Share

7. Terpaksa Membuat Cucu

Author: Glory Bella
last update Last Updated: 2025-01-30 20:38:31

Pagi ini Ranaya sedang tak nafsu makan. Mata sayunya memandangi makanan dan memaksa menelan meski rasa hampa menyerangnya. Bagaimana tidak, semalam ia pura-pura tidur ketika Sagara melakukan video call dengan perempuan lain. Bahkan telinganya menangkap semua momen romantis keduanya.

Ranaya menyendokkan sarapannya dan mengunyah tanpa tenaga. Hatinya begitu perih. Walau ia mendapat ibu dan ayah mertua yang baik, tetapi apa gunanya jika tak bisa memiliki raga maupun cinta dari Sagara?

“Aku ingin pindah rumah.”

Ucapan tegas Sagara tak pelak membuat semua mata tertuju kepadanya, terutama Ranaya yang sangat syok atas keras kepala suaminya. Apa sebegitu inginnya dia dengan Sherly hingga tetap bersikukuh memperjuangkan tekadnya?

“Apa? Nggak bisa. Kalian nggak boleh pindah!” Tubuh Tantri yang duduk di samping Ranaya menegang. Sepasang matanya membulat seakan hendak keluar dari rongganya.

“Ma, kenapa? Aku dan Ranaya kan sudah menikah. Kami juga butuh ruang.”

Napas Ranaya tercekat. Bukan Ranaya yang butuh ruang itu. Tetapi, Sagara yang membutuhkannya agar bisa bebas menjalin hubungan dengan selingkuhannya tanpa ketahuan Tantri dan Harto.

Diam-diam Ranaya menyembunyikan kekecewaannya. Ia meletakkan alat makannya pelan di meja. Susah payah ia menelan makanan yang telah menjelma menjadi seonggok empedu pahit di kerongkongannya.

“Pokoknya kalau Mama bilang nggak, ya nggak, Sagara. Mama tetap nggak setuju sebelum kalian punya anak.” Rahang Tantri turut mengeras.

“Ma!” nyalak Sagara protes. Air mukanya memerah.

Kalau sudah begini, tak ada pilihan lain bagi Harto untuk meredakan keributan di saat seharusnya mereka menikmati momen makan bersama seperti sekarang.

Harto menempatkan sendok dan garpu ke piring, menghela napas panjang, lantas berucap dengan menepuk lengan Sagara yang ada di sisinya.

“Sagara, lebih baik kamu pikirkan dulu rencanamu itu. Kami, orangtuamu juga pengen yang terbaik untuk kalian. Mungkin mamamu masih butuh waktu sebelum bisa melepas kalian hidup mandiri di rumah sendiri nanti.” Harto mengatakannya dengan tenang.

“Tapi, menunggu kami punya anak juga sudah keterlaluan,” tegas Sagara masih berdiri pada kehendaknya.

Ranaya meringis samar. Dipikir-pikir suaminya pasti keberatan atas syarat yang ibu mertuanya ajukan. Mana mungkin pria itu mau menyentuhnya?

Namun, sebenarnya ada kelegaan sendiri di lubuk hati Ranaya. Untung Tantri dan Harto melarang keras keinginan Sagara pindah rumah karena kalau tidak, ia tak tahu bagaimana jadinya hidup dan nasibnya kelak. Ranaya mungkin bakal hancur sehancurnya menyaksikan kebebasan Sagara membawa Sherly ke rumah, bahkan memadu kasih di depan matanya sendiri.

Berikutnya tatapan Ranaya tak sengaja bertumbukan dengan mata elang milik Sagara yang duduk di seberang meja. Ranaya buru-buru mengalihkan pandangannya. Entah kenapa ia ketakutan menangkap tatapan yang sepertinya sedang diliputi amarah tersebut.

***

Malam ini Ranaya nyaris terjingkat dari tempat duduknya ketika pintu dibuka secara kasar oleh Sagara. Hampir saja buku yang ia baca terlempar ke meja.

