Pagi kembali menyapa. Di dalam kamar rawat inap, Naina tengah duduk sambil merenung memikirkan mimpinya semalam.Dalam mimpi itu, Dhafin mengusap lembut dan mencium perutnya. Tak lupa, suaminya juga mengajak ngobrol sang calon buah hati entah tentang apa.Naina sempat berpikir bahwa itu benar-benar nyata. Namun ketika terbangun, Dhafin sudah tidak ada di ruangannya. Mungkin Dhafin pulang dari semalam saat dirinya terlelap.“Ternyata cuma mimpi,” gumam Naina.Mimpi yang sangat indah hingga terasa seperti nyata. Jika dipikir-pikir lagi, mustahil Dhafin melakukan itu. Selama ini, Dhafin selalu bersikap abai mengenai apapun yang menyangkut keadaannya.“Nainaaa….!”Naina sedikit tersentak dan tersadar dari lamunan panjangnya. Ia menoleh ke arah pintu dan mendapati Zelda yang berlari kecil menghampirinya.Zelda memeluk Naina erat. “Alhamdulillah, Ya Allah… akhirnya aku menemukanmu, Nai.”Perempuan itu melepaskan pelukan dan beralih menangkup wajah Naina. “Aku udah mencarimu kemana-mana. Kamu
Naina merenung mengingat semua perlakuan Dhafin di masa lalu. Suaminya itu memang terkadang memberikan perhatian kecil dibalik sifatnya yang dingin dan pemaksa.Sedikit banyak, ia berharap Dhafin akan berubah dan mampu menerimanya sebagai istri bukan pembantu ataupun pengasuh Altair. Namun, harapan itu langsung pupus ketika keesokan harinya Dhafin kembali ke mode awal.Bisa dibilang hari ini perhatian, besoknya cuek. Begitu terus hingga Freya kembali datang dan membuat Dhafin benar-benar mengabaikannya.“Aku bilang gini karena aku sayang banget sama kamu, Nai. Aku nggak ingin melihatmu terluka lagi.” Zelda menggenggam tangan sahabatnya.Naina membenarkan dalam hati. Sudah cukup penderitaannya selama empat tahun ini. Ia bertahan demi Altair agar putranya mendapatkan kasih sayang utuh dari keluarga Dhafin. Sekarang Altair udah tenang di surga sehingga tidak ada alasan baginya untuk tetap bertahan. Meski Dhafin udah tahu kehamilannya, Naina tetap pada keputusannya. Ia tidak akan kembali
“Paman?”Zelda mengangguk. “Iya, beliau pamanku.”“Kok bisa?” tanya Naina masih tidak percaya kalau Tuan Albern adalah paman Zelda.Zelda berdehem dan memperbaiki posisi duduknya. “Jadi gini, ayahku itu adiknya Uncle Albern. Mereka hanya dua bersaudara. Uncle itu orangnya sangat sibuk, jadi jarang berkunjung ke rumah.”“Terus kenapa kamu nggak pake marga–”“Starward?” potong Zelda yang dibalas anggukan kecil oleh Naina. “Kamu tau kan nama panjangku apa?”“Zelda Crescencia Putri Starla.” Naina mengeja nama lengkap Zelda sambil berpikir.Zelda menjentikkan jarinya. “Nah, nama Starla itu gabungan dari nama orang tuaku. Starward dan Kayla.”“Mereka memang sengaja nggak pakai nama Starward di belakang namaku biar adil. Kan dulu sempat ada debat dua keluarga besar,” jelasnya.Naina manggut-manggut mengerti. Ia benar-benar tidak menyangka Zelda memiliki identitas yang bukan main-main. Dari dulu, Zelda memang orangnya merakyat, supel, dan mudah bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status
