Langkah Ranaya terasa semakin berat begitu ia tiba di rumah sakit. Ia berlari-lari melewati lorong yang panjang, dengan tangan mencengkeram erat tas selempangnya.
Napasnya memburu, sementara pikirannya tak karuan. Sepasang matanya memindai cepat demi menemukan keberadaan ibunya. Segera setelah menangkap sosok wanita berambut pendek ikal yang duduk di kursi tunggu dengan wajah sembap dan tubuh ringkih, Ranaya berhenti mendadak. “Bu!” serunya melangkah cepat mendekati. Ida mengangkat wajah. Matanya cekung, garis-garis lelah di wajahnya tampak semakin jelas. Begitu melihat putrinya, ia langsung bangkit dan berhambur memeluk Ranaya erat. Tangisannya pecah di bahu anaknya. “Ran … Bapakmu, Nak ….” suaranya parau. Bahkan hampir tak terdengar di antara isak tangisnya. Ranaya memejamkan mata. Roboh sudah pertahanan dirinya. Kondisi rapuh lelaki yang merupakan cinta pertamanya membuat kekuatannya musnah tak tersisa. Air mata mulai mengalir di pipi Ranaya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguatkan diri. “Bu, tolong ceritakan Bapak kenapa?” tanyanya panik sambil mengusap punggung ibunya. Bu Ida melepaskan pelukan dan menatap Ranaya dengan mata merah. “Bapakmu … jantungnya. Tiba-tiba tadi dia sesak napas. Dokter bilang harus segera masuk ICU.” Jantung Ranaya seolah berhenti berdetak sejenak. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba memahami situasi yang diceritakan. Ayahnya, Sugik, selama ini selalu terlihat sehat. Meski usianya tak lagi muda, pria itu tetap kuat bekerja keras untuk menghidupi keluarga mereka. Dan, paling mengherankan, ayahnya tak punya riwayat jantung, tak punya hipertensi atau penyakit yang bersangkutan dengan jantung. Gaya hidup pria paruh baya tersebut juga terbilang sehat dengan selalu menjaga asupan makannya. Mengurangi konsumsi gula, garam, makanan bersantan, juga makanan bertepung. Bagaimana mungkin kini ia terbaring lemah di ruang ICU? Tak berapa lama seorang dokter terlihat berjalan keluar dari ruang bilik ICU. “Ada keluarga dari Bapak Sugik Hadiwijanto?” Ranaya lantas menggandeng ibunya dan mendekat. “Kami keluarganya, Dok. Bagaimana keadaan beliau?” tanya Ranaya. “Pasien telah siuman. Kami sudah memeriksa semuanya dan memutuskan untuk merawat beliau di ruangan khusus hari ini juga.” Ranaya kemudian mengikuti apa saran dokter dan mengurus seluruh administrasi pemindahan ruang rawat ayahnya. Baik Ranaya maupun ibunya kini menunggu dengan harap-harap cemas di luar sementara beberapa tenaga medis tengah memasangkan sejumlah alat seperti monitor, ventilator, dan sebagainya. “Ran, masuklah. Temui bapakmu dulu,” ucap Ida begitu tenaga medis tadi keluar ruangan. Ranaya langsung membawa kakinya menuju ruang rawat Sugik tanpa menunggu lebih lama lagi. Begitu ia masuk, aroma khas rumah sakit yang menusuk hidung bercampur dengan suasana sunyi yang mencekam menyambutnya. Matanya segera menemukan sosok ayahnya yang terbaring di ranjang dengan selang oksigen terpasang di hidung. Ayahnya terlihat begitu pucat. Tubuh yang dulu kokoh kini tampak lemah dan layu. “Bapak ….” lirih Ranaya sambil mendekati ranjang. Mendengar suara putrinya, Sugik membuka mata perlahan. Sebuah senyum tipis terlukis di bibirnya meski jelas terlihat betapa lemahnya ia. Tampak tulang pipi pria itu menyembul. “Ranaya … kamu datang,” suaranya serak. Bahkan nyaris tak terdengar. Ranaya langsung meraih tangan ayahnya yang dingin dan kurus. Air matanya kembali tumpah. Ia tak bisa menahan rasa sesak di dadanya. “Gimana keadaan Bapak? Bapak ngerasain gejala apa sebelumnya? Kenapa nggak cerita ke aku atau ibu?” tanyanya dengan suara bergetar. Pak Sugik tersenyum. “Nggak perlu. Kamu kan sudah punya banyak beban sendiri. Nggak perlu pikirkan Bapak lagi. Bapak baik-baik saja .