Sagara lekas mengendurkan dasi dengan gerakan tergesa-gesa begitu pintu di belakangnya tertutup. Ranaya sampai memutar posisi tubuhnya saking keheranan. Apalagi saat ia melirik jarum jam yang tergantung di dinding, waktu menunjukkan bahwa suaminya itu pulang lebih cepat dari biasanya.

Ada apa? Batinnya menerka-nerka.

“Cepat mandi sekarang.”

Suara Sagara yang dingin lantas hanya membuat Ranaya bergeming sambil mengerutkan kening samar. Telinganya tak mungkin salah dengar, kan?

“Tadi sore aku sudah mandi kok, Mas,” aku Ranaya polos.

“Mandi lagi. Pakai parfum yang wangi,” ulang Sagara tanpa memandang ke arah istrinya. Sebelah tangannya kemudian melempar sebuah tas belanja hingga benda tersebut mendarat secara kasar di kasur dekat Ranaya.

“Habis mandi langsung pakai itu.”

Bertambahlah tanda tanya di benak Ranaya. Ia masih mengamati Sagara dari tempatnya duduk dengan menyingkirkan buku yang ia baca sementara. Tetapi, selanjutnya mata di balik lensanya membeliak tatkala menangkap nama toko khusus pakaian dalam wanita yang cukup terkenal di kota ini. Sontak sekujur tubuh Ranaya membeku dibuatnya.

Karena Ranaya tak merespons perintahnya, Sagara kemudian terpaksa melabuhkan tatapannya pada perempuan itu. Ia kesal, apalagi menyaksikan Ranaya hanya diam dengan air muka memucat selagi memandangi bungkusan lingerie yang baru saja ia beli saat perjalanan pulang.

“Tunggu apa lagi?!” tekannya seketika menyentak lamunan Ranaya.

Ranaya yang sebenarnya masih bingung akhirnya langsung bangkit. Terutama disebabkan oleh tatapan tajam Sagara yang sudah mirip seperti pembunuh berdarah dingin. Entah kenapa ada perasaan tidak enak yang ia rasakan.

Sambil sedikit menunduk, Ranaya merasakan mata menusuk Sagara masih mengejar gerakannya sampai ia masuk ke kamar mandi. Barulah usai menutup pintu kamar mandi dan menguncinya, Ranaya dapat bernapas dengan leluasa. Ia bahkan tak tahu arti terselubung dari tatapan suaminya tadi.

Ranaya mandi, memakai parfum, serta mengenakan lingerie seperti yang Sagara titahkan. Sekarang ia memandangi pakaian minim yang menempel dan tengah mengekspos hampir sebagian besar tubuhnya lewat pantulan cermin.

Ranaya lantas menggigit bibir. Perilaku Sagara yang ganjil justru membuatnya gugup dan ketakutan setengah mati.

Perlahan Ranaya melangkahkan kaki keluar. Rupanya Sagara tengah menunggunya di bibir ranjang sembari menguraikan kemeja kerjanya. Merasakan kehadiran Ranaya, Sagara menoleh. Matanya secara cepat memindai sekujur tubuh Ranaya yang dipamerkan lewat baju dinas pilihannya. Ujung bibirnya sedikit terangkat miring.

Semakin takutlah Ranaya. Ia melihat dengan jelas sesuatu yang berlari cepat di mata Sagara. Sesuatu yang liar, kejam, dan ia tak bisa melakukan apa yang Sagara mau meski dirinya sangat mencintai pria tersebut.

Ranaya memainkan jemarinya dengan kaku dan berusaha menghindari tatapan mata Sagara. “Kenapa seperti ini, Mas? Maksudku … aku belum siap melakukannya karena kamu nggak cinta─”

“Memangnya kenapa?” potong Sagara langsung. Pria itu mendekat tanpa ekspresi apa pun menghiasi wajahnya. Satu-satunya gestur yang mencolok hanya matanya yang berkilat dan tertuju pada bagian tubuh atas Ranaya.

