Share

Pertemuan

Author: Niamh Alora
last update Last Updated: 2025-01-22 10:14:58

Acara malam itu hanyalah makan malam santai di rumah Maya dan Kenji, atau setidaknya begitulah yang Alia pikirkan. Maya dan Kenji, sahabatnya sejak masa kuliah, tahu betul apa yang sedang ia alami. Tekanan keluarga yang terus-menerus menuntutnya untuk menikah membuat Alia merasa terjebak.

Sebagai seorang ilustrator freelance, ia mencintai kebebasannya dan enggan melepas kariernya hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.

Sementara itu, Darren, sahabat Kenji, berada di situasi serupa meskipun latar belakangnya berbeda.

Sebagai seorang manajer proyek di perusahaan multinasional, ia sibuk dengan pekerjaannya yang penuh tanggung jawab, sehingga keluarganya mulai khawatir ia akan melewatkan usia ideal untuk menikah.

Tanpa sepengetahuan Alia dan Darren, malam itu Maya dan Kenji sengaja mempertemukan mereka.

Jeng jeng . . .

. . . .

Ketika Alia sampai dirumah Maya ia disambut dengan hangat oleh Maya yang memeluknya erat.

Namun, suasana hatinya berubah saat matanya bertemu dengan Darren yang sedang duduk di sofa.

Sosok pria itu terlihat formal, bahkan terlalu formal untuk sebuah makan malam santai. Ia mengenakan jas abu-abu gelap dengan dasi longgar, tampak berusaha santai tetapi gagal. Sikapnya dingin, pandangannya tajam, dan posturnya tegap seperti sedang bersiap untuk rapat penting.

Alia langsung merasa terintimidasi. Sebagai seorang berkepribadian INFP, ia selalu peka terhadap bahasa tubuh dan suasana hati orang lain, dan Darren memancarkan aura serius yang terasa begitu asing baginya.

Sementara itu, Darren yang seorang berkepribadian ENTJ menilai Alia dengan cepat. Wanita itu mengenakan blus putih sederhana yang dipadukan dengan rok midi bermotif bunga, membawa tas selempang kecil. Wajahnya terlihat ramah, tetapi Darren menangkap keraguan di balik senyum tipisnya. Baginya, Alia tampak seperti tipe orang yang menghabiskan terlalu banyak waktu dalam dunia imajinasi, sesuatu yang ia anggap tidak praktis.

"Alia, kenalin, ini Darren," ujar Maya, memecah keheningan.

"Darren,"

Alia mengangguk sopan sambil menyodorkan tangan. "Hai, Salam Kenal, Alia. Senang bertemu denganmu."

Darren menjabat tangannya singkat.

"Ya. Sama-sama," jawabnya tanpa ekspresi.

. . . .

Saat duduk di meja makan, Maya dan Kenji mencoba mencairkan suasana dengan mengarahkan pembicaraan.

"Alia ini Ilustrator, loh, Darr" ujar Maya.

"Karyanya sering dipakai buat buku anak-anak. Cantik-cantik banget gambarnya."

"Freelance?" Darren bertanya dengan nada netral, meski matanya tampak menilai.

"Iya," jawab Alia sambil mengangguk.

"Aku lebih suka kebebasan untuk memilih proyek yang sesuai dengan gaya menggambarku."

"Jadi, nggak ada struktur kerja yang jelas?" Darren menyipitkan mata, terlihat sedikit skeptis.

Alia tertegun sejenak, merasa pertanyaan itu lebih seperti kritik daripada rasa ingin tahu. Namun, ia menarik napas dan menjawab pelan,

"Aku punya jadwal dan target sendiri. Biasanya klien memberiku tenggat waktu, dan aku mengatur proses kreatifku sesuai itu."

Darren mengangguk singkat, tetapi pikirannya tetap skeptis. Baginya, struktur dan efisiensi adalah segalanya. Hidup tanpa rencana yang rigid terdengar seperti risiko besar.

"Apa nggak membosankan cuma menggambar terus?" Darren bertanya lagi.