Tuan Albern melirik Zelda sambil tersenyum miring. “Tanpa membantu anak yatim piatu pun, perusahaanku sudah berjaya dan menghasilkan keuntungan besar setiap bulan,” sahutnya.‘Sombong amat!’ Zelda menggerutu dalam hati dan sedikit mencibir. Sepertinya Tuan Albern Starward yang terhormat itu lupa jika setiap berapa bulan sekali Starward Group melaksanakan program CSR untuk warga sekitar. Salah satunya dengan menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan.Hal itulah yang membuat Starward Group semakin berjaya karena mendapatkan kepercayaan publik secara penuh. Bisa dibilang keuntungannya menjadi berkah.“Aku juga tidak ingin memasukkan pengkhianat dengan membawa wanita itu bersamaku,” tambah Tuan Albern lantas kembali fokus pada berkas.Dengan kata lain, pria itu menuduh Naina akan menjadi mata-mata yang berasal dari musuh bisnisnya. Zelda menggeleng pelan, tidak menyangka pamannya mempunyai pemikiran seperti itu.“Naina nggak kayak gitu, Uncle. Dia wanita baik-baik. Aku udah mengenaln
Dhafin berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit menuju ruang rawat inap Naina. Kaki panjangnya melangkah lebar hingga suara hentakan sepatunya di lantai terdengar jelas.Sebelum masuk, ia berhenti sejenak untuk mengatur napasnya yang sedikit ngos-ngosan. Tangannya menekan handle pintu itu ke bawah lantas mendorong masuk ke dalam.KosongTidak ada siapapun. Ruangannya juga terlihat sudah rapi dan bersih. Dhafin pun mencari Naina di seluruh penjuru ruangan ini bahkan sampai di kamar mandi. Namun, hasilnya nihil.Naina pergi ke mana? Apakah pulang sendiri ataukah sudah dijemput oleh orang lain?Tak ingin membuang waktu, Dhafin keluar ruangan dan langsung berpapasan dengan ibu-ibu petugas kebersihan rumah sakit. Ibu itu membawa troli yang berisi alat kebersihan.“Permisi, apakah anda yang membersihkan kamar ini?” tanyanya sambil menunjuk kamar rawat inap yang ditempati Naina.“Iya, saya baru saja membereskannya agar bisa ditempati oleh pasien baru,” jawab ibu yang mengenakan masker itu
Anaknya kembar!Iya, Dhafin akan mempunyai anak kembar. Pantas saja perut Naina terasa agak gimana gitu saat ia menyentuhnya. Ia merasakan ada sedikit tonjolan di sana meski dari luar tampak datar. Dan juga didukung dengan pakaian Naina yang selalu longgar.Dhafin menyunggingkan senyum tipis sambil mengusap lembut foto itu. Di dalam rahim Naina, ada dua anak yang sedang tumbuh dan berkembang. Tubuh mereka terlihat sudah terbentuk walaupun masih sangat kecil.Ada rasa yang sulit dijelaskan saat mengetahui fakta itu. Lagi-lagi Naina menyembunyikannya bahkan sudah selama itu. Jujur, ia merasa sedikit kecewa.Sebegitu tidak pentingnya kah Dhafin di mata Naina sampai-sampai hal sebesar ini disembunyikan?Ia ayahnya yang jelas mempunyai hak untuk tahu. Jika Naina tidak ingin memberitahukan kepada yang lain, dirinya tidak masalah. Setidaknya ia harus mengetahuinya lebih dulu.Dhafin menghela napas lalu menyandarkan tubuhnya. Ia teringat ketika pertama kali mengunjungi Naina. Tujuan utamany
“Nggak, Ma.” Dhafin menggeleng pelan lantas duduk di sofa single. “Aku ada pekerjaan di luar kantor sekalian mengunjungi kantor cabang.”Tentu saja jawabanya itu hanya kebohongan belaka. Dhafin memang belum memberitahu orang tuanya tentang Naina. Ia tidak menjamin mereka bakal senang dan antusias, mengingat Naina bukan menantu yang diinginkan.Ditambah lagi kini Naina kembali menghilang. Jadi, lebih baik ia merahasiakannya saja.“Mengunjungi kantor cabang?” Bu Anita mengerutkan keningnya tampak terheran-heran. “Ayahmu tidak bilang apapun mengenai kunjungan itu. Bukannya udah ada jadwalnya sendiri?” tanyanya.“Aku memang sengaja datang diluar jadwal, Ma, untuk melihat bagaimana kinerja mereka. Kalau diberitahu dulu, pastinya mereka akan melakukan persiapan dan tak jarang memanipulasi kenyataan yang ada.”Dhafin memberikan penjelasan yang masuk akal membuat sang ibu tampaknya langsung percaya.“Baguslah, memang lebih baik kamu jangan mencari Naina biar dia jadi gelandangan sekalian. D
