“Akhirnya sampai rumah juga. Aduh, punggungku!”
Pagi ini Tantri dan Harto sudah kembali. Tantri melangkah terseok-seok dengan tangan membawa beberapa tas sambil sesekali mempermasalahkan sakit punggungnya. Ranaya segera berhambur ke arah ibu mertuanya. Tangannya cekatan menyambar sejumlah tas yang tengah ditenteng Tantri. “Aku bantu bawakan ya, Ma. Mama rehat dulu saja. Aku juga sudah masak ayam goreng lengkuas dan sup sayur untuk sarapan,” tukas Ranaya. Ia kemudian sibuk meletakkan barang bawaan Tantri tadi. Sembari memijat punggungnya, Tantri mengekor di belakang Ranaya dan duduk di salah satu kursi meja makan. “Alhamdulilah, beruntung sekali Mama punya menantu sebaik dan sepintar kamu, Ranaya. Terima kasih, ya.” Tantri menghela napas penuh kelegaan sewaktu menyaksikan makanan yang dimasak Ranaya telah berjejer rapi di depannya. “Sama-sama, Ma. Tahu dan tempe yang ada di kulkas juga sudah aku olah.” Ranaya lantas menyingkap salah satu sajian dan menunjukkan hasil gorengannya tadi pagi. “Wah, mantap! Kebetulan Papa juga sudah lapar ini.” Harto yang melangkah masuk dengan membawa barang yang lebih berat sempat melirik ke arah meja dengan senyuman lebar. “Ada yang perlu dibantu bawakan nggak, Pa?” Ranaya menawarkan diri. “Sudah nggak ada. Di mobil sudah nggak ada barang lagi,” sahut Harto ikut nimbrung di meja. Mereka mulai mengambil nasi. Tetapi, tiba-tiba saja gerakan tangan Tantri berhenti. Wanita itu sempat mengitarkan pandangan ke sekelilingnya. “Lo, mana Sagara? Kok dari tadi nggak kelihatan?” tanyanya. Secara refleks Ranaya menatap jam yang tergantung di dinding. Jarum jam singgah di angka tujuh. Ranaya mencoba memeras pikirannya untuk mencari alasan. Tentu saja Ranaya tahu kalau Sagara memulangkan perempuan yang dibawanya dari subuh tadi. Tapi, ia tak menyangka jika sampai sekarang ia belum kembali juga. “Hmm … Mas Sagara tadi bilang mau ke mini market terdekat, Ma. Ada barang yang harus dia beli.” Tantri manggut-manggut. Tepat saat itu Sagara membawa langkahnya masuk dengan tak membawa apa pun di tangannya. “Sagara, mana barang belanjamu? Kamu beli apa?” Mata Tantri meneliti Sagara yang berhenti di depan mereka. Sagara sempat melirik Ranaya tanpa ekspresi. Tadi sewaktu kemari, telinganya sempat menangkap Ranaya yang mencari alasan untuk kepergiannya pagi ini. “Aku beli minyak angin, Ma. Sudah aku taruh mobil,” ucapnya acuh tak acuh, lalu kembali melangkahkan kaki. “Oh, kalau gitu cepat mandi dan sarapan bareng. Ranaya sudah masak ayam goreng lengkuas.” Tantri setengah berteriak sebab Sagara terlihat buru-buru menapaki tangga. “Aku nggak ikut sarapan, Ma. Jamnya sudah mepet.” Tanpa menoleh Sagara tetap melanjutkan langkahnya. Ranaya menekuk bibir samar. Kini pandangannya terlempar pada salah satu sajian di meja. Ia kecewa Sagara tak mau makan hasil masakannya hari ini. Padahal Ranaya tahu, suaminya itu sangat menyukai ayam goreng lengkuas. *** “Ranaya, tolong antar bekal ini ke kantor Sagara, ya.” Ranaya termangu menyaksikan Tantri sudah mengulurkan tangan dengan bekal yang tersusun rapi di dalam tas. “Sagara kan suka makan ayam goreng lengkuas. Biar dia semangat kerja,” tambah Tantri meyakinkan keraguan Ranaya. “Hmm, tapi─tapi Mama ikut, kan?” Tantri langsung melengkungkan bibirnya. “Ya, nggak dong, Ran.” Ia meringis sambil memegang bagian punggung, lantas