“Mama mau cucu, kan? Ya, aku cuma mencoba memenuhi keinginan orangtuaku,” lanjut Sagara sengit.

Ranaya menggeleng. Menuruti apa kata hatinya, ia melangkah mundur ketika suaminya kian mendekat.

“Maaf, Mas. Tapi aku nggak yakin kalau keputusan ini benar. Aku belum siap.” Ranaya tak bisa menyembunyikan kenyataan bahwa sepasang matanya kini berkaca-kaca.

“Diam! Sekarang kamu nurut aku. Aku nggak suka cara orangtuaku berlebihan ke kamu!” Amarah pria itu semakin menguliti keberanian Ranaya.

Tiba-tiba tangan Sagara menyambar lengan Ranaya dan mendorongnya ke kasur. Ranaya sempat protes, berusaha berdiri. Namun, kekuatan Sagara menindih tubuhnya.

“Jangan berontak dan lakukan apa yang aku mau!” tekan Sagara menegaskan kembali.

Ranaya tak bisa berteriak. Ia memikirkan juga apa jadinya kalau Tantri dan Harto tahu jika putranya telah memerkosa dirinya─bukan berdasarkan sama-sama mau.

Pelan-pelan Sagara merambat dan menggerayangi sekujur tubuhnya. Tangan pria itu sudah menjamah barang berharga milik Ranaya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   8. Cerai atau Poligami?

    Ranaya membeku di tempat. Tangannya gemetar memegang tali lingerie yang terasa seperti belenggu di tubuhnya. Ia memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan diri dan menghalau gambaran tubuh kekar nan seksi milik Sagara yang membayang. Pikirannya sudah melanglang ke mana-mana. Ia begitu ketakutan sampai lupa bernapas dengan normal. Baru saja tangan Sagara hendak menyobek pakaian tipis yang dikenakan Ranaya ketika tiba-tiba ponsel pria itu berdengung panjang di atas nakas dekat ranjang. Sagara mengerutkan dahi, melirik layar ponsel itu. Kemudian ia menghela napas sebelum mengambilnya. Wajahnya yang semula tegang penuh kendali berubah menjadi seterang mentari. “Kenapa menelepon jam segini?” gumamnya sambil menekan tombol hijau di layar. Ini tertalu awal untuk mereka berkomunikasi lewat telepon. Biasanya mereka menunggu larut malam dulu hingga penghuni rumah terlelap dalam mimpi masing-masing. Ranaya perlahan ikut bangkit. Ia duduk terpaku menunggu apa yang terjadi. “Halo?”

    Last Updated : 2025-01-31
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   9. Selamat dari Pelecehan

    “Sagara, kamu mau ke mana?” Mata Tantri memindai penampilan anaknya yang malam ini baru saja keluar kamar sementara penghuni lain sudah siap di meja makan. Ranaya yang baru saja meletakkan panci sup panas di tengah ikut memperhatikan suaminya yang kini sudah tampak rapi mengenakan setelan tuksedo. “Ketemu kolega sebentar,” sahut Sagara acuh tak acuh, lantas kembali menggiring kakinya. Namun, dengan gerakan cepat juga Tantri berdiri untuk menghentikan langkah pria tersebut. “Eits, tunggu, Sagara! Tunggu dulu!” serunya. Sagara menurut. Tetapi kemudian menghela napasnya panjang. “Kamu ketemu kolega kok nggak ngajak istrimu, sih! Ayo, Ranaya, kamu ikut Sagara sekarang.” Tantri berusaha menarik tangan Ranaya agar lekas berdiri. Di sisi lain, Ranaya kebingungan. Matanya beralih cepat dari Tantri ke Sagara sambil bangkit dengan ragu. Dari tatapan yang Sagara layangkan, jelas saja pria itu tak setuju. Ranaya jadi tidak enak, lalu mencoba berkilah. “Tapi, Ma─” “Ssttt, ikut kata