Mobil merah dengan merek ternama itu melaju kencang membelah jalan raya Ibu Kota yang cuacanya sangat terik ini. “Hahaha…. Akhirnya kita terbebas dari si Dhafin.” Zelda tertawa puas dan merasa lega. “Tadi itu menegangkan banget tau nggak. Kamu juga jalannya cepat sampai-sampai membuat perutku kram.” Naina yang duduk di samping Zelda menyahut. Tangannya memegangi perutnya yang terasa kram. “Baru juga keluar rumah sakit, bisa-bisa masuk lagi.” Zelda terkekeh kecil lantas menunduk dan mengusap perut Naina. “O-ow… aku lupa ada keponakanku di sini. Aunty minta maaf, ya, Twins.” Ia kembali menatap Naina. “Aku melakukan itu biar kita nggak bertemu Dhafin.” “Aku tau.” Naina menarik napas dalam-dalam lalu dihembuskannya perlahan untuk meredakan kram di perutnya. Begitu terus hingga merasa lebih baik. “Masih kram?” tanya Zelda dengan nada khawatir. Naina menggeleng. “Udah mendingan.” “Alhamdulillah… aku bakal merasa bersalah banget kalau kamu kenapa-napa lagi gara-gara aku.”
Suasana dalam ruangan tiba-tiba terasa begitu berat. Seolah udara mendadak menipis, meninggalkan mereka dalam keheningan yang menyesakkan.Lora menatap Bu Anita dengan perasaan campur aduk. Wanita itu masih berusaha tersenyum, meski jelas terlihat ada kepedihan yang berusaha ia sembunyikan.“Iya, Lora, aku bahkan baru mengetahuinya.” Dhafin akhirnya bersuara setelah beberapa menit terdiam. Suaranya terdengar lelah.Ia menundukkan kepala, menatap jemarinya yang saling bertaut di pangkuan. “Mama begitu rapi menyembunyikan penyakit itu dari kita semua.”Pria itu menghela napas panjang sebelum melanjutkan, “Kata orang rumah, beberapa hari terakhir Mama sering mengeluh sakit perut. Aku sempat mengira itu hanya gangguan pencernaan biasa.”Tatapannya kemudian mengabur seakan-akan mengingat kejadian yang masih terekam jelas dalam benaknya.“Tapi saat jalan-jalan sama si kembar kemarin, aku mendapat telepon mendadak. Katanya Mama pingsan dan langsung dilarikan ke rumah sakit.” Rahangnya menge
Lora menelan ludah, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ada sesuatu dalam suara Dhafin yang membuatnya tak bisa menolak. Dengan langkah ragu, ia mengikuti Dhafin yang membuka pintu. Aroma khas rumah sakit langsung menyergap hidung begitu dirinya memasuki ruangan. Ruangan itu diterangi cahaya lampu temaram, memberikan kesan tenang namun juga penuh dengan kenangan yang menyesakkan. Di tengah ruangan, Bu Anita terbaring dengan tubuh lemah, selang infus masih terpasang di tangannya. Matanya terpejam, napasnya teratur meski tampak sedikit berat. Lora melangkah lebih dekat hingga berdiri di samping tempat tidur. Matanya menatap lekat wajah pucat Bu Anita—wanita yang dulu pernah bersikap semena-mena padanya, kini tampak begitu rapuh dan tak berdaya. Ada perasaan aneh yang menyeruak di dadanya. Bukan kebencian, bukan pula kepuasan melihat keadaan mantan mertuanya seperti ini. Yang ada justru sesak yang sulit dijelaskan. Ini adalah sisi lain dari Bu Anita, yang tak pernah ia
