“Taraaa....!”Zelda menunjukkan satu box berisi ponsel baru dengan merek terkenal lantas menyerahkannya pada Naina.Naina tentu saja sangat terkejut saat menerima box itu. “Ini....”“Ponsel baru untukmu. Biar kita bisa komunikasi lagi,” sahut Zelda penuh semangat dan antusias.Beberapa hari tinggal di sini Naina memang sama sekali tidak memegang ponsel. Ponsel lama sudah benar-benar ia nonaktifkan setelah selesai menghapus akun sosial medianya.“Suka nggak?”Naina mengangguk menjawab pertanyaan Zelda. “Ini pasti mahal banget. Berapa harganya? Nanti aku akan ganti.”Zelda menggeleng. “Nggak usah. Ini memang sengaja aku belikan untukmu.”“Nggak enak aku, Zel. Kamu udah bantu aku banyak banget. Pokoknya yang ini aku mau menggantinya.”Zelda menggenggam tangan Naina. “Aku ikhlas, Nai. Anggaplah ini sebagai hadiah atas kehamilanmu dan kamu yang udah bertahan sejauh ini.”Naina tetap menggeleng dan mengembalikan ponsel itu pada Zelda. “Aku nggak mau menerimanya dengan cuma-cuma.”“Udahlah,
“Jangan-jangan apa?” “Jangan-jangan memang bukan kamu yang mengidam, tapi si Dhafin,” tebak Zelda. Naina terperangah tidak percaya. “Hah?! Kok bisa?” “Bisa! Kan di luar sana, ada kasus yang seperti itu. Dimana istri yang hamil, tapi suami yang merasakan ngidam. Masa nggak tau?” “Ya, aku tau. Maksudnya, itu kan terjadi karena rasa empati suami pada istrinya. Sedangkan aku? Kamu tau sendiri hubunganku sama Mas Dhafin gimana.” Naina menyangkal perkataan Zelda yang menurutnya sangat tidak masuk akal itu. Namun, Zelda tetap keukeuh dengan praduganya. “Bisa jadi loh, Nai, buktinya kamu nggak merasakan apa-apa kan?” Naina menghela napas lelah. “Aku nggak merasa ngidam bukan berarti berpindah ke Mas Dhafin, Zelda. Mustahil Mas Dhafin mengalami yang namanya ngidam.” “Nggak ada yang mustahil kalau Allah udah berkehendak, Nak. Mungkin dari luar suamimu tampak cuek dan nggak peduli. Tapi dalam hatinya, siapa yang tahu?” Oma Hira yang sedari tadi hanya diam kini angkat suara mengemukakan
Semua pertanyaan itu sama sekali tidak berhasil ditemukan jawabannya. Dhafin berharap Naina akan baik-baik saja dimanapun wanita itu berada. Karena mau bagaimanapun Naina tengah mengandung buah hatinya, pewaris Wirabuana. Tak ingin larut dalam pikirannya, Dhafin memulai mengerjakan pekerjaannya. Ia mengecek berkas yang menumpuk di mejanya kemudian ditandatanganinya. Beberapa jam kemudian, Arvan masuk ke dalam ruangannya. Seketika, wangi parfum milik sahabatnya itu menguar memenuhi seluruh ruangan. Dhafin menutup hidung karena tidak kuat dengan aromanya yang sangat menyengat. Tiba-tiba ia merasa mual. Perutnya juga terasa diaduk-aduk. “Selamat pagi menjelang siang, Pak Bos. Saya ingin mengingatkan–” Belum selesai Arvan berkata, Dhafin langsung berlari ke kamar mandi yang ada di dalam ruangan kerjanya. Hoek! Lagi, Dhafin memuntahkan isi perutnya seperti waktu di rumah tadi. Bedanya ini karena mencium aroma parfum milik Arvan. Arvan yang khawatir mengikuti sahabatnya. Namun, Dh
