"Aku gak serius sama Kalea, Ji. Kamu tahu itu kan? Aku sayang banget sama kamu. Jadi, tolong bersabar sebentar lagi ya? Please."
Deg. Rasanya seperti sebuah pedang tajam menusuk ulu hati gadis itu. Meski dia tahu, kebenarannya memang seperti itu. Bukan dirinya yang berada di hati pemuda bernama Raka Elfriyando. Dan ... Demi melihat pemuda itu menggenggam hangat jemari gadis lain, gadis itu tersenyum getir. "Bang Raka, mbak Jini, hai ... Aku datang terlambat ya? Hehe." Sontak kedua insan itu menoleh. Raut kaget sempat tertangkap indera penglihatan Kalea. Tapi hanya sementara. Karna dengan cepat raut itu berganti normal. "Loh, kok sendiri, Kal. Barra mana?" tanya Raka. "Gak tahu tuh. Kayak bang Raka gak tahu aja, senyebelin apa Barra. Haha." Elbarra adalah adik Raka. Seumuran Kalea Makanya anak itu nyebelin banget. Bukan karna jahil. Tapi, cuek dan ketusnya itu, yang bikin kesel melihatnya. "Lah! Gimana Barra itu. Orang abang minta tolong buat jemput kamu sekalian. Malah biarin kamu dateng sendiri." "Santai aja bang. Udah biasa," ujar Kalea. Tertawa kecil. Ayolah, meski hatinya gak karuan, tapi sebisa mungkin dia menutupinya. Sudah biasa. Dan lagi, dialah yang memulainya. Harus siap dengan konsekuensinya. Raka masih menunjukkan rasa bersalahnya. Sikapnya itulah, yang semakin membuat Kalea egois. Dia yakin, suatu saat, bang Raka akan berubah. Mencintainya. Perasaan itu dimulai semenjak Kalea kecil. Bahkan, katanya, Raka jugalah yang merawat dirinya. Eitss ... Maksudnya, Kalea dan Elbarra kebetulan lahir barengan, hanya terpaut dua bulan. Jadi, Raka merasa seperti mendapat adik kembar. Kebetulan, mama dan papanya memang akrab dengan tante Anggi dan om Niko, orang tua Raka dan Barra. Rumah pun sampingan, alias tetangga. Karna terbiasa sejak kecil, perlahan tapi pasti, perasaan nyaman itu hadir. Apalagi, sikap Raka yang ngemong dan dewasa. Membuatnya semakin jatuh dalam pesonanya. Awalnya, hanya cinta monyet biasa. Tapi seiring bertambahnya usia, perasaan itu menjadi cinta yang sesungguhnya. Apalagi, Raka adalah tipikal pria idaman. Tampan, baik hati, murah senyum, ramah, dan pastinya dewasa. Berbanding terbalik dengan Barra, adiknya. Yang menurut Kalea adalah makhluk paling nyebelin segalaksi bima sakti. Udah ketus, dingin, ada sih sifat baiknya. Tapi gak banyak. Nakal, suka baku hantam. Apalagi, jika ada yang menyulut amarahnya. Huft ... Pokoknya berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan abangnya. Kayak gitu, anehnya, banyak yang suka Barra. Hampir satu sekolahan mengidolakan cowok itu. Katanya yang badboy lebih menarik. Iya sih, Barra emang ganteng. Sikap dinginnya menambah kesal cool. Keren. Tapi, tetep aja gak asyik. Nyebelinnya sumpah kebangetan. Yang paling nyebelin lagi, dari TK sampai sekarang, SMA, mereka selalu barengan. Dan, bukan sombong ya, ketika itu pernah, Kalea masuk kelas favorit, herannya, si nyebelin Barra juga masuk di kelas yang sama. Padahal, dia jarang terlihat belajar, tapi nilainya emang lumayan sih. Dan mengenai bagaimana hubungan ini dimulai, itu karna Kalea nekat nembak Raka. Hari itu, hari ulang tahun Raka, Gadis itu sengaja mengajak Raka keluar dengan modus minta dianterin. Restoran bagian atap ini, Kalea sudah menyewanya. Dia