Bab 6. Drama di kantor
Mirna melangkah cepat keluar dari mobilnya, sepatu hak tingginya mengetuk lantai lobi kantor dengan ritme yang tegas. Tatapan matanya tajam, seolah menembus siapa pun yang berani menghalangi jalannya. Di tangannya, sebuah tas kulit mewah terayun ringan, kontras dengan atmosfer panas yang mulai terasa dari amarah yang ia pendam.
Farah berdiri di sudut lobi, pura-pura terkejut melihat kedatangan Mirna yang mendadak. Ia segera melangkah mendekat dengan ekspresi cemas yang sudah dipoles sempurna. "Bu Mirna! Astaga, saya tidak menyangka Ibu akan datang langsung."
Mirna menatap Farah dingin. "Bawa saya ke tempat suami saya sekarang."
Farah menunduk, menunjukkan kesopanan palsu. "Tentu, Bu. Mari ikut saya." Ia memimpin jalan menuju ruang kerja Hermawan, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan Mirna masih mengikutinya. Senyum kecil muncul di bibirnya—sangat tipis, tetapi penuh kemenangan.
Di ruang kesehatan, Pak Hermawan berdiri dengan tangan di pinggang, berhadapan dengan seorang suster yang membawa map, seperti sedang menjelaskan sesuatu.
Pintu terbuka lebar, dan Mirna melangkah masuk dengan aura mengintimidasi. Suara hak sepatunya bergema, membuat semua orang di ruangan itu menoleh. Hermawan menegang seketika, wajahnya berubah pucat melihat istrinya berdiri di ambang pintu.
"Mirna? Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya dengan nada yang tenang, meski sedikit terkejut.
Mirna tidak menjawab. Tatapannya tajam, seperti pisau yang siap menembus. "Siapa yang sedang kau tunggu dan temani di ruang kesehatan ini, Hermawan?" tanyanya dingin, suaranya penuh tekanan.
Hermawan membuka mulut, tetapi sebelum ia sempat menjawab, Farah menyela dengan nada penuh keprihatinan. "Bu Mirna, maafkan saya. Saya tidak bermaksud mencampuri urusan pribadi Anda. Tapi saya rasa Ibu perlu tahu... wanita ini membuat keributan di kantor dan... kelihatannya ada sesuatu yang tidak pantas terjadi."
"Farah!" seru Hermawan dengan nada marah. "Jaga ucapanmu!"
Namun, Farah tidak mundur. Ia malah menundukkan kepala, seolah-olah merasa bersalah. "Maaf, Pak. Tapi saya hanya ingin melindungi nama baik Anda."
Mirna memandang suaminya dengan mata yang penuh curiga. "Jadi, apa yang sebenarnya terjadi, Hermawan? Apa benar seperti yang dikatakannya itu?"
Hermawan menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Ini salah paham, Mirna. Wanita ini membutuhkan bantuan, dan aku hanya mencoba menolongnya. Tidak ada yang lebih dari itu."
Hendra, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Maaf, Pak Hermawan, tapi situasinya terlihat buruk. Anda tahu bagaimana gosip bisa menyebar. Kami hanya khawatir ini akan merusak reputasi perusahaan."
Mirna menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Namun, pikirannya sudah dipenuhi oleh kata-kata Farah dan Hendra. Wanita ini, siapa pun dia, jelas telah membawa kekacauan ke dalam hidupnya.
"Aku akan menjelaskan semuanya, Mirna. Tapi percayalah, tidak ada yang terjadi di sini." Jawabnya tenang.
"Percaya?" tanya Mirna dengan nada mencemooh. "Percaya, setelah aku mendengar ini semua? Bagaimana aku bisa percaya, Hermawan?"
Hendra melirik Arman dan Farah, memberikan sinyal halus. Farah segera merespons, mendekati Mirna dengan langkah hati-hati. "Bu, mungkin kita bisa membicarakan ini secara pribadi. Saya yakin Bapak tidak bermaksud buruk, tetapi situasinya memang terlihat... kurang pantas."
Hermawan melangkah maju, berdiri di antara Mirna dan Farah. "Aku tidak akan membiarkan kalian memanipulasi ini lebih jauh. Wanita ini butuh bantuan, itu saja."