Dhafin merasa tertampar dengan perkataan Arvan. Ia teringat dulu waktu pertama tahu Naina hamil, ia menolak. “Kenapa bisa hamil sih?” tanyanya ketus lalu melempar kasar testpack yang diberikan Naina. “Kan karena kamu juga, Mas,” jawab Naina takut-takut. “Itu hanya kecelakaan. Lagian kenapa kamu nggak mencegahnya sih? Minum obat atau apa kek biar nggak hamil.” “Maaf.” Naina hanya menunduk tanpa berani menatap Dhafin. “Aku belum siap jadi ayah!” Dhafin juga teringat ketika dirinya mengabaikan Naina waktu mual-muntah di awal kehamilan. “Mas, boleh minta tolong ambilkan minum sama minyak kayu putih?” pinta Naina dengan suara lemah. Wanita itu baru saja keluar dari kamar mandi sehabis muntah-muntah. “Nyusahin!” Dhafin tetap mengambilkan dua barang itu meskipun dengan tidak ikhlas. Ia bahkan pernah membiarkan Naina pingsan karena terlalu banyak kekurangan cairan hingga dibawa ke rumah sakit. Sejak itu, mereka pindah ke kediaman Wirabuana karena permintaan Bu Anita. Namun, bukanny
Freya menatap Dhafin heran. “Kenapa?” tanyanya sambil melangkah maju. Dhafin malah melangkah mundur dengan tangan menutup hidungnya sendiri. “Berhenti disitu!” Ia tidak tahan dengan aroma tubuh Freya yang lagi-lagi membuatnya mual. Padahal dulunya menjadi favorit. Terlebih ini Freya, orang yang dicintainya bukan orang lain. “Kenapa sih memangnya?” “Kamu bau banget.” Freya membelalakkan matanya terkejut. “Apanya yang bau?” Ia sampai mencium badannya sendiri yang menurutnya wangi. “Ini parfum kesukaanmu loh. Kamu yang membelikannya langsung.” Dhafin tahu itu. Namun, sekarang ini ia benar-benar tidak tahan dengan aromanya yang lebih menyengat dibanding milik Arvan. Pria itu bersandar di pintu. Ia mati-matian menahan diri agar tidak sampai muntah membuat kepalanya terasa pening. “Lebih baik kamu pulang,” usirnya terang-terangan. “Kamu mengusirku?” Freya terperangah tidak percaya. “Iya.” Freya memandang Dhafin dengan tatapan terluka. “Kamu tega mengusirku, Dhaf?” Dhafin mem
“Naina....”Cukup lama Dhafin bertahan di posisi itu–memeluk baju Naina hingga akhirnya tersadar. Sontak, ia melepaskan pelukannya pada baju itu.Ada apa dengan dirinya? Kenapa ia memeluk baju seperti orang yang sedang rindu?Sungguh, Dhafin melakukan semua itu di luar kendalinya. Benar-benar bukan keinginannya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.Tidak! Ia tidak merindukan Naina. Sama sekali tidak!Dhafin bangkit dan melempar kasar baju Naina ke dalam lemari kemudian menutup pintunya dengan keras. Ia menyandarkan tubuhnya di sana lantas menghela napas panjang.Tiba-tiba ingatan Dhafin tertuju pada kejadian tadi siang tepatnya ketika ia mengusir Freya. Ada rasa bersalah yang bersemayam dalam hatinya.Dengan segera, Dhafin mengambil ponselnya di dalam tas kerja. Ia mencoba menghubungi Freya, tetapi tidak diangkat. Pasti perempuan itu sedang marah.Tidak menyerah, Dhafin kembali menelpon hingga panggilan ke empat barulah teleponnya tersambung. “Kenapa nggak diangkat? Mar
Zelda sedang memeriksa laporan keuangan di ruangan pribadinya. Beberapa hari ini penjualan butik menurun. Untungnya tidak sampai rugi karena masih mempunyai pelanggan setia. Berita tentang Naina ternyata berdampak pada butiknya. Ia yang sedari awal memasang badan untuk Naina ikut diserang oleh netizen. Bukan hanya dirinya, tetapi para modelnya juga ikut diserang yang membuat mereka satu-persatu mengundurkan diri bahkan di saat masa kontrak kerjanya belum habis. Mereka lebih memilih membayar penalti daripada mentalnya hancur karena hujatan.Zelda bisa mengerti dan memaklumi itu karena tidak semua orang mampu bertahan dari serangan warga net yang menghujat. Kini, tersisa satu model yang sudah bergabung sejak awal butik ini diresmikan. Ia berharap orang itu tetap bertahan dan tidak resign seperti yang lain.Tok tok tokPintu ruangannya diketuk dan masuklah salah satu pegawai dengan tergesa-gesa. Zelda menatap pegawainya yang bernama Sinta itu duduk di kursi berhadapan dengannya.Dari