terlihat bingung, karna restorannya sepi. Tapi Kalea juga pura-pura gak tahu. Dan lantas pamit ke kamar mandi. Padahal, gadis itu sedang memberi tahu timnya, alias teman-temannya bahwa ini waktunya. Kembang api menyala indah. Sekilas melirik, mendapati Raka terperangah heran. "Kok ada kembang api, Kal? Ada acara apa ya?" tanyanya, bingung. Kalea tersenyum, menatap wajah tampannya yang semakin tampan dengan senyum manisnya itu. Ah, tampannya ... "Bang Raka, i love you." Ungkapan kelegaan sekaligus kalut, takut ditolak. Senyum lebar dengan napas tersengal karna degupan jantung yang mendadak berdetak semakin kencang. Pria yang notabenenya lima tahun lebih tua dari gadis itu menampakkan wajah terkejutnya. Namun, itu hanya sebentar. Sebentar saja dia pertahankan raut keterkejutan itu. Selang beberapa detik, senyum manis terbit di bibirnya. Lalu tertawa kecil, menepuk pundak Kalea. "Kamu ini, senang sekali mengerjaiku, Kalea. Haha. Tapi, gak masalah. Aku suka prankmu." Prank? Tapi ini .... "Kalea serius, bang. Kalea suka bang Raka." Kembali, pria itu terdiam. "Kalea suka bang Raka sejak lama. Maaf, kalau buat bang Raka kaget. Ta-tapi, Lea udah gak bisa menyembunyikannya lagi. Gak papa kok, kalau bang Raka gak suka Kalea balik. Setidaknya, Lea lega udah ungkapin," Kalea memalingkan wajah ke arah lain. Rasanya, air matanya ingin keluar. Melihat reaksi terkejut dan kediaman bang Raka, membuat gadis itu yakin, Raka gak memiliki rasa yang sama, alias cintanya tertolak. Grep. Kalea terkejut, saat Raka memeluknya. Dengan ragu, gadis itu mendongakkan kepala. Dan mendapati senyum hangat pemuda yang diidamkannya itu. "Kalea serius, suka sama bang Raka?" Gadis itu mengangguk, mantap. "Kalau begitu sama." Kalea mengerjapkan netra beberapa kali. Maksudnya? "B-bang Raka juga suka Kalea?" Pemuda itu mengangguk. Kalea bersorak girang. Memeluk pemuda itu erat. Bahagia. Perasaan itu terbalas. Artinya, semenjak hari itu, mereka resmi menjadi pasangan. Karna pada dasarnya Kalea gampang terbuka, mama akhirnya tahu hubungannya dengan bang Raka. Yang lebih membuat Kalea bahagia, ternyata diam-diam mamanya dan mama Raka sempat berniat menjodohkan mereka. Dan karna mendengar anak-anak mereka saling suka, pembahasan perjodohan itu kembali di bahas. Terang saja, Kalea bahagia sekali. Mengarahkan pandangan pada pemuda idamannya itu, dan tersenyum. Sayang sekali, dirinya masih SMA, masih lama untuk menikah. Mama pengennya dia kuliah dan mengejar impian dulu. Gak papa sih, seenggaknya biar Raka mengejar impiannya juga. Jadi, mereka nikah di waktu yang tepat. Dalam keadaan terbaik pastinya. "Giliran makanan habis malah baru dateng. Anak nakal," gumam bang Raka. Kalea ikut menoleh. Barra dengan style khas anak motor itu duduk di kursi kosong sebelahnya. "Ngetrek lagi lo?" decis Kalea pada cowok di sebelahnya itu. "Bukan urusan lo," balas Barra ketus. Kalea merotasikan bola matanya. Lihatlah. Dia memang semenyebalkan itu. Jangan harap bisa beramah tamah dengannya. "Aish! Barra! Kulit ayam gue!" seru Kalea, ngenes. Meratapi kekalahannya dalam menyelamatkan kulit ayam krispinya. Anak nakal, sialan! Enak aja dia main serobot makanan tanpa permisi. "Pesen sendiri, Barra," tegur bang Raka. "Males." Kalea menatap