**“Sorry, kamu pulang aja, sana. Aku lagi nggak open house!”“Sagara, kamu apa-apaan, sih?” Tamara terbelalak, betapa buruk sambutan yang ia dapatkan dari laki-laki pujaan hatinya itu. Padahal asal tahu saja, ia sudah berdandan bak seorang dewi kali ini. Yeah, sebenarnya Tamara selalu berdandan cantik ketika akan menemui Gara, hanya saja lelaki itu tak pernah memperhatikan. “Gar, aku udah jauh-jauh dateng ke sini, tau!”“Siapa yang suruh, ha? Lagian kamu mau apa ke sini, sih? Nggak ada kepentingan, pun. Nggak ada kerjaan lain apa gimana?”“Aku mau ketemu kamu!”“Aku nggak mau ketemu kamu! Sana, pulang!”Pria itu sudah nyaris menutup pintu dan mengusir pergi Tamara dari ruang tamunya, sebelum kemudian Savina datang dari arah dalam. Berpura-pura terkejut dengan kedatangan si nona yang masih berdiri di ambang pintu, tidak dipersilakan masuk oleh tuan rumahnya.“Nona Tamara? Ah, ada perlu apa? Tumben sekali datang ke sini?” Perempuan itu menyapa dengan kadar keramahan yang agak mencuriga
**"Kenapa rasanya panas sekali?"Gara bangun dari posisi tidurannya. Ia mengusap tengkuk dengan telapak tangan. Ada yang tidak beres dengan tubuhnya, ia tahu benar."Aku sama sekali nggak minum alkohol hari ini. Bahkan udah berhari-hari nggak minum. Tapi kenapa badanku panas semua kayak habis minum?"Tak habis pikir, Sagara melangkah melintasi kamarnya, menuju wardrobe room di sisi lain ruangan. Pria itu mengganti celana bahan dan kaus lengan panjang yang ia kenakan dengan sleveeless shirt serta celana pendek. Hari bahkan sudah merangkak menuju senja, tapi outfit Gara sudah seperti hendak olahraga pagi saja."Sialan, ini kenapa, sih? Kenapa semakin panas? Masa AC ruangannya rusak?" Ia mengecek remote AC, memeriksanya berkali-kali. Bahkan suhu dalam ruangan itu berkisar antara dua puluh empat derajat, yang berarti sudah cukup dingin.Keringat mulai menetes di belakang tengkuk saat Gara merasa semakin aneh dan tidak nyaman. Biasanya, ia hanya akan begini ketika istrinya ada di dekatnya
**"Uhukk!""Pelan-pelan, Carissa!"Yasmin menyorongkan gelas berisi air putih ke depan sang menantu yang entah bagaimana tiba-tiba saja tersedak."Pelan-pelan makannya. Kita nggak lagi buru-buru, kok."Carissa mengangguk. Ia meraih gelas minuman itu dan meneguk isinya hingga tandas. Berusaha menenangkan gemuruh jantungnya yang entah karena apa."Rissa tiba-tiba aja kepikiran Kak Gara deh, Mam." Perempuan itu menggumam pelan. Ia mengaduk-aduk isi tasnya untuk mencari ponsel yang entah berada di mana. Ketika sudah ketemu, ia mendesah kecewa."Astaga, ternyata dari tadi mati. Kayaknya kepencet deh. Makanya, kok nggak ada telepon dari Kak Gara sama sekali.""Asisten rumah tanggamu pasti udah bilang sama Gara kalau kamu pergi denganku. Nggak usah khawatir lah." Yasmin mengangkat bahu. Menanggapi seadanya seraya mengangkat sumpitnya kembali. "Nggak apa-apa, Ris. Nggak usah khawatir begitu. Udah, makan lagi aja."Carissa mengangguk singkat. Ia mencoba untuk melakukan seperti kata ibu mertua
**Sagara meremas rambut dengan kedua tangan. Ia mendesah kasar sementara mengejar sang istri yang sudah melesat pergi keluar rumah. Percuma saja, perempuan itu sudah masuk ke dalam Mini Cooper miliknya, kemudian dengan kecepatan tinggi, memacu benda itu keluar garasi."Rissa, astaga!" Sagara shock berat. Sang istri sedang hamil tua dan siang malam ia jaga agar berhati-hati. Namun di depan matanya, perempuan itu menginjak pedal gas mobil hingga suara decit yang mengerikan meraung dari mesinnya."Kejar!" Pria itu menunjuk kepada driver yang kebingungan di pos sekuriti. "Dasar bodoh! Kenapa kamu biarkan kunci mobilnya menggantung di sana, ha?""Ma-maaf–""Kejar istriku sekarang, kejar!"Tepat pada saat itu, Savina yang baru tiba entah dari mana, muncul dari balik pintu gerbang. Sagara menjadi semakin murka karenanya."Dari mana saja kamu, hah? Kenapa baru muncul sekarang? Dari mana kamu?""It-itu, Pak Gar–""Kejar Carissa, jangan biarkan dia terluka! Sekarang!"Pria driver menarik Savin
**"Carissa!"Rissa