis. Seharusnya Raya bertanya terlebih dahulu makanan apa saja yang boleh dimakan oleh Bintang.

“Kalau ngantuk tidur aja di sofa. Biarkan aku yang menjaga Bintang.” Tiba-tiba saja suara itu menyentuh di telinga Raya.

“Enggak, Mas. Aku disini aja. Aku mau nungguin Bintang. Semua ini salahku, seharusnya aku —”

“Sudah tidak usah dibahas lagi. Tidurlah di sofa!” Kala memotong ucapan Raya.

Tak ingin memperkeruh suasana, Raya pun akhirnya mengangguk pelan dan berjalan ke sebuah sofa yang ada di ruangan itu. Untuk saat ini dia benar-benar merasa takut dengan kemarahan Kala. Ternyata pria itu sangat menakutkan jika sedang marah.

***

Rasanya baru saja memejamkan mata, tetapi Raya harus mengerjap pelan saat merasakan sesuatu yang menempel di pipinya. Setalah dipastikan ternyata itu adalah Bintang yang sedang menyentuh pipinya.

“Bintang,” ucap Raya terlonjak karena saking terkejutnya.

Dengan jarum infus yang masih menempel di tangan, Bintang mencoba untuk tersenyum. “Mama maafkan Bintang sudah membuat Mama khawatir.”

Baru saja membuka mata, Raya harus meloloskan air matanya begitu saja karena sangat terharu dengan ucapan Bintang. Seharusnya dialah yang meminta maaf, bukan Bintang. Kerena kecerobohannya Bintang barus masuk rumah sakit.

“Bintang, seharusnya Mama yang minta maaf. Karena Mama kamu jadi sakit.”

Tangan kecil itu langsung menyeka air mata yang membasahi pipi Raya. “Mama jangan nangis. Bintang enggak apa-apa. Bintang udah sembuh.”

Betapa beruntungnya mendiang sang kakak mempunyai anak seperti Bintang yang tumbuh dengan pintar. Andaikan saja sang kakak masih hidup, pasti mereka akan menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia. Terlebih Kala yang teramat mencintai kakaknya.

“Bintang, kamu kok bisa turun dari tempat tidur? Dimana papa kamu?” tanya Raya seolah sedang mencari sosok Kala di dalam ruangan itu. Namun, sayang sedikitpun tak terlihat batang hidungnya.

“Papa keluar, Ma. Tadi papa bilang mau beli sarapan,” jawab Bintang dengan polos. “Ma, Bintang mau pipis, tapi Bintang enggak bisa buka celana. Mama bisa bantuin Bintang?”

Raya mengangguk dengan senyum melebar. “Tentu bisa, Sayang. Ya udah ayo Mama antar ke kamar mandi.” Dengan cepat Raya menuntun Bintang untuk ke kamar mandi.

Bertepatan dengan itu sosok Kala pun masuk. Saat melihat Raya menuntun Bintang ke kamar mandi ada rasa nyeri di dadanya, karena mengingat ucapannya tadi malam.

“Mas Kala,” panggil Raya saat melihat Kala tetap membeku di tempat. Seketika Kala terkejut dengan sebuah panggilan yang menggema di telinga, karena sebelumnya Kala memang sedang melamun.

“Ah, iya ada apa?”

“Mas Kala ngapain disitu?”

Saat itu juga Kala menyadari jika dia masih berdiri di depan pintu. Dengan cepat Kala melangkah maju ke arah pembaringan Bintang.

“Aku beli sarapan untukmu. Kamu pasti lapar karena tadi malam enggak makan. Makanlah selagi masih hangat,” ujar Kala sambil menyerahkan kantong plastik kearah Raya.

“Tapi aku belum lapar, Mas,” tolak Raya, karena dia memang belum lapar.

“Jadi kamu masih marah dengan ucapanku tadi malam?”

Raya langsung mengernyit. Padahal tak sedikitpun dia mempermasalahkan tentang ucapan Kala tadi malam. Baginya memang benar jika dia bisa menjaga Bintang dengan baik. Lalu untuk apa dia marah.