Alia tersenyum kecil, berusaha tidak tersinggung.

"Sebenarnya, nggak. Aku selalu menemukan tantangan baru di setiap proyek. Aku juga bisa eksplorasi ide-ideku sendiri, yang menurutku nggak akan aku dapatkan kalau kerja di kantor."

Mendengar itu, Darren sedikit terdiam. Sebagai seseorang yang sering merasa jenuh dengan pekerjaannya yang penuh tekanan, ada bagian kecil dari dirinya yang iri pada kebebasan Alia, meskipun ia tidak akan pernah mengakuinya.

"Mmmm... Maaf, kalau kamu sekarang pekerjaan nya apa ,Darren?." Alia mencoba mencairkan suasana kembali

" Proyek internasional, jawab Darren singkat. Nada suaranya lugas, tidak meninggalkan ruangan untuk elaborasi.

Alia mencoba tersenyum, meskipun sedikit kaku. "Oh... Proyek internasional itu luas sekali kan, fokusnya lebih kemana, kalau bolehruangan untuk elaborasi.

Darren meliriknya sekilas.

"Pembangunan infrastruktur."

"Wah menarik." Balas Alia yang mencoba terdengar antusias meski sebenarnya ia tidak tahu apa yang harus dikatakan lagi.

. . . .

Alia mulai merasa percakapan ini seperti ujian sidang skripsi. Darren terlihat tidak tertarik, bahkan ketika ia mencoba membicarakan proyek ilustrasi terbarunya.

"Aku baru selesai ilustrasi buku anak tentang planet dan bintang-bintang," kata Alia dengan antusias.

"Ada satu karakter kecil namanya Vega, yang suka eksplorasi galaksi..."

Namun, sebelum ia bisa menyelesaikan ceritanya, Darren menyela,

"Planet dan bintang, ya? Itu lebih seperti fiksi. Aku lebih suka sesuatu yang realistis."

Alia tersentak, merasa kecil hati.

Tetapi ia cepat-cepat menyembunyikan perasaannya.

"Mungkin. Tapi aku rasa anak-anak perlu imajinasi untuk belajar tentang dunia. Bagaimana menurutmu?" tanyanya, mencoba mencari sisi humanis Darren.

Darren mengangkat bahu.

"Mungkin kamu benar. Tapi aku rasa logika lebih penting daripada imajinasi."

Percakapan itu berhenti sejenak, dan keheningan memenuhi ruangan.

. . . .

Bagi Darren, Alia adalah teka-teki yang membingungkan. Wanita ini tampak rapuh tetapi berpendirian, santai tetapi penuh dedikasi. Ia belum bisa memutuskan apakah cara pandang Alia adalah kelemahan atau kekuatan.

Sementara itu, bagi Alia, Darren adalah tantangan. Pria ini sulit dipahami, tetapi ada sesuatu di balik tatapan tajamnya yang membuat Alia ingin mengerti lebih jauh.

Maya dan Kenji, yang memperhatikan interaksi ini, hanya bisa saling melirik. Mereka tahu bahwa butuh lebih dari satu malam untuk membuat keduanya saling memahami.

Namun, dalam hati kecil mereka, mereka percaya bahwa dua pribadi yang berbeda ini bisa saling melengkapi, jika mereka memberi kesempatan.

.  . . .

Pertemuan pertama Alia dan Darren bukanlah momen yang indah atau penuh chemistry.