    Last Updated : 2025-02-01
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   10. Hubungan Tantri dan Sherly

    “Maaf, Mas ….” Ranaya begitu terpana oleh karena ucapan keras Sagara yang baru saja terlontar. Usai mengatakan unek-unek yang sempat menyumbat kepalanya, Sagara menggertakkan gigi dan cepat memalingkan muka, lantas segera menginjak rem hingga membuat Ranaya terkejut sebab tubuhnya sempat terpental. Sagara begitu kesal. Acara resmi yang seharusnya berpeluang besar untuk menghimpun banyak relasi ternyata justru berantakan. Tak terasa tangannya mencengkeram setir dengan erat. Rahang Sagara mengeras, dan napasnya terdengar berat. Sejak kejadian di acara tadi, pikirannya tidak bisa lepas dari tatapan Pak Arman. Tatapan itu adalah pengingat pahit dari masa lalu yang ingin ia kubur dalam-dalam. Namun kini bayang-bayang itu muncul lagi, merusak konsentrasinya yang semakin tak karuan. *** Keesokan paginya, Ranaya bangun lebih awal seperti biasa. Meski hatinya terluka, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai istri. Ia menyiapkan sarapan dan menyetrika baju kerja Sagara. Setelah selesai,

    Last Updated : 2025-02-02
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   11. Dunia Ranaya Runtuh

    Pernyataan yang tengah dipikirkan itu seperti petir di siang bolong bagi Ranaya. Ia merasa seluruh tubuhnya membeku. Karena tak segera menjawab pertanyaannya, Tantri kemudian menoleh di tengah ia memutar setir kemudinya. “Ranaya? Kenapa? Kok malah melamun?” Tantri mengucapkannya sembari menautkan alis. Ranaya buru-buru mengemasi semua pikirannya. Ia lalu menggeleng. “Oh, nggak apa-apa, Ma. Aku cuma penasaran,” sahut Ranaya akhirnya. Ranaya menyandarkan kepala ke jendela mobil di sisinya. Diam-diam ia ingin tahu semuanya. Bagaimana hubungan antara Sagara, Sherly, dan Tantri yang sesungguhnya. Tak lama kemudian, mobil yang mereka tumpangi akhirnya mencapai rumah. Keduanya melangkah beriringan. Tantri membawa tas yang tadi dibawakan oleh Mayang sebelum pulang. “Terima kasih lo, Ran, sudah mau nemenin Mama. Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu,” ungkap Mama tatkala mereka berpisah. Ranaya menuju kamar, sementara Tantri harus menyimpan dulu bahan makanan pemberian dari Mayang

    Last Updated : 2025-02-03
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   12. Masa Lalu Kelam

    Ranaya akhirnya menoleh. Tatapannya kosong. “Maaf, Mas. Tapi bisa nggak tinggalin aku sendiri dulu?” mohonnya dengan suara serak dan dalam karena terlalu banyak menangis. Ranaya merasa semakin nelangsa sekarang. Di saat ia sedang kehilangan, di saat ia down dan terpuruk, serta tak memercayai siapa pun di rumah ini, suaminya justru tak memedulikannya dan malah lebih mementingkan tentang sapu tangan itu. Sagara menatap tajam ke arah Ranaya yang mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. Rahang pria tersebut kian berkedut. Ia semakin meremas sapu tangan di tangannya, untuk kemudian memutuskan keluar. Membiarkan sendiri Ranaya yang menurutnya sangat merepotkan. Sagara melangkah cepat menuju ruang lain di rumah ini. Ia tak tahu jika ternyata Tantri sengaja berada di depan kamar mereka untuk menguping pembicaraan. Wajah Tantri terlihat kecewa. Angin malam menerobos jendela ruang kerja Sagara yang setengah terbuka. Suara detak jam di dinding seolah menggema di ruangan itu, be