melanjutkan, ”Punggungku kan masih sakit.” Ranaya tetap bergeming. Sebenarnya ia mau melakukannya. Namun, bagaimana nanti respons Sagara jika tahu dirinya mengunjungi kantor? Tetapi, pada akhirnya Ranaya tetap berangkat demi Tantri. Sepanjang perjalanan Ranaya berusaha menghalau berbagai pikiran. Ia melempar pandang ke sana kemari, namun rasanya semua yang ia lakukan percuma. Hingga akhirnya taksi yang ia tumpangi menepi dan berhenti tepat di sebuah gedung megah dengan tulisan “PT. Wiratama Group” terpampang besar di sana. Ranaya menelan ludah begitu ia berdiri di depan kantor milik keluarga Sagara sementara taksi tadi sudah melaju meninggalkannya. Perempuan itu saling menautkan jemarinya, lalu dengan berat hati mulai melangkah. “Selamat pagi, Bu.” Seorang sekuriti membukakan pintu dan menyapanya ramah. Ranaya mengangguk canggung. Tetapi berikutnya kepercayaan dirinya kian runtuh saat mendapati tatapan terkejut dari sebagian karyawan di sana. Beberapa dari mereka justru terlihat memandangnya penuh keheranan. “Selamat pagi, Bu Ranaya. Tumben Anda berkunjung ke kantor,” sapa salah satu karyawan dengan senyum segan. “Oh, saya cuma mau mengantar bekal untuk Pak Sagara,” aku Ranaya. Karyawan tersebut lantas mempersilakan Ranaya untuk melanjutkan perjalanan. Ranaya merasa orang-orang tadi langsung berkasak-kusuk di belakangnya begitu ia pergi. Mencapai ruang Sagara, Ranaya mendorong pintu dan bertemu dengan seorang perempuan cantik berambut panjang nan indah. Ruang Sagara memang didesain unik. Begitu masuk, tamu akan menemui sekretaris dulu baru kemudian diteruskan ke ruang di mana Sagara berada. Awalnya perempuan muda yang ditaksir seumuran dengannya itu terkejut menyaksikan Ranaya datang ke sini. Setelah itu, ia bangkit. Menyambut Ranaya dengan riang dan senyumnya yang memesona. “Loh, Bu? Ada keperluan apa kemari?” tutur perempuan tersebut ketika mendekat. Ranaya mengernyit samar. Ia tidak ingat siapa wanita berpenampilan feminim yang ada di hadapannya sekarang. Namun, entah kenapa rambut panjang dan suaranya terasa sedikit familier bagi Ranaya. Merasa pandangan Ranaya aneh, perempuan itu kemudian berujar, “Oh, maaf, sepertinya saya lupa memperkenal diri dulu. Saya Sherly, Bu, sekretaris pribadi Pak Sagara.” Ranaya sedikit menimbang-nimbang dan secara tak sadar menatap Sherly dari atas ke bawah. Kalau tidak salah lihat … perempuan inilah yang dibawa Sagara ke rumah kemarin sore. Dada Ranaya jadi sesak mengingatnya. “Saya hadir lo di acara pernikahan Anda dan Pak Sagara. Anda ingat, kan?” Sambil tersenyum lebar, Sherly beberapa kali mengerjapkan matanya. Perempuan yang dihadapinya sekarang cantik dan sangat imut, Ranaya membatin. Ia memperbaiki kacamatanya dan menyunggingkan senyum simpul untuk menanggapi. “Iya, terima kasih. Saya ingat, kok.” Ranaya berbohong. Ia tidak ingat apa pun soal Sherly kecuali rambut panjangnya dan suara yang mendayu manja. “Boleh saya bertemu Pak Sagara?” lanjutnya. Ia merasa kurang nyaman berada di dekat Sherly yang bersikap sok akrab dengannya. Padahal mereka tak pernah dekat. “Oh, tentu boleh dong, Bu. Mari saya antar.” Ketika Sherly hendak menggandeng tangan Ranaya, Ranaya segera menarik tangannya bahkan sebelum perempuan itu menyentuh kulitnya. “Bukannya kamu harus konfirmasi dulu ke Pak Sagara, ya?” tanyanya memastikan. Sherly hanya tertawa. “Ah, nggak