Percakapan mereka lebih seperti adu pandangan hidup daripada perkenalan biasa. Meski tampaknya tidak ada kecocokan, pertemuan ini menjadi awal dari sebuah cerita yang lebih dalam. Cerita tentang bagaimana dua kepribadian yang bertolak belakang menemukan cara untuk saling memahami.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Related chapters

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   SEPAKAT

    Hari itu udara sore terasa berat bagi Alia, meski matahari terbenam dengan warna jingga yang indah.Duduk di sebuah kafe kopi sederhana favoritnya, ia berhadapan dengan Darren yang tengah menyeruput es kopinya tanpa ekspresi. Pertemuan ini bukan untuk berbicara tentang masa depan penuh cinta, melainkan tentang menyelesaikan masalah yang sama-sama menekan mereka.“Jadi. . . ” Darren memulai, suaranya datar.“Kita sepakat menikah. Tidak ada basa-basi, tidak ada perasaan yang perlu dilibatkan, hanya ini.” Ia menunjuk ke arah daftar poin-poin yang baru saja ia tulis di secarik kertas.Alia menatap kertas itu.Poin-poinnya rapi dan langsung ke inti, tapi terasa dingin.“Pernikahan. Tanpa cinta. Tanpa harapan. Hanya untuk menyelesaikan tekanan kehidupan masing-masing.”“Kurang lebih begitu,” jawab Alia pelan, mencoba mencerna kata-kata tersebut.“Kamu yakin bisa menjalani ini?” sambungnya lagi raguDarren mengangkat bahu. “Tentu saja. Aku lebih suka pernikahan seperti ini. Tidak ada drama,

    Last Updated : 2025-01-22
  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Pernikahan yang Dingin

    Pernikahan Alia dan Darren berlangsung di taman kecil salah satu vila milik keluarga Darren. Tempatnya memang indah, tetapi atmosfernya terasa jauh dari kesan hangat. Tidak ada cinta yang bersemi di sini, hanya janji pernikahan yang dingin dan penuh formalitas.Langit sore menjadi latar belakang. Matahari hampir tenggelam, menyisakan semburat oranye di cakrawala.Di tengah taman, sebuah meja kecil dengan kain putih bersih berdiri di bawah pohon rindang. Beberapa kursi tertata rapi, dihuni oleh keluarga dekat yang datang lebih karena kewajiban daripada antusiasme.Alia berdiri di ruang ganti kecil di dalam vila, menatap bayangannya di cermin."Gaun putih sederhana membalut tubuhnya. Tidak ada renda mewah atau perhiasan yang mencolok, hanya gaun satin polos yang dipilih untuk acara ini." gumam Alia.Ibu Alia, berdiri di belakang, membantu merapikan kerudung putrinnya."Kamu cantik banget, Sayang," ujar Ibu dengan suara pelan.Alia tersenyum tipis."Makasih Bu." jawab Alia singkat"Seben

    Last Updated : 2025-01-22
  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Malammm Perr,,,

    Malam pertama mereka dimulai dengan suasana yang aneh, canggung, dan penuh keheningan yang menggantung seperti kabut tipis. Kamar pengantin mereka sangat mewah, luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung kristal berkilauan. Tirai beludru merah marun melambai lembut di dekat jendela besar yang menghadap ke taman luas dengan air mancur bercahaya. Tempat tidur ukuran king berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei satin putih. Lilin aromaterapi yang diletakkan di meja-meja kecil di setiap sisi tempat tidur memancarkan keharuman lembut vanila dan mawar, menciptakan nuansa intim yang bertolak belakang dengan keheningan yang melingkupi dua penghuni barunya.Setelah mereka menyelesaikan sholat isya berjamaah. Darren duduk di sisi kanan tempat tidur, tubuhnya tegap namun kaku, seperti sedang bersiap untuk menghadapi rapat penting. Jemarinya terus memutar-mutar jam tangan, kebiasaannya saat gugup. Sementara itu, Alia duduk di sisi kiri, memainkan ujung kerudungnya dengan

    Last Updated : 2025-01-22
  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   PROLOG