…” “Baik-baik saja gimana, Pak? Lihat diri Bapak sekarang,” bisik Ranaya tak kuasa menahan tangisnya. “Bapak selalu bilang nggak apa-apa, tapi akhirnya kayak gini. Aku nggak mau Bapak kenapa-kenapa .…” Sugik mengangkat tangan dengan susah payah demi menyentuh kepala putrinya. “Kamu nggak boleh menangis seperti ini, Nak. Lihat, kamu jadi nggak cantik. Anak Bapak harus selalu tersenyum, harus selalu bahagia. Karena dengan begitu anak Bapak tambah kelihatan cantik.” Ranaya terisak semakin keras. Bagaimana mungkin ayahnya masih sempat bercanda dalam kondisi seperti ini? Apalagi beliau secara terus terang ingin dirinya selalu bahagia. ‘Ranaya juga ingin Bapak sembuh.’ ujarnya dalam hati. “Ran, gimana kabar kamu sama Sagara? Dia baik sama kamu, kan?” tanya Pak Sugik tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Ranaya tercekat. Ia tahu ia harus berbohong. Tak mungkin ia menceritakan kenyataan bahwa pernikahannya dengan Sagara tidak membawa kebahagiaan dan justru menghancurkan perasaannya. Suaminya itu bahkan terang-terangan berselingkuh di hadapan Ranaya. Namun, ia tak ingin ayahnya khawatir. “Baik kok, Pak. Bapak tenang saja,” responsnya dengan suara kecil. Ia berusaha mengulas senyum di bibir agar terlihat meyakinkan. Sugik tersenyum tipis. “Syukurlah. Bapak tahu Sagara anak yang baik. Bapak nggak mungkin salah pilih.” Ranaya hanya bisa menggigit bibir. Ia menahan rasa perih yang menyeruak di hatinya. Ia tahu, ayahnya percaya sepenuhnya pada Sagara. Dan kepercayaan itu kini terasa seperti belati yang menusuk jantungnya. Setelah beberapa saat berbicara, Ranaya memutuskan untuk meninggalkan ruangan agar ayahnya bisa beristirahat. Dengan langkah gontai, ia keluar dan mencari ibunya. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara percakapan dari sebuah ruangan kecil di dekat lorong. Ia mengenali suara dokter yang sedang berbicara dengan ibunya. “Bu Ida, sebenarnya ini semua karena Pak Sugik terlalu lama menyembunyikan kondisinya. Beliau hanya memiliki satu ginjal saat ini, dan itu sudah sejak lama,” kata dokter itu. Ranaya membelalak. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Ginjal … satu?” bisiknya. Tak sadar suaranya bergetar. Ia segera mendekat, masuk ke ruangan kecil itu tanpa pikir panjang. “Dok, apa maksudnya bapak saya cuma punya satu ginjal?” sambarnya langsung. Matanya tampak menuntut. Dokter terlihat terkejut melihat kedatangannya. Namun, sebelum ia sempat menjawab, panggilan darurat dari rekannya membuatnya terpaksa pergi. “Maaf, saya harus segera ke ruang lain. Nanti kita lanjutkan pembicaraan ini,” tekan dokter itu sambil berlalu. “Dok, tunggu! Mohon jelaskan dulu!” Ranaya berseru di sela tangisnya. Tetapi, dokter itu sudah menghilang di balik lorong. Ia beralih menatap ibunya, yang kini tampak linglung. “Bu, Ada apa ini?! Apa maksudnya Bapak cuma punya satu ginjal?” tuntutnya lagi sembari mengguncang kedua bahu Ida. Suaranya terdengar meninggi. Namun, Ida hanya terdiam. Wajahnya mendadak pucat, dan beberapa detik kemudian tubuhnya justru ambruk di lantai. “Bu!” Ranaya berteriak panik, lalu langsung memeluk ibunya yang tak sadarkan diri. Air mata kembali membanjiri wajah Ranaya. Dalam sekejap, semua dunia seolah runtuh di