ngenes kulit ayam krispi yang sengaja dia sisakan terakhir, karna emang bagian paling favorit. Tapi sialnya, malah dilahap Barra sialan! Calon adek ipar durhaka. . . Selesai makan, Raka minta izin mengantar Jini. Katanya, kasihan kalau pulang sendiri. Apalagi perempuan. Bahaya. Kalea mengangguk mengiyakan. Meski sudah tahu, tentang hubungan mereka, tapi gadis itu mencoba gak egois. Lagian, pada akhirnya bang Raka bakal sama dia kok. Iya, kan?? Pastilah. Dan akhirnya, Kalea bareng Bara. "Bodoh," decisan yang terdengar jelas di telinga Kalea. "Eh, lo ngatain gue?!" sentak Kalea gak terima. "Kalau lo ngerasa." "Nyebelin banget sih lo, Bar. Udah datengnya telat, nyolong kulit ayam favorit gue, sekarang ngatain gu .... Eh! Barra!" Ya Tuhan ... Makhluk satu ini ... Lagi ngomel malah dipasangin helm. Gimana gak kesel. "Naik, atau gue tinggal." Dengan bersungut-sungut, terpaksa menaiki boncengan belakang motor sport Barra. Meski agak kesulitan sih. Karna body motornya emang tinggi. Belum sempat menyamankan duduk, tiba-tiba aja Barra sudah mengegas motornya. Membuat gadis itu memekik panik dan reflek memeluk pinggangnya si cowok. "Elbarra sialannn!!!!" . . Huft ... Untung saja, meski sempat taruhan nyawa, tapi tiba juga di rumah dengan selamat. "Nih!" Males banget mau ngucapin terimakasih. Meletakkan helm di pangkuan Barra, langsung nyelonong masuk. Bodo amat sama reaksinya. Dia aja ngeselin. Batin Kalea penuh gerutuan. "Raka nya gak diajak masuk dulu, sayang?" Ah, ada mama. "Mau langsung pulang. Ngantuk banget katanya, Ma." Padahal itu bukan Raka, tapi adik kampretnya. "Oh. Gitu." Kalea nyengir. Lanjut jalan ke kamar. Haahhh!! Merebahkan diri ke ranjang. Menatap plavon dengan helaan napas panjang. Bodoh. Barra benar. Dirinya emang bodoh. Berpura-pura tak tahu apa-apa, meski sudah tahu kenyataannya. Kenyataan bahwa Raka sebenarnya tidak mencintainya dan mencintai gadis lain. Yang selama ini diperkenalkan padanya sebagai rekan kerja. Dan beginilah ... Kilas pahit kisah cinta Kalea. Tapi ternyata, sakit itu belum seberapa. Masih ada yang lebih pahit lagi. Yang berhasil merubah masa remajanya yang indah menjadi pahit sepahit-pahitnya. Yang membuatnya menjadi sosok dingin dan keras kepala. Kejadian, malam itu ...."Sial! Buku pr gue mana?" gerutu Kalea. Mengobrak abrik isi tasnya. Namun sayangnya, buku yang dia cari keberadaannya gak kunjung dia temuin. Pluk!Kalea menghentikan gerakannya. Mendapati buku bersampul coklat di hadapannya. Sementara itu, si pelaku dengan santai melenggang ke depan. Barra! Ngapain dia ngasihin buku pr nya ke dia? Sementara, konsekuensi dari gak bawa buku, jelas dapat hukuman. Cowok itu gil-a apa ya? Malah ngasihin buku pr-nya ke dia."Barra! Stt! Ini apaan?" Tapi cowok itu gak menggubris panggilannya yang serupa bisikan itu."Barra, lo gak bawa buku pr-mu?"Gil-a! Cowok itu memang gila. Sama sekali gak ada raut khawatir kalau dia bakal kena hukuman. Apalagi, pak Ratno terkenal dengan guru yang tanpa ampun. Galaknya super beuh pokoknya.Kalea menahan napas. Meremat buku pr Barra Apa harus, dia sejahat itu dengan mengakui kalau buku pr ini miliknya?"Kamu keluar. Lari kelilingi lapangan sepuluh kali."Tanpa protes atau apapun, dengan cueknya Barra melenggang keluar.
