“Itu, kan, uang Mas Adit, nggak perlu izin dariku,” jawabku datar. Aku bersungguh-sungguh mengatakan itu, karena memang selama ini aku selalu dicukupi dalam segala hal. Jadi, kalau Mas Adit berniat membantu orang, apa salahnya?“Uangku adalah uangmu juga, makanya aku harus minta izin,” katanya pelan.“Mas ikhlas minjemin sama Pak Undang?” tanyaku. “Walaupun mereka sudah sering menghina dan menyakiti Mas, dulu?”Dia mengembus napas kasar. “Suatu kemuliaan jika kita bisa membalas kejahatan orang dengan kebaikan. Aku berharap mereka bisa belajar dari kesalahan mereka dulu. aku tidak punya dendam,” sahut Mas Adit. Aku mengulurkan tangan dan meremas jemari suamiku. “Lakukanlah, jika itu memang baik,” jawabku. Mas Adit mengangguk, lalu melanjutkan langkahnya ke kamar.Pak Undang mengucapkan terima kasih berkali-kali sebelum pulang. Dia juga meminta bertemu denganku untuk mengabarkan jika Mas Agus akan menikah lagi. Aku berpura-pura agak kaget, padahal sudah mendengarnya tadi.“Selamat, ya,
POV LilisAku menikah dengan Wahyu setelah melahirkan seorang bayi laki-laki. Jarak yang tidak terlalu jauh dengan kelahiran anaknya Dokter Radit. Hanya beda dua minggu, aku duluan yang lahiran.Ketika tahu anaknya Dokter Radit perempuan, aku berdoa, semoga saja anak kami nanti berjodoh. Aamiin. Emaknya gagal, kali aja anaknya jadi. Iye, kan?Uups, harus! Karena Ibu nggak nerima pernikahanku dengan Wahyu, jadinya terpaksa aku tinggal di gubuknya dia dengan emaknya. Nasib, nasib. Bayangin punya suami ganteng dan kaya raya, jebule malah kawin sama orang kismin, pleus B aja. Ah, sudahlah!Nggak lanjut kawin sama Mas Agus aja udah syukur rasanya. Ternyata keluarga itu bermasalah. Dari Mas Agus yang dipenjara karena ringan tangan. Lalu Bu Mae yang juga dipenjara karena membunuh. Udah gitu dia gancet pula sama Pak Didi, orang yang dikira kaya karena bisnis halal, ter
POV AgusAkibat aku pernah dipenjara itu, akhirnya membuatku susah mencari kerja. Mantan pesakitan terus melekat di diriku sampai tua bahkan sampai aku mati nanti.Bohong jika aku katakan kalau aku tidak cemburu melihat kebahagiaan mantan istriku, Yasmin dengan suaminya sekarang. Dia terlihat jauh lebih cantik dan terawat. Setiap baju yang dipakainya pasti bagus dan sangat pas di tubuh mungilnya.Salahku sendiri, dulu begitu percaya dengan kata-kata yang diucapkan oleh Ibu tentang Yasmin yang katanya tidak lagi perawan hanya karena lipstiknya yang pucat. Dia juga bilang kalau kemungkinan Yasmin lagi hamil dengan lelaki lain. Buktinya, sekarang kebenaran itu menampakan dirinya. Yasmin wanita baik dan suci.Sesal sudah tidak berguna. Yasmin kini sudah menjadi milik orang lain. Meski aku mengharapkan jandanya, tetapi rasanya dokter itu tidak akan melepaskan Yasmin begitu saja. Kecuali mereka dipisahkan
POV LilisJalan kupercepat menuju warung Bu Ipah. Tempat di mana dulu aku sering jadikan tempat nongkrong ketika masih berpacaran dengan Wahyu. Ternyata, sekarang dia juga masih menggunakan tempat itu untuk berpacaran sama si Pelakor itu. Sialan.Dari kejauhan aku bisa melihat si Wahyu yang ketawa-ketiwi sambil makan bakso sama si Yani. Yang lebih membuatku geram ketika perempuan sundal itu tanpa malu menyuapi si Wahyu di depan ibu-ibu yang memperhatikan kemesraan mereka.“Hei, nikmat sekali ya kalian!” tegurku dan mengambil mangkuk yang masih berisi kuah bakso dan kusemburkan ke muka keduanya. Sengaja kupilih kuah bakso milik Yani, karena aku tahu kuah punya dia pasti pedas dan asam. Keduanya berteriak karena kaget juga pasti kepanasan. Panas air juga karena panas dari cabe.Hahaha. Rasakan kalian para tukang selingkuh! Aku berkacak pinggang dan mengumpat mereka.“Rasakan gimana pedesnya mataku saat lihat kalian malah asik-asikan pacaran di sini.” AKu marah sekaligus ingin tertawa me