“Marah?” cicitnya. “Aku sama sekali enggak marah, Mas. Tapi aku memang belum lapar.

"Apakah tadi malam Papa memarahi Mama? Kenapa, Pa? Apakah karena Bintang?” celetuk Bintang yang menyimak perbicangan kedua orang tuanya.

Raya yang ada di samping Bintang langsung menggeleng dengan pelan. “Ah, tidak, Sayang. Papa enggak ada marah sama Mama kok. Bintang enggak usah berpikir yang macam-macam ya. Mending kita sarapan dulu, abis itu minum obat biar cepat sembuh dan Bintang bisa segera pulang.”

Baru saja hendak menyuapkan makanan ke mulut Bintang, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dan tak lama memunculkan seorang wanita cantik nan seksi sambil membawa berbagai macam buah-buahan.

“Pak Kala, bagaimana keadaan Bintang?” tanyanya yang kini sudah mendekat kearah pembaringan Bintang.

Dia adalah Maya, sekertaris di kantornya Kala. Beberapa jam yang lalu Kak sempat menelponnya untuk mengosongkan semua jadwal di kantor, karena Bintang sedang sakit. Tanpa diduga jika wanita itu akan datang ke rumah sakit.

“Bintang sudah baik-baik saja,” jawab Kala biasa saja.

“Syukurlah,” ucap Maya. Namun, seketika Maya menautkan kedua alisnya saat melihat Raya sedang menyuapi Bintang. “Dia siapa, Pak? Pengasuhnya Bintang?”

Raya langsung mengerutkan keningnya. Bisa-bisanya dia dikatakan pengasuhnya Bintang. Memangnya wajah Raya terlihat seperti seorang pengasuh.

“Dia istriku.”

Bola mata Maya langsung terbelalak dengan lebar manakala dua kata keluar begitu saja dari mulut sang atasan.

Apa? Istriku? Sejak kapan Pak Kala menikah? Tidak, ini tidak mungkin!

“Istri?” cicitnya dengan bibir bergemetar. “Pak Kala jangan bercanda,” lanjutnya lagi.

“Aku tidak memaksamu untuk percaya.”

Maya langsung menelan kasar salivanya. Seketika harapannya telah sirna begitu saja saat mengetahui kenyataan jika orang yang sedang diincarnya sudah menikah tanpa sepengetahuannya.

#BERSAMBUNG#

Bab terkait

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 6 : Masih Lembur

    Karena keadaan Bintang sudah mulai membaik, dia pun diizinkan pulang. Tak sedikitpun Raya meninggalkan Bintang, padahal hari ada jadwal kuliah. Tanpa peduli, Raya mengabaikan kuliahnya demi bisa menemani Bintang. Namun, berbeda dengan Kala yang awalnya ingin mengosongkan jadwal, tetapi dia harus segera ke kantor karena ada sesuatu yang harus ditanganinya. Terpaksa setelah mengantar Bintang pulang, Kala langsung menuju ke kantor.“Ray, aku titip Bintang. Kalau ada sesuatu segera hubungi aku!” ujarnya sebelum berlalu.“Iya, Mas.” Raya mengangguk pelan. Sesaat mobil itu pun meluncur meninggalkan halaman rumah. Lagi-lagi ada rasa sakit di ulu hatinya.“Sabar Ray,” ucapnya untuk menguatkan diri.Setelah menikah, Raya memutuskan fokus pada rumah tangganya, sekalipun dia tak dianggap oleh Kala. Jika biasanya Raya akan menghabiskan waktu senggangnya untuk jalan ke mall bersama dengan temannya, kini hanya digunakan untuk membersihkan rumah dan sekedar masak. Entah rasanya sudah tidak tertarik l

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-29
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 7 : Kedatangan Mertua

