Share

Bab 3. Pertemuan yang Membuka Luka

Penulis: Qinoy
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-13 14:15:28

Bab 3. Pertemuan yang Membuka Luka

Arman maju beberapa langkah, mengabaikan kehadiran Farah yang mengekor di belakangnya. “Jangan main-main, Aisyah. Kamu datang ke sini untuk apa? Menguntitku? Atau kamu sengaja ingin mencari masalah?”

Mata mereka bertemu. Ada luka yang tersembunyi dalam tatapan, tapi bibir Aisyah berhasil melengkung dalam senyum tipis yang dingin. “Aku di sini bukan urusanmu, Arman. Tidak perlu khawatir, lagipula ini kantor orang tua__"

"Pergilah, Aisyah. Jangan mempermalukan diriku." Arman memotong kalimat Aisyah yang belum selesai. 

Aisyah terpaksa mengatupkan kembali bibirnya. 

"Farah, sudah berusaha keras agar aku diterima bekerja di tempat ini. Jangan membuatku terlibat masalah karena dirimu!" Arman menuding. 

"Apa maksudmu?" Rasanya Aisyah ingin tertawa mendengar pernyataan konyol Arman. Bahkan saat wanita itu menoleh ke arah Farah, wajah wanita yang sudah merebut suaminya itu tampak congkak. "Kau benar-benar tidak tau apa-apa, Arman." Suara tawa Aisyah terdengar. 

"Hei, kau menertawakan diriku?" Farah merasa tersindir dengan tatapan dan tawa Aisyah yang dianggap meremehkannya. 

"Peselingkuh dan juga perebut suami orang. Kalian benar-benar pasangan pembohong yang serasi." Suara lantang Aisyah mengatakan hal itu hingga membuat beberapa orang berlalu lalang dan berbisik-bisik langsung menjadi diam dan menyaksikan kejadian hal tersebut.

Farah tersentak mendengar sindiran itu. Dengan cepat, ia melangkah maju. “Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku!"

Aisyah tidak gentar. “Astaga, kau tersindir?” Matanya melirik Farah, yang wajahnya memerah menahan amarah.

Arman mencoba menahan Farah yang tampak kehilangan kendali, tapi wanita itu terlanjur terbakar emosi. “Dasar wanita jelek, bodoh!” Farah berteriak, lalu dengan kasar mendorong Aisyah hingga jatuh ke lantai.

Tubuh Aisyah terbanting keras di atas lantai marmer lobi yang dingin. Suara jatuhnya menarik perhatian beberapa karyawan dan tamu yang sedang berlalu lalang. Keributan pagi itu membuat suasana lobi berubah tegang.

“Nona, Anda baik-baik saja?” Seorang pria berjas hitam, yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sana, segera menghampiri. Ia membungkuk untuk membantu Aisyah berdiri.

Aisyah mengangguk pelan, meski tangannya bergetar menahan sakit. “Terima kasih,” gumamnya pelan sambil menyeka debu di roknya.

Namun, sebelum ia sempat mengatur napas, suara Arman kembali membahana. “Siapa dia?! Apa dia juga salah satu pelangganmu?!”

Aisyah membelalak, terkejut dengan tuduhan keji itu. “Arman, apa maksudmu?”

Arman mendekat, wajahnya penuh kemarahan. “Jangan berpura-pura bodoh! Kamu muncul di sini dengan penampilan seperti itu, dan sekarang ada laki-laki lain yang langsung membelamu? Jangan-jangan dia salah satu dari mereka yang membayar tubuhmu?!”

Kata-kata itu seperti pukulan telak di wajah Aisyah. Ia menatap Arman dengan tatapan tak percaya. Sementara itu, kerumunan yang semakin banyak mulai berbisik-bisik.

“Beraninya kamu, Arman,” ucap Aisyah dengan suara yang bergetar. “Beraninya kamu mengucapkan hal seperti itu kepadaku. Apa kamu sudah kehilangan akal?!”