dong, Bu. Nggak perlu. Anda kan istrinya.” Ranaya mencoba mengikuti, sementara Sherly berjalan mendahului. Perempuan tersebut membuka pintu ruang Sagara. Sagara waktu itu sedang melangsungkan pembicaraan lewat telepon. Melihat Ranaya, wajah Sagara langsung mengeras. “Iya, kita bicarakan lagi lain waktu. Nanti saya hubungi lagi.” Sagara lekas menyudahi teleponnya dengan tatapan tajam yang masih terhunjam lurus ke arah Ranaya. “Kenapa kamu di sini?!” gertak Sagara. Ranaya perlahan mendekat. Tangannya meletakkan tas yang dibawakan ibu mertuanya tadi. “Maaf, Mas. Aku cuma mau ngantar bekal. Mama yang nyuruh,” akunya. Sagara mengatupkan rahang, lantas menggeser pandangan ke Sherly yang masih bertahan di sana. “Kenapa kamu nggak tanya dulu? Siapa pun tamunya, kamu wajib lapor dulu.” Sherly menyatukan alis. Tidak terima dengan ucapan Sagara. “Tapi kan Bu Ranaya itu istri Anda, Pak. Masa diperlakukan sama dengan tamu lain,” protesnya. Ia lalu berpaling pada Ranaya, meraih kedua tangan Ranaya dan menggenggamnya erat. “Maaf ya, Bu. Ini semua salah saya. Hmm saya pikir nggak apa-apa karena Anda itu istrinya.” Tatapan Sherly beralih kepada Sagara. Ia lantas berucap, “Maaf juga ya, Pak. Tolong salahkan saya saja. Bu Ranaya tadi hanya diam dan menuruti apa kata saya.” Ranaya menarik napas hendak menyahut. Bukankah tadi ia sudah memastikan untuk konfirmasi dulu? Ia tidak sebodoh seperti yang Sherly katakan. “Harusnya dia tahu bagaimana tata krama bertamu itu.” Alih-alih merespons ucapan Sherly, Sagara justru tetap menyalahkan Ranaya. Matanya seakan menguliti semua kesalahan perempuan itu. “Sekarang juga kamu pergi dari sini! Aku nggak mau melihat kamu menginjak kantorku, kecuali di depan Mama.”Ranaya tertegun atas ucapan Sagara yang mengusirnya. Karena tak mau berlama-lama juga di tempat ini, ia menggiring kakinya cepat keluar ruangan. Begitu ia menutup pintu yang ada di belakangnya, air mata Ranaya segera membludak. Kerongkongannya panas, seperti ada sesuatu yang nyaris menggelegak dari sana. Ranaya kemudian memutuskan untuk pergi ke toilet. Lorong kantor terasa begitu sunyi. Langkah Ranaya semakin cepat, mencoba mengabaikan sejumlah pandangan aneh yang orang-orang hunjamkan ketika berpapasan dengannya. Tetapi, ia tak bisa menolak untuk tak mendengar bisikan di sekitarnya. "Kasihan ya istrinya Pak Sagara," ujar salah seorang karyawan perempuan sambil terkikik pelan. "Kalau aku jadi dia mending cerai aja. Udah jelas kalah saing sama Sherly, kan?" sahut yang lain tak kalah tajam. Ranaya menggigit bibir bawah. Rupanya benar dugaannya, Sherly perempuan sama yang dibawa Sagara ke rumahnya semalam. Ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis di sana. Namun, hatinya
Langkah Ranaya terasa semakin berat begitu ia tiba di rumah sakit. Ia berlari-lari melewati lorong yang panjang, dengan tangan mencengkeram erat tas selempangnya. Napasnya memburu, sementara pikirannya tak karuan. Sepasang matanya memindai cepat demi menemukan keberadaan ibunya. Segera setelah menangkap sosok wanita berambut pendek ikal yang duduk di kursi tunggu dengan wajah sembap dan tubuh ringkih, Ranaya berhenti mendadak. “Bu!” serunya melangkah cepat mendekati. Ida mengangkat wajah. Matanya cekung, garis-garis lelah di wajahnya tampak semakin jelas. Begitu melihat putrinya, ia langsung bangkit dan berhambur memeluk Ranaya erat. Tangisannya pecah di bahu anaknya. “Ran … Bapakmu, Nak ….” suaranya parau. Bahkan hampir tak terdengar di antara isak tangisnya. Ranaya memejamkan mata. Roboh sudah pertahanan dirinya. Kondisi rapuh lelaki yang merupakan cinta pertamanya membuat kekuatannya musnah tak tersisa. Air mata mulai mengalir di pipi Ranaya. Ia menarik napas dalam-dal