Grissham mengangkat bahunya dengan gerakan yang ringan, seakan tak terlalu memperdulikan topik yang sedang dibicarakan. Ia menghembuskan napas pelan sebelum kembali menatap Lora dengan sorot mata yang tenang namun dalam. “Karena aku sadar, Twins butuh ayah kandungnya, begitu pula sebaliknya. Aku tidak bisa egois hanya karena perasaan pribadiku.” Laki-laki itu meraih gelas jus di depannya, mengaduk isinya dengan sedotan tanpa benar-benar berniat meminumnya. Ada sedikit ketegangan di wajahnya, tetapi senyumnya tetap terukir tipis. “Aku ingin menjadi bagian dari mereka, tapi bukan dengan menghalangi hubungan mereka dengan Dhafin,” lanjutnya dengan suara lembut. Lora terdiam sejenak, meresapi kata-kata itu. Ia menggenggam tangan Grissham di atas meja, meremasnya lembut. “MasyaAllah... Kak Sham baik banget,” ucapnya dengan suara penuh ketulusan. Grissham tersenyum kecil, ibu jarinya mengusap punggung tangan Lora dengan lembut. “Bagiku, kebahagiaanmu dan anak-anak adalah yang paling u
[Lora, Mama sedang sakit dan sangat ingin bertemu denganmu. Bisakah kau menemui Mama?]Lora hanya membaca pesan yang dikirimkan oleh Dhafin beberapa menit lalu tanpa ada niatan untuk membalas.Raut wajah dan tatapannya datar terkesan jengah. Dalam hati, ia merasa jengkel dengan Dhafin yang tak berhenti mengusiknya.Bukannya Lora tidak percaya bila ibunya Dhafin sedang sakit. Hanya saja dari sekian banyaknya orang, kenapa Bu Anita ingin bertemu dengannya? Apa yang sebenarnya beliau inginkan?“Sayang….”Panggilan dengan suara lembut itu berhasil membuat Lora sedikit tersentak. Ia mengangkat kepala, mengalihkan tatapannya pada Grissham yang duduk di hadapannya.“Ada apa? Kenapa wajahmu cemberut begitu?” Grissham menyadari perubahan ekspresi Lora sesaat setelah membaca sesuatu dalam ponselnya.Lora keluar dari ruang obrolan bersama Dhafin dan langsung menutup aplikasi pesan. “Ini Mas Dhafin ngechat katanya Mama sakit dan ingin menemuiku. Dia minta aku menemui Mama.”“Lalu kau menjawab apa
Dhafin mendaratkan tubuhnya di kursi tunggu depan kamar inap setelah kepergian dokter. Kakinya terasa lemas hingga tak mampu lagi menopang bobot tubuhnya.Matanya yang tajam itu menatap kosong ke lantai rumah sakit. Apa yang baru saja disampaikan oleh dokter membuatnya seketika terkejut sekaligus syok.Dunianya seakan runtuh mengetahui fakta tak terduga yang selama ini disembunyikan oleh sang ibu.Kata-kata tentang penyakit parah yang diderita sang ibu menggema di kepalanya, berulang-ulang, seolah menolak untuk diterima. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek dan berat. Tangannya yang bertumpu di pahanya mengepal gemetar tanpa disadari.Dhafin merasa marah pada kenyataan yang begitu kejam. Kenapa ibunya harus menghadapi ini sendirian? Kenapa ia tidak diberi tahu sejak awal?Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyergapnya, menghantam dirinya tanpa ampun. Seharusnya Dhafin lebih peka, seharusnya ia menyadari ada sesuatu yang disembunyikan ibunya selama ini.Pria itu menjambak rambutnya fr
Lora paling lemah jika sudah bersangkutan dengan anak-anaknya. Ia tidak sanggup melihat mereka yang rewel seperti sekarang bahkan menangis kejer. Namun, tentu saja tidak semua keinginan mereka harus terpenuhi. Mereka harus belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini berjalan sesuai kemauannya. Ada kalanya harus mengalah dengan keadaan. “Mama, ayo.” Si kembar terus mendesak Lora agar ikut jalan-jalan bersama mereka. Lora kembali memejamkan matanya seraya menarik napas dalam-dalam. Baiklah, mungkin kali ini dirinya mengalah dulu. Kedepannya, ia akan bersikap lebih tegas lagi pada mereka. “Oke, Mama ikut,” putusnya dengan tangan mengusap kepala sang anak. “Yeayyy…!” Si kembar langsung bersorak senang lantas menghampiri sang ayah. “Ayo, Papa, kita belangkat.” Dhafin menatap sejenak Lora yang menampilkan wajah yang terkesan tidak ikhlas. “Ayo, Lora,” ajaknya sebelum menggandeng tangan si kembar dan menggiring ke mobil. Di dalam mobil, Lora memilih duduk di kursi belakang bersama Amina