Aku tersenyum dan mengangguk, lalu menatap pada Yani yang tersenyum penuh kemenangan. Dia bahkan memepet tubuh Wahyu hingga mereka berdempetan.“Tapi … kamu jangan mau enaknya aja. Ambil sekalian ini anaknya. Urus. Susuin. Jangan sampai dia terlantar,” ucapku sambil melepaskan si Wadni dari kain gendongan lalu menyerahkannya pada dua orang itu.“Eh, Lis. Tega kamu. Masa mau ninggalin si Wandi?” kata si wahyu melongo. Aku tertawa menyeringai.“Kamu yang bertanggungjawab harus merawatnya. Sekarang kamu mau kawin sama si Yani, kan? Biar dia saja yang ngurus si Wani. Aku mau pergi,“ ucapku ketus dan berbalik meninggalkan dua orang itu juga riuh cibiran orang-orang yang nongkrong di warung. Mereka itu biang gosip. Aku yakin tidak perlu sampe besok kabar ini akan menyebar sekampung Suniagara.Emaknya si Wahyu melotot saat melihat aku ngeloyor b
POV Yasmin Perlu berbulan-bulan untukku dan Mas Adit bisa bermesraan setelah proses lahiran putri kami yang diberi nama Meisya. Aku sering merasa kelelahan setelah mengurus bayi kami. Sering kali Mas Adit terbengkalai masalah sarapan juga pakaiannya. Untung saja suamiku itu bukan orang yang manja. Dia sudah terbiasa hidup mandiri saat kuliah dan kerja di Jakarta, dulu. Dan lagi, semua pekerjaan sudah diselesaikan oleh Mbak Sri. Hanya saja, aku tidak bisa menemani Mas Adit makan malam ataupun sekadar sarapan. Baru saja duduk untuk menemani suamiku itu, terdengar rengekan dari mulut kecil Meisya. Aku segera kembali ke kamar dan membiarkan Mas Adit makan sendirian atau kadang hanya ditemani ibunya. Sering terdengar dengkusan pelan dari mulutnya saat malam tiba. Mungkin hasratnya yang sudah ditahan selama dua bulan lebih dan kini tengah menggebu. Rasa kasihan menelusup dalam hati. Aku segera menidurkan Meisya dan sengaja menyimpannya di boks. Mas Adit terdengar mulai mendengkur halus
“Neng Yasmin, ada tamu di depan,” ucap Sri yang baru saja menyapu halaman.“Tamu? Siapa, ya, Bi?” Yasmin mengerutkan keningnya.“Bibi kurang tau, Neng. Soalnya baru lihat mereka sekarang,” jawab Sri yang juga kebingungan.“Bukan orang sini? Siapa ya?”“Nggak tau, Neng. Cuman bilangnya nyari Neng Yasmin.”“Ya sudah, Bi. Saya ke sana sebentar lagi. Mau nidurin Rafa dulu.” Yasmin yang menimang bayinya lantas menyimpan anak itu ke boks. Namun, baru saja disimpan, anak itu kembali bangun dan menangis.“Sstt.” Yasmin kembali mengambil bayinya dan kembali menimang dalam gendongan. Terdengar dengkusan pelan dari mulutnya. Dia merasa lelah karena Rafa kecil begitu rewel dan tidak mau digendong orang lain.Sambil melangkah ke luar, Yasmin mengambil bergo yang tersampir di sofa tempat dia biasa menyusui.“Wah rumahnya bagus sekali, Pak. Nggak nyangka kalau anak kita akan menjadi orang kaya.” Terdengar bisik-bisik dari arah ruang tamu. Yasmin menautkan alisnya, merasa aneh saat tamu itu bilang ji