Tak berselang lama, pesanannya datang. Zelda sekalian membayar tagihannya supaya lega dan tidak kepikiran. Setelah itu, ia pun langsung menyantap makan siangnya. “Hai, Zelda, boleh aku bergabung?”Zelda mendongak dan menemukan Freya yang sudah duduk di hadapannya. Sontak, raut wajahnya berubah dengan tatapan datar tanpa minat.“Ngapain minta izin kalau kamu sendiri udah duduk tanpa dipersilahkan? Nggak sopan banget,” balasnya dengan sewot. Ia lantas kembali melanjutkan acara makannya yang sudah tidak senikmat sebelumnya karena kedatangan tamu tak diundang.Freya tersenyum berusaha sabar saat melihat raut tak suka dari Zelda. “Sendirian aja? Nggak sama Naina?” tanyanya basa basi.“Aku nggak tau dia dimana,” jawab Zelda datar sekaligus berbohong.“Sejak keluar dari kediaman Wirabuana, Naina benar-benar hilang bagai ditelan bumi. Apa kamu masih mencarinya?”“Tentu saja masih.” Zelda menyuapkan satu sendok terakhir makanannya ke dalam mulut.“Ngomong-ngomong aku menyukai baju rancanganm
Lora membantu Azhar duduk di sisi kanan neneknya, sementara Amina membantu Zora duduk di sisi kiri. Kini, si kembar berada di samping kanan-kiri Bu Anita, seperti dua permata yang menerangi hatinya.“Zora, cucu Oma yang cantik,” ucap Bu Anita sambil memeluk dan mencium kepala Zora yang dihiasi kunciran dua.Lalu, ia beralih ke Azhar, memeluk tubuh mungil cucu laki-lakinya dan menciumi wajahnya dengan penuh kasih. “Gemes banget sama cucu Oma yang paling ganteng ini.”Lora hanya tersenyum menyaksikan pemandangan itu. Ada rasa hangat mengalir dalam dadanya. Ia lalu duduk di kursi samping ranjang, sementara Amina memilih tempat di sofa. Keputusan untuk membawa si kembar ke sini terasa begitu tepat. Setidaknya, kehadiran mereka mampu menghibur Bu Anita dan mengusir kesepian yang mungkin menyelimuti.“Kalian berangkatnya dari rumah?” tanya Bu Anita sambil menatap si kembar secara bergantian.Ia mencium aroma khas tubuh anak-anak yang baru selesai mandi—wangi bedak bayi masih melekat, terle
“Bagaimana keadaan mantan ibu mertuamu?”Lora yang semula fokus pada piring sarapannya beralih menatap sang ibu. Ia mempercepat kunyahannya, lalu menelan makanan sebelum berbicara. “Ya, begitulah, Bun.”“Masih sering mengeluh sakit perut bagian bawah. Kata Mas Dhafin, lusa dijadwalkan operasi pengangkatan tumor supaya nggak semakin menyebar,” jawabnya dengan nada khawatir.Bu Radha manggut-manggut paham. Ia sudah mendengar kabar tentang kondisi Bu Anita. Wajahnya memancarkan ekspresi prihatin. “Tumor ganas di rahim, apalagi sudah masuk stadium tiga, itu kondisi yang cukup serius. Pada tahap ini, sel kanker biasanya sudah menyebar ke jaringan sekitar atau bahkan ke kelenjar getah bening di sekitarnya.”Ia menghela napas sejenak sebelum melanjutkan, “makanya, operasi pengangkatan tumor memang langkah yang tepat.”“Biasanya, dokter akan mengangkat rahim dan jaringan yang terdampak agar penyebaran kanker bisa dicegah. Kadang juga dibarengi kemoterapi atau terapi lain, tergantung tingkat