"Siapa dia, Hermawan?" Mirna bertanya lagi, kali ini suaranya meninggi. "Jika kau tidak menyembunyikan apa pun, kenapa kau begitu defensif?"
Ketika keributan semakin memuncak, pintu ruang kesehatan terbuka. Aisyah, yang sedang duduk di ruang sebelah, terkejut mendengar suara gaduh di luar. Dia melangkah mendekat, penasaran, dan segera terdiam di ambang pintu begitu melihat siapa yang ada di depan.
Mirna menatapnya dengan mata terbelalak. Dengan pandangan penuh kebencian, dia berbalik langsung melangkah maju, menatap Farah dan Hendra yang berdiri dekat Arman.
"Jadi, dia yang kalian maksud? Wanita yang membuat keributan itu?" suara Mirna seperti gemuruh petir.
Mirna berdiri tegak, napasnya terengah-engah, amarahnya hampir meluap. Wajahnya memerah, otot-otot rahangnya tegang menahan kata-kata pedas yang siap keluar dari bibirnya. "Jangan kau kira aku bodoh, Farah!" serunya dengan suara yang semakin meninggi. "Kau benar-benar berani menuduh suamiku selingkuh! Apa kau pikir aku tidak bisa melihat niat busuk di balik setiap kata-katamu?"
Farah terlihat terdiam, tubuhnya sedikit gemetar, namun tetap berusaha menunjukkan ketenangan. "Bu Mirna, saya—" Farah mencoba berbicara, namun Mirna menoleh tajam, memotong kalimatnya.
"Diam!" kata Mirna dengan suara yang lebih dingin dari es, lalu menoleh ke arah Hendra.
"Dan kau, Hendra," lanjut Mirna. "Sebagai seorang pria yang seharusnya tahu sopan santun, kau malah ikut-ikutan dalam permainan murahan ini? Apa yang kau harapkan dari semua ini? Kenaikan jabatan? Uang? Penghormatan?"
"Kalian semua benar-benar punya nyali besar, Dan lebih parahnya, kalian menggunakan anakku sebagai alat permainan kotor ini?"
Farah, Hendra dan Arman terkejut dengan pernyataan Bu Mirna yang mengatakan jika Aisyah adalah Anaknya
"Anak? Aisyah anak Ib__" Ucapan Arman belum selesai.
"Iya, Aisyah anak saya, Arman!" Bu Mirna menatap Arman penuh kebencian.
Suasana makin mencekam. Farah dan Hendra saling melirik, mencari cara untuk meredakan situasi, tapi keduanya tahu tidak ada yang bisa menghentikan Mirna saat ia sudah semarah ini.
Namun, tiba-tiba, suara Hermawan memecah keheningan. "Cukup!" katanya dengan nada tegas. Semua orang langsung diam, termasuk Mirna.
Hermawan maju ke tengah ruangan, berdiri di samping istrinya. "Kalian semua perlu tahu satu hal," katanya, menatap tajam ke arah Farah, Hendra, dan Arman. "Aisyah bukan sekadar anakku. Dia adalah masa depan perusahaan ini. Dan aku telah memutuskan, mulai hari ini, Aisyah akan menjadi Direktur Utama perusahaan cabang ini."
Farah tampak terkejut, wajahnya seketika memucat. Hendra mengerutkan alis, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Sementara itu, Arman terlihat seperti dihantam pukulan telak.
"Apa?" Farah akhirnya bersuara, suaranya bergetar. "Aisyah... direktur? Tapi, Pak Hermawan, saya pikir—"
"Kau tidak perlu berpikir, Farah," potong Hermawan dengan nada tajam. "Keputusan ini bukan untuk diperdebatkan."
Mirna menatap putrinya, matanya melembut sejenak sebelum kembali menatap Farah dan Hendra. "Kalian dengar itu? Aisyah adalah masa depan perusahaan ini. Jadi jika ada yang mencoba menjatuhkannya atau mencemarkan nama baik keluargaku lagi, aku tidak akan tinggal diam."
Farah hanya bisa menunduk. Hendra tidak berkata apa-apa, sementara Arman tetap berdiri di tempatnya, wajahnya menunduk penuh penyesalan.
Farah, Hendra, dan Arman perlahan keluar dari ruangan kesehatan, masing-masing dengan ekspresi berbeda. Farah tampak panik, Hendra terlihat marah, dan Arman...