“Beraninya?!” Arman mencibir. “Aku susah payah masuk ke kantor ini berkat Farah, dan kamu malah membuatku malu! Apa kamu akan bertanggung jawab kalau aku dipecat gara-gara ulahmu, jalang sialan?!”

Kerumunan semakin gaduh. Tatapan penuh cemooh tertuju pada Aisyah, membuatnya merasa seperti dihakimi oleh dunia. Namun, ia tidak bisa membiarkan Arman terus menginjak harga dirinya.

“Sudah cukup, Arman!” sergah Aisyah. “Aku tidak tahu apa yang membuatmu berpikir sejauh itu, tapi aku tidak akan membiarkanmu mempermalukanku di sini!”

Namun, Arman tidak peduli. Matanya tetap memancarkan kemarahan dan kebencian yang tak ia sembunyikan.

Farah, yang berdiri di sampingnya, tersenyum sinis. “Lihatlah, Arman. Dia bahkan berani melawanmu sekarang. Memang pantas dia kamu tinggalkan.”

Aisyah memandang Farah dengan dingin. “Kamu benar. Dia memang pantas meninggalkan aku, karena aku terlalu baik untuk orang seperti dia.”

Farah, terkesiap mendengar balasan itu. Kemarahan semakin membakar dirinya. 

Farah,mengeluarkan ponselnya dan mulai menelepon seseorang, "Hallo, Paman."

Farah tersenyum penuh kemenangan setelah menutup telepon. Ia memandang Aisyah dengan tatapan sinis, seolah memastikan bahwa wanita di hadapannya tidak punya tempat lagi untuk berdiri. “Kamu pikir bisa menang di sini, Aisyah? Lihat saja, aku akan memastikan kamu menyesal pernah muncul di tempat ini.”

Beberapa menit kemudian, suara langkah cepat menggema di lobi. Seorang pria paruh baya dengan wajah tegang muncul, mengenakan jas abu-abu rapi. Dia adalah Hendra, Paman Farah sekaligus orang yang cukup berpengaruh di perusahaan. Ketika matanya menangkap Farah, ia langsung menghampiri dengan raut penasaran.

“Ada apa ini, Farah? Kenapa kau meneleponku di jam kerja dengan nada panik?” tanya Hendra dengan nada tegas.

Farah langsung menunjuk Aisyah. “Paman, wanita ini yang menyebabkan keributan di sini! Dia memalukan keluarga kita, apalagi di perusahaan ini!”

Hendra mengernyitkan alis, memandang Aisyah dengan tatapan bingung. “Apa maksudmu? Siapa dia?”

Aisyah berdiri tegak, meskipun hatinya masih terasa terluka oleh penghinaan yang baru saja diterimanya. Ia menatap Hendra dengan tatapan tajam. "Pak Hendra, saya adalah Aisyah calon__"

"Dia mantan istri Mas Arman, dan ke sini untuk mencari ribut. Lihat saja, bahkan dia datang dengan pelanggan yang dia layani." Farah menyela kalimat Aisyah. Tidak hanya menyakiti, tapi wanita itu juga semakin bertindak seperti penguasa di tempat tersebut. 

Hendra menatap sinis Aisyah, dari ujung kaki hingga ujung kepala setelah mendengar perkataan keponakannya. 

Aisyah merasa risih ditatap demikian, lalu menoleh ke arah Farah. "Kau seperti membicarakan dirimu sendiri, Farah! Aku bukan pelacur seperti dirimu!" Suara Aisyah terdengar kencang

"Dasar kau wanita kurang ajar." Mata Hendra kini mendelik tidak terima sang keponakan dihina. "Di mana petugas keamanan. Seret wanita gila itu keluar!" Suara bariton lelaki tua itu terdengar keras. 

Dengan kencang petugas keamanan menarik tangan kanan Aisyah dan menyeret wanita rapuh itu seperti tersangka kejahatan. "Jangan membuat keributan di kantor ini, sialan!" 