    Meskipun sudah bisa berada dalam mobil yang sama tetap saja Maya bisa menarik Kala, karena pria itu memilih untuk duduk di belakang dan sibuk dengan ponselnya sendiri. Saat diajak berbicara pun Kala malah mengingatkan jika Maya harus tetap fokus dengan setir kemudian. Rasa kesal pun sudah mencapai puncak ubun-ubun.'Sial! Ternyata usahaku sia-sia lagi. Ku pikir setelah bisa satu mobil dengannya, Pak Kala akan sedikit terbuka padaku. Minimal memuji diriku yang telah membawanya pulang. Ini malah asyik dengan ponselnya sendiri' gerutu Maya dalam hatiTak terasa waktu tiga puluh menit rasanya seperti tiga menit. Mobil yang dikemudikan oleh Maya pun telah sampai di perumahan milik Kala.“May, sebelumnya terima kasih karena telah mengantarku pulang. Setelah ini kamu akan diantar oleh pak Agus,” ucap Kala yang sudah bersiap untuk turun dari mobil."Emm … gak usah, Pak. Saya naik taksi aja.”“Tidak! Itu terlalu bahaya untukmu karena ini sudah malam.”Kenapa enggak suruh bawa mobil ini pulang

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-30
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 8 : Makan Siang Dari Maya

    Sepeninggal istri dan ibunya, Kala langsung mengemas semua perlengkapan Raya yang ada di kamar Bintang. Dia tidak ingin ibunya tahu jika selama ini dia dan Raya tidak tidur satu ranjang. Karena perlengkapan orang yang tidak banyak, Kala tidak membutuhkan waktu lama untuk mengemasnya.“Untung aja barang-barang Raya enggak banyak, jadi bisa ku atasi sendiri,” ujar Kala setelah selesai memindahkan perlengkapan Raya ke kamarnya.Saat dilihat, waktu pun telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sudah sangat terlambat untuk jam masuk kantor, tetapi Kala harus tetap berangkat. Namun, Kala tetap berangkat karena bagaimanapun dia harus bekerja.Disisi lain ibu mertuanya begitu bersemangat setelah sampai di pusat perbelanjaan. Jika niatnya hanya ingin membeli perlengkapan dapur, tetapi wanita tengah baya itu memutuskan untuk mengajak Raya mengelilingi toko pakaian. Jiwa shoppingnya telah meronta, terlihat saat matanya melihat tulisan diskon 90%.“Ra, setelah ini apa rencanamu?” tanya ibu mertuany

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-31
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 9 : Akhirnya Satu Ranjang

    Malam ini adalah malam pertama Raya tidur satu kamar dengan Kala, karena saat ini ibu mertuanya sedang menginap di rumahnya. Rasanya sangat gugup ketika hendak naik keatas tempat tidur, karena sebelumnya Kala sudah mengatakan jika tidak bisa tidur satu ranjang dengannya. Helaan napas panjang pun terdengar begitu berat dan pada akhirnya Raya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sebuah sofa.“Huft ... gini amet sih nikah sama orang yang belum bisa move on dari masa lalunya,” gerutu Raya.Tak berapa lama sosok Kala muncul dari balik pintu. Pria itu sempat terkejut saat melihat keberadaan Raya di dalam kamarnya. Saat ingin menegurnya, Kala pun langsung teringat jika saat ini ibunya sedang menginap di rumahnya.“Belum tidur?” tanya Kala saat melihat Raya masih memainkan ponselnya.Mendengar pernyataan dari Kala membuat jantung Raya semakin berdegup dengan sangat kencang. Bagaimana mau tidur jika Kala saja tidak mau berada satu ranjang dengannya. Susah payah Raya menelan kasar salivanya

    Terakhir Diperbarui : 2024-01-01
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 1 : Menikahi Ipar