hadapannya. Ayahnya sakit parah, dan kini ibunya pingsan. Hari semakin malam. Beruntung Ida sempat siuman sehingga Ranaya bisa kembali ke rumah. Ia pun tak menyangka harus pulang selarut ini. Ranaya melangkah mengendap-endap sewaktu melewati ruang tengah. Hal ini sengaja ia lakukan agar orang rumah tak khawatir. Lagian ia juga lupa mengabari ibu mertuanya jika ia harus menjenguk ayahnya yang sakit. Namun, baru saja kakinya menapak anak tangga, lampu ruang tengah tiba-tiba menyala. “Ranaya, kamu dari mana saja?”Mau tak mau Ranaya menghentikan langkahnya, dan buru-buru menoleh ke arah sumber suara. Jantungnya berdegup kencang. Tantri muncul dengan air muka cemas. Rambutnya sedikit berantakan. Sementara itu, dua sosok lain mengekor di belakangnya. Ranaya menggigit bibir. Ia menarik kembali langkah kakinya dari anak tangga yang sudah ia tapaki tadi, lantas memilih mendekat. “Ma … maafkan Ranaya. Tadi pagi setelah mengantar bekal aku mendadak pergi ke rumah sakit. Ayah masuk rumah sakit lagi. Ibu juga sempat pingsan, jadi aku harus merawatnya dulu sebelum pulang.” “Rumah sakit? Ada apa? Sakit bapakmu kumat lagi, Ran?” kejar Tantri. Setelah itu ia mendesah panjang. “Kenapa kamu nggak kasih kabar sama sekali?” Tantri kini berjalan mendekati menantunya. Harto pun yang mengenakan sarung dan kaus lengan panjang turut menghampiri. Namun, tidak dengan Sagara yang masih bergeming di tempat sembari mengatupkan rahang. “Benar, Ma. Sakit jantung bapak kumat sampai tadi sesak napas. Maaf, aku ngg
Pagi ini Ranaya sedang tak nafsu makan. Mata sayunya memandangi makanan dan memaksa menelan meski rasa hampa menyerangnya. Bagaimana tidak, semalam ia pura-pura tidur ketika Sagara melakukan video call dengan perempuan lain. Bahkan telinganya menangkap semua momen romantis keduanya. Ranaya menyendokkan sarapannya dan mengunyah tanpa tenaga. Hatinya begitu perih. Walau ia mendapat ibu dan ayah mertua yang baik, tetapi apa gunanya jika tak bisa memiliki raga maupun cinta dari Sagara? “Aku ingin pindah rumah.” Ucapan tegas Sagara tak pelak membuat semua mata tertuju kepadanya, terutama Ranaya yang sangat syok atas keras kepala suaminya. Apa sebegitu inginnya dia dengan Sherly hingga tetap bersikukuh memperjuangkan tekadnya? “Apa? Nggak bisa. Kalian nggak boleh pindah!” Tubuh Tantri yang duduk di samping Ranaya menegang. Sepasang matanya membulat seakan hendak keluar dari rongganya. “Ma, kenapa? Aku dan Ranaya kan sudah menikah. Kami juga butuh ruang.” Napas Ranaya tercekat. Bu
Ranaya membeku di tempat. Tangannya gemetar memegang tali lingerie yang terasa seperti belenggu di tubuhnya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri dan menghalau gambaran tubuh kekar nan seksi milik Sagara yang membayang. Pikirannya sudah melanglang ke mana-mana. Ia begitu ketakutan sampai lupa bernapas dengan normal. Baru saja tangan Sagara hendak menyobek pakaian tipis yang dikenakan Ranaya ketika tiba-tiba ponsel pria itu berdengung panjang di atas nakas dekat ranjang. Sagara mengerutkan dahi, melirik layar ponsel itu. Kemudian ia menghela napas sebelum mengambilnya. Wajahnya yang semula tegang penuh kendali berubah menjadi seterang mentari. “Kenapa menelepon jam segini?” gumamnya sambil menekan tombol hijau di layar. Ini tertalu awal untuk mereka berkomunikasi lewat telepon. Biasanya mereka menunggu larut malam dulu hingga penghuni rumah terlelap dalam mimpi masing-masing. Ranaya perlahan ikut bangkit. Ia duduk terpaku menunggu apa yang terjadi. “Halo?”