"Lepaskan!" 

Keluar dari lobi, dan menjadi bahan tontonan dan tertawaan karyawan membuat Aisyah menangis. Bukan hanya diseret paksa, paman dari Farah itu pun dengan keras mendorong tubuh Aisyah hingga wanita tersebut terjatuh dari anak tangga.

"Argh." Beruntung tidak terlalu tinggi, tapi itu cukup membuat kaki Aisyah terkilir. 

"Kau pantas mendapatkan itu dasar wanita murahan miskin!" Kalimat menohok dari Farah itu diakhiri dengan tawa.

Aisyah mulai menangis melihat ke sekeliling orang-orang menertawakannya. Betapa malu Aisyah. 

"Kalian benar-benar orang bodoh." Lelaki yang tadi mengekor Aisyah kembali membantu sang wanita berdiri.

"Hei, kalian dengar, sepertinya lelaki itu puas dengan pelayanan Aisyah sehingga tetap setia membantunya." Mulut Farah semakin melontarkan kata-kata pedas.

Bibir Aisyah gemetar, dia memberanikan diri menatap Arman dan Farah. "Kalian benar-benar keterlaluan," Aisyah berteriak. "Dan kau Arman. Kau laki-laki tidak tahu diri." Aisyah menjeda kalimat. "Asal kau tahu Arman yang membuat kau masuk ke perusahaan ini bukan Farah__."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terkait

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 4. Pengungkapan yang Menggetarkan

    Bab 4. Pengungkapan yang Menggetarkan"Apa yang kau icarakan, bodoh. Wanita macam apa yang berani mengklaim hal konyol seperti itu?" Suara tawa Farah menggema di pelataran kantor, memancing lebih banyak bisik-bisik dari kerumunan yang sudah berkumpul.Aisyah menelan rasa sakit di kakinya, berusaha keras untuk tetap berdiri dengan sisa tenaga yang ia miliki. Mata-mata penuh ejekan dari orang-orang di sekitarnya membuat dadanya terasa sesak."Berhenti menertawakanku!" Aisyah berteriak, suaranya pecah oleh emosi.Namun, bukannya berhenti, Farah justru melangkah mendekat dengan tatapan penuh cemooh. "Kau ini apa? Mau mencoba membuktikan sesuatu? Hei, lihatlah dirimu! Bahkan berjalan saja kau kesulitan."Aisyah menatap Farah dengan mata berkaca-kaca, namun tak ada air mata yang ia biarkan jatuh. "Kau pikir kau sudah menang, Farah?" katanya dengan suara gemetar.Arman menyeringai. "Kau sudah kalah, Aisyah. Jangan membuat dirimu semakin menyedihkan."Aisyah ingin melawan, tetapi rasa sakit d

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-13
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   BAB 5. Manipulatif

    Bab 5. ManipulatifFarah menggebrak meja kecil di ruangannya dengan keras. Suara hantaman itu memantul di dinding ruang kerja yang dihiasi lukisan abstrak berwarna gelap. Matanya memerah, napasnya tersengal, sementara dada naik-turun seperti sedang membakar emosi yang tak tertahan.“Kenapa dia selalu mendapatkan perhatian? Bahkan setelah semua penghinaan tadi, dia masih diperlakukan seperti seorang ratu!” Suaranya nyaring, menggema, hingga membuat Hendra, pamannya, yang duduk santai di sofa kulit hitam di sudut ruangan, menoleh dengan alis terangkat.Hendra hanya menyeringai kecil, seolah menikmati pemandangan kemarahan Farah. Ia mengangkat cangkir kopinya dengan gerakan tenang, menyeruput sedikit, lalu meletakkannya kembali di meja kecil di hadapannya. “Tenang, Farah. Tidak ada yang abadi. Bahkan perhatian seorang Hermawan bisa kita belokkan.”Farah menoleh tajam. Matanya menyipit, kilatan penuh rasa ingin tahu muncul di balik amarahnya. “Apa maksud Paman?” tanyanya, suaranya lebih r