    Last Updated : 2025-02-04
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   13. Efek Obat Rangsang

    Kedua mata Ranaya membelalak lebar. Tubuh yang membelenggu mulai beringsut menjalar di atasnya. Apalagi sekarang ia dapat menyaksikan badan berotot milik Sagara hanya dililit oleh kain handuk. “Jangan, Mas, tolong ….” Ia menggeleng cepat dengan bibir yang terkatup rapat. Namun, hal itu justru membuat Sagara menarik salah satu ujung bibirnya. Sepasang mata itu sedang dilanda mabuk gairah yang meletup-letup dan mengunci Ranaya seolah ingin menelannya bulat-bulat. “Salah sendiri kamu melanggarnya. Aku sudah memperingatkanmu tadi,” desisnya dengan suara berat penuh hasrat. Tangannya kian menggenggam erat pergelangan tangan Ranaya dan menariknya ke atas kepala wanita tersebut. Makin ketakutanlah Ranaya. Ranaya dejavu, ia merasakan kembali untuk kedua kalinya ketakutan yang benar-benar ingin ia hindari. Walau begitu, Ranaya tahu jika Sagara malam ini merupakan sosok yang berbeda. Kalau kemarin ia menemui kilat amarah dan penuh keterpaksaan dari pria itu, namun tidak dengan sekarang

    Last Updated : 2025-02-06
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   14. Dikejar Sekelompok Pria Berjas

    Ranaya melangkah menuruni tangga dengan langkah tertatih. Rasa sakit menjalar dari pangkal kakinya, membuatnya harus menggigit bibir untuk menahan perih. Namun, bukan hanya tubuhnya yang sakit. Hatinya pun terasa seperti diiris ribuan belati. Semalam … malam yang seharusnya tidak pernah terjadi. Malam yang telah menghancurkan semuanya. Ia menghela napas, mencoba menenangkan pikirannya dan menjauhkan dari rasa sedih yang berlarut-larut. Namun, saat kepalanya sedikit mendongak, matanya bertemu dengan sosok Tantri yang tengah berdiri di bawah, menunggunya dengan pandangan yang tak dapat ia artikan. “Ranaya, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyanya cemas, tapi ada nada terselubung di dalamnya. Tantri mengamati cara berjalan Ranaya, lalu secara refleks dua ujung bibirnya tertarik dalam senyum samar. Wanita itu dengan pintar cepat-cepat meringkas senyuman tersebut. Ranaya terdiam sejenak. Sebenarnya ia terlalu lelah untuk menjawab. Apalagi … akhir-akhir ini keduanya tak terlalu intens be

    Last Updated : 2025-02-07
  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   15. Meninggalkan Utang?

    “Sebenarnya Ranaya itu ….” Mula-mula bunyi dering dari sebuah ponsel membuatnya menghentikan ucapannya. Salah seorang dari mereka yang berdiri di belakangnya melangkah maju, lantas mengulurkan ponsel kepada pimpinannya tersebut. “Bos, ada telepon dari atasan,” ujar anak buahnya singkat. Sesaat sebelum memutuskan menerima panggilan itu, ia menatap Tantri dan Harto secara bergantian seakan mengungkapkan bahwa dirinya perlu waktu untuk mengangkatnya terlebih dahulu. Tanpa menunggu lama, pria itu menjauh, menekan tombol hijau, dan berbicara dengan nada rendah namun penuh ketegasan. Harto sedikit mengernyit selama mengamati gerakan orang tersebut. Ia kemudian bertukar pandang dengan istrinya. Jika orang-orang ini memiliki atasan, itu berarti mereka bukan kelompok sembarangan, batin keduanya tanpa terucap. Sementara itu di balik guci besar, Ranaya menahan napas. Jantungnya berdegup kencang seakan ketakutan dan ketegangannya bisa terdengar oleh siapa saja yang ada di ruangan itu.