“Sagara, kamu mau ke mana?” Mata Tantri memindai penampilan anaknya yang malam ini baru saja keluar kamar sementara penghuni lain sudah siap di meja makan. Ranaya yang baru saja meletakkan panci sup panas di tengah ikut memperhatikan suaminya yang kini sudah tampak rapi mengenakan setelan tuksedo. “Ketemu kolega sebentar,” sahut Sagara acuh tak acuh, lantas kembali menggiring kakinya. Namun, dengan gerakan cepat juga Tantri berdiri untuk menghentikan langkah pria tersebut. “Eits, tunggu, Sagara! Tunggu dulu!” serunya. Sagara menurut. Tetapi kemudian menghela napasnya panjang. “Kamu ketemu kolega kok nggak ngajak istrimu, sih! Ayo, Ranaya, kamu ikut Sagara sekarang.” Tantri berusaha menarik tangan Ranaya agar lekas berdiri. Di sisi lain, Ranaya kebingungan. Matanya beralih cepat dari Tantri ke Sagara sambil bangkit dengan ragu. Dari tatapan yang Sagara layangkan, jelas saja pria itu tak setuju. Ranaya jadi tidak enak, lalu mencoba berkilah. “Tapi, Ma─” “Ssttt, ikut kata
“Maaf, Mas ….” Ranaya begitu terpana oleh karena ucapan keras Sagara yang baru saja terlontar. Usai mengatakan unek-unek yang sempat menyumbat kepalanya, Sagara menggertakkan gigi dan cepat memalingkan muka, lantas segera menginjak rem hingga membuat Ranaya terkejut sebab tubuhnya sempat terpental. Sagara begitu kesal. Acara resmi yang seharusnya berpeluang besar untuk menghimpun banyak relasi ternyata justru berantakan. Tak terasa tangannya mencengkeram setir dengan erat. Rahang Sagara mengeras, dan napasnya terdengar berat. Sejak kejadian di acara tadi, pikirannya tidak bisa lepas dari tatapan Pak Arman. Tatapan itu adalah pengingat pahit dari masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Namun kini bayang-bayang itu muncul lagi, merusak konsentrasinya yang semakin tak karuan. *** Keesokan paginya, Ranaya bangun lebih awal seperti biasa. Meski hatinya terluka, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia menyiapkan sarapan dan menyetrika baju kerja Sagara. Setelah selesai,
Pernyataan yang tengah dipikirkan itu seperti petir di siang bolong bagi Ranaya. Ia merasa seluruh tubuhnya membeku. Karena tak segera menjawab pertanyaannya, Tantri kemudian menoleh di tengah ia memutar setir kemudinya. “Ranaya? Kenapa? Kok malah melamun?” Tantri mengucapkannya sembari menautkan alis. Ranaya buru-buru mengemasi semua pikirannya. Ia lalu menggeleng. “Oh, nggak apa-apa, Ma. Aku cuma penasaran,” sahut Ranaya akhirnya. Ranaya menyandarkan kepala ke jendela mobil di sisinya. Diam-diam ia ingin tahu semuanya. Bagaimana hubungan antara Sagara, Sherly, dan Tantri yang sesungguhnya. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya mencapai rumah. Keduanya melangkah beriringan. Tantri membawa tas yang tadi dibawakan oleh Mayang sebelum pulang. “Terima kasih lo, Ran, sudah mau nemenin Mama. Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu,” ungkap Mama tatkala mereka berpisah. Ranaya menuju kamar, sementara Tantri harus menyimpan dulu bahan makanan pemberian dari Mayang
Ranaya akhirnya menoleh. Tatapannya kosong. “Maaf, Mas. Tapi bisa nggak tinggalin aku sendiri dulu?” mohonnya dengan suara serak dan dalam karena terlalu banyak menangis. Ranaya merasa semakin nelangsa sekarang. Di saat ia sedang kehilangan, di saat ia down dan terpuruk, serta tak memercayai siapa pun di rumah ini, suaminya justru tak memedulikannya dan malah lebih mementingkan tentang sapu tangan itu. Sagara menatap tajam ke arah Ranaya yang mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. Rahang pria tersebut kian berkedut. Ia semakin meremas sapu tangan di tangannya, untuk kemudian memutuskan keluar. Membiarkan sendiri Ranaya yang menurutnya sangat merepotkan. Sagara melangkah cepat menuju ruang lain di rumah ini. Ia tak tahu jika ternyata Tantri sengaja berada di depan kamar mereka untuk menguping pembicaraan. Wajah Tantri terlihat kecewa. Angin malam menerobos jendela ruang kerja Sagara yang setengah terbuka. Suara detak jam di dinding seolah menggema di ruangan itu, be