    Terakhir Diperbarui : 2025-01-13
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 6. Drama di Kantor

    Bab 6. Drama di kantorMirna melangkah cepat keluar dari mobilnya, sepatu hak tingginya mengetuk lantai lobi kantor dengan ritme yang tegas. Tatapan matanya tajam, seolah menembus siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Di tangannya, sebuah tas kulit mewah terayun ringan, kontras dengan atmosfer panas yang mulai terasa dari amarah yang ia pendam.Farah berdiri di sudut lobi, pura-pura terkejut melihat kedatangan Mirna yang mendadak. Ia segera melangkah mendekat dengan ekspresi cemas yang sudah dipoles sempurna. "Bu Mirna! Astaga, saya tidak menyangka Ibu akan datang langsung."Mirna menatap Farah dingin. "Bawa saya ke tempat suami saya sekarang."Farah menunduk, menunjukkan kesopanan palsu. "Tentu, Bu. Mari ikut saya." Ia memimpin jalan menuju ruang kerja Hermawan, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Mirna masih mengikutinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—sangat tipis, tetapi penuh kemenangan.Di ruang kesehatan, Pak Hermawan berdiri dengan tangan di pinggang, berhadap

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-04
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 7. Kemarahan Farah

    Bab 7. Kemarahan FarahFarah melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan penuh amarah. Tumit sepatu tingginya menghentak lantai marmer, suaranya menggema di sepanjang lorong. Begitu pintu tertutup, ia menatap Arman yang ada di belakangnya. "Arman!" serunya dengan nada tinggi. "Apa yang kau katakan waktu itu? Bahwa Aisyah hanya gadis sederhana yang tidak jelas asal-usulnya?"Arman tampak bingung sekaligus tegang mendengar nada Farah. "Farah, Tenang dulu—""Tenang?" Farah mendengus sinis, wajahnya memerah karena marah. "Kau pikir aku bisa tenang setelah ini? Kau tahu siapa Aisyah? Dia anak Pak Hermawan dan Bu Mirna! Kau sadar betapa bodohnya aku sekarang? Aku dan paman terancam di pecat!""Saat aku menikahinya, dia hanya gadis sederhana yang sangat mencintaiku. Bahkan wali nikahnya saja dulu ayahnya, dan itu lewat telepon. Aku tidak tahu apa-apa soal keluarganya." Ucapnya sambil mengingat -ingat. Farah melangkah mendekat, menatap Arman dengan penuh kekesalan. "Kau menikahi seorang wanita

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-07
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 8. Direktur Utama

    Bab 8. Direktur UtamaSetelah Farah, Hendra, dan Arman meninggalkan ruangan, suasana di dalam menjadi sangat tegang. Aisyah berdiri mematung, matanya tertuju ke lantai, mencoba menghindari tatapan tajam dari Mama, ibu Mirna. Ibu Mirna melangkah mendekat, suaranya langsung menghentak. “Jadi, puas kamu sekarang? Sudah Mama bilang, Arman itu bukan pria yang pantas untukmu! Tapi apa? Kamu malah merajuk, melawan kami, bahkan rela menyembunyikan identitasmu demi pria itu! Sekarang apa yang kamu dapat, hah? Dibuang? Direndahkan?!”Aisyah hanya diam, menunduk lebih dalam. Tenggorokannya tercekat, tetapi ia tidak bisa membalas.Ibu Mirna, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Amarah dan kecewa terpancar dari setiap kata yang keluar. “Kamu itu pintar, kamu kaya, kamu punya segalanya, Aisyah. Tapi kamu malah memilih jadi lemah dan miskin demi pria seperti Arman. Demi cinta? Kamu kira cinta itu cukup?”“Mama...” Aisyah akhirnya berbisik, suaranya lirih. “ Dulu aku hanya ingin dicintai dengan tulu

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-08
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 9. Fakta Yang Mengejutkan