mengernyit mendengar suara itu. Ia berlindung dalam pelukan Yasmin sembari memejamkan mata rapat-rapat. Tak sudi sedikitpun menoleh kepada si empunya suara yang saat itu sedang membatu di ambang pintu."Carissa, dengerin aku dulu, Ris. Aku–""Nanti saja, Gar." Yasmin menyela dengan dingin. "Rissa mungkin sedang nggak ingin ketemu kamu sekarang.""Mami!" Pria itu separuh memohon, setengahnya lagi menuntut. "Mami, biarin aku jelasin ini sama Rissa sekarang juga. Ini cuma salah paham, Mam. Ini sama sekali nggak sama kayak yang Rissa lihat. Ini cuma salah–""Gara, Mami bilang nanti saja."Lelaki itu berdecak. Ia berusaha mendekat, namun Yasmin menahan langkahnya. Dan Carissa sama sekali tidak ingin memalingkan wajah dari bahu sang mertua. Membuat Gara kian frustasi. Ini pertama kalinya perempuan itu berlaku seperti ini. Dan jujur saja, agak mengerikan."Ris, please dengerin aku. Please kasih aku kesempatan buat jelasin." Gara masih mengiba. Tidak ingin menyerah begitu
**Walau ternyata, kenyataannya memperjuangkan Carissa tidaklah semudah itu. Mungkin sebab Gara yang tidak pernah memperjuangkan sesuatu, sehingga ketika ia harus melakukannya untuk pertama kali, pria itu hampir tidak sabar."Rissa, mau sampai kapan kamu begitu sama aku?" Gara menegur saat pagi ini, ketika Gara menyusul ke taman samping untuk menemani sang istri sarapan, perempuan itu justru menghindar."Rissa, duduk di sini, dan jangan pergi. Kamu denger aku, nggak?""Nggak, aku nggak denger. Lepasin, aku mau masuk.""Rissa–" Gara menahan kata-kata kasarnya yang sudah berada di ujung lidah dan nyaris menyembur keluar. Ia mendesis, mengendurkan cengkeramannya pada pergelangan tangan sang istri. " Sorry, apa itu sakit? Tangan kamu? Sorry, aku nggak maksud menyakitimu."Carissa mendengus. Ia menarik tangannya dan melangkah meninggalkan sang suami yang masih terpaku di tempat."Rissa, please. Jangan begini sama aku. Aku kangen ...."Benar, Gara tidak bohong. Ia serius, benar-benar merind
**Carissa memandang sosok Savina dari kejauhan. Perempuan itu sedang membantu menata barang-barang perlengkapan bayi yang baru diturunkan dari mobil. Benar, Yasmin membelikan segala yang mungkin Rissa butuhkan pasca melahirkan nanti. Mulai diapers setengah mobil penuh, baju-baju dari brand ternama, sampai sensor digital yang bisa tersambung dengan smartphone untuk memberitahukan jika bayi bangun tidur dan menangis. Entah apa gunanya benda yang terakhir itu.Nah, yang menjadi beban pemikiran Rissa saat itu adalah, bagian sebelah mana yang dinilai Yasmin tidak beres dari Savina?"Mbak Savina kelihatannya baik-baik aja, sih. Apa Mami yang berlebihan?" Mendesah lelah, Rissa masih mencoba menerka-nerka. Memang gelagat Savina selama di rumah besar itu agak canggung, namun selebihnya, ia tidak tampak aneh. Ataukah Rissa saja yang kurang memperhatikan?"Kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini dia memang jarang menemui aku. Mungkin hanya karena di sini sudah banyak yang bantu, jadi tugas dia jadi
**Savina menjauhkan ponsel dari telinganya untuk ke sekian kali. Namun kali ini, bukan hanya sebab suara keras Tamara, melainkan juga karena apa yang gadis itu katakan. Savina memandangi layar ponselnya yang masih terhubung panggilan dengan ngeri."Non-Nona? Barusan ngomong apa?""Aku yakin telingamu itu masih berfungsi dengan sangat baik.""Bu-bu ....""Kalau kamu berhasil bikin perempuan itu mati, satu milyar masuk ke rekeningmu.""Astaga, Nona!" Savina benar-benar terbelalak, tidak percaya dengan pendengarannya. Ia pikir setelah yang terjadi beberapa waktu yang lalu, perempuan ini sudah menyerah. Tapi lihatlah, ia justru kian menjadi-jadi."Nona Tamara, tapi ini ... membunuh?" Kata-kata di akhir kalimat Savina masih terdengar begitu ngeri."Oke, kalau membunuh kedengaran terlalu brutal, kamu bikin saja Carissa semacam kecelakaan. Kalau dia sampai masuk rumah sakit, kamu dapat lima ratus juta."Savina menelan saliva. Lima ratus juta, jumlah yang cukup menggiurkan. Ia terdiam, dalam