Kedua mata Ranaya membelalak lebar. Tubuh yang membelenggu mulai beringsut menjalar di atasnya. Apalagi sekarang ia dapat menyaksikan badan berotot milik Sagara hanya dililit oleh kain handuk. “Jangan, Mas, tolong ….” Ia menggeleng cepat dengan bibir yang terkatup rapat. Namun, hal itu justru membuat Sagara menarik salah satu ujung bibirnya. Sepasang mata itu sedang dilanda mabuk gairah yang meletup-letup dan mengunci Ranaya seolah ingin menelannya bulat-bulat. “Salah sendiri kamu melanggarnya. Aku sudah memperingatkanmu tadi,” desisnya dengan suara berat penuh hasrat. Tangannya kian menggenggam erat pergelangan tangan Ranaya dan menariknya ke atas kepala wanita tersebut. Makin ketakutanlah Ranaya. Ranaya dejavu, ia merasakan kembali untuk kedua kalinya ketakutan yang benar-benar ingin ia hindari. Walau begitu, Ranaya tahu jika Sagara malam ini merupakan sosok yang berbeda. Kalau kemarin ia menemui kilat amarah dan penuh keterpaksaan dari pria itu, namun tidak dengan sekarang
"Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t
Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b
"Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala
“Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na
"Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan
Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca
Ruangan itu seketika hening. Hanya suara gesekan kain yang terdengar saat Radeva sibuk kembali melipat baju kecilnya. Tapi, kepala Ranaya masih dipenuhi kalimat barusan.Setelah mengatakannya, Radeva memang sibuk sendiri lagi dalam merapikan baju-baju di depannya. Namun, ungkapan anak itu rupanya berdampak cukup dalam pada Ranaya. Tanpa sadar, bibirnya jadi tertekuk murung."Jadi Deva nggak bahagia kalau sama Mama?" tanyanya berusaha tetap tenang.Radeva menoleh cepat. Wajah imutnya terlihat bingung. "Bukan gitu, Ma. Depa bahagia kok hidup dan punya mama sepelti Mama.""Tapi setelah beltemu Om Papa, Depa jadi ingin selalu dekat dengan Om Papa."Jantung Ranaya mencelos. Selama ini, ia berusaha membangun dunia yang cukup untuk anaknya. Namun, hanya dalam sekali pertemuan dengan Sagara, dunia yang ia bangun itu terasa goyah.Ranaya lantas tersenyum tipis, tapi perih di hatinya tidak bisa diabaikan."Om Papa itu baik banget, Ma. Aku melasa nyaman dan cocok. Mungkin sepelti itu ya yang dil
"Kok kamu yang ngangkat HP suamiku? Di mana Mas Harto?"Cengkeraman Tantri pada ponselnya mengerat. Matanya menyipit curiga. Sementara kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan berbagai dugaan.Dari seberang, terdengar suara Mayang yang terdengar sedikit tergagap. "Oh, ini … ceritanya panjang, Tantri.""Cepetan kalau ngomong, aku nggak punya waktu! Aku lagi butuh suamiku sekarang. Kondisinya mendesak ini!" dengus Tantri langsung. Kesabarannya menipis oleh karena Mayang tak segera memberi jawaban yang jelas.Mayang terdengar menarik napas sebelum menjelaskan, "Iya, iya, baik. Aku minta maaf. Jadi, tadi aku nggak sengaja lewat jalan dan tahu mobilmu macet. Aku menawarkan bantuan, tapi suamimu bersikeras membenahi mobilnya sendiri. Terus ada telepon dari kamu, jadi aku angkat dulu karena tangan Pak Harto masih kotor.”Kini tangan Tantri yang tengah memegang ponsel sedikit bergetar. Ia berpikir tetap ada yang terasa janggal. Ia punya prasangka di tengah rasa cemburu yang mendadak ban
Sagara mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah di ambang batas."Brengsek! Jangan berani-beraninya kamu ngancem aku!"Teriakannya menggema di kafe yang ramai pengunjung. Matanya menyalang, menatap Rio seakan ingin meremukkan pria itu hidup-hidup. Ia tak terima jika ada seseorang yang ikut campur tentang kehidupannya, apalagi tentang hal yang menjadi ketakutannya selama ini.Bagaimanapun Rio, si pria kurang ajar itu tak berhak membahasnya!Namun, detik berikutnya, kepalanya mendadak berdenyut kencang. Pusing. Pandangannya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.Masa lalu itu .…Bayangan mengerikan yang selama ini terkubur jauh di dalam pikirannya kini muncul kembali ke permukaan. Tubuhnya menegang, rasa mual naik ke tenggorokan.Di hadapannya, Rio mengulum senyum simpul. Wajahnya penuh kemenangan."Kenapa? Bukannya impas?" Suaranya merendah. Tapi nada mengejek itu begitu kentara."Karena