    Bab 9. Fakta yang MengejutkanSesampainya di rumah, Bu Mirna sudah menunggu mereka di ruang tamu, dengan secangkir teh di tangan dan ekspresi angkuh yang menjadi ciri khasnya. Ketika melihat Farah dan Arman masuk, dia segera meletakkan cangkirnya."Kalian sudah pulang?" tanya Bu Mirna dengan senyuman.Farah langsung duduk di sofa tanpa diundang, sementara Arman berdiri di dekat pintu, masih tampak ragu. "Bu," kata Farah pelan. Bu Mirna menaikkan alisnya. "Ada apa?"Sambil memegang lengan Bu Mirna, Farah mencondongkan sedikit wajahnya "Direktur utama perusahaan tempat saya bekerja adalah Aisyah. Mendengar nama itu, ekspresi Bu Mirna berubah seketika. Bibirnya mengerucut, dan matanya menyipit tajam. "Aisyah? Apa urusannya dia dengan perusahaanmu?"Farah menelan ludah sebelum menjawab. "Dia... direktur utama Amarta Group, Bu. Dan dia... anak keluarga Hermawan."Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Matanya membelalak, menatap Farah seperti tidak percaya. "Apa... apa kamu bilang

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-10
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 10. Langkah Pertama

    Bab 10. Langkah Pertama Setelah pengumuman besar itu, suasana di ruang rapat perlahan kembali tenang. Namun, Aisyah dapat merasakan adanya sikap dingin yang terpendam pada beberapa anggota keluarga besar Amarta Group, terutama dari Farah dan Hendra. Mereka jelas tidak senang dengan keputusan ini, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menentang Pak Hermawan secara langsung.Setelah pertemuan berakhir, para peserta mulai meninggalkan ruangan. Beberapa karyawan menghampiri Aisyah dan mengucapkan selamat dengan senyuman formal. Namun, dia tahu bahwa banyak dari mereka masih meragukan kemampuannya.“Selamat ya, Presiden Direktur,” sapa Farah dengan nada sinis saat mereka berpapasan di pintu keluar. "Tetapi jangan lupa, ini baru permulaan. Posisinya berat, dan tidak semua orang cukup kuat untuk mempertahankannya.”Aisyah menatap Farah sambil tersenyum tenang. "Terima kasih atas pengingatnya, Farah." Saya yakin bahwa dengan kerja keras dan dukungan tim, saya dapat melalui ini. Oh, dan te

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-11
  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 11. Fitnah

    Bab 11. Fitnahkantor Amarta Grup, atmosfer mulai berubah. Bisikan-bisikan tentang Aisyah terdengar di mana-mana. Beberapa karyawan berkumpul di pantry, membahas berita yang mereka dengar.“Aku dengar dia cuma jadi direktur utama karena dia anaknya Pak Hermawan. Kalau bukan anak pemilik, mana mungkin dia dipilih?” ujar seorang karyawan wanita.“Benar! Apalagi yang ku dengar dia cuma kerja sebagai ibu rumah tangga saja. Gimana bisa seseorang yang nggak punya pengalaman langsung memimpin perusahaan sebesar ini?” balas rekannya.Sementara itu, di ruangannya, Aisyah mencoba fokus pada dokumen di depannya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari rekan kerjanya yang melintas di luar ruangan.Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. “Masuk,” ujarnya.Rani, asistennya, melangkah masuk dengan wajah ragu. “Bu Aisyah, saya perlu memberitahu sesuatu.”Aisyah menatap Rani dengan tajam. “Apa yang terjadi, Rani?”“Saya dengar beberapa orang di kantor mulai membicarakan hal-hal tida