    C I N T A ? ?Siti Nur Alia, ia tidak pernah benar-benar memahaminya. Baginya, cinta hanyalah DONGENG INDAH yang terlalu sering dibungkus dengan ekspektasi, tuntutan, dan janji-janji palsu. Sejak kecil, ia terbiasa melihat cinta sebagai konsep yang indah di permukaan, tetapi rapuh dan penuh luka ketika diuji oleh realita. Alia tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan. Hidupnya adalah lingkaran tuntutan tanpa jeda, terutama desakan orang tua untuk segera menikah dan membangun keluarga. Namun, bagi Alia, menikah tidak pernah menjadi prioritas, apalagi sebuah impian.“Alia, kamu ini sudah cukup umur. Apa tidak ingin membahagiakan orang tua?”Itulah kalimat yang terus-menerus ia dengar. Setiap kali kata-kata itu muncul, hatinya terasa penuh, tetapi ia tak pernah menunjukkan perasaannya. Sebagai seorang wanita yang independen dan realistis, Alia memilih memusatkan hidupnya pada pekerjaannya. Tempat di mana ia bisa merasa berguna dan diakui tanpa perlu memedulikan perasaan yang rumit sepert

    Last Updated : 2025-01-22
  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Menikah. Haruskah?

    Alia duduk di meja kerjanya yang berantakan, pensil di tangan, matanya kosong menatap lembaran kertas putih yang tergeletak di depannya. Komputer di sampingnya menunjukkan layar penuh dengan pekerjaan yang belum selesai. Semua tampak begitu kabur, dan pikirannya tak bisa fokus. Ini sudah hari keempat ia terjebak dalam kebuntuan kreatif, dan ia merasa sangat lelah.Sejak kecil, ia selalu dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta dan perhatian, namun tidak pernah bebas dari harapan.PERNIKAHAN!!! selalu menjadi topik utama dalam setiap percakapan keluarga, terutama ibu Alia akhir-akhir ini mengingat Alia sudah masuk usia akhir 20an.Ibunya sering kali memberi nasihat tentang betapa pentingnya menikah di usia muda, sementara Alia hanya bisa mendengarkan tanpa banyak berkata."Kamu tahu kan, nak, umurmu sudah semakin matang. 28 tahun loh. Pikirkan masa depan. Tidak baik hidup melajang sampai tua" begitu kata ibu, setiap kali berbicara dengan nada penuh harapan."Iya Bu, nanti kita bicars

    Last Updated : 2025-01-22
  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Cinta itu Ilusi

    Pagi itu . . .Darren duduk di meja kantornya, memandang layar komputer dengan ekspresi dingin yang menjadi ciri khasnya. Fokusnya tidak pernah terpecah. Setiap angka yang diproses, setiap keputusan yang diambil, semua adalah bagian dari rencana besar yang telah ia susun bertahun-tahun dengan penuh perhitungan."Permisi Pak Darren, dokumen untuk rapat siang nanti sudah siap di meja Anda," ujar sekretarisnya, Lisa, dengan nada sopan namun canggung."Baik. Pastikan semua laporan sudah diperiksa ulang."" Saya tidak mau ada kesalahan," jawab Darren tanpa mengangkat pandangannya dari layar.Darren selalu seperti itu, tepat, tegas, dan tak kenal kompromi. Tidak ada ruang untuk kesalahan dalam hidupnya, termasuk dalam urusan pribadi. Baginya, hidup adalah tentang kontrol penuh.Ketika layar komputernya menampilkan kalender yang penuh dengan jadwal rapat, sebuah notifikasi pesan dari Papinya muncul di ponselnya:"Kapan kamu akan membawa calon istrimu ke rumah? Jangan menunda-nunda lagi DARRE

    Last Updated : 2025-01-22

Latest chapter

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Malammm Perr,,,

    Malam pertama mereka dimulai dengan suasana yang aneh, canggung, dan penuh keheningan yang menggantung seperti kabut tipis. Kamar pengantin mereka sangat mewah, luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi lampu gantung kristal berkilauan. Tirai beludru merah marun melambai lembut di dekat jendela besar yang menghadap ke taman luas dengan air mancur bercahaya. Tempat tidur ukuran king berdiri megah di tengah ruangan, dilapisi sprei satin putih. Lilin aromaterapi yang diletakkan di meja-meja kecil di setiap sisi tempat tidur memancarkan keharuman lembut vanila dan mawar, menciptakan nuansa intim yang bertolak belakang dengan keheningan yang melingkupi dua penghuni barunya.Setelah mereka menyelesaikan sholat isya berjamaah. Darren duduk di sisi kanan tempat tidur, tubuhnya tegap namun kaku, seperti sedang bersiap untuk menghadapi rapat penting. Jemarinya terus memutar-mutar jam tangan, kebiasaannya saat gugup. Sementara itu, Alia duduk di sisi kiri, memainkan ujung kerudungnya dengan