    Last Updated : 2025-02-08

Latest chapter

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   88. Resor Tepi Danau

    "Kamu serius?"Ranaya meliriknya sekilas, lantas kembali sibuk pada dokumen-dokumennya. Alisnya masih saling tertaut saking tak percayanya.Sagara menghela napas, lalu menyandarkan satu tangan ke meja. Kini tubuhnya sedikit condong ke arah Ranaya hingga kepala perempuan itu mendongak dan mundur secara refleks dalam sisi waspada."Apa aku terlihat bercanda sekarang?" tanya Sagara seraya menunjuk wajahnya sendiri.Ranaya susah payah menelan saliva. Dari jarak sedekat ini, apalagi kini hanya mereka berdua yang tinggal di ruang rapat, Ranaya takut jika degup jantungnya yang mulai menggila terdengar sampai telinga Sagara.Ranaya berdeham pelan. Ia menggeser tubuhnya untuk memberi jarak aman. Perempuan itu berusaha menjaga ekspresinya agar tetap netral."Kalau begitu, aku yang tentukan tempatnya,” tukasnya, ingin mempercepat perbincangan di antara mereka.Lagian, apa kata orang-orang kalau sampai mereka tahu Ranaya dan Sagara berduaan di sini?!Sagara mengangkat bahu. Seutas senyum simpul t

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   87. Pretty Lilies for a Pretty Someone

    Malam itu, restoran fine dining dihiasi cahaya temaram, memantulkan kilau lembut di atas meja marmer. Sebuah buket bunga lili putih tergeletak di tengah meja.Acel menatap bunga itu dengan alis sedikit mengernyit, tetapi kini bibirnya mengembang dalam senyum kecil."Lili?" Acel mengangkat bunga tersebut. "Ini serius untukku?”Rio yang kala itu sudah berpakaian rapi dari ujung rambut hingga kaki mengangguk. Matanya masih terpana pada sosok perempuan cantik berambut pendek di hadapannya.“Of course, pretty lilies for a pretty someone,” ucapnya dengan merekahkan senyum.Acel sontak tergelak. Dahinya muncul garis-garis halus lagi. “Kupikir kamu lebih suka memberi mawar merah untuk wanita yang kamu kencani."Rio menyandarkan tubuhnya ke kursi dengan santai. Senyum tipis itu masih menghiasi wajahnya."Mawar merah terlalu klise. Aku memilih lili karena melambangkan kecerdasan dan ambisi. Sama sepertimu."Acel terkekeh kecil, lantas menyibak rambut pendeknya yang berkilau."Hmm … gombalanmu b

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   86. Pergolakan Tantri

    "Apa ini, Ma?”Sagara bertanya dengan nada keheranan. Matanya mulai melucuti setiap bagian amplop tersebut hingga membolak-balikkannya secara teliti.Tantri dengan wajah kaku karena efek masker wajah yang tengah dipakainya perlahan melangkah mendekati Sagara. Matanya mulai berbinar tatkala mendapati tulisan yang merupakan tempat tujuannya tadi."Oh, itu. Ini promo treatment di klinik depan," sahutnya santai, sebelum akhirnya dengan cepat menyambar amplop itu dari tangan Sagara.Sagara menatap ibunya dengan alis bertaut. Pandangannya tak lepas dari Tantri yang tengah sibuk melepas segel amplop tersebut."Treatment? Mama mau treatment?"Tantri tersenyum tipis, membuka amplop itu dan mengeluarkan selebaran berwarna pastel yang berisi daftar perawatan kecantikan. Matanya menelusuri tulisan di dalamnya dengan tenang, seolah mengabaikan ekspresi bingung anaknya."Kan sekarang Mama sudah tua, Sagara," ujarnya pelan. Dua ujung bibirnya tertarik ke bawah sehingga membentuk lengkungan yang dala