Suasana dalam ruangan tiba-tiba terasa begitu berat. Seolah udara mendadak menipis, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.Lora menatap Bu Anita dengan perasaan campur aduk. Wanita itu masih berusaha tersenyum, meski jelas terlihat ada kepedihan yang berusaha ia sembunyikan.“Iya, Lora, aku bahkan baru mengetahuinya.” Dhafin akhirnya bersuara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar lelah.Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. “Mama begitu rapi menyembunyikan penyakit itu dari kita semua.”Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kata orang rumah, beberapa hari terakhir Mama sering mengeluh sakit perut. Aku sempat mengira itu hanya gangguan pencernaan biasa.”Tatapannya kemudian mengabur seakan-akan mengingat kejadian yang masih terekam jelas dalam benaknya.“Tapi saat jalan-jalan sama si kembar kemarin, aku mendapat telepon mendadak. Katanya Mama pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” Rahangnya menge
Lora menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam suara Dhafin yang membuatnya tak bisa menolak. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Dhafin yang membuka pintu. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap hidung begitu dirinya memasuki ruangan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, memberikan kesan tenang namun juga penuh dengan kenangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Bu Anita terbaring dengan tubuh lemah, selang infus masih terpasang di tangannya. Matanya terpejam, napasnya teratur meski tampak sedikit berat. Lora melangkah lebih dekat hingga berdiri di samping tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah pucat Bu Anita—wanita yang dulu pernah bersikap semena-mena padanya, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dadanya. Bukan kebencian, bukan pula kepuasan melihat keadaan mantan mertuanya seperti ini. Yang ada justru sesak yang sulit dijelaskan. Ini adalah sisi lain dari Bu Anita, yang tak pernah ia
Grissham mengangkat bahunya dengan gerakan yang ringan, seakan tak terlalu memperdulikan topik yang sedang dibicarakan. Ia menghembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Lora dengan sorot mata yang tenang namun dalam. “Karena aku sadar, Twins butuh ayah kandungnya, begitu pula sebaliknya. Aku tidak bisa egois hanya karena perasaan pribadiku.” Laki-laki itu meraih gelas jus di depannya, mengaduk isinya dengan sedotan tanpa benar-benar berniat meminumnya. Ada sedikit ketegangan di wajahnya, tetapi senyumnya tetap terukir tipis. “Aku ingin menjadi bagian dari mereka, tapi bukan dengan menghalangi hubungan mereka dengan Dhafin,” lanjutnya dengan suara lembut. Lora terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Ia menggenggam tangan Grissham di atas meja, meremasnya lembut. “MasyaAllah... Kak Sham baik banget,” ucapnya dengan suara penuh ketulusan. Grissham tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Lora dengan lembut. “Bagiku, kebahagiaanmu dan anak-anak adalah yang paling u
[Lora, Mama sedang sakit dan sangat ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemui Mama?]Lora hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Dhafin beberapa menit lalu tanpa ada niatan untuk membalas.Raut wajah dan tatapannya datar terkesan jengah. Dalam hati, ia merasa jengkel dengan Dhafin yang tak berhenti mengusiknya.Bukannya Lora tidak percaya bila ibunya Dhafin sedang sakit. Hanya saja dari sekian banyaknya orang, kenapa Bu Anita ingin bertemu dengannya? Apa yang sebenarnya beliau inginkan?“Sayang….”Panggilan dengan suara lembut itu berhasil membuat Lora sedikit tersentak. Ia mengangkat kepala, mengalihkan tatapannya pada Grissham yang duduk di hadapannya.“Ada apa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?” Grissham menyadari perubahan ekspresi Lora sesaat setelah membaca sesuatu dalam ponselnya.Lora keluar dari ruang obrolan bersama Dhafin dan langsung menutup aplikasi pesan. “Ini Mas Dhafin ngechat katanya Mama sakit dan ingin menemuiku. Dia minta aku menemui Mama.”“Lalu kau menjawab apa