Bab 7. Kemarahan FarahFarah melangkah masuk ke ruang kerjanya dengan penuh amarah. Tumit sepatu tingginya menghentak lantai marmer, suaranya menggema di sepanjang lorong. Begitu pintu tertutup, ia menatap Arman yang ada di belakangnya. "Arman!" serunya dengan nada tinggi. "Apa yang kau katakan waktu itu? Bahwa Aisyah hanya gadis sederhana yang tidak jelas asal-usulnya?"Arman tampak bingung sekaligus tegang mendengar nada Farah. "Farah, Tenang dulu—""Tenang?" Farah mendengus sinis, wajahnya memerah karena marah. "Kau pikir aku bisa tenang setelah ini? Kau tahu siapa Aisyah? Dia anak Pak Hermawan dan Bu Mirna! Kau sadar betapa bodohnya aku sekarang? Aku dan paman terancam di pecat!""Saat aku menikahinya, dia hanya gadis sederhana yang sangat mencintaiku. Bahkan wali nikahnya saja dulu ayahnya, dan itu lewat telepon. Aku tidak tahu apa-apa soal keluarganya." Ucapnya sambil mengingat -ingat. Farah melangkah mendekat, menatap Arman dengan penuh kekesalan. "Kau menikahi seorang wanita
Bab 8. Direktur UtamaSetelah Farah, Hendra, dan Arman meninggalkan ruangan, suasana di dalam menjadi sangat tegang. Aisyah berdiri mematung, matanya tertuju ke lantai, mencoba menghindari tatapan tajam dari Mama, ibu Mirna. Ibu Mirna melangkah mendekat, suaranya langsung menghentak. “Jadi, puas kamu sekarang? Sudah Mama bilang, Arman itu bukan pria yang pantas untukmu! Tapi apa? Kamu malah merajuk, melawan kami, bahkan rela menyembunyikan identitasmu demi pria itu! Sekarang apa yang kamu dapat, hah? Dibuang? Direndahkan?!”Aisyah hanya diam, menunduk lebih dalam. Tenggorokannya tercekat, tetapi ia tidak bisa membalas.Ibu Mirna, menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Amarah dan kecewa terpancar dari setiap kata yang keluar. “Kamu itu pintar, kamu kaya, kamu punya segalanya, Aisyah. Tapi kamu malah memilih jadi lemah dan miskin demi pria seperti Arman. Demi cinta? Kamu kira cinta itu cukup?”“Mama...” Aisyah akhirnya berbisik, suaranya lirih. “ Dulu aku hanya ingin dicintai dengan tulu
Bab 9. Fakta yang MengejutkanSesampainya di rumah, Bu Mirna sudah menunggu mereka di ruang tamu, dengan secangkir teh di tangan dan ekspresi angkuh yang menjadi ciri khasnya. Ketika melihat Farah dan Arman masuk, dia segera meletakkan cangkirnya."Kalian sudah pulang?" tanya Bu Mirna dengan senyuman.Farah langsung duduk di sofa tanpa diundang, sementara Arman berdiri di dekat pintu, masih tampak ragu. "Bu," kata Farah pelan. Bu Mirna menaikkan alisnya. "Ada apa?"Sambil memegang lengan Bu Mirna, Farah mencondongkan sedikit wajahnya "Direktur utama perusahaan tempat saya bekerja adalah Aisyah. Mendengar nama itu, ekspresi Bu Mirna berubah seketika. Bibirnya mengerucut, dan matanya menyipit tajam. "Aisyah? Apa urusannya dia dengan perusahaanmu?"Farah menelan ludah sebelum menjawab. "Dia... direktur utama Amarta Group, Bu. Dan dia... anak keluarga Hermawan."Untuk beberapa detik, waktu seolah berhenti. Matanya membelalak, menatap Farah seperti tidak percaya. "Apa... apa kamu bilang