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   85. Adegan Pijat-Memijat

    “Om Papa!”Tiba-tiba Radeva muncul dari pintu dan berhambur menuju Sagara.Pria itu sontak tertawa menyaksikan bocah mungil yang menggemaskan tersebut berlari kepadanya. Ia kemudian sedikit membungkukkan badan dan menyambut Radeva ke dalam gendongannya. Rupanya hal tersebut sedikit mengganggu pemandangan Ranaya. Ia menyaksikan adegan itu dengan tatapan kecewa. Bukannya berlari ke arahnya, tetapi Radeva malah memilih memeluk Sagara langsung.“Deva, kok kamu ke sini, Sayang? Kan Mama belum jemput?” tanya Ranaya sembari mengerutkan kening.Radeva yang masih berada di gendongan Sagara menyahut, “Sekolah Depa bebas, Ma. Tadi aku minta jemput Mbak Yanti bial bisa sulplise-in Mama!”Bocah itu mengatakannya sambil berpegangan erat pada bahu Sagara, serta menempelkan pipinya yang chubby sehingga terlihat seperti mochi yang penuh dan menyembul keluar.Setelahnya Ranaya dan Sagara sama-sama menatap pintu di mana ada seorang perempuan yang bergerak mengintip-intip dengan ragu. Ranaya menghela na

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   84. Hal Menarik di Flare & Co

    "Untuk kerja sama yang kamu minta kapan hari, aku acc hari ini." Ranaya berucap dengan tegas.Ruangan itu hening sejenak setelah Ranaya mengucapkan kata-kata itu.Hati Sagara terasa bersemi mendengar angin segar tersebut. Ia menghela napas panjang, lega karena Ranaya sudah sudi membantunya. Menyelamatkan nasib Wiratama Group, perusahaan keluarganya dari ancaman bangkrut. Tanpa sadar ia mengangguk dan mengulum senyum."Tapi jangan senang dulu."Nada suara Ranaya tegas dan dingin. Ia mengeluarkan sebuah dokumen dari dalam tasnya, lalu menggesernya ke arah Sagara di atas meja kaca."Aku punya aturan dan batasan soal kerja sama kita. Silakan kamu baca dulu."Sagara mengernyitkan dahi, menatap dokumen itu dengan penuh selidik. Ia jadi merasa jika Ranaya yang sekarang tidak akan pernah membuat sesuatu menjadi mudah. Ada harga yang harus ia bayar, meski kali ini bukan dengan uang.Perlahan, Sagara mengambil dokumen itu dengan enggan dan mulai membacanya.Sementara itu, Ranaya melipat tangan

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   83. Tanda Merah di Leher

    Tantri mengangguk-angguk, membenarkan keputusan Sagara. Sebagai seorang ibu, ia juga bisa merasakan firasat yang kuat bahwa anak kecil itu—Radeva—mungkin adalah cucunya. Wajahnya terlalu mirip dengan Sagara saat kecil, bahkan sorot matanya mengingatkannya pada putranya dulu."Aku harap kamu bisa membujuk Ranaya untuk melakukan tes DNA, Sagara," ujar Tantri pelan, seolah berbicara demi meyakinkan dirinya sendiri. Ia berharap rencana itu akan berhasil.Sagara menatap ibunya dengan sorot mata penuh tekad. "Iya, aku pasti akan melakukannya, Ma. Masalahnya aku memang merasa seperti sudah terikat dengan Radeva bahkan tanpa harus membuktikan apa pun."Tantri mengulas senyum tipis, seakan senyum itu mengambang di udara. Matanya menerawang jauh."Hmm … naluri seorang ayah, ya, mungkin …." gumamnya.Sagara diam. Pikirannya tengah menebak-nebak. Ia membayangkan bagaimana kalau anak itu memang anak kandungnya. Ada sesuatu yang terasa aneh menyelinap diam-diam di hatinya setiap kali mengingat boca