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Pernikahan yang Dingin

    Pernikahan Alia dan Darren berlangsung di taman kecil salah satu vila milik keluarga Darren. Tempatnya memang indah, tetapi atmosfernya terasa jauh dari kesan hangat. Tidak ada cinta yang bersemi di sini, hanya janji pernikahan yang dingin dan penuh formalitas.Langit sore menjadi latar belakang. Matahari hampir tenggelam, menyisakan semburat oranye di cakrawala.Di tengah taman, sebuah meja kecil dengan kain putih bersih berdiri di bawah pohon rindang. Beberapa kursi tertata rapi, dihuni oleh keluarga dekat yang datang lebih karena kewajiban daripada antusiasme.Alia berdiri di ruang ganti kecil di dalam vila, menatap bayangannya di cermin."Gaun putih sederhana membalut tubuhnya. Tidak ada renda mewah atau perhiasan yang mencolok, hanya gaun satin polos yang dipilih untuk acara ini." gumam Alia.Ibu Alia, berdiri di belakang, membantu merapikan kerudung putrinnya."Kamu cantik banget, Sayang," ujar Ibu dengan suara pelan.Alia tersenyum tipis."Makasih Bu." jawab Alia singkat"Seben

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   SEPAKAT

    Hari itu udara sore terasa berat bagi Alia, meski matahari terbenam dengan warna jingga yang indah.Duduk di sebuah kafe kopi sederhana favoritnya, ia berhadapan dengan Darren yang tengah menyeruput es kopinya tanpa ekspresi. Pertemuan ini bukan untuk berbicara tentang masa depan penuh cinta, melainkan tentang menyelesaikan masalah yang sama-sama menekan mereka.“Jadi. . . ” Darren memulai, suaranya datar.“Kita sepakat menikah. Tidak ada basa-basi, tidak ada perasaan yang perlu dilibatkan, hanya ini.” Ia menunjuk ke arah daftar poin-poin yang baru saja ia tulis di secarik kertas.Alia menatap kertas itu.Poin-poinnya rapi dan langsung ke inti, tapi terasa dingin.“Pernikahan. Tanpa cinta. Tanpa harapan. Hanya untuk menyelesaikan tekanan kehidupan masing-masing.”“Kurang lebih begitu,” jawab Alia pelan, mencoba mencerna kata-kata tersebut.“Kamu yakin bisa menjalani ini?” sambungnya lagi raguDarren mengangkat bahu. “Tentu saja. Aku lebih suka pernikahan seperti ini. Tidak ada drama,

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Pertemuan

    Acara malam itu hanyalah makan malam santai di rumah Maya dan Kenji, atau setidaknya begitulah yang Alia pikirkan. Maya dan Kenji, sahabatnya sejak masa kuliah, tahu betul apa yang sedang ia alami. Tekanan keluarga yang terus-menerus menuntutnya untuk menikah membuat Alia merasa terjebak.Sebagai seorang ilustrator freelance, ia mencintai kebebasannya dan enggan melepas kariernya hanya demi memenuhi ekspektasi orang lain.Sementara itu, Darren, sahabat Kenji, berada di situasi serupa meskipun latar belakangnya berbeda.Sebagai seorang manajer proyek di perusahaan multinasional, ia sibuk dengan pekerjaannya yang penuh tanggung jawab, sehingga keluarganya mulai khawatir ia akan melewatkan usia ideal untuk menikah.Tanpa sepengetahuan Alia dan Darren, malam itu Maya dan Kenji sengaja mempertemukan mereka.Jeng jeng . . .. . . .Ketika Alia sampai dirumah Maya ia disambut dengan hangat oleh Maya yang memeluknya erat.Namun, suasana hatinya berubah saat matanya bertemu dengan Darren yang