    “Kala, ibu mohon. Semua ini demi Bintang. Bintang butuh sosok ibu di sampingnya.”Entah sudah berapa puluh kali sang ibu terus mendesak Kala untuk segera menikah lagi. Ibunya ingin sang cucu tetap harus mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu, sekalipun hanya ibu tiri.Kala membuang napas kasarnya. Setelah sang istri meninggal satu tahun yang lalu, tak sedikitpun dia berniat untuk mencari penggantinya. Cinta untuk mendiang istrinya terlalu mendalam hingga tak ada satu orang pun yang bisa menggantikannya.“Tapi kenapa harus dengan Raya, Bu? Raya itu adiknya Naya, mamanya Bintang.” protes Kala.“Justru karena Raya adalah adik dari mendiang istri kamu jadi Ibu sangat percaya jika dia bisa merawat Bintang dengan penuh cinta. Ibu tidak mau Bintang jatuh di tangan orang yang salah. Pokoknya kamu harus menikah dengan Raya!” tegas ibunya Kala.“Tapi Bu .... ”“Tidak ada tapi-tapian, Kala. Pokoknya kamu harus menikah dengan Raya secepatnya agar Bintang bisa mempunyai mama dan bisa merasakan ka

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-11
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 2 : Pulang Ke Rumah Kala

    Karena menikah tanpa cinta, Raya harus pasrah saat Kala enggan untuk tidur satu ranjang dengannya. Kala memilih untuk tidur di sofa, sementara Raya dan Bintang tidur di kasur.Baru saja ingin terlelap, Raya merasakan ada yang menguntungkan tubuhnya. Perlahan Raya mengerjapkan mata untuk memastikan apa itu mimpi atau bukan. Dan saat dilihat, ternyata Bintang lah yang mengguncangkan tubuhnya. Dengan cepat Raya langsung bangun.“Bintang, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Raya sedikit panik.Bintang menggeleng pelan. “Bintang mau pipis, Ma.”Deg.Raya terdiam untuk sesaat ketika Bintang memanggil dengan sebutan ma. Ada rasa aneh yang menjalar keseluruhan tubuhnya karena biasanya Bintang memanggil aunty.“Mau pipis, ya? Ya udah ayo ke kamar mandi.” Raya pun langsung mengangkat tubuh Bintang dan menuntunnya menuju ke kamar mandi. Dengan telaten Raya membantu bocah empat tahun ini untuk melepaskan celananya.“Bintang bisa pipis sendiri. Mama nunggu di luar aja!”“Lho, kenapa?” tanya Raya den

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-11
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 3 : Telepon Dari Randy

    Raya mencoba terbiasa dengan sifat Kala yang tiba-tiba menjadi dingin setelah keduanya menikah. Bahkan akhir-akhir ini keduanya hanya bertemu saat sarapan saja, karena Kala harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor.“Ray apakah ada kendala sehingga kamu belum mendapatkan ART?” tanya Kala ketika mereka duduk di meja makan.Raya sengaja tidak mencari ART, karena dia bisa menangani pekerjaan rumah. Bagi Raya memasak dan membersihkan rumah adalah hal yang sering dilakukannya.“Enggak ada, Mas. Kayaknya aku enggak mau pakai ART dulu deh. Kalau cuma masak dan beresin rumah aku bisa mengatasinya. Untuk masalah baju kotor kita laundry aja. Gimana?”Kala mengangguk pelan. “Baiklah terserah kamu aja yang penting aku udah nyuruh kamu untuk cari ART. Oh iya, nanti kamu enggak usah masak, karena aku akan pulang malam,” ujarnya.“Iya, Mas.”Tak berapa lama Bintang datang sambil menyeret tas sekolahnya. Bocah yang sudah terbiasa untuk bersiap-siap sendiri itu menolak tawaran Raya ketika ingin diban

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-11
  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 4 : Bertemu Dengan Randy

    Kali ini Bintang sangat puas menikmati es krim sesuai dengan keinginannya, karena selama Kala tidak pernah memberikan es krim bentuk apapun pada Bintang.“Kamu suka?”Bintang mengangguk dengan pelan. Meskipun dia ingat akan larangan yang diberikan oleh papanya, tetapi tak bisa ditolak olehnya. Sudah sangat lama Bintang sangat menginginkan es krim dan ketika ada kesempatan dia tak ingin menyia-nyiakan.“Ma, nanti jangan bilang sama papa kalau Bintang makan es krim ya,” ucap Bintang sambil terus menji.lati es krim yang di dipegangnya.“Oke.”Raya sama sekali tidak terpikir untuk bertanya alasan Bintang melarangnya bercerita pada Kala, karena matanya telah teralihkan pada sosok yang kini mendekat ke mejanya.“Udah lama?” tanya Randy yang kemudian menarik kursi di depan Raya.“Belum.”Kedua alis Randy menaut saat menatap Bintang yang asyik menikmati es krimnya. “Dia siapa, Ra?” tanyanya.“Dia anak aku.”“Hah?! Enggak lucu!”“Aku serius, Ran. Ini Bintang anaknya mas Kala yang berarti anak