Tenang aja. Meski nasib Kalea kerap sial, tapi dia gak pernah ngeluh. Barra emang nyebelin. Tapi obatnya ada pada abangnya, alias Raka. Rasa kesal dan umpatan yang seharian menghiasi, luntur sudah kalau sudah bertemu Raka. Yah, anggap aja Barra adalah cobaan untuk penyatuan cintanya dengan Raka. Buktinya sekarang, dia sudah duduk manis, di ruang tengah keluarga tetangga. Mengobrol asyik dengan tante Anggi, juga si obat nyamuk Barra. Gak tahu apa fungsi makhluk itu. Ikut ngobrol enggak, tapi nongol aja."Berarti dua bulan lagi kalian lulus, dong.""Hehe. Iya, Tante. Seneng deh. Bentar lagi jadi mahasiswi. Hehe."Yah, semoga aja gak sekampus sama si kampret Barra lagi. Sumpah, dia bertekad gak akan sekampus, apalagi satu jurusan dengan Barra lagi. Sudah cukup tahun-tahun yang terlewati. Sampek sekarang tempat duduk aja depan belakang."Syukurlah. Lebih cepat lebih baik. Tante udah gak sabar punya mantu kamu.""Iih, tante bisa aja. Hehe."Mendapati ekspresi mual Barra, Kalea melotot. Ema
Andai ... Andai saja pengakuannya saat itu tidak terjadi. Apakah, nasibnya gak akan sesakit ini?Harusnya, dia pendam saja perasaannya. Seperti saat itu, saat dirinya belum punya keberanian bodoh itu. Saat dirinya masih malu-malu menunjukkan perasaannya. Saat hanya Barra yang tahu perasaannya. Jauh, sebelum insiden pengakuan nekatnya..."Raka jadi pulang, mbak Nggi?"Di ruang tengah, Kalea mendengar obrolan mamanya dengan mama Barra. Tadi dia diajak mamanya main ke rumah tetangga. Dia ikut-ikut aja. Tapi lebih suka rebahan di ruang tengah. Mainan ponsel."Katanya sih semester besok mau pulang. Tapi ya gak tahu, jadi apa enggak. Liburnya gak tentu. Waktu itu sih katanya lagi persiapan buat penelitian."Mendengar nama Raka disebut, Kalea senyam senyum. Ini salah satu alasan dia tetap bersabar meski punya tetangga menyebalkan semacam Barra. Kalea menyukai Raka, kakaknya Barra. Sayangnya Raka sedang kuliah ke luar kota. Dan ngekos disana. Raka hanya pulang saat liburan semester saja.Ah
Keseimbangan Kalea hilang. Tubuhnya oleng dan terjatuh menghantam lantai. Begitu pula mangkuk dan gelas yang dibawanya, terlempar entah kemana. Yang jelas, suara pecahannya renyah di telinga. Kalea meringis. Pantatnya menghantam keras lantai. "Astaga, Kalea!"Gita tergopoh menghampirinya. Membantunya berdiri."Mana yang sakit?" tanyanya perhatian. Memeriksa seragam Kalea, yang juga terciprat kuah sebelum melayang. Roknya juga kotor."Gue gak papa, Git," ringisnya pelan. Namun ada yang lebih penting dari itu. Netranya tertuju pada Barra. Pecahan mangkuk dan gelas itu berada di bawah Barra. Kalea menelan salivanya kasar. Seragam Barra kotor. Baju putihnya berganti warna kecoklatan akibat terkena kuah baksonya. "Barra, sory ...."Barra menatapnya dingin. Dengan gerakan cepat, dia menarik tangan Kalea. Menimbulkan bisik-bisik ricuh di kantin."Bar, tunggu. Gue urus mangkok gue dulu."Tapi Barra mengabaikan permintaannya. Justru cowok itu makin mempercepat langkahnya, membuat Kalea kesul