    Terakhir Diperbarui : 2025-02-14

Bab terbaru

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 41. Rencana Jahat Hendra

    Bab 41. Rencana Jahat Hendra"Akhirnya aku bisa mengambil keputusan besar ini. Terima kasih Ya Tuhan karena engkau sudah mempermudah segala jalannya," gumam Aisyah pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Padahal hari masih pagi, tapi masalah sudah muncul tanpa permisi."Aku sangat yakin ada dalang di balik semua kejadian ini. Tapi siapa?" Ia mencoba memejamkan matany sebentar untuk menghilangkan penat. Namun, belum sempat terpejam di luar sudah terdengar suara keributan antara Rani dan seseorang. Karena penasaran akhirnya Aisyah membuka pintu ruangannya."Maafkan saya, Bu. Pak Hendra sedari tadi memaksa bertemu Ibu, padahal saya sudah menjelaskan baik-baik Ibu sedang tidak bisa diganggu," jelas Rani."Tidak apa, Rani. Itu bukan salahmu," jawab Aisyah. "Silakan masuk Pak Hendra, barangkali ada hal penting yang ingin Anda sampaikan kepada saya," lanjutnya sambil membuka pintu lebih lebar lagi. Dengan angkuh Hendra melanglang masuk begitu saja."Anda tidak bisa berbuat seenaknya, Bu A

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 40. Pemecatan dan Pengungkapan

    Bab 40. Pemecatan dan Pengungkapan"Apa, Paman?! Bagaimana bisa?" teriak Farah di ujung telepon.'Paman juga tidak tahu. Kamu lihat sendiri saja di media sosial,' ujar Hendra. Ya, ia memberi tahu Farah tentang video yang tersebar luas."Dasar brengsek! Paman lakukan sesuatu. Makin ke sini, dia semakin berbuat semaunya."'Kamu yakin pelakunya Aisyah?'"Kalau bukan dia lalu siapa lagi? Yang tahu video itu cuma dia seorang, Paman."'Baiklah. Besok pagi kita bicarakan hal ini. Jika benar dia, paman akan melaporkan tindakan ini pada papanya.'"Aku tidak mau tahu. Pokonya aku mau wanita sialan itu dipecat!" Klik! Farah mematikan telepon itu secara sepihak. Dengan segera ia membuka link yang diberikan Hendra, dan ternyata benar saja video itu sudah viral di mana-mana dan mendapatkan ribuan like dan komen."Akhhhhhh ... ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin dalam hitungan menit seviral ini?!" teriak Farah. Sungguh ia sangat malu. "Apa yang akan terjadi selanjutnya. Akhhhhhhh ...." Ia melem

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 39. Aisyah dan Pusaran Konspirasi

    Bab 39. Aisyah dan Pusaran KonspirasiMeta berjalan dengan anggun menuju ruangan Aisyah. Namun, langkahnya harus terhenti ketika Rani menodongnya."Jangan bilang itu ulahmu juga, Bu Meta?" "Memangnya kenapa? Toh mereka selama ini jahat menghasut karyawan di sini. Aku tidak berbuat curang ataupun menuduh tanpa bukti. Semua yang aku perlihatkan pada mereka adalah sesuatu yang benar adanya.""Tapi, Bu. Saya merasa bersalah, karena saya yang mengirimkan video itu pada mereka.""Kamu tenang saja. Saya yang akan bertanggungjawab semuanya, karena kamu mengirimkan video itu atas saran saja. Sudah ya, saya mau ke ruangan Bu Aisyah dulu."Meta berlalu dari hadapan Rani, tak lupa ia mengetuk pintu ruangan Aisyah. Saat sudah terdengar suara pemilik ruangan mengizinkan masuk, Meta segera masuk dan duduk di depan Aisyah."Ada apa? Sepertinya terjadi keributan lagi?" tanya Aisyah."Begitulah, Bu. Semua karyawan di sini sudah mengetahui semua kebusukan mereka," jawab Meta dengan santai."Bagaimana