    Terakhir Diperbarui : 2023-12-11

Bab terbaru

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 9 : Akhirnya Satu Ranjang

    Malam ini adalah malam pertama Raya tidur satu kamar dengan Kala, karena saat ini ibu mertuanya sedang menginap di rumahnya. Rasanya sangat gugup ketika hendak naik keatas tempat tidur, karena sebelumnya Kala sudah mengatakan jika tidak bisa tidur satu ranjang dengannya. Helaan napas panjang pun terdengar begitu berat dan pada akhirnya Raya memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di sebuah sofa.“Huft ... gini amet sih nikah sama orang yang belum bisa move on dari masa lalunya,” gerutu Raya.Tak berapa lama sosok Kala muncul dari balik pintu. Pria itu sempat terkejut saat melihat keberadaan Raya di dalam kamarnya. Saat ingin menegurnya, Kala pun langsung teringat jika saat ini ibunya sedang menginap di rumahnya.“Belum tidur?” tanya Kala saat melihat Raya masih memainkan ponselnya.Mendengar pernyataan dari Kala membuat jantung Raya semakin berdegup dengan sangat kencang. Bagaimana mau tidur jika Kala saja tidak mau berada satu ranjang dengannya. Susah payah Raya menelan kasar salivanya

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 8 : Makan Siang Dari Maya

    Sepeninggal istri dan ibunya, Kala langsung mengemas semua perlengkapan Raya yang ada di kamar Bintang. Dia tidak ingin ibunya tahu jika selama ini dia dan Raya tidak tidur satu ranjang. Karena perlengkapan orang yang tidak banyak, Kala tidak membutuhkan waktu lama untuk mengemasnya.“Untung aja barang-barang Raya enggak banyak, jadi bisa ku atasi sendiri,” ujar Kala setelah selesai memindahkan perlengkapan Raya ke kamarnya.Saat dilihat, waktu pun telah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sudah sangat terlambat untuk jam masuk kantor, tetapi Kala harus tetap berangkat. Namun, Kala tetap berangkat karena bagaimanapun dia harus bekerja.Disisi lain ibu mertuanya begitu bersemangat setelah sampai di pusat perbelanjaan. Jika niatnya hanya ingin membeli perlengkapan dapur, tetapi wanita tengah baya itu memutuskan untuk mengajak Raya mengelilingi toko pakaian. Jiwa shoppingnya telah meronta, terlihat saat matanya melihat tulisan diskon 90%.“Ra, setelah ini apa rencanamu?” tanya ibu mertuany

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 7 : Kedatangan Mertua

    Meskipun sudah bisa berada dalam mobil yang sama tetap saja Maya bisa menarik Kala, karena pria itu memilih untuk duduk di belakang dan sibuk dengan ponselnya sendiri. Saat diajak berbicara pun Kala malah mengingatkan jika Maya harus tetap fokus dengan setir kemudian. Rasa kesal pun sudah mencapai puncak ubun-ubun.'Sial! Ternyata usahaku sia-sia lagi. Ku pikir setelah bisa satu mobil dengannya, Pak Kala akan sedikit terbuka padaku. Minimal memuji diriku yang telah membawanya pulang. Ini malah asyik dengan ponselnya sendiri' gerutu Maya dalam hatiTak terasa waktu tiga puluh menit rasanya seperti tiga menit. Mobil yang dikemudikan oleh Maya pun telah sampai di perumahan milik Kala.“May, sebelumnya terima kasih karena telah mengantarku pulang. Setelah ini kamu akan diantar oleh pak Agus,” ucap Kala yang sudah bersiap untuk turun dari mobil."Emm … gak usah, Pak. Saya naik taksi aja.”“Tidak! Itu terlalu bahaya untukmu karena ini sudah malam.”Kenapa enggak suruh bawa mobil ini pulang