Bab 10. Langkah Pertama Setelah pengumuman besar itu, suasana di ruang rapat perlahan kembali tenang. Namun, Aisyah dapat merasakan adanya sikap dingin yang terpendam pada beberapa anggota keluarga besar Amarta Group, terutama dari Farah dan Hendra. Mereka jelas tidak senang dengan keputusan ini, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menentang Pak Hermawan secara langsung.Setelah pertemuan berakhir, para peserta mulai meninggalkan ruangan. Beberapa karyawan menghampiri Aisyah dan mengucapkan selamat dengan senyuman formal. Namun, dia tahu bahwa banyak dari mereka masih meragukan kemampuannya.“Selamat ya, Presiden Direktur,” sapa Farah dengan nada sinis saat mereka berpapasan di pintu keluar. "Tetapi jangan lupa, ini baru permulaan. Posisinya berat, dan tidak semua orang cukup kuat untuk mempertahankannya.”Aisyah menatap Farah sambil tersenyum tenang. "Terima kasih atas pengingatnya, Farah." Saya yakin bahwa dengan kerja keras dan dukungan tim, saya dapat melalui ini. Oh, dan te
Bab 11. Fitnahkantor Amarta Grup, atmosfer mulai berubah. Bisikan-bisikan tentang Aisyah terdengar di mana-mana. Beberapa karyawan berkumpul di pantry, membahas berita yang mereka dengar.“Aku dengar dia cuma jadi direktur utama karena dia anaknya Pak Hermawan. Kalau bukan anak pemilik, mana mungkin dia dipilih?” ujar seorang karyawan wanita.“Benar! Apalagi yang ku dengar dia cuma kerja sebagai ibu rumah tangga saja. Gimana bisa seseorang yang nggak punya pengalaman langsung memimpin perusahaan sebesar ini?” balas rekannya.Sementara itu, di ruangannya, Aisyah mencoba fokus pada dokumen di depannya. Namun, ia tidak bisa mengabaikan tatapan-tatapan aneh dari rekan kerjanya yang melintas di luar ruangan.Ketukan di pintu membuyarkan pikirannya. “Masuk,” ujarnya.Rani, asistennya, melangkah masuk dengan wajah ragu. “Bu Aisyah, saya perlu memberitahu sesuatu.”Aisyah menatap Rani dengan tajam. “Apa yang terjadi, Rani?”“Saya dengar beberapa orang di kantor mulai membicarakan hal-hal tida
Bab 12. Berita Buruk Terus MenyebarPagi hari itu, Aisyah melangkahkan kakinya memasuki gedung perkantoran seperti biasanya, tenang dan penuh wibawa, namun tidak dengan semua karyawan yang melihat kedatangannya. Tatapan yang sebelumnya terlihat menghormati posisi nya kini berubah menjadi sinis, penuh kebencian dan rasa heran yang jelas di mata mereka. "Lihat, tuh, ibu rumah tangga yang mandul berlaga mau ngurus perusahaan ini." Bisik karyawan lain kepada temannya. Temannya menatap Aisyah jijik "Aku heran kenapa bisa pak Hermawan sampai yakin dan percaya kalau wanita kaya dia bisa pegang kendali bisnis ini, dari keliatannya aja gak meyakinkan banget.""Gak mungkin kalau pak Hermawan mau hancurin usaha kita dengan jadiin anaknya sebagai direktur utama kan? Dia harusnya tau kalau pegang perusahaan gak sama kaya ngurus rumah." Karyawan itu mengangkat bahu "Gak tau lagi apa yang di pikirin pak Hermawan soal dia. Udah cuma pernah jadi ibu rumah tangga, di tambah di ceraiin suaminya kare
Bab 13. Diam Bukan Berarti LemahHermawan terduduk di ruangannya di jam istirahat tengah melihat tren dan informasi mengenai pasar di sosial media. Jempolnya terus menggulir layar, dengan tatapan seriusnya membaca segala hal soal perkembangan keuangan yang ada."Sekarang orang kebanyakan lebih memutuskan via online untuk pembayaran apapun, ya." Gumamnya, saat melihat sebuah postingan.Layarnya beralih ke whatsapp grub cabang dan melihat berita terbaru. Tiba-tiba jempolnya terhenti saat melihat sebuah ketikan yang hampir mirip seperti sebuah proposal yang membuat jantungnya berdetak kencang sesaat.Dahi Hermawan mengkerut "Nepotisme dan Mandul: Kisah Anak Pemilik yang Menjadi Direktur tanpa Kompetensi?" Ia menggulir layar untuk melihat isi ketikan itu dengan seksama.Hermawan selalu punya cara untuk mengawasi anak buahnya dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan bergabung ke semua grup WhatsApp memakai nomor berbeda dengan nomer handphonenya yang sesungguhnya.Saat membaca keti