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 38. Vidio Skandal

    Bab 38. Vidio SkandalJam pulang kantor telah tiba. Semua karyawan telah pulang, tapi anehnya mereka tidak pulang ke rumah masing-masing melainkan berkumpul di depan pos satpam dengan tatapan yang sulit diartikan."Bu Meta, di luar ada apa rame-rame?" tanya Aisyah, melihat dari cctv."Saya tidak tahu, Bu.""Aduh ...," keluh Aisyah. "Apa ada gosip miring lagi tentang saya?" Wajahnya mulai terlihat cemas."Hmmm, baiknya Bu Aisyah tunggu di sini saja dulu. Biar saya pastikan ke depan." Meta memberikan usulan."Terima kasih, Bu Meta." Aisyah menghembuskan napas penuh kelegaan."Saya permisi dulu, Bu," pamit Meta keluar dari ruangan Aisyah.Di dalam ruangannya Aisyah terus memantau kerumunan orang-orang di luar. "Sampai kapan karyawan ini merubah sikap, supaya tidak mudah terprovokasi oleh gosip Ya Tuhan?" gumamnya mulai lelah melihat tingkah bawahnya yang mudah terbawa arus.****Farah dan Arman berjalan bergandengan tangan dengan sangat mesra, mereka memang terbiasa pulang terakhir. "Ma

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 37. Perubahan Sikap di Lingkungan Kerja

    Bab 37. Perubahan Sikap di Lingkungan Kerja. [Jangan melupakan janji temu kita. Sore nanti saya jemput.]"Aduh!" Aisyah menepuk jidatnya. Saking sibuknya mengurus masalah Arman dan Farah, ia sampai melupakan janjinya dengan Rendra.[Kita mau ke mana?] Aisyah membalas pesan itu.[Bertemu dengan wanita yang mengejar-ngejar aku. Ingat misi kita.]"Ya Allah ... bagaimana ini?" Mendadak Aisyah menjadi panik, ia tidak mungkin tampil biasa saja. "Dia pasti menginginkan aku tampil beda, tapi ...'' Aisyah mengigit kukunya.[Jam berapa acaranya?][Jam 3 sore aku jemput.]"Tidak! Satu jam lagi dong. Aduh!" Aisyah langsung panik banget. "Aku belum nyalon, belum memilih baju, belum ... ahhh, aku tidak bisa prepare dalam waktu satu jam."[Dua jam ya. Aku perlu bersiap-siap dulu.] Aisyah mencoba bernegosiasi pada Rendra.[Tidak bisa. Satu jam lagi aku sudah sampai di kantormu.]"Astaghfirullah. Rani, ahh, iya, Rani." Aisyah setengah berlari keluar memanggil Rani."Ada apa, Bu. Kenapa Ibu panik sep

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 36. Sistem Keamanan

    Bab 36. Sistem Keamanan"Dasar bodoh!" Hendra memaki Arman dan Farah. Saat ini ketiganya sudah berada di ruangan Hendra. "Apa yang kalian pikirkan.Hah?""Paman, maafkan aku," ujar Farah terisak pilu."Kalau sudah seperti ini kalian bisa apa? Kamu juga Arman, harusnya sebagai laki-laki kamu bisa menahan nafsumu.""Tapi Farah yang sudah menggoda saya, Paman." Arman membela diri, ia tak ingin disalahkan sendiri."Kalian berdua sama-sama bodoh.""Paman maafkan aku," rengek Farah."Sudahlah, untuk ke depannya kalian lebih wasapada lagi.""Baik, Paman," jawab Farah dan Arman secara bersamaan. "Paman, aku ingin kita melakukan sesuatu.""Sesuatu apa, Farah?!""Kita laporkan saja tindakan ini ke polisi, Paman. Ini kan sudah termasuk pencemaran nama baik dan juga melanggar kode etik privasi orang lain.""Kamu pikir polisi sebodoh itu? Kalian melakukan hal gila itu di ruangan kantor di jam kantor dan juga Arman__" Hendra menjeda ucapannya. "Kalau sampai kasus ini tembus ke polisi, kalian berdua

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 35. Awal Mula Kehancuran Farah dan Arman