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   82. Demi Radeva

    Ruangan itu seketika hening. Hanya suara gesekan kain yang terdengar saat Radeva sibuk kembali melipat baju kecilnya. Tapi, kepala Ranaya masih dipenuhi kalimat barusan.Setelah mengatakannya, Radeva memang sibuk sendiri lagi dalam merapikan baju-baju di depannya. Namun, ungkapan anak itu rupanya berdampak cukup dalam pada Ranaya. Tanpa sadar, bibirnya jadi tertekuk murung."Jadi Deva nggak bahagia kalau sama Mama?" tanyanya berusaha tetap tenang.Radeva menoleh cepat. Wajah imutnya terlihat bingung. "Bukan gitu, Ma. Depa bahagia kok hidup dan punya mama sepelti Mama.""Tapi setelah beltemu Om Papa, Depa jadi ingin selalu dekat dengan Om Papa."Jantung Ranaya mencelos. Selama ini, ia berusaha membangun dunia yang cukup untuk anaknya. Namun, hanya dalam sekali pertemuan dengan Sagara, dunia yang ia bangun itu terasa goyah.Ranaya lantas tersenyum tipis, tapi perih di hatinya tidak bisa diabaikan."Om Papa itu baik banget, Ma. Aku melasa nyaman dan cocok. Mungkin sepelti itu ya yang dil

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   81. Memadamkan Api yang Dinyalakan Sendiri

    "Kok kamu yang ngangkat HP suamiku? Di mana Mas Harto?"Cengkeraman Tantri pada ponselnya mengerat. Matanya menyipit curiga. Sementara kepalanya sudah dipenuhi banyak pertanyaan dan berbagai dugaan.Dari seberang, terdengar suara Mayang yang terdengar sedikit tergagap. "Oh, ini … ceritanya panjang, Tantri.""Cepetan kalau ngomong, aku nggak punya waktu! Aku lagi butuh suamiku sekarang. Kondisinya mendesak ini!" dengus Tantri langsung. Kesabarannya menipis oleh karena Mayang tak segera memberi jawaban yang jelas.Mayang terdengar menarik napas sebelum menjelaskan, "Iya, iya, baik. Aku minta maaf. Jadi, tadi aku nggak sengaja lewat jalan dan tahu mobilmu macet. Aku menawarkan bantuan, tapi suamimu bersikeras membenahi mobilnya sendiri. Terus ada telepon dari kamu, jadi aku angkat dulu karena tangan Pak Harto masih kotor.”Kini tangan Tantri yang tengah memegang ponsel sedikit bergetar. Ia berpikir tetap ada yang terasa janggal. Ia punya prasangka di tengah rasa cemburu yang mendadak ban

  • Kepergian Istri yang Tuan Dingin Sesali   80. Sagara dalam Sosok yang Tersembunyi

    Sagara mengepalkan tangan. Rahangnya mengeras, urat-urat di lehernya menegang. Wajahnya merah padam menahan amarah yang sudah di ambang batas."Brengsek! Jangan berani-beraninya kamu ngancem aku!"Teriakannya menggema di kafe yang ramai pengunjung. Matanya menyalang, menatap Rio seakan ingin meremukkan pria itu hidup-hidup. Ia tak terima jika ada seseorang yang ikut campur tentang kehidupannya, apalagi tentang hal yang menjadi ketakutannya selama ini.Bagaimanapun Rio, si pria kurang ajar itu tak berhak membahasnya!Namun, detik berikutnya, kepalanya mendadak berdenyut kencang. Pusing. Pandangannya bergetar. Keringat dingin mulai membasahi telapak tangannya.Masa lalu itu .…Bayangan mengerikan yang selama ini terkubur jauh di dalam pikirannya kini muncul kembali ke permukaan. Tubuhnya menegang, rasa mual naik ke tenggorokan.Di hadapannya, Rio mengulum senyum simpul. Wajahnya penuh kemenangan."Kenapa? Bukannya impas?" Suaranya merendah. Tapi nada mengejek itu begitu kentara."Karena

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status