Bab 14. Laki-Laki Misterius"Farah.." ucap Aisyah dalam hati. Ia bergeleng "Lain kali, saya minta kalau ada yang mengatakan hal semacam ini lagi, bicarakan dengan saya pribadi. Saya tidak mau ada kekeliruan infomasi seperti ini lagi, laporan keuangan kita bisa kacau." Menatap semua karyawan dengan tegas "Dan ini berlaku pada divisi apapun, selalu konfirmasi kan pada saya sebelum memutuskan. Mengerti?"Semuanya mengangguk "Mengerti."Aisyah mengangguk "Baik, kita lanjutkan"Karyawan lain mengangkat tangan.Aisyah menatapnya "Ada pertanyaan?""Saya ingin memastikan sesuatu, karena seperti yang kami tau tentang rumor, apakah anda yakin bisa membuat perusahaan ini lebih baik? Mengingat anda sebelumnya tidak memiliki pengalaman kerja." Ucapnya dengan tatapan yang sedikit sinis.Aisyah menghela nafas berusaha tenang "Jika kalian lebih mengandalkan pengalaman dari pada pemahaman, saya akan mengerti mengapa kalian meragukan saya. Namun alian perlu ingat, bahwa terkadang memahami segala hal le
Bab 41. Rencana Jahat Hendra"Akhirnya aku bisa mengambil keputusan besar ini. Terima kasih Ya Tuhan karena engkau sudah mempermudah segala jalannya," gumam Aisyah pelan. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi. Padahal hari masih pagi, tapi masalah sudah muncul tanpa permisi."Aku sangat yakin ada dalang di balik semua kejadian ini. Tapi siapa?" Ia mencoba memejamkan matany sebentar untuk menghilangkan penat. Namun, belum sempat terpejam di luar sudah terdengar suara keributan antara Rani dan seseorang. Karena penasaran akhirnya Aisyah membuka pintu ruangannya."Maafkan saya, Bu. Pak Hendra sedari tadi memaksa bertemu Ibu, padahal saya sudah menjelaskan baik-baik Ibu sedang tidak bisa diganggu," jelas Rani."Tidak apa, Rani. Itu bukan salahmu," jawab Aisyah. "Silakan masuk Pak Hendra, barangkali ada hal penting yang ingin Anda sampaikan kepada saya," lanjutnya sambil membuka pintu lebih lebar lagi. Dengan angkuh Hendra melanglang masuk begitu saja."Anda tidak bisa berbuat seenaknya, Bu A
Bab 40. Pemecatan dan Pengungkapan"Apa, Paman?! Bagaimana bisa?" teriak Farah di ujung telepon.'Paman juga tidak tahu. Kamu lihat sendiri saja di media sosial,' ujar Hendra. Ya, ia memberi tahu Farah tentang video yang tersebar luas."Dasar brengsek! Paman lakukan sesuatu. Makin ke sini, dia semakin berbuat semaunya."'Kamu yakin pelakunya Aisyah?'"Kalau bukan dia lalu siapa lagi? Yang tahu video itu cuma dia seorang, Paman."'Baiklah. Besok pagi kita bicarakan hal ini. Jika benar dia, paman akan melaporkan tindakan ini pada papanya.'"Aku tidak mau tahu. Pokonya aku mau wanita sialan itu dipecat!" Klik! Farah mematikan telepon itu secara sepihak. Dengan segera ia membuka link yang diberikan Hendra, dan ternyata benar saja video itu sudah viral di mana-mana dan mendapatkan ribuan like dan komen."Akhhhhhh ... ini benar-benar gila! Bagaimana mungkin dalam hitungan menit seviral ini?!" teriak Farah. Sungguh ia sangat malu. "Apa yang akan terjadi selanjutnya. Akhhhhhhh ...." Ia melem