Mau tak mau Ranaya menghentikan langkahnya, dan buru-buru menoleh ke arah sumber suara. Jantungnya berdegup kencang. Tantri muncul dengan air muka cemas. Rambutnya sedikit berantakan. Sementara itu, dua sosok lain mengekor di belakangnya. Ranaya menggigit bibir. Ia menarik kembali langkah kakinya dari anak tangga yang sudah ia tapaki tadi, lantas memilih mendekat. “Ma … maafkan Ranaya. Tadi pagi setelah mengantar bekal aku mendadak pergi ke rumah sakit. Ayah masuk rumah sakit lagi. Ibu juga sempat pingsan, jadi aku harus merawatnya dulu sebelum pulang.” “Rumah sakit? Ada apa? Sakit bapakmu kumat lagi, Ran?” kejar Tantri. Setelah itu ia mendesah panjang. “Kenapa kamu nggak kasih kabar sama sekali?” Tantri kini berjalan mendekati menantunya. Harto pun yang mengenakan sarung dan kaus lengan panjang turut menghampiri. Namun, tidak dengan Sagara yang masih bergeming di tempat sembari mengatupkan rahang. “Benar, Ma. Sakit jantung bapak kumat sampai tadi sesak napas. Maaf, aku ngg
Pagi ini Ranaya sedang tak nafsu makan. Mata sayunya memandangi makanan dan memaksa menelan meski rasa hampa menyerangnya. Bagaimana tidak, semalam ia pura-pura tidur ketika Sagara melakukan video call dengan perempuan lain. Bahkan telinganya menangkap semua momen romantis keduanya. Ranaya menyendokkan sarapannya dan mengunyah tanpa tenaga. Hatinya begitu perih. Walau ia mendapat ibu dan ayah mertua yang baik, tetapi apa gunanya jika tak bisa memiliki raga maupun cinta dari Sagara? “Aku ingin pindah rumah.” Ucapan tegas Sagara tak pelak membuat semua mata tertuju kepadanya, terutama Ranaya yang sangat syok atas keras kepala suaminya. Apa sebegitu inginnya dia dengan Sherly hingga tetap bersikukuh memperjuangkan tekadnya? “Apa? Nggak bisa. Kalian nggak boleh pindah!” Tubuh Tantri yang duduk di samping Ranaya menegang. Sepasang matanya membulat seakan hendak keluar dari rongganya. “Ma, kenapa? Aku dan Ranaya kan sudah menikah. Kami juga butuh ruang.” Napas Ranaya tercekat. Bu
Ranaya membeku di tempat. Tangannya gemetar memegang tali lingerie yang terasa seperti belenggu di tubuhnya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri dan menghalau gambaran tubuh kekar nan seksi milik Sagara yang membayang. Pikirannya sudah melanglang ke mana-mana. Ia begitu ketakutan sampai lupa bernapas dengan normal. Baru saja tangan Sagara hendak menyobek pakaian tipis yang dikenakan Ranaya ketika tiba-tiba ponsel pria itu berdengung panjang di atas nakas dekat ranjang. Sagara mengerutkan dahi, melirik layar ponsel itu. Kemudian ia menghela napas sebelum mengambilnya. Wajahnya yang semula tegang penuh kendali berubah menjadi seterang mentari. “Kenapa menelepon jam segini?” gumamnya sambil menekan tombol hijau di layar. Ini tertalu awal untuk mereka berkomunikasi lewat telepon. Biasanya mereka menunggu larut malam dulu hingga penghuni rumah terlelap dalam mimpi masing-masing. Ranaya perlahan ikut bangkit. Ia duduk terpaku menunggu apa yang terjadi. “Halo?”