"Kalea." Kalea membalas uluran gadis itu."Salam kenal ya, semoga kita bisa jadi temen."Kalea tersenyum tipis. Dan sangat kebetulan, bel berbunyi."Gue ke kelas dulu.""Bareng aja, kelasnya juga cuma sebelahan."Kalea mengangguk. Tapi dia gak nyangka aja, Kim menggandeng tangannya. Mengajaknya jalan duluan. Kalea menoleh , Gita aja kaget sampai melongo di tempat. "Eh, Kim, temen gue ketinggalan.""Yang mana? Oh, itu ... Aku kira dia bukan temanmu," ujar Kim santai. Menghentikan langkahnya tanpa melepas tangan Kalea.Gita menyusul kemudian. Ketiganya berjalan menuju kelas..."Kayaknya Kim deketin lo, deh, Kal," bisik Gita begitu mereka sampai di kelas. Kim sendiri sudah masuk ke kelasnya, di samping."Ngapain deketin gue? Gue juga bukan orang penting," Kalea mengangkat bahunya, tak mau ambil pusing."Ya mungkin aja karna lo deket sama Barra. Buktinya dia deketin Barra duluan. Cuma gara-gara kejadian tadi, dia jadi mikirnya lo deket sama Barra.""Su'uzhon mulu. Siapa tahu emang dia
"Lo apaan sih, Bar. Ngapain ngaku-ngaku kalau kita pacaran? Ish!" omel Kalea sepanjang langkah mereka ke parkiran.Barra mengabaikannya. Membiarkan gadis itu mengomel di belakangnya. Langkah lebarnya membuat Kalea kesulitan mengejar. "Bentar ..." Kalea memegang dadanya. Mengatur napasnya yang ngos-ngosan. Padahal cuma ngejar Barra, dia sampek capek sendiri. Ditambah tenaganya tersita gara-gara ngomel."Udah? Buruan naik," tukas Barra, yang sedari tadi sudah nangkring di atas motor. Berlipat tangan di depan dada sembari mengamati gadis yang kelelahan akibat tingkahnya sendiri itu."Ish! Gak sabaran banget." Dengan sedikit berjinjit dan menekan bahu Barra, kakinya menginjakkan tumpuan, melangkah duduk di boncengan. Emang dasar Barra. Motornya tinggi. Padahal enak pake scoopy, gak perlu ngoyo, boncengannya juga gak tinggi. Untung saja kali kaki ini lebih bebas melangkah, karna dia memakai celana."Gue mau mampir ke bengkel dulu," ujar Barra, sedikit menoleh."Hah? Ngapain?""Servis."Ka
Kalea sedang rebahan santai, sambil scroll tiktok saat mendengar namanya dipanggil."Kalea, sayang ...""Iya, Ma," sahutnya. Mempouse video yang sedang dilihatnya."Turun dulu sayang. Dicariin nih."Dahinya mengernyit. Barra? Aish! Udah dibilangin juga kalau dia nolak, malas keluar, tetep aja dateng. Ngeyel banget sih tuh anak."Kalea ....""Iya, Ma."Kalea melompat dari rebahannya. Bergegas turun sambil menggerutu."Kalau pengen main, main sendiri napa. Udah dibilang males juga," omelnya. Menuruni anak tangga, menuju ruang tamu."Kan gue udah bilang kalau gu---""Malam, Kal," senyum manis yang dirindukannya. Kalea seketika mematung di tempat. Mulutnya membuka, terperangah tak percaya dengan yang dilihatnya."Gitu amat ngeliatnya. Kenapa? Bang Raka mirip hantu ya?"Kalea sontak mingkem. Mengerjapkan matanya beberapa kali. Mengukir senyum canggung."Hehe. Kaget aja."Raka me
"Naik."Kalea tersadar dari lamunannya. Melihat Barra berjongkok."Naik mana?" tanyanya, bingung."Pundak. Cepat. Gak mau kena hukuman, kan?""Iya sih. Tapi ....""Gak ada waktu, Kalea. Cepat, naik."Kalea bergerak ragu. Perlahan mengangkat kakinya. Tapi dia gak tega, menginjak pundak Barra. Apa gak sakit?"Aish! Lea, lama."Barra bergerak mengangkat tubuh kecil Kalea."Barra!" pekiknya, terkejut. Juga takut."Pegangan tembok atas," intruksi Barra."Cepat, Kalea."Gadis itu mencengkram puncak tembok dengan rasa takutnya. "Tahan berat tubuhmu sebentar.""Aaa ... Barra!" Kalea memekik. Karna tiba-tiba Barra melepas tubuhnya."Injak pundak gue, Kal."Karna sudah diambang takutnya, Kalea menginjak pundak Barra gak kira-kira. Tentu saja Barra meringis kesakitan. "Ish! Pelan-pelan," omel Barra.Setelah merasakan ketenangan gadis itu, Barra perlahan berdiri. "Angkat kaki Lo, naikkan ke t