“Udah siap.” Lora telah selesai merapikan penampilan si kembar yang hendak diajak jalan-jalan oleh Dhafin di hari Sabtu ini. Ia mengamati penampilan mereka dari atas sampai bawah sekali lagi. “Anak-anak Mama udah cantik sama udah ganteng. Sekarang kita tunggu Papa menjemput, ya.” Setelah mendapatkan anggukan, Lora bangkit berdiri dan menghampiri Amina yang tengah bersiap. “Udah siap semuanya, Mbak Mina?” Amina memperbaiki letak tas punggung kecil yang berisi keperluan si kembar. “Udah, Mbak.” Lora maju satu langkah, menatap serius pengasuh si kembar ini. “Mbak, nanti kalau Mas Dhafin mengajak si kembar menginap, jangan izinkan. Pokoknya nggak boleh. Mbak Mina harus tolak dengan tegas.” “Nggak usah takut dipecat. Mbak itu kerja sama saya. Jadi, saya yang memutuskan apakah Mbak berhenti atau tetap lanjut kerja. Mereka sama sekali nggak punya hak,” titahnya memberikan briefing. Amina mengacungkan jempolnya. “Siap, Mbak Lora, tenang aja. Kalau udah dikasih tau begini, saya jad
Lora mendelik kesal mendengar Dhafin yang seenaknya memutuskan sepihak. “Kamu pikir di rumah orang tuaku nggak aman? Aku nggak setuju! Azhar tetap akan pulang bersamaku,” tolaknya mentah-mentah.Bu Anita meraih tangan Lora untuk digenggamnya. “Dhafin benar, Lora. Biarkan Azhar pulang bersama kami. Kami akan merawatnya sampai benar-benar pulih.”“Kami merasa selama ini si kembar belum pernah main ke rumah. Mama ingin banget dekat sama cucu Mama. Nggak salah kan? Mama rasa mereka nggak terlalu dekat dengan keluarga kami,” timpalnya.Lora menarik tangannya pelan dan tersenyum miring. “Bukankah aku udah membebaskan kalian bertemu dengan si kembar kapanpun dan dimanapun?”“Iya, tapi belum pernah menginap. Kami cuma bertemu beberapa jam aja,” balas Bu Anita dengan sabar.“Kamu jangan egois, Lora. Aku juga ayahnya si kembar dan punya hak yang sama. Aku ingin ada pembagian waktu menginap di rumahku juga mulai sekarang,” ucap Dhafin yang terkesan memaksa.Lora menghela napas panjang dan mengal
“Mama… mau pulang.”Lora menghentikan gerakan tangannya yang hendak mengambil sesendok bubur, sarapan Azhar pagi ini. “Iya, Sayang, nanti Azhar akan pulang, tapi tunggu Om Dokter memeriksa dulu, ya.”“Mau pulang sekalang, Mama. Mau pulang… mau pulang…” rengek Azhar seraya menggeleng keras.Lora mengusap lengan kecil sang putra lembut, berusaha memberikan pengertian. “Azhar pasti pulang kok, tapi nggak sekarang. Dahinya biar diperiksa dulu sama Om Dokter, oke?”Ia mengambil sesendok bubur lalu menyodorkanya ke depan mulut Azhar. “Ayo, mamam lagi. Aaa….”“Ndak mau.” Azhar kembali menggeleng seraya menutup mulutnya menggunakan satu tangan. Sementara tangan satunya mendorong pelan tangan sang ibu yang memegang sendok.Lora menghela napas panjang dan meletakkan semangkuk bubur yang masih tersisa sedikit di atas nakas. Ia mengambil segelas air minum yang sudah dilengkapi sedotan lalu memberikannya pada Azhar. “Ini minum dulu, Nak.”Wanita itu mengusap bibir putranya setelah menyelesaikan s