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 6 : Masih Lembur

    Karena keadaan Bintang sudah mulai membaik, dia pun diizinkan pulang. Tak sedikitpun Raya meninggalkan Bintang, padahal hari ada jadwal kuliah. Tanpa peduli, Raya mengabaikan kuliahnya demi bisa menemani Bintang. Namun, berbeda dengan Kala yang awalnya ingin mengosongkan jadwal, tetapi dia harus segera ke kantor karena ada sesuatu yang harus ditanganinya. Terpaksa setelah mengantar Bintang pulang, Kala langsung menuju ke kantor.“Ray, aku titip Bintang. Kalau ada sesuatu segera hubungi aku!” ujarnya sebelum berlalu.“Iya, Mas.” Raya mengangguk pelan. Sesaat mobil itu pun meluncur meninggalkan halaman rumah. Lagi-lagi ada rasa sakit di ulu hatinya.“Sabar Ray,” ucapnya untuk menguatkan diri.Setelah menikah, Raya memutuskan fokus pada rumah tangganya, sekalipun dia tak dianggap oleh Kala. Jika biasanya Raya akan menghabiskan waktu senggangnya untuk jalan ke mall bersama dengan temannya, kini hanya digunakan untuk membersihkan rumah dan sekedar masak. Entah rasanya sudah tidak tertarik l

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 5 : Dia Istriku

    Sesampainya di rumah sakit, Kala mengacak kasar rambutnya ketika telah mengetahui penyebab Bintang demam tinggi. Itu karena Bintang makan es krim yang selama ini menjadi pantangannya. Bintang memang alergi dengan es krim sehingga Kala tak pernah memberi larangan keras untuk tidak makan es krim.“Ray, kenapa kamu kasih Bintang es krim? Bintang itu alergi sama es krim!” sentak Kala pada Raya.Raya hanya mampu terdiam tanpa kata, karena dia benar-benar tidak tahu jika Bintang alergi dengan es krim. Melihat Kala yang marah membuatnya sangat takut. Bahkan untuk mengucap kata maaf saja bibirnya terasa kelu.“Gak ada gunanya aku nikahi kamu yang katanya bisa jaga Bintang dengan baik, tapi buktinya malah bikin Bintang sakit kayak gini. Lihatlah akibat kecerobohan kamu, Bintang harus menahan rasa sakit,” ujar Kala lagi.Kedua mata Raya terasa sangat panas. Tanpa disadari air matanya jatuh membasahi pipi. Dengan cepat Raya langsung menyekanya.“Inilah alasan mengapa aku tidak tertarik untuk men

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 4 : Bertemu Dengan Randy

    Kali ini Bintang sangat puas menikmati es krim sesuai dengan keinginannya, karena selama Kala tidak pernah memberikan es krim bentuk apapun pada Bintang.“Kamu suka?”Bintang mengangguk dengan pelan. Meskipun dia ingat akan larangan yang diberikan oleh papanya, tetapi tak bisa ditolak olehnya. Sudah sangat lama Bintang sangat menginginkan es krim dan ketika ada kesempatan dia tak ingin menyia-nyiakan.“Ma, nanti jangan bilang sama papa kalau Bintang makan es krim ya,” ucap Bintang sambil terus menji.lati es krim yang di dipegangnya.“Oke.”Raya sama sekali tidak terpikir untuk bertanya alasan Bintang melarangnya bercerita pada Kala, karena matanya telah teralihkan pada sosok yang kini mendekat ke mejanya.“Udah lama?” tanya Randy yang kemudian menarik kursi di depan Raya.“Belum.”Kedua alis Randy menaut saat menatap Bintang yang asyik menikmati es krimnya. “Dia siapa, Ra?” tanyanya.“Dia anak aku.”“Hah?! Enggak lucu!”“Aku serius, Ran. Ini Bintang anaknya mas Kala yang berarti anak