Bab 39. Aisyah dan Pusaran KonspirasiMeta berjalan dengan anggun menuju ruangan Aisyah. Namun, langkahnya harus terhenti ketika Rani menodongnya."Jangan bilang itu ulahmu juga, Bu Meta?" "Memangnya kenapa? Toh mereka selama ini jahat menghasut karyawan di sini. Aku tidak berbuat curang ataupun menuduh tanpa bukti. Semua yang aku perlihatkan pada mereka adalah sesuatu yang benar adanya.""Tapi, Bu. Saya merasa bersalah, karena saya yang mengirimkan video itu pada mereka.""Kamu tenang saja. Saya yang akan bertanggungjawab semuanya, karena kamu mengirimkan video itu atas saran saja. Sudah ya, saya mau ke ruangan Bu Aisyah dulu."Meta berlalu dari hadapan Rani, tak lupa ia mengetuk pintu ruangan Aisyah. Saat sudah terdengar suara pemilik ruangan mengizinkan masuk, Meta segera masuk dan duduk di depan Aisyah."Ada apa? Sepertinya terjadi keributan lagi?" tanya Aisyah."Begitulah, Bu. Semua karyawan di sini sudah mengetahui semua kebusukan mereka," jawab Meta dengan santai."Bagaimana
Bab 38. Vidio SkandalJam pulang kantor telah tiba. Semua karyawan telah pulang, tapi anehnya mereka tidak pulang ke rumah masing-masing melainkan berkumpul di depan pos satpam dengan tatapan yang sulit diartikan."Bu Meta, di luar ada apa rame-rame?" tanya Aisyah, melihat dari cctv."Saya tidak tahu, Bu.""Aduh ...," keluh Aisyah. "Apa ada gosip miring lagi tentang saya?" Wajahnya mulai terlihat cemas."Hmmm, baiknya Bu Aisyah tunggu di sini saja dulu. Biar saya pastikan ke depan." Meta memberikan usulan."Terima kasih, Bu Meta." Aisyah menghembuskan napas penuh kelegaan."Saya permisi dulu, Bu," pamit Meta keluar dari ruangan Aisyah.Di dalam ruangannya Aisyah terus memantau kerumunan orang-orang di luar. "Sampai kapan karyawan ini merubah sikap, supaya tidak mudah terprovokasi oleh gosip Ya Tuhan?" gumamnya mulai lelah melihat tingkah bawahnya yang mudah terbawa arus.****Farah dan Arman berjalan bergandengan tangan dengan sangat mesra, mereka memang terbiasa pulang terakhir. "Ma
Bab 37. Perubahan Sikap di Lingkungan Kerja. [Jangan melupakan janji temu kita. Sore nanti saya jemput.]"Aduh!" Aisyah menepuk jidatnya. Saking sibuknya mengurus masalah Arman dan Farah, ia sampai melupakan janjinya dengan Rendra.[Kita mau ke mana?] Aisyah membalas pesan itu.[Bertemu dengan wanita yang mengejar-ngejar aku. Ingat misi kita.]"Ya Allah ... bagaimana ini?" Mendadak Aisyah menjadi panik, ia tidak mungkin tampil biasa saja. "Dia pasti menginginkan aku tampil beda, tapi ...'' Aisyah mengigit kukunya.[Jam berapa acaranya?][Jam 3 sore aku jemput.]"Tidak! Satu jam lagi dong. Aduh!" Aisyah langsung panik banget. "Aku belum nyalon, belum memilih baju, belum ... ahhh, aku tidak bisa prepare dalam waktu satu jam."[Dua jam ya. Aku perlu bersiap-siap dulu.] Aisyah mencoba bernegosiasi pada Rendra.[Tidak bisa. Satu jam lagi aku sudah sampai di kantormu.]"Astaghfirullah. Rani, ahh, iya, Rani." Aisyah setengah berlari keluar memanggil Rani."Ada apa, Bu. Kenapa Ibu panik sep
Bab 36. Sistem Keamanan"Dasar bodoh!" Hendra memaki Arman dan Farah. Saat ini ketiganya sudah berada di ruangan Hendra. "Apa yang kalian pikirkan.Hah?""Paman, maafkan aku," ujar Farah terisak pilu."Kalau sudah seperti ini kalian bisa apa? Kamu juga Arman, harusnya sebagai laki-laki kamu bisa menahan nafsumu.""Tapi Farah yang sudah menggoda saya, Paman." Arman membela diri, ia tak ingin disalahkan sendiri."Kalian berdua sama-sama bodoh.""Paman maafkan aku," rengek Farah."Sudahlah, untuk ke depannya kalian lebih wasapada lagi.""Baik, Paman," jawab Farah dan Arman secara bersamaan. "Paman, aku ingin kita melakukan sesuatu.""Sesuatu apa, Farah?!""Kita laporkan saja tindakan ini ke polisi, Paman. Ini kan sudah termasuk pencemaran nama baik dan juga melanggar kode etik privasi orang lain.""Kamu pikir polisi sebodoh itu? Kalian melakukan hal gila itu di ruangan kantor di jam kantor dan juga Arman__" Hendra menjeda ucapannya. "Kalau sampai kasus ini tembus ke polisi, kalian berdua