Dhafin mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu depan kamar inap setelah kepergian dokter. Kakinya terasa lemas hingga tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.Matanya yang tajam itu menatap kosong ke lantai rumah sakit. Apa yang baru saja disampaikan oleh dokter membuatnya seketika terkejut sekaligus syok.Dunianya seakan runtuh mengetahui fakta tak terduga yang selama ini disembunyikan oleh sang ibu.Kata-kata tentang penyakit parah yang diderita sang ibu menggema di kepalanya, berulang-ulang, seolah menolak untuk diterima. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek dan berat. Tangannya yang bertumpu di pahanya mengepal gemetar tanpa disadari.Dhafin merasa marah pada kenyataan yang begitu kejam. Kenapa ibunya harus menghadapi ini sendirian? Kenapa ia tidak diberi tahu sejak awal?Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya, menghantam dirinya tanpa ampun. Seharusnya Dhafin lebih peka, seharusnya ia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan ibunya selama ini.Pria itu menjambak rambutnya fr
Lora paling lemah jika sudah bersangkutan dengan anak-anaknya. Ia tidak sanggup melihat mereka yang rewel seperti sekarang bahkan menangis kejer. Namun, tentu saja tidak semua keinginan mereka harus terpenuhi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai kemauannya. Ada kalanya harus mengalah dengan keadaan. “Mama, ayo.” Si kembar terus mendesak Lora agar ikut jalan-jalan bersama mereka. Lora kembali memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Baiklah, mungkin kali ini dirinya mengalah dulu. Kedepannya, ia akan bersikap lebih tegas lagi pada mereka. “Oke, Mama ikut,” putusnya dengan tangan mengusap kepala sang anak. “Yeayyy…!” Si kembar langsung bersorak senang lantas menghampiri sang ayah. “Ayo, Papa, kita belangkat.” Dhafin menatap sejenak Lora yang menampilkan wajah yang terkesan tidak ikhlas. “Ayo, Lora,” ajaknya sebelum menggandeng tangan si kembar dan menggiring ke mobil. Di dalam mobil, Lora memilih duduk di kursi belakang bersama Amina
“Udah siap.” Lora telah selesai merapikan penampilan si kembar yang hendak diajak jalan-jalan oleh Dhafin di hari Sabtu ini. Ia mengamati penampilan mereka dari atas sampai bawah sekali lagi. “Anak-anak Mama udah cantik sama udah ganteng. Sekarang kita tunggu Papa menjemput, ya.” Setelah mendapatkan anggukan, Lora bangkit berdiri dan menghampiri Amina yang tengah bersiap. “Udah siap semuanya, Mbak Mina?” Amina memperbaiki letak tas punggung kecil yang berisi keperluan si kembar. “Udah, Mbak.” Lora maju satu langkah, menatap serius pengasuh si kembar ini. “Mbak, nanti kalau Mas Dhafin mengajak si kembar menginap, jangan izinkan. Pokoknya nggak boleh. Mbak Mina harus tolak dengan tegas.” “Nggak usah takut dipecat. Mbak itu kerja sama saya. Jadi, saya yang memutuskan apakah Mbak berhenti atau tetap lanjut kerja. Mereka sama sekali nggak punya hak,” titahnya memberikan briefing. Amina mengacungkan jempolnya. “Siap, Mbak Lora, tenang aja. Kalau udah dikasih tau begini, saya jad