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 3 : Telepon Dari Randy

    Raya mencoba terbiasa dengan sifat Kala yang tiba-tiba menjadi dingin setelah keduanya menikah. Bahkan akhir-akhir ini keduanya hanya bertemu saat sarapan saja, karena Kala harus menyelesaikan pekerjaannya di kantor.“Ray apakah ada kendala sehingga kamu belum mendapatkan ART?” tanya Kala ketika mereka duduk di meja makan.Raya sengaja tidak mencari ART, karena dia bisa menangani pekerjaan rumah. Bagi Raya memasak dan membersihkan rumah adalah hal yang sering dilakukannya.“Enggak ada, Mas. Kayaknya aku enggak mau pakai ART dulu deh. Kalau cuma masak dan beresin rumah aku bisa mengatasinya. Untuk masalah baju kotor kita laundry aja. Gimana?”Kala mengangguk pelan. “Baiklah terserah kamu aja yang penting aku udah nyuruh kamu untuk cari ART. Oh iya, nanti kamu enggak usah masak, karena aku akan pulang malam,” ujarnya.“Iya, Mas.”Tak berapa lama Bintang datang sambil menyeret tas sekolahnya. Bocah yang sudah terbiasa untuk bersiap-siap sendiri itu menolak tawaran Raya ketika ingin diban

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 2 : Pulang Ke Rumah Kala

    Karena menikah tanpa cinta, Raya harus pasrah saat Kala enggan untuk tidur satu ranjang dengannya. Kala memilih untuk tidur di sofa, sementara Raya dan Bintang tidur di kasur.Baru saja ingin terlelap, Raya merasakan ada yang menguntungkan tubuhnya. Perlahan Raya mengerjapkan mata untuk memastikan apa itu mimpi atau bukan. Dan saat dilihat, ternyata Bintang lah yang mengguncangkan tubuhnya. Dengan cepat Raya langsung bangun.“Bintang, kamu kenapa? Mimpi buruk?” tanya Raya sedikit panik.Bintang menggeleng pelan. “Bintang mau pipis, Ma.”Deg.Raya terdiam untuk sesaat ketika Bintang memanggil dengan sebutan ma. Ada rasa aneh yang menjalar keseluruhan tubuhnya karena biasanya Bintang memanggil aunty.“Mau pipis, ya? Ya udah ayo ke kamar mandi.” Raya pun langsung mengangkat tubuh Bintang dan menuntunnya menuju ke kamar mandi. Dengan telaten Raya membantu bocah empat tahun ini untuk melepaskan celananya.“Bintang bisa pipis sendiri. Mama nunggu di luar aja!”“Lho, kenapa?” tanya Raya den

  • Menjadi Ibu Sambung untuk Keponakanku   Bab 1 : Menikahi Ipar

    “Kala, ibu mohon. Semua ini demi Bintang. Bintang butuh sosok ibu di sampingnya.”Entah sudah berapa puluh kali sang ibu terus mendesak Kala untuk segera menikah lagi. Ibunya ingin sang cucu tetap harus mendapatkan kasih sayang dari sosok ibu, sekalipun hanya ibu tiri.Kala membuang napas kasarnya. Setelah sang istri meninggal satu tahun yang lalu, tak sedikitpun dia berniat untuk mencari penggantinya. Cinta untuk mendiang istrinya terlalu mendalam hingga tak ada satu orang pun yang bisa menggantikannya.“Tapi kenapa harus dengan Raya, Bu? Raya itu adiknya Naya, mamanya Bintang.” protes Kala.“Justru karena Raya adalah adik dari mendiang istri kamu jadi Ibu sangat percaya jika dia bisa merawat Bintang dengan penuh cinta. Ibu tidak mau Bintang jatuh di tangan orang yang salah. Pokoknya kamu harus menikah dengan Raya!” tegas ibunya Kala.“Tapi Bu .... ”“Tidak ada tapi-tapian, Kala. Pokoknya kamu harus menikah dengan Raya secepatnya agar Bintang bisa mempunyai mama dan bisa merasakan ka

DMCA.com Protection Status