Bab 35. Awal Mula Kehancuran Farah dan ArmanMatahari mulai bersinar membawa kedamaian. Memberikan kehangatan dan ketenangan bagi semua insan."Hallo, Sayang." Arman membukakan pintu mobil sang pujaan yang baru saja sampai."Hai, Sayang." Dengan gerakan manja, Farah mengulurkan tangannya ke arah Arman. Terlihat laki-laki itu mengecup singkat tangan lembut nan mulus kekasihnya. "Ayo," ajaknya. Digandengnya tangan Farah dengan sangat mesra, seolah-olah menunjukkan pada semua orang jika mereka adalah pasangan yang sempurna."Aku sangat merindukanmu.""Begitupun denganku, padahal baru semalam kita tidur terpisah," ujar Arman dengan tidak tahu malu. Padahal mereka pasangan belum halal."Kita olahraga pagi dulu. Bagaimana?' bisik Farah dengan sensual."Bukannya hari ini ada rapat?""Ini masih jam 8 pagi. Ayolah." Farah mengeluarkan sikap manjanya. Luluh sudah pertahanan Arman. Bukannya belok ke ruangan kerjanya, Arman malah masuk ke dalam ruangan Farah."Jangan lupa kunci pintunya, Sayang.
Bab 34. Kerja Sama dan Konspirasi"Baru saja sepekan aku tak berjumpa dengannya, kenapa dia membuatku segila ini?" Rendra mondar-mandir di dalam ruangannya. Rasa rindu pada Aisyah membuatnya tak tenang, sebuah ide gila muncul begitu saja. "Semoga ini berhasil." Ia mengambil ponsel, dan mulai melancarkan aksinya.[Nanti malam temani saya makan.] Satu pesan dikirim Rendra pada Aisyah.[Maaf, saya tidak bisa. Lain kali atau di siang hari saja.] Aisyah menolak dengan cara halus, bukan apa-apa ia takut menjadi bahan fitnah apalagi masa idahnya belum selesai.[Baiklah kalau tidak bisa malam, besok siang. Saya tidak ingin mendengar penolakan.][Kenapa Anda memaksa saya? Siapa Anda?][Jangan menolak. Ini bagian dari kerja sama.] Balas Rendra yang membuat Aisyah diam seketika."Huhh ... kenapa ada modelan manusia menyebalkan begitu, sih?' gerutu Aisyah memandangi layar ponselnya. Sedangkan di tempat yang berbeda Rendra tertawa penuh kepuasan karena berhasil mengajak Aisyah kencan meskipun deng
Bab 33. Kesepakatan Rahasia: Cinta dan BisnisTepat jam 13.10 menit, Aisyah sudah memarkirkan mobilnya di halaman coffe yang sudah dijanjikan. Jantungnya berdegup sangat kencang, ia menarik napas dalam sebelum melangkah kan kakinya masuk ke dalam coffe."Selamat siang, ada yang bisa saya bantu," sapa seorang pelayan dengan sangat ramah."Saya mau bertemu dengan orang dari PT. Indomarka. Apakah dia sudah sampai?""Oh, dengan Bu Aisyah?" Pelayan itu memastikan. Aisyah mengangguk sebagai jawaban."Mari, Bu saya antar. Beliau sudah sampai sejak sepuluh menit yang lalu, dan sudah berada di ruang privat room.""Terima kasih," jawab Aisyah ramah. Ia mengikuti langkah kaki sang pelayan coffe menuju lantai tiga. Coffe dengan gaya Eropa klasik, memberikan kesan elegan pada siapa saja yang melihat."Silakan, Bu, saya permisi dulu," ujar si pelayan coffe, setelah Aisyah sampai."Terima kasih," jawab Aisyah dengan sopan.Mata Aisyah memindai sekitar, kakinya mulai melangkah mendekat ke arah ses