Lelaki berkemeja kotak-kotak itu mengerutkan keningnya. Rasanya sedikit sulit untuk percaya dengan orang-orang yang kata Yasmin sebagai orangtua juga adiknya. Sama sekali tidak ada kemiripan di antara mereka barang sedikit pun.Namun, sebagai orang yang beretika, Radit tak mungkin mengusir mereka begitu saja. Lagi pula, bagaimana jika seandainya mereka benar-benar orang tua Yasmin.“Selamat siang, Pak, Bu. Perkenalkan, saya Adit, suaminya Yasmin. Dan ini Meisya anak pertama kami,” ucap Radit dengan ramah.“Wah, cantik sekali,” puji Narsih mengusap kepala Meisya. Gadis kecil itu tampak tak nyaman. Namun, meski begitu dia tetap mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Narsih, Narto juga Yuni.“Maaf, Bu, Meisya memang agak pemalu,” ujar Radit, karena putrinya langsung ngeloyor setelah bersalaman. Ketiga orang itu pun hanya tersenyum memaklumi.“Sayang, siapkan makan siang, biar kita makan siang bersama,” bisik Radit pada istrinya. Yasmin pun mengangguk.“Bi Sri sudah siapkan, Mas. Seb
“Tak perlu basa basi,” jawab ibunya Hanif terlihat emosi. Dia sangat kesal karena melihat Maria yang terlihat mewah. Sementara dirinya justru terlihat kumal.“Baiklah kalau tidak boleh berbasa basi. Sepertinya kalian tetap saja sial walaupun sudah mengusir Maria.” Denis tersenyum miring.Mata Hanif langsung melotot, begitu juga dengan ibunya.“Enak aja kamu bilang kami sial. Hanif ini sekarang bekerja di perusahaan bonafid. Dia ini jadi manager,” balas ibunya Hanif dengan mata melotot.Denis tersenyum miring. “Oh ya? Benarkah? Anak Ibu bilang jadi manager?” tanyanya dengan nada mencibir.“Ya, tentu saja. Bukan begitu, Hanif?” ujar wanita paruh baya itu dengan dagu yang mendongak.“I-iya, tentu saja,” jawab Hanif tergagap.“Oh begitu. Baguslah kalau memang dia sudah jadi manager. Permisi, kami mau mencari peralatan bayi,” pamit Denis yang lalu menuntun Maria untuk memasuki toko.Istrinya Hanif pun ikut mengekor sambil menarik Hanif untuk segera masuk ke dalam toko. Namun, lelaki itu me
Maria tersipu malu saat bangun keesokan harinya. Dia merasa berbunga-bunga karena telah menjadi seorang istri yang utuh bagi Denis. Dia menutupi tubuhnya yang polos dengan handuk yang terserak di lantai.“Mbak, Mbak Maria.” Terdengar panggilang dari Bi Noneng.“I-iya, Bi?” Maria gegas membuka pintu itu sedikit. Ternyata wanita itu tengah menggendong Amanda yang habis menangis.“Astagfirullah, Sayang maafin Mama,” ujar Maria yang langsung membuka pintu dan mengambil Amanda dari tangan Bi Noneng.Wanita paruh baya itu tak sengaja melihat ke dalam kamar di mana ada Denis yang masih terlelap di atas kasur milik Maria.“Eh.” Maria tampak malu karena kepergok telah sekamar.Bi Noneng malah tersenyum dan mengelus pundak Maria. “Sudah sewajarnya, toh? Pak Denis itu suamimu, Mbak. Dia seperti orang gila sewaktu Mbak Maria pergi dari rumah. Dia sering melamun dan gelisah,” ucapnya.“Kalian berhak bahagia. Saya ikut senang, Mbak,” pungkasnya sebelum beranjak pergi.Maria masih terpaku setelah me