    Bab 35. Awal Mula Kehancuran Farah dan ArmanMatahari mulai bersinar membawa kedamaian. Memberikan kehangatan dan ketenangan bagi semua insan."Hallo, Sayang." Arman membukakan pintu mobil sang pujaan yang baru saja sampai."Hai, Sayang." Dengan gerakan manja, Farah mengulurkan tangannya ke arah Arman. Terlihat laki-laki itu mengecup singkat tangan lembut nan mulus kekasihnya. "Ayo," ajaknya. Digandengnya tangan Farah dengan sangat mesra, seolah-olah menunjukkan pada semua orang jika mereka adalah pasangan yang sempurna."Aku sangat merindukanmu.""Begitupun denganku, padahal baru semalam kita tidur terpisah," ujar Arman dengan tidak tahu malu. Padahal mereka pasangan belum halal."Kita olahraga pagi dulu. Bagaimana?' bisik Farah dengan sensual."Bukannya hari ini ada rapat?""Ini masih jam 8 pagi. Ayolah." Farah mengeluarkan sikap manjanya. Luluh sudah pertahanan Arman. Bukannya belok ke ruangan kerjanya, Arman malah masuk ke dalam ruangan Farah."Jangan lupa kunci pintunya, Sayang.

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 34. Kerja Sama dan Konspirasi

    Bab 34. Kerja Sama dan Konspirasi"Baru saja sepekan aku tak berjumpa dengannya, kenapa dia membuatku segila ini?" Rendra mondar-mandir di dalam ruangannya. Rasa rindu pada Aisyah membuatnya tak tenang, sebuah ide gila muncul begitu saja. "Semoga ini berhasil." Ia mengambil ponsel, dan mulai melancarkan aksinya.[Nanti malam temani saya makan.] Satu pesan dikirim Rendra pada Aisyah.[Maaf, saya tidak bisa. Lain kali atau di siang hari saja.] Aisyah menolak dengan cara halus, bukan apa-apa ia takut menjadi bahan fitnah apalagi masa idahnya belum selesai.[Baiklah kalau tidak bisa malam, besok siang. Saya tidak ingin mendengar penolakan.][Kenapa Anda memaksa saya? Siapa Anda?][Jangan menolak. Ini bagian dari kerja sama.] Balas Rendra yang membuat Aisyah diam seketika."Huhh ... kenapa ada modelan manusia menyebalkan begitu, sih?' gerutu Aisyah memandangi layar ponselnya. Sedangkan di tempat yang berbeda Rendra tertawa penuh kepuasan karena berhasil mengajak Aisyah kencan meskipun deng

  • Istri Yang Kau Campakkan Bukan Wanita Biasa   Bab 33. Kesepakatan Rahasia: Cinta dan Bisnis

    Bab 33. Kesepakatan Rahasia: Cinta dan BisnisTepat jam 13.10 menit, Aisyah sudah memarkirkan mobilnya di halaman coffe yang sudah dijanjikan. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia menarik napas dalam sebelum melangkah kan kakinya masuk ke dalam coffe."Selamat siang, ada yang bisa saya bantu," sapa seorang pelayan dengan sangat ramah."Saya mau bertemu dengan orang dari PT. Indomarka. Apakah dia sudah sampai?""Oh, dengan Bu Aisyah?" Pelayan itu memastikan. Aisyah mengangguk sebagai jawaban."Mari, Bu saya antar. Beliau sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu, dan sudah berada di ruang privat room.""Terima kasih," jawab Aisyah ramah. Ia mengikuti langkah kaki sang pelayan coffe menuju lantai tiga. Coffe dengan gaya Eropa klasik, memberikan kesan elegan pada siapa saja yang melihat."Silakan, Bu, saya permisi dulu," ujar si pelayan coffe, setelah Aisyah sampai."Terima kasih," jawab Aisyah dengan sopan.Mata Aisyah memindai sekitar, kakinya mulai melangkah mendekat ke arah ses

Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status