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Cinta itu Ilusi

    Pagi itu . . .Darren duduk di meja kantornya, memandang layar komputer dengan ekspresi dingin yang menjadi ciri khasnya. Fokusnya tidak pernah terpecah. Setiap angka yang diproses, setiap keputusan yang diambil, semua adalah bagian dari rencana besar yang telah ia susun bertahun-tahun dengan penuh perhitungan."Permisi Pak Darren, dokumen untuk rapat siang nanti sudah siap di meja Anda," ujar sekretarisnya, Lisa, dengan nada sopan namun canggung."Baik. Pastikan semua laporan sudah diperiksa ulang."" Saya tidak mau ada kesalahan," jawab Darren tanpa mengangkat pandangannya dari layar.Darren selalu seperti itu, tepat, tegas, dan tak kenal kompromi. Tidak ada ruang untuk kesalahan dalam hidupnya, termasuk dalam urusan pribadi. Baginya, hidup adalah tentang kontrol penuh.Ketika layar komputernya menampilkan kalender yang penuh dengan jadwal rapat, sebuah notifikasi pesan dari Papinya muncul di ponselnya:"Kapan kamu akan membawa calon istrimu ke rumah? Jangan menunda-nunda lagi DARRE

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   Menikah. Haruskah?

    Alia duduk di meja kerjanya yang berantakan, pensil di tangan, matanya kosong menatap lembaran kertas putih yang tergeletak di depannya. Komputer di sampingnya menunjukkan layar penuh dengan pekerjaan yang belum selesai. Semua tampak begitu kabur, dan pikirannya tak bisa fokus. Ini sudah hari keempat ia terjebak dalam kebuntuan kreatif, dan ia merasa sangat lelah.Sejak kecil, ia selalu dibesarkan dalam keluarga yang penuh cinta dan perhatian, namun tidak pernah bebas dari harapan.PERNIKAHAN!!! selalu menjadi topik utama dalam setiap percakapan keluarga, terutama ibu Alia akhir-akhir ini mengingat Alia sudah masuk usia akhir 20an.Ibunya sering kali memberi nasihat tentang betapa pentingnya menikah di usia muda, sementara Alia hanya bisa mendengarkan tanpa banyak berkata."Kamu tahu kan, nak, umurmu sudah semakin matang. 28 tahun loh. Pikirkan masa depan. Tidak baik hidup melajang sampai tua" begitu kata ibu, setiap kali berbicara dengan nada penuh harapan."Iya Bu, nanti kita bicars

  • Istri Kontrak CEO Blasteran Jepang   PROLOG

    C I N T A ? ?Siti Nur Alia, ia tidak pernah benar-benar memahaminya. Baginya, cinta hanyalah DONGENG INDAH yang terlalu sering dibungkus dengan ekspektasi, tuntutan, dan janji-janji palsu. Sejak kecil, ia terbiasa melihat cinta sebagai konsep yang indah di permukaan, tetapi rapuh dan penuh luka ketika diuji oleh realita. Alia tumbuh dalam keluarga yang penuh tekanan. Hidupnya adalah lingkaran tuntutan tanpa jeda, terutama desakan orang tua untuk segera menikah dan membangun keluarga. Namun, bagi Alia, menikah tidak pernah menjadi prioritas, apalagi sebuah impian.“Alia, kamu ini sudah cukup umur. Apa tidak ingin membahagiakan orang tua?”Itulah kalimat yang terus-menerus ia dengar. Setiap kali kata-kata itu muncul, hatinya terasa penuh, tetapi ia tak pernah menunjukkan perasaannya. Sebagai seorang wanita yang independen dan realistis, Alia memilih memusatkan hidupnya pada pekerjaannya. Tempat di mana ia bisa merasa berguna dan diakui tanpa perlu memedulikan perasaan yang rumit sepert

Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status