Maria gegas menyilangkan kedua tangan pada dua area sensitifnya. Dia begitu malu dengan perlakuan Denis padanya. Maria hendak jongkok untuk mengambil lagi handuknya, tetapi tangan Denis lekas menahannya.Maria mendongak melihat pada lelaki yang menggelengkan kepalanya. Denis lalu menarik Maria agar kembali tegak berdiri.“Ba-pak, saya ….” Wajah Maria sudah merah saking malunya.“Ini bukan pertama kali kamu melakukannya, bukan? Seharusnya aku yang mesti malu, karena ini adalah hal yang pertama buatku,” ucap Denis yang semakin membuat Maria tersipu malu. Wanita itu menunduk dalam.“Saya … rasanya tidak pantas untuk Bapak. Saya ini hanya perempuan miskin pembawa sial,” ucap Maria dengan suara tercekat. Namun, Denis justru menarik dagu Maria agar kembali menatapnya.“Aku akan buktikan jika kamu adalah wanita yang penuh keberuntungan,” balas Denis dengan tatapan lekat. Dia berusaha memupuk cinta itu agar semakin subur. Maria bukan wanita yang sulit untuk dicintai. Wanita itu begitu tulus
Maria hanya diam selama perjalanan. Dengan hati terpaksa Maria ikut pulang dengan Denis. Mau bagaimana lagi, Amanda tak bisa lepas darinya. Anak itu menangis keras saat Maria menyerahkan pada Denis.Entah apa yang akan terjadi nanti, mungkin Maria akan minta Denis untuk mencarikan baby sitter baru, lalu dirinya akan meminta cerai dan pergi.Denis sesekali melirik ke samping kirinya dan melihat Maria yang memangku Amanda yang tertidur lelap.“Kamu sudah makan?” tanya Denis yang merasa kasihan sekali melihat istrinya itu begitu kurus.Maria mengangguk pelan.“Makan apa?” telisik Denis penasaran.Maria terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Aku makan bubur sisa Amanda tadi.”Denis memejamkan matanyanya sejenak dan menggeleng. Pantas saja wanita itu begitu kurus, karena hanya makan makanan sisa anaknya. Lelaki itu beristigfar dalam hatinya.Benar kata Amanda, jika Maria adalah wanita terbaik yang bisa menggantikannya.“Kita makan dulu,” ujar Denis lalu membelokan mobilnya menuju sebu
Fery segera membuat pengumuman orang hilang dan menyebarnya di berbagai media sosial. Dia yakin cara itu akan jauh lebih mudah dilihat orang-orang saat ini.Dia juga menjanjikan akan memberi imbalan yang besar bagi yang memberikan kabar tentang keberadaan Maria seperti dulu.Fery sangat khawatir dengan nasib Amanda juga pengasuhnya itu.Maria hanya wanita lemah yang membawa seorang bayi. Dia yakin akan susah untuk mendapatkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan.Saat ini Maria sedang menyetrika di sebuah rumah. Sementara Amanda duduk sambil memainkan boneka usang yang ditemukan Maria di tempat sampah. Boneka monyet yang dia ambil dan dicuci sampai bersih, lalu dia berikan untuk mainannya Amanda.Beruntung anak itu sangat baik dan tak banyak rewel. Asal sudah kenyang maka tak akan ada lagi rengekan.Setiap hari Maria mengutamakan perutnya Amanda sebelum dia yang makan. Asalkan Amanda sudah kenyang, maka dia akan memakan sisanya, walaupun itu hanya bubur nasi.Tubuh Maria semakin kurus
Mobil Denis meluncur cepat menuju kontrakan Fany. Dia merasa yakin jika Maria akan pergi dan menginap di sana.Denis memukuli handel stirnya saking tak sabar. Jalanan dipadati kendaraan, sehingga macet.“Sial! Kenapa malah macet segala!” rutuk Denis sangat kesal. Berulang kali dia melirik pada jam yang melingkar di tangannya, sudah hampir jam 9 malam.“Mudah-mudahan saja Maria benar ke rumahnya Fany. Kalau tidak ….” Denis bahkan tak mampu melanjutkan kalimatnya sendiri. Dia khawatir jika terjadi apa-apa pada Maria juga Amanda.Mobilnya perlahan melaju, hingga akhirnya menemukan persimpangan, Denis memilih jalan lain yang tidak macet walaupun lebih jauh.“Huuft!” Dia mengembus napas kasar. Kemacetan telah membuatnya hampir kehilangan akal sehat.“Jakarta semakin hari semakin macet aja. Mengerikan!” umpatnya kesal. Namun, sekarang mobil itu sudah melaju kencang menuju kontrakan Fany yang jaraknya tak jauh lagi.Denis memarkir mobil sembarangan. Dia membanting pintu dan melangkah cepat
“Bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanya Denis terperanjat turun dari tempat tidurnya.“Aahh, semalam, kan, aku anter kamu pulang ke sini. kenapa kamu lupa?” Irene malah menguap.“Sial!’ umpat Denis yang langsung pergi ke kamar mandi.“Kamu cepat pakai baju dan pulang!” usir Denis sambil membanting pintu kamar mandinya.Irene justru semakin berleha-leha di atas tempat tidur. Namun, rasa haus menyiksa tenggorokannya. Dia lalu bangkit dan turun. Sambil celingak-celinguk dia mencari dapur. Lalu, matanya menangkap sosok Maria yang sedang menyiapkan sarapan.“Hei, kamu pembantu di sini?” tanya Irene sambil memainkan rambutnya. Maria meliriknya dengan hati yang teramat sakit. Irene hanya mengenakan pakaian seadanya.“Iya, Mbak. Mau sesuatu?” tanya Maria dengan sopan.“Aku haus,” jawab Irene yang kemudian duduk di kursi makan.“Tunggu sebentar, saya ambilkan air,” kata Maria yang berbalik menuju dapur dan tak lama kembali dengan segelas air putih.“Silakan diminum, Mbak,” ucap Maria sambil m
Meski tahu jika Denis sama sekali tak menganggapnya seorang istri, tetapi bagi Maria sikap Denis yang seperti itu tetap saja keterlaluan dan melukai harga dirinya sebagai istri. Apalagi sekarang Denis sudah berani membawa wanita lain ke rumah mereka.Maria tak bisa memejamkan matanya. Hatinya gelisah memikirkan apa yang tengah dilakukan dua insan berlainan jenis itu di kamar suaminya.Amanda sudah tidur sejak tadi setelah kenyang menyusu, tetapi Maria tak bisa ikut terlelap padahal badannya sangat lelah.Maria menatap sendu pada Amanda. Jika bukan karena rasa sayangnya pada anak itu, mungkin dia sudah memilih untuk kembali melarikan diri dan menghilang saja.Maria keluar dari kamarnya dan mengendap mendekat ke kamar Denis. Ingin rasanya mendobrak pintu kamar itu dan menyuruh wanita yang datang bersama Denis itu untuk pergi. Namun, hatinya masih tak berani melakukannya.Rasa pedih dan tak berdaya membuatnya luruh dan bersimpuh di lantai dingin itu dengan air mata yang berderai.Kemudia
Pagi-pagi Denis seperti biasanya hendak sarapan setelah bersiap dengan setelan kerjanya. Maria sengaja menyiapkan sendiri sarapan untuk lelaki yang kini menjadi suaminya. Walaupun dia tahu jika Denis tak akan pernah menganggapnya sebagai seorang istri, tetapi bagi Maria kewajiban tetaplah kewajiban.“Ke mana Bibi? Kenapa kamu yang nyiapin sarapan?” tanya Denis sambil menarik kursi.“Mmh, ada. Bibi lagi beresin perabotan bekas masak,” jawab Maria ragu-ragu.“Lain kali biar si Bibi aja yang nyiapin sarapan. Kamu urus Amanda saja,” kata Denis.Maria mengangguk pelan tak bisa mendebat.“Ingat, pernikahan ini hanya status saja, Maria. Jangan kamu anggap serius. Tidak perlu kamu melayani aku seperti seorang istri. Mengerti?” Denis kembali mengingatkan.“Iya, pak. Saya mengerti. Tapi maaf, saya di sini hanya sebagai pelayan, karena itu saya juga berkewajiban melakukan apapun sebagai pelayan,” sahut Maria dengan suara yang parau.“Hmm, baiklah. Tapi … saya harap kamu tidak melalaikan tugas