“Sagara, kamu mau ke mana?” Mata Tantri memindai penampilan anaknya yang malam ini baru saja keluar kamar sementara penghuni lain sudah siap di meja makan. Ranaya yang baru saja meletakkan panci sup panas di tengah ikut memperhatikan suaminya yang kini sudah tampak rapi mengenakan setelan tuksedo. “Ketemu kolega sebentar,” sahut Sagara acuh tak acuh, lantas kembali menggiring kakinya. Namun, dengan gerakan cepat juga Tantri berdiri untuk menghentikan langkah pria tersebut. “Eits, tunggu, Sagara! Tunggu dulu!” serunya. Sagara menurut. Tetapi kemudian menghela napasnya panjang. “Kamu ketemu kolega kok nggak ngajak istrimu, sih! Ayo, Ranaya, kamu ikut Sagara sekarang.” Tantri berusaha menarik tangan Ranaya agar lekas berdiri. Di sisi lain, Ranaya kebingungan. Matanya beralih cepat dari Tantri ke Sagara sambil bangkit dengan ragu. Dari tatapan yang Sagara layangkan, jelas saja pria itu tak setuju. Ranaya jadi tidak enak, lalu mencoba berkilah. “Tapi, Ma─” “Ssttt, ikut kata
“Maaf, Mas ….” Ranaya begitu terpana oleh karena ucapan keras Sagara yang baru saja terlontar. Usai mengatakan unek-unek yang sempat menyumbat kepalanya, Sagara menggertakkan gigi dan cepat memalingkan muka, lantas segera menginjak rem hingga membuat Ranaya terkejut sebab tubuhnya sempat terpental. Sagara begitu kesal. Acara resmi yang seharusnya berpeluang besar untuk menghimpun banyak relasi ternyata justru berantakan. Tak terasa tangannya mencengkeram setir dengan erat. Rahang Sagara mengeras, dan napasnya terdengar berat. Sejak kejadian di acara tadi, pikirannya tidak bisa lepas dari tatapan Pak Arman. Tatapan itu adalah pengingat pahit dari masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Namun kini bayang-bayang itu muncul lagi, merusak konsentrasinya yang semakin tak karuan. *** Keesokan paginya, Ranaya bangun lebih awal seperti biasa. Meski hatinya terluka, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia menyiapkan sarapan dan menyetrika baju kerja Sagara. Setelah selesai,
Pernyataan yang tengah dipikirkan itu seperti petir di siang bolong bagi Ranaya. Ia merasa seluruh tubuhnya membeku. Karena tak segera menjawab pertanyaannya, Tantri kemudian menoleh di tengah ia memutar setir kemudinya. “Ranaya? Kenapa? Kok malah melamun?” Tantri mengucapkannya sembari menautkan alis. Ranaya buru-buru mengemasi semua pikirannya. Ia lalu menggeleng. “Oh, nggak apa-apa, Ma. Aku cuma penasaran,” sahut Ranaya akhirnya. Ranaya menyandarkan kepala ke jendela mobil di sisinya. Diam-diam ia ingin tahu semuanya. Bagaimana hubungan antara Sagara, Sherly, dan Tantri yang sesungguhnya. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya mencapai rumah. Keduanya melangkah beriringan. Tantri membawa tas yang tadi dibawakan oleh Mayang sebelum pulang. “Terima kasih lo, Ran, sudah mau nemenin Mama. Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu,” ungkap Mama tatkala mereka berpisah. Ranaya menuju kamar, sementara Tantri harus menyimpan dulu bahan makanan pemberian dari Mayang
"Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t
Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b
"Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala
“Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na
"Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan
Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca
Ruangan itu seketika hening. Hanya suara gesekan kain yang terdengar saat Radeva sibuk kembali melipat baju kecilnya. Tapi, kepala Ranaya masih dipenuhi kalimat barusan.Setelah mengatakannya, Radeva memang sibuk sendiri lagi dalam merapikan baju-baju di depannya. Namun, ungkapan anak itu rupanya berdampak cukup dalam pada Ranaya. Tanpa sadar, bibirnya jadi tertekuk murung."Jadi Deva nggak bahagia kalau sama Mama?" tanyanya berusaha tetap tenang.Radeva menoleh cepat. Wajah imutnya terlihat bingung. "Bukan gitu, Ma. Depa bahagia kok hidup dan punya mama sepelti Mama.""Tapi setelah beltemu Om Papa, Depa jadi ingin selalu dekat dengan Om Papa."Jantung Ranaya mencelos. Selama ini, ia berusaha membangun dunia yang cukup untuk anaknya. Namun, hanya dalam sekali pertemuan dengan Sagara, dunia yang ia bangun itu terasa goyah.Ranaya lantas tersenyum tipis, tapi perih di hatinya tidak bisa diabaikan."Om Papa itu baik banget, Ma. Aku melasa nyaman dan cocok. Mungkin sepelti itu ya yang dil
"Kok kamu yang ngangkat HP suamiku? Di mana Mas Harto?"Cengkeraman Tantri pada ponselnya mengerat. Matanya menyipit curiga. Sementara kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan berbagai dugaan.Dari seberang, terdengar suara Mayang yang terdengar sedikit tergagap. "Oh, ini … ceritanya panjang, Tantri.""Cepetan kalau ngomong, aku nggak punya waktu! Aku lagi butuh suamiku sekarang. Kondisinya mendesak ini!" dengus Tantri langsung. Kesabarannya menipis oleh karena Mayang tak segera memberi jawaban yang jelas.Mayang terdengar menarik napas sebelum menjelaskan, "Iya, iya, baik. Aku minta maaf. Jadi, tadi aku nggak sengaja lewat jalan dan tahu mobilmu macet. Aku menawarkan bantuan, tapi suamimu bersikeras membenahi mobilnya sendiri. Terus ada telepon dari kamu, jadi aku angkat dulu karena tangan Pak Harto masih kotor.”Kini tangan Tantri yang tengah memegang ponsel sedikit bergetar. Ia berpikir tetap ada yang terasa janggal. Ia punya prasangka di tengah rasa cemburu yang mendadak ban
Sagara mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah di ambang batas."Brengsek! Jangan berani-beraninya kamu ngancem aku!"Teriakannya menggema di kafe yang ramai pengunjung. Matanya menyalang, menatap Rio seakan ingin meremukkan pria itu hidup-hidup. Ia tak terima jika ada seseorang yang ikut campur tentang kehidupannya, apalagi tentang hal yang menjadi ketakutannya selama ini.Bagaimanapun Rio, si pria kurang ajar itu tak berhak membahasnya!Namun, detik berikutnya, kepalanya mendadak berdenyut kencang. Pusing. Pandangannya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.Masa lalu itu .…Bayangan mengerikan yang selama ini terkubur jauh di dalam pikirannya kini muncul kembali ke permukaan. Tubuhnya menegang, rasa mual naik ke tenggorokan.Di hadapannya, Rio mengulum senyum simpul. Wajahnya penuh kemenangan."Kenapa? Bukannya impas?" Suaranya merendah. Tapi nada mengejek itu begitu kentara."Karena